Minggu, 20 Agustus 2017

BERPIKIR POSITIF DAN KELUAR DARI COMFORT ZONE

BERPIKIR POSITIF DAN KELUAR DARI COMFORT ZONE

Di suatu pagi yang sejuk dengan aroma dedaunan yang masih terasa begitu pekat, terdapat sepasang manusia yang tak berpakaian. Mereka tidak peduli dengan pasangan mereka yang berdiri telanjang di depannya. Tak sedikit pun timbul nafsu birahi dalam diri mereka.

Mereka asik menikmati kegagahan pohon yang berdiri tegap, lambaian ranting yang meliuk-liuk cantik dan buah-buah gempal yang begitu menggiurkan. Satu persatu pohon di taman itu mereka amati, hingga akhirnya mereka tiba di satu pohon yang memiliki buah sangat menggiurkan. Ingin sekali mereka memetiknya, namun mereka ingat bahwa buah ini sangat terlarang. Jika memakannya, mereka bisa mati.

Tetiba terdengar suara dari belakang pohon itu, "Makanlah, jangan takut."

Perlahan, sang pemilik suara keluar dari dahan-dahan pohon. Dia meliuk-liuk begitu indahnya.

"Wah ada ular, ayo tangkap dan kita jadikan hidangan makan malam," seru sang pria dengan penuh nafsu.

"Jangan kakanda, nanti ceritanya berubah," ingat sang perempuan.

"Jangan makan aku. Ada yang lebih nikmat dari tubuhku, yaitu tubuh buah ini. Tidak hanya nikmat, tetapi jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Tuhan," bujuk sang ular.

"Ah bohong, kami pasti akan mati jika makan buah itu," sanggah sang pria.

"Kamu ini terlalu negatif dalam berpikir. Tidak mau mendengar pendapat orang lain. Kamu kira hanya kamu yang paling benar?" Sang ular mulai marah karena dianggap pembohong.

"Kakanda, lebih baik kita dengarkan dulu pendapatnya," bujuk sang perempuan.

"Oke, aku akan dengarkan. Tapi kalo kita mati setelah memakan buah itu bagaimana?" Sang pria mulai terbuka tapi juga ragu-ragu.

"Kamu tidak akan mati. Justru kamu akan menjadi sama seperti Tuhan. Mengapa kalian tidak mau mencoba keluar dari comfort zone kalian? Ayo, terimalah tantangan jika ingin ada perkembangan dalam hidup."

Akhirnya, sepasang manusia itu memakan buah tersebut.

Dan, kita semua pasti tahu kelanjutan kisah ini.

Sabtu, 12 Agustus 2017

IMAN YANG MENJAMU MALAIKAT

IMAN YANG MENJAMU MALAIKAT

Iman kekristenan seharusnya adalah iman yang ramah terhadap orang asing. Ingat, kita adalah juga orang asing karena kita bukan orang bersunat, bukan bangsa pilihan, bukan orang Israel apalagi keturunan Abraham. Kita adalah bangsa kafir (orang asing) yang mendapatkan belas kasih Tuhan untuk masuk dalam lingkaran rakhmat dan pengampunan-Nya.

Yesus menunjukkan perumpamaan tentang sesama manusia dengan mengambil contoh tentang keramahtamahan kepada orang asing (orang samaria kepada korban perampokan, Lukas 10:25-37).  Dan lebih jauh lagi Yesus menekankan, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina, kita telah melakukannya untuk Dia (Matius 25:31-46). Penulis Ibrani bahkan mengatakan jika kita memberi tumpangan kepada orang asing, kita sedang menjamu malaikat (Ibrani 13:2).

Iman yang ramah dan mengasihi orang asing adalah iman yang seharusnya terus ditumbuhkan dari setiap kita, bukannya justru iman yang mengasingkan orang lain. Iman sejatinya merangkul, bukan memukul.

Jumat, 11 Agustus 2017

Kristen dan Kristenisasi (2)

Kristen dan Kristenisasi (2)

Umat Kristen sangat menghargai perbedaan. Mereka banyak yang teriak "Aku Pancasila" yang artinya menghargai perbedaan. Tapi di sisi lain, mereka sangat mendukung bahkan gencar melakukan kristenisasi.

Nah sekarang coba bayangkan, kita mengatakan bahwa menghargai perbedaan tapi di sisi lain ingin semuanya sama dengan kita. Di mana menghargai perbedaannya?

Mungkin kalo di kalimatkan jadinya begini, "Aku sangat menghargai perbedaan, aku menghormati apapun agamamu. Tapi kalo bisa sih, kamu masuk agamaku aja."

Mungkin ada juga yang berdalih, kan penyebarannya tanpa paksaan. Oke, ini bukan soal cara penyebaran tapi konsep berpikir tentang menghargai perbedaan. Jika kita menghargai perbedaan, mengapa tidak membiarkan yang sudah beragama tetap dengan agamanya masing-masing?

Mungkin akan ada lagi yang jawab,
"Di Alkitab kan ada ayat untuk mengkristenkan orang lain."

Apapun juga kalo mau dicari pasti ada di Alkitab.

Oke tapi saya tertarik untuk sedikit membahasa ayat yang sering dipakai untuk dasar kristenisasi.

Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Nah untuk kalian yang suka mengutip ayat kitab suci secara harafiah, mari kita lihat ayat ini secara harafiah saja. Mari abaikan konteksnya.

Pertama, adakah di sana tertulis Yesus memerintahkan untuk menjadikan agama lain masuk kristen? Di sana adanya, jadikanlah semua bangsa murid Yesus, baptislah dan ajarlah mereka melakukan yang Yesus telah perintahkan.

Baptis tidak hanya milik kekristenan. Umat yahudi juga punya ritual pembaptisan. Itulah kenapa, Yesus juga dibaptis. Menjadi murid Yesus dan melakukan apa yang Yesus ajarkan bukan berarti menuhankan Yesus apalagi masuk agama Kristen karena Yesus tidak membawa agama.

Kedua, oke seandainya memang ayat itu untuk mengajak semua orang masuk kristen. Lalu dibaptisnya yang sah dengan cara apa? Yang sudah dibaptis percik aja dianggap tidak sah dan harus dibaptis ulang. Nah ngomongin cara pembaptisan aja udah berantem berpuluh-puluh tahun. Haha.

Belum lagi nanti tentang, Yesus yang mana yang harus diimani? Oh ajaran di gereja sana sesat. Pendetanya liberal.

Pada akhirnya, proyek kristenisasi bukanlah proyek mengkristenkan melainkan membuat orang lain, beriman yang sama seperti "gereja saya."

Jika kita memang menghargai perbedaan, maka tak perlulah kita jadi sama. Berbeda itu Indah.

Untuk bahan lebih lanjut tentang apakah penginjilan adalah kristenisasi bisa baca di sini

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/ketua-stt-jakarta-penginjilan-bukan-proyek-kristenisasi

Kristen dan Kristenisasi (1)

Kristen dan Kristenisasi (1)

Injil (Kabar Baik) perlu juga disampaikan kepada mereka yang menganggap bahwa mereka sudah benar dalam memahami Kabar Baik. Kabar baik bukan lagi soal kristenisasi, apalagi penambahan anggota gereja.

Lihatlah, bencana sedang terjadi di mana-mana. Kebencian meraja-lela atas nama agama. Kemiskinan semakin menjamur dan menggerogiti negeri ini. Ketidakadilan dan penindasan bertumbuh subur di setiap sudut negeri ini.

Tapi kenapa kita masih saja ngotot pokoknya yang paling penting adalah membuat orang dari umat agama lain masuk ke dalam agama saya. Masih banyak masalah lain yang harus diperjuangkan. Coba deh koreksi lagi penggunaan kata Amanat Agung. Amanat artinya pesan, dan Agung artinya yang luhur, pertama dan terutama. Jadi Amanat Agung artinya pesan yang utama dan terutama.

Dan tahu kan pesan dari Tuhan yang utama dan terutama itu apa? Bukan, bukan untuk membuat orang beragama lain berganti agama menjadi agama kita (kristenisasi) tapi...

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengam segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 23: 37-39). Jadi bukanlah memurtadkan umat agama lain.

Hayolah... Ini bukan saatnya lagi tarik-tarikkan penganut agama lain buat masuk ke agama kita. Kini saatnya bergandengan tangan dengan umat agama lain untuk mau bekerjasama dengan kita menyelesaikan masalah kemanusiaan yang masih bertebaran di mana-mana.

Minggu, 06 Agustus 2017

Tubelight Review

Kya tumhe yakeen hai?

Satu lagi film India yang layak ditonton tahun ini berjudul tubelight, pemainnya adalah Salman Khan. Film ini berlatar belakang peperangan antara tiongkok dan india.

Ada 2 hal yang diangkat dalam film ini yaitu rasisme dan keyakinan. Mari lihat satu-satu.

1. Mengenai rasisme, ada seorang perempuan (Ling-ling) dan anaknya (Guo) yang merupakan keturunan dari negara tiongkok tapi dia tidak pernah sama sekali ke tiongkok. Dia lahir dan besar di India. Tapi orang-orang India pada saat itu tidak bisa menerima kehadiran mereka. Walaupun mereka berulang-ulang mengatakan bahwa mereka bukan orang tiongkok, mereka orang India namun tetap saja setiap mereka pergi ke mana pun, orang-orang memandangnya sinis. Laxman (Salman Khan) diminta oleh pamannya (Banne) untuk berteman dengan mereka. Karena menurut Gandhi, kita harus berteman dengan musuh kita. Laxman tertarik dengan ajaran Gandhi. Paman Banne memberikan list ajaran Gandhi kepada Laxman. List itu sekaligus menjadi tugas Laxman. Tugas pertama adalah berteman dengan Ling dan Guo. Setelah perjuangan yang cukup unik akhirnya Laxman berhasil berteman dengan mereka. Laxman juga menjadi pembela Ling dan Guo saat rekan-rekan India menyerang mereka karena dikira orang tiongkok.

2. Mengenai keyakinan, Laxman digambarkan sebagai seseorang yang difabel. Dia selalu diejek oleh teman-temannya. Dia punya adik yang selalu mengasihi dan menjaganya. Tapi sayangnya, adiknya harus pergi ke medan perang. Suatu kali, Laxman menonton pertunjukkan sulap. Dia diminta menggerakkan botol dengan keyakinannya. Awalnya tidak bisa, semua orang menertawakannya. Tapi pesulap tersebut meyakinkannya berulang-ulang bahwa jika dia yakin maka dia akan bisa. Pesulap tersebut diperankan oleh Shah Rukh Khan. Sudah lama tidak melihat 2 aktor besar ini main dalam satu scene walaupun di sini Shah Rukh Khan hanya menjadi Cameo. Dengan motivasi dari pesulap itu akhirnya Laxman bisa menggerakkan botol tersebut. Peristiwa itu membuat dia percaya bahwa dia bisa memindahkan botol. Saat dia bertemu dengan pamannya, dia juga ingin menunjukkan  bahwa dia bisa menggerakkan botol. Ini yang menarik dari film ini. Setiap keyakinan Laxman membuahkan hasil selalu dibenturkan dengan kenyataan. Kenyataannya Laxman tidak bisa memindahkan botol. Itu hanya tipuan sulap. Tapi ada yang menarik. Paman Banne meminta Laxman mencoba sekali lagi memindahkan botol. Hasilnya tetap sama. Botol tidak berpindah tapi Paman Banne tergerak memindahkan botol itu. Laxman protes bahwa jika seperti itu maka artinya bukan dia yang memindahkan botol. Paman Banne mengingatkan  bahwa keyakinan seringkali tidak membuahkan mukjizat tetapi dia memaksa orang lain melakukan seperti apa yang kita yakini. Itu juga yang dilakukan oleh Gandhi. Keyakinannya menggerakkan orang lain. Paman Banne mengutip kata-kata Gandhi bahwa jika kita yakin maka kita bisa memindahkan gunung. Suatu kali Laxman ditantang untuk memindahkan gunung. Semua orang menertawakannya, tapi tiba-tiba guncangan besar terjadi. Orang mengira Laxman berhasil memindahkan gunung, tapi beberapa yang lain mengatakan bahwa itu hanya peristiwa alam yaitu gempa bumi. Tapi Laxman yakin bahwa itu adalah hasil dari keyakinannya. Hingga akhirnya Ling-ling mengatakan bahwa itu bukan hasil dari keyakinannya tapi memang gempa bumi. Keyakinan dan fakta dibenturkan di dalam cerita ini. Ada satu hal besar yang dilakukan Laxman di akhir cerita yaitu dia berniat menghentikan perang dengan keyakinannya. Setiap pagi dia mengarahkan tangannya ke gunung. Berharap mampu menghentikan perang. Keyakinannya membuahkan hasil, perang berhenti. Dia begitu yakin bahwa keyakinannya membuahkan hasil. Kini saatnya bertemu dengan adiknya. Namun saat Laxman yakin bahwa adiknya akan selamat dalam perang, ternyata kenyataannya dia mendapat kabar bahwa adiknya meninggal. Di sinilah keyakinan Laxman berbenturan kembali dengan kenyataan yang teramat pahit. Kenyataan seringkali menggoyahkan keyakinan kita, tapi apakah kita tetap yakin? Sama seperti tagline dalam film ini, "Kya tumhe yakeen hai?" (Apakah kamu yakin?)

Senin, 31 Juli 2017

Anak Zaman Sekarang Gak Mau Denger Orangtua

Anak Zaman Sekarang Gak Mau Denger Orangtua

Seorang anak cowok, tetiba menatap saya tanpa berkedip. Dia berjalan semakin mendekati saya dengan mata yang masih terpaku menatap wajah saya. Saya pun tidak mau kalah, saya tatap wajah anak laki-laki yang masih kelas 2 SD tersebut.

Dia tiba di dekat saya sambil masih menatap wajah saya. Karena dia pendek, jadi harus mendongakkan kepala untuk melihat saya. Matanya menyorotkan bahwa dia sedang meremehkan saya.

Zia menghampiri saya, lalu berkata kepada temannya tersebut, "Ini papiku."

Setiap saya menjemput Zia pulang sekolah, saya memang selalu bertemu dengan teman-teman Zia. Tapi baru kali ini saya bertemu temannya Zia yang berani menatap saya langsung.

"Om masih SMA yah?" Celetuk anak cowok bertubuh gempal tersebut.

Saya kira dia bercanda, jadi saya tanggapi dengan bercanda juga, "Saya masih SMP."

"Ah engga. Om kaya masih SMA kelas 1." Ternyata anak itu menanggapi dengan serius.

Saya pun menimpalinya dengan serius, "Saya masih SMP kok."

"Ah engga, kaya SMA kelas 1." Dia masih ngotot bahwa sama SMA.

"Saya masih SMP."

Duh, anak sekarang, dibilangin orangtua ga mau dengerin. Masa saya bilang saya masih SMP dia ga percaya.

Kamis, 27 Juli 2017

Bolehkah Tuhan Digugat?

Bolehkah Tuhan Digugat?

Jika tuhan bersalah bolehkah digugat dan dihakimi?
Jika tuhan melakukan tindakan yang lalim bolehkah dihakimi?
Jika tuhan berpihak kepada orang jahat bolehkah dihakimi?

Saya lagi membayangkan bahwa tuhan-tuhan yang ada di bumi, memiliki persidangannya sendiri. Jika mereka ada yang bertindak tidak selayaknya tuhan maka mereka harus dihukum. Dan ternyata imajinasi saya itu ada loh di kitab Mazmur 82:1-7, berikut bunyinya:

Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi:

"Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!  Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!"

Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi.

Aku sendiri telah berfirman: "Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.
Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas."

---- Akhir kutipan ayat.

Tapi, tuhan itu kekal dan tidak bisa mati. Jadi bagaimana mungkin mereka bisa dihukum mati? Dalam film The Bride of Habaek, kematian tuhan adalah saat mereka dilupakan oleh manusia. Walaupun mereka hidup, namun saat mereka dilupakan oleh manusia, maka mereka sudah mati.

Seorang filsuf (maaf tiba-tiba lupa namanya, nanti kalo inget saya tambahkan) mengatakan bahwa sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin bisa kita pikirkan. Saat tuhan sudah dilupakan (tidak lagi dipikirkan) maka sesungguhnya dia sudah tidak ada.

Tuhan-tuhan yang lalim dan mengajarkan kejahatan, sudah selayaknya menerima hukuman "dilupakan."

Pertanyaannya:

Memangnya ada tuhan yang jahat? Coba mulai dari tuhan kita masing-masing. Jahat apa engga. Kalo jahat, yah lupakan. Kalo tidak, yah ikuti.

Rabu, 26 Juli 2017

Pendeta, Profesi atau Panggilan?

Pendeta, Profesi atau Panggilan?

1. Ada yang menganggap bahwa Pendeta bukanlah sebuah profesi, dia adalah panggilan. Jika mau ditilik lebih dalam, sebenarnya Pendeta juga merupakan profesi. Mengapa?
a. Ada tugas layaknya profesi tertentu yang harus dilakukan secara profesional
b. Ada etika jabatan, misalnya masalah anggota jemaat seburuk apapun tidak boleh diceritakan keluar
c. Ada penghasilan. Setiap aliran kekristenan memiliki perhitungan sendiri untuk penghasilan pendetanya, ada yang didapat dari persembahan dan perpuluhan, ada yang didapat dengan perhitungan gaji seperti PNS, dan ada yang didapat dari perhitungan lainnya yang tidak mengikuti gaji PNS. Namun kebanyakan gereja enggan menyebut penghasilan ini sebagai "gaji pendeta." Setiap perhitungan penghasilan tersebut memiliki konsekuensinya sendiri bagi kehidupan pendeta dan gerejanya. Misalnya gereja yang menggunakan persembahan/perpuluhan sebagai penghasilan pendetanya maka semakin besar persembahannya maka semakin kaya pendetanya, semakin kecil persembahannya semakin tidak kaya pendetanya. Pendeta yang penghasilannya berasal dari persembahan, jika mau diperhatikan akan lebih sering berkhotbah dan menekankan tentang perpuluhan. Berbeda dengan pendeta yang penghasilannya sudah tetap. Persembahannya sedikit atau banyak, penghasilan pendeta tetap sama sehingga pendeta jarang sekali berkhotbah tentang perpuluhan. Pendeta yang penghasilannya tetap tidak akan pernah merasakan yang namanya kelaparan atau kekurangan. Sehingga banyak yang menyindir bahwa pendeta berpendapatan tetap ini tidak sesuai Kristus, karena hidupnya berkelimpahan. Tapi di lain pihak, pendeta yang berpenghasilan tetap ini, menyindir mereka yang penghasilannya mengandalkan perpuluhan, sebagai pendeta yang menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk memenuhi pundi-pundi tabungan pribadi. Yah, sindiran-sindran lah sana sampai Tuhan Yesus datang, tanpa sadar apa panggilan mereka sebagai pendeta. Haha
d. Ada ilmu yang harus dikuasi. Itulah kenapa pendeta juga ada kuliahnya. Kuliah 4-5 tahun dalam fakultas teologi. Walau ada juga gereja yang alergi dengan teologi. Katanya teologi itu ilmu yang mempelajari Tuhan, padahal Tuhan tidak bisa dipelajari. Mereka juga yang menganggap bahwa jadi pendeta adalah panggilan jadi ga usah kuliah teologi, murid Yesus juga ga ada yang kuliah teologi. Akhirnya pendeta di gereja mereka hanya sekolah Alkitab beberapa bulan. Sekolah Alkitab dan sekolah teologi adalah dua hal yang berbeda.

2. Argumen yang menolak pendeta sebagai profesi karena bagi mereka pendeta adalah panggilan. Tapi pertanyaannya, apakah profesi yang lain bukan panggilan? Hal ini akhirnya bisa menimbulkan eksklusifikasi jabatan. Seakan pendeta adalah jabatan yang turun dari langit. Padahal sesungguhnya semua profesi adalah panggilan. Setiap kita mendapatkan panggilan hidup masing-masing. Ada yang dipanggil jadi pendeta, ada yang dipanggil jadi tukang sulap. Setiap panggilan itu harus dijalani dengan penuh kesungguhan.

3. Efek dari menolak bahwa pendeta bukanlah profesi adalah:
a. Banyak jemaat yang mengira bahwa pendeta ga kerja apa-apa tapi dapat duit.
b. Banyak jemaat yang menganggap bahwa "enak yah jadi pendeta, cuma cuap-cuap di mimbar dapat duit."
c. Banyak jemaat mengira bahwa pendeta hidupnya bergantung dari belas kasihan orang lain. Saya jadi ingat dahulu waktu masih smester awal sekolah teologi, pernah suka sama seorang perempuan (duh jadi curhat, ga apa-apalah yah curhat colongan, haha). Perempuan itu kristen tapi orangtuanya bukan. Dia punya prinsip jika mau pacaran harus izin sama orangtuanya. Nah orangtuanya saat itu menganggap bahwa jika saya lulus kuliah akan jadi pendeta, dan pendeta ga kerja tapi minta-minta duit sama jemaat. Hidupnya bergantung sama belas kasih jemaatnya. Saya berusaha menjelaskan bahwa di gereja saya tidak seperti itu sistemnya, pendeta bekerja dan tidak meminta-minta dari jemaat. Tapi, orangtuanya tetap tidak setuju karena dahulu dia pernah ke gereja yang pendetanya seperti itu sehingga dia beranggapan bahwa semua pendeta pasti seperti itu. Alhasil, saya ga jadi pacaran deh. Hiks... haha
Yah, jangan marah jika dibilang seperti itu. Kita sendiri yang bilang pendeta bukan profesi maka siap-siaplah disebut pendeta tidak bekerja. Padahal, pendeta itu bekerja 7 hari dalam seminggu, 24 jam dalam sehari secara prinsipil. Apa kerjanya? Banyak sekali. Semakin besar gerejanya, semakin banyak tugasnya. Tugasnya cuma khotbah? Itu hanya sebagian sangat kecil dari tugas pendeta. Di luar itu ada banyak sekali tugas yang bahkan membuat mereka sulit untuk sekadar jalan-jalan menikmati hidup atau mencari pacar. Bahkan ada pendeta yang jadwal tugasnya sudah ditentukan 1-2 tahun sebelumnya.

Jadi, pendeta itu profesi atau panggilan?

Selasa, 25 Juli 2017

KRISTEN SUSAH SEKALI MENGKRITIK ISRAEL

KRISTEN SUSAH SEKALI MENGKRITIK ISRAEL

Konflik sesungguhnya dari Israel dan Palestina sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun lalu sampai sekarang. Tapi selama berpuluh-puluh tahun itu juga, ada kelompok dari aliran kekristenan susah menerima bahwa apa yang dilakukan Israel itu salah. Menindas, menyiksa dan membunuh masyarakat sipil adalah kesalahan.

Tapi orang-orang Kristen ini susah menerima kenyataan tersebut. Saat Israel dikritik biasanya orang-orang kristen ini susah menerimanya:
1. Mereka akan mencari-cari kesalahan palestina, sekecil apapun akan dicari kesalahannya untuk dijadikan pembelaan.
2. Mereka menganggap bahwa wajar Israel menyerang palestina karena tanah yang di tempati palestina sekarang adalah tanah yang sudah Tuhan janjikan untuk Israel.
3. Seburuk apapun Israel, mereka adalah umat pilihan Tuhan.

Susahkah melihat bahwa konflik ini bukan lagi masalah agama tapi sudah menjadi masalah politik dan kemanusiaan? Yang salah harus dikatakan salah. Saat bangsa Israel salah, walaupun mereka adalah umat pilihan-Nya, Allah tetap menghukum mereka, bahkan Tuhan tak segan membinasakan mereka. Masih ingat kisah pemberontakan Korah (Bilangan 16:1-50)? Allah membinasakan Korah beserta para pengikutnya. Mereka ditelan bumi.

Mau mereka umat pilihan atau bukan, jika mereka bersalah tetap harus dikatakan salah. Bahkan, umat Israel yang sekarang bukanlah umat pilihan seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama.

Tapi saya juga tidak mau menyamaratakan semua orang kristen. Masih banyak juga umat kristen yang mengkritik dan mengutuk tindakan Israel. Tapi perlu diingat juga bahwa bukan berarti semua umat Israel ikut bersalah, karena tidak semua rakyat Israel juga setuju dengan tindakan tersebut.

Mari peduli dengan kemanusiaan. Saatnya mendukung mereka yang tertindas dan terpinggirkan, karena untuk itulah Yesus datang.

Untuk bacaan lebih mendalam silakan baca di sini http://www.satuharapan.com/read-detail/read/konflik-gaza-mengapa-ada-orang-kristen-dukung-israel

Jumat, 21 Juli 2017

BUNUH DIRI DAN PARA ORANG HEBAT

BUNUH DIRI DAN PARA ORANG HEBAT

Beberapa hari ini, timeline penuh dengan berita bunuh diri. Ada yang berkhotbah tentang orang-orang bunuh diri akan masuk neraka, ada yang memberikan kata-kata bijak agar orang lemah tidak bunuh diri dan ada yang kurang ajar karena membagikan foto jenazah yang bunuh diri tanpa disensor. Kenapa saya bilang kurang ajar? Yah, pikir aja sendiri.

Oke biarkan yang kurang ajar memikirkan apanya yang kurang ajar. Mari kita bicarakan yang lainnya.

Untuk kita yang merasa kuat dan tidak mungkin berharap mati atau sampai bunuh diri, mari kita lihat seberapa kuat kita.

Dalam kitab suci umat kristen setidaknya saya menemukan 2 kisah tentang betapa frustasinya nabi yang dipilih Tuhan. Saking frustasinya mereka memilih untuk mati daripada hidup.

Yang pertama adalah kisah Nabi Yunus.

Yunus 4:3
Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.

Yang kedua adalah kisah nabi Elia

1 Raja-raja 19:4
Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

Mari kita fokus ke satu kisah saja yaitu Elia. Tahukah kita betapa hebatnya Elia? Bisa jadi jauh lebih hebat dari kita yang sekarang merasa tidak mungkin bunuh diri. Kenapa?

Elia seorang diri melawan 450 orang nabi baal. Kita melawan 10 orang saja mungkin sudah ketakutan.

1 Raja-raja 18:22 Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.

Tapi Elia yang luar biasa itu pun akhirnya terseok-seok. Dia terjatuh dalam depresi dan keinginan untuk mati. Tidak ada jaminan orang hebat akan selamanya hebat, dan orang kuat tidak selamanya tak kepikiran untuk mati. Mungkin saja saat ini kita belum tertimpa masalah seberat mereka yang memutuskan untuk bunuh diri. Berat dan kecil setiap masalah memang relatif. Ada yang diputusin pacar rasanya berat, ada yang diputusin strap CSM kamen ridernya udah terasa berat. Setiap orang punya badainya sendiri.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mengalami depresi akut. Oleh karena itu, saat mendengar berita bunuh diri, tidak selayaknyalah kita menyombongkan diri bahwa kita hebat dan mereka yang bunuh diri bodoh. Atau jutaan kalimat penghakiman lainnya. Tapi juga bukan berarti tindakan bunuh diri itu dibenarkan.

Seringkali bunuh diri terjadi karena mereka merasa sudah tidak ada lagi yang mau mengerti mereka. Saat ada yang mengatakan mereka depresi dan ingin bunuh diri, kebanyakan dari kita langsung menceramahi atau memberikan kata-kata bijak. Padahal belum tentu itu yang mereka butuhkan.

Kisah Elia menarik sekali, saat tahu Elia begitu depresinya, Tuhan tidak lantas mengkhotbahinya. Tuhan menyediakannya makan.

1 Raja-raja 19:5
Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!"

Tuhan menunjukkan kepeduliannya. 2 kali Tuhan mengingatkan Elia untuk makan. Ada kebutuhan yang lebih penting untuk disentuh sebelum kita menjadi penceramah untuk teman-teman kita yang mau bunuh diri. Tunjukkanlah bahwa kita peduli kepada mereka, bukan ingin menghakimi atau menceramahi mereka.

Jumat, 14 Juli 2017

APAKAH HANYA TUHAN YANG PATUT DIPUJI?

APAKAH HANYA TUHAN YANG PATUT DIPUJI?

Pernahkah kita mendengar kisah tentang Yesus yang memberi makan dengan 5 roti dan 2 ikan? Pasti pernah dong... cerita itu sangat booming karena dari 5 roti dan 2 ikan bisa memberi makan 5000 orang laki-laki dewasa (saja).

Ketiga injil (Matius, Markus, Lukas) mengisahkan bahwa 5 roti dan 2 ikan itu berasal dari bekal para murid. Tapi Yohanes 6:1-15 memberikan perspektif yang berbeda. Roti dan ikan itu berasal dari seorang anak.

Dengan rela si anak memberikan roti itu kepada murid-murid. Kemungkinan besar ada pembicaraan terlebih dahulu antara murid-murid dengan anak tersebut. Mungkin pembicaraannya adalah, "Orang-orang di sini semuanya butuh makan. Dan hanya kamu yang bawa makanan, bolehkah kami memintanya. Nanti Yesus akan membuatnya menjadi cukup untuk semua orang di sini." Dan tanpa keraguan, anak itu percaya.

Tapi setelah roti dan ikannya diserahkan, dan juga setelah Yesus membuat mukjizat dengan roti dan ikan itu, apakah ada yang mengapresiasi anak tersebut? Tidak. Yang dipuji dan diapresiasi adalah Yesus karena mukjizatnya.

Tradisi hanya memuji Tuhan ini berlangsung sampai saat ini. Tidak ada yang salah dengan memuji Tuhan, tapi tidak adakah tempat untuk mengapresiasi karya dan kebaikan manusia?

Mungkin akan ada yang berpikir, "Kita harus berendah hati, jangan mau dipuji. Biarlah kemuliaan itu hanya milik Tuhan."

Apakah dengan mengapresiasi karya dan kebaikan sesama kita, akan mengurangi kemuliaan Tuhan? Jujur, kekristenan sekarang kurang apresiasi terhadap  karya jemaatnya. Setiap ada umat yang  berkarya, yang diserukan selalu, "Luar biasa Tuhan kita." Sekali lagi itu baik, tapi bisakah juga ditambahkan dengan apresiasi kepada mereka yang telah berkarya? Tidak adakah ruang apresiasi kepada manusia?

Coba lihat dalam khotbah-khotbah di gereja kita saat membicarakan 5 roti dan 2 ikan yang diambil dari Yohanes 6 tersebut, apakah ada yang mengapresiasi tindakan anak kecil tersebut?

Coba lihat gereja kita. Saat ada yang melayani dan menghasilkan karya baik, apakah kita mengapresiasinya? Pelayanan memang bukan untuk mengharapkan pujian, tapi apreasiasi dalam pelayanan dan gereja juga dibutuhkan. Yesus dalam pelayanan dan perumpamaan yang Dia berikan, tidak segan-segan untuk memberikan apresiasi, misal Matius 25: 21-23.

TIDAK BOLEH MENIKMATI DUNIA, KECUALI PENDETA

TIDAK BOLEH MENIKMATI DUNIA, KECUALI PENDETA

Seorang pendeta (pdt) mendatangi anggota jemaat yang selama ini terkenal begitu up to date, semua perkembangan zaman dia ikuti.

Pdt: Kamu tampaknya begitu cinta dengan dunia yah?

Umat: Memangnya kenapa kalo saya cinta dunia pak pendeta?

Pdt: Sebagai umat kristen, kita ga boleh mencintai dunia.

Umat: Tapi, bukankah Yesus datang ke dunia karena rasa cinta-Nya yang begitu besar kepada dunia? Yohanes 3:16 mengatakan,  "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Pdt: Tapi 1 Yohanes 2:15 mengatakan,  "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."

Umat: Oh gitu, jadi Bapak pendeta menikmati dunia, dari hasil melarang umat menikmati dunia?

Pdt: Hah? Maksudnya?

Minggu, 02 Juli 2017

DIHANCURKAN SEMAKIN BESAR

DIHANCURKAN SEMAKIN BESAR

Saya kembali, setelah me-recharge diri selama beberapa hari ini. Saya akan bagikan kisah-kisah menarik yang saya dapatkan selama 'pengasingan diri' ini.

Saya memulai perjalanan saya dengan berkunjung dan tinggal di tempat cici saya yang merupakan pendeta di lombok. Gerejanya termasuk dalam aliran pentakosta. Namun yang menarik adalah, gerejanya sudah menggunakan banyak sekali pendekatan untuk melihat suatu masalah keagamaan. Misalnya mengenai pendeta perempuan, di beberapa gereja pentakosta masih dilarang seorang perempuan menjadi pendeta namun di gerejanya sudah tidak masalah karena mereka melihat juga dari sudut sosiologi. Masalah-masalah lain juga dilihat lintas ilmu, tidak hanya dari Alkitab saja. Gerejanya juga sering mengadakan dialog lintas agama. Dia mengajak umat kristen untuk mengenal juga ajaran agama lain. Bagaimana mau berteman jika tidak mau kenal? Bagaimana hidup damai jika yang dikhotbahkan hanya keburukan agama lain?

Oh iya ada satu lagi yang menarik. Gereja ini (tempat saya berfoto). Dahulunya hanya gereja kecil yang kumuh. Pada tahun 2000, gereja tersebut dihancurkan karena efek dari peristiwa mei 1998 masuk ke Lombok. Tapi 2 tahun kemudian, gereja ini sedikit demi sedikit dibangun dan berkembang menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.

Walau gereja sudah bertumbuh menjadi besar, cici saya ini tidak mendoakan keburukan bagi pembakarnya atau mengajarkan jemaat untuk membenci para pembakar atau agama para pembakar yang membakar gerejanya. Dia kini justru mengajak jemaatnya untuk mau mengenal kebaikan agama lain. Setiap bulan pasti ada pertemuan lintas agama.

Dihancurkan bukan menghilang justru semakin besar, bukan hanya gedungnya tetapi juga hatinya. Saya mendapat pelajaran berharga dari sini.

LELAH ITU MANUSIAWI

LELAH ITU MANUSIAWI

Banyak yang menganggap bahwa orang yang mendaki gunung pastilah kuat. Banyak yang mengira, pendaki gunung itu dari awal pendakian sampai puncak mendaki tanpa kelelahan dan istirahat. Padahal kenyataannya, kami lelah setiap saat dan beristirahat setiap 5-15 menit sekali. Tergantung jalur pendakiannya. Kalo datar, tidak perlu sering istirahat. Jika menanjak maka kami akan sering istirahat.

Kami bukanlah orang-orang yang kuat menahan derita, kami hanyalah orang-orang yang tahu kapan harus jeda dan kapan harus berjalan kembali. Perjalanan yang penuh kelelahan ini, kami jalani dengan iringan semangat dan istirahat.

Begitu juga perjalanan hidup kita. Banyak hal yang membuat kita kelelahan. Jangan sok kuat, jika butuh istirahat maka istirahatlah. Lelah itu manusiawi, tidak dosa.

Dan juga jangan kebanyakan mengasihani diri sendiri. Semua orang sama-sama lelah. Mungkin bedanya mereka terus melanjutkan hidupnya sedangkan kita masih terus saja mengasihani diri sendiri. Yang lain sudah berjalan jauh tapi kita masih tertunduk lesu. Mau sampai kapan?

PERGI KE MANAPUN, KEBENCIAN TETAP ADA

PERGI KE MANAPUN, KEBENCIAN TETAP ADA

Awalnya, saya mendaki gunung memang ingin mencari hening dalam setiap lelah yang dijalani. Keluar dari semua penat dan benci yang merasuk dalam setiap aktivitas rutin setiap hari. Namun saat proses mendaki, justru saya menemukan kebencian itu ikut mendaki juga ke gunung.

Saat saya beristirahat sejenak menghilangkan lelah mendaki gunung yang begitu terjal, saya mendengar satu orang berteriak kepada temannya, "Haleluya". Seruan tersebut ternyata untuk meledek. Karena pembicaraan berikutnya menunjukkan kebencian mereka kepada kekristenan.

Terdengar seorang dari mereka dengan lantang berseru, "Mereka yang harus ikut kita, bukan kita yang ikut mereka. Tidak ada kompromi dalam hal ini. Gorok kalo ga mau."

Ternyata, mau pergi ke manapun, kita akan tetap bertemu dengan kebencian selama kita masih bertemu dengan manusia. Kita tidak bisa kabur dari kebencian. Bahkan seandainya kita hanya sendirian di suatu pulau pun, kita tetap akan bertemu dengan kebencian di dalam diri kita sendiri. Kita benci dengan kesendirian kita, kita benci dengan sekitar kita dan kita benci dengan diri kita sendiri.

Kita memang tidak bisa kabur dari kebencian, tapi kita bisa memilih untuk terpengaruh oleh kebencian itu atau tidak.

SESUMBAR

SESUMBAR

"Kalo jalurnya udh ada seperti ini, pasti ga mungkin ada yang tersesat di gunung yah mas?" tanya saya kepada teman sependakian saya di gunung semeru.
Jalan di gunung semeru (dan di beberapa gunung lain) telah terbentuk dengan jelas sehingga para pendaki hanya perlu mengikutinya begitu saja. Oleh karena itu, saya berpikir tidak mungkin ada yang tersesat jika hanya mengikuti jalur yang sudah diberikan.

"Itu namanya sesumbar," tegur teman saya itu menanggapi pertanyaan saya. Awalnya saya tidak terlalu setuju dengan kata-katanya. Tapi tidak berapa lama setelah saya mengucapkan pernyataan tersebut, tersebar berita bahwa ada satu pendaki yang menghilang saat turun dari puncak mahameru.

Dia berada di puncak berdua sama temannya, tapi karena tidak kuat dingin maka dia turun terlebih dahulu. Tidak lama kemudian temannya yang satu lagi menyusul. Temannya sampai di kalimati dengan selamat tapi sayangnya dia tidak ada kabarnya sampai saya turun dari gunung dan tim SAR dikerahkan untuk mencarinya.

Dua orang turun dari puncak, yang satu turun dengan selamat tapi yang satu lagi menghilang. Walau berpijak di tempat yang sama, dan dengan arah perjalanan yang sama tapi apa yang terjadi berikutnya tidak bisa diduga.

Dalam hidup memang banyak hal yang tidak terduga bisa terjadi. Itulah kenapa kita jangan terlalu khawatir karena ketidakpastian hidup dan juga jangan terlalu sombong karena kepastian hidup. Ingat, tidak ada yang pasti di dalam hidup selain ketidakpastian itu sendiri.

Sabtu, 24 Juni 2017

ANAK TERANG DAN DOMBA TERSESAT

ANAK TERANG DAN DOMBA TERSESAT

“Domba tersesat”, frasa tersebut sesungguhnya tidak eksplisit tertulis di dalam Alkitab, yang ada hanyalah kisah tentang domba yang tersesat (Matius 18:12-14 dan Lukas 15:3-7). LAI sepakat memberikan judul yang sama untuk dua perikop tersebut yaitu, “Perumpamaan tentang domba yang hilang.”

Apa sebenarnya makna kisah domba yang hilang atau tersesat itu? Apakah kisah itu memang menunjukkan tentang orang-orang dari agama lain yang bertobat dan menjadi Kristen seperti pandangan beberapa aliran kristen selama ini?

Mari kita perhatikan konteks kisah itu satu persatu. Kita mulai dari Matius 18:12-14. Kisah tentang domba yang hilang dalam perikop tersebut ditutup dengan kalimat, “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” Perhatikan sekali lagi, “anak-anak ini hilang.” Jadi secara eksplisit, tanpa harus menafsir terlalu jauh, tinggal membaca saja teksnya maka kita akan menemukan bahwa konteks cerita tersebut bukan untuk agama lain tetapi untuk anak-anak. Jadi yang dimaksud dengan domba tersesat atau terhilang itu adalah anak-anak. Jika membaca dari Matius 18:1-14 kita akan menemukan bahwa kisah domba tersesat hubungannya dengan pesan agar jangan sampai ada anak-anak yang terhilang, atau menyesatkan mereka. Matius 5:6 menekankan. "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”

Lalu siapakah anak-anak yang dimaksud? Apakah bocah-bocah dalam artian sesungguhnya atau anak-anak kecil dalam artian metafor? Ada yang mengatakan itu adalah anak-anak dalam artian sebenarnya, sehingga guru sekolah minggu selalu ditekankan agar jangan sampai membuat anak-anak tersesat. Tapi ada juga yang mengatakan itu adalah metafor untuk orang-orang lemah, sederhana, dan gampang terlukai yang ada di dalam komunitas Matius (bandingkan juga dengan kisah dalam Matius 25). Komunitas Matius diajak untuk merangkul ‘anak-anak kecil’ ini. Jangan sampai seorang pun dari mereka terhilang.

Tapi, walaupun berbeda tentang makna kata “anak-anak kecil” dalam kisah tersebut, pada intinya cerita tersebut tidak bercerita tentang agama lain. Jadi domba tersesat yang dimaksud bukan tentang agama lain. Lalu bagaimana dengan Lukas 15:3-7?

Berbeda dengan kisah dalam Matius di atas, Lukas mengakhiri kisah ini dengan kalimat, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Nah, kalimat tersebut seringkali membuat pembaca menghubungkan kisah domba yang hilang dengan umat agama lain yang bertobat. Secara eksplisit kita memang menemukan teks tentang “orang berdosa yang bertobat.” Ini masalahnya jika hanya mengutip satu ayat lepas dari konteksnya. Sebelum melihat konteks penulisan, coba kita lihat kisahnya terlebih dahulu secara keseluruhan, Lukas 15:1-32. Ada 3 kisah kehilangan dalam pasal 15 tersebut, yaitu domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Kisah-kisah itu ditujukan kepada orang-orang farisi dan ahli taurat yang mengkritik Yesus mengenai sikap-Nya menerima orang-orang yang terkucil secara religius dan sosial itu (baca Lukas 15:1 dan 2). Kisah dalam pasal 15 ini ditutup dengan perumpamaan anak yang hilang. Lukas ingin menunjukkan bahwa masalah terbesar sesungguhnya bukanlah domba yang hilang, atau anak-anak yang hilang tetapi anak-anak yang lebih tua (mereka yang merasa lebih suci, religius dan berkuasa), yang menolak turut serta dalam perayaan di mana-mana orang-orang yang terkucil itu justru dianggap sebagai tamu terhormat oleh Yesus. Jadi domba tersesat dalam perikop ini bukanlah tentang agama lain tapi tentang orang-orang berdosa yang mau bertobat.

Dosa yang dimaksud itu apa? Apakah tentang mereka yang beragama lain? Seringkali kata dosa disambungkan dengan mereka yang beragama lain lalu bertobat masuk agama kita. Seakan-akan memeluk agama lain adalah sebuah dosa.

Sekali lagi mari kita baca Lukas 15:1. Di sana sudah diberikan contoh siapa itu orang berdosa yang dimaksud Lukas. Siapa? Pemungut cukai. Jadi orang berdosa yang dimaksud adalah orang-orang yang melakukan tindakan kejahatan secara sosial dan moral. Bukan soal beda agama.

Jadi, baik Matius dan Lukas, tidak pernah mengaitkan domba yang tersesat atau terhilang dengan umat agama lain.

Sekarang mari kita berangkat kepada istilah selanjutnya, yaitu “anak terang.”
Setidaknya istilah anak terang secara eksplisit bisa kita temui dalam Lukas 16:8, Yohanes 12:36; 2 Korintus 6:14; Efesus 5:8, dan 1 Tesalonika 5:5. Wah banyak juga yah, jika dibahas satu-satu bisa sangat panjang. Mari kita lihat garis besarnya saja.

Lukas 16:8 membandingkan anak-anak dunia dengan anak-anak terang. Anak-anak dunia yang dimaksud jelas bukanlah mereka yang beragama lain, melainkan mereka yang melakukan kejahatan atau dosa. Ingat Lukas 16 adalah kelanjutan dari Lukas 15. Pembahasan Lukas 15 tentang dosa silakan baca lagi di atas.

Yohanes 12:36 membandingkan anak-anak terang dengan kegelapan. Kegelapan yang dimaksud adalah dosa, kejahatan dan penindasan dari kelompok Yahudi yang menekan dan menganiaya komunitas kristen yang baru terbentuk. Jadi ini bukan soal agama lain tetapi soal umat Yahudi yang menindas umat Kristen.

2 Korintus 6:14 membandingkan terang dengan gelap, orang percaya dengan orang yang tak percaya. Ayat ini tampaknya pas sekali untuk mengaitkan antara Kristen dengan umat agama lain. Ayat ini juga sering dipakai untuk melarang umat Kristen pacaran dengan agama lain. Secara implisit seakan ingin mengatakan bahwa umat agama lain itu gelap, dan kristen terang. Bahkan LAI memberikan judul secara jelas di dalam 2 Korintus 6:11-18 yaitu, “Jangan ada lagi noda kekafiran.” Wah lengkap sudah, ayat ini memang berbicara tentang agama lain. Susah sekali sepertinya untuk mengelak. Apakah kita terima saja bahwa ayat ini berbicara tentang agama lain?

Sebelum ke sana, mari kita lihat dulu ketidakkonsistenan kita dalam menjalankan perintah Tuhan. Kita menggunakan 2 Korintus 6:14 untuk melarang orang lain tidak pacaran atau menikah dengan agama lain. Tapi mengapa kita tidak ikuti juga perintah ayat 17, yang bunyinya:

Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.

Ayat ini mengutip dari Yesaya 52:11, yang bunyinya:

Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis! Keluarlah dari tengah-tengahnya, sucikanlah dirimu, hai orang-orang yang mengangkat perkakas rumah TUHAN!

Jika mengikuti perintah itu maka seharusnya kita keluar dari tempat di mana ada mereka yang beragama lain. Di Indonesia ini, jelas umat Kristen di kelilingi dan hidup berdampingan dengan umat agama lain. Jika memang mau konsisten bahwa yang dimaksud dalam 2 Korintus itu adalah agama lain, maka seharusnya kita harus keluar dari Indonesia dan carilah negara atau tempat yang tidak ada agama lainnya.

Tapi apakah emang itu maksudnya? Nah mari kita lihat lebih dalam.
Jemaat Korintus berada dalam satu konteks di mana orang Korintus suka sekali melakukan tindakan yang jahat seperti percabulan. Bahkan percabulan itu juga dilakukan di dalam kuil-kuil ibadah mereka, itulah kenapa ada istilah sundal bakti.

Jadi yang dimaksud dengan orang tak percaya dan gelap dalam ayat ini adalah orang-orang Korintus yang melakukan tindakan jahat tersebut. Perhatikan ayat 14 di sana dibandingkan antara Kristus dan Belial. Belial artinya jahat atau tidak berguna, orang Yahudi sering mengaitkannya dengan Iblis. Jadi pilihannya bukanlah Kristus atau agama lain, tapi Kristus dan orang-orang jahat. Janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan mereka-mereka yang melakukan perbuatan jahat itu. Bahkan sebisa mungkin keluarlah dari pergaulan buruk mereka, yang akan membawa kita juga kepada pergaulun buruk seperti percabulan yang mereka lakukan. Begitulah maksud dari 2 Korintus tersebut.
Efesus 5:8 membandingkan antara kegelapan dan anak-anak terang. Kegelapan yang dimaksud adalah percabulan, kecemaran, keserakahan, dan perkataan kotor. Sebab terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. (Silakan baca dari Efesus 5:1). Tapi di sana ada tertulis kalimat penyembah berhala, bukankah itu artinya menyinggung agama lain? Coba perhatikan kalimat utuhnya dalam Efesus 5:5, “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.”

Siapa penyembah berhala yang dimaksud? Orang sundal, orang cemar dan orang serakah. Jadi bukan soal agama lain.

1 Tesalonika 5:5 juga membandingkan anak-anak terang dengan orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Definisi kegelapan yang dimaksud juga tidak jauh berbeda dengan penjelasan pada 2 Korintus dan Efesus. Tidak ada kaitannya dengan agama lain.


Lalu pertanyaannya, bolehkah umat Kristen menggunakan frasa “Anak-anak terang”? Oh boleh sekali. Frasa itu sebagai sebuah refleksi iman bahwa kita harusnya hidup dalam terang dan kebaikan Tuhan. Kita adalah anak-anak terang karena itu hiduplah dalam kebenaran. Tapi jangan hubungkan anak-anak gelap dengan umat agama lain tapi hubungkan dengan mereka pembuat kejahatan yang memupuk hidupnya dengan kejahatan. 

Jumat, 23 Juni 2017

GILA AGAMA

GILA AGAMA

Suatu saat, semua orang yang gila agama akan saling mengklaim bahwa negara ini adalah milik Tuhannya. Siapa pun yang tidak mau mengikuti perintah Tuhannya, harus keluar dari negara ini.

Buktinya apa bahwa Tuhan mereka yang menciptakan negara ini? Kitab suci masing-masing. Dari klaim negara, nanti mereka akan berlanjut mengklaim dunia.

Dan yang akan menjadi bukti terkuat mereka adalah kitab suci. Para ilmuwan dan cendekiawan berusaha membangun dunia ke arah yang lebih baik dan beradab, dengan segala macam percobaan, peralatan dan teknologi yang luar biasa tapi orang-orang mabuk ini, datang dengan menyodorkan bukti kitab sucinya masing-masing lalu paling merasa menjadi orang yang berhak menempati bumi.

AGAMA SEMBAKO

AGAMA SEMBAKO

Adakah bahasa intimidatif di dalam kitab suci kita? Ada dan banyak. Intimidatif dalam arti menganggap yang lain lebih rendah dan tak lebih baik dari dirinya.

Di setiap agama pasti ada. Lalu sebagai umat beragama, kita mengutip kata atau kalimat tersebut ke konteks kita masa kini tanpa melihat konteks kisah saat kalimat itu turun/diwahyukan/ditulis. Sehingga akhirnya kita membenarkan kalimat intimidatif itu dengan dalih bahwa di agama lain juga ada kalimat serupa itu.

Misal, saat terjadi perdebatan sengit tentang penggunaan kata kafir dan non kafir. Ada yang mengatakan bahwa kata kafir bukan kata negatif, hanya pembeda antara golongan agamaku atau bukan. Lalu dibenarkan dengan argumen, di kristen juga kami dianggap sebagai domba tersesat atau anak-anak gelap.

Kafir, domba tersesat atau anak-anak gelap, mungkin pada awalnya digunakan secara positif sebagai pemisah bahwa kamu bukan dari agamaku atau kamu belum masuk agamaku, dan aku berharap kamu masuk agamaku. Namun pada kenyataannya kata tersebut menjadi sangat negatif dalam interaksi kehidupan keagamaan kita. Ada yang memaki penuh kebencian menggunakan kata tersebut. Ada juga yang akhirnya menggunakan kata tersebut untuk mengintimidasi mereka yang berbeda.

Atau misalnya lagi penggunaan kata sesat. Kata tersebut digunakan untuk melabeli agama lain yang tak sama atau agamanya sama tapi beda aliran. Lalu kita berdalih dengan mengatakan bahwa bagiku kamu tersesat karena tidak beriman kepada Tuhanku, dan bagimu aku tersesat karena tidak beriman kepada Tuhanku. Jadi yah santai saja jika dibilang sesat. Begitu kira-kira pendapat selama ini.

Membiarkan kalimat intimadatif kepada yang lain karena yang lain melakukan hal serupa. Mengapa demikian? Karena kita masih punya semangat mengubah orang dari agama lain masuk dalam agama kita, baik secara halus dan intelek maupun secara paksa, pokoknya kalo beralih ke agama kita itu paling baik.

Semangat mengkonversi agama lain ini membuat kita tidak bisa melihat bahwa agama lain itu baik. Oleh karena itu, semangat mengkonversi agama lain itu perlu dialihkan kepada semangat yang lain. Misal dalam kekristenan ( saya mulai autokritik terhadap agama sendiri yah, silakan teman-teman autokritik agama sendiri), dikenal istilah Amanat Agung. 

Amanat Agung adalah Amanat Yesus sebelum naik ke surga. Apa Amanat-Nya? Menjadikan semua bangsa murid Yesus dan baptislah mereka, atau dengan kata lain jadikanlah semua bangsa beragama kristen. Walaupun sebenarnya dalam Alkitab kata Amanat Agung secara literal tidak akan kita temukan. Yang akan kita temukan adalah kata literal "Hukum yang terutama." Apa bunyinya?

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40)

Adakah yang lebih tinggi dari hukum itu? Tidak. Apakah Amanat Agung lebih tinggi dari hukum ini? Tidak. Banyak yang mengatakan bahwa Amanat Agung dan hukum ini tidak bertentangan. Betul, tapi pada kenyataannya berbeda.

Pada kenyataannya kita masih menggunakan kata-kata intimidatif seperti contoh di atas. Bahkan ditanamkan sejak masih sekolah minggu. Kita juga mengasihi orang dari agama lain dengan motiv tersembunyi,  yaitu agar orang lain masuk agama kita. Bahkan kristen sering dikenal sebagai agama sembako, yaitu bagi-bagi sembako agar agama lain masuk kristen. Ikut membantu korban bencana alam agar masuk kristen. Akhirnya membantu sesama tidak lagi secara tulus. Hal ini bertentangan dengan hukum terutama di atas, yaitu kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Bukan, kasihilah sesamamu manusia agar dia masuk agamamu.

Oleh karena itu, kekristenan pun mulai mengembangkan cara berpikirnya. Pemahaman tentang misi yang tadinya kristenisasi bergeser kepada kemanusiaan. Misi yang bukan lagi mengkristenkan orang lain melainkan memanusiakan manusia sama seperti misi Yesus di dunia yaitu memanusiakan manusia.

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Lukas 4:18-19.

Walaupun masih banyak umat Kristen yang masih berada pada semangat untuk mengkristenkan orang lain. Tapi saat kita berani keluar dari semangat itu, maka kita bisa melihat bahwa agama lain itu baik dan agama kita juga baik. Kita bisa belajar kebaikan dari agama lain, tanpa harus meninggalkan atau menjelek-jelekkan agama kita. Kita bisa meyakini agama kita benar tanpa harus menjelek-jelekkan agama lain. Kita tidak perlu lagi menggunakan kata-kata, kalimat atau ayat intimidatif untuk mengintimidasi orang dari agama lain. Pemuka agama yang dalam semangat ini, saat membicarakan agama lain, tidak lagi membicarakan keburukannya melainkan kebaikannya.

Hal ini bukan juga berarti bahwa semua agama sama. Jika kita menganggap semua agama adalah sama maka kita tidak menghargai perbedaan. Biarlah yang berbeda tetap berbeda tanpa harus disama-samakan. Nikmatilah perbedaan itu.

Yang penting, semangat kita tidak lagi melihat keburukan dalam agama lain tapi melihat kebaikannya. Lalu mencari titik temu untuk sama-sama berjuang demi kemanusiaan. Masih banyak masalah kemanusiaan yang perlu diselesaikan. Daripada energi dihabiskan untuk menyalahkan agama lain, lebih baik energi itu digunakan untuk mengentaskan masalah kemanusiaan.

Senin, 19 Juni 2017

CUKUP ITU CUKUP

CUKUP ITU CUKUP

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk hidup dengan segala kecukupan. Bukan berlebihan apalagi terlalu berlebihan.

1. Saleh dan berhikmatlah secara cukup, jangan  berlebihan
Pengkhotbah 7:16 (TB)  Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?

2. Ibadahlah secara cukup, jangan berlebihan. Ibadah yang dimaksud adalah ibadah ritual di tempat ibadah. Jangan terlalu berlebihan memberikan waktu di tempat ibadah karena panggilan hidup kita sesungguhnya ada di dalam aktivitas hidup kita.
1 Timotius 6:6 (TB)  Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

3. Marahlah secara cukup
Efesus 4:26 (TB)  Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu 

4. Berdukalah secara cukup
2 Samuel 12:21-23 (TB)  Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: "Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!"
Jawabnya: "Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.
Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku."

5. Mintalah sesuatu kepada Tuhan secara cukup

Matius 6:11 (TB)  Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6. Kuatirlah yang cukup. Masalah satu hari cukuplah membebani satu hari.
Matius 6:34 (TB)  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

7. Nikmatilah berkat yang Tuhan berikan secara cukup, walaupun berkat itu manis seperti madu tapi berusalah untuk mencukupkan diri
Amsal 25:16 (TB)  Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.

8. Datanglah ke rumah teman secara cukup, jangan terlalu sering. Ada batas yang tipis antara kangen dan bosan
Amsal 25:17 (TB)  Janganlah kerap kali datang ke rumah sesamamu, supaya jangan ia bosan, lalu membencimu.

9. Cukupkan diri dengan gaji yang kita punya
Lukas 3:14 (TB)  Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."

10. Berbagi dan dibagi bukan untuk berlebihan tetapi supaya saling bercukupan

2 Korintus 8:14 (TB)  Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

Walaupun semua hal di atas harus berkecukupan, namun ada satu hal yang boleh berkelebihan yaitu melakukan kebajikan.

2 Korintus 9:8 (TB)  Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar