Pages

Senin, 27 November 2023

PASTI ADA MAKNA DI BALIK SEMUA INI

 PASTI ADA MAKNA DI BALIK SEMUA INI


“Saya tahu kamu sangat menderita, saya tahu kamu kesakitan sepanjang waktu, tapi saya yakin ada banyak makna di dalamnya juga.”

Pernah mendengar kalimat serupa itu? Misalnya kita sedang menderita karena masalah fisik atau masalah non-fisik, lalu ada seseorang mengatakan, "Saya tahu itu pasti sangat berat, tapi pasti ada maksud Tuhan mengizinkan hal tersebut terjadi. Pasti ada maknanya."

Atau kalau dikaitkan dengan autisme adalah seringkali ketika ada orang tua yang memiliki anak dengan autisme, kita akan mengatakan "Pasti ada hal baik yang Tuhan sedang siapkan buat kamu dan keluarga," atau "Kamu sudah menjadi orang tua yang hebat, pasti ada makna dibalik semua ini."

Menurut Karen Kilby, ini bukanlah hal yang benar, "Bagi saya, berbicara kepada Anda tentang penderitaan Anda dan menganggapnya bermakna, pada dasarnya berarti saya telah melampaui batas. ... meskipun saya dapat melihat makna penderitaan Anda, saya harus bersabar, menutup mulut, dan membiarkan Anda mengerjakannya sendiri .... Mengartikan penderitaanmu, bahkan secara diam-diam, adalah sesuatu yang aku tidak punya hak untuk melakukannya."

Mungkin maksud kita baik, ingin menjadi penolong untuk mereka yang menderita, tapi kadang kita harus tahu batas, kapan kita harus diam dan menutup mulut.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Minggu, 26 November 2023

YUSUF SANG PEMERAS

YUSUF SANG PEMERAS

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar tokoh Yusuf?
Kebanyakan kita pasti akan mengatakan bahwa dia adalah sosok yang:
1. Pemaaf
2. Bijaksana
3. Baik
4. Tangguh
dan semua hal positif lainnya.

Mengapa? Karena itulah yang seringkali disampaikan di gereja-gereja oleh para pengkhotbah kita.
Pernah kah kita mengetahui bahwa Yusuf juga adalah seorang penjajah, penindas, pemeras rakyat sampai sekering-keringnya?

Bila kita membaca Kejadian 47:13-26 maka kita akan melihat proses pemerasan yang Yusuf lakukan. Mulai dari membayar jika ingin mendapat makanan. Jika sudah tidak ada uang, maka serahkan ternakmu. Jika ternak sudah habis, maka serahkan tanahmu. Jika tanah sudah tidak ada, serahkan dirimu sebagai budak. Lalu tanamlah benih, di tanahmu yang sudah menjadi tanah firaun. Jika sudah menghasilkan, 1/5 untuk firaun dan 4/5 untukmu makan.
 
Mungkin kita akan berkata, itu bukan penjajahan. Mereka hanya menyerahkan 1/5, tidak terlalu besar. Selain itu juga mereka menyerahkan seluruh yang mereka miliki agar bisa mendapatkan makanan.
Ya, bukankah itu memang yang terjadi di masa penjajahan? Apapun akan kita lakukan agar bisa dapat hidup dan makan. Tapi bukan berarti itu bukan penjajahan kan? Itu tetap penjajahan. Tetap pemerasan.
Mungkin kita akan mengatakan lagi, tapi semua rakyat memuji Yusuf, "Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun."

Ya, bukankah itu juga yang terjadi pada zaman penjajahan? Kita rela menjadi hamba penjajah, asal dapat makan. Bahkan ada yang sampai menjadi kaki tangan penjajah, biar dapat fasilitas. Tapi yang namanya penjajahan, tetaplah penjajahan kan?

Salah satu cara berontak terhadap "Tuhan" atau tafsiran tentang Tuhan yang telah lama bercokol dipikiran kita, hasil dari indoktrinasi para pendeta, adalah dengan melakukan dekonstrusi penafsiran umum. Ada banyak metode penafsiran yang bisa kita lakukan untuk melakukan dekonstruksi, mulai dari feminisme, kritik dekonstrukstif, kritik post-kolonial dan lain sebagainya. Metode yang saya pakai untuk melihat kisah Yusuf di atas adalah kritik post-kolonial.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

YESUS YANG DISABILITAS (THE DISABLED CHRIST)



YESUS YANG DISABILITAS (THE DISABLED CHRIST)

Kita bisa menerima bahwa Allah menjadi manusia yang fana, lahir di tempat yang hina dan mati pun di tempat yang terhina.

Tapi kita tidak bisa menerima jika Allah itu disabilitas. Itu adalah sebuah kehinaan jika menganggap Allah disabilitas. Tanpa sadar kita sudah menganggap bahwa disabilitas adalah sebuah kehinaan. Selama ini kita memiliki konsep tubuh, mental atau intelektualitas yang sempurna, sehingga ketika melihat ada orang yang memiliki tubuh, mental atau intelektualitas yang cacat, kita akan langsung berpikir bahwa kehidupan mereka menyedihkan dan perlu dikasihani, perlu ditolong. Padahal hidup kita semua juga menyedihkan dan perlu ditolong.

Tapi kenapa Allah dipahami sebagai Allah disabilitas? Mengapa tidak cukup dengan pemahaman bahwa Allah peduli dan mengasihi orang-orang dengan disabilitas? Mungkin itu menjadi pertanyaan kita.
Bukankah saat memahami Allah yang menjadi manusia, kita juga bertanya "Mengapa Allah harus menjadi manusia? Tidak masuk akal Allah yang Mahakuasa menjadi sama seperti makhluk ciptaan-Nya? Tidak bisakah Allah hanya peduli dan mengasihi manusia? Tidak bisakah Allah hanya memberi petunjuk bagaimana manusia harus selamat tanpa harus menjadi manusia?"

Apakah kalian sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut? Jika sudah, maka terapkanlah jawaban itu juga untuk pertanyaan mengapa Allah harus menjadi Allah yang disabilitas.

Semoga sedikit teologi tentang Yesus yang disabilitas bisa menyisip di natal tahun ini karena di gereja kita pun pasti ada orang-orang dengan disabilitas. Mereka juga butuh lawatan Kristus yang telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang dengan disabilitas, dan menjadi sama dengan orang-orang dengan disabilitas (Bdk Flp 2:7). Yesus yang disamakan dengan saudara-saudara-Nya yang disabilitas, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan ..... untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa (Bdk Ibrani 2:17).

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara




Jumat, 17 November 2023

MEREKA YANG MEMBELA ALLAH DIMAKI


MEREKA YANG MEMBELA ALLAH DIMAKI
MEREKA YANG MEMBERONTAK MENEMUKAN ALLAH

Apa yang biasanya umat beragama lakukan jika ada orang yang mempertanyakan kebesaran Tuhan, keadilan dan ke-maha-anNya? Kita akan marah, kita akan menganggap mereka sebagai penghina Tuhan. Bahkan saat ada orang yang mencoba memahami Tuhan dengan logika, kita akan tidak menyukai mereka. Apalagi jika ada ORANG YANG MENCOBA BERONTAK dari Allah. Apalagi jika ada ORANG YANG MEMPERDEBATKAN rencana Allah. Wah bisa ngamuk kayak cacing kepanasan kita.

Tapi, dari kisah Ayub, kita mendapatkan bahwa, justru si pemberontak itu, menemukan Allah yang sejati, bukan yang kata orang, kata doktrin, kata pemuka agama, kata para pembela Allah. Ada satu kalimat menarik dari Ayub saat berbantah-bantahan dengan sahabatnya, "Sudikah kamu berbohong untuk Allah, sudikah kamu mengucapkan dusta untuk Dia?"

Seringkali, kita mengalami masa dalam hidup yang sangat berat, yang membuat kita mempertanyakan segala hal tentang Allah, yang membuat kita meragukanNya. Tapi kemudian, karena kita takut dianggap sebagai "tersesat", maka kita menghentikan pemberontakan kita, lalu mendustai diri sendiri untuk Allah dan meyakinkan diri sendiri bahwa "Percaya saja, jangan banyak tanya. Rencana Tuhan pasti yang terbaik." Demi percaya saja kepada Allah, kita mengorbankan rasio kita. Ini yang Bultmann sebut dengan "sacrificium intellectus."

Namun yang menarik dari kisah Ayub, orang-orang yang menyerang Ayub karena Ayub dirasa kurang ajar kepada Allah, justru dimaki Allah, "Murkaku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." 

"Kamu tidak berkata benar tentang Aku" Allah mengucapkan ini sampai dua kali, seakan Allah ingin mengatakan, "Apa yang Ayub katakan benar, kamu berbohong dan berdusta untuk Aku. Kamu tidak mengatakan yang benar tentang Aku."

Mereka yang membela Allah, justru dihardik Allah, karena mereka tidak jujur dengan diri sendiri. Jika kamu ingin mempertanyakan kebesaran Allah, tanyakanlah. Jika ingin berontak, berontaklah.
Pemberontakanmu mungkin akan membawamu pada penemuan tentang Allah yang bukan lagi kata orang, tapi Allah yang kamu alami sendiri.

Jangan takut tersesat saat memberontak, karena Allah pasti akan mencarimu seperti Dia mencari 1 domba yang tersesat dan meninggalkan 99 lainnya (di tempat yang aman tentu saja).
Jangan takut jadi pemberontak. Jangan takut tersesat.

Kaburlah, larilah, dari ajaran yang membuatmu tidak menemukan Allah.

Satu pokok pembahasan tentang eskapisme (lari dari sesuatu). Saya mencoba melihat eskapisme dari beragam perspektif. Biasanya kita melihat eskapisme sebagai cara pemuka agama meninabobokan umat agar kabur dari realita penuh penderitaan lalu menuju pada sebuah harapan eskatologis. Tentu saja saya akan membahas hal itu juga, tapi juga saya akan membahas hal lainnya yaitu mengajak kita kabur dari 'Tuhan', berontak dari 'Tuhan' untuk menemukan Tuhan.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Kamis, 16 November 2023

MELAWAN ALLAH? MANA BISA MENANG???

 MELAWAN ALLAH? MANA BISA MENANG??? BISA!!


"Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. .... sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Kejadian 32: 24-25, 28)

Yakub melawan Allah dan dia menang.

Banyak orang Kristen pasti akan menjawab, "Tidak, buktinya paha Yakub terpelecok." Daniel K. Listijabudi (Dosen PL), mengatakan bahwa tidak ada pemenang absolut antara Allah dan Yakub dalam cerita itu. Bahkan ada juga yang mengatakan (dan ini lucu menurut saya) bahwa Allah tidak kalah, di Alkitab hanya ditulis Yakub menang, tidak ditulis Allah kalah. Lucu karena jika ada pertarungan antara A dan B, A menang, lalu B disebut apa kalo ga mau disebut Kalah? Hahaha. Mengapa segitu tidak terimanya kita dengan kenyataan bahwa Allah kalah dari manusia sampai harus berjumpalitan mencari alasan yang membuktikan Allah tidak kalah?

Emanuel Gerrit Singgih (Dosen PL juga) mengatakan bahwa "Memang betul bahwa Yakub cedera dalam pergulatan ini, pahanya pincang gara-gara dipukul oleh si laki-laki itu sehingga cedera permanen, tetapi kalau Allah sendiri mengatakan bahwa “engkau menang”, maka bukannya Yakub tidak menang absolut atau tidak menang total, melainkan dia menang, meski pun cedera! Yakub menang, dan itu ada di teks! (“menang”, “prevail”; Ibr: wattokal)."

Walaupun dalam penjelasan selanjutnya Pak Gerrit menafsirkan bahwa Allah yang dimaksud adalah Esau, setidaknya Pak Gerrit setuju bahwa Allah telah kalah dalam pertarungan melawan manusia.

Dan mungkin orang Kristen akan lebih syok lagi, bahwa Allah kalah bukan oleh orang alim, saleh, jujur, kudus. Tapi oleh Yakub si licik, penipu ayah dan kakaknya.

Kisah Yakub menjadi sebuah tanda untuk kita bahwa manusia pun bisa melawan Allah dan menang. Tapi perlawanannya dan kemenangannya itu tidak membuatnya jumawa. Yakub masih sadar dia lemah dan butuh berkat Allah. "Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku. .... Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!"

Kadang ketika mendengar ada orang yang berusaha memberontak dari Allah, kita akan langsung berpikiran negatif bahwa mereka pasti ateis, sesat, dan lain sebagainya. Padahal bisa saja, para pemberontak itu adalah orang-orang yang benar-benar sedang bergumul dengan Allah, seperti Yakub yang juga sungguh bergumul dengan Allah dan menang.

Untuk yang belum tahu, bergumul tidak selalu diartikan bertarung secara fisik. Tapi juga bisa artinya kita mempertanyakan, menimbang, mencari tahu, mendalami, melibatkan diri secara aktif. Bukankah orang kristen sering memakai kata "bergumul dengan Allah", itu artinya kalian juga sedang melawan Allah. Hayoloh, kok berani banget melawan Allah? Kalian ateis yah? haha

Ditulisan saya berikutnya, saya akan menceritakan kisah orang yang melawan Allah dan yang membela Allah, tapi justru Allah marah sama orang-orang yang membelanya. Untuk hari ini, cukup sampai di sini.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Selasa, 14 November 2023

BERONTAK DARI TUHAN

BERONTAK DARI TUHAN

Jika Tuhan tahu seluruh jalan kehidupan kita termasuk masa depan kita, lalu apa alasannya akan mengabulkan doa kita ketika kita kesulitan? Bukankah dia tahu bahwa semua kesulitan yang sedang kita hadapi akan membentuk kita menjadi 'sosok' tertentu di masa depan.

Misal drakor yang sedang tayang "Twinkling Watermelon" menceritakan 2 orang anak yang kembali ke masa lalu untuk mengubah nasib orang tuanya. Mereka tahu apa yang akan terjadi pada orang tuanya di masa depan. Namun apa yang mereka lakukan di masa lalu akan mengubah banyak hal di masa depan, termasuk eksistensi mereka. Banyak series dan movie dengan ide seperti ini.

Jadi, sama seperti konsep di series tersebut, Tuhan juga pasti tahu apa yang akan terjadi dengan kita di masa depan. Masalah apa yang akan kita hadapi di masa kini dan efeknya bagi masa depan kita. Jika Tuhan campur tangan membantu kita, bukankah itu artinya Tuhan akan mengubah masa depan? Anggap saja timelinenya tunggal, tidak bercabang atau multiverse.

Dari sini, konsep deisme tampaknya cocok karena Tuhan hanya bertugas menciptakan dunia beserta sistemnya, lalu pergi meninggalkan dunia berjalan sesuai sistemnya tanpa perlu ikut campur lagi. Doa-doa yang kita ucapkan tampak seperti egoisme manusia untuk mengubah alam seperti yang mereka inginkan.
 
Tapi jika memang dunia hanya berjalan seperti itu, bukankah kita hanya seperti boneka yang diatur untuk bermain seperti program yang sudah disediakan? Kita harus berontak kan? Kita harus bertanggungjawab terhadap takdir kita sendiri kan?

Sama seperti seorang anak yang berontak terhadap orang tuanya yang diktator, "Ini hidupku, biar aku sendiri yang menentukan."

Sudah lama Tuhan bermain-main dengan takdir kita sambil menonton santai dari sudut yang tak dapat dikenali. Sudah lama juga para kaki tangan Tuhan (sebut saja rohaniawan), bermain-main dengan kutipan-kutipan ucapan Tuhan untuk mengendalikan kehidupan kita, kan? Atau hanya sekadar membawa kita kabur dari realitas dunia yang sedang kita hadapi (eskapisme).

Ide-ide perlawanan ini sebenarnya sudah banyak bisa kita temui dalam series, movie, komik mau pun novel. Namun sayangnya masih minor, karena pemberontakan ini dianggap sebagai kesesatan dan perlawanan terhadap agama.
 
Jadi, saya sudahi dulu tulisan saya sampai di sini, sebelum dianggap sebagai 'penyesat'.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

KRISTEN TIDAK MAKAN BABI

 Percakapan antara 2 orang sahabat yang berbeda agama

Sahabat non kristen: Kalian orang Kristen aneh, kitab suci dilanggar, malah ngikutin Paulus. Paulus itu udah ngubah-ngubah ajaran Tuhan yang murni.
Sahabat Kristen: Misalnya apa yang ga kita ikuti karena Paulus?
Sahabat non Kristen: Misalnya kalian kan dilarang makan babi, di taurat kalian jelas dilarang loh. Tapi gara-gara ngikutin injil ciptaan paulus yang udh diubah-ubah sama pendeta kalian, malah jadi menghalalkan babi.
Sahabat Kristen: Jadi harusnya aku ngikutin taurat aja?
Sahabat non kristen: Iya dong, kitab itu sama dengan kitab di agamaku. Yah, kalo mau lebih benar lagi sih, ngikutin kitab agamaku.
Sahabat Kristen: jadi kamu mau aku masuk agamamu?
Sahabat non Kristen: Yah itu yang terbaik sih.
Sahabat Kristen: Berarti aku harus bunuh kamu.
Sahabat non Kristen: Loh kok gitu?
Sahabat Kristen: Karena kata taurat, yang menurut kamu ga ditulis oleh paulus dan diubah-ubah sama pendeta, mereka yang membujuk orang lain untuk pindah ke agamanya harus dibunuh. Begini bunyinya.
"Apabila sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, ....... maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia!" (Ul 13:6-9)
Sahabat Kristen: Aku harus ngikutin taurat itu kan? Sama seperti aku harus mengikuti perintah ga boleh makan babi kan? Kamu yakin kan?

YUDAS DAN OEDIPUS: USAHA MEMBERONTAK DARI TAKDIR ALLAH

 YUDAS DAN OEDIPUS: USAHA MEMBERONTAK DARI TAKDIR ALLAH


Dalam kekristenan, Yudas sangat dibenci karena dianggap sebagai pengkhianat yang menjual Tuhannya sendiri. Walaupun sebenarnya dia hanya menjalankan takdir yang sudah dituliskan untuknya, namun orang Kristen pasti akan menjawab dengan mengutip ayat, "Anak manusia memang akan pergi sesuai dengan ada yang tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Matius 26:24). Yudas yang hanya menjalankan takdirnya itu pun akhirnya dibenci hingga hari ini.
Di sisi lain, ada aliran kekristenan yang menganggap Yudas sebagai pahlawan karena membebaskan Yesus dari penjara tubuh. Aliran kekristenan ini dikenal sebagai kristen gnostik. Kita bisa melihat kepahlawanan Yudas di Injil Yudas, jangan cari di kitabmu, tentu saja tidak akan ada.
Jadi ada 2 kutub pendapat tentang Yudas, ada yang membenci dan mengutuknya tapi ada juga yang memujanya. Tapi saya menemukan satu tafsiran menarik dari Romo Yosef, dalam disertasinya tentang "Post colonialism Biblical Criticism in John's Passion Narrative."
Romo Yosef menafsirkan bahwa Yudas menyerahkan Yesus bukan karena berkhianat (seperti pandangan kristen tradisional) atau bukan juga karena ingin menjadi pahlawan (seperti pandangan kristen gnostik).

Romo Yosef menjelaskan bahwa Yudas menyerahkan Yesus karena takut Yesus akan melakukan pemberontakan di hari Paska. Yesus pernah ngamuk di bait Allah (Matius 21:12-13), hal itu membuat Yudas yakin bahwa Yesus juga akan memimpin pemberontakan pada hari Paska yang akan segera datang. Mengapa pemberontakan di hari paska menakutkan? Karena orang Yahudi datang dari seluruh penjuru dunia untuk merayakan paska. Jika Yesus melakukan pemberontakan, maka seluruh rakyat Israel akan bergerak dan ini jelas akan merugikan para imam.

Yudas tahu bahwa dia ditakdirkan untuk menyerahkan Yesus (Matius 26:17-25). Namun Yudas tidak mau mengikuti takdir itu, lalu apa yang harus dilakukan? Membuat rencana. Dalam rencananya, Yesus akan diserahkan kepada Imam-imam kepala (Mat 26:14-16), Yesus akan diadili dan dibebaskan karena tidak ditemui sama sekali kesalahan pada diri-Nya.

Rencana ini akan membuat Yesus ditangkap sementara, pemberontakan tidak akan terjadi dan Yudas terbebas dari takdir sebagai pengkhianat. Namun sayangnya, dia tidak mengira bahwa para imam akan bekerjasama dengan para penjajah. Hal yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, bangsa terjajah bekerjasama dengan para penjajah. Yesus dibawa ke Pilatus, diadili dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Yudas menyadari rencananya gagal dan membuat Yesus justru mendapatkan hukuman mati. Dia akhirnya menyesal, mengembalikan uang yang diberikan oleh para imam, lalu gantung diri sebagai bentuk penyesalan dan protes terhadap takdir yang ingin dia ubah namun tidak dapat diubah. (Mat 27:3-5).

Begitulah tafsiran Romo Yosef yang telah saya sesuaikan. Mengapa disesuaikan? Karena dalam tafsiran aslinya Romo Yosef melakukan harmonisasi antara beberapa kisah Yudas dalam injil-injil sinoptik untuk menguatkan tafsirannya dalam kitab Yohanes. Tapi karena saya dibesarkan dalam tradisi tafsir yang 'alergi' dengan harmonisasi injil, maka saya memilih untuk fokus pada kitab Matius saja.

Oke kembali lagi pada konsep pemberontakan Yudas, tafsiran ini menjadi menarik karena dilihat dari sudut pandang pemberontakan Yudas untuk keluar dari takdir yang tidak mau dia lakukan. Hal ini mirip dengan kisah Oedipus (yang menjadi cikal bakal istilah Oedipus Complex).

Ayah Oedipus, Raja Laius dari Thebes, mendapat ramalan bahwa anaknya, Oedipus, akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Untuk menghindar (berontak) dari takdir tersebut, Raja membuang Oedipus yang masih bayi. Namun sayang seribu kali sayang, ternyata Oedipus dewasa tetap membunuh ayahnya dan menikahi ibunya.

Oedipus akhirnya mengetahui bahwa yang dia bunuh adalah ayah kandungnya dan yang dia nikahi adalah ibunya sendiri. Oedipus merasa terpukul. Dia menusuk matanya sendiri sebagai tanda penyesalan dan menolak melihat kebenaran lagi. Oedipus diusir dari Thebes dan hidup sebagai pengemis yang buta.

Kisah Yudas dan Oedipus sebagai kisah pemberontakan terhadap takdir Tuhan. Walau berakhir dengan akhir yang mengenaskan (bunuh diri dan menusuk mata), setidaknya usaha itu menjadi catatan bahwa ada orang-orang yang dengan berani berontak terhadap takdir Tuhan. Ada orang-orang yang berusaha berteriak "Stop, aku tidak mau jadi boneka-Mu."

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar