Jumat, 17 Februari 2017

HACKSAW RIDGE DAN IMAN FUNDAMENTALIS FANATIK

HACKSAW RIDGE DAN IMAN FUNDAMENTALIS FANATIK

"Tidak mau mengangkat senjata waktu berperang, tidak membalas waktu dipukul, dan tidak mau melakukan apapun saat hari sabtu karena hari sabat."

Saat mendengar ada orang Kristen yang mengatakan tersebut, bagaimana pendapat kita? Mungkin saja ada di antara kita, khususnya protestan, akan ada yang menganggap bahwa mereka terlalu harafiah/tekstual dalam menafsirkan Alkitab. Bagi kita mereka termasuk orang-orang fundamentalis yang fanatik. Kita akan berusaha sebisa mungkin memberikan tafsir dengan pendekatan historis kritis dan kontekstual.

Tapi anehnya, justru banyak umat Kristen dari aliran lain (di luar aliran kristen advent) justru kagum dan memuji iman Desmond Doss? Apakah karena iman itu disampaikan dalam cerita yang historik? Atau karena iman tersebut disampaikan dalam sebuah kesaksian yang spektakuler, menyelamatkan 75 tentara? Biasanya kita sangat suka dengan cerita-cerita iman yang spektakuler. Tapi apakah memang seperti itu?

Kalo mau jujur, di dalam film tersebut, saya lebih mirip seperti para atasan Doss, yang berusaha meyakinkan bahwa tidak apa-apa mengangkat senjata. Tentara mengangkat senjata adalah hal wajar di dalam medan peperangan karena konteksnya untuk membela negara. Salahkah pemahaman para atasan Doss? Tidak menurut saya.

Film Doss tidak sedang ingin menyalahkan para atasan Doss atau ingin menyerukan kepada tentara untuk tidak lagi mengangkat senjata. Di dalam kisah Doss, kita melihat teman-teman Doss tetap mengangkat senjata. Seandainya teman-teman Doss tidak mengangkat senjata dan semuanya menjadi seperti Doss, maka tidak akan ada kisah Desmond Doss yang heroik karena semua tentara akan dibantai.

Hal menarik dari iman Doss adalah, dia tidak sedang secara agresif menawarkan imannya agar yang lain mengikuti apa yang dia percayai. Yang dilakukan Doss adalah menyampaikan apa yang menjadi identitas imannya dan memohon untuk diberikan tempat untuk menjalani tugas sesuai imannya tersebut. Iman yang dimiliki Doss bukanlah iman yang berusaha mengubah sistem negara atau sistem kemiliteran. Imannya hanya untuk konsumsi pribadinya. Iman yang dikonsumsi pribadi tetapi untuk kebaikan banyak orang.

Iman yang tidak hanya dibentuk oleh pembacaan kitab suci tetapi juga pengalaman trauma masa lalu. Tidak dapat kita pungkiri, iman yang kita miliki sekarang tidak selalu murni karena pembacaan kitab suci, pengalaman masa lalu ikut menorehkan nilai dalam pembentukan iman kita. Dalam kisah Doss kita melihat Doss tidak mau mengangkat senjata karena pengalamannya hampir menembak ayahnya.

Dari film Doss ini saya belajar, bukan tentang tidak boleh membela diri atau mengangkat senjata saat perang, tetapi soal menghargai kehadiran iman yang lain. Iman yang dimiliki seseorang adalah identitas mereka, yang dibentuk selama mereka hidup. Di saat kita menolak iman mereka, sesungguhnya kita sedang menolak keberadaan mereka. Namun itu bukan berarti bahwa iman dalam kehidupan bernegara bisa tanpa batas termasuk mengusik sistem kenegaraan dan nilai-nilai kemanusiaan. Iman tetaplah konsumsi pribadi untuk kepentingan pribadi dan banyak orang, bukan memaksakan iman pribadi untuk menjadi konsumsi banyak orang yang akhirnya bukan menjadi kebaikan malah keburukan bagi kehidupan bersama.

Review Journey to the west 2.

Review Journey to the west 2.

Perhatian:
1. Bahasan dalam tulisan ini sangat subyektif. Tergantung ekspektasi pertama kali saat ingin menonton film ini. Awalnya saya mengira film ini akan penuh dengan adegan aksi yang gokil, tapi ternyata adegan aksi hanya sekitar 10-20%, itu pun di akhir film. Saya akan jelaskan lebih lanjut nanti.
2. Tulisan ini mengandung sedikit sop iler. Bagi yang anti sop iler, silakan menjauh.

Oke mari kita mulai pembahasan film ini.

Film ini menawarkan banyak hal yang berbeda dari kisah wukong/go kong yang pernah ada. Biasanya, film sun go kong selalu memiliki template, Gurunya bijak dan elegan sedangkan murid-muridnya bandel dan tidak bisa diatur. Nah kali ini, ada banyak hal berbeda yang ditawarkan. Apa saja yang berbeda?
1. Go kong tampil dengan wujud manusia yang urakan, patkai tampil dengan wujud manusia berbedak putih di wajah tanpa perut buncit sedangkan wucing/sandy, entah kenapa saya melihat dia mirip dengan pikolo. Jadi secara penampilan, sudah berbeda dengan kisah yang biasanya.
2. Guru yang tidak bijak dan sangat manusiawi. Biasanya guru go kong selalu tampak bijak dan elegan/kharismatik tapi kali ini, guru itu tampil dengan gayanya yang tak bijak bahkan murid-murid menyebutnya bodoh, dan tidak ada lagi kesan elegan dalam dirinya. Biasanya sang guru mengesampingkan hal-hal duniawi tetapi dalam film ini justru dia sangat manusiawi dan duniawi. Dia memaksa murid-muridnya untuk beratraksi demi bisa mendapatkan makanan. Dia juga memendam rasa cinta dan kangen dengan seorang perempuan. Go kong sampai harus mempermalukan dia di depan raja untuk menyadarkannya bahwa selama ini dia juga sudah mempermalukan go kong di depan banyak orang. Go kong sampai mengutip kata-kata Buddha "Lakukanlah kepada orang lain apa yang ingin mereka lakukan kepadamu." Di sini, yang tampak bijak justru go kong dan bukan gurunya. Sang guru disadarkan akan kesalahannya justru oleh go kong.
3. Murid-murid biasanya bandel karena tidak mau mengikuti perintah guru yang bijaksana tapi di film ini, murid-murid disebut bandel karena tidak mau mengikuti arahan guru untuk beratraksi demi mendapatkan uang. Biasanya saat go kong tidak mau mengikuti perintah, maka guru akan membacakan mantra yang membuat kepalanya sakit tapi di film ini saat mantra dibacakan, kepala go kong tidak sakit, go kong justru menari-nari dengan lucunya. Tapi tahukah kalian bahwa ternyata bagi go kong itu jauh lebih menyakitkan daripada sakit kepala. Tampaknya sang pembuat cerita ingin menunjukkan bahwa rasa sakit tidak hanya karena kekerasan fisik tetapi juga penghinaan terhadap eksistensi diri.
4. Go kong bisa berubah dengan banyak bentuk yang keren-keren.

Nah setidaknya saya menemukan 4 hal baru yang ada di film ini. Hal-hal baru tersebut menjadi daya tarik sendiri. Penonton berduyun-duyung datang ke bioskop berharap ceritanya pasti akan keren. Tapi ternyata....

Sebentar istirahat jari dulu, saya ngetik di hp soalnya, pegel.
.
.
.
.

Ok lanjut.

Tapi sayangnya, film yang saya harapkan penuh adegan aksi ini malah dipenuhi oleh lelucon-lelucon yang memang lucu. Tapi sayangnya humornya terlalu banyak. Mungkin sekitar 80% isinya humor. Adegan aksi yang sungguh-sungguh hanya ada di akhir itu pun dengan grafik dan adegan aksi yang menurut saya masih ga jauh beda dengan film sebelumnya. Hanya beda di go kong yang tampil dengan bentuk berbeda. Rasa drama yang sendu pun hampir tidak terasa. Jadi benar-benar film ini didominasi oleh humor.

Menurut saya film ini ingin menawarkan kisah yang berbeda tapi sayang berakhir dengan cerita yang sama anehnya dengan kisah sebelumnya. Dari segi pesan, film ini seakan ingin menyampaikan:
1. Rohaniawan tidak melulu harus tampil laksana malaikat yang elegan, mereka juga punya sisi kemanusiaan dan bisa melakukan kesalahan. Rohaniawan yang asik itu adalah rohaniawan yang gokil. Di dalam film ini si guru bilang jangan panggil saya guru, panggil saja tetua.
2. Rasa sakit bisa timbul bukan karena cidera fisik tapi bisa karena keberadaan diri diciderai.

Nah setidaknya itu 2 hal yang saya dapat pelajari dari film ini. Mungkin saja kamu bisa mendapatkan pesan yang berbeda.

Kalo ga dapat pesan, yah chat duluan dong, jangan sok jual mahal. #lohhhh 😄😄😄

Nilai dari 1-10, saya kasih 7

Jumat, 30 Desember 2016

TENTANG SAYA

TENTANG SAYA

2016 akan segera berakhir. Saatnya berefleksi atas kesempatan yang sudah Tuhan beri untuk saya belajar dan berkarya. Kira-kira beginilah perjalanan proses pembelajaran saya mulai dari tahun 2002.

2002-2005 Belajar farmasi
2005-2010 belajar teologi sambil kerja sebagai tenaga farmasi
2006-sekarang belajar sulap dan jadi pesulap
2006-2009 belajar komik dan ngomik tapi redup di akhir
2007-2010 belajar aikido, karate dan wingchun
2010-2013 jadi guru SMA
2010-2014 masuk dunia menulis dan menerbitkan 13 judul buku
2011-2013 melatih sulap dan beladiri di SMA
2013-sekarang mengelola penerbitan
2013-sekarang kerja di GKI
2014-2015 melatih beladiri di gereja
2014-sekarang mulai ngomik lagi
2016-sekarang mulai masuk dunia cosplay
2017 mau belajar membuat kostum kamen rider (jadi maker ceritanya 😄😄) dan membuat toko kostum kamen rider 😄😄

Ayo bagaimana denganmu? Apa saja yang sudah dilakukan selama ini?

ALASAN MENCINTAI

ALASAN MENCINTAI

Ada yang bilang bahwa mencintai itu tidak butuh alasan. Tapi menurut saya agak mustahil mencintai tanpa alasan. Kenapa? Coba kita pikirkan kan yah. Jika kita mencintai tanpa alasan, kenapa saat disuruh mencintai orang lain tidak bisa? Kenapa hanya mau dan bisa mencintai dia saja?

"Aku juga ga tahu kenapa bisa menyukainya, pokoknya nyaman aja kalo di dekatnya" "Ga ada alasan khusus, cuma suka deg-degan aja di sebelahnya" "Ada rasa yang beda jika aku di dekatnya"

Bukankah semua hal di atas adalah alasan? Jadi sesungguhnya saat mencintai pasti kita memiliki alasan tertentu. Entah alasan abstrak atau konkret. Alasan menjadi penggerak kita untuk menyuka seseorang.

Ada yang mengatakan bahwa cintailah seseorang karena hatinya bukan fisiknya, fisik bisa berubah tapi hati tidak. Benarkah hati tidak berubah? Bukankah manusia adalah makhluk yang senantiasa berubah? Itulah kenapa ada mantan orang baik dan mantan orang jahat, mantan anak gank dan mantan anak cupu.

Tapi kalo mencintai karena fisik, saat dia sudah tidak rupawan lagi, maka kita tidak akan mencintainya lagi dong? Alasan dalam sebuah relasi itu bersifat progresif. Alasan saat pertama kali kita mencintainya akan berbeda dengan alasan kita tetap mencintainya saat sudah menikah. Selalu ada alasan baru untuk kita mencintai orang yang kita sayang.

Misal suatu saat istri kita gendut, buncit dan keriput tapi kenapa kita masih mencintainya? Karena kita sudah menemukan alasan baru untuk mencintainya. Misal karena dia ibu yang baik dan istri yang setia.

Jadi jangan takut mencintai atau dicintai karena alasan fisik di awal. Yang penting, tetaplah mencintai pasangan kita secara tulus. Dan temukanlah alasan-alasan lain yang membuat kita semakin mencintainya.

Rabu, 28 Desember 2016

ORANG KRISTEN YANG TIDAK MENGENAL KEKRISTENAN

ORANG KRISTEN YANG TIDAK MENGENAL KEKRISTENAN

Walaupun saya kristen, tidak menjamin saya tahu semua hal tentang kekristenan. Beberapa kali menggarap buku dari gereja aliran kekristenan yang berbeda dengan saya, membuat saya tergagap-gagap tapi juga sekaligus belajar hal baru.

Saya harus mencari tahu mimbar gerejanya seperti apa, ada yang pakai mimbar super besar namun ada juga yang hanya pakai tempat partitur lagu. Pendetanya berdiri di mana saat khotbah, ada yang di mimbar tapi ada juga yang keluar dari mimbar. Jemaatnya berdoa dengan posisi seperti apa karena tidak semua gereja, umatnya berdoa dengan tangan terlipat dan kepala tertunduk.

Belum lagi istilah-istilah yang dipakai. Setiap aliran kekristenan mempunyai istilahnya sendiri.  Misalnya doa berkeliling, doa labirin, doa penyembahan selama 1 jam, altar call, janji iman, baptis roh kudus, dan masih banyak yang lainnya.

Orang kristen saja belum tentu bisa mengenal kekristenan seluruhnya, jadi bagaimana mungkin orang di luar kristen bisa langsung mendeklarkan diri bahwa mereka tahu kristen itu seperti apa? Menggeneralisasikan segala sesuatu memang tidak baik.

Kita juga sebagai umat Kristen, tidak bisa mengatakan bahwa kita sudah mengenal Islam, Hindu, Budha, atau Katolik dengan baik. Karena setiap agama itu luas dan beragam. Jadi mari hentikan usaha menggeneralisasikan suatu agama.

Mari melihat setiap agama dan alirannya secara partikular, menurut keunikannya masing-masing. Dan rendah hatilah saat mencoba mempelajari agama lain atau aliran lain.

PEMUKA AGAMA BERPENDUKUNG BESAR

PEMUKA AGAMA BERPENDUKUNG BESAR

Di saat tokoh agama memiliki banyak pendukung, maka akan berbahaya jika tidak diimbangi dengan kerendahan hati. Apa bahayanya:

1. Anti kritik. Saat ada yang mengkritik dirinya maka dia akan memanas-manasi pendukungnya bahwa agama mereka dikritik. Padahal yang dikritik adalah tokoh agamanya.
2. Saat tokoh agama melakukan kesalahan, para pendukung akan berusaha melihat dia tidak salah sehingga tokoh agama tidak akan pernah sadar bahwa mereka pun bisa berbuat salah. Mereka manusia yang harus terus menerus memperbaiki diri, sama seperti manusia lainnya.
3. Jika ada yang tidak suka dengan kearogansian si tokoh agama, dia akan menggerakkan masa untuk menjadi tameng atau pion penyerang dengan dalih, melindungi agama dari penghinaan. Padahal sejatinya hanya untuk melindungi diri sendiri.
4. Saat usia sudah lanjut dan harus turun dari jabatannya, dia tidak akan rela (post power syndrome). Seandainya dia rela, para pendukungnya tidak akan rela karena merasa tidak akan menemukan pemimpin yang lebih baik darinya. Padahal organisasi apapun butuh yang namanya regenerasi.
5. Di saat tokoh agama mampu menggerakkan begitu banyak masa dalam sekali himbauan, maka dia akan merasa bisa melakukan apapun sesukanya.

"Dibalik dukungan yang besar, dibutuhkan kerendahan hati yang jauh lebih besar."

GARAM DUNIA

GARAM DUNIA

Kita adalah garam dunia. Tugas kita hanya untuk mengasinkan dan memberi rasa. Bukan untuk menyombongkan diri bahwa kita adalah garam.

Apakah kita pernah mencari-cari garam di dalam semangkuk sup yang sudah cukup rasanya? Tidak. Kita tidak peduli terhadap garam yang ada di dalam sup, karena yang penting rasanya enak. Tapi saat rasa ada yang kurang, barulah kita akan mencari-cari garam.

Dalam hidup, saat sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain berjalan baik, tidak akan ada yang mencari kita apalagi berterimakasih. Tapi saat yang kita lakukan ada yang kurang, pastilah ada yang akan mencari-cari bahkan menyalahkan kita.

Walaupun begitu, tetaplah memberi rasa. Karena garam akan menjadi garam, saat mereka tetap asin. Tapi saat mereka kehilangan asinnya, mereka hanyalah pasir yang diinjak-injak.

MENGENAL AGAMA LAIN

MENGENAL AGAMA LAIN

Jika kita ingin mengenal agama lain dengan baik, silakan lakukan beberapa hal ini:
1. Belajarlah dengan pemuka agama yang mempelajari ilmu perbandingan agama. Bukan pemuka agama yang suka mengutip-ngutip ayat agama lain tanpa tahu konteksnya.
2. Pelajarilah ilmu perbandingan agama. Banyak buku-buku tentang hal tersebut. Buku perbandingan agama berbeda dengan buku yang berisi kekurangan agama lain yang akhirnya dijadikan alat menyerang dan berdebat.
3. Rendah hatilah bahwa agama lain memiliki kebenaran yang tidak kita yakini tetapi mereka yakini. Keindahan yang belum pernah kita lihat tetapi itu eksis.

Semuanya bisa bilang mereka belajar perbandingan agama tetapi perbandingan agama yang baik memiliki ciri:
1. Membuka wawasan kita tentang agama lain. Melihat keindahan dalam agama lain dan melihat juga keindahan di dalam agama kita. Membuat kita menghargai agama lain dan makin mencintai agama kita.
2. Membuat kita melihat titik temu dalam agama lain yang bisa kita jadikan dialog, bukan mencari-cari titik tengkar yang hanya kita jadikan bahan debat.
3. Mempelajari agama lain tidak hanya kitab sucinya tetapi juga sosiologi, psikologi, sejarah, filsafat dan beberapa hal lainnya yang membuat kita melihat sebuah agama secara holistik. Karena agama tidak hanya terdiri dari kitab suci saja.
4. Tidak membuat kita ingin menyerang agama lain saat melihat ada kekurangan dalam agama mereka tapi justru membuat kita penasaran untuk mempelajarinya lebih jauh lagi.

AJARAN KEKRISTENAN YANG PATUT DITERTAWAKAN

AJARAN KEKRISTENAN YANG PATUT DITERTAWAKAN

1. Tentang Anak
Sesungguhnya, selain pemahaman Yesus sebagai Anak Tuhan. Ada beberapa juga pemahaman anak di dalam Alkitab yang bisa kita tertawakan karena ga masuk akal. Mari kita lihat satu-satu.

A. Anak Allah ada banyak, bukan hanya Yesus
Anak Allah selain Yesus ternyata ada banyak yang lainnya. Bahkan ada anak laki-laki dan perempuan. Lalu siapa yang membidani anak sebanyak itu? Bahkan anak-anak Allah itu kawin-mawin dengan anak-anak manusia. Jadi, Tuhan bisa besanan sama manusia? Hahaha

Kejadian 6:1-2 (TB)  Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.

2 Korintus 6:18 (TB)  Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa."

B. Anak Domba Allah
Yesus disebut Anak Domba Allah. Bukankah ini penghinaan kepada Yesus dan Allah? Bagaimana mungkin Allah dan Yesus disamakan dengan domba? Haha

Yohanes 1:36 (TB)  Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"

Wahyu 7:10 (TB)  Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"

C. Anak-anak Terang
Alkitab juga menyebut bahwa orang kristen adalah anak-anak terang. Bagaimana caranya terang bisa beranak? Siapa yang membidaninya? Haha

Lukas 16:8 (TB)  Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

Yohanes 12:36 (TB)  Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang."

1 Tesalonika 5:5 (TB)  karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan.

2. Mempelai Yesus

Selain ajaran soal anak, ada juga ajaran lucu lainnya yaitu mempelai Yesus. Umat Kristen dianggap sebagai mempelai Yesus. Yesus kan satu, sedangkan umat Kristen banyak. Jadi Yesus poligami? Yesus cowok, bagaimana dengan umat kristen yang cowok, mempelai Yesus juga? Homo dong? Haha

Wahyu 19:7 (TB)  Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

Wahyu 21:9 (TB)  Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba."

3. Roti Hidup
Yesus mengatakan bahwa Dia adalah roti hidup dan kita diminta untuk memakannya. Jadi kita diajak jadi kanibal gitu? Hahaha

Yohanes 6:51 (TB)  Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

4. Batu
Di dalam Alkitab, Yesus juga disamakan dengan batu. Wah bukannya itu penghinaan, masa Yesus disamakan dengan benda mati? Lagian, kalo Yesus adalah batu, berarti Dia ga punya hati dong? Haha

A. Batu Penjuru
Efesus 2:19-20 (TB)  Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

B. Batu Karang
1 Korintus 10:3-4 (TB)  Mereka semua makan makanan rohani yang sama 
dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.

5. Biji Mata Allah
Umat kristen juga dianggap sebagai biji mata Allah. Berarti umat kristen bisa melihat apa saja yang terjadi di dunia? Mata Allah kan bisa melihat apapun yang terjadi di dunia. Haha

Ulangan 32:10 (TB)  Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.

Sebenarnya masih banyak ajaran kekristenan yang bisa kita tertawakan. Bukan hanya kekristenan, tetapi juga agama lain jika kita tidak mau melihat teks kitab suci berdasarkan genre dan konteks tulisannya.

Kita mengabaikan bahwa kitab suci ditulis menggunakan bahasa simbol, berbagai macam sastra dan majas. Memahami kutipan kitab suci agama lain secara harafiah akhirnya membuat kita tertawa bahagia karena merasa berhasil melihat kebodohan agama lain, tanpa kita sadar sebenarnya kita sedang membuat diri kita sendiri tampak bodoh di mata umat agama lain.

Untuk membaca lebih lanjut tentang kitab suci umat kristen, bisa membaca sedikit ulasan saya di sini.

http://ketozia.blogspot.co.id/2016/07/bagaimana-memahami-kitab-suci-umat.html?m=1

Sabtu, 24 Desember 2016

LAUNCHING BUKU DI GRAMEDIA

LAUNCHING BUKU DI GRAMEDIA

Banyak penulis baru yang telah menerbitkan buku/komik, ingin launching di gramedia. Salahkah? Tidak... hanya mari kita pertimbangkan baik-baik beberapa hal ini.

Keuntungan:
1. Dengan launching di gramedia, mereka yang sedang mencari buku di gramedia, akan tahu bahwa ada buku kita di sana. Tapi hanya di gramedia tempat kita launching, tidak di gramedia yang lainnya.
2. Hanya itu keuntungannya, sejauh pengamatan saya. Jangan samakan dengan penulis/komikus yang sudah terkenal, karena saat mereka launching, penggemar mereka akan berdatangan. Tapi jika kita bisa mengundang media untuk meliput acara kita, maka kabar tentang buku kita bisa menyebar ke tempat lain. Tapi, sebenarnya kalo ingin mengundang media, tidak harus launching di gramedia, di manapun juga bisa.

Kerugian:
1. Untuk penulis pemula, kita sendiri yang harus mengundang massa untuk hadir dalam acara launching kita. Tanpa itu, yakinlah acara kita pasti sepi. Biasanya pihak gramedia akan menanyakan berapa massa yang akan kita bawa. Jadi sebenarnya, di gramedia kita cuma numpang untuk kumpul dengan teman-teman kita.
2. Kebanyakan gramedia menargetkan sejumlah buku harus terjual saat launching, misalnya 50 buku. Jika tidak terjual sampai 50 maka kita yang harus membelinya. Misal hanya terjual 5 buku, maka kita/penerbit harus membeli 45 buku dengan harga normal. Misal harga buku 50.000 maka 45 x 50.000. Nah mari kita hitung-hitungan, saat buku masuk gramedia, penerbit hanya mendapatkan dana 40% dari harga jual. Misal harga jual 50rb maka penerbit hanya dapat 20ribu. Nah saat launching penerbit harus bayar 50rb,  lalu nanti saat laporan penjualan, penerbit akan mendapatkan 20rb per-eksemplar. Itu artinya, per-eksemplarnya penerbit akan rugi 30rb untuk acara launching. Jika tidak laku 45 maka 45x30rb.
3. Yang beli, kebanyakan tamu undangan kita. Pengunjung belum tentu, bahkan tidak terlalu banyak yang beli jika kita belum terkenal atau tema bukunya tidak terlalu menarik.
4. Modal cetak backdrop/banner

Nah sekarang mari perhatikan jika kita launching di luar gramedia:

Keuntungan:
1. Semua hasil penjualan 100% masuk ke kita/penerbit
2. Kita mengundang teman-teman kita yang hadir, dan nantinya mereka juga yang akan membeli. Tapi tidak ada target penjualan, seandainya tidak laku sampai 50, kita tidak perlu keluar dana lagi untuk membeli buku tersebut.

Kerugian:
1. Mereka yang ke gramedia, ga ada yang tahu soal buku kita ada di sana. Yah walau ga terlalu ngefek juga sih, karena launching pun yang tahu hanya segelintir orang.
2. Tetap harus mengundang massa, tapi setidaknya penjualan 100% untuk kita.
3. Masih perlu modal cetak backdrop/banner.
4. Perlu sewa tempat, tapi ada juga beberapa kafe yang memberikan tempat gratis jika kita bisa membawa massa banyak.

Nah sekarang, jika teman-teman mau launching buku, silakan pertimbangkan hal ini. Jika mau di gramedia, bawalah teman sebanyak-banyaknya agar target penjualan terpenuhi. Atau cari gramedia yang tidak memberikan target penjualan, walau sudah mulai langka sekarang. Biasanya gramedia besar, pasti memberikan target penjualan.

BERSYUKURLAH HIDUPMU TIDAK SEBURUK MEREKA

BERSYUKURLAH HIDUPMU TIDAK SEBURUK MEREKA

Ada sebuah video pendek yang sangat terkenal. Di dalam video itu digambarkan tentang seorang pria yang mengumpulkan sisa-sisa tulang ayam yang masih ada sisa dagingnya. Sisa-sisa makanan itu dia berikan untuk anak-anaknya dan anak-anak di sekitarnya.

Video tersebut seringkali dipakai oleh pengkhotbah dan para motivator untuk menyampaikan sebuah pesan yaitu, "Makanan jangan dibuang-buang. Kita harus bersyukur karena masih bisa makan layak. Lihatlah video itu, mereka saja makan dari makanan sisa."

Saya setuju dengan pesan untuk tidak membuang-buang makanan, dan bersyukur untuk makanan yang masih bisa kita nikmati. Tapi masalahnya, apa hubungannya menghabiskan makanan dengan video tersebut? Apa hubungannya menghabiskan makanan dengan mereka yang makan dari sisa-sisa makanan?

Saya memiliki beberapa catatan mengenai hal ini:
1. Justru karena kita menyia-nyiakan makanan maka pria di video tersebut dan orang-orang yang suka mengumpulkan makanan sisa, bisa dapat makanan. Jika semua makanan kita habiskan tanpa sisa, mereka dapat makanan dari mana? Di luar sana, ada banyak orang yang mengais-ngais sampah untuk mencari sisa makanan yang masih bisa dimakan. Tanpa sadar, saat kita tidak menghabiskan makanan, kita telah menyelamatkan hidup seseorang.
2. Lalu apa dosa dari tidak menghabiskan makanan? Tidak bersyukur atas apa yang sudah Tuhan beri dan tidak menghargai orang yang sudah berjuang untuk menghadirkan makanan tersebut di hadapan kita. Itu saja. Tidak ada hubungannya kita makan makanan sampai habis dengan mereka yang mengais-ngais sisa makanan kita.
3. Hal ini terjadi karena kita suka membanding-bandingkan kelebihan kita dengan kekurangan orang lain. Misal, "Lihatlah, masih banyak yang lebih buruk dari kamu nasibnya. Jadi kamu harus bersyukur", "Kita harus sering melihat ke bawah agar dapat bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki." Tanpa sadar, kita bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Penderitaan yang harusnya membuat kita prihatin justru membuat kita bersyukur. Miris, kan? Tapi kita senang melakukan hal itu.

Bersyukurlah dengan apapun yang sudah kita punya tanpa harus membandingkannya dengan kekurangan atau penderitaan orang lain. Kalo mau melihat ke bawah, maka ulurkanlah tanganmu dan bantulah mereka yang sedang menderita. Jangan sampai kita melihat ke bawah lalu menengadahkan tangan ke atas sambil berucap, "Terimakasih Tuhan, hidupku tidak seburuk mereka."

IBADAH DIHENTIKAN

IBADAH DIHENTIKAN

Saya: Tuhan, saya sedih, ibadah kami dihentikan secara tidak bermoral. Apa yang harus saya lakukan?

Tuhan: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)

Saya: Tapi, mereka bukan musuh saya. Saya sama sekali tidak pernah menganggap mereka musuh saya. Walau mereka menghina agama saya, saya tetap tidak akan menganggap mereka musuh saya. Mungkin merekalah yang menganggap kami, umat Kristen, sebagai musuh mereka.

Tuhan: Kalo begitu, berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Saya: Apakah Tuhan menganggap mereka sebagai musuh-Mu?

Tuhan: Aku sayang mereka, kaum yang besar itu, yang tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri (kontekstualisasi dari Yunus 4:11).

KEBAKTIAN NATAL BERLEBIH

KEBAKTIAN NATAL BERLEBIH

A: Hei, dateng yuk kebaktian Natal di gerejaku.

B: Aku sudah kebaktian Natal 2x

A: Yah, ga apa-apa. Semakin banyak kan semakin bagus. Ingatloh, Ibrani 10:25 menulis "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

B: Tapi ada juga ditulis, 1 Timotius 6:6 "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."

Nah kan... jadi perang ayat. Kebiasaan buruk umat Kristen pada saat Natal adalah memaksa temannya untuk datang ke kebaktian Natal di gerejanya. Padahal temannya sudah ikut ibadah Natal di gerejanya sendiri.

Biasanya bulan Desember ini, umat Kristen bisa kebaktian Natal berkali-kali. Memang tidak ada yang salah, tapi mari coba menghayati Natal atau kebaktian apapun itu dengan rasa cukup. Sesuatu yang berlebihan jelaslah tidak baik. Dan mengajak orang lain untuk ibadah secara berlebihan juga tidaklah baik.

Selamat malam Natal.

AKU TUHAN, BUKAN IBLIS

AKU TUHAN, BUKAN IBLIS

Saya: Tuhan, ada orang yang berbuat jahat kepadaku. Boleh ga, tolong Kau balaskan dendamku ini, hancurkanlah keluarganya.

Tuhan: Mengapa tidak kau sendiri yang melakukannya?

Saya: Menghancurkan keluarga orang lain adalah sebuah kejahatan. Lagipula, bukankah pembalasan adalah hak-Mu?

Tuhan: Kau sudah tahu itu sebuah kejahatan, tapi kenapa kau menyuruh-Ku untuk melakukannya?

Saya: Bagiku mungkin itu sebuah kejahatan, tapi mungkin bagi Engkau bukan.

Tuhan: Mungkinkah Aku yang membuat peraturan dan aku sendiri yang melanggarnya? Lagi pula, mengapa kau meminta Aku untuk berbuat jahat? Mengapa tidak memintaku untuk berbuat baik? Ingat, Aku ini Tuhan,  bukan iblis.

ORANG KAFIR DAN ORANG TERKUTUK

ORANG KAFIR DAN ORANG TERKUTUK

Ada beberapa kalangan teman muslim yang melekatkan kata "kafir" kepada kami yang non muslim. Lalu mereka berpendapat bahwa itu memang sudah menjadi keharusan dalam agamanya dan ada di dalam kitab sucinya, untuk menyebut non muslim sebagai kafir. Padahal kami semua punya identitas yaitu Kristen, Katholik, Budha, Hindu dan Konghucu.
Mengapa masih menyebut kami kafir? Mengapa tidak menyebut nama agama kami saja? Repot karena harus sebut satu-satu? Ya sudah, kenapa tidak sebut non-muslim saja? Menurut saya menyebut kami sebagai non-muslim sudah cukup tanpa embel-embel kafir.
Jujur, kata kafir yang diberikan untuk kami itu menyakitkan. Mungkin bagi rekan-rekan muslim itu biasa saja.
Bagaimana jika saya memanggil umat non kristen sebagai "orang terkutuk," termasuk rekan-rekan muslim di dalamnya.
Bayangkan apabila kami menyebut atau menulis seperti ini, "Umat terkutuk sedang beribadah di monas".
Apakah teman-teman sakit hati? Kenapa harus sakit hati? Umat terkutuk adalah istilah untuk mereka yang tidak percaya dan mengikuti perintah Tuhan dan kitab suci kami. Silakan baca kutipan ayat yang saya berikan sebagai buktinya.

Teman-teman pasti sakit hati saat dikatakan umat terkutuk, walaupun itu adalah ajaran di agama kami. Seperti itu jugalah kami sakit hati saat teman-teman menyebut kami kafir.

Oleh karena itulah, kami tidak menyebut teman-teman sebagai umat terkutuk karena kami tahu sebutan itu menyakitkan. Kami lebih suka menyebut nama agama teman-teman karena agama teman-teman punya nama yang perlu diakui. Dan kami menghargai itu.

Mazmur 119:21 (TB)  Engkau menghardik orang-orang yang kurang ajar, terkutuklah orang yang menyimpang dari perintah-perintah-Mu.

Yeremia 11:3-5 (TB) Katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Terkutuklah orang yang tidak mendengarkan perkataan-perkataan perjanjian ini, yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu pada waktu mereka Kubawa keluar dari tanah Mesir, dari dapur peleburan besi, dengan berfirman: Dengarkanlah suara-Ku dan lakukanlah segala apa yang Kuperintahkan kepadamu, maka kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, sehingga Aku dapat menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada nenek moyangmu untuk memberikan kepada mereka tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, seperti halnya pada waktu ini." Lalu jawabku: "Begitulah hendaknya, ya TUHAN!"

Yohanes 7:49 (TB)  Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"

Roma 1:28-29 (TB)  Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Galatia 1:8 (TB)  Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Rabu, 14 Desember 2016

SERUAN UNTUK PENGIKUT KRISTUS

SERUAN UNTUK PENGIKUT KRISTUS

Wahai pengikut Kristus dengarkanlah seruan ini.
Jika ada yang menghina agamamu, jangan hina atau bully mereka. Apakah Kristus pernah meludahi balik mereka yang telah meludahi-Nya?
Jika ada yang menyakiti agamamu, jangan sakiti balik mereka. Apakah Kristus pernah mengajarkan untuk mata ganti mata?
Jika ada sekelompok orang dari golongan tertentu jahat, jangan sama ratakan bahwa golongan mereka pasti jahat. Apakah Kristus pernah mengatakan umat Yahudi dan Romawi jahat karena telah menyalibkan Dia?
Jika ada yang melawan agamamu secara tidak bermartabat, maka jangan diam. Lawanlah dengan cara bermartabat, yaitu dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Kita sama-sama punya hak di bumi, karena kita sama-sama manusia.
Damaikan hati dan pikiran, maka akan damailah semua tindakanmu.

Salam,
Nuryanto Gracia

Minggu, 23 Oktober 2016

SAAT ORANG KRISTEN BELAJAR ISLAM

SAAT ORANG KRISTEN BELAJAR ISLAM

Umat islam lulusan dari pesantren, Universitas Islam, bahkan ada juga yang profesor, saat membahas Islam yang berbeda dengan pemahaman organisasi islam seperti HTI, FPI, FUI, MUI dan sejenisnya, akan langsung dianggap ‘ngawur’. Pemahaman mereka akan islam dan alquran dianggap salah dan harus dikaji lagi. Bahkan sampai ada yang diberi label sesat, syiah dan liberal. Melihat peristiwa ini, saya lantas teringat dengan teman saya. Seorang yang beragama Kristen, lulusan sekolah teologi Kristen tapi belajar S2 dan S3 tentang Islam.
Saya penasaran bagaimana dia sebagai orang kristen memaknai proses pembelajarannya tentang Islam secara akademik. Mari simak wawancara saya berikut ini dengan teman saya tersebut. Dia bernama Hans Abdiel Harmakaputra. Wawancara ini dilakukan melalui chat messenger, dengan waktu dan benua yang berbeda. Saya di Jakarta, dia di boston.
Semua percakapan di bawah ini, saya salin sebagaimana aslinya. Saya hanya memperbaiki di bagian teknis, agar lebih enak dibaca. Bahasa wawancaranya juga saya buat dalam percakapan sehari-hari agar pembaca bisa membacanya secara santai sambil menikmati teh bersama dia yang manis.

Saya       : Halo Hans, sebelum melakukan wawancara boleh memberikan latar belakang pendidikannya dulu hans? S1, s2 dan s3 di mana dan jurusan apa?
Hans      : S1: STT Jakarta - teologi
                S2 Hartford Seminary - Islamic Studies and Christian-Muslim Relations
                Sedang S3 di Boston College, Theology Department bidang Comparative Theology

Saya       : Hartford dan Boston apakah 2 universitas tersebut beraliran liberal?

Hans      : Gak ada universitas yang beraliran liberal. Haha. Liberal itu kan pelabelan dari pihak lain. Hartford Seminary itu gak ada denominasi. Dan dia seminary bukan universitas. Boston College itu Jesuit University.

Saya       : Jadi bisa dikatakan, 2 tempat lu belajar Islam itu bukan universitas Islam melainkan seminari dan universitas yang masih dalam payung kekristenan?

Hans      : Betul. Tapi Hartford Seminary bukan seminary pada umumnya karena dia punya program Islamic Caplaincy. Jadi mahasiswa muslim cukup besar prosentasenya. Caplain itu kalau di Indonesia kayak "pendeta rumah sakit" pendeta tentara, pendeta di sekolah, dst
Lalu di Hartsem waktu gue studi ada 5 dosen bidang Islam. 4 orang muslim, 1 Kristen. Jadi bisa dibilang gue belajar dari Muslim. Belajar perspektif Islamic studies secara akademik. Nah kalau di BC memang universitas Katolik. Tapi advisor gue Muslim sih. Gue belajar teologi Kristen juga di sini. Minor di Kristologi
Oh ya, di US gak ada "Universitas Islam"               
Bidang Islamic Studies itu biasa dipelajari di divinity school atau religious studies department (religious studies beda dengan teologi karena perspektif tidak atas iman)

Saya       : Apa yang lu pelajari tentang Islam di sana? Apakah menyentuh tentang tafsir Alquran dan hadits? Atau ada yang lainnya?

Hans      : Waktu S2, belajar Islamic history (sampai pre modern), Islamic theology, Islamic spirituality and mysticism, Shi'a Islam, image of Jesus in Islam and Christianity, perbandingan tema- tema teologis Islam dan Kristen dll.
Pas S3 belajar Quran, hadith, Islamic literature, lalu di Harvard ambil kelas Islam kontemporer, jadi soal politik dan aliran-aliran Islam modern, plus Islam di Barat

Saya       : Soal tafsir Alquran apakah dipelajari juga secara mendalam seperti mempelajari tafsir Alkitab saat S1 teologi?

Hans      : Gak, cuma satu semester soalnya.

Saya       : Dapat dikatakan, lu adalah seorang teolog kristen, tapi kenapa tertarik mengambil bidang Islamologi?

Hans      : Gue sendiri gak sreg sama istilah Islamologi. Di kalangan akademik Islam indonesia juga kan gak bilang islamologi. Gue lebih setuju dengan term Islamic studies karena menyatakan bahwa bidang ilmu itu adalah sebuah bidang ilmu dan artinya bisa dipelajari oleh siapa pun. Teologi juga mestinya demikian. Itu alasan pertama, bahwa yang namanya ilmu pengetahuan itu ya mesti bisa diakses oleh siapapun yg tertarik.
Kedua, gue besar dalam tradisi iman yang bisa dikatakan Injili, sampai SMA. S1 seperti lu tahu masuk STTJ ada transformasi dalam cara berpikir, salah satunya ya soal bagaimana Kristen punya prasangka dan penilaian terhadap agama-agama lain (dan vice versa tentunya) tapi kok gak belajar dari sumber langsung dan kurang ada dialog. Makanya waktu s1 tertarik dengan dialog antar umat beragama. Sering ikut seminar2 di UIN, JIL, dsb.
Tapi kenapa akhirnya ambil Islam sebagai fokus studi sebetulnya sih gak terduga. Gue datang ke Hartford karena tertarik sama kehidupan kampus yang multi-faith, lalu gue pikir bisa belajar interfaith dialogue. Eh pas sampai sana gak ada program master untuk interfaith. Tapi pas lihat-lihat ternyata kampus itu terkenal untuk Islamic Studies dan ada beberapa dosen Islam yang terkenal. Lalu gue pikir, dalam konteks Indonesia kan interfaith ya pastibersinggungan dengan islam jadi kenapa tidak coba aja dalami Islam.
Begitulah awalnya. Dan ternyata cocok.

Saya       :Ilmu islamic studies yang lu pelajari tersebut, kira-kira jika dibawa ke Indonesia akan berguna untuk siapa?

Hans      : Yang pasti buat gue lah. Hahaha
Belajar itu kan sebuah panggilan. Sebelum ilmu itu bisa berguna buat orang lain, ilmu mesti berguna buat perkembangan diri sendiri khususnya buat jiwa masing-masing. Sama kayak hobby lah.
Nah kalau ditanya buat orang lain bagaimana, ya banyak juga manfaatnya. Kalau di pendidikan teologi, masih sedikit orang yang fokus secara serius dalam bidang ini walau sekarang sudah mulai. Misal pendeta yang ambil doktoral dari UIN.
Jadi mudah-mudahan bisa ada perkembangan dalam pendidikan teologi dalam hal studi               Islam.
Kedua, expertise gue juga bermanfaat buat orang muslim juga. Misalnya gue published penelitian di jurnal Islam Indonesia udah beberapa. Nah itu berarti turut berkontribusi dalam diskursus Islamic studies di Indonesia
Ketiga, ya mudah-mudahan bisa menjadi jembatan sih. Menerangkan Islam secara lebih baik dan tepat kepada yang Kristen dan vice versa (sebaliknya). Syukur-syukur bisa menarik minat teman-teman Muslim untuk belajar kekristenan juga.

Saya       : Artikel ilmiah lu yang berkaitan dengan studi Islam, sudah berapa yang diterbitkan di jurnal ilmiah? Kalo inget boleh juga ditulis judulnya hans...

Hans      : Bisa lihat di sini http://bc.academia.edu/HansHarmakaputra
Ada yg bertema Islam Kristen dan terbit di jurnal kristen. Ada juga yang topik Islamic studies dan terbit di jurnal islam
Ada 3 yang terbit di jurnal Islam Indonesia: 1. Becoming Perfect Human di Ulumuna -  IAIN Mataram, 2. Discerning motives di Miqot - UIN Sumut, 3. Post Islamism di al-Jamia - UIN Sunan Kalijaga Jogja

Saya       : Kita kembali lagi ke bagian kegunaan studi lu yah hans. gue tertarik dengan alasan ketiga lu. Itu artinya kepada rekan kristen lu akan menyampaikan seperti apa Islam itu, sedangkan kepada rekan Islam, lu menyampaikan seperti apa kristen itu? Jadi tidak menjelaskan kepada rekan Islam seperti apa Islam itu, misalnya mengenai tafsir yang ramah kepada teman-teman Islam yang radikal?

Hans      :Tidak ada jawaban tunggal tentang Islam. Kalau kita lihat kasus Ahok dan Al Maida misalnya, sebetulnya gak tepat juga Ahok bilang dibohongi karena yang namanya penafsiran itu ya ada soal salah benar atau masih relevan atau tidak relevan. Sama kayak kalau di Kristen ada gereja-gereja yang tolak pendeta perempuan karena penafsiran terhadap Alkitab. Nah kita gak bisa bilang mereka bohongin umat kristen, tapi kita bisa ajukan tafsir lain yang menunjukkan bahwa penafsiran mereka tidak akurat atau tidak relevan.
Kalau soal menjadi jembatan, beberapa kali gue alami bahwa untuk menjelaskan Islam kepada orang Kristen ya perlu tahu kekristenan juga jadi bisa kasih analogi yang pas. Dan sebaliknya ke Islam menjelaskan Kristen lebih mudah ketika cari padanan di islam.

Saya       : Apakah lu juga berminat untuk mengajukan tafsir yang lain kepada teman-teman muslim yang radikal atau tetap membiarkan saja mereka dengan pilihan tafsirnya yang mungkin saja bisa mengganggu keharmonisan beragama dan bernegara?

Hans      : Gue sendiri gak melihat diri gue sebagai public intellectual atau mungkin belum. Gue dilatih sebagai akademisi dan teolog. Masing-masing punya ranah sendiri dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau soal minat pasti punya minat, apakah mampu? Sepertinya enggak. Untuk tafsir perlu punya metode khusus seperti penguasaan bahasa Arab yang mumpuni, tahu tradisi tafsir, dll. Beda dengan protestan yang kadang sekarep dewe dengan dalih dituntun Roh Kudus. Hehe.
Nah masalahnya dengan yang lu bilang radikal itu punya otoritas yang berbeda dengan ulama tradisional, makanya gak mau tunduk sama tafsiran NU misalnya. Jadi memang tidak mudah. Ini soal otoritas

Saya       : Haha sebenarnya kan kristen juga tafsir ga bisa seenaknya. Ada pengkajian secara gramatikal, historis, dsb.
Nah balik lagi, berarti studi lu ini nanti diarahkan hanya kepada umat kristen dan umat Islam yang sepaham?

Hans      : Ya ketika lu bilang 'seenaknya' itu kan tergantung dari tradisi mana lu berpijak. Sama ketika lu menilai mana Islam yang 'radikal' mana yang 'moderat' hehhee
Gak juga, studi gue ini akademis. Diarahkan kepada komunitas akademis.
Akademis itu ya bisa sepaham bisa juga enggak.

Saya       : Umat islam yang lulusan dari pesantren, Universitas Islam, bahkan ada juga yang profesor, saat membahas Islam yang berbeda dengan pemahaman organisasi islam seperti HTI, FPI, FUI, MUI dan sejenisnya, akan langsung dianggap ‘ngawur’. Pemahaman mereka akan islam dan alquran dianggap salah dan harus dikaji lagi. Bahkan sampai ada yang diberi label sesat, syiah dan liberal.
Nah lu sendiri bisa dibilang jauh berbeda dengan mereka. Bukan orang Islam, tidak belajar Islam di universitas Islam, bahkan tidak mengkaji tafsir juga secara mendalam. Mungkin saja tulisan lu tentang Islam, atau pendapat-pendapatlu tentang Islam tidak dianggap oleh mereka. Jika seperti itu, apakah lu merasa ilmu lu menjadi tidak terlalu berguna atau lu merasa sebaliknya? Mengingat banyaknya Islam radikal yang mulai menjamur di Indonesia.

Hans      : Enggaklah. Kalau gue merasa gak berguna ya ngapain dikerjakan capek-capek. Hehe.
Orang menjadi radikal itu ada berbagai sebab dan menurut gue tugas akademisi atau orang yang bergumul dengan pendidikan ya mengikuti panggilan hati dan dengan jujur menyatakan apa yang ia anggap benar. Dengan begitu diskursus bisa berjalan, termasuk di masyarakat.
Untuk FPI misalnya, ada buku yang berjudul 'Hitam Putih FPI' ditulis sebagai tesis oleh mahasiswa UGM. Di situ dijelaskan seluk belum FPI secara antropologis dan sosiologis. Itu contoh karya akademis. Mungkin tidak memberi jawaban yang diinginkan orang tapi bergumul dengan fenomena tertentu.
Lalu tulisan gue tentang post islamisme juga membaca fenomena yang berkembang. Apakah itu memuaskan yg radikal? Mungkin enggak, mungkin malah baca aja enggak.
Tapi ilmuwan tidak bisa bekerja sepenuhnya karena alasan pragmatis dan berharap semua orang bisa mengerti.
Beda sama pendeta atau motivator. Hehe

Saya       : Dalam surat Al Kafirun, ada tertulis “Lakum Diinukum wa Liya Diin”, Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. Apakah saat lu menulis atau membahas tentang Islam, lu ga takut dianggap mencampuri urusan agama lain?

Hans      : Menarik lu bawa ayat itu karena sebetulnya ayat itu bisa dibaca sebagai sesuatu yang negatif yakni pemisahan, seperti Yesus menyuruh murid-murid untuk mengebaskan jubah dari tempat yang gak menerima mereka. Surat itu kan bunyinya begini: Hai orang-orang kafir! Aku tidak menyembah yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah yang aku sembah. Untukku agamaku dan untukmu agamamu. Menariknya di Indonesia itu malah dipakai secara positif oleh umat Muslim untuk menghargai batas-batas umat beragama di Indonesia.
Nah di situ bedanya posisi akademisi atau ilmuwan. Gue tidak berpretensi untuk mengajari Muslim atau mencampuri agama mereka. Gue gak memberi tahu penafsiran yang benar, tapi memperlihatkan ragam penafsiran dalam konteks historis yang berbeda-beda.
Dan bidang gue sebetulnya jauh dari tafsir Quran sebetulnya. Haha. Lebih ke kajian teologi dan mistisisme.
Islamic studies di lingkungan akademik Indonesia cukup bagus. Mereka terima pandangan scholar-scholar non Muslim yang bidangnya Islam seperti Robert Hefner, Martin Van Bruneissen dan banyak lainnya. Karena dianggap sebagai rekan ilmuwan.

Saya       : Wah menarik nih. Mengenai surat al kafirun tadi, apakah lu ada tulisan yang membahas hal tersebut? Jika tidak ada bagaimana tanggapan lu tentang surat yang bernada negatif tapi dipakai secara positif, bersyukurkah atau justru cemas?
Lah kok jadi nanya lagi... hahahaha, maaf hans.
Dan satu lagi, entah kenapa, ini menurut gue yah. Islam yang hanya berkutat di lingkungan akademik itu, tidak menyentuh akar rumput. Terbukti dengan banyaknya cendekiawan muslim yang membahas tentang tafsir quran tetapi ditolak mentak-mentah oleh masyarakat pengikut Islam radikal tersebut. Seakan-akan diskursus kalian selama ini tidak memberikan sumbangsih apapun terhadap pemikiran mereka. Itu menurut gue aja hans.

Hans      : Gak ada, itu berdasarkan pengamatan pribadi aja. Buat gue penafsiran itu dinamis dan teks selalu terbuka. Ada banyak hal yang ada di Islam Indonesia tapi gak ada di tempat lain. Walau selalu ada kontinuitas, tapi selalu ada transformasi.
Sebetulnya fenomena islam yang lu sebut radikal itu kan mulai menguat pasca Reformasi dan justru itu berkembang karena faktor-faktor selain agama.
Suharto yang menindas kaum Muslim dalam berbagai bentuk dan memaksakan Pancasila sebetulnya malah mencederai pluralitas.
Makanya sekarang kita berada dalam era yang tampaknya mengerikan dengan semakin               banyak penafsiran yang radikal. Tapi sering luput melihat kenapa mereka pakai penafsiran yang begitu bukan yang ramah.
Kalau soal menyentuh akar rumput atau tidak itu selalu akan ada kekurangan. Selain NU, yang moderat kan Muhammadiyah, itu gerakan yang sangat akademis. NU juga sejak beberapa puluh tahun lalu mulai akademis. Cek misalnya tulisan-tulisan Sumanto Al-Qurtuby, dia itu orang akademis tapi dengan sadar menyasar publik luas dan berhasil. Atau Mun'im Sirry.
Kalau soal ditolak atau diterima itu faktor lain. Sama kayak kenapa mahasiswa STTJ mayoritas tolak penafsiran ala Pariadji. Haha
Ada titik tolak berbeda, kepentingan yang berbeda, peer pressure, atau bisa juga secara              personal belum dapat hidayah.
Kasus Ahok misalnya, gue ada teman lulusan PhD dari US dan seorang Muslim. Dia dukung Anies Baswedan tapi secara proporsional. Pas dia bikin tulisan yang kritik umat islam yang salah paham terhadap Ahok, dia malah dibully abis-abisan.
Keliatan bagaimana kebanyakan yang posisi 'radikal' itu sebetulnya kurang belajar. Mungkin sepintas kayak yang dia lakukan sebagai PhD gak berguna buat akar rumput.
Tapi ya itulah jihad yang sebenarnya.
Berusaha...striving. Dan dari komen-komen ada juga yang merasa perspektif dia benar. Jadi di situ dia sudah memberi dampak pada akar rumput. Tapi proses diskursus sosial itu memang panjang. Di Eropa atau US aja yg katanya maju tetep kaum radikal sekular dan Kristen ada. Hehe

Saya       : Ini kalo dilanjutkan bukan jadinya wawancara tapi diskusi. Haha. Jadi gue hentikan saja sampai di sini.
Tapi sebelum itu, apakah dalam jurnal yang pernah lu tulis ada pembahasan tentang Islam radikal pasca reformasi? Jika ada boleh minta linknya?

Hans      : Kalau yang gue tulis sih gak ada, orang lain ada pastinya. Term Islam radikal itu sebetulnya gak banyak digunakan karena itu pelabelan dari Amerika ke yang mereka gak disuka. Hehe. Di tulisan gue yang post Islamisme ada soal kontroversi Ahok dan FPI tahun 2014 lalu serta perubahan retorika PKS, link di academia.edu

Saya       : Oke hans. Terimakasih banyak. Maaf telah menunda waktu tidurnya. Assalammualaikum.

Hans      : Sip. Semoga membantu. Waalaikumsalam

Pewawancara    : Nuryanto Gracia, Jakarta, 24 Oktober 2016, 08.45-10.36
Narasumber       : Hans Abdiel Harmakaputra, Boston, 24 Oktober 2016, 21.45-23.36


Kamis, 20 Oktober 2016

TIPS MENJADI ANAK KEKINIAN

TIPS MENJADI ANAK KEKINIAN

Apa saja yang diperlukan untuk menjadi idola anak kekinian?
1. Idola:
Berkata-kata kotor. Karena berkata-kata lembut dan ramah hanya untuk orang kolot, penjilat dan munafik.
Catatan:
Berarti mulai dari sekarang kita didik anak-anak kita untuk berkata kotor saja biar ga dikira kolot, penjilat dan munafik?
2. Idola:
Tampilkan kemesraan berpacaran sevulgar mungkin agar banyak remaja terinspirasi dengan kita dan pengen melakukannya juga dengan pacarnya (relationship goal). Mereka yang pacaran baik-baik aja di sosial media, hanyalah orang munafik. Padahal di kehidupan nyata mereka telah melakukan yang jauh lebih parah.
Catatan:
Kalo sampai putus dengan pacar, jangan dihapus video dan foto vulgarnya yah... Kita lihat nanti apakah pacar barumu bisa menerimamu dan memuji "Wah kamu orang yang paling jujur yang pernah kutemui, dan tidak munafik."
3. Idola:
Siapkan kalimat pemungkas apabila ada yang menghujat kelakuan kita. Berikut ini kata-kata pemungkasnya, "Ini hidup gue, bukan hidup lu." "Gue ga pake uang lu." "Gue ga mengganggu hidup siapa pun." "Kalian cuma hater yang ngiri." "Pro dan kontra itu wajar." "Urus dulu hiduplu, jangan urus hidup orang lain."
Catatan:
Yah kalo kamu melakukan semua itu dan tidak menyebarkan ke publik, itu adalah hidupmu. Tapi saat itu diunggah ke publik maka hidupmu akan mempengaruhi hidup orang lain juga. Bukan hanya mempengaruhi, bisa juga mengganggu tumbuh kembang mereka yang masih mencari jati diri.

JURUS MENOLAK KRITIK

JURUS MENOLAK KRITIK

Saat dikritik atau diberi masukan manusia masa kini punya jurus untuk menangkalnya:
- Ada yang kritik disebutnya hater. Ini kepedean tingkat tinggi. Hater itu artinya dia memperhatikan hidup kita dengan seksama lalu membenci kita.
- Ada yang kritik tinggal bilang aja bahwa dia cuma iri karena ga bisa melakukan seperti apa yang kita lakukan. Ini juga kegeeran tingkat tinggi. Orang yang mengkritik kita belum tentu mau menjadi sama seperti kita
- Ada yang kritik, tinggal bilang "ya deh kamu selalu benar, saya selalu salah." Kalimat tersebut memberikan tekanan secara psikologis agar orang yang mengkritik kita merasa bersalah, menganggap dirinya paling benar dan kita akan dianggap rendah hati.
- Ada yang kritik disanggah dengan "Sebelum mengkritik, coba lihat hidupmu dulu. Udah benar atau belum?" Wah ini susah. Sampai kapan pun, tidak akan ada yang memberi kritikan kepada kita. Kenapa? Tidak ada orang yang hidupnya 100% benar. Ada saatnya dia pun jatuh dalam dosa dan kesalahan.
- Atau biasa juga banyak yang bilamg "Saya mau jadi apa adanya. Inilah saya. Saya tidak mau menjadi orang munafik." Di satu sisi baik, memotivasi seseorang agar percaya diri. Tapi di sisi lain membuat mereka tidak melihat bahwa ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Penjahat tetap akan menjadi penjahat. Tidak ada yang namanya perubahan. Padahal tidak ada yang tidak berubah di dunia ini.
Tidak semua kritik perlu didengar tapi tidak semua kritik juga harus ditolak.

Salam,
Nuryanto Gracia

TIDAK PERNAH MELIHAT ALLAH

TIDAK PERNAH MELIHAT ALLAH

Agama apa pun kita, saya yakin, kita pasti tidak pernah melihat Allah. Oleh karena itu, daripada saling membenci karena memperebutkan dan memonopoli kebenaran Allah, adalah lebih baik bila kita saling mengasihi agar Allah dan kasihNya tetap di dalam kita.
"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (1 Yoh 4:12)

Salam,
Nuryanto Gracia

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar