Minggu, 23 Oktober 2016

SAAT ORANG KRISTEN BELAJAR ISLAM

SAAT ORANG KRISTEN BELAJAR ISLAM

Umat islam lulusan dari pesantren, Universitas Islam, bahkan ada juga yang profesor, saat membahas Islam yang berbeda dengan pemahaman organisasi islam seperti HTI, FPI, FUI, MUI dan sejenisnya, akan langsung dianggap ‘ngawur’. Pemahaman mereka akan islam dan alquran dianggap salah dan harus dikaji lagi. Bahkan sampai ada yang diberi label sesat, syiah dan liberal. Melihat peristiwa ini, saya lantas teringat dengan teman saya. Seorang yang beragama Kristen, lulusan sekolah teologi Kristen tapi belajar S2 dan S3 tentang Islam.
Saya penasaran bagaimana dia sebagai orang kristen memaknai proses pembelajarannya tentang Islam secara akademik. Mari simak wawancara saya berikut ini dengan teman saya tersebut. Dia bernama Hans Abdiel Harmakaputra. Wawancara ini dilakukan melalui chat messenger, dengan waktu dan benua yang berbeda. Saya di Jakarta, dia di boston.
Semua percakapan di bawah ini, saya salin sebagaimana aslinya. Saya hanya memperbaiki di bagian teknis, agar lebih enak dibaca. Bahasa wawancaranya juga saya buat dalam percakapan sehari-hari agar pembaca bisa membacanya secara santai sambil menikmati teh bersama dia yang manis.

Saya       : Halo Hans, sebelum melakukan wawancara boleh memberikan latar belakang pendidikannya dulu hans? S1, s2 dan s3 di mana dan jurusan apa?
Hans      : S1: STT Jakarta - teologi
                S2 Hartford Seminary - Islamic Studies and Christian-Muslim Relations
                Sedang S3 di Boston College, Theology Department bidang Comparative Theology

Saya       : Hartford dan Boston apakah 2 universitas tersebut beraliran liberal?

Hans      : Gak ada universitas yang beraliran liberal. Haha. Liberal itu kan pelabelan dari pihak lain. Hartford Seminary itu gak ada denominasi. Dan dia seminary bukan universitas. Boston College itu Jesuit University.

Saya       : Jadi bisa dikatakan, 2 tempat lu belajar Islam itu bukan universitas Islam melainkan seminari dan universitas yang masih dalam payung kekristenan?

Hans      : Betul. Tapi Hartford Seminary bukan seminary pada umumnya karena dia punya program Islamic Caplaincy. Jadi mahasiswa muslim cukup besar prosentasenya. Caplain itu kalau di Indonesia kayak "pendeta rumah sakit" pendeta tentara, pendeta di sekolah, dst
Lalu di Hartsem waktu gue studi ada 5 dosen bidang Islam. 4 orang muslim, 1 Kristen. Jadi bisa dibilang gue belajar dari Muslim. Belajar perspektif Islamic studies secara akademik. Nah kalau di BC memang universitas Katolik. Tapi advisor gue Muslim sih. Gue belajar teologi Kristen juga di sini. Minor di Kristologi
Oh ya, di US gak ada "Universitas Islam"               
Bidang Islamic Studies itu biasa dipelajari di divinity school atau religious studies department (religious studies beda dengan teologi karena perspektif tidak atas iman)

Saya       : Apa yang lu pelajari tentang Islam di sana? Apakah menyentuh tentang tafsir Alquran dan hadits? Atau ada yang lainnya?

Hans      : Waktu S2, belajar Islamic history (sampai pre modern), Islamic theology, Islamic spirituality and mysticism, Shi'a Islam, image of Jesus in Islam and Christianity, perbandingan tema- tema teologis Islam dan Kristen dll.
Pas S3 belajar Quran, hadith, Islamic literature, lalu di Harvard ambil kelas Islam kontemporer, jadi soal politik dan aliran-aliran Islam modern, plus Islam di Barat

Saya       : Soal tafsir Alquran apakah dipelajari juga secara mendalam seperti mempelajari tafsir Alkitab saat S1 teologi?

Hans      : Gak, cuma satu semester soalnya.

Saya       : Dapat dikatakan, lu adalah seorang teolog kristen, tapi kenapa tertarik mengambil bidang Islamologi?

Hans      : Gue sendiri gak sreg sama istilah Islamologi. Di kalangan akademik Islam indonesia juga kan gak bilang islamologi. Gue lebih setuju dengan term Islamic studies karena menyatakan bahwa bidang ilmu itu adalah sebuah bidang ilmu dan artinya bisa dipelajari oleh siapa pun. Teologi juga mestinya demikian. Itu alasan pertama, bahwa yang namanya ilmu pengetahuan itu ya mesti bisa diakses oleh siapapun yg tertarik.
Kedua, gue besar dalam tradisi iman yang bisa dikatakan Injili, sampai SMA. S1 seperti lu tahu masuk STTJ ada transformasi dalam cara berpikir, salah satunya ya soal bagaimana Kristen punya prasangka dan penilaian terhadap agama-agama lain (dan vice versa tentunya) tapi kok gak belajar dari sumber langsung dan kurang ada dialog. Makanya waktu s1 tertarik dengan dialog antar umat beragama. Sering ikut seminar2 di UIN, JIL, dsb.
Tapi kenapa akhirnya ambil Islam sebagai fokus studi sebetulnya sih gak terduga. Gue datang ke Hartford karena tertarik sama kehidupan kampus yang multi-faith, lalu gue pikir bisa belajar interfaith dialogue. Eh pas sampai sana gak ada program master untuk interfaith. Tapi pas lihat-lihat ternyata kampus itu terkenal untuk Islamic Studies dan ada beberapa dosen Islam yang terkenal. Lalu gue pikir, dalam konteks Indonesia kan interfaith ya pastibersinggungan dengan islam jadi kenapa tidak coba aja dalami Islam.
Begitulah awalnya. Dan ternyata cocok.

Saya       :Ilmu islamic studies yang lu pelajari tersebut, kira-kira jika dibawa ke Indonesia akan berguna untuk siapa?

Hans      : Yang pasti buat gue lah. Hahaha
Belajar itu kan sebuah panggilan. Sebelum ilmu itu bisa berguna buat orang lain, ilmu mesti berguna buat perkembangan diri sendiri khususnya buat jiwa masing-masing. Sama kayak hobby lah.
Nah kalau ditanya buat orang lain bagaimana, ya banyak juga manfaatnya. Kalau di pendidikan teologi, masih sedikit orang yang fokus secara serius dalam bidang ini walau sekarang sudah mulai. Misal pendeta yang ambil doktoral dari UIN.
Jadi mudah-mudahan bisa ada perkembangan dalam pendidikan teologi dalam hal studi               Islam.
Kedua, expertise gue juga bermanfaat buat orang muslim juga. Misalnya gue published penelitian di jurnal Islam Indonesia udah beberapa. Nah itu berarti turut berkontribusi dalam diskursus Islamic studies di Indonesia
Ketiga, ya mudah-mudahan bisa menjadi jembatan sih. Menerangkan Islam secara lebih baik dan tepat kepada yang Kristen dan vice versa (sebaliknya). Syukur-syukur bisa menarik minat teman-teman Muslim untuk belajar kekristenan juga.

Saya       : Artikel ilmiah lu yang berkaitan dengan studi Islam, sudah berapa yang diterbitkan di jurnal ilmiah? Kalo inget boleh juga ditulis judulnya hans...

Hans      : Bisa lihat di sini http://bc.academia.edu/HansHarmakaputra
Ada yg bertema Islam Kristen dan terbit di jurnal kristen. Ada juga yang topik Islamic studies dan terbit di jurnal islam
Ada 3 yang terbit di jurnal Islam Indonesia: 1. Becoming Perfect Human di Ulumuna -  IAIN Mataram, 2. Discerning motives di Miqot - UIN Sumut, 3. Post Islamism di al-Jamia - UIN Sunan Kalijaga Jogja

Saya       : Kita kembali lagi ke bagian kegunaan studi lu yah hans. gue tertarik dengan alasan ketiga lu. Itu artinya kepada rekan kristen lu akan menyampaikan seperti apa Islam itu, sedangkan kepada rekan Islam, lu menyampaikan seperti apa kristen itu? Jadi tidak menjelaskan kepada rekan Islam seperti apa Islam itu, misalnya mengenai tafsir yang ramah kepada teman-teman Islam yang radikal?

Hans      :Tidak ada jawaban tunggal tentang Islam. Kalau kita lihat kasus Ahok dan Al Maida misalnya, sebetulnya gak tepat juga Ahok bilang dibohongi karena yang namanya penafsiran itu ya ada soal salah benar atau masih relevan atau tidak relevan. Sama kayak kalau di Kristen ada gereja-gereja yang tolak pendeta perempuan karena penafsiran terhadap Alkitab. Nah kita gak bisa bilang mereka bohongin umat kristen, tapi kita bisa ajukan tafsir lain yang menunjukkan bahwa penafsiran mereka tidak akurat atau tidak relevan.
Kalau soal menjadi jembatan, beberapa kali gue alami bahwa untuk menjelaskan Islam kepada orang Kristen ya perlu tahu kekristenan juga jadi bisa kasih analogi yang pas. Dan sebaliknya ke Islam menjelaskan Kristen lebih mudah ketika cari padanan di islam.

Saya       : Apakah lu juga berminat untuk mengajukan tafsir yang lain kepada teman-teman muslim yang radikal atau tetap membiarkan saja mereka dengan pilihan tafsirnya yang mungkin saja bisa mengganggu keharmonisan beragama dan bernegara?

Hans      : Gue sendiri gak melihat diri gue sebagai public intellectual atau mungkin belum. Gue dilatih sebagai akademisi dan teolog. Masing-masing punya ranah sendiri dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kalau soal minat pasti punya minat, apakah mampu? Sepertinya enggak. Untuk tafsir perlu punya metode khusus seperti penguasaan bahasa Arab yang mumpuni, tahu tradisi tafsir, dll. Beda dengan protestan yang kadang sekarep dewe dengan dalih dituntun Roh Kudus. Hehe.
Nah masalahnya dengan yang lu bilang radikal itu punya otoritas yang berbeda dengan ulama tradisional, makanya gak mau tunduk sama tafsiran NU misalnya. Jadi memang tidak mudah. Ini soal otoritas

Saya       : Haha sebenarnya kan kristen juga tafsir ga bisa seenaknya. Ada pengkajian secara gramatikal, historis, dsb.
Nah balik lagi, berarti studi lu ini nanti diarahkan hanya kepada umat kristen dan umat Islam yang sepaham?

Hans      : Ya ketika lu bilang 'seenaknya' itu kan tergantung dari tradisi mana lu berpijak. Sama ketika lu menilai mana Islam yang 'radikal' mana yang 'moderat' hehhee
Gak juga, studi gue ini akademis. Diarahkan kepada komunitas akademis.
Akademis itu ya bisa sepaham bisa juga enggak.

Saya       : Umat islam yang lulusan dari pesantren, Universitas Islam, bahkan ada juga yang profesor, saat membahas Islam yang berbeda dengan pemahaman organisasi islam seperti HTI, FPI, FUI, MUI dan sejenisnya, akan langsung dianggap ‘ngawur’. Pemahaman mereka akan islam dan alquran dianggap salah dan harus dikaji lagi. Bahkan sampai ada yang diberi label sesat, syiah dan liberal.
Nah lu sendiri bisa dibilang jauh berbeda dengan mereka. Bukan orang Islam, tidak belajar Islam di universitas Islam, bahkan tidak mengkaji tafsir juga secara mendalam. Mungkin saja tulisan lu tentang Islam, atau pendapat-pendapatlu tentang Islam tidak dianggap oleh mereka. Jika seperti itu, apakah lu merasa ilmu lu menjadi tidak terlalu berguna atau lu merasa sebaliknya? Mengingat banyaknya Islam radikal yang mulai menjamur di Indonesia.

Hans      : Enggaklah. Kalau gue merasa gak berguna ya ngapain dikerjakan capek-capek. Hehe.
Orang menjadi radikal itu ada berbagai sebab dan menurut gue tugas akademisi atau orang yang bergumul dengan pendidikan ya mengikuti panggilan hati dan dengan jujur menyatakan apa yang ia anggap benar. Dengan begitu diskursus bisa berjalan, termasuk di masyarakat.
Untuk FPI misalnya, ada buku yang berjudul 'Hitam Putih FPI' ditulis sebagai tesis oleh mahasiswa UGM. Di situ dijelaskan seluk belum FPI secara antropologis dan sosiologis. Itu contoh karya akademis. Mungkin tidak memberi jawaban yang diinginkan orang tapi bergumul dengan fenomena tertentu.
Lalu tulisan gue tentang post islamisme juga membaca fenomena yang berkembang. Apakah itu memuaskan yg radikal? Mungkin enggak, mungkin malah baca aja enggak.
Tapi ilmuwan tidak bisa bekerja sepenuhnya karena alasan pragmatis dan berharap semua orang bisa mengerti.
Beda sama pendeta atau motivator. Hehe

Saya       : Dalam surat Al Kafirun, ada tertulis “Lakum Diinukum wa Liya Diin”, Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. Apakah saat lu menulis atau membahas tentang Islam, lu ga takut dianggap mencampuri urusan agama lain?

Hans      : Menarik lu bawa ayat itu karena sebetulnya ayat itu bisa dibaca sebagai sesuatu yang negatif yakni pemisahan, seperti Yesus menyuruh murid-murid untuk mengebaskan jubah dari tempat yang gak menerima mereka. Surat itu kan bunyinya begini: Hai orang-orang kafir! Aku tidak menyembah yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah yang aku sembah. Untukku agamaku dan untukmu agamamu. Menariknya di Indonesia itu malah dipakai secara positif oleh umat Muslim untuk menghargai batas-batas umat beragama di Indonesia.
Nah di situ bedanya posisi akademisi atau ilmuwan. Gue tidak berpretensi untuk mengajari Muslim atau mencampuri agama mereka. Gue gak memberi tahu penafsiran yang benar, tapi memperlihatkan ragam penafsiran dalam konteks historis yang berbeda-beda.
Dan bidang gue sebetulnya jauh dari tafsir Quran sebetulnya. Haha. Lebih ke kajian teologi dan mistisisme.
Islamic studies di lingkungan akademik Indonesia cukup bagus. Mereka terima pandangan scholar-scholar non Muslim yang bidangnya Islam seperti Robert Hefner, Martin Van Bruneissen dan banyak lainnya. Karena dianggap sebagai rekan ilmuwan.

Saya       : Wah menarik nih. Mengenai surat al kafirun tadi, apakah lu ada tulisan yang membahas hal tersebut? Jika tidak ada bagaimana tanggapan lu tentang surat yang bernada negatif tapi dipakai secara positif, bersyukurkah atau justru cemas?
Lah kok jadi nanya lagi... hahahaha, maaf hans.
Dan satu lagi, entah kenapa, ini menurut gue yah. Islam yang hanya berkutat di lingkungan akademik itu, tidak menyentuh akar rumput. Terbukti dengan banyaknya cendekiawan muslim yang membahas tentang tafsir quran tetapi ditolak mentak-mentah oleh masyarakat pengikut Islam radikal tersebut. Seakan-akan diskursus kalian selama ini tidak memberikan sumbangsih apapun terhadap pemikiran mereka. Itu menurut gue aja hans.

Hans      : Gak ada, itu berdasarkan pengamatan pribadi aja. Buat gue penafsiran itu dinamis dan teks selalu terbuka. Ada banyak hal yang ada di Islam Indonesia tapi gak ada di tempat lain. Walau selalu ada kontinuitas, tapi selalu ada transformasi.
Sebetulnya fenomena islam yang lu sebut radikal itu kan mulai menguat pasca Reformasi dan justru itu berkembang karena faktor-faktor selain agama.
Suharto yang menindas kaum Muslim dalam berbagai bentuk dan memaksakan Pancasila sebetulnya malah mencederai pluralitas.
Makanya sekarang kita berada dalam era yang tampaknya mengerikan dengan semakin               banyak penafsiran yang radikal. Tapi sering luput melihat kenapa mereka pakai penafsiran yang begitu bukan yang ramah.
Kalau soal menyentuh akar rumput atau tidak itu selalu akan ada kekurangan. Selain NU, yang moderat kan Muhammadiyah, itu gerakan yang sangat akademis. NU juga sejak beberapa puluh tahun lalu mulai akademis. Cek misalnya tulisan-tulisan Sumanto Al-Qurtuby, dia itu orang akademis tapi dengan sadar menyasar publik luas dan berhasil. Atau Mun'im Sirry.
Kalau soal ditolak atau diterima itu faktor lain. Sama kayak kenapa mahasiswa STTJ mayoritas tolak penafsiran ala Pariadji. Haha
Ada titik tolak berbeda, kepentingan yang berbeda, peer pressure, atau bisa juga secara              personal belum dapat hidayah.
Kasus Ahok misalnya, gue ada teman lulusan PhD dari US dan seorang Muslim. Dia dukung Anies Baswedan tapi secara proporsional. Pas dia bikin tulisan yang kritik umat islam yang salah paham terhadap Ahok, dia malah dibully abis-abisan.
Keliatan bagaimana kebanyakan yang posisi 'radikal' itu sebetulnya kurang belajar. Mungkin sepintas kayak yang dia lakukan sebagai PhD gak berguna buat akar rumput.
Tapi ya itulah jihad yang sebenarnya.
Berusaha...striving. Dan dari komen-komen ada juga yang merasa perspektif dia benar. Jadi di situ dia sudah memberi dampak pada akar rumput. Tapi proses diskursus sosial itu memang panjang. Di Eropa atau US aja yg katanya maju tetep kaum radikal sekular dan Kristen ada. Hehe

Saya       : Ini kalo dilanjutkan bukan jadinya wawancara tapi diskusi. Haha. Jadi gue hentikan saja sampai di sini.
Tapi sebelum itu, apakah dalam jurnal yang pernah lu tulis ada pembahasan tentang Islam radikal pasca reformasi? Jika ada boleh minta linknya?

Hans      : Kalau yang gue tulis sih gak ada, orang lain ada pastinya. Term Islam radikal itu sebetulnya gak banyak digunakan karena itu pelabelan dari Amerika ke yang mereka gak disuka. Hehe. Di tulisan gue yang post Islamisme ada soal kontroversi Ahok dan FPI tahun 2014 lalu serta perubahan retorika PKS, link di academia.edu

Saya       : Oke hans. Terimakasih banyak. Maaf telah menunda waktu tidurnya. Assalammualaikum.

Hans      : Sip. Semoga membantu. Waalaikumsalam

Pewawancara    : Nuryanto Gracia, Jakarta, 24 Oktober 2016, 08.45-10.36
Narasumber       : Hans Abdiel Harmakaputra, Boston, 24 Oktober 2016, 21.45-23.36


Kamis, 20 Oktober 2016

TIPS MENJADI ANAK KEKINIAN

TIPS MENJADI ANAK KEKINIAN

Apa saja yang diperlukan untuk menjadi idola anak kekinian?
1. Idola:
Berkata-kata kotor. Karena berkata-kata lembut dan ramah hanya untuk orang kolot, penjilat dan munafik.
Catatan:
Berarti mulai dari sekarang kita didik anak-anak kita untuk berkata kotor saja biar ga dikira kolot, penjilat dan munafik?
2. Idola:
Tampilkan kemesraan berpacaran sevulgar mungkin agar banyak remaja terinspirasi dengan kita dan pengen melakukannya juga dengan pacarnya (relationship goal). Mereka yang pacaran baik-baik aja di sosial media, hanyalah orang munafik. Padahal di kehidupan nyata mereka telah melakukan yang jauh lebih parah.
Catatan:
Kalo sampai putus dengan pacar, jangan dihapus video dan foto vulgarnya yah... Kita lihat nanti apakah pacar barumu bisa menerimamu dan memuji "Wah kamu orang yang paling jujur yang pernah kutemui, dan tidak munafik."
3. Idola:
Siapkan kalimat pemungkas apabila ada yang menghujat kelakuan kita. Berikut ini kata-kata pemungkasnya, "Ini hidup gue, bukan hidup lu." "Gue ga pake uang lu." "Gue ga mengganggu hidup siapa pun." "Kalian cuma hater yang ngiri." "Pro dan kontra itu wajar." "Urus dulu hiduplu, jangan urus hidup orang lain."
Catatan:
Yah kalo kamu melakukan semua itu dan tidak menyebarkan ke publik, itu adalah hidupmu. Tapi saat itu diunggah ke publik maka hidupmu akan mempengaruhi hidup orang lain juga. Bukan hanya mempengaruhi, bisa juga mengganggu tumbuh kembang mereka yang masih mencari jati diri.

JURUS MENOLAK KRITIK

JURUS MENOLAK KRITIK

Saat dikritik atau diberi masukan manusia masa kini punya jurus untuk menangkalnya:
- Ada yang kritik disebutnya hater. Ini kepedean tingkat tinggi. Hater itu artinya dia memperhatikan hidup kita dengan seksama lalu membenci kita.
- Ada yang kritik tinggal bilang aja bahwa dia cuma iri karena ga bisa melakukan seperti apa yang kita lakukan. Ini juga kegeeran tingkat tinggi. Orang yang mengkritik kita belum tentu mau menjadi sama seperti kita
- Ada yang kritik, tinggal bilang "ya deh kamu selalu benar, saya selalu salah." Kalimat tersebut memberikan tekanan secara psikologis agar orang yang mengkritik kita merasa bersalah, menganggap dirinya paling benar dan kita akan dianggap rendah hati.
- Ada yang kritik disanggah dengan "Sebelum mengkritik, coba lihat hidupmu dulu. Udah benar atau belum?" Wah ini susah. Sampai kapan pun, tidak akan ada yang memberi kritikan kepada kita. Kenapa? Tidak ada orang yang hidupnya 100% benar. Ada saatnya dia pun jatuh dalam dosa dan kesalahan.
- Atau biasa juga banyak yang bilamg "Saya mau jadi apa adanya. Inilah saya. Saya tidak mau menjadi orang munafik." Di satu sisi baik, memotivasi seseorang agar percaya diri. Tapi di sisi lain membuat mereka tidak melihat bahwa ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Penjahat tetap akan menjadi penjahat. Tidak ada yang namanya perubahan. Padahal tidak ada yang tidak berubah di dunia ini.
Tidak semua kritik perlu didengar tapi tidak semua kritik juga harus ditolak.

Salam,
Nuryanto Gracia

TIDAK PERNAH MELIHAT ALLAH

TIDAK PERNAH MELIHAT ALLAH

Agama apa pun kita, saya yakin, kita pasti tidak pernah melihat Allah. Oleh karena itu, daripada saling membenci karena memperebutkan dan memonopoli kebenaran Allah, adalah lebih baik bila kita saling mengasihi agar Allah dan kasihNya tetap di dalam kita.
"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (1 Yoh 4:12)

Salam,
Nuryanto Gracia

TAFSIRAN YANG RAMAH

TAFSIRAN YANG RAMAH

Tafsir adalah usaha mendekati dan mencari makna sesungguhnya dari pesan yang hendak disampaikan oleh kitab suci. Ada banyak sekali pendekatan/teknik tafsir sehingga satu teks tertentu bisa menghasilkan banyak sekali pesan yang berbeda.
Hasil tafsir saya, mungkin akan berbeda dengan hasil tafsir pendeta lain walaupun sama-sama GKI. Apalagi jika dibandingkan dengan hasil tafsir dari pendeta gereja aliran lain, misal GBI. Tidak hanya dalam kekristenan, semua agama yang memiliki kitab juga akan mengalami hal serupa.
Tidak ada yang bisa menafsirkan 100% benar. Oleh karena itu, terlalu arogan apabila kita mengklaim hanya tafsiran kita yang benar. Itu namanya memonopoli kebenaran. Namun bukan berarti juga kita tidak usah menafsir hanya karena tidak bisa menafsir 100% tepat.
Ada yang mengatakan, "Jangan menafsir-nafsir Kitab suci. Baca dan ikuti saja apa yang tertulis." Tidak mungkin kita tidak menafsir. Saat membaca dan berusaha mengerti maksud dari yang tertulis di kitab suci, sesungguhnya kita sedang menafsir. Bahkan saat kitab suci diterjemahkan dari bahasa aslinya ke bahasa Indonesia, itu juga merupakan hasil dari proses tafsir.
Ada banyak teknik dan hasil tafsir. Oleh karena itu kita harus memilih mau menggunakan teknik atau hasil tafsir yang mana. Jika saya boleh usul, gunakanlah teknik dan hasil tafsir yang ramah terhadap kemanusiaan.
Di dalam kitab suci, agama apapun, ada banyak sekali kisah-kisah dan perintah yang tampaknya kejam, sadis dan tidak berpihak kepada kemanusiaan. Hal tersebut disebabkan karena waktu penulisan/turunnya kitab suci yang berbeda dengan waktu kita, ratusan hingga ribuan tahun yang lalu. Keadaan yang jelas jauh berbeda dengan keadaan kita sekarang. Oleh karena itu, kita jangan sampai salah pilih teknik atau hasil tafsir. Para cendekiawan di masing-masing agama, sedang berusaha menghidupkan tafsir yang ramah terhadap kemanusiaan.
Apapun teknik atau hasil tafsirmu, selama ramah terhadap kemanusiaan, maka lakukanlah. Selama tafsirmu ramah terhadap kemanusiaan, selama itu jugalah agamamu akan membawa kedamaian bagi dunia.

Nuryanto Gracia

KEBURUKAN ORANG LAIN

KEBURUKAN ORANG LAIN

Ada yang bilang, kalo mau lihat karakter seseorang lihatlah barang yang ada di ruang tamu dan di kamar pribadinya. Misal, ada 2 kipas dengan 2 merk berbeda dengan kualitas yang berbeda jauh, satu di ruang tamu dan satu di kamar pribadi.
Jika orang tersebut menaruh kipas dengan kualitas kurang bagus di kamar pribadi dan kualitas yang sangat bagus ditaruh di ruang tamu, maka artinya orang tersebut orang yang suka pencitraan. Begitulah katanya.
Tapi kalo dipikir kembali, maknanya bisa berbeda. Orang yang melakukan hal tersebut bisa berarti orang yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya sendiri.
Dari satu keadaan, kita bisa mendapatkan cara untuk menilai orang lain. Bisa negatif dan bisa positif. Biasanya, kita lebih suka dengan penilaian yang negatif. Mengapa? Karena hal itu bisa membuat kita merasa diri lebih baik. Memikirkan keburukan orang lain, menjadi hal menyenangkan karena dengan itu kita seperti bisa merasakan bahwa kita selangkah lebih baik dari mereka.
Aneh memang. Untuk merasa lebih baik, bukannya terus menerus berbuat baik tapi malah terus-menerus memikirkan dan membicarakan keburukan orang lain. Keburukan orang lain kita jadikan tangga untuk mengkonfirmasi bahwa diri kita baik.

Nuryanto Gracia

Jumat, 23 September 2016

KENTUT DAN ALKITAB

Kentut dan Alkitab

Kentut adalah sebuah kegiatan manusiawi yang sering tidak diperlakukan secara manusiawi. Kentut dianggap begitu tabu, memalukkan dan menjijikkan.

Mau kentut di jalan, ga berani karena kalo ada yang dengar bisa dipandang dengan tatapan sinis atau malah ditegur. Mau kentut di mobil apalagi, bisa dimaki-maki penumpang lainnya. Mau kentut di ruangan (ruang kerja, sekolah, pertemuan, dll) juga tidak mungkin karena bisa kena kutuk orang-orang di sekitar kita. Lalu kita mencoba kentut di toilet tapi itu pun masih banyak yang protes, "Jorok banget sih, kentut sembarang." Buset... kentut di toilet disebut kentut sembarang, terus harus kentut di mana? Jika merokok disediakan tempat khusus, lalu mengapa kentut tidak disediakan tempat khusus?

Kentut masih menjadi sesuatu yang sangat tabu. Kentut di mana pun akan tetap menjadi kegiatan yang salah apabila masih ada orang yang mendengarnya. Akhirnya banyak orang memilih untuk kentut tanpa suara. Mereka yang kentut tanpa suara mengira masalah akan selesai, padahal mereka menimbulkan masalah baru yaitu kentut yang lebih berbau dan tindakan saling tuduh siapa pelaku kentut sebenarnya.

Tabunya kentut ternyata dialami juga oleh para penerjemah Alkitab, khususnya dalam terjemahan LAI. Kita bisa cari kata "kentut" di Alkitab elektronik dan tidak akan menemukan satu kata pun. Padahal jika ditelusuri dalam bahasa aslinya, kita akan menemukan humor sindiran menggunakan kata kentut yang digunakan oleh para penulis kitab.

Nabi Yesaya membuat perbandingan tentang keselamatan yang dilakukan Allah dan yang diusahakan manusia dengan menggunakan bahasa perumpamaan antara seorang ibu yang mengerang saat melahirkan dan orang yang mengerang untuk kentut. Yesaya 26:17-18. LAI menerjamahkan kata kentut menjadi "melahirkan angin."

Dalam gaya humor nabi Yesaya menggunakan "kentut" (untuk mempermalukan) sebagai ungkapan kekesalan kepada Moab (Yes 16:11), tapi keliru diterjemahkan dalam hampir semua terjemahan modern: "hatiku menjerit" (TB-LAI), "my heart's cry" (KJV). Seharusnya, "...seperti dengkingan (suara tinggi agak kejepit) kecapi, demikianlah bunyi kentutku untuk Moab..."
Dan mungkin saja masih banyak penggunaan kata kentut di dalam Alkitab tetapi diterjemahkan secara berbeda. Mengapa begitu?

Semua terjemahan modern (berbahaya Inggris, misalnya) biasanya menggunakan terjemahan tertua (Latin) yang diterima luas oleh gereja pada abad pertengahan sebagai teks model (bukan teks sumber), sehingga rujukan bahasa terjemahan jelas harus tunduk juga pada prinsip dogmatis gereja yang tentu saja tidak akan mengizinkan penggunaan kata-kata vulgar, lucu dan kasar bila berhubungan dengan tindakan Allah.

Apakah sekarang kentut masih dianggap vulgar atau tabu? Padahal, saat kita sedang dalam masalah tidak akan ada yang memperhatikan kita tapi saat kita kentut semua orang memperhatikan kita. Mengharukan ga sih? Apa biar dapat perhatian, kita kentut aja? Daripada jadi nakal cuma biar dapat perhatian kan...

*Catatan kaki: Penjelasan teks Alkitab tentang kentut di status ini, saya dapat dari komentar pak Semuel Aitonam. Terimakasih atas ilmunya pak.

Jumat, 16 September 2016

Beberapa kekeliruan umat Kristen saat berbicara tentang kesehatan

Beberapa kekeliruan umat Kristen saat berbicara tentang kesehatan:

1. Makan apapun asal didoakan dalam nama Tuhan Yesus maka makanannya akan menjadi sehat. Akibatnya banyak umat Kristen yang tidak memperhatikan dan mengendalikan cara makannya.
2. Jangan terlalu bergantung kepada dokter saat sakit. Jika sakit, pertama kali yang harus didatangi adalah gereja bukan rumah sakit. Yang pertama kali harus dilakukan adalah berdoa, bukan periksa ke dokter. Berdoa memang perlu saat sakit, tapi bukan berarti harus berdoa saja tanpa harus ke rumah sakit, apalagi cuma ke gereja. Gereja bukan tempat ajaib yang bisa menyembuhkan orang sakit. Jika pemahaman ini berlanjut, akan menjadi berbahaya jika seseorang terserang penyakit kritis seperti serangan jantung. Jika dibawa ke gereja lalu dibiarkan begitu saja, bisa sangat berbahaya. Jika masih sakit batuk dan pilek, masih tak terlalu terasa bahayanya.
3. Jangan terlalu bergantung kepada obat dari dokter. Pakai saja minyak lalu diusapkan dibagian tubuh yang sakit atau diminum. Pemahaman ini seakan-akan ingin mengkultuskan satu sarana yaitu minyak. Padahal dalam alkitab, Tuhan tidak hanya memakai minyak sebagai sarana penyembuhan. Silakan cek ayat-ayat berikut: Markus 7:33, 8:23 (Ludah); Yohanes 9:6 (tanah); 1 Timotius 5:23 (anggur/alkohol); 2 Raja-raja 2:19-22 (Garam). Jadi Tuhan bisa pakai sarana apapun untuk menyembuhkan, salah satunya obat.
4. Didoakan pendeta akan membuat yang sakit cepat sembuh. Sehingga banyak umat Kristen yang lebih suka didoakan pendeta dibandingkan ke dokter. Bahkan rela didoakan pendeta dari jauh, misal melalui siaran televisi, biasanya dikenal dengan istilah televangelis. Padahal semua sudah punya bagian masing-masing, pendeta bukanlah dokter. Dengan kerendahan hati, pendeta harus menyampaikan kepada jemaat bahwa mereka bukanlah manusia super yang bisa melakukan semuanya. Tapi bukan berarti pendeta tidak boleh mendoakan orang sakit.

Kamis, 04 Agustus 2016

DULU SAYA USTADZ, DULU SAYA PASTOR

DULU SAYA USTADZ, DULU SAYA PASTOR

Bosen saya mendengar berita atau cerita:
"Dulu saya Ustadz dan saya sekarang menjadi pendeta. Agama saya yang dahulu itu bla bla bla (menjelekkan agamanya)."
"Dulu saya pastor/pendeta. Lulusan sekolah filsafat dan teologi dengan cumlaude. Sekarang saya menjadi ustadz. Agama saya yang dahulu itu bla bla bla (menjelekkan agamanya)."

Eh pas dicek, entah mereka belajar agama di pesantren, filsafat atau sekolah teologi yang mana. Mereka kira bisa asal sebut lalu semua orang bisa dengan mudah dibohongi dan percaya? Zaman sudah canggih, dengan mudah kita bisa mengecek apa yang diucapkan oleh orang itu benar atau tidak. Bahkan saat saya berkhotbah di mimbar dan memberikan informasi tertentu, saya yakin jemaat pasti dengan cepat akan mencari kebenaran itu melalui gadget mereka.

Apakah agama sudah menjadi barang dagangan yang 'murahan'? Asal dia mengatakan bahwa dia dari agama lain, lalu menceritakan keburukan agamanya, maka kita percaya dan begitu senangnya. Apakah begitu bahagianya kita saat mendengar keburukan agama lain?

Hati-hati, orang yang lebih suka mendengarkan keburukan agama lain, jika suatu saat dia mendengarkan kebaikan yang ada di agama lain, hati dan pikirannya pasti akan panas sekali. Sama seperti orang-orang yang suka mendengarkan keburukan orang lain, saat dia mendengar orang yang biasa dia dengar keburukannya kini melakukan sesuatu yang sangat baik, pasti dia akan seperti cacing kepanasan. Tidak percaya, tidak rela, tidak mau terima dan akhirnya menciptakan fitnah.

Mana tanganmu? Sini, aku ingin menggenggamnya dan mengatakan, "Jika memang agamamu memiliki keburukan, perbaikilah dengan perilakumu yang baik, jangan ceritakan padaku. Tapi jika agamamu memiliki kebaikan, ceritakanlah padaku, agar kebaikan itu mengubah perilakuku juga."

Nuryanto Gracia

Minggu, 24 Juli 2016

TUHAN, AKU BINGUNG


Tuhan,
Aku bingung, bagaimana cara menghitung berkat-Mu?
Aku pakai semua rumus yang ada, tak kudapati hasilnya.
Aku gunakan semua peralatan hitung yang paling canggih, tetap tak kutemukan hasil akhirnya.
Yang membuatku lebih bingung lagi, bagaimana caraku membalasnya?
Saat aku mau membalas berkat yang lalu, Kau sudah memberikan berkat yang baru.
Inilah yang membuatku tak perlu mencari banyak alasan untuk bersyukur setiap hari.

Nuryanto Gracia

PEMERKOSA DIHUKUM MATI ATAU JANGAN?

PEMERKOSA DIHUKUM MATI ATAU JANGAN?

Tahukah kita, bahwa kekristenan masa kini diperhadapkan pada dua tantangan:
1. Kejahatan yang menimpa diri mereka sendiri.
2. Kejahatan yang menimpa diri orang lain.
Kejahatan yang menimpa orang lain tanpa sadar sudah menjadi tantangan besar bagi kita. Tantangan yang akhirnya membuat kita harus memikirkan kembali apakah kita tetap akan menegakkan hukum kasih atau kembali kepada hukum lex talionis (mata ganti mata, gigi ganti gigi).
Contohnya kisah pemerkosaan sampai meninggal. Banyak umat Kristen yang berseru untuk nyawa ganti nyawa.
Nah di sinilah tantangan kekristenan untuk mengkaji kembali imannya.

SEKEJAM ITUKAH TUHAN?

SEKEJAM ITUKAH TUHAN?

Kasus pemerkosaan masih menjadi pembicaraan hangat. Ada yang menyalahkan pelaku, korban, keluarga korban, bahkan sampai pemerintah. Tetapi ada juga yang tetap bersikap positif. Sayangnya sikap positifnya kurang tepat.
Ada yang berkomentar seperti ini, "Sudahlah, itu sudah rencana Tuhan. Dia diperkosa ramai-ramai sampai meninggal sudah menjadi bagian dari ketentuan Tuhan. Kita mau apa lagi? Diterima saja dengan lapang dada."
Tampaknya sangat positif dan rohani, tapi jujur kalimat itu miris banget. Apa lagi kalo saya sebagai orangtuanya mendengar hal itu. Mungkin sebagai orang tua saya akan berkomentar, "Tuhan kejam banget. Kenapa harus seperti itu anakku meninggal?"
Sebenarnya dalam teologi hal ini masuk dalam teodise. Ada 3 hal yang bisa menjadi penyebab kejahatan:
1. Diri kita yang tidak sempurna sehingga bisa melakukan kejahatan yang bisa menimbulkan efek buruk bagi diri sendiri. Misal kita suka buang sampah ke depan rumah tetangga, dan beberapa minggu kemudian tetangga tersebut membakar mobil kita. Jika kejahatan terjadi karena sebab pertama ini maka kita perlu memperbaiki diri kita.
2. Dunia yang tidak sempurna sehingga menyebabkan kejahatan timbul. Dunia yang dimaksud bisa berupa sistem hukum, pemerintahan, agama, budaya, komunitas dan alam. Kejahatan yang terjadi dalam sebab kedua ini, mengajak kita untuk menganalisa dan memperbaiki agar ke depan dunia tempat kita hidup menjadi lebih baik. Jangan hanya diterima saja.
3. Rencana Tuhan. Tapi saya sendiri tidak percaya bahwa Tuhan merencanakan kejahatan. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bukan Tuhan yang merencanakan tetapi Tuhan mengijinkan hal tersebut terjadi demi sebuah kebaikan. Seandainya pun ada kejahatan yang masuk dalam sebab ketiga ini, kita tidak bisa diam dan hanya terima saja. Saat Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi demi sebuah kebaikan pasti ada sesuatu yang ingin Dia sampaikan untuk kita pelajari.
Saat sebuah kejahatan terjadi, ada baiknya 3 sebab di atas diperhatikan baik-baik. Jangan langsung menilai bahwa itu adalah rencana Tuhan. Gunakanlah pikiran kita untuk menganalisa kasus. Tuhan memberikan kita otak untuk dipakai, kan? Bukan cuma untuk pelengkap anggota tubuh saja, kan?

STATUS SOSIAL MEDIA

STATUS SOSIAL MEDIA

Di pojok sana, iya di pojok sana. Ada mereka, iya mereka.
Yang sedang membaca status kita sambil mencibir. Mengatakan status kita begini begitu. Biasanya karena mungkin status yang kita tulis tidak sejenis dengan status yang biasa dia tulis.
Mereka yang biasa pasang status kegiatan pribadi, akan mencibir mereka yang biasa membuat status motivasi, "Sok bijak banget sih hidup lu." Yang suka bikin status motivasi mungkin akan membalas, "Woi, ini sosial media bukan diary pribadi. Curhat masalah pribadi kok di status."
Mereka yang biasa upload foto pribadi di sosmed dengan gaya yang keren-keren akan mencibir mereka yang suka upload passionnya di status, misal komik, "Ngomongin komik melulu, emang ga ada cerita yang lain apa?" Yang suka bikin komik mungkin akan membalas, "Woi, lu kira ini album foto pribdi? Upload foto pribadi terus."
Mereka yang biasa upload foto makanan akan mencibir mereka yang biasa upload foto keindahan alam, "Sok jadi anak alam." Mungkin mereka yang biasa upload foto keindahan alam akan membalas, "Ini sosial media, bukan daftar menu."
Yang ga pernah nulis status apa-apa tapi selalu aktif di sosmed akan mencibir mereka yang suka menulis status tentang ketuhanan, "Ngomongin Tuhan melulu, kaya yang paling suci aja hidupnya." Mungkin yang suka menulis status ketuhanan akan membalas, "Woi, ini sosial media. Tempatnya untuk interaksi. Bukan tempat ngintip lalu memuaskan nafsu oral dengan memaki status orang lain yang kamu baca."
Hayo hayo...habis baca status ini kamu mau komentar apa... sebelum komentar coba cek dulu status-status yang sudah kamu buat... 

SAHABAT DAN CINTA (NGACO)

SAHABAT DAN CINTA (NGACO)

Menurut Plato hakikat persahabatan adalah cinta. Mungkin, itulah penyebab saat seseorang yang sudah punya kekasih, ketahuan berjalan dengan cowok/cewek lain, lalu jawabnya "Dia cuma teman kok." Mungkin maksudnya, "Dia cinta baru ku kok." Hahaha
Menurut Franz Schubert, orang yang menemukan sahabat sejati pada sosok seorang istri adalah orang yang sangat berbahagia. Jadi, kalo kamu nembak cewek terus ditolak dengan alasan, "Kita temenan aja yah?" Jangan bersedih, langsung jawab saja, "Dengan senang hati. Semoga saat ini kita berteman, dan saat sudah menikah kita bisa menjadi sahabat." Hahaha
Menurut Konfucius, keheningan itu adalah sahabat sejati yang tak pernah berkhianat. Jadi, kalo kamu ditinggal oleh seluruh sahabatmu, ingatlah, masih ada satu sahabat setia yang menantimu? Siapa itu? Kesepian. ‪#‎Woi‬‪#‎Keheningan‬ ‪#‎Berbeda‬ ‪#‎Dengan‬ ‪#‎Kesepian‬ haha
Menurut Frances Ward Weller, seorang sahabat bisa mengatakan hal yang tak pernah kau ingin katakan. Nah coba sekarang bilang ke sahabatmu, "nikah yuk." Hahaha
Menurut Bernart Meltzer, sahabat sejati adalah seorang yang mengira kau adalah telur yang baik meski ia tahu bahwa kau sedikit retak. Kalo ada yang bilang, "Kamu orang yang baik dengan sedikit kekurangan saja," udah cepet nikahi saja. Haha
Menurut Plutarch, kita tak membutuhkan sahabat yang berubah ketika kita berubah; sahabat yang mengangguk ketika kita mengangguk; jika seperti itu, bayangan kita bisa melakukannya lebih baik. Jadi, kalo kamu ketemu dengan orang yang selalu berbeda pendapat denganmu, maka cepat nikahi dia. Haha
Menurut, Oscar Wilde, sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan. Nah mungkin saat kamu sudah menemukan pasangan hidupmu, sahabat jenis ini akan datang lalu bilang dengan terang-terangan, "Aku ingin menikahi pacarmu." Hahaha

Nuryanto Gracia

SENYUM

SENYUM

Jika senyum dapat menunda hujan turun
Mungkin banyak orang yang akan selalu membawa senyum sebelum hujan.
Jika senyum bisa mengubah banyak hal dalam sekejap seperti sihir, mungkin sekolah senyum, akan dibuka di mana-mana.
Jika senyum bisa mengobati banyak luka, mungkin senyum akan dijadikan pertolongan pertama pada kecelakaan.
Tapi sayangnya, senyum tidaklah seberguna itu. Dia hanyalah bagian dari refleks hati yang bersyukur karena kebaikan ilahi. Jika hidupmu disentuh oleh kebaikan ilahi maka senyum pun akan lahir dengan tulus tanpa memikirkan apa untungnya atau siapa yang melihatnya.

PENGOTOR YANG BERHARGA

PENGOTOR YANG BERHARGA

Di dunia ini, banyak yang mengira bahwa sesuatu yang tidak berharga maka selamanya akan tidak berharga. Sesuatu yang menjijikkan selamanya akan menjijikkan. Benarkah begitu?
Kita pasti tahu, kotoran menjijikkan seperti tai bisa menjadi begitu berharga, misal dibuat menjadi kopi, penghangat tubuh, dan masih banyak yang lainnya. Saya pernah menulisnya, silakan baca dihttp://ketozia.blogspot.co.id/…/…/hiduplah-seperti-tai.html…
Selain tai, emas juga sesungguhnya bukanlah benda yang begitu berharga. Dia adalah pengotor tembaga. Tapi karena sifatnya yang lentur, mudah dibentuk, tidak terkena karat, dan jumlahnya yang sangat sedikit, sehingga dengan proses yang tepat, pengotor tersebut menjadi benda yang sangat berharga.
Jika kita merasa diri kita termasuk orang yang kotor dan menjijikkan, mungkin yang kita butuhkan adalah proses yang tepat dan orang yang tepat, yang dapat membantu kita melalui proses tersebut.
Selamat dibentuk menjadi berharga, kamu yang merasa diri menjijikkan 

Salam,

Nuryanto Gracia

GURU KASAR, MURID CENGENG?

GURU KASAR, MURID CENGENG?

Beberapa tahun lalu, di sosial media gencar sekali para netizen membagikan tulisan atau gambar yang mengkritisi sistem pendidikan masa itu, khususnya cara mengajar guru. Seakan-akan mereka paling tahu apa artinya mendidik. Waktu itu saya masih menjadi guru, dan hanya tersenyum-senyum saja membacanya. Tapi di antara kritik itu banyak yang cerdas dan membangun. Misalnya cara guru yang mendoktrinasi ajaran kepada para murid, seakan murid adalah gelas kosong yang perlu diisi.
Sekarang, setidaknya dalam beberapa minggu ini, netizen ramai mengkritisi murid dan orangtua yang katanya cengeng. Baru dicubit langsung lapor. Lalu mulailah pada bernostalgia pada sistem pendidikan pada zamannya, "Dulu saya ditampar guru biasa aja, ga ngadu. Lihatlah, sekarang anak-anak zaman saya menjadi anak yang tangguh."
Sungguhkah? Kok saya malah jadi seperti mendengar para senior yang suka ngospek dengan kekerasan. Lalu saat dilarang ospek menggunakan kekerasan, mereka mengatakan, "Anak zaman sekarang mah cengeng. Baru dimaki-maki udah lapor. Baru disuruh pakai pakaian gila sedikit, udah bilang merendahkan martabat manusia. Waktu zaman kami dulu, kami diinjak dan dipukul. Lihat sekarang, kami jadi tangguh kan?"
Proses pendidikan sudah bergerak maju. Jika dahulu menggunakan sistem "Stick or Carrot" maka sekarang tidak lagi. Stick or carrot membuat naradidik tidak ada bedanya dengan hewan sirkus (seperti disindir dalam film 3 idiots). Stick or carrot maksudnya adalah, jika nurut atau berprestasi akan dapat carrot (hadiah) tapi kalo tidak maka akan mendapatkan stick (hukuman).
Guru adalah manusia yang memang bisa marah bahkan sangat marah. Cara termudah menjadi guru adalah dengan memakai sistem stick or carrot. Kalo ada murid yang bandel dengan mudah langsung hukum. Kalo ada murid yang ga mau mendengar pelajaran, langsung jewer, kalo perlu tarik jambangnya ke atas (seperti yang pernah saya alami semasa sekolah).
Cara tersebut lebih mudah dalam mengendalikan murid, tapi bukan cara efektif membuat murid tertarik belajar. Cara tersebut lebih mudah dalam membuat murid takut, tapi bukan cara efektif membuat murid hormat dengan guru. Sistem pendidikan sekarang mengajak guru untuk mendidik semenarik mungkin agar murid mau belajar bukan karena takut tetapi karena memang tertarik dengan pelajarannya.
Susah? Iya. Waktu saya menjadi guru, memang rasanya lebih mudah jika mendidik dengan sistem stick or carrot. Tapi masa kita mau mundur lagi?
Ini bukan soal murid atau orangtua yang cengeng, tapi soal bagaimana membuat pendidikan menjadi menyenangkan dan efektif.
Jangan buat sekolah menjadi tempat yang menakutkan, baik untuk murid mau pun guru. Mari buat sekolah menjadi tempat yang menyenangkan, karena belajar itu menyenangkan.

Salam,

Nuryanto Gracia

BERSELISIH DAN SEPENDAPAT

BERSELISIH DAN SEPENDAPAT

Kita bisa berselisih paham dalam beberapa hal.
Tapi ada saatnya juga kita akan sependapat dalam beberapa hal.
Oleh karena itu, janganlah perselihan satu hal menghancurkan relasi kita. Janganlah juga persamaan pendapat, membuat kita mengucilkan mereka yang berbeda pendapat dengan kita karena suatu saat kita pun ada kemungkinan akan berbeda pendapat dengan mereka yang sependapat dengan kita saat ini.

Nuryanto Gracia

JAWABAN TIDAK DARI TUHAN

JAWABAN TIDAK DARI TUHAN

Baik telinga maupun pikiran kita, seringkali lebih banyak dipersiapkan dengan khotbah dan kisah-kisah manis tentang Tuhan yang menjawab "YA" terhadap doa umat-Nya. Sehingga saat Tuhan menjawab "TIDAK" terhadap doa kita, kita akan mengalami goncangan luar biasa besar.
Padahal jawaban YA dan TIDAK adalah sebuah realita hidup yang perlu dipersiapkan secara seimbang. Mari belajar mempersiapkan diri untuk mendapatkan jawaban TIDAK dari Tuhan dan tetap percaya bahwa ada kebaikan dalam kata TIDAK yang Tuhan beri.

SORGA DAN NERAKA

SORGA DAN NERAKA

Dalam Alkitab (LAI, TB) , kata neraka hanya ada 13, sedangkan kata Sorga ada 247. Pembicaraan tentang Sorga jauh lebih banyak daripada neraka. Itu artinya, Sorga jauh lebih penting dibicarakan daripada neraka.
Jadi, sebenernya Alkitab bukan sesuatu yang tepat untuk dijadikan alat menakut-nakuti umat Kristen atau umat agama lain jika mereka tidak hidup seturut firman Tuhan. Alkitab justru ingin menawarkan kehidupan yang penuh kebaikan di mana Bumi sama seperti di Sorga.
"Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga."

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar