Minggu, 22 Mei 2011

BERFIRMAN MELALUI MEDIA ELEKTRONIK


Berfirman melalui Media Elektronik

I. Pendahuluan
Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak berkomunikasi. Baik kepada sesamanya maupun kepada makhluk yang lain, mereka saling memberikan input dan sekaligus menerima output. Inilah gambaran komunikasi yang terjalin di antara makhluk hidup. Dengan komunikasi manusia semakin mudah memenuhi kebutuhannya. Misalnya, komunikasi yang terjalin antara penjual dan pembeli di pasar tradisional. Namun, tidak jarang juga komunikasi memiliki andil untuk menciptakan perseteruan. Misalnya, gosip menimbulkan pertengkaran antar tetangga. Semuanya bergantung pada manusia, bagaimana ia mengelola komunikasi tersebut.
Dalam perkembangannya, manusia menciptakan berbagai media untuk berkomunikasi. Media tersebut dari bentuk sederhana hingga saat ini dengan bentuk yang super canggih oleh bantuan teknologi mutkahir. Tentunya media komunikasi tersebut bermanfaat disegala bidang. Dalam paper kali ini, kelompok memaparkan peranan media komunikasi dalam bidang teologi khusunya jenis media elektronik.

II. Pengertian Komunikasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi berarti pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.[1] Dari pengertian ini jelas menunjukkan bahwa komunikasi menjadi kegiatan penyaluran informasi. Menurut Rm. J. Lampe, SJ, komunikasi memiliki empat tingkatan. Pertama, komunikasi intra-personal, yakni komunikasi yang terdapat dalam diri manusia sendiri. Kedua, komunikasi inter-personal, yakni komunikasi yang terjadi antara dua person. Tingkatan yang ketiga dan keempat yaitu group media dan mass media, yang merupakan media berkomunikasi.[2]
Komunikasi pada dasarnya berkaitan erat dengan kesenjangan. Dalam interaksi yang terjalin antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan Allah, seringkali muncul adanya kesenjangan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dibangun suatu jembatan komunikasi. Hal ini kemudian menjadi teori khusus yang mempelajari bagaimana jembatan-jembatan komunikasi itu dibangun dan bagaimana cara menyeberanginya, yaitu dapat diaplikasikan dalam komunikasi yang terjalin antara Allah dan umat manusia.[3]
Komunikasi merupakan media yang penting untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia. Alkitab dengan jelas memaparkan prinsip-prinsip Allah dalam berkomunikasi. Misalnya, dalam Ibrani 1:1, Allah menggunakan pihak ketiga (baca: orang lain) untuk berkomunikasi dengan umat-Nya. Yesus merupakan contoh  metode-Nya yang sempurna sebagai jembatan komunikasi (Ibr 1:2).[4]
Allah memberikan teladan berkomunikasi dengan beberapa cara, yaitu pertama, Allah berusaha berkomunikasi  bukan sekadar untuk menimbulkan kesan kepada kita. Kedua, Allah ingin dimengerti, bukan sekadar dikagumi. Ketiga, Allah mencari jawaban dari para pendengar-Nya bukan sekadar mendengarkan secara pasif. Keempat, Allah menyatakan diri di Alkitab bukan hanya apa yang mau dikomunikasikan melainkan juga bagaimana mengkomunikasikannya. Kelima, Allah berorientasi kepada penerima pesan. Keenam, metode dasar komunikasi Allah bersifat penjelmaan atau inkarnasional. Ketujuh, Allah berkomunikasi dengan dampak.[5]  

III. Pengertian Media
Kata “media” berasal dari Bahasa Latin medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Namun, pengertian media dalam proses pembelajaran cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[6]
Perkembangan dunia sangat cepat terutama dalam bidang media. Hampir setiap hari kita menemukan perubahan dalam media baik itu media cetak, elektronik dan telekomunikasi. Banyak pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak negatif maupun positif yang telah dirasakan dalam hidup masyarakat modern.
Dalam hal ini, gereja pun ikut terlibat menggunakan perkembangan media komunikasi ini. Secara khusus media elektronik saat ini gereja manfaatkan untuk mendukung kegiatan pelayanan. Dalam paper ini kelompok memaparkan empat contoh media elektronik, yaitu televisi, hp (baca: sms), radio, dan cyber church.   

IV. Peranan Media Elektronik Secara Kristiani
a. Televisi
Televisi merupakan media komunikasi elektronik yang tidak pernah hilang dalam peredaran perkembangan teknologi era ini. Dari model hitam-putih hingga saat ini diciptakan televisi bermodel flat dengan fungsi yang sama memberikan informasi dalam bentuk audio-visual. Perkembangannya tidak hanya di dunia tetapi juga dirasakan hingga di Indonesia. Meskipun menurut Ishadi SK, praktisi televisi dan ilmuwan komunikasi Indonesia, televisi merupakan barisan yang paling belakang hadir sebagai kekuatan bisnis di Indonesia.[7]
Berbagai pakar budaya dan komunikasi memberikan pandangannya terhadap produk teknologi ini. Umar Kayam, seorang budayawan Indonesia, berpendapat bahwa televisi memiliki peranan penting dalam proses dialektik membentuk kebudayaan masyarakat. Artinya, televisi bersama dengan masyarakat membentuk sosok kebudayaannya.[8]
Menurut Nasir Tamara, seorang jurnalis Indonesia, kehadiran televisi di dunia membawa dampak besar bagi umat manusia. Televisi memiliki berbagai kandungan informasi, pesan-pesan yang dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh pelosok dunia. Televisi juga menjadi alat bagi beberapa kelompok atau golongan untuk menyampaikan pesan kepada berbagai kalangan masyarakat.
Dengan demikian, jelas bahwa televisi memiliki banyak manfaat. Orang dapat menyaksikan secara langsung suatu peristiwa di bagian dunia lain berkat jasa televisi. Televisi menyajikan berbagai macam program tayangan dalam berbagai bentuk seperti berita, pendidikan, hiburan, dan iklan, berdasarkan realitas, rekaan, atau ciptaan yang sama sekali baru.[9]
Medium televisi memiliki potensi yang sangat besar karena sifatnya yang audio-visual, sehingga dapat memadukan bahasa lisan, tulisan, gambar yang bergerak, animasi, dan efek suara menjadi satu kesatuan. Televisi mampu menangkap dinamika dari penglihatan, suara dan gerak, mengubah ruang/ waktu, hubungan dan menggunakan konvensi-konvensi naratif untuk menciptakan “kenyataan”. Televisi juga mampu melintasi batas-batas geografi, menyampaikan pesan yang sama kepada jutaan penonton sekaligus menciptakan sebuah perasaan akan adanya keikutsertaan secara pribadi. Televisi mampu menciptakan “realitas”, yaitu realitas yang terbentuk di dalam benak manusia didasarkan pada apa yang dilihatnya dari media.
Akan tetapi, televisi juga memberikan banyak pengaruh negatif, yaitu:
  1. Media televisi melalui tayangannya mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah secara instan. Misal kantong ajaib Doraemon. Hal ini menjadikan anak memiliki konsep hidup tanpa perjuangan. Anak menjadi tidak tangguh lagi dalam menghadapi persoalannya.
  2. Media televisi mengajarkan kejahatan dan kekerasan, terutama dalam tayangan sinetron atau film lepas laga. Secara gamblang diperlihatkan cara menyelesaikan perselisihan yang dilakukan dengan perkelahian.
  3. Tayangan iklan di media televisi juga memancing anak menjadi hidup konsumtif dan serakah.
  4. Bagi anak kecil di bawah 7 tahun, mereka masih sulit untuk membedakan antara fiksi (pura-pura) dengan realita (kenyataan). Adegan melompat ketinggian, terbang seperti Superman, putri jelita secantik Barbie dan lain-lain semuannya hanya khayalan membuat anak hidup dalam fantasi.
  5. Anak berperilaku seks yang tidak senonoh, seperti yang dilakukan tokoh Crayon Sinchan dengan mudah ditiru juga oleh anak.[10]
Bila kita telah melihat manfaat dan dampak peranan televisi, sekarang apa yang harus gereja lakukan untuk memanfaatkan televisi dengan setia kepada Injil? Gereja dapat menggunakan televisi untuk pra-evangelisme, maksudnya gereja tidak dapat menjadi gereja di televisi. Gereja tidak dapat menyiarkan persekutuan sejati, menyediakan baptisan, perkawinan, penguburan, atau pun perayaan-perayaan ibadah yang disediakan oleh gereja. Akan tetapi, gereja dapat memberikan informasi tentang iman Kristen dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikemukakan. Gereja memakai televisi sebagai persiapan untuk Injil, bukan sebagai perantara. Hal ini dikarenakan Injil membutuhkan kehadiran pribadi manusia, bukan mesin.[11]
Ketika gereja mau menayangkan tayangan yang berhubungan dengan kerohanian, maka gereja harus memerhatikan komunitas setelah menonton tayangan tersebut. Gereja harus sadar akan kebutuhan penonton yang menggunakan media televisi yang menayangkan acara rohani. Ada tiga langkah yang gereja lakukan dalam menggunakan media televisi untuk mempersiapkan orang-orang yang menerima Injil. Pertama, seorang teolog yang bernama Paul Tillich menyebut istilah “situasi-situasi tapal batas,” maksudnya keadaan di mana manusia modern mencapai batas-batas eksistensi kemanusiaan mereka. Pada waktu itu, mereka merasa kehilangan makna pribadi atau merasa tidak berguna dan tidak berharga. Kedua, melalui media televisi, gereja dapat menghadirkan maupun menceritakan kembali orang-orang dan peristiwa-peristiwa yang telah melampaui “situasi-situasi tapal batas” secara kreatif dan dengan iman, misalnya cerita mengenai berita (Selma, Manila, Afrika Selatan), biografi (Dietrich Bonhoeffer, Gandhi, Martin Luther King Jr., C.S. Lewis), drama (“A Man for All Seaseon,” “Who’s Afraid of Virginia Wolfe?””The Turning Back”), dokumentasi (Dr. Kubler-Ross yang menghadapi kematian anaknya). Ketiga, komunikasi Kristen pada akhirnya bersaksi akan iman Kristen di dalam Yesus Kristus.[12]
 
b. S
ending Messagge Service (SMS) Rohani
Salah satu perkembangan media yang membuat kemudahan dan keuntungan manusia adalah penggunaan media telekomunikasi yang kita sebut HP (handphone). Oleh gereja, media komunikasi ini dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pelayanan. Misalnya, Pesan Rohani Harian melalui sending messagge service (sms) yang dibuat oleh Komisi Liturgi KWI dalam kerja sama dengan PT Infokom Jakarta. Pada dasarnya, harapan yang mau dicapai melalui program "renungan/pesan
rohani harian singkat" ini agar umat beriman boleh dibantu menimbah inspirasi hidup Kristiani dari hari ke hari.
Pesan Rohani Harian yang dikirimkan via sms ini umumnya bersumber dari bacaan-bacaan Misa pada hari yang bersangkutan sesuai dengan kalender Liturgi Gereja. Namun, ada kalanya pesan rohani ini diambil juga dari kata-kata inspiratif-reflektif dari Para Kudus, dokumen-dokumen/ ajaran resmi gereja, dan lain sebagainya.
Adapun biaya yang dipungut setiap pesan rohani SMS yang dikirimkan adalah Rp 1000,- . Namun biaya yang dipungut bukanlah untuk keuntungan pribadi melainkan apabila ada keuntungan finansial yang mungkin kelak didapat dari layanan ini, sepenuhnya akan digunakan untuk karya pelayanan Komisi Liturgi KWI.

c. Radio
Radio merupakan salah satu media massa memiliki fungsi untuk memberikan informasi, pendidikan dan hiburan kepada masyarakat. Menurut Lasswell (1948) fungsi media massa termasuk radio dikatakan mencakup fungsi pengawasan (surveillance), pertalian bagian -bagian masyarakat dalam memberikan respon terhadap lingkungannya (correlation) dan transmisi warisan budaya (transmission of culture). Selain tiga fungsi tersebut Wright (1960) menambahkan satu lagi yakni hiburan (entertainment). Dengan adanya berbagai fungsi yang dimiliki, sebagai salah satu media massa radio diharapkan mampu berperan dalam proses pembangunan.[13]
Selain sebagai media komunikasi pembangunan secara umum, radio bisa digunakan untuk bidang pelayanan dan pendidikan keagamaan.  Radio adalah media massa untuk  pelayanan umum, di mana siarannya tidak diperuntukkan bagi suatu golongan tertentu dan tidak dimonopoli kelompok tertentu, termasuk pemerintah. Oleh karena itu, isi siaran harus dijaga sesuai etika penyiaran, seperti: jangan menghina seseorang atau golongan tertentu.
Berbicara radio sebagai media massa untuk pelayanan umum, radio juga bisa digunakan untuk pelayanan keagamaan, di mana siaran keagamaan ini telah sengaja dibangun yang hanya bermanfaat bagi golongan agama tertentu. Hal ini berkaitan dengan pendidikan keagamaan.  Tujuan dari “keagamaan” di sini adalah untuk membangun dan mengembangkan karakter manusia, misalnya: kita dapat mengartikan “keagamaan” sebagai implisit Kristen. Tujuan siaran yang membangun dan mengembangkan karakter, bukan hanya bagi umat kristiani, tetapi bagi bangsa Indonesia. Dasar pendidikan kristiani adalah Hukum Kasih yang tidak membedakan dan tidak mengunggulkan, tetapi merangkul sesama kita. Oleh karena itu, tugas utama penyiaran pendidikan (kristiani) adalah membangun dan menumbuhkan sifat-sifat yang disebut sebagai buah roh.[14]
Berikut ini adalah contoh program radio yang dijadikan sebagai alat pemberitaan Firman.
Stasiun radio pada frekwensi 1044 AM  dengan daya pancar 1000 watt, radius pancar 67 Km, yang  menjangkau mulai dari daerah Cikarang hingga mencapai kota-kota lain seperti Seluruh Kabupaten Bekasi, Depok, Bogor, Karawang, Cikarang, Purwakarta, Subang, dan sekitarnya. Dengan daya jangkauan siaran yang luas dari pukul 05.00 dini hari hingga 24.00 wib, maka ada banyak orang yang akan mendengarkan setiap program siaran dari radio ini. Dengan demikian akan sangat membantu untuk terjadinya sebuah transformasi di Indonesia, terkhusus dalam penyebaran firman. Sesuai dengan amanat agung Tuhan Yesus Kristus untuk memberitakan Kabar Baik dan menjadikan seluruh bangsa menjadi murid Tuhan.
     Program siaran radio ini tidak hanya berupa pemutaran musik country tetapi terdapat pula program lain seperti interactive infotaiment dan talkshow. Selain dari aliran musik Country western (70%) yang menjadi chirikhas radio ini, lagu-lagu dari dalam negri yang sedang naikdaun pun mendapatkan tempat(30%) dalam program siaran.
Dengan program-program rohani yang bermutu yang dikemas menarik, interaktir, dan informatif serta lagu-lagu country unggulan yang disajikan kepada pendengar, dan pastinya akan menambah iman, wawasan dan menjadikan sarana hiburan. Target utama dari siaran radio ini adalah anak-anak muda yang professional dalam kisaran umur 20-39 tahun dari golongan menengah ke atas. Karena mereka yang berada dalam usia inilah yang sedang produktif dan memiliki pengaruh dalam komunitasnya.
Komposisi pendengar radio ini berdasarkan aktivitas 24% exsekutive, 22% karyawan, 17% mahasiswa, 14% pensiunan, 13% Ibu rumahtangga, 10 % pelajar. Berdasarkan golongan ekonomi 60% Menengah, 27% atas, 13% bawah. Berdasarkan jenis kelamin 60% & Pria, 40% Perempuan.
c. Cyber Church
Era teknologi dan komunikasi yang melaju begitu cepat membuat kekristenan pun tidak mau ketinggalan. Kekristenan ikut berlari dengan perkembangan tersebut. Dia menggunakan teknologi yang ada untuk memberitakan pada dunia bahwa dirinya eksis. Dia masuk lewat media yang ada. Di antaranya adalah internet. Salah satu cyber church yang ada mempunyai visi sebagai berikut “A ministry of ChristRing Ministries, our mission is to bring Jesus Christ to the Internet and to unashamedly present His Gospel of Love and Grace to all that visit here. While Cyber-Church can never replace fellowship in your local church it is our sincere prayer that we can become your "home away from home" Church and that you will find true Christian fellowship here. That we at the Cyber-Church can meet many of your ministry needs.”
Cyber church membahas topik-topik kekristenan dan agama-agama lain. Ada ruang untuk permohonan doa, khotbah, toko buku, ruang chating.  Cyber church tidak sama dengan Web page gereja. Web page gereje hanya berisi informasi gereja lokal. Cyber church melebihi itu. Dia tidak bersifal lokal melainkan global. Dia berkomunikasi dan membangun hubungan dengan pada pengunjungnya. Beberapa cyber church yang ada, yaitu Virtual Church (SM), CyberMinistries Virtual Church, Nettkirken (Norway), WebChurch (Scotland), Osaka-Nozomi Web Chapel (Japan), dan lain-lain.
Cyber church memang mempermudah umat Kristen untuk berkomunikasi dan mengenal lebih jauh tentang Kekristenan. Namun apabila sampai doa, khotbah dan ruang konseling juga ad di sana maka batas-batas sosial akan mulai melenyap. Jaringan informasi menjadi bersifat transparan dan virtual. Tidak ada lagi kategori-kategori norma gereja yang mengikat dan membatasinya. Yasraf Amir mengatakan “Ketika segala sesuatunya berputar bebas dalam sirkuit global, di dalam cyber space, maka hukum yang mengatur masyarakat global kita bukan lagi hukum kemajuan – sebab kemajuan berarti juga ekspansi territorial – melainkan hukum orbit, segala berputar secara global, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu territorial ke territorial lain, dari satu komunitas ke komunitas lain, dari satu kebudayaan ke budayaan lain.”[15]
Batas-batas sosial yang di dalamnya terdapat budaya, nilai, dan simbol-simbol pun ikut lenyap. Ini lah bahaya dari cyberchurch. Kelompok melihat bahwa web page gereja lebih baik daripada cyber church karena web page merupakan bagian dari kegiatan pelayanan gereja bukan menggantikan peran gereja seperti cyber church.

V. Penutup
Komunikasi memiliki peranan penting dalam interakasi manusia. Komunikasi tidak hanya menolong manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi juga berpengaruh dalam pembentukan budaya manusia. Secara Teologi, komunikasi dipahami lebih mendalam. Alkitab memaparkan komunikasi yang terjadi antara Allah dengan umat-Nya. Komunikasi tersebut direfleksikan sebagai relasi iman yang nyata dalam kehidupan umat.
Dalam perkembangannya, manusia kemudian menciptakan berbagai media komunikasi yang semakin mempermudah proses komunikasi tersebut. Dalam perkembangan media komunikasi ini, gereja ikut serta membudidayakan media tersebut dalam praktek pelayanannya. Secara khusus media elektronik yang sangat berkembang saat ini, gereja membudidayakannya untuk memfasilitasi pertumbuhan iman umat.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap bentuk media komunikasi khususnya elektronik, memiliki dampak positif dan negatif. Gereja perlu mengantisipasi pengaruh perkembangan media ini agar tidak menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan iman jemaat. Karena sangat disayangkan dengan tujuan yang baik tetapi justru dapat menghancurkan esensi persekutuan itu sendiri.

Ditulis oleh: Nuryanto, S.Si (Teol); Novianti, S.Si (Teol); Putri, S.Si (Teol); Robinson, S.Si (Teol) dan Suhardi, S.Si (Teol). Ditulis untuk mata kuliah Pembulatan Studi Teologi (sewaktu kami semua masih kuliah)










DAFTAR PUSTAKA
Fore, William F. Para Pembuat Mitos: Injil kebudayaan dan Media (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.
Fore, William F. Television and Religion: The Shaping of Faith, Values, and Culture. Minneapolish: Augsburg, 1987
Ketakese Komkat KWI. Peranan Media dalam Pendidikan Iman dan Upaya Pendidikan Kesadaran Bermedia. Jogjakarta: Kanisius, 1997.
Mulyana, Deddy, Idi Subandy Ibrahim (ed), Bercinta dengan Televisi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997.
Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: Jalasutra, 2008.

Artikel dan Bahan Bacaan Yang Tidak Diterbitkan
Atmarumengkas, Junus N. “Peran Media Radio dalam Pelayanan dan Pendidikan Keagamaan,” dalam  Faithful Love 40 th RPK FM. Jakarta: RPK Jakarta, 2007.
Ginting, Rina. Mujizat Bukan Pada Pesawat Televisi Anda: Tinjauan Kritis terhadap Siaran Rohani Kristiani di Televisi. Jakarta: Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, 2005, Karya Tulis Akhir.
Hasil Konsultasi Komunikasi-Teologi. Komunikasi dan Pendidikan Teologi. Yogyakarta: WACC Indonesia, 1989.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001).

Internet
N., Yahya. “Pengertian Media,” dalam http://apadefinisinya.blogspot.com/2007/12/pengertian-media.html, tanggal 30 Agustus 2009 pukul 19.20. 
Sulaiman,  R. “Media Penyiaran Sebagai salah Satu Alternatif Pemberdayaan Masyarakat,” dalam www.geocities.com/radiogshfm/Data/RadioMediaAlternatif.pdf, diakses pada hari Senin, 31 Agustus 2009, pukul 18.35 WIB.



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001).
[2] Hasil Konsultasi Komunikasi-Teologi, Komunikasi dan Pendidikan Teologi (Yogyakarta: WACC Indonesia, 1989), h. 8.
[3] Ketakese Komkat KWI, Peranan Media dalam Pendidikan Iman dan Upaya Pendidikan Kesadaran Bermedia, (Jogjakarta: Kanisius, 1997), h. 12.
[4] Ibid., h. 11. 
[5] Ibid., h. 13-18
[6] Yahya N., “Pengertian Media,” dalam http://apadefinisinya.blogspot.com/2007/12/pengertian-media.html, tanggal 30 Agustus 2009 pukul 19.20.  
[7] Deddy Mulyana, Idi Subandy Ibrahim (ed), Bercinta dengan Televisi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), h. 16.
[8] Ibid., h. 328.
[9] Ibid., h. 285.
[10] Rina Ginting, Mujizat Bukan Pada Pesawat Televisi Anda: Tinjauan Kritis terhadap Siaran Rohani Kristiani di Televisi, (Jakarta: Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, 2005, Karya Tulis Akhir), h. 22-28. 
[11] William F. Fore, Para Pembuat Mitos: Injil kebudayaan dan Media (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), h.107-108
[12] William F. Fore, Television and Religion: The Shaping of Faith, Values, and Culture (Minneapolish: Augsburg, 1987), h. 122-124
[13]  R. Sulaiman, “Media Penyiaran Sebagai salah Satu Alternatif Pemberdayaan Masyarakat,” dalam www.geocities.com/radiogshfm/Data/RadioMediaAlternatif.pdf, diakses pada hari Senin, 31 Agustus 2009, pukul 18.35 WIB.
[14] Junus N. Atmarumengkas, “Peran Media Radio dalam Pelayanan dan Pendidikan Keagamaan,” dalam  Faithful Love 40 th RPK FM. (Jakarta: RPK Jakarta, 2007), h. 164-165.
[15] Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan (Bandung: Jalasutra, 2008), h. 134-135.

0 komentar:

Poskan Komentar

CIPTAAN SIAPA KAU

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar