Pages

Minggu, 31 Maret 2024

KEBANGKITAN YESUS ADALAH PUNCAK DARI REINKARNASI

KEBANGKITAN YESUS ADALAH PUNCAK DARI REINKARNASI (BUKAN HANYA INKARNASI)

Bayangkan jika Kebangkitan Yesus adalah akhir dari perjalanan reinkarnasi dalam konsep teologi Kristen. Penjelasan di bawah ini bisa saja tidak nyaman untuk kalian karena tidak sesuai dengan keyakinan umum yang kalian percaya hingga saat ini. Jadi kalian bisa melewatinya jika tidak tertarik, atau terus membacanya jika penasaran. 

Dalam konsep Hindu kita tahu bahwa reinkarnasi akan berakhir jika kita sudah mencapai moksa, dan dalam Buddha reinkarnasi akan berakhir saat kita mencapai kesucian Arahat (bukan pemahaman tunggal, masih ada pemahaman lain, tergantung aliran Buddhanya). Lalu bagaimana akhir dari reinkarnasi dalam Kristen jika pemahaman itu masih diterima hingga hari ini?

Tulisan ini sebenarnya lompat, harusnya saya upload dulu dari apakah benar ada reinkarnasi dalam Kristen, sejarah hilangnya reinkarnasi dan cara menafsir kitab suci dalam sudut pandang reinkarnasi. Tapi karena hari ini, hari Paska, jadi kita lompat dulu yah. Baru nanti kita mundur lagi ke artikel-artikel pengantar reinkarnasi dalam Kristen.

Jika kebangkitan Yesus adalah puncak dari reinkarnasi, maka itu artinya Yesus memiliki kehidupan sebelum pra-inkarnasi-Nya. Tapi bagaimana caranya kita tahu bahwa Yesus pernah hidup sebagai manusia atau makhluk lain sebelumnya? Kita bisa menggunakan konsep teofani (penampakan Tuhan) dalam PL. Kita akan fokus pada penampakkan Allah sebagai manusia di dalam PL:

1. Allah menampakkan diri sebagai manusia kepada Hagar sebanyak dua kali (Kej 16:7-14 dan Kej 21:8-21).

2. Allah menampakkan diri kepada Abraham (Kej 18:1-33). Sosok yang sama, yang menampakkan diri pada Hagar. 

3.Yakub bertarung dengan Allah yang menjadi manusia (Kej 32:22-32). Kemungkinan besar, sosok ini berbeda dengan sosok yang menampakkan diri pada Hagar dan Abraham. Kemungkinan besar, sosok itu telah bereinkarnasi. Mengapa? Karena jeda dari pertemuan sosok tersebut dengan Abraham dan dengan Yakub kemungkinan besar sekitar 50-70 tahun. Abraham juga sudah meninggal saat Yakub usia 15 tahun. 

4. Allah menampakkan diri kepada Musa, dari dalam semak duri yang menyala tapi tidak terbakar (Kel 3). Banyak yang salah mengira, bahwa Allah menampakkan diri dalam rupa semak duri yang menyala. Bukan, tapi Allah menampakkan diri dalam rupa Malaikat di dalam nyala api yang keluar dari semak duri (Kel 3:2). Sosok ini juga bisa kita misalkan sebagai manusia Allah yang bereinkarnasi. Dan tentu saja berbeda dengan sosok yang ditemui Abraham dan Yakub. 

5. Yosua bertemu Allah dan sujud di depan-Nya (Yos 5:13-15). Sosok ini mungkin berbeda dari sosok yang ditemui Musa di semak duri, karena jaraknya sekitar 40-50 tahun. 

Dari data-data di atas, kita mendapatkan bahwa Allah pernah menjadi manusia di PL, walau di PL disebut Malaikat Tuhan, namun tafsiran Kristen pada umumnya menganggap itu adalah Allah yang menampakkan diri (Teofani). Hanya sebatas Allah yang menampakkan diri, belum sampai pada Allah yang ber-inkarnasi menjadi manusia. Namun dalam konsep reinkarnasi, kita percaya bahwa Allah sudah ber-inkarnasi menjadi manusia sejak zaman PL, lalu Allah yang menjadi manusia itu bereinkarnasi terus-menerus hingga kelahiran Yesus, dan reinkarnasi itu terputus saat Yesus mati dan bangkit. Jika Yesus tidak bangkit, maka reinkarnasi itu akan berlanjut kembali seperti sebelumnya.

Jika kebangkitan Yesus adalah akhir dari rangkaian reinkarnasi-Nya,  maka kebangkitan manusia pun akan menjadi akhir dari reinkarnasi kita. Karena dalam kekristenan, kita percaya bahwa kita akan dibangkitkan sama seperti Yesus dibangkitkan.

Pemahaman tentang reinkarnasi di dalam alkitab bisa kita temui dalam beberapa ayat, dan juga dalam sejarah gereja. Tapi itu akan saya tulis di artikel yang berbeda. Pada saat ini saya ingin mengucapkan:

Happy Easter, Happy Passover, Selamat Paskah, Selamat Paskah, apapun itu kalimat yang kamu anggap benar. Yang penting, Yesus bangkit. Itu juga kalo kamu percaya. 

Kamis, 28 Maret 2024

TAMAN EDEN DAN FIRDAUS SAMA?

TAMAN EDEN DAN FIRDAUS SAMA?

"engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Apa itu Firdaus? Di alkitab, dari PL dan PB, hanya ada 3 ayat yang menyebut Firdaus secara eksplisit (Luk 23:43; 2 Kor 12:4; Why 2:7). Dari 3 ayat itu, timbul banyak sekali penafsiran tentang apa itu Firdaus. Setidaknya ada 3 penafsiran yang saya temukan (jika kalian ada tambahan tafsiran lain, dipersilakan):

1. Firdaus dan Taman Eden adalah tempat yang sama. Hal ini berdasarkan pada 
a. Why 2:7 "dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah." Pohon kehidupan adalah pohon yang ada di dalam Taman Eden (Kej 2:9). 
b. Penggunaan kata "παραδείσῳ" untuk Firdaus di Luk 23:43 dalam bahasa Yunani sama dengan penggunaan untuk Taman Eden di Kej 2:15 dalam terjemahan septuaginta.  
Tafsiran ini yang membuat beberapa orang berpikir bahwa kehidupan kita bukan linear tapi siklis, berawal dari Eden dan akan kembali ke Eden. Berawal dari Adam pertama, berakhir kepada Adam terakhir (1 Kor 15:45). Tapi bukankah Taman Eden diciptakan di bumi? Menurut penganut pandangan ini, Taman Eden diangkat ke surga setelah manusia diusir dari Taman Eden. Jadi sekarang Firdaus ada di surga.

2. Taman Eden dan Firdaus adalah 2 tempat yang berbeda. Eden di bumi, Firdaus di luar bumi (di surga atau di Hades/dunia orang mati). Taman Eden tidak pernah diangkat ke Surga sama sekali. Karena 2 sungai dari 4 sungai Taman Eden, masih ada hingga sekarang (Sungai Efrat dan Tigris yang mengalir dari Turki melewati Suriah dan Irak dan bermuara di Teluk Persia). Dalam pendapat ini ada yang mengatakan bahwa Firdaus ada di sorga, ada juga yang mengatakan Firdaus adalah Hades:
a. Hades adalah tempat roh/jiwa orang mati dalam pemahaman Yahudi. Hades terbagi dua yaitu Tartarus dan Firdaus. Firdaus adalah tempat dari roh-roh/jiwa-jiwa dari orang-orang mati yang taat pada Tuhan sedangkan Tartarus adalah tempat dari roh-roh/jiwa-jiwa dari orang-orang mati yang tidak taat pada Tuhan( Tafsiran ini merujuk pada Lukas16:19–31). 
b. Firdaus dipahami sebagai surga merujuk pada 2 Kor 12:2,4 yang pemakaian kata surga dan firdaus dipakai sebagai bergantian. 2 Korintus 12:2, 4, "orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. .... ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus." Selain itu juga, kalimat Yesus dalam Luk 23:46, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" menandakan bahwa Yesus pergi ke tempat Allah Bapa di sorga. Tetapi gereja mula-mula justru memahami bahwa Yesus pergi ke neraka setelah kematian-Nya, bukan ke sorga, untuk menyelamatkan jiwa orang-orang benar/kudus (merujuk pada Ef 4:9 dan 1 Ptr 3:19-20). Walau banyak yang menafsirkan bahwa rujukan ayat ini tidak menunjukkan bahwa Yesus pergi ke tapi ke Hades, maka jika begitu kita kembali lagi ke poin 2a. 

3. Taman Firdaus hanyalah taman, bisa taman apa saja. Di  Luk 23:43 kata Firdaus dalam bahasa Yunani menggunakan kata παραδείσῳ, namun kata itu bukan hanya untuk Taman Eden, tapi kata umum untuk taman παράδεισον (dalam Kej 2:8) dan παραδείσου (Neh 2:8). Jadi dalam arti ini, Firdaus artinya adalah taman. Bisa di taman mana pun. Jika melihat 2 ayat yang mengutip Firdaus (Luk 23:43 dan 2 Kor 12:4) berasal dari kitab dan surat yang ditujukan kepada jemaat Kristen non-Yahudi, maka masuk akal jika yang dimaksud Firdaus di sini bukanlah Eden ataupun Hades. Karena orang non-Yahudi pasti asing dengan semua konsep Yahudi tentang Eden dan Hades. Menurut Maureen Caroll, taman adalah surga dunianya orang zaman Greko-Romawi. Itulah kenapa banyak taman-taman besar pada era ini. Itulah kenapa Firdaus dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai paradise. Dan paradise dalam bahasa Inggris artinya surga. Namun bukan surga di dunia yang akan datang (heaven), tapi surga di bumi, di tempat-tempat yang indah. Maka tafsiran dari perkataan Yesus kepada penjahat yang bertobat adalah, "hari ini engkau akan bersama dengan Aku di tempat yang sangat indah, bahkan saat ini pun, ketika kamu bersama dengan Ku, kamu sedang berada di momen terindah dalam hidupmu, inilah sorga."

*Nuryanto Gracia, Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian di STF Driyarkara

Senin, 25 Maret 2024

TERANG DULU ATAU GELAP DULU?

GELAP TIDAK ADA?

Habib Ja'far mengatakan "Dalam filsafat, gelap itu secara hakiki ga ada. Gelap itu keadaan tidak adanya terang." Padahal secara hakiki, gelaplah yang ada, mengapa:
1. Kejadian 1:2, "Bumi belum berbentuk dan kosong: gelap gulita ..." Dalam alkitab jelas dikatakan bahwa gelaplah yang pertama hadir, bukan terang. Justru terang ada setelah benda-benda penerang diciptakan. 
2. Untuk bisa "berada" terang membutuhkan objek lain, untuk membantunya berada, sedangkan gelap tidak memerlukan apapun untuk berada. 
3. Gelap terjadi bukan karena menghilangnya terang, tapi terang menghilangkan gelap. Ini dua hal yang berbeda. Jadi, terang bukan "pengada" gelap, justru gelaplah pengada terang. Tanpa adanya gelap, orang tidak akan tahu adanya terang. 
4. Di akhir dunia (entah versi agama ataupun sains) yang ada adalah kegelapan. Bintang akan mati, meledak dan beberapa akan menjadi black hole. Beberapa mengatakan bahwa tidak diketahui apakah blackhole memiliki cahaya atau tidak karena gravitasi yang kuat menarik seluruh cahaya ke tengahnya. Tapi, menurut teori radiasi Hawking, suatu saat blackhole akan menguap begitu saja. 

Jadi, kegelapan adalah awal dan akhir.

*Nuryanto, mahasiswa S2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara 

Sabtu, 23 Maret 2024

SETIAP KITA BUTUH RUMAH UNTUK KEMBALI

SETIAP KITA BUTUH RUMAH UNTUK KEMBALI

Setiap kita butuh rumah, tidak hanya gedung (house) tapi juga keluarga (home). Sejauh apapun kita pergi, kita butuh rumah untuk kembali. Namun sering kali, setelah jauh pergi dari rumah, dengan alasan apapun, kita jadi ragu:
1. Apakah masih ada tempat untukku? Aku lelah, aku tertolak, apakah ada rumah untukku beristirahat? 
2. Apakah masih ada yang menyambutku saat aku kembali?

1. Komunitas Yohanes yang sedang dilanda pengasingan dan diskriminasi saat kitab Yohanes ditulis, juga mengalami kegelisahan yang sama. Kami ditolak di dunia. Tidak ada yang menerima kami di sini. Apakah tidak ada tempat untuk kami? Yesus dalam Yohanes 14:1-2, menyadari kegelisahan para murid, oleh karena itu Dia mengatakan, "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." Kitab Yohanes penuh dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa kamu bukan dari dunia ini, dunia ini menolak Yesus, dan dunia membenci kamu. Tentu saja hal itu tidak terlepas dari latar belakang komunitas Yohanes yang sedang ditolak karena mereka orang Yahudi tetapi lebih memilih menjadi kristen. Mereka dalam ambang kegalauan, kami harus ke mana? Kami tertolak, tidak ada tempat untuk kami. Kita juga mungkin pernah mengalami perasaan serupa. Saya harus ke mana? Tidak ada lagi tempat untukku. Karena pilihan imanku, aku tertolak. Untuk setiap kita yang merasa seperti itu, kita perlu mengingat lagi kalimat Yesus di atas bahwa jangan gelisah, ada rumah untukmu. Ada tempat untukmu kembali dari pertarungan imanmu. 

2. Jika di poin 1, kita takut tidak memiliki tempat kembali karena kepercayaan kita membuat kita tertolak, maka pada poin kedua ini, ketakutan tidak ada tempat untuk kembali adalah karena hasil dari kesalahan atau keberdosaan kita. 
"Aku telah terlalu berdosa, apakah mungkin masih ada tempat untukku kembali, Tuhan?" 
Atau dalam hubungan dengan keluarga, "Aku telah sangat menyakiti orang tuaku, apakah mereka masih akan menerimaku?"
Dalam Lukas 15:11-32 diceritakan tentang seorang anak bungsu yang meminta hak warisnya saat ayahnya masih hidup. Setelah mendapat warisan yang sangat banyak, dia meninggalkan ayahnya dan berfoya-foya. Tidak lama, seluruh uangnya habis, dia kelaparan bahkan hingga memakan makanan babi. Dia berinisiatif kembali ke rumah ayahnya, bukan untuk diperlakukan sebagai anak, karena dia sadar sudah tidak ada tempat sebagai anak lagi baginya, tetapi sebagai pekerja di rumah ayahnya. 
Secara logis, kita pasti akan mengira kembalinya si bungsu akan membuat ayahnya marah, atau minimal ceramah panjang (seperti yang orang tua kita sering lakukan, saat anaknya terbukti salah dan orang tua terbukti benar). Mungkin isi ceramahnya akan berbunyi, "Habis semua uangmu? Kualat itu. Makanya, jadi anak itu hormat sama orang tua. Jangan suka ngelawan dan merasa paling bisa hidup tanpa orang tua." Mungkin bisa lebih panjang dari itu. 
Tapi kenyataannya, di dalam kisah ini, sang ayah tidak melakukan hal itu. Saat sang ayah melihat si bungsu dari jauh sedang kembali, dia berlari ke arahnya, lalu memeluk dan menciumnya. 
Si bungsu mengaku bahwa dia telah berdosa, mungkin dalam benak si bungsu, dia akan mendapatkan jawaban dari sang ayah, "Iya nak, jangan berbuat dosa seperti itu lagi, yah."
Kenyataannya, sang ayah tidak membahas apapun tentang dosa si bungsu. Dia justru meminta semua pelayannya mengambilkan jubah terbaik, cincin dan sepatu untuk si bungsu. Dia juga meminta dimasakkan lembu tambun untuk pesta kembalinya sang anak. 
Sungguh menyenangkan, ketika tahu bahwa seberdosa apapun kita, masih ada tempat untuk kembali. 
Bagi Tuhan, selalu ada tempat untuk kita kembali. 
Tapi bagi keluarga kita bagaimana? Coba cek keluargamu masing-masing. Jika keluargamu yang sekarang mungkin tidak bisa menerimamu, bisakah saat kita memiliki keluarga baru (menikah lalu punya anak) kita bisa menjadikan keluarga sebagai tempat untuk kembali bagi anak-anak kita, sebesar apapun kesalahan dan dosa yang sudah dia lakukan? Karena setiap manusia, butuh tempat untuk kembali. 

*Nuryanto Gracia, mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara 

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar