Pages

Minggu, 26 November 2023

YUSUF SANG PEMERAS

YUSUF SANG PEMERAS

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar tokoh Yusuf?
Kebanyakan kita pasti akan mengatakan bahwa dia adalah sosok yang:
1. Pemaaf
2. Bijaksana
3. Baik
4. Tangguh
dan semua hal positif lainnya.

Mengapa? Karena itulah yang seringkali disampaikan di gereja-gereja oleh para pengkhotbah kita.
Pernah kah kita mengetahui bahwa Yusuf juga adalah seorang penjajah, penindas, pemeras rakyat sampai sekering-keringnya?

Bila kita membaca Kejadian 47:13-26 maka kita akan melihat proses pemerasan yang Yusuf lakukan. Mulai dari membayar jika ingin mendapat makanan. Jika sudah tidak ada uang, maka serahkan ternakmu. Jika ternak sudah habis, maka serahkan tanahmu. Jika tanah sudah tidak ada, serahkan dirimu sebagai budak. Lalu tanamlah benih, di tanahmu yang sudah menjadi tanah firaun. Jika sudah menghasilkan, 1/5 untuk firaun dan 4/5 untukmu makan.
 
Mungkin kita akan berkata, itu bukan penjajahan. Mereka hanya menyerahkan 1/5, tidak terlalu besar. Selain itu juga mereka menyerahkan seluruh yang mereka miliki agar bisa mendapatkan makanan.
Ya, bukankah itu memang yang terjadi di masa penjajahan? Apapun akan kita lakukan agar bisa dapat hidup dan makan. Tapi bukan berarti itu bukan penjajahan kan? Itu tetap penjajahan. Tetap pemerasan.
Mungkin kita akan mengatakan lagi, tapi semua rakyat memuji Yusuf, "Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun."

Ya, bukankah itu juga yang terjadi pada zaman penjajahan? Kita rela menjadi hamba penjajah, asal dapat makan. Bahkan ada yang sampai menjadi kaki tangan penjajah, biar dapat fasilitas. Tapi yang namanya penjajahan, tetaplah penjajahan kan?

Salah satu cara berontak terhadap "Tuhan" atau tafsiran tentang Tuhan yang telah lama bercokol dipikiran kita, hasil dari indoktrinasi para pendeta, adalah dengan melakukan dekonstrusi penafsiran umum. Ada banyak metode penafsiran yang bisa kita lakukan untuk melakukan dekonstruksi, mulai dari feminisme, kritik dekonstrukstif, kritik post-kolonial dan lain sebagainya. Metode yang saya pakai untuk melihat kisah Yusuf di atas adalah kritik post-kolonial.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

0 komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar