Pages

Selasa, 09 April 2024

Kristen (inklusif) progresif.

Kristen (inklusif) progresif.

Munculnya Pastor Brian membuat istilah Kristen progresif menjadi terkenal. Lalu orang-orang mulai alergi dengan istilah Kristen Progresif, sama seperti orang alergi dengan istilah liberal, akhirnya yang tidak sepandang dengan mereka disebut liberal. Misalnya Rudolf Bultmann dianggap liberal oleh umat Kristen pada umumnya karena ajaran demitologisasinya, padahal pada masa itu dia justru sedang melawan teologi liberal. 

Brian ini jika didengarkan dengan baik selalu mengulang-ngulang hal yang sama. Saya percaya bahwa di saat seseorang mengulang-ngulang hal yang sama, maka hal itu penting bagi dirinya. Di hampir semua video yang dia ambil sendiri atau di platform orang lain, dia selalu mengatakan, "Setelah saya belajar S2 teologi ...."

Dia bahagia sekali dengan proses belajarnya, dia mengalami perubahan paradigma tentang alkitab, Allah, keselamatan dan masih banyak lagi di dalam proses belajar tersebut. Brian ini sama seperti mahasiswa teologi S1 yang baru masuk teologi, dan terkaget-kaget karena mendapatkan pembelajaran tentang iman yang berbeda banget dengan apa yang diajarkan oleh pendeta di gerejanya. Tentu saja, di kampus, pembicaraan tentang Tuhan harus dibicarakan secara akademis (pembicaraan tentang Tuhan, bukan Tuhannya yang dibicarakan secara akademis, semoga Anda bisa membedakan 2 hal tersebut). Ada landasan ilmiah, pendekatan interdisipliner dan kebebasan dalam mengkaji sesuatu. Mahasiswa tidak diindoktrinasi untuk mempercayai hanya ada 1 ajaran kekristenan yang benar. Bahkan di kelas sejarah teologi yang saat ini sedang saya tempuh (di S2), saya diperhadapkan pada banyak sekali ajaran gereja dari zaman bapa-bapa gereja hingga saat ini. Dan ajaran-ajaran kekristenan yang kalian dengar dari pendeta kalian di gereja, adalah (hanya) salah satu dari itu. 

Saya ingat dulu salah satu dosen di S1 pernah mengatakan, "Iman sekolah Minggu kamu di sini diruntuhkan, agar kamu bisa membangun imanmu sendiri, bukan iman kata pendeta atau guru sekolah minggumu lagi."

Jadi, kebahagiaan yang dirasakan oleh Brian, adalah kebahagiaan yang saya rasakan dulu. Kebahagiaan karena mendapatkan pemahaman baru, cara melihat alkitab secara baru dan cara mengimani Tuhan secara baru. Iman yang selalu mempertanyakan segala sesuatu, bukan iman yang percaya saja apa yang dikatakan pendeta. Tapi bukan berarti saya setuju dengan apa yang dikatakan Brian, karena memahami seseorang tidak berarti kita setuju dengan apa yang dikatakannya.

Di dalam video terbarunya di IG, dia juga bahagia sekali jika karena keviralan dirinya, umat Kristen mempertanyakan kembali keimanannya. Tapi sayangnya, umat Kristen dan pendeta, banyak yang tidak senang. Karena mempertanyakan iman, dapat membahayakan gereja, walau kata pendeta "membahayakan dirimu, karena kamu bisa berpaling dari Kristus." Padahal mungkin maksudnya berpaling dari gereja, dan jumlah umat jadi berkurang. 

Jika ditelisik lebih jauh pandangan Brian ini, dia bahkan jauh banget dari kata liberal. Dia cinta banget sama Yesus Tuhannya, bahkan sampai menganggap bahwa semua orang dari agama apapun sesungguhnya adalah anak Yesus (red: pengikut Yesus maksudnya), namun mereka tidak sadar itu. Karena semua orang adalah anak Yesus, maka semua orang pasti diselamatkan, apapun agamanya. Umat Kristen lalu menilai bahwa Brian mengajarkan ada keselamatan di luar Yesus. Tidak, bagi Brian tidak ada keselamatan di luar Yesus, keselamatan hanya ada di dalam Yesus tapi agama apapun diselamatkan karena semua agama sejatinya menyembah Yesus (di dalam dunia teologi kita mengenal istilah Kristen anonim yang diperkenalkan oleh Karl Rahner). Maka jika dalam trikotomi studi agama-agama, yang sudah usang, Brian ini masuknya yah inklusivisme, bahkan jauh sekali dari kata pluralisme. 

Jadi bagi saya, Brian adalah Kristen Inklusif Progresif. Walau entah apa yang progresif dari pandangannya, karena pandangannya, kalo dilihat dari mereka yang belajar teologi secara akademis (bukan di sekolah alkitab, semoga Anda bisa membedakan antara sekolah alkitab dan sekolah teologi) maka pandangan Brian ini yah ga progresif-progresif amat. Bahkan cenderung berhenti di satu zaman. Cuma karena banyak gereja yang ajarannya juga merupakan warisan dari zaman yang lebih lama dari teologi yang dipahami oleh Brian, jadi kesannya apa yang disampaikan oleh Brian adalah sesuatu yang progresif dan sesat. 

"Tapi Brian itu tidak percaya bahwa alkitab tidak bisa salah (ineransi alkitab) loh."

Bukan cuma Brian, banyak teolog yang berpandangan seperti itu juga. Alkitab bisa salah, tapi dalam hal apa? Nah itu yang akhirnya melahirkan ineransi alkitab berlapis-lapis. Cari sendirilah yah, nanti tulisan ini jadi sangat panjang, walaupun ini juga sudah sangat panjang. 

Kalo dengan pandangan Brian aja kalian sudah terkaget-kaget, bagaimana dengan pandang pendeta-pendeta yang berasal dari sekolah teologi yang katanya "liberal", yang bahkan cara berpikirnya jauuuuuuuuh lebih progresif. 

Untuk umat Kristen, saya mau berpesan, "Iman kekristenan itu jauh lebih luas dari pengetahuan pendetamu dan melintasi sekat-sekat bangunan gerejamu. Jadi, yang tidak sesuai dengan ajaran pendetamu, belum tentu sesat."

Untuk pendeta-pendeta, saya mau berpesan, "Biasakan memberi ilmu dalam khotbah-khotbahmu. Isi khotbah jangan cuma ngutip-ngutip ayat, kesaksian pribadi, ajakan memberi persembahan yang lebih besar, dan mengulang-ngulang ajaran gereja yang itu-itu aja. Jemaatmu nanti jadi jemaat kagetan. Ada orang yang berbeda teologi langsung dicap sesat. Ada umat yang mempertanyakan keimanan dan Tuhannya dianggap berbahaya. Ada umat yang mengkritik ajaran pendetanya dianggap sok tahu. Jadilah pendeta yang menebar kabar baik dan juga ilmu. Sehingga umatmu menjadi umat yang beriman dan juga pembelajar."

Sebagai penutup (biasanya di paper, di bagian penutup ada tanggapan kita terhadap tokoh yang sedang kita bahas, karena sedang membahas Brian Siawarta maka saya akan menanggapi pandangannya) saya akan menanggapi pandangan Brian yang mengatakan bahwa apapun agama kita sebenarnya kita adalah anak Yesus. Tanggapan saya dalam bentuk komik aja yah.

Komik ini berisi 8 pandangan dalam melihat agama lain, pandangan Brian adalah salah satunya. Saya terbitkan beberapa tahun silam. Komik ini yang sempat membuat IG akun komik saya direport rame-rame, akhirnya kena shadow banned. Padahal saya hanya menyampaikan pandangan-pandangan yang ada loh, bukan mengajarkan sesuatu yang baru. Jadi yah, saya bisa memahami kenapa banyak yang kaget dengan ajaran Brian sekarang. 

Karena jangan-jangan, pendeta sekarang memang banyak membuat umatnya jadi umat "kagetan". 

Semoga habis baca tulisan ini, pendetanya juga ga kagetan. 🤭🤭🤭

Nuryanto Gracia,
S1 di sekolah teologi yang katanya "liberal".

S2 di sekolah filsafat yang teologinya sangat "kanonik" sekali. Saya merasa sangat beriman sekali sekarang 🤣🤣🤣🤣

0 komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar