Pages

Tampilkan postingan dengan label Kekeliruan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekeliruan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

KAPITALIS RELIJIUS

KAPITALIS RELIJIUS

Belum lama ini kita membaca hiruk pikuk Zoya, MUI dan Sertifikasi halal. Oke saya tidak akan terlalu menyinggung hal tersebut, karena takut ada yang tersinggung.
Saya ajak kita melihat dari kacamata yang lebih luas, yaitu kapitalis relijius.

Agama adalah ladang yang sangat 'basah' untuk dijadikan tempat meraup keuntungan. Comot ayat sedikit, banyak yang percaya dan mengatakan "amin." Kutip pendapat agamawan sedikit, semakin banyak yang percaya dan katakan amin.

Pada Zaman Yesus hidup, sistem keagamaannya pun dikuasai oleh kapitalis relijius yang berusaha meraup keuntungan atas nama agama. Jika mau merayakan hari raya keagamaan Yahudi, maka semua perlengkapan persembahannya harus dibeli di pasar yang ada di halaman bait Allah. Mengapa? Karena semua yang ada di sana sudah disertifikasi halal, mulai uang yang dipakai sampai binatang yang akan dijadikan persembahan. Tidak boleh membawa binatang dari tempat lain karena belum tentu halal. Harga semua yang dijual di pasar bait Allah itu jelas jauh lebih mahal daripada di tempat lain. Oleh karena itu, Yesus yang baru datang dari desa kecil, tanpa gentar mengobrak-ngabrik pasar halal itu. Bagi Yesus, mereka tidak jauh beda seperti penyamun (perampok) (Matius 12:13).

Pada tahun 1500an, kekristenan yang sangat kuat dan tidak tergoyahkan waktu itu, melancarkan bisnis "Surat Penghapusan Siksa/Dosa" dekat Witternberg. Siapa pun yang membeli surat tersebut maka akan selamat dari api penyucian. Rakyat akhirnya percaya bahwa dosanya bisa diampuni hanya dengan membeli surat tersebut. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya uang? Marthin Luther, yang dikenal sebagai tokoh reformator, mengobrak-ngabrik praktek tersebut dengan menulis 95 dalil.

Ternyata bisnis agama tersebut tidak juga mati, sampai saat ini bisnis agama marak di mana-mana. Asal ada uang, maka kita bisa membuat bisnis baru atas nama agama (kapitalis relijius). Di kekristenan saat ini, orang hanya dengan menyebut "kegiatan ini buat misi," maka setumpuk uang akan mengalir dengan mudahnya. Entah misi apa yang dimaksud, mungkin misi membuncitkan perut? Haha. Belum lagi ada juga membisniskan minyak, KKR, gereja mall, kesembuhan ilahi, politik dan masih banyak lagi yang lainnya.

Para Kapitalis relijius ini punya senjata yang ampuh agar kekuatan mereka langgeng. Apa itu? Saat ada yang mengkritik mereka, maka mereka akan berteriak dengan lantang, "agama kita dihina dan dilecehkan." Padahal yang sedang menghina dan melecehkan agama adalah mereka.
Jika ingin membela agama, maka yang harusnya dilawan adalah para kapitalis relijius itu. Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita justru termakan comotan ayat dan petuah para agamawan yang di-stir oleh kapitalis relijius tersebut.

Desiderius Erasmus, menyerukan mari lawan "Kebodohan Lama" dengan "Ilmu Baru." Teruslah belajar dan pintar, sehingga agama kita menjadi agama yang penuh rakhmat bagi semesta.

Nuryanto Gracia, S.Si (teol)

Selasa, 21 April 2015

HARI KARTINI, PEREMPUAN DAN ALKITAB

HARI KARTINI, PEREMPUAN DAN ALKITAB

Perempuan seringkali menjadi objek diskriminasi kaum pria, bahkan ayat-ayat suci dijadikan alat pembenarannya. Alkitab, sebagai kitab suci umat Kristen pun menjadi salah satu pembenaran yang sering dipakai. Mari kita simak lebih teliti apakah benar Alkitab memandang perempuan serendah itu.
1. Saat Allah menciptakan manusia, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambarNya (Kejadian 1:27). Tidak hanya lelaki yang segambar dengan Allah, tetapi perempuan juga. Jadi laki-laki dan perempuan sederajat.
2. Pada saat Tuhan membentuk perempuan dari tulang rusuk Adam, banyak di antara kita yang menganggap perempuan itu lemah sehingga perempuan dianggap makhluk lemah. Padahal, kata yang dipakai dalam bahasa Ibraninya adalah bana (Kejadian 2:22). Kata bana sering dipakai untuk membuat sesuatu yang keras dan kuat seperti kota, menara, mezbah atau benteng. Jadi, Tuhan ingin mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang kuat.
3. Perempuan disebutkan sebagai penolong yang sepadan (ezer kenegdo, Kejadian 2:18, 20). Seringkali kita mengartikannya bahwa perempuan adalah pembantu laki-laki, yang kedudukannya lebih rendah dari laki-laki. Padahal kata ezer (penolong) dalam perjanjian lama sering dipakai untuk Allah sebagai penolong, dan juga dipakai untuk pertolongan Israel. Jadi sekali lagi, ayat tersebut ingin mengingatkan bahwa perempuan kuat. Penolong juga bukan berarti lemah. Justru seseorang dapat menolong karena dia memiliki kelebihan dari yang ditolongnya.
4. Dalam Perjanjian Lama, kata laki-laki dan perempuan dalam hubungannya sebagai suami-istri, menggunakan permainan kata yang menarik yaitu is (laki-laki) dan issa (perempuan). Saat suami memanggil istrinya, issa, maka dia juga memanggil dirinya sendiri. Saat dia mengingat istrinya, maka dia mengingat dirinya sendiri. Saat dia mengasihi istrinya, dia mengasihi dirinya juga. Saat dia menyakiti istrinya, dia menyakiti dirinya juga. Bahkan permainan kata ini semakin menarik, jika kita membaca Kejadian 2:24, yaitu saat is bersatu dengan issa, maka terciptalah kehidupan yang baru. Sedangkan saat adam (manusia) bersatu dengan adama (tanah) terciptalah kematian (Kejadian 3:19). Jadi, perempuan bukanlah pembawa kematian, dia adalah pembawa kehidupan. Dia adalah bagian dari diri kita. Ingat, saat kita menyakitinya, itu artinya kita menyakiti diri sendiri.

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang bercerita tentang perempuan yang luar biasa. Tapi itu bukan berarti bahwa perempuan bisa kembali mendiskrimanasi laki-laki karena merasa dirinya lebih kuat. Yang perlu kita ingat adalah laki-laki dan perempuan setara.

Selamat Hari Kartini.
Laki-laki, mari menghargai kaum perempuan.
Perempuan, mari hargai diri sendiri.

Salam,
Nuryanto Gracia

Rabu, 15 April 2015

KRITIKUS BODOH

KRITIKUS BODOH

Saya menulis, "Kendaraan pribadi banyak yang masuk busway."

Lalu ada yang mengkritik, "Katanya penulis tapi logikanya tidak jalan. Mana bisa kendaraan masuk busway. Hahaha."

Saya jawab, "Mengkritik boleh, tapi coba diupayakan tahu apa yang dikritik. Mengkritik beda dengan bertanya. Busway berbeda dengan transjakarta."

Ada lagi, saya menulis, "Sejak hari ini, mereka resmi berpacangan."

Ada lagi yang mengkritik, "Begini nih yang bikin Indonesia rusak, jika penulisnya cuma bisa bahasa alay. Pasangan malah ditulis pacangan."


Saya jawab, "Begini nih yang bikin Indonesia rusak. Merasa tahu bahasa Indonesia tapi tidak tahu bedanya pacangan dan pasangan. Mengkritik boleh, tapi usahakanlah tahu apa yang dikritik."


Teman-teman, tidak ada yang salah dengan memberikan kritikan, tapi mengkritiklah yang cerdas. Supaya bisa mengkritik dengan cerdas, perbanyaklah pengetahuan. Jika tidak mau, yah siap-siaplah menambahkan stok kritikus bodoh di Indonesia.

Salam,
Nuryanto Gracia

JANGAN MENAFSIR KITAB SUCI

JANGAN MENAFSIR KITAB SUCI

Saya teringat dengan percakapan di suatu hari Minggu saat selesai berkhotbah di satu gereja. Ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap membahas beberapa ayat di dalam alkitab. Awalnya saya hanya senyum-senyum saja mendengarkan percakapan mereka, sampai satu titik, lidah saya mulai gatal untuk berujar karena mendengar seorang Bapak mengutip ayat-ayat alkitab lepas dari konteksnya, sebut saja Mr. X.

Saya: Maaf Pak, dari tadi saya mendengarkan Bapak mengutip beberapa ayat lalu menjelaskan begitu saja tanpa melihat ayat-ayat setelah dan sebelumnya atau lebih jauh lagi tidak melihat konteks ayat tersebut.

Mr. X: Untuk apa? Tiap ayat itu punya pesannya masing-masing. Dan Alkitab itu jangan ditafsir, bisa sesat. Seperti pendeta-pendeta di sini. Baca dan terima saja apa yang tertulis, itu baru benar.


Untuk beberapa saat saya mencoba memberikan beberapa pemahaman tentang tafsir, konteks, perikop dan lain sebagainya yang berkaitan dengan alkitab hingga akhirnya dia menyeletuk.

Mr. X: Wah semakin ngawur sekali kamu. Kamu masih muda dan awam, tidak tahu apa-apa. Jadi belum mengerti apa-apa tentang firman Tuhan. Kamu juga kan belum pernah belajar di sekolah alkitab jadi belajar dulu yah... Lain kali kalo bukan bidangnya jangan sok tahu yah...

Sepertinya bapak ini tidak mengenal saya, saya juga tidak mengenal beliau.

Saya: Bapak belajar di sekolah alkitab?

Mr. X: Tentu, saya sekolah di Sekolah Alkitab selama 6 bulan. Jadi saya tahu apa yang saya ucapkan tadi, mungkin kamu yang tidak tahu apa yang kamu ucapkan.

Saya: Oh iya maaf kalo gitu Pak, saya sepertinya belajar teologi kelamaan sampai 5 tahun, jadi tidak semengerti Bapak yang belajar alkitab 6 bulan. Maaf Pak. Mari Pak, saya pulang dulu.

Saya merasa harus menyudahi diskusi tersebut karena saat rekan diskusi sudah merasa dirinya lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, maka diskusi tidak lagi perlu dilanjutkan karena dia sudah merasa benar bahkan sebelum diskusi dilakukan.

Sepertinya masih banyak orang-orang yang baru belajar agama sedikit lalu merasa paling tahu segalanya. Bahkan hanya belajar 6 bulan sudah seperti mengetahui seluruh isi alkitab.
Saya juga menemui fenomenon ini di beberapa agama. Ada yang baru belajar agama sedikit lalu merasa sudah tahu segalanya. Miris.

Salam,
Nuryanto Gracia, S.Si (teol)

JADILAH PENGECUT

JADILAH PENGECUT

Jadilah pengecut di depan orang-orang yang tidak tahu tempat:
Tempat diskusi dijadikan tempat bertengkar
Tempat menunjukkan karya dijadikan tempat keributan
Tempat bersosialisasi dijadikan tempat pelampiasan emosi.

Mundurlah dan menghindarlah.

Tapi jadilah pemberani di depan orang-orang yang tahu tempat:
Arena pertarungan untuk bertarung
Mendan peperangan untuk berperang
Arena perlombaan untuk berlomba

Berjuanglah dan jangan menyerah sampai titik darah penghabisan.

Salam,
Nuryanto Gracia

LABELISASI

LABELISASI

A : Daripada ribut-ribut mending kita selesaikan dgn cara baik-baik. Gue tantanglu main paintball di Ancol.

B : Gue maunya main paintball di jalanan rumah gue. Brani ga?

A : Lah main paintball ada tempatnya sendiri, masa main di jalanan. Nnt malah bs menyebabkan keributan.

B : Gue maunya di situ. Mau ga?

A : Gue cuma mau main di tempat yg seharusnya. Bkn di jalanan
.
B : Ah pengecutlu. Tadi nantangin main paintball. Sekarang malah ga mau. Jgn banyak bacot makanya kalo takut. Jgn sok-sokan nantangin.


Gagal paham.
Si A kan nantangin main paintball di tempat yang seharusnya. Kalo si A gak mau nurutin permintaan si B, kenapa si A malah disebut pengecut? Kalo si A nantang main paintball di tempat seharusnya, lalu si B bersedia tapi Si A tiba-tiba bilang ga mau dengan berbagai alasan. Nah baru deh si A pengecut.
Sekarang ini, memang banyak orang-orang yang dengan mudahnya melabelisasi orang lain dengan label yang buruk, hanya karena orang lain tidak mengikuti apa yang diinginkannya.

SORAK-SORAI KONVERSI/PERPINDAHAN AGAMA

SORAK-SORAI KONVERSI/PERPINDAHAN AGAMA

Saat saya masih kuliah, ada seseorang yang pernah datang ke kelas saya dan menceritakan sesuatu yang sangat tidak menarik bagi saya. Dia bercerita bahwa dia dahulu adalah seorang Islam bahkan dia benci dengan orang Kristen dan berusaha mengislamkan orang Kristen. Tapi sekarang (pada saat dia bercerita), dia telah menjadi Kristen. Dia menyadari agamanya yang dahulu memiliki banyak kesalahan. Dia menulis kesalahan-kesalahan agamanya yang dahulu di dalam sebuah buku. Di dalam buku itu, dia tuliskan juga bahwa dalam kitab agamanya yang dahulu sebenarnya membenarkan ajaran Kristen. Di dalam buku tersebut, dia mengutip ayat-ayat Al-Quran. Dia mengatakan, dia keliling gereja dan juga pesantren untuk menunjukkan kebenaran bahwa agamanya yang dahulu salah, Kristenlah yang benar.

Mungkin banyak orang Kristen yang akan senang dan bersorak-sorai, tapi saya tidak. Saya juga menyadari teman-teman sekelas saya pun tidak terlalu senang apalagi heboh karena ada umat Islam yang masuk Kristen lalu menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Bagi saya, silakan saja jika memang seseorang ingin berpindah agama, tapi setelah berpindah agama bukan berarti harus menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Ceritakanlah kebaikan dari agama yang dipeluk sekarang, bukan menceritakan keburukan agama yang telah ditinggalkan. Bukankah kita seharusnya menceritakan kebaikan, bukan keburukan? Jika mau dicari-cari keburukannya, tiap agama pasti ada saja keburukannya. Selain itu, yang lama pasti akan nampak lebih buruk, sedangkan yang baru akan tampak lebih baik.

Jika ada umat Kristen yang berpindah agama, saya juga tidak akan marah-marah apalagi mencaci-maki mereka yang berpindah agama, karena itu adalah pilihan hidupnya. Tapi sebelumnya coba diklarifikasi juga apakah cerita itu benar? Apakah tokoh itu ada, atau jangan-jangan hanya tokoh fiktif?
Seperti berita ini misalnya,
http://www.pkspiyungan.org/…/saya-masuk-islam-pengakuan-men… (Berita tentang Theresia Cindy yang masuk Islam)
http://www.pkspiyungan.org/…/usai-theresia-cindy-tan-masuk-… (Berita tentang gereja yang mengamuk karena cindy masuk Islam)
http://m.kompasiana.com/…/fairy-tale-theresia-cindy-tan.html
(Telaah lebih lanjut tentang berita di atas)
https://joycelynaralar.wordpress.com/…/lions-club-at-manil…/
(Foto asli theresia ternyata diambil dari foto orang Filipina)

Lalu keluar klarifikasi bahwa fotonya sengaja tidak memakai foto asli untuk melindungi Cindy dari amukan. Yah kalo gitu tinggal cek nama Theresia Cindy di UKI saja karena katanya dia dosen di sana. Mungkin nanti setelah namanya tidak terdaftar di UKI, akan ada klarifikasi lagi bahwa namanya pun sengaja disamarkan agar aman.

Saya tidak terlalu peduli dengan klarifikasi berikut-berikutnya, karena bukan itu masalahnya. Saya hanya ingin mengingatkan, klarifikasi setiap berita yang kita dapat. Jangan sampai karena ada berita umat agama lain masuk agama kita, kita langsung begitu senangnya. Apalagi ditambah bumbu dia dari pesantren atau mahasiswa teologi, dia dulu ustadz atau pendeta, dia dulu rajin di mesjid atau gereja. Klarifikasi terlebih dahulu, jangan langsung terima ceritanya mentah-mentah.

Seandainya pun ceritanya benar, sekali lagi saya tidak terlalu tertarik dengan mereka yang berpindah ke agama yang baru dengan menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Bagi saya itu sama saja seperti orang yang baru menemukan rumah makan yang lebih enak, lalu menjelek-jelekkan rumah makan sebelumnya. Aneh, kan? Kenapa tidak menceritakan keenakan makanan atau kelebihan pelayanan di tempat makan yang baru. Jika memang tempat yang baru sesuai dengan seleranya, maka dia akan pergi juga ke tempat tersebut.

Salam,
Nuryanto Gracia

Selasa, 28 Februari 2012

Beberapa Kekeliruan Tentang Iman


Beberapa Kekeliruan Tentang Iman

1.       Iman tidak membuat kita lepas begitu saja dari kesulitan melainkan menguatkan kita agar mampu menghadapi kesulitan.

2.       Orang beriman bukanlah mereka yang menerima begitu saja segala sesuatu yang membawa-bawa nama Tuhan tanpa mempertanyakan atau mengujinya terlebih dahulu. Orang beriman justru adalah mereka yang mempertanyakan/menguji segala sesuatu apakah sungguh hal itu berasal dari Tuhan atau bukan.

3.       Orang beriman bukan hanya mereka yang dapat melakukan hal-hal yang spektakuler melainkan juga mereka yang melakukan hal-hal sederhana dengan penuh kasih dan kesetiaan.

 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa


Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa

1.       Doa bukanlah mantra pengabul keinginan melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam usaha menggapai yang kita inginkan.

2.       Doa bukanlah mantra penyelesai masalah melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam menyelesaikan masalah kita.

3.       Doa bukan hanya berisi daftar permintaan tetapi tetapi juga ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan

4.       Doa bukanlah sesuatu yang tidak boleh diajarkan melainkan justru harus diajarkan. Bukankah murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes juga meminta gurunya mengajarkan mereka berdoa. Yesus dan Yohanes juga mengajarkan murid-murid mereka berdoa (Luk 11:1)

5.       Berdoa dengan mata tertutup, kepala tertunduk dan tangan dilipat bukanlah satu-satunya cara berdoa. Ada banyak cara dalam berdoa. Ada yang sambil menangis tersedu-sedu (1 Sam 1:10; Ezr 10:1). Ada yang sambil menghadap dinding atau kiblat tertentu (1Raj 8:44; 2Raj 20:2). Ada yang sambil mengenakan kain kabung dan abu (Dan 9:3). Ada yang sambil menengadahkan tangannya ke langit ( Yes 1:15). Ada yang sambil berlutut dan sujud (Mat 26: 39; Luk 22:41; Kis 9:40, 20:36, 21:5; Kej 24:26,28). Ada yang sampai tersungkur atau merebahkan diri ke tanah (Kej 24:52; Mrk 14:35, Markus menggunakan kata πιπτω / pipto oleh LAI diterjemahkan dengan “merebahkan” padahal dalam arti sesungguhnya dapat juga diartikan sebagai tersungkur atau sujud/merebahkan diri sampai mencium tanah) dan masih ada yang lainnya. 

6.       Berdoa tidak selalu harus dalam keadaan diam (berhenti) dengan mata tertutup, dalam keadaan apapun (berjalan, menyeberang, di dalam bus atau yang lain) kita dapat tetap berdoa dengan mata tetap terbuka. Doa bukan soal mata tertutup atau terbuka tetapi soal fokus kepada siapa kita berbicara. Menutup mata hanyalah cara agar dapat fokus.

             Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Beberapa Kekeliruan Tentang Natal


Beberapa Kekeliruan Tentang Natal

            Tiap tahun kita merayakan natal. Namun tiap natal juga kita melakukan kekeliruan. Agar tahun depan kita tidak melakukan kekeliruan yang sama, ada baiknya kita mengetahui sesuatu yang memang layak untuk kita tahu. Ada beberapa kekeliruan tentang natal yang selama ini kita pahami, yaitu:

1. Gembala dan orang-orang majus tidak bertemu Yesus pada waktu bersamaan, namun pada waktu yang berbeda. Orang-orang majus bertemu Yesus ketika Yesus sudah berumur kurang dari dua tahun (Lukas 2:16). Perhatikan Matius 2:11, yang ditemui orang-orang majus adalah Anak (παιδιον/paidion) bukan Bayi (βρεφος: brephos) seperti yang ditemui oleh para gembala dalam Luk 2:16.

2. Yesus tidak lahir di kandang domba, di Alkitab hanya dikatakan di palungan (Lukas 2:16). Palungan bisa ditaruh di mana pun, tidak selalu di kandang. Bisa jadi di gudang.

3. Keadaan waktu Yesus lahir tidak sepi tetapi ramai karena banyak orang dari luar kota datang untuk sensus (Lukas 2:1-6).

4. Orang majus yang datang ke Yesus bukan 3 orang, yang 3 hanyalah jenis persembahannya bukan jumlah orangnya (Matius 2:11).

5. Orang tua Yesus tidak mencari penginapan tetapi ke rumah saudaranya sendiri namun tidak mendapat kamar tamu, dalam Lukas 2:7 ditulisnya rumah penginapan (καταλυμα/kataluma dalam bahasa Yunani artinya kamar tamu). Kemungkinan besar, Yesus beserta kedua orangtuanya diberi tempat di gudang.

6. X-mas dan Christmas memiliki arti yang berbeda. Ada yang mau merayakan natal hanya dengan pesta pora, tanpa Yesus di dalamnya, sehingga kata Christ diganti dengan X, dengan dalih X dalam bahasa Yunani dibaca Christ.

7. Lagu “Jinggle bells,” “Whispering hope” dan “Santa claus is coming to town” bukanlah lagu natal. Di dalam lagu tersebut tidak menceritakan kelahiran Yesus sama sekali.

8. Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember ataupun musim salju karena Lukas 2:8 mengatakan, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Tidak mungkin pada musim salju ada gembala di ladang.   

9. Kelahiran bukan berarti harus dirayakan besar-besaran. Oleh karena itu, Natal bukan berarti harus pesta pora.

10. Yang mendapat kado seharusnya adalah yang berulang tahun, bukan justru yang datang ke pesta ulang tahunnya. Namun anehnya, pada saat natal justru kita yang lebih mengharapkan diberi kado dibandingkan memberikan kado kepada Yesus.

11. Pohon natal bukanlah selalu pohon cemara. Pada saat Yesus lahir, tidak diceritakan sama sekali ada pohon cemara di sana.


Ada lagi yang mau ditambahkan?

Karya: Nuryanto, S.Si (teol) dan beberapa ada juga sumbangan pendapat dari teman-teman saya.

Minggu, 26 Februari 2012

Beberapa kekeliruan dalam memahami kebaktian


Beberapa kekeliruan dalam memahami kebaktian

1.       Bernyanyi dalam kebaktian bukan untuk menyenangkan hati sendiri tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan

2.       Berdoa bukan sarana pelampiasan emosi tetapi sarana untuk berhubungan dengan Tuhan

3.       Penonton dalam kebaktian bukanlah kita ataupun pelayan kebaktian. Oleh karena itu jika ada yang melayani dengan bagus/menarik selama kebaktian yang berhak bertepuk tangan bukanlah kita tetapi Tuhan

4.       Datang kebaktian bukan karena takut jika tidak datang kebaktian akan dihukum Tuhan, tetapi karena sudah diberkati oleh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari maka datang kebaktian sebagai ungkapan syukur

5.       Pemberian persembahan bukan pemberian sumbangan, tetapi ungkapan syukur atas berkat Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada perasaan bangga/sombong /berjasa ketika dapat memberikan persembahan dengan nilai nominal yang besar. 

6.       Khotbah bukan untuk menyenangkan hati saja tetapi untuk menguatkan hati yang lemah, memotivasi hidup dan petunjuk dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Tuhan

Beberapa keliruan ini akan sangat mempengaruhi penghayatan setiap kita dalam beribadah.

 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Sabtu, 18 Februari 2012

Beberapa kekeliruan dalam memandang Alkitab

Berikut ini kumpulan tweet saya tentang beberapa kekeliruan dalam memandang Alkitab.

1. Alkitab bukan benda supranatural, dia hanyalah buku yang terdiri dari kertas biasa namun dengan isi yang luar biasa.

2. Alkitab bukanlah buku sejarah ataupun ilmiah tetapi buku pengalaman iman bangsa Israel bersama dengan Tuhan

3. Alkitab bukan mesin penjawab semua masalahmu tetapi motivator yang membuatmu mau dan mampu untuk menyelesaikan masalahmu

4. Alkitab tidak diturunkan langsung dari langit tetapi ditulis dan dikumpulkan melalui proses yang lama

5. Alkitab pertama-tama ditulis jelas bukan untuk kita masa kini tetapi memang sangat berguna untuk kita masa kini

6. Ayat-ayat Alkitab bukan untuk membuktikan bahwa agama lain sesat tetapi untuk menunjukkan Allah syg semua orang. Siapapun kamu.

7. Alkitab pada awalnya tidak memiliki pasal dan ayat atau judul perikop spt sekarang. Jadi dibacanya memang bukan perayat tetapi spt cerita.
 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar