Minggu, 12 September 2010

PERUMPAMAAN


Ketika berbicara tentang Perumpamaan, kita otomatis langsung berpikir tentang Yesus. Sesungguhnya perumpamaan bukan lah hal baru yang diciptakan oleh Yesus. Perumpamaan sudah menjadi bagian dari tradisi Ibrani. Yesus hanya menggunakan tradisi yang telah ada namun dengan beberapa perubahan. Oleh karena itu, saya akan memaparkan tentang perumpamaan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam PL                                                                                 
            Perumpamaan dalam PB menggunakan kata parabole dan dalam PL kata tersebut setara dengan kata mashal. Hal ini dapat kita ketahui dari penerjemahan kata mashal di dalam Septuaginta menjadi parabole. Hampir semua kata mashal diterjemahkan menjadi parabole di dalam Septuaginta kecuali Pengkhotbah 1:17.[1] Mashal memiliki tiga jenis:[2]
1. Merujuk pada kata-kata bijak (proverb) seperti 1 Sam 10:12; Yeh 12:22-23; 16:44, bisa juga merujuk pada pepatah (byword), sindiran (satire), celaan/ejekan (taunt), kata cemoohan (word of derision) seperti Yesaya 14:3-4; Habakuk 2:6; Bilangan 21:27-30; Ulangan 28:37; 1 Raj 9:7; 2 Taw 7:20 dan Maz 44:14, 69:11.
2. Merujuk pada teka-teki (riddles) seperti Maz 78:2, 49:4; Yeh 17:2, Ams 1:6.
3. Terakhir kata ini merujuk pada cerita parabel atau allegori seperti Yeh 24:2-5, 17:2-10, 20:49-21:5 dan Yes 5:1-7, 1 Raj 20:38-43, 2 Sam 14:1-11 dan yang paling terkenal adalah parabel Natan di dalam 2 Sam 12:1-4.
Dalam PB
            Dalam PB kata parabole merujuk kepada empat jenis:
1. Similitude yaitu cerita yang mengangkat pengalaman umum dari semua orang untuk dijadikan ibarat contohnya perumpamaan domba yang hilang (Mat 18:12-14; Luk 15:3-7).[3]
2. Parabel yaitu suatu cerita khas yang diciptakan secara khusus untuk menjelaskan suatu hal atau untuk menjawab seorang lawan bicara, tidak mengangkat suatu pengalaman umum contohnya perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32).[4]
3. Allegori yaitu suatu bentuk cerita dalam berbahasa yang hendak menyampaikan suatu kebenaran melalui sejumlah gambar yang dirangkai menjadi suatu cerita, untuk menyatakan berbagai segi dari kebenaran itu sekaligus menyelubunginya bagi orang luar.[5] Jika parabel ditujukan kepada lawan maka allegori ditujukan bagi anggota. Parabel digunakan untuk mendamaikan pertentangan, allegori digunakan untuk menyampaikan pesan yang hanya dimengerti oleh pihak dalam.[6] Contohnya perumpamaan perjamuan kawin (Mat 22:1-14; Luk 14:15-24)
4. Exemplum/ilustrasi yaitu cerita yang menggunakan contoh, misalnya dalam Luk 18:9-14 orang Farisi dan pemungut cukai dijadikan contoh.


[1] Robert H Stein, An Introduction to the Parable of Jesus (Philadelphia: The Westminster Press, 1981), hal. 16.
[2] Ibid., hal. 16 – 18.
[3] Liem Khiem Yang, Mendengarkan Perumpamaan Yesus: Suatu Pedoman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hal. 26.
[4] Ibid.
[5]Ibid., hal. 39.
[6] Eta Linnemann, Parables of Jesus: Introduction and Exposition (London: SPCK, 1982), hal. 7.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar