Senin, 20 Februari 2012

Belajar dari Gaya Kepemimpinan Binatang


Belajar dari Gaya Kepemimpinan Binatang

Sepertinya ada yang aneh dengan judul di atas. Bukankah kita adalah manusia yang mulia, untuk apa belajar dari binatang? Di Alkitab memang pernah mengatakan “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6), tetapi bukan kah perintah itu hanya untuk si pemalas? Nah mengapa kita yang bukan pemalas ini tetap harus belajar dari binatang? Apa untungnya?
Simpan dulu pertanyaan tersebut. Biarlah rasa penasaran untuk mencari tahu membuat kita mau mempelajari dengan baik apa yang akan saya jelaskan sebentar lagi tentang belajar dari gaya kepemimpinan binatang. Semoga pada akhir tulisan ini kita akan mendapatkan jawaban mengapa kita perlu belajar dari para binatang. Oke mari kita mulai pembelajaran ini.

Gajah
Tahukah teman-teman siapa yang menjadi pemimpin dari setiap kawanan gajah? Apakah pemuda-pemudi atau remaja-remaji  (bahasa apa itu remaji? Haha) gajah ? Bukan, sama sekali bukan. Yang menjadi pemimpin kawanan gajah adalah nenek gajah (gajah betina tua). Pengalaman dan ingatan yang panjang dari si nenek membantu kawanan gajah menemukan makanan dan air. [1]
Dalam memimpin suatu organisasi, kita memang memerlukan pengalaman yang matang. Pengalaman hidup jelas membentuk kita sekaligus memperlengkapi kita dengan berbagai macam hal yang dapat membantu kita untuk mempertimbangkan sesuatu dan mengambil keputusan. Namun demikian, apakah hanya pengalaman saja yang diperlukan dalam memimpin sebuah organisasi? Tentu saja tidak, ada beberapa hal lain yang kita sangat perlukan. Mari kita lanjutkan pembelajaran kita.

Berang-berang
Kita pasti tahu bahwa berang-berang sangat ahli dalam membuat dam di sungai sebagai tempat tinggalnya. Namun bagaimana cara mereka bekerja sama sehingga mampu membangun dam tersebut?  Sekawanan berang-berang biasanya kerjasama dalam membangun dam, dan uniknya, dari sejumlah berang-berang tersebut, tidak ditemukan pemimpin atau penanggung jawab utama dari pembuatan dam tersebut.
            Tiap berang-berang berlaku sebagai pemimpin dirinya sendiri dan mereka bertanggung jawab terhadap tugas sendiri bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk mendukung kepentingan bersama. Setiap anggota organisasi sudah mengetahui aturan main yang ada, dan melakukan pekerjaan sesuai dengan metode yang dianggapnya optimal. Kemudian, yang mengagumkan, berang-berang saling terbuka satu sama lain, mereka tidak menyembunyikan pohon yang bagus dari berang-berang lainnya. [2]
Dari berang-berang kita belajar bahwa tidak ada ‘kayu-kayu baik’ yang harus disembunyikan hanya untuk menunjukkan kualitas kerja kita/bidang kita adalah yang terbaik. Justru ‘kayu-kayu baik’ itu harus dibagikan dengan rekan-rekan/anggota bidang pelayanan yang lain untuk kepentingan bersama.

Tupai
Ketika seekor tupai mencari makanan, mereka tidak hanya mencari untuk diri sendiri, melainkan dimakan beramai-ramai sebagai cadangan makanan di musim dingin. Intinya, tupai merupakan binatang yang tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri. Tupai bekerja demi mencapai tujuan mereka bersama.[3]
Seorang pemimpin bukanlah seorang yang hanya duduk ‘uncang-uncang kaki’ selama anggotanya bekerja. Seorang pemimpin adalah seseorang yang bekerja sama sekaligus berkerja bersama-sama dengan anggotanya yang sedang bekerja keras. Seorang pemimpin harus bekerja keras demi mengerahkan dan mengarahkan timnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Semut
Semut adalah binatang yang selalu bekerja keras. Mereka mengerjakan tugas mereka dengan cepat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai apa yang mereka cari. Setiap kali mereka menemui hambatan saat perjalanan, dengan semangat yang menggebu-gebu mereka terus mencari jalan keluar untuk keluar dari masalah itu. Untuk membuktikannya, cobalah anda menghalangi langkah mereka! Mereka pasti tidak akan berhenti, namun mereka akan berusaha dan pantang menyerah untuk menemukan jalan keluar. Binatang mungil ini juga merupakan binatang yang tidak rakus dan dermawan. kedermawanan mereka mengalahkan keegoisan dan kerakusan mereka, sehingga apabila mereka menemukan makanan, mereka akan membawa makanan tersebut ke sarang atau memanggil semut lain untuk menikmati makanan itu bersama-sama. Semut juga merupakan binatang yang penuh kasih sayang, semut yang lebih besar tidak akan pernah memakan semut kecil lainnya, selapar apapun mereka. Solidaritas mereka pun patut diacungi jempol, apabila mereka menemukan semut lain yang lemah atau mati, mereka tidak akan membiarkan dan meninggalkannya, mereka akan menggotong semut itu untuk dibawa ke sarang atau tempat lain yang lebih aman.[4]
Dari semut kita belajar bagaimana mereka bekerja keras bersama-sama dengan rekan-rekannya yang lain. Mereka bekerja demi kepentingan bersama, bukan hanya  untuk kepentingan diri sendiri. Kita juga belajar dari semut bahwa masalah yang datang seperti apapun pemimpin tidak boleh menyerah, dia harus berusaha untuk mencari jalan keluar. Bahkan apabila ada anggota kita yang sedang mengalami masalah kita harus turut membantunya mengatasi masalahnya sama seperti semut yang tidak meninggalkan temannya yang sedang mengalami masalah (lemah atau mati). Masalah anggota kita adalah masalah kita juga. Solidaritas harus menjadi bagian dari sifat kepemimpinan kita.
David W. Johnson menyebut hal tersebut sebagai caring relationship. Hal tersebut merupakan hal pertama yang harus ditingkatkan dalam upaya memberdayakan anggota. Hal tersebut apabila terus ditingkatkan akan menghasilkan kepercayaan, komunikasi yang terbuka dan dukungan antar pribadi.[5]

Lebah
Dalam membangun wadah madu yang dihasilkan, lebah memiliki perhitungan yang begitu cermat, hingga dalam dunia lebah dimiliki aturan standar inetrnasional kemiringan wadah madu 13 derajat.  Dalam berkoordinasi antara satu sama lain, lebah menggunakan panduan arah berdasarkan posisi matahari, padahal pada setiap waktunya matahari bergeser satu derajat per empat menit. Bayangkan kalau lebah tidak smart membaca petunjuk kerja dari sesamanya, tidak mungkin bisa mereka bekerja dengan optimal. Selain itu walaupun lebah menyengat dengan galak, lebah adalah binatang yang sangat lembut. Kalau dia hinggap di seutas ranting, yang rapuh sekalipun, tidak rusak ranting itu karena ulahnya.[6]
Dari lebah kita mendapat suatu pembalajaran yaitu smart.  Hal itulah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa hal tersebut pemimpin tidak dapat menganalisis masalah, menentukan formasi yang efektif untuk organisasinya dan melakukan pertimbangan-pertimbangan.
Satu hal penting yang harus kita pelajari dari lebah adalah seorang pemimpin memang harus melakukan eksplorasi tetapi bukan eksploitasi. Lebah melakukan eksplorasi dalam mengumpulkan madu, tetapi dia tidak sampai merusak ranting yang bahkan sudah rapuh sekali pun. Kita boleh melakukan eksplorasi terhadap apa yang ada di gereja (gedung gereja, umat dan pejabat gerejawi) namun jangan sampai melakukan eksploitasi.

Burung Angsa
Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan burung angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Burung-burung angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf "V".  Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus “dinding udara” di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.
Kalau seekor burung angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.
Ketika burung angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan burung angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.
Burung-burung angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada burung angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.
Ketika seekor burung angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua burung angsa yang lain akan ikut keluar dari formasi bersama burung angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka akan tinggal dengan burung angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.[7]
Manusia memiliki pasang surut dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini dikenal dengan konsep circadian rhytms (siklus irama). Setiap pemimpin terkadang menuntut anggotanya untuk bekerja dengan maksimal tanpa kenal lelah, padahal menurut konsep circadian rhytms setiap manusia mempunyai pasang surut baik tenaga maupun pemikiran dalam sehari. Oleh karena itu perlu dilakukan penyimpanan tenaga agar pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan produktif dalam batas-batas kemampuannya.[8] Konsep circadian rhytms sendiri memberikan beberapa langkah untuk menyimpan energy, namun pada saat ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Kita akan lebih menitikberatkan pada pembahasan bagaimana angsa menyimpan energi mereka dengan efektif.
Seperti yang telah diceritakan, angsa membentuk formasi “V” ketika melakukan perjalanan bersama-sama dengan kelompoknya. Formasi itu membuat seluruh kawanan angsa dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian. Hal ini         berarti angsa dapat menghemat 71% energi mereka.
Jadi kerjasama dan formasi merupakan hal yang penting dalam organisasi. Dalam permainan sepakbola, formasi tim pun merupakan hal yang sangat menentukan kemenangan suatu tim. Oleh karena itu pemimpin harus cermat memutuskan formasi apa yang efektif untuk organisasinya. Formasi dalam suatu organisasi tentunya berkaitan dengan siapa yang memang mampu dan sesuai dengan panggilannya di bidang tersebut.
Selain formasi, angsa juga memberikan kita pembelajaran lainnya yaitu memotivasi rekan kerja lainnya. Caring relationship juga ditunjukkan oleh angsa, yaitu ketika rekan di depannya kelelahan, rekan yang lain menggantikannya. Pemimpin yang di depan harus jujur apabila memang ia sudah kelelahan dan butuh bantuan.
Pembagian tugas dapat kita lihat jelas dalam kawanan angsa tersebut. Ketika ada temannya yang mengalami kesusahan ada beberapa dari kawanan angsa yang menemaninya. Mereka yang mendapat tugas untuk menemani angsa yang sedang dalam masalah tersebut akan menemani dan membantu sampai masalah angsa tersebut selesai. Mereka melakukan tugas tanggung jawabnya sampai tuntas. Begitu pula setiap kita yang telah bersedia mengambil bagian pelayanan di bidang tertentu, kita harus melakukan tugas pelayanan kita dengan penuh tanggungjawab dan sampai tuntas.

Mamalia
Karakter mamalia itu secara garis besar adalah sebagai berikut: cenderung berkerumun, berkomunitas, guyub, saling ingin tahu, saling berbagi dan saling menyesuaikan diri. Cenderung percaya satu dengan yang lainnya dan kalau ada penugasan tidak ragu-ragu melakukan pendelegasian. Mamalia juga cenderung meng-empower orang lain agar proses delegasi berlangsung aman. Dengan kata lain, ada spirit kekeluargaan yang cenderung saling melindungi, menjaga dan berorientasi pada kebersamaan (people sense). Itulah karakter mamalia.[9]
Karakter itu bukan cuma ada pada orang per orang, melainkan juga saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Sehingga membentuk rumah atau budaya mamals (mamalia). Dapat dibayangkan apa jadinya organisasi yang diisi orang-orang baik dan seperti itu?

Reptilia
Reptilia memang agresif dan fokus. Mahkluk ini cenderung tidak mendatangi (berkelompok), melainkan memisahkan diri dan bisa cari makan sendirian. Ia sangat detil, kuat, berkulit keras dan mudah dipanasi. Dalam diri manusia, orang-orang tipe reptil adalah tipe yang agresif, fokus, detil, analitikal, berorientasi pada angka, keras hati, tidak merasa perlu berkelompok, financial sense (the bottom line), cool, cenderung tidak percaya dengan orang lain sehingga melakukan verifikasi dan merasa perlu mengontrol. Tentu tidak ada salahnya belajar dari para pemimpin reptilia, karena rata-rata pemimpin besar ternyata memang demikian. Pemimpin reptilia adalah pemimpin yang keras hati atau berhati baja.
Pemimpin besar harus mampu menggabungkan dua kekuatan sekaligus, yaitu berhati keras dan berjiwa lembut. Yesus mengatakan “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Dalam bahasa manajemen disebut “berkulit tebal namun berhati mulia.” Dalam bahasa kepemimpinan kita menyebutnya mamareptil: Keras, teguh, disiplin, detail dan berani, namun berhati lembut, memelihara kekompakkan (kohesiveness), mengembangkan manusia, dalam suasana yang menyenangkan namun produktif.[10]

Jadi?
Setelah mempelajari beberapa gaya kepemimpinan binatang di atas, apakah kita masih ingin berpendapat bahwa tidak ada gunanya belajar dari binatang? Ataukah kita masih berpendapat bahwa hanya orang malas atau bodoh saja yang harus belajar dari binatang?
Saya hanya ingin mengatakan satu hal “Orang yang rendah hati tidak pernah merasa dirinya direndahkan ketika belajar dari sesuatu yang lebih rendah dari dirinya.” Semakin kita tidak membatasi diri dalam belajar, semakin banyak hal yang kita dapatkan. Begitu jugalah seorang pemimpin seharusnya, belajar bijak dari apapun juga. Seorang pemimpin tidak bisa hanya puas dengan sedikit hal yang telah dipelajari. Dia harus terus menerus belajar dalam memperlengkapi dirinya. Selamat menjadi pemimpin (setidaknya memimpin diri sendiri terlebih dahulu). 

Karya: Nuryanto, S.Si (teol)


[1] Utami Widijati, 217 Fakta Superaneh Dunia Binatang (Yogyakarta: New Diglossia, 2011), hal. 35.
[2] Rinella Putri, Belajar Organisasi dan Kepemimpinan dari Sekawanan Hewan, http://vibizmanagement.com/journal/index/category/leadership_corp_culture/154/130
[3] Ibid.
[5] David W. Johnson dan Frank P. Johnson, Joining Together: Group Theory and Group Skills (USA: Allyn and Bacon, 2003), hal. 210.
[6] Rizki Dwi Rahmawan, 10 Pelajaran Kepemimpinan dari ‘Bee’, http://umum.kompasiana.com/2009/08/03/10-pelajaran-kepemimpinan-dari-bee/

[8] Pandji Anoraga, Psikologi Kepemimpinan (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 72-73.           
[10] Ibid.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar