Minggu, 12 September 2010

APAKAH BENAR JODOH TUHAN YANG MENETAPKAN?

"Kalo udah jodoh ga akan ke mana...tenang aja..."
"Kalo belum jodoh, mau berusaha jungkir balik juga akan dapet"

mungkin kita sering mendengar kata-kata yang serupa seperti di atas

kata-kata tersebut seakan ingin memberikan pemahaman bahwa setiap manusia telah ditentukan jodohnya masing2 oleh Tuhan

misalnya, si Aldo disiapkan jodohnya oleh Tuhan bernama Tuti, rambut keriting, kulit hitam, mata belo, dtinggi 150 cm...suara lemah lelembut...

benarkah Tuhan sudah menentukan jodoh kita seperti itu?

mari sekarang kita mencoba meneliti pemahaman ini lebih lanjut

1. Tuhan tidak menentukan seseorang melajang atau menikah
"Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:12)
ayat ini menggambarkan bahwa orang ad yg tdk dpt menikah krn keterbatasan fisik, dipaksa orang lain, dan kemauannya sendiri, jd bukan Tuhan yg menetapkan orang menikah atau tidak. Seseorang mendapatkan isteri/suami juga bukan Tuhan yg menentukan/menjodohkan, bisa jadi itu paksaan dari orang lain/orang tua, bisa juga pilihannya sendiri.
2. Isteri bukanlah tulang rusuk suaminya
"memang engkau adalah tulang rusukku"
banyak dari antara kita yang masih memegang pemahaman itu bahwa isteri kita adalah tulang rusuk kita. artinya kita memahami bahwa di dunia ini hanya ada satu aj perempuan yang sebenarnya adalah jodoh dari Tuhan. apabila hal ini benar maka akan timbul masalah ketika seorang janda ingin menikah lagi. apakah itu berarti ia tulang rusuk dari dua orang pria? padahal Paulus dalam 1 Kor 7:39 menuliskan "Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya."
3. Pasangan kita adalah pilihan kita sendiri
Paulus mengatakan bahwa kawin atau tidak kawin itu adalah masalah kebebasan kita sendiri.
“Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.
Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa.”
Hal ini menunjukkan bahwa menikah dengan seseorang itu adalah pilihan kita sendiri

dengan pemahaman ini, apabila kita salah memilih pasangan hidup itu adalah kesalahan kita, bukan kesalahan Tuhan, kita harus bertanggung jawab atas setiap pilihan hidup kita. itulah hidup sebagai orang Kristen. hidup yang bertanggung jawab atas segala yang dilakukan

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar