Jumat, 27 Agustus 2010

Devina Cendra X-4/9 SMAK 4

Sasha bermandikan keringat pagi itu. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk yang seakan selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Sasha beberapa hari ini selalu bermimpi bahwa ada seorang gadis yang selalu menatapinya dari tepi jalan. Gadis ini menggenggam sebuah pisau dan mengikuti kemanapun sasha pergi. Sasha bergelidik mengingat kembali mimpinya. Ia kemudian meraih handphone yang terletak disamping bantalnya. Melihat angka pada jamnya sudah bergerak menuju angka 6, Sasha segera beranjak dari kasurnya walau masih takut untuk beranjak dari kasurnya.
***
Sisi melangkah turun dari mobil dengan tenang. Ia sangat senang karena ayahnya dapat menyempatkan diri untuk mengantarkannya ke sekolah. Ia bergegas menuju ke kelas X-4, tempat ia akan belajar bersama teman-temannya. Disana didapatinya Elang,teman sebangkunya, telah tiba lebih awal. Sisi meletakan tasnya dan menyapa elang dengan riang. “hai” ujarnya. Elang hanya tersenyum sebagai balasannya. Tiba-tiba, Sisi merasakan sebuah tepukan dipunggungnya. Kikan,sahabatnya, tersenyum cerah dibelakangnya. Sisi dan Kikan segera mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Kikan mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah smsnya ke sisi. SMS itu berisikan ramalan harian menurut bintang kelahiran Kikan. Disitu dikatakan bahwa Kikan harus lebih memperhatikan dan mensupport si doi dan tidak hanya memiliki rasa kesetiaan. Sisi terkikik geli membacanya.
“Kikan,Kikan, support dong si Ray. Masa liat dia basket aja kamu dah kabur.”
Kikan mencibir mendengar tanggapan Sisi.
“Support kok. Itu kan dia yang minta. Dia bilang dia nggak bisa konsen main kalau ada aku. Lagian kayak punya kamu tulisannya bagus aja”
Sisi mengeluarkan handphonenya dan menunjukan miliknya pada kikan.
“He/she is just not into you.. cari yang laiinnn.. haduuhh.. kasian banget sih kamu say..”
Namun Sisi hanya tersenyum. Kemudian ia berkata, “yup. He is not into me. But someone else is”
“Eaa.. ngomongnya dah berat nih.. ahahahahah..”
Mereka tertawa lepas hingga bel masuk sekolahpun berbunyi, menghentikan pembicaraan antara Sisi dan Kikan.
***
“Sha, kamu baik-baik aja kan?” ujar Samuel,pacar Sasha, khawatir.
Sasha hanya menggeleng lemah. “Nggak papa Sam.. aku cuma mimpi aja” . Samuel menatap sasha dengan pandangan tidak yakin. “Apa mimpi yang kayak waktu itu kamu certain sha?” Sasha hanya mengangguk. “Nggak usah dipikirin lagi lah Sha. Itu kan cuma mimpi aja. Lagian kamukan tahu kalo aku selalu ada buat kamu” ujar Samuel mulai tidak dapat menahan emosinya. “Sam, kamu kenapa sih? Kamu kan tahu ini nggak mudah buat aku” Samuel melengos pergi meninggalkan Sasha sebagai jawabannya. “SAM! SAMMY!” pekik Sasha. Tanpa menenggok kebelakang Samuel menjawab, “ Sha, aku udah nggak bisa mempertahankan hubungan ini lagi Sha. Kamu terlalu terbawa takut karena mimpi kamu yang belum tentu terjadi. Kamu nggak bisa percaya kalau aku dan TUHAN selalu ada buat kamu. Itu cuma mimpi Sha. Jangan Berlebihan! ” Sasha menitikkan air matanya dan menjerit dengan histeris. “SAM! SAMMYYY!!! Kamu nggak bisa tinggalin aku kayak gini sam! Aku butuhh kamuuu!!” Samuel hanya menggeleng. “Maaf sha” kemudian Samuel meninggalkan Sasha seorang diri di aula.
***
Ray bersiul-siul dengan riang. Hari ini ia akan bermain bersama dengan teman-temannya di lapangan kompleks rumahnya. Disana tampak Samuel,sahabatnya, duduk sendirian. Ray segera menghampiri Samuel.
“Hi, bro!”
Samuel hanya tersenyum singkat. “yo!”
“Kok lemes? Diputusin pacar ya? Hahaha..” ucap ray dengan maksud bercanda.
“Bukan. Gue yang mutusin dia”
“Lho? Kenapa? Bukannya loe sayang banget sama dia?”
“Iya sih. Cuma gue nggak tahan aja bro. Dia selalu aja terbawa-bawa mimpinya. Kalau dia mimpi jatuh dari tangga, dia nggak mau deket-deket tangga dan yang paling parah bro, dia mimpi dikejer-kejer cewek yang bawa pisau kemanapun dia pergi.”
“Jadi dia nggak mau ketemu temen-temen ceweknya atau nggak mau keluar rumah?”
“Nggak mau keluar rumah. Tadi aja dia ke sekolah udah pucet banget loe tahu nggak sih?”
“Wow”
“Gue udah nggak tahu lagi gimana lagi caranya ngeyakinin dia kalau itu cuma mimpi”
“Tapi itu bukan berarti loe bisa ninggalin dia kayak gitu,bro! Lo bisa bayangin nggak loe ada di posisi dia dan orang yang paling dia sayang malah ninggalin dia disaat dia nggak punya pegangan?”
“Jadi maksud loe, gue mendingan balik sama dia lagi?”
“Yoi.. Cuma loe yang bisa buat dia ninggalin hal-hal kayak gitu bro. Ah, Gue jadi inget temen gue. Namanya Kikan. Orangnya cute,friendly,pinter lagi. Cuma sayangnya dia percaya banget sama yang namanya ramalan.”
“Beuh. Jaman sekarang masih ada yang percaya gituan?”
“Ya gitu deh. Makanya gue ngerasa sayang aja dia malah percaya gituan”
“Loe suka sama dia?” Tanya Samuel yang otomatis membuat wajah Ray bersemu merah.
“Nggak lah! Mana mungkin?”
“Gue anggep itu iya. Mungkin cuma loe yang bisa buat dia ninggalin hal yang kayak gitu” Samuel mengucapkan kata itu sambil tersenyum nakal.
“Hahaha.. ngutip kata-kata gue aja loe! Main yuk!”
Dan merekapun menghabiskan sore hari itu dengan bermain basket bersama.
***
Sisi menarik sebuah surat yang diletakkan dibawah pintu rumahnya. Pada amplop surat Tersebut tertulis “Sisi Almira” yang menandakan bahwa surat itu ditujukan padanya. Sisi membuka surat itu sembari mencoba menebak-nebak siapa yang telah meletakkan surat tersebut.
Dear Sisi,
Gue harap loe bisa berhenti buat ngedeketin cowok gue! Gue ngehargain loe sebagai temen Elang, tapi itu bukan berarti loe bisa PDKT ke Elang!
Luciana
Sisi terbelak menatap surat itu. Ia tidak menyangka kalau ia akan mendapat surat seperti itu. Merasa ponselnya bervibrasi, Sisi mengeluarkan ponselnya. Rupanya ada sebuah pesan singkat yang berisikan ramalan zodiaknya hari ini. Disana tertulis bahwa ada orang yang memusuhinya. Sisi hanya tersenyum dan melangkah masuk rumah.
***
Sasha tampak terheran-heran saat Samuel kembali dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.
“Kita mau kemana sam?”
Sambil menutup mata Sasha dengan dasi, Samuel menjawab “ Ke sebuah tempat yang aku yakin akan membuatmu merasa tenang dan nyaman”
Sasha hanya terdiam dan mengikuti Samuel dengan mata tertutup.
Sementara itu, ditempat lain..
“DORRR!!!”
Sisi yang terperajat terpekik ngeri “AAAHH~~”
Terdengar suara tawa dan lampu ruang tamu dinyalakan. Disitu tampak hadir kedua orang tua Sisi,Kikan,Ray,dan juga Elang.
“Selamat ulang tahunn sisi” ujar semuanya bersamaan. Sisi tertawa senang,segera melupakan surat yang tadi ia baca.
***
Samuel membuka menutup mata Sasha, Sasha membuka matanya dan terperanjat melihat dimana ia berada saat ini.
“Gereja sam? Apa kamu nggak salah? Aku mau keluar aja”
“Nggak boleh”
“Sam, tapi aku..”
“Kamu kenapa?” Tanya Samuel sambil tersenyum.
“Aku nggak layak ada disini sam”
“Hahaha.. kamu orang yang paling layak datang kesini sha. Seperti dokter hanya dibutuhkan orang yang sakit. Seperti itulah gereja buatmu”
Sambil bergandengan tangan Sasha dan Samuel masuk ke dalam.
***
“Aku suka sama kamu kikan” Ray menutup mukanya dengan kedua tangannya karena malu.
“Apa?” Kikan bersemu merah mendengarnya. “Tapi..”
“Kamu mau jadi pacar aku?”
“Iya.. nggak.. iya.. tapi..”
“Tapi apa kan?
“Nggak.. itu..”
“Oh, gara-gara ramalan kamu hari ini nggak bilang soal ini ya?”
“Ha? Kok kamu bisa tau?”
“Karena ramalan itu nggak nyata kan.Aku, Sisi, keluarga, temen-temen kamu, mereka adalah nyata”
“Maksud kamu?”
“Apa boleh aku minta kamu buat berhenti berlangganan ramalan zodiak itu lagi?”
“Iya, tentu saja”
Kemudian mereka berdua berpelukan. Sisi yang melihat adegan itu dari jendela terdiam. Kikan akan berhenti dari sms zodiac yang selama ini selalu seperti panduan hidup Kikan. Tiba-tiba sebuah suara menganggetkan sisi.
“Akhirnya kamu bisa berhenti dari sms langganan kalian itu ya” ujar Elang sembari tersenyum.
“Maksud kamu apa sih?” sisi merasa resah, takut kikan mendengar pembicaraan mereka.
“Selama ini, kamu cuma dekat sama Kikan. Kamu takut kehilangan Kikan selain itu Kikan juga yang ngasih HP itu, jadi kamu nggak mau Kikan sedih dan kecewa jadi kamu ikut Kikan berlangganan. Apa aku benar?”
“Pelanin suara kamu,Lang!” Sisi kemudian menarik tangan Elang, berjalan menuju ke ruang makan dan duduk.
“ Kamu benar dan aku akan berhenti segera setelah Kikan bilang kalau dia udah berhenti”
“Kenapa kamu milih buat hidup di balik bayang-bayang kikan sih si?”
“Berkat kikan, aku masih hidup hari ini. Dia berjasa besar buat aku lang. Tapi kenapa kamu bisa tahu semua ini?”
“Si, aku kan tahu banget kamu. Kamu nggak pernah percaya setiap ramalan yang datang ke HP kamu. Aku juga pernah denger kamu bohong ke Kikan gara-gara sms itu”
“Bohong? Bohong apa?”
“Waktu kamu bilang kalau kamu suka sama Adi padahal kamu sama sekali nggak punya perasaan apa-apa ke dia demi nyenengin Kikan,karena orang yang kamu suka itu Ray kan?”
“Lang! kamu mulai ngawur deh.. nggak usah sembarangan deh!”
“Apa kamu mau aku kasih buktinya?”
“Cukup lang! Keluar dari rumah aku”
Elang melangkah keluar dengan tenang. Air mata sisi menitik. Di meja makan sebuah kertas telah ditinggalkan oleh elang. Kertas itu berisikan nomor handphone Elang. Tangisan Sisipun semakin deras.
***
Sasha menangis ketika keluar dari gereja. Ia merasa menyesal telah menyakiti hati Tuhan,mininggalkan Dia, dan memberhalakan mimpinya. Samuel tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan pulang mereka. Beberapa hari kemudian, mereka kembali berpacaran. Mereka juga tidak lupa pergi ke gereja bersama setiap minggunya.

Sementara itu,
Kikan dan Sisi berhenti dari SMS ramalan zodiac mereka. Kikan dan Ray putus keesokan harinya. Kikan memutuskan hubungannya dengan Ray karena ia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Elang dan Sisi. Kikan dan Sisi tetap bersahabat. Sisi kemudian membuka hatinya untuk elang dan memutuskan untuk bersaing dengan Luciana yang ternyata bukan pacar Elang.
Demikian Tuhan telah menyelamatkan Sasha, Sisi, dan juga kikan.


The End

Dibuat Oleh:
Devina Cendra
X-4/9

Ricky Vici SMAK 6

Kehidupan sebuah desa yang kumuh dengan warga yang pekerjaannya bisa dibilang tidak layak , seperti pemulung , tukang sampah , pengumpul barang bekas dan pekerjaan – pekerjaan lain yang tidak layak untuk dilakukan . Walaupun pekerjaan mereka bisa dikatakan tidak layak , mereka tidak ingin anak
anak tidak seperti mereka . SDN 57 adalah sekolah kebanggaan anak – anak yang bersekolah di tempat tersebut . Mereka bersekolah secara geratis dengan bantuan dari BOS ( Bantuan Operasional Sekolah ) , sebuah progam kerja pemerintah yang ditujukan untuk membantu anak – anak yang kurang mampu dalam mencapai cita –citanya dengan menyekolahkan secara gratis . Anak – anak tersebut juga tidak menyia – nyiakan kesempatan yang sangat baik tersebut , mereka bersekolah dengan giat dan semangat , salah satu murid paling berprestasi di sekolah itu adalah siswa bernama Andi . Andi adalah anak seorang pemulung yang mempunyai 4 orang anak . Dia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah secara gratis di SMPN 77 yang terkenal dengan julukan sekolah “ elit ” yang isinya anak – anak orang kaya . Andi sangat senang bisa bersekolah di sekolah tersebut . Ayahnya juga sangat bangga kepada Andi yang bisa membuat prestasi yang sangat membanggakan tersebut . Hari – hari kelulusan dinantikan Andi dengan sabar , dia biasa menghabiskan waktu dengan membaca buku dan membantu ayahnya berkeliling di kompleks perumahan yang dihuni oleh orang – orang kaya . Suatu siang , selagi membantu ayahnya untuk mencari barang – barang yang bisa di daur ulang dan barang – barang bekas yang masih bisa dipergunakan , Andi dan ayahnya dipanggil oleh seorang Pembantu yang keluar dari sebuah rumah yang sangat mewah , “ seperti istana saja , tutur Andi “ . Pembantu itu membawa sebuah sepeda yang masih dalam kondisi baik , bisa dibilang sangat baik oleh Andi dan ayahnya . Sepeda merek polygon dengan ban kempes langsung diterima oleh Andi , tak lama kemudian keluarlah seorang anak kecil yang kira –kira seumuran dengan Andi teriak – teriakin pembantunya “ mbak , sepedanya sudah dibuang belum ? “ . Pembantunya reflek langsung jawab dengan cepat “ sudah , den “ , lalu segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu gerbang . Sesaat sebelum pembantu itu menutup pintu , Andi sempat bertatap mata dengan anak yang keluar dari dalam rumah tersebut , anak tersebut juga melihat kearah Andi dengan tampang sombong atau dengan bahasa gaulnya “ songong “ . Wajar sih kalau anak itu bersikap seperti itu terhdap Andi , karena Andi dianggap hanya “ sampah masyarakat “ , sedangakan dia seperti pangeran yang mempunyai ayah seorang raja yang kaya raya . Andi senang sekali mendapat sepeda itu , rencananya sepeda itu akan dia gunakan untuk sehari - hari pergi ke sekolah barunya , SMPN 77 . Hari – hari kelulusan pun akhirnya tiba , Andi lulus dengan nilai sempurna , kecuali di mata pelajaran bahasa inggris, dia hanya mendapatkan 95 , sedangkan untuk mata pelajaran lainnya 100 yang artinya sempurna . Hari liburan yang panjang dan membosankan pun akhirnya berakhir . Andi memulai hari – hari awal masuk sekolahnya dengan MOS ( Masa Orientasi Siswa ) yang dilakukan semua sekolah seperti biasanya . MOS dijalani dengan susah payah oleh Andi yang berbadan cukup kurus dan tidak begitu tinggi . Hari terakhir MOS dia baru menyadari bahwa orang yang memberikan sepeda untuknya , ternyata bersekolah di tempat yang sama dengan dia , Andi pada awalnya cukup kaget , apalagi sepeda yang biasa ia gunakan untuk pergi ke sekolah adalah sepeda yang diberikan oleh orang tersebut . Perasaan minder dan tidak percaya diri pun dirasakan Andi , tapi andi tidak ingin mundur hanya karena hal sepele seperti itu. Masa – masa mos yang menyulitkan pun berhasil dilewati oleh Andi , sangat senang rasanya bisa bebas dari kakak – kakak kelas yang ngeselin dan ngebetein . Hari untuk memulai program belajar mengajar dimulai . Andi datang terlambat di hari pertama , hal yang sangat disayangkan bisa datang terlambat di hari pertama sekolah , untunglah alas an yang diberikan oleh Andi tepat dan dapat diterima oleh guru piket yang sedang menjaga . Hari itu hujan turun cukup deras . Saat ingin masuk ke kelas , hampir saya dia terpeleset jatuh karena genangan air dari plafon yang bocor , untungnya tidak terjatuh karena dia lincah . Hari pertama sekolah , terlambat pertama kali datang kesekolah , dan masuk kedalam kelas untuk pertama kalinya . Gugup sangat dirasakan , karena takut dimarahi oleh guru yang sedang mengajar di dalam kelas , tapi ia paksakan untuk segera masuk kedalam kelas . ternyata walikelasnya , seorang guru yang berwajah seram dengan kumis yang mirip dengan pak raden di film “ Si Unyil “ itu loh , walaupun tampangnya seram tapi hatinya baik , kata – kata yang keluar dari mulutnya pun sopan , medok jawa banget deh pokoknya . Walikelasnya menyuruh Andi untuk duduk di bangku kosong di sebelah anak laki – laki yang sepertinya ia kenal . Laki – laki itu ternyata orang yang memberikannya sepeda . Tanpa basa – basi terlebih dahulu , Andi langsung menghampiri bangku kosong itu , Andi langsung duduk dan tetap tenang selama walikelas masih ada di dalam kelas . Jam istirahat pun tiba , Andi agak ragu sebenarnya , ia ingin mengajak kenalan teman sebangkunya tersebut . Andi mengulurkan tangan kepada anak tersebut , ternyata anak itu cukup ramah tidak seperti apa yang ia pikirkan selama ini . Laki –laki itu menyebutkan namanya secara perlahan “ Bejo , lu siapa ? “ Andi tanpa ancang – ancang terlebih dahulu langsung memperkenalkan dirinya , Andi juga mengakui bahwa mereka pernah bertemu , saat ia dan ayahnya sedang keliling di kompleks perumahan Bejo . Bejo dengan lupa – lupa ingat berusaha mengingat Andi dan akhirnya samar- samar ingatannya mulai teringat akan pertemuannya dengan Andi . Bejo yang anak konglomerat segera mengajak Andi untuk melihat – lihat kantin dan makan disana . Andi ternyata membawa bekal buatan ibunya , tapi Andi tanpa perasaan sungkan langsung mengambil kotak makanannya dan langsung berjalan bersama Bejo menuju kantin . Ternyata setelah berbicara banyak dengan Bejo , Andi mengetahui Bejo juga anak baru di sekolah itu . Semua berjalan begitu cepat , Waktu yang berjalan terus itu tidak dapat dihentikan , pertemanan mereka sudah berubah menjadi persahabatan 2 orang , bisa diblang persahabatan si kaya dan si miskin . Bejo mengetahui pekerjaan ayah Andi , dan Andi sudah mengetahui perjaan ayah Bejo . Bejo bukan orang yang suka memilih –milih teman , tapi dia bisa berteman dengan siapapun . Hal itu muncul karena ia merasa kesepian dirumah , ayahnya yang seorang pengusaha perhotelan di Bali , jarang pulang untuk menemuinya , ibunya sibuk dengan urusan ke salon , belanja , dan jalan – jalan bareng dengan teman – teman arisannya . Andi hanya ditemani 2 orang pembantu dan seorang supir dirumah setiap harinya , tidak seperti Andi yang hidup berkekurangan tapi keluarganya sungguh harmonis , ayahnya baik dan cinta keluarga , begitu pula dengan ibunya yang saying sekali dengan anak – anaknya . Andi adalah anak yang paling besar , jadi ia harus tetap bersungguh – sungguh sekolah untuk cepat – cepat sukses dan membantu meringankan beban orang tuanya . Andi sering diajak Bejo untuk main kerumahnya Segala macam game yang terkenal dimiliki Bejo . Andi pertamanya agak “ gaptek ” untuk memainkan game – game tersebut , namun akhirnya dia sudah mulai terbiasa . Bejo mengetahui kesusahan keluarga Andi , dia sering memberikan uang kepada Andi untuk diberikan kepada orangtuanya , untuk membeli keperluan hidup sehari – hari . Andi mengajak Bejo untuk melihat rumahnya pada suatu hari , dia rela melewati dan memasuki tempat –tempat kumuh untuk melihat kehidupan dan keadaan rumah teman baiknya tersebut . Tetapi tiba – tiba saat baru tiba dirumah bejo , 3 orang datang dan menarik Bejo untuk pulang kerumah , 3 orang tersebut adalah suruhan ayah Bejo , ayah Bejo mengetahui hal itu karena sewaktu dia pulang ke Jakarta , ayahnya tidak melihat Bejo dirumah , dia langsung mencari keberadaan Bejo . Akhirnya setelah bejo sampai dirumahnya , ayahnya memarahi dia dengan kata – kata yang membuat hatinya sakit , apalagi bila teman baiknya mendengar perkataan ayahnya . Ayahnya terlalu menganggap uang adalah segalanya , sehingga membeda – bedakan derajat manusia , sehingga Bejo tidak bebas berteman . Tapi selanjutnya mereka tetap mencuri waktu untuk pergi berdua dan jalan – jalan ke mall , tanpa sepengetahuan ayahnya . Andi mengetahui ayah Bejo tidak menyukai Bejo bergaul dengan dirinya . Saat mereka sedang asyik berjalan –jalan di mall dekat rumah Bejo , 3 orang itu datang lagi dan segera menangkap Bejo , lalu membawanya pulang kembali kerumahnya . Ayahnya memarahinya lagi , tapi karena Bejo tidak bisa menerima sikap ayahnya yang seperti itu , ia mengancam akan pergi dari rumah dan tinggal bersama Andi , dia memberi tahu semua perasaannya kepada ayahnya saat itu juga , bagaimana perasaannya sangat kesepian ketika sedang dirumah sendiri . Dia juga memberitahukan , bahwa Andi seorang yang baik walaupun ia orang yang kurang mampu . Ayahnya sedih mendengar perkataan Bejo , dia menangis dan memeluk Bejo dan berkata “ maafkan ayah Bejo “ . Setelah kejadian itu ayahnya membebaskan Bejo berteman dengan siapa saja , termasuk andi pastinya . Ayahnya juga jadi lebih memperhatikan Bejo dan sering berada dirumah , jarang pergi – pergi dari rumah dan memberikan kasih saying yang dibutuhkan oleh Bejo , Ibunya juga menyadari kesalahannya yang kurang memperhatikan anak . Akhirnya Bejo dan keluarganya bisa harmonis , karena Andi menginspirasikan dan memperlihatkan betapa indahnya makna hidup , walaupun ia seorang yang miskin .

Makna : Jangan melihat hidup orang dari miskinnya saja, cobalah lihat dari sisi kehidupan yang lainnya . Jangan menganggap perbedaan dengan seseorang hanya karena uang , karena Tuhan menganggap semua orang sederajat dan sama berharga di mataNya .

Brian Kartadinata SMAK 6

CERPEN AGAMA


Di sebuah kompleks perumahan di Jakarta tinggalah keluarga Kristen yg taat akan Tuhan dan menjalankan nilai2 kristiani di kehidupan mereka. Di keluarga itu ada 3 anggota keluarga yaitu sang ayah yang bernama Lukas lalu sang ibu yg bernama Dorkas mereka juga punya seorang anak perempuan yang bernama Diana.
Diana adalah seorang pelajar sma kelas 2 di sebuah sekolah yang cukup terkenal. Diana juga dari kecil mengikuti sekolah minggu yg ada di gereja di kompleks perumahannya, dia adalah seorang yang taat saat teduh. Diana juga mempunyai prestasi belajar yang baik, dia masuk 5 besar pada tahun lalu. Diana juga punya banyak teman, karena dia tipe orang yang dapat bergaul dengan baik.
Dia di sekolah mengambil program ips, karena dia nanti ingin mengambil bisnis saat kuliah kelak. Setiap hari kesekolah ia diantar oleh antar jemput, dia selalu bersyukur pada apa yang dia punya walaupun dia tahu bahwa orang tuanya bukanlah orang kaya raya yang bisa memperkerjakan supir . dam beginilah awal cerita dari jejadian yang membuat hidupnya berubah total.
Saat asik-asik di sekolah, Diana sedang asik mengobrol dengan teman-temannya pada jam istirahat salah satu temannya berkata pada yang lainnya, “guys, hari minggu besok kita jalan yuk. Gimana ? pada mau ga ? ohh ya din, mw ikut juga ga ?”
“hmm, aduh gw gatau juga nih gw bisa apa engga. Soalnya gw ada kebaktian di gereja”, kata Diana dengan bingung.
“ayolaahh, please kita jalannya kan bareng2 sama yg laen juga.”, kata temannya yang tadi.
Di dalam hati Diana berpikir untuk memutuskan untuk ikut pergi dengan teman2 sekolahnya atau pergi ke gereja untuk beribadah. “ayolah din, ke gereja terus emang ga bosen apa? Sekali2 bolos gapapalah.”, rayu temannya. Diana pun berpikir kalau sekali2 bolos tidak apa2. Akhirnya Diana pun memutuskan untuk pergi dengan teman2nya.
“yasudah deh, gw ikut. Jam brapa nih jalan nya ?”, Tanya Diana.
“jam 12 aja, nanti gw jemput deh din.”, sahut temannya.
“oke deh.”, balas Diana.
Pada hari minggu, “pa, aku mau minta uang dong”, kata Diana kepada papanya. Papanya bingung karena kemarin baru diberi uang jajan dan uang persembahan.
“loh din, kan kemarin papa sudah kasih kamu uang jajan dan uang persembahan. Memangnya kurang ?”, Tanya papanya
“pa, hari ini Diana ga pergi ke gereja karena mau pegi sama teman2 ke mall. Jadi Diana butuh uang buat jalan2.” Kata Diana.
“kamu kenapa ga ke gereja din ? memangnya ada apa?”, Tanya papa lagi.
“Diana lage mau pergi aja, bosen ke gereja terus, pa cepetan dong tuh temen aku udah jemput.” Sahut Diana.
Papa akhr nya pun member dia dua ratus ribu. Akhrnya kebiasaan Diana pergi pada hari minggu pun berlangsung. Diana ke mall selalu memakai barang2 branded, sperti guess, Gucci, esprit dll. Sang papa pun bingun kenapa Diana bisa berubah seperti ini, sang papa pun bertanya “din, kok kamu akhir2 ini boros benar? Dan kamu kalau pulang dari mall sering membawa barang yang mahal. Kamu juga sudah jarang sekali ke gereja padahal kamu dulu rajin.” ,Tanya papa.
“aduh pa, sekarang skan udah jaman modern. Kalo ga pake barang beginian mah ga keren pa. kesannya kampungan, temen2 diana juga pake barang2 beginian pa. kalo ga ke mall mana bisa update barang2 terbaru pa.”, jawab Diana pada papanya.
Papa yang mendengar anaknya berkata seperti itu pun sangat sedih. Akhirnya papa pun berbicara dengan mama tentang masalah ini. Mereka berdua setuju untuk tidak mengijinkan Diana pergi ke mall dan member uang jajan selama 2 bulan. Diana merasa sangat kesal papa dan mama tidak mengijinkan ke mall bersama teman2nya dan tidak dapat uang jajan.
Di sekolah pada jam istirahat Diana pun murung, salah satu teman sekolahnya yang merupakan teman gerejanya juga mendekati dia. “din, nape lo ? kok murung banget? Cerita dong.” Kata Jeniffer.
Diana pun menceritakan masalahnya pada temannya itu, jeniffer akhirnya mendapatkan jawaban yang pas mengapa Diana sudah tidak ke gereja lagi. Jennifer pun berkata pada Diana bahwa dalam berteman dengan teman2 yang pakai barang2 branded itu sebenarnya kurang perlu. Untuk terlihat keren atau eksis di antara teman2 yang lain tidak perlu pakai barang2 branded seperti itu.
Jennifer mengingatkan pada Diana bahwa Tuhan berkata dalam 10 perintah jangan ada Allah lain dihadapanKu. Setelah itu Diana pun sadar dan berubah, Diana sudah ke gereja lagi dan aktif dalam pelayanan gereja sebagai singer ataupun yang lain.


Nama : brian kartadinata
Kelas : XI-S/ 4
No absen : 4

ALDO X3 SMAK 4

Aku Tumbuh

Badanku Semakin Tinggi
Dadaku Bidang
Suaraku Pun Berubah
Aku Tumbuh
SMA Jenjang Sekolahku
Belajar Tugasku
Kesuksesan Adalah Tanggung Jawabku
Aku Tumbuh

Lingkungan Berubah
Semakin Banyak Teman
Tenggang Rasa Harus Dijaga
Aku Tumbuh
Siapa Aku Ini
Darimana Aku Ini
Mengapa Aku Tumbuh
Allah Sumber Hidupku

Created By : Aldo Bryan S
Class / Number : X3 / 1

Adelia thiorina X-1 (Pantun kdwasaan)

Buah pala buah berangan,
Dibawa bersampan
Kalau ada pelita ditangan,
Masakan disimpan di dalam peti .

Dekat sekali dengan lidah,
Dekat sekali dengan lutut dan sendi,
Firman Ilahi bersinar sudah,
Dimana pula terserahlah budi .

Cahaya berganti terang delap manjadi
Luputlah siang malam
Tidak disangka sekali sekali,
Kesemuanya adalah Kehendak Ilahi.

Buah jambu dimakan kera,
Dipetik Rukiah lari ke hutan
Ilmu itu bertiang tiga,
Dialah cahaya penyuluh jalan.

Apa guna bercerah,
Kalau tidak bercahaya lagi
Jangan mudah menyerah
Karena dewasa sebentar lagi .

Selasa, 24 Agustus 2010

The regred

The regred


By : ervi chelseah winata (XI IPS SMAK 6)




Ketika penyesalan datang menghampiri anda…
Apa yang harus anda lakukan ??




aku tak pernah berpikir akan ada di dunia ini . yang aku mengerti di dunia ini “seseorang pernah hidup sekali di dunia ini , tapi dalam hidup nya seseorang tersebut dapat jatuh berkali-kali”

“mama, papa kapan pulang ?”
“nak , kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini!“
“tapi ma , fenny kangen banget ama papa .”
“Nak , mama tak bisa berbicara sekarang, umur kamu baru 5 tahun, kamu belum mengerti apa-apa , fen , mama berjanji suatu saat nanti ketika kamu dewasa mama akan menceritakan semua hal yang berhubungan tentang semua ini.”
“Tapi ma ….”
“Nak, mama berjanji ama kamu.”
“Oke deh ma , tapi mama jangan ingkar janji yah ..”
“Iya, sayang..”

12 tahun telah berlalu , dulu aku seorang fenny yang tampak lugu dan tak tahu apa-apa , setiap detik,setiap menit, setiap jam, setiap hari, sampai hari ini . aku tak pernah bertemu lagi dengan papa . kenapa dia meninggalkan aku ketika aku benar-benar butuh sesosok papa, layak nya anak-anak lain .
sampai suatu hari ketika, aku kembali untuk menayakan hal tersebut kepada mama ..
“ma”
“kenapa fen ?”
“ma, apa mama lupa dengan janji mama 12 tahun yang lalu?”
Mama , yang tadinya asyik dengan pekerjaan nya tiba-tiba diam..
“Hmhm fenny , mama rasa kamu udah cukup dewasa untuk mama ceritakan masalah ini..”
Tatapan mata mama kosong, menggambarkan kesedihan yang mama alami, ketidak relaan akan semua yang terjadi terhadap papa. Aku tak menyangka, papa meninggal karena kecelakaan tragis, yang di segajakan oleh saudara sepupu papa sendiri, hanya di karenakan beberapa masalah kantor yang membuat saudara sepupu papa, gelap mata dan melakukan segala cara untuk menyingkirkan papa. Kenapa papa yang terjerat masalah seperti ini?
“Kenapa , papa tidak mencoba menyelesaikan hal ini ?”
“Huff ..” tarikan nafas mama yang menggambarkan ketidak sanggupan mama lagi untuk berbicara atau pun mengingat hal tersebut.
“Sudahlah ma, fenny juga sudah mengetahui kemana papa sekarang, fenny akan berusaha buat tegar, fenny juga tidak tega melihat mama seperti itu satu hal yang mesti mama tahu ya itu.. fenny bakal selalu sayang ama mama”
“Makasi sayang , mama juga bakal selalu sayang sama kamu.”
Mama langsung memeluk aku, dan aku sadar sekarang coban dalam hidup ini ternyata bertubi-tubi dan terkadang hal itu membuat kita merasa kalau kita seperti orang yang tak mempunyai harapan.
*di sekolah
Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, hari ini aku akan mewakili sekolah ku SMAK 6 untuk mengikuti audisi menyanyi tingkat DKI JAKARTA . aku memang sudah sering sekali mengikuti lomba-lomba menyanyi di berbagai tingkat, mungkin memang talenta yang tuhan berikan kepada aku. Tampak ramai sekali suasana pagi itu, pagi ini aku di temani oleh mama, mama sengaja mengambil cuti di hari ini untuk menemaniku pada audisi hari ini. Aku mendapat nomor giliran sebelas dalam kontes kali ini .
“Deg.. degg.. kan ma !”
“Fenny, kamu pasti bisa, believe it, mama akan selalu ngedukung kamu di sini dalam suasana maupun kondisi apa pun.”
1…2…3…4……………………………………….10
“Ya, itulah penampilan dari madelyn,nomor giliran 10 dari sma rajawali, jakarta selatan sekarang kita panggilkan nomor giliran sebelas, fenny winata, dari SMAK 6, BPK PENABUR.”

“Prokk .. prokkk..”
“Fenny.. fenny.. fenny…”
“Go fenny.. go fenny .. go fenny ..”
Suara tepuk tangan, sorotan, serta teriakan dari penonton yang menonton semakin membuat aku percaya diri dalam kesempatan kali ini.
Kubuka album biru… penuh debu dan kusam………….
“Ya, itulah dia penampilan dari fenny winata, nomor giliran sebelas, sekarang kita panggilakan nomor panggilan dua belas…………….”
………
“Teman-teman sekalian, itulah penampilan dari dua puluh lima orang yang mengikuti audisi kali ini, sekarang adalah saat-saat yang di tunggu-tunggu oleh saya maupun kalian semua yaitu, siapa yang akan mendapatkan tropi, dan hadiah tunai dalam kesempatan kali ini”
“Wuhhh ..”
“Proookk .. prookkk…”
Semua orang tampak begitu antusias untuk mengetahui siapa yang berhak mendapatkan peringkat-perinkat yang ada, tapi itu berbeda dengan yang aku rasakan….
“Fenny”
“Iya, ma ?”
“Kenapa bengong ? orang-orang pada seru kamu malah begong!”
“Fenny, gak lagi begong ma, fenny Cuma nerves dan fenny lagi mikirinn..
“Mikirin apa sayang ?”
“Lagi mikirin kapan lagi fenny bisa ketemu ama papa!”
Mama terdiam sejenak, seperti nya aku merusak mood mama yang ceria menjadi berubah 180 derajat, tapi itu memang fakta yang aku rasain, aku terus menerus memikirkan hal tersebut, sampai aku tak sadar kalau….

“Dan juara pertama di menang kan oleh fenny winata dari SMAK 6, BPK PENABUR, dengan nomor giliran sebelas.”
Mama tampak bangga sekali dengan apa yang ku raih dalam kesempatan kali ini, setidaknya mama mengambil cuti tidak sia-sia begitu saja, kemenangan yang aku raih saat ini adalah kemenangan tanpa arti yang ku rasakan, senyuman palsu, dan ucapan selamat dari teman-teman yang aku balsa dengan pasif.
“Fenny kamu kenapa lagi? apa masi mikirin masalah tadi? hmhm selamat yah sayang kamu juara pertama!”
“Maybe yes, maybe no, ma, makasi ma, ini juga berkat mama lagi, lagian aku juga lelah ma , mungkin aku kecapean”
“Ya udah, mau pulang sekarang ?”
*tiba-tiba
Mbak fenny, bisa bicara sebentar?”
Maaf, aku capek”
“Sebentar saja, mbak”
“Baik, di sini saja pak”
“Maaf mbak,tapi kayaknya gak bisa kalau kita bicarakan di sini, ini kartu nama saya”

JUAN CHANDRA
TALENT MANAGER
PT. MUSIC INDO RECORDING
JAKARTA

Wahh, aku terhening sejenak, dan secepat nya aku menuju sebuah tempat yang tidak terlalu ramai di sekitar tempat tersebut. Laki-laki bermata sipit, tinggi, jangkung, dan kurus menatap ku dengan tajam.
“Saya memperhatikan anda , dan talenta yang anda miliki luar biasa”
“Terima kasih”
“Saya dari perusahaan rekaman”
“Ya, aku tau dari kartu nama yang anda berikan”
“Apa, mbak fenny mau ikut bergabung dengan saya?”
Banyak alasan untuk mengatakan tidak, pertama, banyak sekali penipuan berkedok perusahaan rekaman yang ternyata menjual wanita-wanita tersebut ke lelaki-lelaki belang, ataupun ternyata disuruh untuk menjadi pemeran dalam video porno, atau? Apa benar ini takdir ku? apa benar aku harus mempercayai nya?
Kemudian orang tersebut juga mengeluarkan beberapa kaset vcd album, para artis-artis terkenal yang ikut bergabung dengan perusahaan rekaman tersebut, aku mulai percaya, tapi sebaiknya aku pikirkan dulu hal tersebut,
“Baiklah pak, biar aku pikirkan dahulu besok akan aku beri kabar”
“Oke, mbak fenny, besok saya akan menghubungi anda lagi, apakah ada nomor yang bisa saya hubungi untuk mendapatkan kabar dari anda besok ?”
“Oke , 08152346757”
“Thank you, mbak fenny, semoga anda mau bergabung dengan perusahaan rekaman kami.”
“Hmhm , iya pak.”
Hampir semalaman aku memikirkan hal ini, aku sengaja untuk merahasiakan hal ini dari mama, karena aku takut mama terlalu cemas untuk hal-hal seperti ini, dan , akhirnya aku menerima tawaran ini, secara diam-diam tanpa sepengetahuan mama aku pergi ke perusahaan rekaman tersebut, aku pikir hal ini akan lebih baik aku sembunyikan dulu sampai aku benar-benar berhasil untuk bergabung kedalam salah satu penyanyi di perusahaan rekaman tersebut.
Ternyata joan benar, dia membawa ku ke manajer-manajer perusahaan rekaman tersebut, dengan beberapa buah lagu yang aku bawakan orang-orang tersebut langsung menyukai aku dengan lagu-lagu yang aku bawakan, dan aku di terima menjadi penyanyi dalam perusahaan tersebut, tanpa menunggu lama-lama , sebentar lagi album perdanaku akan segera di persiapkan , alangkah senangnya hati ku.
***

“Ma , bisakah kita bicara sebentar?”
“Apa sayang ?”
“Mama masi ingat orang yang mengajak aku bicara kemarin saat audisi?”
“Hmhm, orang tinggi , jangkung ?”
“Iya ma.”
“Ada apa sayang?”
“Sebenarnya itu dari perusahaan rekaman, dan dia mengajak aku untuk bergabung dengan perusahaan rekaman tersebut .”
Akhirnya aku ceritakan semua yang berhubungan dengan perusahaan rekaman tersebut, awal nya mama tampak tak setuju dengan hal tersebut, alasan nya jelas yaitu takut jika aku tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran di sekolah, tetapi aku akhirnya terus membujuk mama dan akhirnya mama menyetujui hal tersebut.
Hampir empat bulan aku mempersiapakan album perdanaku ini, dibantu dengan mama yang tak pernah lelah dan mengeluh untuk menemaniku saat-saat latihan ataupun memberikan aku komentar-komentar untuk memperbaiki dalam beberapa kesalahan dalam proses pembuatan album ku, dan akhir nya album perdana ku keluar .
Oh my god , aku seperti barang dagangan, dari show tv , manggung , masuk ke dalam berita-berita gosip yg sedang hangat di tv itulah yang benar-benar sedang aku nikmati sekarang . apalagi sekarang aku seperti kehujan uang , uang mengalir seperti air , bayangkan saja , sekali manggung aku bisa di bayar minimal sembilan juta rupiah, sekarang saja aku sudah bisa membeli mobil BMW putih keluaran terbaru, dan sekarang aku sedang hendak menabung untuk membeli sebuah rumah mewah di pondok indah.
Tidak terasa sudah sekitar satu tahun lebih aku menjalani karir sebagai seorang artis yang sedang naik daun ,album kedua ku akan segera di persiapkan akhir bulan ini, sekolah ku terbengkalai begitu saja, itu semua ku tinggal kan begitu saja, demi karir ku , sekarang yang aku fokuskan bukan belajar lagi tetapi , karir ku sebagai seorang penyanyi, uang adalah segalanya bagiku, tidak ada yang lebih penting dari pada uang di pikiran ku.
Aku tak pernah lagi mengunjungi rumah tuhan untuk berdoa, aku jarang bahkan aku tak pernah lagi berdoa kepada Tuhan , apalagi bersyukur atas apa yang ku miliki sekarang .
“Fen, ikut mama ke gereja yuk .. kamu kayak nya udah lama banget gak ke rumah Tuhan”
“Fenny, capek ma”
“Fenny ,kamu kerumah Tuhan kok capek, kalau ke gereja seharus nya kamu gak boleh cape dong.”
“Ma!! tolong dong, ma, tdi malem aku pulang jam satu subuh , aku ngantuk , aku capek ma.”
Mama pergi meninggalkan aku begitu saja, aku rasa mama yang terlalu bawel dan mama gak mengerti apa yang aku rasain sekarang, dan kalau pun mama marah aku tak kan peduli.”
Akhir-akhir ini aku seperti nya sering dan hampir setiap hari ribut dengan mama, jelas karena menurut aku mama ngeselin, bikin bete, dan selalu mencoba untuk menasehati aku, aku pikir aku sudah cukup dewasa untuk melakukan hal-hal yang menurut mama belum pantas aku lakukan. dan inilah puncak dari segala keributan yang aku hadapi dengan mama.
“Kapan si mama bisa gertiin aku?”
“Fenny, kamu kenapa si? akhir-akhir ini kamu benar-benar berubah, kamu ga bisa ngatur emosi kamu.”
“Ma? mama mau fenny kayak gmana lagi ma? fenny tau fenny masi tinggal di rumah mama, tapi kenapa menurut aku mama terlalu mengekang kebebasan aku !
“Fenny , kebebasan itu ada batas nya …”
Aku bergegas pergi meninggalkan mama. aku merasa mama yang tak mengerti aku, aku berjalan ke kamar, menutup pintu dengan kasar, berpikir, dan menarik nafas, dan aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, aku bergegas untuk mengambil koper, dan memasukan baju –baju tersebut ke dalam koper, aku akan pergi dari rumah ini, aku bakal buktiin ke mama kalau tentu saja uang yang aku miliki bisa membeli rumah yang dua kali lipat besar nya di bandingkan rumah ini.
Aku tak tau apakah aku ataupun mama yang salah, tetapi jelas aku akan menggangap kalau aku lah yang benar,aku membuka pintu kamar, dengan koper, dan sebuah tas tentengan kecil, mas ujang supir ku sudah menunggu ku di depan rumah.
“Mau kemana kamu sayang ?”
“Emang penting buat mama?”
“Maafin mama sayang .”
Mama mungkin merasa bersalah akibat perbuatan dan perkataannya tadi tetapi aku tak peduli, mama menahan tangan ku seperti hendak tidak mengijinkan ku untuk pergi.
Aku kemudian mendorong mama , hingga terjatuh
“Mama, fenny cuman pengen buktiin ke mama, kalau zaman sekarang yang terpenting itu uang, uang itu segalanya ma! yahh, jadi asal mama tau aja deh, fenny pengen buktiin ke mama kalo…
PRAKK!!
Tamparan mama, mendarat di pipi ku …
“It’s fine ma! kita liat aj ntar, fenny berjanji fenny ga bakal balik lagi kerumah ini, dan fenny bakal tunjukin ke mama kalau uang yang fenny miliki bisa membeli dua kali lipat dari rumah ini !”
Aku bergegas keluar dari rumah sambil memengang bekas tamparan mama , kejadian hari ini gak akan pernah aku lupain. Untuk beberapa saat ini, terpaksa aku menyewa sebuah apartement mengurungkan niat ku untuk membeli sebuah rumah karena aku akan membutuhkan banyak uang untuk peluncuran album ke dua ku ini, kemudian aku juga mengganti manajer ku yang semula merupakan mama ku sendiri , menjadi jane . dalam kondisi dan masalah seperti ini seperti nya mama tidak mungkin menjadi manajer ku lagi .
Seperti nya aku dan jane bisa berteman baik, hanya dengan bercerita-cerita sedikit saja , aku dan jane sudah seperti sahabat baik
“Fen ? ntar malem ikut gue mau gak?”
“Kemana jane ?”
“Ntar malem gue mau bikin pesta kecil anak-anak muda”
“Emang pesta nya di mana ?”
“Temen gue yang gurus sie , bilang nya pesta nya di hotel ciputra.”
“Kayak nya asyik thu jane , gue ikud deh”
“Oke deh , kayak nya pesta kali ini bakal agak beda deh , karna ad loe”
“Oke deh jane , it’s oke , gue jemput loe ntar malem.”
*malem nya…
Musik, tarian, volume, tawa, bau alkohol, anak muda zaman sekarang banget bikin aku makin semangat aja buat ngikutin pesta malem hari ini, apalagi aku paling istimewa di antara mereka, jelas dengan nama fenny winata seperti nya semua orang tahu, siapa aku, cantik, manis, imut, dan aku adalah artis terkenal . aku benar-benar lupa akan beban ku, apalagi mama aku tak peduli lagi dengan nya.
“Fenny?”
“Ya, siapa ya?”
“Loe ga bakal kenal ama gue, loe artis yang terkenal itu kan ?”
“Maybe”
“Kenalin gue arief, gue model beberapa majalah di indonesia, gue sering liat loe manggung di tv, loe cantikan asli nya!”
“Thank you arief”
Wauu .. pantes aja lumayan si arief , secara dia model , tinggi, putih, mulus, idaman semua cewek banget, nice di buat aku ,
akhirnya musik remix dengan volume kencang mulai di mainkan di pesta tersebut , arief langsung mengajak ku untuk menari bersama nya.
……………………………………………..
“Rif , cape banget nih!”
“What , sorry banget yah fen , gue gak tahu kalu loe udah cape”
Arief langsung mengajak ku untuk duduk , dan mengambilkan aku minum, hmm ternyata itu alkohol, rasanya lumayan seperti aku yang baru mencoba, segelas demi segelas aku habiskan bersama dengan arief sampai aku dan arief benar-benar mabuk, jam menunjukan pukul tiga subuh aku hendak pulang dengan supir ku, *tiba-tiba
“fen , gue ikut loe ke apartement loe ?”
“ya udah , ayo cabut !”

“Temen-temen gue balik dulu ye ama fenny”
“oke bro ! hati-hati aja”
untung aku menyuruh mas ujang untuk menunggu aku, hingga aku selesai pesta, mas ujang mengantarkan aku dan arief sampai ke apartement , aku dan arief masuk ke apartement , aku langsung tertidur lelap di kasur saat itu ,tanpa memperhatikan arief dengan kondisi ku yang mabuk.
pagi nya aku terbangun dengan sendirinya , bau alkohol masi menempel di mulut ku , ku lihat handphone dan jam menunjukan pukul sembilan pagi , ada lima belas panggilan tak terjawab dan itu adalah mama, aku tetep pada pendirianku kalau aku tidak akan menelpon balik ataupun pulang ke rumah tersebut, dan tanpa aku sadari, arief berada di samping kasur ku , dan aku mulai menyadari kalau kemarin saat aku dan arief mabuk , aku dan dia saling membuka kartu, semua ini bukan aku yang mau, kenikmatan hanya untuk sesaat, aku melakukan sesuatu yang tak sepantas nya aku lakukan.
**
Aku masih tetap pada pendirian ku, tak akan kembali pada ibu dan rumah itu, pagi ini setelah sarapan pagi, aku merasa mual dan muntah beberapa kali, dan menurut aku lebih baik aku beristirahat sejenak dari aktivitas ku hari ini.
“Jangan-jangan aku hamil”
Aku jadi teringat hal yang ku perbuat delapan hari yang lalu, dengan topi, jaket, kacamata, serta muka Tanpa make up yang mencolok akhirnya aku mmemberanikan diri ke apotik untuk membeli alat pengetes kehamilan, dan ternyata setelah aku mencoba , aku positive hamil , aku mencoba menghubungi arief tapi tak tersambungkan. .
“Jane loe tau di mana rumah nya arief ?”
“Arief ? emang ada apa ?”
“Hmhm , gue punya urusan ama dia”
“Kalau setau gue , coba loe cari deh alamat nya kalau gak salah jalan damar permai blok4 barat nomor 25”
“Makasi jane , oh iya , hari ini gue gak kerja dulu jane karna gue lagi gak enak bbadab , jadi loe pulang aja.”
“Oke fen , take care yah..”
Aku langsung bergegas untuk pergi kerumah arief sesuai dengan alamat yang di berikan oleh jane, dan ternyata benar itu rumah arief . aku mencoba mengetuk pintu beberapa kali , dan ternyata dia yang membukakan pintu tersebut.
“Fenny? Ngapain loe kesini ?”
“Gue perlu bicara ama loe rif !”
“Bicara apa ?”
“Siapa sayang ?”
Kulihat seorang wanita dari dalam memanggil arief dengan sebutan sayang
“Gue enggak nyangka rif !”
“Mau loe apa sie fen ?”
“Oke, gue tunggu loe di cafĂ© sky sore ini jem 6”
“What ?”
“Tolong rif, ini penting banget”
Aku tak menyangka ternyata arief adalah seorang laki-laki playboy yang hanya manfaatin aku buat kepuasaan belaka, aku bersiap-siap untuk menuju kafe sky , dan kulihat arief sudah disana menunggu ku, aku mendatanginya.
“Fen , ada ap ?” Aku tak berani menjawab , bagaimana aku bisa menjawab aku bimbang dan gundah akan semua ini.
“Fen? ada apa sie? buru, satu jem lagi gue ada pemotretan!”
“Tadi itu siapa ?”
“Fen , lu suru gue kesini cuman buat tanyain itu doang ?”
“Jawab dulu rif!”
“Cewek tadi pacar gue.”
“Cewek loe arief ?”
“Iya , emang kenapa?”
“Aku hamil rif …………………………….”

Oh tuhan .. apa yang harus ku lakukan sekarang ? aku jatuh cinta pada seseorang yang ternyata playboy , punya wanita lebih selain aku, tapi ternyata aku mengikuti nya aku lupa akan ada nya rambu-rambusemua ini benar-benar tidak aku mau dan tidak aku inginkan, bagaimana nasip anak dalam rahim ku ini ?
Apakah di usia ku yang ke 18 ini aku sudah harus di panggil seorang mama ? dan menjadi seorang yang single parents ?
Sudah hampir satu bulan , arief menghilang ternyata arief telah pindah ke los angeles dengan wanita yang kemarin memanggil nya dengan sebutan sayang, ohh tuhan..sekarang aku benar-benar putus asa , aku tak tahu lagi bagaimana harus melangkah hari-hari ini .
Akhirnya , aku berhentikan jane dari pekerjaannya , karna aku tahu bahwa karir ku sebentar lagi akan hancur dan berakhir. akhir-akhir ini aku sering memikirkan mama, bagaimana kabar mama ? apakah baik-baik saja, atau sebalik nya?aku merasa bersalah sekali karena telah menyakiti mama dan penyesalanku saat ini membuat otak ku buntu , aku tak bisa membayangkan jika ada berita-berita yang mengatakan
“Fenny seorang yang dulu di idolakan, sekarang tengah hamil tanpa yang menghamili “
Akhirnya aku ambil jalan pintas mengakhiri penyesalan ku , hal yang pertama yang ku lakukan adalah menulis surat kepada mama , isi surat tersebut adalah penyesalan terbesar dalam hidup ku, telah melukai mama , aku tak mengingat seberapa besar pengorbanan mama untuk aku dari kecil hingga besar dan saat-saat aku tak tahu diri saat aku mendapatkan kejayaan dalam hidup ku, karena aku lupa ketika aku berjaya tersebut aku juga di bantu oleh mama , kata terakhir, sangaja aku rekam di kaset ..
“Mama , aku akan pergi dahulu , aku akan bertemu papa di sana , aku malu terhadap diriku sendiri , maafkan aku ma , I love you mom , always and forever”
Ku pilih hari selasa, ku ambil tali yang biasa di gunakan untuk tarik tambang , aku lilitkan ke salah satu bagian kamar mandi apartement yang aku tepati dan akhirnya…..
Ku gantungkan leher ku pada tali tersebut…..
Sekarang aku tak bernafas lagi, dan tentu saja tubuhku membiru dengan lidah menjulur keluar, ketika mobil jenazah ku lewat, ku lihat orang-orang yang tak ku kenal menagis sedih, tapi aku hanya bisa tersenyum haru, dan akhirnya ku lihat ibuku , menagis dengan air mata tak putus-putus, menyentuh gundukan tanah dan tak beranjak dari kuburku , aku ingin bangun dan memeluk ibu ku , tapi aku tak bisa dan ketika ibu ku menagis tak jemu-jemu, pendeta pemimpin pemakaman berbisik
“Fenny , telah pergi dengan tenang ibu “

Kepada Bapak Daoed Joesoef

Kepada Bapak Daoed Joesoef
Oleh Natasia Angel/ XI-IPA

Kepada Yth.
Bapak Daoed Joesoef
Di Tempat
Salam kepada Bapak Daoed Joesoef. Saya berharap umur panjang dan kesehatan serta berkat dari Tuhan senantiasa menyertai Bapak.
Bapak pastinya tidak mengenal saya karena saya hanyalah seorang siswi SMA biasa dan saya sebetulnya tidak terlalu mengenal Bapak karena saya belum dilahirkan ketika Bapak menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Ah, tetapi tenang saja Pak, saya juga tidak terlalu mengenal Menteri Pendidikan Nasional yang sekarang.
Saya menuliskan surat ini dengan alasan bahwa saya sangat terenyuh dan terkagum ketika saya membaca artikel mengenai Bapak di Koran Kompas, tepatnya di bagian “Nama dan Peristiwa”. Saya tercengang ketika saya membaca bahwa Bapak dengan tegas menolak Bakrie Award beserta sejumlah uang yang diberikan oleh Bakrie Group. Saat itu juga, Bapak menjadi salah satu pahlawan bagi diri saya.
Mengapa Bapak langsung saya angkat sebagai pahlawan saya? Bapak pasti mengetahui bahwa sekarang ini jarang sekali ada manusia yang seperti Bapak. Bapak bisa menolak hadiah itu karena hadiah tersebut merupakan sesuatu yang seharusnya meringankan penderitaan saudara kita yang rumahnya terendam lumpur di Jawa Timur sana. Menurut saya, uang tersebut sama saja dengan “uang haram”.
Bapak bagaikan udara sejuk di tengah masyarakat yang senantiasa mengutamakan uang, kedudukan, dan kepentingan diri sendiri. Manusia sekarang memang egois. Saya bukanlah menghakimi orang lain karena saya, sebagai manusia, tentunya tidak terlepas juga dari keegoisan. Tetapi saya mau belajar. Belajar dalam arti yang sesungguhnya, sebagai calon penerus bangsa. Belajar seperti dalam perkembangan manusia, di mana manusia tersebut menjadi lebih baik seturut dengan bertambahnya usia.
Sungguh, Pak, saya cinta dengan bangsa Indonesia, tanah air Indonesia. Bangsa ini memiliki begitu banyak kekayaan yang menjadi incaran negara lain. Hal tersebut tentunya dapat dibuktikan dengan begitu banyaknya bangsa yang datang ke Indonesia dan (sayangnya) menjajah tanah air kita ini. Namun, sekarang pun setelah merdeka, bangsa Indonesia seakan-akan masih berada di bawah penjajah, tetap saja mengandalkan bangsa yang lebih maju dan unggul. Bangsa Indonesia seakan-akan terbelenggu oleh apa yang disebut sebagai kebodohan dan keterbelakangan. Lalu, ke manakah bangsa yang dikatakan sebagai bangsa yang memiliki local genius tersebut? Saya pun tak tahu.
Yang saya tahu hanyalah, bahwa para petinggi kita pun asyik dengan dirinya sendiri, sibuk menggemukkan dompet mereka sendiri. Tak peduli pada mereka yang berada di bawah mereka, yang untuk makan setiap harinya saja harus membanting tulang dalam cuaca yang panas dan berdebu (terutama di Jakarta).
Terus terang, saya menjadi pesimis terhadap masa depan Indonesia karena pemerintah sekarang ini tidak dapat diandalkan . Bukannya saya anti-pemerintah, tetapi kita semua sebagai rakyat, tentunya menginginkan yang terbaik dari pemerintah. Dan sejak saya mulai memperhatikan politik di Indonesia beberapa tahun yang lalu, saya merasa bahwa itu bukanlah hal terbaik yang dapat pemerintah berikan kepada kita.
Pak, izinkan saya bertanya. Bagaimanakah rasanya menjadi seorang menteri? Maklum Pak, saya hanyalah seorang siswi SMA, yang masih lugu, egois, dan tidak berpengalaman. Pernah beberapa kali saya membayangkan saya menjadi presiden bangsa Indonesia, yang berjasa banyak bagi bangsa ini. Tetapi, jujur saja, impian itu benar-benar sebuah mimpi. Saya langsung menyadari bahwa menjadi seorang presiden bukanlah suatu hal yang mudah dan saya yakin, menjadi seorang menteri pun sama sulitnya. Mengurus sebuah bangsa yang besar bukanlah hal yang mudah.
Menurut Bapak, berapa lama lagikah Indonesia akan bertahan? Saya merasa bahwa bangsa ini, meskipun sudah merdeka selama enam puluh lima tahun, seakan-akan berada di ambang kehancuran. Dibandingkan dengan Malaysia, bangsa Indonesia merdeka lebih dahulu. Tetapi mengapa mereka sudah maju dan rasanya jauh sekali di depan, sedangkan bangsa kita ini masih saja terseok-seok untuk bertahan? Mereka memiliki sistem yang teratur dan disinggahi banyak sekali ekspatriat, sedangkan kita seakan-akan hidup di dalam sebuah chaos dan bersama dengan masyarakat yang masa bodoh? Lalu, mengapakah bangsa Indonesia kalah dengan Singapura, yang luas wilayahnya saja tidak sebesar Pulau Jawa, bahkan Jakarta (kalau tidak salah)? Mengapa oh mengapa…
Saya juga ingin menanyakan kepada Bapak bagaimana rasanya terjun ke dalam kancah politik di Indonesia. Maklum sekali lagi maklum Pak, rasa ingin tahu saya begitu besar. Meskipun saya sering mengaku bahwa saya tidak ingin terjun ke dalam kancah tersebut karena terlalu kotor, tetap saja saya merasakan sebuah perasaan yang terus-menerus mendesak saya untuk memperbaiki sistem negara ini dan membantu mereka yang kesulitan.
Saya ingin sekali membuat perubahan di sekitar saya. Hanya saja, masalahnya, di Indonesia, uang dan kedudukan serta kepopuleran adalah tiga hal wajib yang dimiliki oleh seseorang yang ingin mengubah negeri ini. Ya, maklum saja Pak. Yang masuk televisi bukanlah orang-orang yang setiap harinya mau melayani sesamanya. Misal: kalau saya membersihkan semua jalan di Jakarta, belum tentu saya tidak akan masuk ke dalam berita hari ini. Tetapi, kasus Ariel Peterpan-Luna Maya-Cut Tari yang merupakan aib moral negeri ini (yang bahkan tersebar sampai ke luar negeri) justru masuk ke dalam infotainment, bahkan sampai berbulan-bulan. Haruskah saya memaklumi penduduk negeri ini dan menyerah saja?
Jawabannya tentu saja tidak. Saya tidak akan menyerah. Hanya saja, satu hal yang saya sesali adalah bahwa sebagian besar masyarakat kita ini buta.
Saya tidak sedang berpromosi mengenai global warming, tetapi saya percaya bahwa bumi ini dan manusia memiliki keterikatan. Manusia berteriak panas, tetapi tetap saja illegal logging berlangsung di suatu tempat di Indonesia dan hutan lindung, yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah, dijadikan kawasan industri atau kebun kelapa sawit. Yang lebih ironis adalah cerita dari guru saya yang adalah seorang bule ini.
Ia bercerita bahwa ketika ia sedang berjalan-jalan di Jakarta pada waktu itu, ia melihat seorang anak perempuan yang mengenakan kaus yang bertuliskan “Go Green Jakarta”, yang justru membuang sampah sembarangan di jalanan. Mungkin ada beberapa budaya yang memang mengakar kuat di dalam bangsa ini dan salah satunya adalah “tak memiliki maka tak sayang”. Inilah salah satu yang sangat sulit diberantas.
Pak, saya ingin tahu akan suatu hal (lagi). Bagaimanakah perilaku bangsa Indonesia di masa lalu, ketika Bapak masih muda, ketika Bapak menjabat sebagai menteri? Hidup pada zaman sekarang rasanya sulit sekali, apalagi untuk memiliki integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Saya terkadang sedih melihat keadaan Indonesia saat ini. Saya melihat bahwa semakin ke depan, pendidikan yang paling mendasar di Indonesia justru hilang entah ke mana. Generasi pada zaman saya dan adik saya diajarkan untuk memiliki kedudukan yang tinggi dan uang yang banyak. Tanpa uang, hidup tidaklah berarti. Benarkah demikian Pak? Saya bukannya tidak mengerti. Saya hanya penasaran dengan pendapat Bapak.
Uang. Zaman sekarang semuanya serba uang. Bahkan negara ini tidak lagi berlandaskan UUD 1945 alias “Undang-Undang Dasar seribu sembilan ratus empat puluh lima”, melainkan UUD saja alias “Ujung-Ujungnya Duit”. Untuk melahirkan di tempat yang higienis memerlukan uang. Untuk mengenyam pendidikan memerlukan uang. Untuk bertahan hidup memerlukan uang. Bahkan untuk dikuburkan di tempat yang layak pun memerlukan uang. Manusia seakan-akan telah menjadi hamba uang. Mereka berpikir bahwa mereka menguasai uang, padahal merekalah yang dikuasai oleh uang tersebut.
Pak, apakah “resep” menjadi seorang yang berintegritas? Mengapa para pejabat saat ini tidak memiliki hal tersebut? Apakah Presiden SBY salah pilih orang? Saya memang tidak mengerti cara pemilihannya, tetapi mungkin di masa depan, kita harus memiliki sebuah tes yang memungkinkan untuk memilih orang yang berintegritas dalam melaksanakan tugas negaranya.
Maafkan saya karena semua ucapan saya ini tidak jelas dan seakan mengada-ada. Maafkan kalau kata-kata saya ada yang tidak berkenan di hati Bapak. Maafkan saya kalau saya mengakhiri surat ini, sebab kalau saya terus membicarakan soal bangsa Indonesia saat ini, surat ini tidak akan berakhir sampai kapan pun.
Saya sangat berharap Bapak dapat memaklumi semua ucapan saya yang “ngalor-ngidul” ini. Saya sangat berharap bangsa ini tetap ada sampai akhir bumi ini. Saya tahu masih ada kesempatan bagi kita semua untuk memperbaiki kesalahan kita di masa lalu dan saya tahu bahwa masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Sekian surat dari saya. Saya berharap Bapak tidak sakit kepala ketika selesai membaca surat ini.

Dengan hormat,

Salah Satu Calon Penerus Bangsa Yang Selalu Saja Penasaran

I’m Mature Enough, Dad

I’m Mature Enough, Dad


Cerita ini berawal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Rumah ini ditempati oleh seorang Bapak yang sudah berusia lanjut dan anak lelakinya yang berusia 16 tahun. Nama anak ini adalah James.
Sangat disayangkan, James tumbuh menjadi anak yang tidak tahu sopan santun, sering pulang pagi atau bahkan tidak pulang, dan sering membentak Ayahnya. James tidak pernah peduli akan keadaan di sekitarnya, bahkan ia sudah dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak membolos dan sering membuat onar di sekolah. Ia juga tidak perduli dengan Ayahnya yang hampir tiap hari menasihatinya, bahkan pernah memohon kepadanya agar ia mau berubah. Ketika dinasihati, James selalu berkata ”Gue udah dewasa, lo gak perlu ngatur-ngatur gue lagi, urusin aja diri lo yang sakit-sakitan mulu!” bentak James suatu kali pada Ayahnya.
Pak Kris, Ayah dari James, tidak pernah marah. Ia sadar, dengan usianya yang sudah menginjak enam puluh tahun dan sering sakit-sakitan, percuma saja memarahi anaknya. Ia tahu, memarahi anaknya adalah usaha yang sia-sia.
Pak Kris hanya bisa memohon pada Tuhan supaya suatu saat tangan Tuhan menjamah James, sehingga anak itu bisa berubah. Setiap hari Pak Kris hanya bisa berdoa sambil menangis melihat keadaan anaknya.
Sebenarnya, dulu James bukan anak yang seperti sekarang, dulu dia adalah anak yang selalu ceria, aktif, dan sopan. Tapi sejak saat itu, sejak kematian Ibunda dan adik James, seorang James seperti kehilangan akal sehatnya. Sejak saat itulah, semua keadaan James berubah menjadi seperti sekarang. Luka batin, itulah penyebab kenapa James bisa menjadi seperti sekarang. Mungkin secara fisik, James memang tumbuh dewasa, tapi secara rohani, hatinya belum tumbuh dewasa.
Suatu hari, James bersiap-siap akan pergi, jam sudah menunjukan pukul delapan malam.
”Mau kemana, nak?” tanya Pak Kris lembut, mencoba tersenyum pada anaknya.
”Bukan urusan lo” jawab James sekenanya.
”Ini sudah malam, tidak baik kalau kau pergi malam-malam” ujar Pak Kris lalu terbatuk. Pak Kris sering terbatuk-batuk, mungkin sudah penyakit bawaan umur
”Lo pikir gue kelas berapa? Suka-suka gue dong mau pulang jam berapa! gue udah dewasa!” lagi –lagi kalimat itu diucapkannya, ”gue udah dewasa”
“Kalau kamu mau pergi, bawa jaket Ayah ya, udara malam tidak bagus. Sebentar Ayah ambilkan”
”Alah! Ga perlu jaket-jaketan segala! Lagian gue gak mau paje jaket butut!” bentak James pada Ayahnya. Ia lalu berjalan melewati Ayahnya tanpa berkata apa-apa.
Pak Kris terdiam, ia menahan seluruh perasaan kecewa dan sedih yang bergejolak di hatinya, ia lalu berjalan perlahan ke dapur, dan memandangi meja makan yang sudah ia siapkan. Sudah ada dua piring beserta nasi putih dan tersedia lauk kesukaan James. Di meja makan juga terdapat sebuah kue kecil dengan lilin angka 17 di atasnya.
Pak Kris duduk di kursi makan dan mengambil kue tersebut dan meniup lilin di atasnya. ”Selamat ulang tahun ya, nak” ujarnya pelan, sangat pelan. Setelah itu, hanya suara tangisan yang terdengar.
Sementara itu, di tempat lain, James duduk sambil meminum wine di ramainya club malam bersama teman-temannya.
”Je, nanti kita-kita pada mau langsung ke puncak, lo mau ikut nggak?” tanya teman James. ’Je’ adalah panggilan teman-teman James untuknya.
James menoleh, ”Ayo aja. Berangkat sekarang aja yuk, gue bosen di sini. Hari ini si Chirsty gak dateng”
Setelah berunding sebentar, akhirnya James dan teman-temannya memutuskan untuk langsung berangkat ke Puncak. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
James baru akan menaiki mobil temannya, namun tiba-tiba kepalanya terasa nyeri, benar-benar sakit yang luar biasa.
”Kenapa lo, je? Tanya salah seorang teman James.
”Kepala gue tiba-tiba pusing” ujar James sambil memegang kepalanya dan mendesis kesakitan.
”Jadi gimana? Lo mau pulang aja nih?” Tanya teman James yang lain.
“Iya deh, kayaknya gue mau balik aja, sori yah” jawab James lagi.
Sesampainya di rumah, James langsung melihat Ayahnnya begitu masuk ke dalam ruang tamu. Ayahnya tertidur di sofa. James tidak peduli dengan keadaan Ayahnya, kepalanya masih terasa tertusuk-tusuk, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Anehnya, setelah di dalam kamar, sakit kepala James tiba-tiba hilang. Ia sempat mengutuk dirinya sendiri, harusnya saat ini ia sedang bersenang-senang bersama teman-temannya. Akhirnya, James hanya bisa menghela nafas kecewa, ia pun menghempaskan tubuhnya ke kasur dan tak lama kemudian ia tertidur.
”James, bangun nak” ujar Pak Kris dengan wajah berseri-seri, ia senang sekali bisa melihat wajah anaknya yang masih tertidur pulas.
James membuka matanya perlahan lalu menguap, ia menghela nafas kesal. ”Ganggu orang tidur aja!” bentaknya, lalu ia kembali tidur. James baru benar-benar bangun saat jam menunjukan pukul sepuluh pagi, begitu bangun, ia langsung ke ruang tamu dan menyalakan televisi.
”Sebuah mobil Honda Jazz putih jatuh ke dalam jurang di kawasan Puncak. Mobil ini baru ditemukkan sekitar pukul enam pagi oleh warga sekitar. Belum diketahui apa penyebab jatuhnya mobil ini. Kecelakaan ini memakan korban jiwa tiga orang, dan satu orang luka parah, semuanya adalah anak muda.” ujar reporter di TV. James terpaku begitu mendengar berita itu, ia seperti kehilangan oksigen di sekitarnya. Tidak salah lagi! Itu adalah mobil temannya! Mobil yang kemarin sempat ia naiki!
Astaga! James mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar tidak menyangka. Dalam sekejap ia kehilangan teman-temannya! Tidak! seharusnya sekarang ia juga berada di dalam mobil itu, seharusnya ia juga mati! Batin James.
”Ada apa nak?” tanya Pak Kris yang heran melihat perilaku James yang tiba-tiba menjadi uring-uringan.
”Temen gue meninggal! Puas lo?! Dan harusnya gue juga meninggal! Harusnya gue juga ada di dalam mobil itu!” ujar James pahit.
Pak Kris terdiam sebentar, kemudian akhirnya ia berbicara, ”Tuhan sudah menolongmu”
James mendesis kesal, lagi-lagi Ayahnya akan bekotbah tentang Tuhan, James sudah bosan mndengarnya. Ia segera mematikan TV dan berjalan dengan pikiran berkecamuk.
Ini adalah untuk kedua kalinya tiba-tiba James merasakkan ada gejolak di hatinya, entah apa yang membuatnya tiba-tiba ingin menangis. Akhirnya James benar-benar menangis, saat itu juga ia merasakan flash back. Ia mengingat masa-masa di mana keluarganya masih lengkap, masih ada Ibu dan, Julia, adiknya yang paling disayanginya. Keluarga yang begitu bahagia, begitu harmonis, semuanya hancur begitu saja. Tiba-tiba James merasa rindu sekali, rindu akan Ibunya, adiknya, keluarganya yang lengkap, dan ia juga rindu dengan... James yang dulu.
Dengan mata yang masih merah, James mengambil kunci motornya dan bergegas pergi. Ia tidak menjawab ketika ditanya Ayahnya akan pergi kemana.
James mengendarai motornya tanpa mengenakan helm ataupun jaket, ia mengendarai motornya dengan kecepatan paling tinggi.
Gue udah nggak punya Ibu, nggak punya adik, nggak ada lagi keluarga yang dulu. Batin James seperti mengingatkan dirinya sendiri.
Karena tidak memperhatikan jalan, James menabrak pagar pembatas yang ada di pinggir jembatan, dan motornya terjatuh ke bawah jembatan. Setelah itu semuanya menjadi gelap.
Di mana ini? Kenapa semuanya gelap? Apakah aku sudah mati? James berjalan di tengah-tengah kegelapan, benar-benar gelap, tidak ada setitikpun cahaya di sana.
Namun tiba-tiba, ada sebuah cahaya yang sangat menyilaukan. Apakah kau masih ingin hidup? Terdengar sebuah suara.
“Siapa kau?” Tanya James.
“Aku adalah Bapamu” jawab suara itu.
“Bapaku? Tuhan yang sering disebut-sebut oleh Ayahku?”
Tidak ada jawaban, hanya terdengar pertanyaan yang diulang.
”Apakah kau masih ingin hidup di dunia?”
James tidak langsung menjawab, “Kalau kau Tuhan, apakah kau bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan kalau aku hidup lagi di dunia?”
“Kebahagiaan itu sudah di depan mata, hanya saja kau tak pernah menyadarinya” jawab suara itu.
“Apa yang kau maksud kebahagiaan? Kehilangan Ibu dan adikku? Itu yang kau maksud dengan kebahagiaan?” sergah James, suaranya bergetar.
Tiba-tiba cahaya itu perlahan menghilang, namun seperti ada sebuah rekaman yang terlihat.
James melihat Ayahnya duduk di sofa dan selalu menungguinya saat ia belum pulang, James melihat Ayahnya berdoa sambil menangis, James melihat Ayahnya mencoba untuk selalu tersenyum ketika berbicara dengan James. Yang terakhir, James melhat ayahnya meniup lilin ulang tahun yang ke tujuh belas untuknya, sendirian, di ruang makan. Hati James terasa hangat melihatnya, inikah yang dimaksud kebahagiaan?
”Kembalilah ke sisi Bapamu” tiba-tiba terdengar suara itu lagi.
”Ya” jawab James mantap
Perlahan, James membuka matanya, suasana di ruangan itu putih, setelah beberapa saat James baru menyadari kalau itu di rumah sakit. James menoleh, ia melihat Ayahnya sedang menatap ke arah lain dengan matanya yang sembab seperti habis menangis, dan wajahnya yang terlihat sangat lelah, wajah yang selalu dilihat James saat Ayah James menunggu James pulang ke rumah.
”Ayah...” ujar James pelan. Pak Kris langsung menoleh, ia kaget kemudian tetesan air mata membasahi wajahnya yang sudah mulai keriput.
”Kenapa menangis?” tanya James.
Pak Kris menghapus air matanya, ”Ayah senang kau bangun, dan... Sudah lama tidak mendengar kau memanggil ’Ayah’”
James tersentak, selama ini sejahat itukah dia? dia baru sadar, Ayahnya begitu peduli padanya, tidak pernah lelah menasihatinya, tidak pernah lelah menunggunya...
Pak Kris memeluk anaknya, begitu pula dengan James, ia balas memeluk Ayahnya.
”Maafin aku ya, Yah” ujar James sambil menangis.
”Sebelum kamu minta, maaf, Ayah sudah maafin kamu, begitu juga dengan Bapamu di surga”
Pernahkah kau mendengar bahwa, ”Bapamu yang di dunia baik, apalagi Bapamu yang di surga?”
Sejak saat itu, hidup James berubah total, ia kembali sekolah dengan uang bantuan yang diberikan oleh saudara-saudaranya, bahkan sekarang James aktif dalam pelayanan gereja.
Seseorang yang dewasa adalah seseorang yang bisa melihat ke masa depan, tidak menoleh ke kesalahan di masa lampau. Seorang yang dewasa adalah seorang yang bisa bangkit dari saat-saat paling terpuruknya.

Stefani karniadi X2

I am proud to be a Buddhist

I am proud to be a Buddhist

“Inez, maafin Papa Mama yaaa.. Kami tidak bisa menyekolahkan kamu di sekolah swasta. Saat ini sekolah negri terdekat dan baik kualitasnya hanya di SMAN 1, maka kami putuskan memasukkanmu kesitu.”
“Yaaa..Mama..gimana sih…?! Semua temen Inez lanjut di sekolah swasta, masa Inez sendiri masuk negri? Inez mana punya temen nanti! Semuanya orang Pribumi sementara Inez keturunan Tionghua. Papa Mama usaha dong cari cara gimana biar Inez bisa lanjut di Fransiskus aja..!!”
“Makanya kamu doa dong! Selama ini kan tiap Papa Mama minta kamu doa, kamu selalu entengin. Sekarang keluarga kita lagi kesulitan ekonomi begini, harusnya kita doa lebih sungguh-sungguh agar dapat munculin jodoh baik. Termasuk urusan sekolah kamu, masa kamu yang sekolah tapi gak pernah mau pupuk rejeki jiwa untuk diri kamu sendiri, masa musti Papa Mama juga yang doa?!”
“Halahh.. udah lah Ma… gak usak tambah panjang ceramahnya… Inez gak mau tau.. pokoknya Inez mau masuk Fransiskus aja..!!!”
Lalu aku pergi meninggalkan Mama yang sedang menghela nafas panjang.

****

Namaku Inez. Aku baru saja lulus SMP dan sebentar lagi akan memakai kemeja putih abu-abu…. Wuaahh… kerennya jdi anak SMA…! Enggak akan dianggap anak kecil lagi yang selalu dikhawatirin orangtua tiap waktu & bebas berekspresi…
Aku terlahir dalam keluarga Buddhist. Papa Mamaku udah percaya Gohonzon(Buddha) sejak aku masih kecil. Dulu Papa hanya seorang montir karena SMA pun tidak lulus. Tapi sejak terima Gohonzon, hidup kami kian membaik. Sekarang Papa bisa membuka bengkel kecil-kecilan dan berdagang sparepart motor. Sejauh itu hidup kami lebih dari cukup. Namun belakangan ini, akibat krisis multidimensi di Negara kita, usaha Papa pun kena dampaknya, dagang jadi sepi dan ekonomi keluarga pun jadi pas-pasan aja.
Meskipun sejak kecil mengenal Gohonzon, tapi aku jarang sekali berdoa. Biarpun orangtua rajin jalanin dan aktif di susunan, tapi aku masih ogah dan males belajar agama Buddha. Habisnya untuk apa.. masih mud amah belum perlu kali. Cukup orangtua aja yang jalan, aku dukung aja dari belakang.
Tapi…
Sekarang aku maunya masuk sekolah Fansiskus, gak mau masih SMAN 1. Gimana nih? Masa aku doa sama Gohonzon? Emang Gohonzon bisa bantu apa? Huuhh..
“Nez..!!” Mamaku memanggil “Chika telepon kamu nihh.. !!”
Lalu aku angkat telepon Chika. “Halo..! Napa? Mau ajak pertemuan Generasi Muda lagi? Maless aah..!” jawabku.
“Yee.. inget udah mau masuk SMA, kalo gak dari sekarang pupuk rejeki jiwa & belajar Ajaran Buddha Niciren Daisyonin, ntar loe keblinger sendiri sama pelajaran & suasana sekolah baru loe..! Udah ikut aja.. gak ada ruginya kok..!!”
“Iya..Iya….Ya udah Ibu Suci..”
“Naaahh.. Gitu dong..! Daahh..”

****

Pada hari Minggu, akhirnya aku masuk pertemuan GM setelah sekian lama males masuk. Kebetulan di Yogyakarta, tempat kami tinggal, belum begitu banyak anggota, GMnya juga cama segelintir, bikin gak semangat aja.
Tapi setelahaku mendengar bimbingan yang disampaikan Dharma Duta, aku jadi menyadari satu hal yang akhirnya mengubah pendirianku akan sekolah yang kutuju. Yaaahh… pada dasarnya aku harus bisa terima, saat ini bisnis Papa memang dalam kondisi sulit. Buddha berpesan kalo kita dbisa terima, gak marah, kesal ataupun benci. Uuumm.. ternyata biarpu GM yang pertemuan gak banyak, tapi kalo kita dengar sungguh-sungguh.. pasti banyak bimbingan Buddha yang kita dapat. Semua gak hanya tergantung banyak sedikitnya yang hadir. Iya nihh.. aku harus makin bersemangat biarpun Cuma segini-segini aja yang pertemuan.
Sesampainya di rumah, aku berdoa. Setelah selesai berdoa, rasanya kok enak sekali yaa.. Tapi di hari kecilku masih berharap masuk sekolah swasta aja.
….Akhirnya…
Liburan sekolah usai sudah. Saatnya memasuki dunia baru SMA.. I’m coming..!! Tapi.. tetap saja akhirnya aku masuk SMAN 1 dekat rumahku. Sedikit terpecik dalam hatiku, Gohonzon kok gak dengar doaku sih.. Aku gak mau sekolah ini..!!
Dengan wajah cemberut dan air mata menetes lembut, aku paksakan diriku untuk masuk SMAN 1. Aku sedih banget kenapa harus masuk sini.
Hari pertamaku di sekolah benar-benar neraka. Tanpa teman, semua asing, gak ada yang berkulit putih & bermata sipit sepertiku. “Aku kesal deh sama Papa Mama” ucapku dalam hati. Sepulang sekolah kubanting tasku, tanpa menegur orangtua lagi, langsung aku masuk kamar dan mulai berteriak sambil menangis, “Inez gak mau sekolah disitu…!!”
Tapi, baik Papa maupun Mama gak ada yang menggubisku. Aku makin kesal dan berteriak kayak orang gila, sampai akhirnya tenagaku habis, capek sendiri dan tertidur.
Selang sejam kemudian, aku terbangun karena mendengar suara Mama dan Papa yang berdoa. Aku pun bergegas menuju kamar mandi dan di meja makan telah tersedia makanan. Selesai aku makan, Mama Papa menghampiriku.
“Inez, Papa Mama bisa ngerti perasaan kamu. Tapi, kita hidup itu harus sesuai kenyataan. Saat ini kehidupan kita sedang pas-pasan dan kamu hanya bisa bersekolah di negri, semua pun ada sebab-sebab yang mendahului. Coba Tanya dirimu sendiri, kenapa Kakakmu bisa lanjuti kuliah di tempat populer sekarang, sementara kamu di negri? Perhatika apa yang selama ini Kak Lenny jalankan & kamu jalanin, apa yang Kakak terima dan kamu hadapi. Semua dasarnya Sebab-Akibat. Semasa Kak Lenny bersekolah, dia rajin berdoa, belajar Dharma, aktif disusunan dan selalu membantu Mama Papa. Karena itu saat kakakmu melangkah ke masa depannya, selalu ada aja jodoh baik yang mendukung, termasuk ekonomi Papa yang stabil. Sementara ketika kamu mau lanjut SMA, kok bisa bertepatan ekonomi keluarga lagi pas-pasan? Itulah kenapa kami mau Inez aktif dalam susunan dan tekun berdoa, karena rejeki jiwa kita dipupuk melalui keseharian kita, Nak.”
Aku tak menjawab apapun. Tetap saja aku gak bisa terima.
Keesokan harinya, suasana lebih neraka lagi di sekolah, karena pada hari Jumat, sekolah mengharuskan semua siswinya mengenakan jilbab.
“What?!! Jilbab?! Oh.. come on..! I’m not Moeslem, why shoul I wear that?!”
Sesampainya di rumah, kulemparkan seragam jilbabku di depan Mama dan Mama tampak kebingungan. “Nez, ini untuk apa?” Tanya Mama.
Sambil menangis, aku berteriak ke Mama, “Inez gak mau pake jilbab hari Jumat! Inez kan gak beragama Islam, Ma! Napa si Inez harus pake?! Kalo Papa Mama gak masukin Inez ke sekolah itu, Inez kan gk perlu pake begituan! Inez kan agamanya Buddha, Ma..?!” teriakku
“Nah.. sekarang baru ngaku beragama Buddha, Nez?” Tanya Mama.
“Ya iya lah.. Inez kan Buddhist, Mama gimana sih..?!” jawabku.
“Loh.. Habis Mama sehari-hari gak pernah liat Inez doa, pertemua, ikut kegiatan susunan, mana Mama tau kalo Inez umat Buddha?!”
Mendengar jawaban Mama, aku sentak terdiam.
“Nah.. ini kan kewajiban Sekolah, karena Inez sekolah disitu, yaa.. Inez harus bisa terima. Toh dulu di swasra juga kan Inez bisa hafal Doa Bapa Kami, ikut ke Gereja. Toh sama saja kan?” Tanya Mama.
Lalu kuambil seragam jilbabku dan memasuki kamar. Keesokan paginya, aku masih aja terus pelototi seragam itu. Namun dengan berat hati, terpaksa kupakai juga daripada gak bisa bersekolah.
Dengan perasaan hati penuh kesal & marah, aku pergi ke sekolah. Akhirnya jodoh-jodoh yang kupanggil pun bukanlah jodoh yang baik. Aku malah mendapati beberapa anak saling berisik, “Ssstt.. ada si sipit pake jilbab.. hihihi…”
Spontan spaningku naik, tapi hanya bisa menangis mendengarnya, sampai Guruku menghampiriku, “Apa Inez bukan Moeslem?” Tanya ibu Nur.
“Bukan, bu. Inez beragama Buddha.” Jawabku.
“Oh begitu.. Sudah jangan menagis.. Inez hanya belum terbiasa aja dengan situasi disini. Tapi, meskipun minorita, bukan berarti Inez gak bisa jadi mayoritas loh di kalangan teman-teman disini. Karena kita bersahabat itu tanpa mengenal suku, ras, maupun agama. Karena itulah Bangsa Indonesia diantara keragamannya, namun memiliki Kesatuan yang utuh dan dapat hidup berdampingan dengan damai. Nah.. kalo Inez beragama Buddha, Inez harus dong tunjukin potensi-potensi Inez layaknya seorang Buddhist sehingga temen-temen yang beragama lain bisa mengerti juga menghormati Inez.”
“Baik, bu. Inez mengerti. Terima kasih, bu.” Kubalas senyum ibu Nur.

****

Nasehat ibu Nur menyadarkanku.. Yaa.. selama ini aku memang Buddha sebatas KTP aja, tapi jalaninnya Senin-Kamis, wajar aja temen-temenku bisik-bisik begitu. Lagipula aku juga gak pernah mau membuka diri.
Sesampai dirumah aku langsung berdoa dan aku tersadar selama ini biarpu badanku bergerak, tapi perasaan jiwaku belum sepenuhnya bisa terima kenyataan hidup yang sedang kuhadapi.
Karena sekarang sering berlajar Dharma, otomatis pengetahuan aka Ajaran terus meluas. Aku bahkan dapat berdialog dengan rekan-rekan yang beragama lain. Rasa saling menghargai pun timbul. Karena sikap & perilaku yang baik akhirnya sekolah memberikan kebijakan kepadaku tak perlu memakai jilbab lagi pada hari Jumat karena bahwasanya aku seorang Buddhist. Aku pun bangga menjadi Buddhist & hidup di kalangan teman-teman yang hampir semua berjilbab, karena dalam keragaman ini kami saling menghargai keyakinan masing-masing.



The End

Michele J X4

AKU DAN BAPAKU

Aku & Bapaku

Masa kecil….
Masa yang indah ketika dialami..
Tapi pahit ketika terkenang..
Betapa aku merindukan masa kecil..
Masa kecil dimana semua kasih terasa sama..
Dimana banyak tempat untuk menangis dan bermanja..
Dimana banyak pelindung dari bahaya..
Namun sekarang, ,masa itu hanya tinggal dan hidup di memori..
Semakin lama, akupun semakin dewasa..
Ketika setiap kasih terasa berbeda..
Ketika tempat menangis dan bermanja menjadi ruang hampa..
Dimana semua pelindung berbalik menyerang..
Saat dimana air mata selalu tercucur menantikan kasih mesra dan perlindungan..
Menanti sosok yang mengasihi dan melindungiku seperti dalam masa kecilku..
Terus..
Terus..
Dan terus aku menunggu sosok itu dalam kesendirian dan kesepianku..
Sampai waktunya, ketika air mata tak dapat lagi membasahi..
Datang sosok yang tak terlihat namun terasa..
Memberikan kasih seorang Bapa di tengah kesepian..
Memberikan tempat menagis dan bermanja..
Menyediakan relung untuk menyimpan semua tangisku..
Membimbing aku keluar dari kesepian dan kesendirian..
Selalu setia menungguku..
Bahkan ketika aku tak menghiraukanNya..
Dialah Bapaku yang di sorga..
Bapa yang tak pernah lelah mengasihiku..
Bahkan ketika aku menyakitinya..
Dan ketika mengenal-Nyalah, kurasakan kasih yang tak hilang..
Bukan hanya ketika aku dewasa..
Tapi sampai rambutku memutih dan tiba saatnya aku menutup mataku..

By
Marcella X1

VINA XI IPA SMAK 6

THEA XI IPA SMAK 6

REGINA XI IPS SMAK 6

LIVIA XI IPS SMAK 6

Jesslyn XI IPS SMAK 6

jangan membeda-bedakan orang yang berkulit hitam dan putih karena mereka sama dihadapan Tuhan

GRETA XI IPA SMAK 6

FELICIA XI IPA SMAK 6

ELENA XI IPS SMAK 6

SERINGKALI ANTARA KULIT HITAM DAN KULIT PUTIH TERDAPAT TEMBOK PEMISAH

DELLA XI IPS SMAK 6

DAVITA XI IPA SMAK 6

DAVINA XI S

CYNTHIA X1 SMAK 6

CLARA XI IPA SMAK 6

CLARA X1 SMAK 6

CAROLINE XI IPA SMAK 6

CARISSA XI IPA SMAK 6

RING OF FRIENDSHIP

ANGELIA XI 1PA SMAK 6

ANDRE XI IPA SMAK 6

money is not key of happiness

ANDRE X1 SMAK 6

AMELIA XI IPA SMAK 6

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar