Pages

Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diskusi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

KRITIKUS BODOH

KRITIKUS BODOH

Saya menulis, "Kendaraan pribadi banyak yang masuk busway."

Lalu ada yang mengkritik, "Katanya penulis tapi logikanya tidak jalan. Mana bisa kendaraan masuk busway. Hahaha."

Saya jawab, "Mengkritik boleh, tapi coba diupayakan tahu apa yang dikritik. Mengkritik beda dengan bertanya. Busway berbeda dengan transjakarta."

Ada lagi, saya menulis, "Sejak hari ini, mereka resmi berpacangan."

Ada lagi yang mengkritik, "Begini nih yang bikin Indonesia rusak, jika penulisnya cuma bisa bahasa alay. Pasangan malah ditulis pacangan."


Saya jawab, "Begini nih yang bikin Indonesia rusak. Merasa tahu bahasa Indonesia tapi tidak tahu bedanya pacangan dan pasangan. Mengkritik boleh, tapi usahakanlah tahu apa yang dikritik."


Teman-teman, tidak ada yang salah dengan memberikan kritikan, tapi mengkritiklah yang cerdas. Supaya bisa mengkritik dengan cerdas, perbanyaklah pengetahuan. Jika tidak mau, yah siap-siaplah menambahkan stok kritikus bodoh di Indonesia.

Salam,
Nuryanto Gracia

JANGAN MENAFSIR KITAB SUCI

JANGAN MENAFSIR KITAB SUCI

Saya teringat dengan percakapan di suatu hari Minggu saat selesai berkhotbah di satu gereja. Ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap membahas beberapa ayat di dalam alkitab. Awalnya saya hanya senyum-senyum saja mendengarkan percakapan mereka, sampai satu titik, lidah saya mulai gatal untuk berujar karena mendengar seorang Bapak mengutip ayat-ayat alkitab lepas dari konteksnya, sebut saja Mr. X.

Saya: Maaf Pak, dari tadi saya mendengarkan Bapak mengutip beberapa ayat lalu menjelaskan begitu saja tanpa melihat ayat-ayat setelah dan sebelumnya atau lebih jauh lagi tidak melihat konteks ayat tersebut.

Mr. X: Untuk apa? Tiap ayat itu punya pesannya masing-masing. Dan Alkitab itu jangan ditafsir, bisa sesat. Seperti pendeta-pendeta di sini. Baca dan terima saja apa yang tertulis, itu baru benar.


Untuk beberapa saat saya mencoba memberikan beberapa pemahaman tentang tafsir, konteks, perikop dan lain sebagainya yang berkaitan dengan alkitab hingga akhirnya dia menyeletuk.

Mr. X: Wah semakin ngawur sekali kamu. Kamu masih muda dan awam, tidak tahu apa-apa. Jadi belum mengerti apa-apa tentang firman Tuhan. Kamu juga kan belum pernah belajar di sekolah alkitab jadi belajar dulu yah... Lain kali kalo bukan bidangnya jangan sok tahu yah...

Sepertinya bapak ini tidak mengenal saya, saya juga tidak mengenal beliau.

Saya: Bapak belajar di sekolah alkitab?

Mr. X: Tentu, saya sekolah di Sekolah Alkitab selama 6 bulan. Jadi saya tahu apa yang saya ucapkan tadi, mungkin kamu yang tidak tahu apa yang kamu ucapkan.

Saya: Oh iya maaf kalo gitu Pak, saya sepertinya belajar teologi kelamaan sampai 5 tahun, jadi tidak semengerti Bapak yang belajar alkitab 6 bulan. Maaf Pak. Mari Pak, saya pulang dulu.

Saya merasa harus menyudahi diskusi tersebut karena saat rekan diskusi sudah merasa dirinya lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, maka diskusi tidak lagi perlu dilanjutkan karena dia sudah merasa benar bahkan sebelum diskusi dilakukan.

Sepertinya masih banyak orang-orang yang baru belajar agama sedikit lalu merasa paling tahu segalanya. Bahkan hanya belajar 6 bulan sudah seperti mengetahui seluruh isi alkitab.
Saya juga menemui fenomenon ini di beberapa agama. Ada yang baru belajar agama sedikit lalu merasa sudah tahu segalanya. Miris.

Salam,
Nuryanto Gracia, S.Si (teol)

KATA KASAR TAK MASALAH

KATA KASAR TAK MASALAH

Di suatu ruangan, sebelum rapat dimulai

Mr. Y: Wuih A*ok mantap yah... Dia berani melawan para koruptor sendirian.

Mr. Z: Iya saya salut banget sama keberanian dan ketulusannya. Cuma sayang bahasanya kurang santun.

Mr. W: Ah buat apa bahasa santun tapi tindakannya tidak.

Mr. Z: Yah kan lebih baik kalo tindakan dan bahasanya santun.

Mr. V: Orang-orang kaya gitu udah ga pantes diajak ngomong lembut. Kalo salah, emang harus ditegur dengan keras.


Mr. Z: Tegur keras dengan kata-kata seperti "Bangsat, tai, bajingan" begitu kah?


Mr. V: Yah kalo memang perlu silakan saja. Eh udah mau mulai rapatnya, ayo kita rapat dulu.


Rapat berjalan tenang sampai pada satu titik, pemimpin rapat mengatakan Mr. V telah melakukan beberapa kesalahan fatal tapi Mr. V berusaha mengelak.

Mr. Z: Udah jelas begini buktinya ada, masih juga nyangkal. Dasar bangsat.

Mr. Y: Woi kalo ngomong dijaga. Kita lagi rapat.

Mr. Z: Diem lu tai!

Mr. W: Anda kenapa Mr. Z? Bukankah Anda orang berpendidikan? Marah boleh saja, tapi pakailah bahasa yang santun. Ini bukan di pasar.

Mr. Z: Loh buat apa bahasa santun kalo kelakuannya kaya Mr. V. Dia emang pantas dipanggil bangsat.

Mr. V: Anda lebih buruk dari saya. Seenaknya memaki-maki saya bangsat. Jika memang saya salah, tegurlah dengan baik.

Mr. Y: Betul itu, tolong ngomongnya dijaga.

Mr. Z: Loh, saya cuma meniru apa yang dilakukan A*ok. Bukannya tadi kalian bilang tidak apa? Bukannya kalian bilang lebih baik tindakan santun dibandingkan bahasa santun tetapi mulut tidak? Bukannya tadi kalian bilang orang-orang yang melakukan tindakan tidak benar harus ditegur dengan keras dan dengan bahasa kasar?

Sedang membayangkan suatu saat di setiap rapat (rapat apapun itu), jika ada anggota rapat yang salah, maka banyak yang akan langsung memaki bangsat, tai, bajingan. Masalahkah?
Sedang membayangkan, sebenarnya mereka yang mengatakan tidak apa berbahasa tidak santun saat memaki orang brengsek, apakah akan biasa juga saat mereka sendiri yang melakukan kesalahan lalu dicaci-maki seperti itu?

Jika tidak masalah ya sudah tidak apa, hanya sekadar bertanya. Hehe.


Salam,
Nuryanto Gracia

ORANG BAIK LANGKA

ORANG BAIK LANGKA

Percakapan sore dengan seorang bapak.

Bapak : Kalo ada orang yang baik, jujur, atau adil maka media akan langsung secara besar-besaran memberitakannya. Di mana-mana dijadikan bahan perbincangan. Apakah itu artinya orang baik sudah sebegitu langkanya sehingga saat ketemu satu orang baik, kita langsung heboh? Kita kasih nama aja deh orang baik seperti itu dengan sebutan 'orang langka.'

Saya : Ha ha. Bener juga yah Pak, sesuatu yang langka kalo muncul kan suka bikin heboh. Jadi pantes saja 'orang langka' muncul langsung heboh.

Bapak : Nah, biar yang langka ga cepet binasa harus dijaga yah.

Saya : Siapa penjaganya pak?

Bapak : Pemuka agama dong... mereka kan yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan

Saya : Kalo saya jadi pemuka agamanya sih ga mau

Bapak : Loh kenapa ga mau?

Saya : Kalo pemuka agama jadi penjaganya berarti pemuka agama tidak termasuk 'orang langka' juga dong?

Bapak : Kenapa begitu?

Saya : Penjaga hewan, tumbuhan atau benda-benda langka tidak termasuk sesuatu yang langka juga, kan? Yang langka kan hewan, tumbuhan dan benda-bendanya sedangkan penjaganya tidak.

Bapak : Iya juga yah...

Saya : Kalo pemuka agama dianggap penjaga 'orang langka' yah panteslah selama ini banyak pemuka agama yang tidak termasuk dalam kategori 'orang langka.'

Bapak : Betul tuh, banyak pemuka agama yang justru tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Kalo begitu siapa dong yang harus menjaga 'orang langka' tersebut?

Saya : Kita semua. 'Orang langka' itu ada karena ada sifat baik di dalam diri mereka. Setiap manusia sebenarnya memiliki sifat baik. Sifat itulah yang harus dijaga. Bukan hanya dijaga tetapi juga 'dikembangbiakkan.' Kalo cuma dijaga kan jumlahnya ga akan pernah bertambah dan suatu saat pasti akan punah.

Bapak : Berarti harus ada tempat untuk mereka 'mengembangbiakkan' kebaikan tersebut. Di tempat ibadah yah?

Saya : Menurut saya sih tempat yang paling tepat adalah keluarga. Keluarga lah tempat yang tepat untuk mengembangkan 'orang langka' tersebut.

Bapak : Masalahnya, keluarga yang bisa dijadikan tempat untuk 'pengembangbiakkan orang langka' itu juga udah sangat langka sekarang. Oh iya, ngomong-ngomong, kamu udah kelas berapa sekarang atau udah kuliah?

*Pertanyaan terakhirnya ga enak banget* hahaha.

JADILAH PENGECUT

JADILAH PENGECUT

Jadilah pengecut di depan orang-orang yang tidak tahu tempat:
Tempat diskusi dijadikan tempat bertengkar
Tempat menunjukkan karya dijadikan tempat keributan
Tempat bersosialisasi dijadikan tempat pelampiasan emosi.

Mundurlah dan menghindarlah.

Tapi jadilah pemberani di depan orang-orang yang tahu tempat:
Arena pertarungan untuk bertarung
Mendan peperangan untuk berperang
Arena perlombaan untuk berlomba

Berjuanglah dan jangan menyerah sampai titik darah penghabisan.

Salam,
Nuryanto Gracia

LABELISASI

LABELISASI

A : Daripada ribut-ribut mending kita selesaikan dgn cara baik-baik. Gue tantanglu main paintball di Ancol.

B : Gue maunya main paintball di jalanan rumah gue. Brani ga?

A : Lah main paintball ada tempatnya sendiri, masa main di jalanan. Nnt malah bs menyebabkan keributan.

B : Gue maunya di situ. Mau ga?

A : Gue cuma mau main di tempat yg seharusnya. Bkn di jalanan
.
B : Ah pengecutlu. Tadi nantangin main paintball. Sekarang malah ga mau. Jgn banyak bacot makanya kalo takut. Jgn sok-sokan nantangin.


Gagal paham.
Si A kan nantangin main paintball di tempat yang seharusnya. Kalo si A gak mau nurutin permintaan si B, kenapa si A malah disebut pengecut? Kalo si A nantang main paintball di tempat seharusnya, lalu si B bersedia tapi Si A tiba-tiba bilang ga mau dengan berbagai alasan. Nah baru deh si A pengecut.
Sekarang ini, memang banyak orang-orang yang dengan mudahnya melabelisasi orang lain dengan label yang buruk, hanya karena orang lain tidak mengikuti apa yang diinginkannya.

SORAK-SORAI KONVERSI/PERPINDAHAN AGAMA

SORAK-SORAI KONVERSI/PERPINDAHAN AGAMA

Saat saya masih kuliah, ada seseorang yang pernah datang ke kelas saya dan menceritakan sesuatu yang sangat tidak menarik bagi saya. Dia bercerita bahwa dia dahulu adalah seorang Islam bahkan dia benci dengan orang Kristen dan berusaha mengislamkan orang Kristen. Tapi sekarang (pada saat dia bercerita), dia telah menjadi Kristen. Dia menyadari agamanya yang dahulu memiliki banyak kesalahan. Dia menulis kesalahan-kesalahan agamanya yang dahulu di dalam sebuah buku. Di dalam buku itu, dia tuliskan juga bahwa dalam kitab agamanya yang dahulu sebenarnya membenarkan ajaran Kristen. Di dalam buku tersebut, dia mengutip ayat-ayat Al-Quran. Dia mengatakan, dia keliling gereja dan juga pesantren untuk menunjukkan kebenaran bahwa agamanya yang dahulu salah, Kristenlah yang benar.

Mungkin banyak orang Kristen yang akan senang dan bersorak-sorai, tapi saya tidak. Saya juga menyadari teman-teman sekelas saya pun tidak terlalu senang apalagi heboh karena ada umat Islam yang masuk Kristen lalu menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Bagi saya, silakan saja jika memang seseorang ingin berpindah agama, tapi setelah berpindah agama bukan berarti harus menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Ceritakanlah kebaikan dari agama yang dipeluk sekarang, bukan menceritakan keburukan agama yang telah ditinggalkan. Bukankah kita seharusnya menceritakan kebaikan, bukan keburukan? Jika mau dicari-cari keburukannya, tiap agama pasti ada saja keburukannya. Selain itu, yang lama pasti akan nampak lebih buruk, sedangkan yang baru akan tampak lebih baik.

Jika ada umat Kristen yang berpindah agama, saya juga tidak akan marah-marah apalagi mencaci-maki mereka yang berpindah agama, karena itu adalah pilihan hidupnya. Tapi sebelumnya coba diklarifikasi juga apakah cerita itu benar? Apakah tokoh itu ada, atau jangan-jangan hanya tokoh fiktif?
Seperti berita ini misalnya,
http://www.pkspiyungan.org/…/saya-masuk-islam-pengakuan-men… (Berita tentang Theresia Cindy yang masuk Islam)
http://www.pkspiyungan.org/…/usai-theresia-cindy-tan-masuk-… (Berita tentang gereja yang mengamuk karena cindy masuk Islam)
http://m.kompasiana.com/…/fairy-tale-theresia-cindy-tan.html
(Telaah lebih lanjut tentang berita di atas)
https://joycelynaralar.wordpress.com/…/lions-club-at-manil…/
(Foto asli theresia ternyata diambil dari foto orang Filipina)

Lalu keluar klarifikasi bahwa fotonya sengaja tidak memakai foto asli untuk melindungi Cindy dari amukan. Yah kalo gitu tinggal cek nama Theresia Cindy di UKI saja karena katanya dia dosen di sana. Mungkin nanti setelah namanya tidak terdaftar di UKI, akan ada klarifikasi lagi bahwa namanya pun sengaja disamarkan agar aman.

Saya tidak terlalu peduli dengan klarifikasi berikut-berikutnya, karena bukan itu masalahnya. Saya hanya ingin mengingatkan, klarifikasi setiap berita yang kita dapat. Jangan sampai karena ada berita umat agama lain masuk agama kita, kita langsung begitu senangnya. Apalagi ditambah bumbu dia dari pesantren atau mahasiswa teologi, dia dulu ustadz atau pendeta, dia dulu rajin di mesjid atau gereja. Klarifikasi terlebih dahulu, jangan langsung terima ceritanya mentah-mentah.

Seandainya pun ceritanya benar, sekali lagi saya tidak terlalu tertarik dengan mereka yang berpindah ke agama yang baru dengan menjelek-jelekkan agama sebelumnya. Bagi saya itu sama saja seperti orang yang baru menemukan rumah makan yang lebih enak, lalu menjelek-jelekkan rumah makan sebelumnya. Aneh, kan? Kenapa tidak menceritakan keenakan makanan atau kelebihan pelayanan di tempat makan yang baru. Jika memang tempat yang baru sesuai dengan seleranya, maka dia akan pergi juga ke tempat tersebut.

Salam,
Nuryanto Gracia

Kamis, 29 Desember 2011

MENYESAL TELAH LAHIR

Murid: Aku menyesal telah lahir ke dunia. Di rumah menderita, di sekolah menderita, di mana-mana aku selalu menderita

Guru: Memang apa untungnya jika kamu tidak dilahirkan ke dunia?

Murid: Pasti aku tidak akan menderita seperti ini

Guru: Lalu apa yang akan kau rasakan?

Murid: Aku pasti akan bahagia

Guru: Mengapa kamu bisa bahagia?

Murid: karena aku tidak merasakan penderitaan

Guru: Apa itu kenyang?

Murid: keadaan ketika tidak lagi lapar

Guru: Jika kamu tidak pernah tahu apa itu lapar apakah kamu akan tahu apa itu kenyang

Murid: Tidak

Guru: Apa itu kebahagiaan?

Murid: keadaan ketika tidak lagi menderita

Guru: Jika kamu tidak pernah tahu apa itu penderitaan apakah kamu akan tahu apa itu kebahagiaan

Murid: Tidak

Guru: Bagaimana kamu bisa tahu bahwa kamu tidak sedang merasakan penderitaan jika kamu sendiri tidak tidak tahu apa itu penderitaan? Jika kamu tidak pernah lahir bagaimana kamu bisa tahu apa itu penderitaan., Ingatlah, bukan hanya kamu yang mengalami penderitaan. Setiap orang di bawah kolong langit mengalaminya. Penderitaan seharusnya memicu untuk berjuang mendapatkan kebahagiaan bukannya mengeluh.


Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

PASANGAN HIDUP IDEAL

Murid: Guru, apakah kriteria calon pasangan hidup yang baik itu? Apakah orang yang selalu membuat kita menangis?

Guru: Bukan. orang yang selalu membuat menangis akan membuatmu tidak dapat menikmati indahnya hidup

Murid: Jika begitu, berarti orang yang selalu membuat kita tertawa?

Guru: Bukan juga. Orang yang selalu membuatmu tertawa akan membuatmu tidak dapat melihat realita hidup yang sesungguhnya bahwa hidup itu tidaklah selalu menyenangkan

Murid: Lalu yang seperti apakah kriteria calon pasangan hidup yang baik itu?

Guru: Yang dapat tertawa ketika kamu tertawa. Yang dapat menangis ketika kamu menangis. Yang dapat menyadarkanmu untuk berhenti ketika tertawa terlalu lama dan ketika menangis tak kunjung henti. Yang dapat menyadarkan tertawa dan menangis terlalu lama tidaklah baik.

Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

TERBATAS ITU NIKMAT

Murid: Guru mengapa hidup manusia terbatas?

Guru: Agar manusia dapat menikmati hidupnya

Murid: Bukankah akan lebih nikmat jika hidup manusia tidak terbatas?

Guru: Apa buah yang paling kamu suka?

Murid: Pisang

Guru: Jika kamu makan pisang 1 ember sekaligus enak ga?

Murid: Tidaklah guru! Kebanyakan makan pisang juga bisa enek

Guru: Betul! Pisang jadi nikmat ketika kamu makan dalam jumlah terbatas. Ketika dalam jumlah tak terbatas justru kamu tidak dapat menikmatinya. Segala sesuatu menjadi nikmat dan berharga ketika terbatas. Begitu juga dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu nikmatilah dan hargailah hidup kita yang terbatas ini.

Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Selasa, 15 November 2011

Mengapa menggunakan kata domba?

Ada yang bertanya:
maaf sebelumnya, pertanyaan ini ga bermaksud menghina, w sangat menghargai agama apapun di bumi ini selagi tidak mengajarkan hal2 yang buruk termasuk sangat menghargai kristen..

w cm bingung, ko di kristen ntuh kayanya kata "domba" itu sangat sakti sekali, buktinya : orang2 kristen menyebut orang2 yang tidak beragama kristen sebagai "DOMBA TERSESAT", menyebut orang kristen sendiri sebagai "DOMBA ALLAH", dan yang paling membuat w bingung ntuh, menyebut yesus dengan sebutan "ANAK DOMBA ALLAH" artinya sangat ambigu sekali, bisa jadi artinya anak dari domba milik allah atau anak domba kepunyaan allah.. apkah karena dahulu yesus semasa hidupnya pernah menggembala domba atau bagaimana?? kalau begitu kalau seandainya yesus dahulu menggembala kambing bisa jadi sekarang disebut anak kambing, atau kalau menggembala sapi jadi anak sapi...

sekali lagi maaf, w hanya pengen tahu, jikalaulah ini hanya sebuah perumpamaan(tidak yang sesungguhnya) kok tidak memanggil dengan sebutaan lain yang lebih baik.. dan sejak kapan kristen mengunakan istilah ini ?? apakah alkitab mengajarkan untuk menggunakan kata2 domba sebagai perumpamaan ??

Saya menjawab:
pembahasaan manusia terhadap Allah merupakan upaya manusia untuk memahami Allah, namun sayangnya tdk ada bahasa manusia yang dapat menggambarkan secara sempurna tentang karya kasih Allah. oleh karena itu, manusia hanya dapat menggambarkan Allah dengan bahasanya sejauh kemapuan manusia itu (biasa disebut dengan antrophormisme)

Manusia zaman dulu ingin menggambarkan Allahi itu begitu kuat dan tangguh, namun manusia tdk tahu bahasa apakah yang dapat menggambarkan ketangguhan Allah itu, maka manusia memaknai Allah sebagai gunung batu

manusia yang hidup dalam zaman peperangan merasa aman jk berada dalam kota bentengnya...oleh karena itu untuk menggambarkan dia merasa aman jk bersama dengan Allah maka dia menggambarkan Allah sebagai kota benteng perlindungan, padahal kita tahu bahwa Allah jelas bukan gunung ataupun kota benteng, namun pengetahuan manusia pada zaman itu hanya sampai di situ, namun pada masa kini jelas kita tdk bs lagi memahami Allah sbg kota benteng seharusnya, krn tempat yg paling aman bukan lg di benteng...

begitu pula dengan gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah, pada saat itu kehidupan masyarakat saat itu sangat dekat dengan yang namanya domba...bertenak domba...domba dijadikan persembahan korban...oleh karena itu, untuk menggambarkan Yesus sebagai korban penebus dosa bagi umat manusia, manusia pada zaman itu hanya mampu menggambarkan Yesus sbg Anak domba, padahal jelas Yesus dan domba bukanlah sesuatu yang sama...tp sekali lagi itu lah kemampuan manusia untuk membahasakan Allah sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya

di Alkitab pun gelar Yesus tdk hanya Anak domba, krn komunitas yang memaknai Ketuhanan Yesus bukan hanya satu komunitas saja, oleh karena itu, pemahamannya pun beragam...keempat injil yang ada di Alkitab pun mempunyai pemaknaan yang beragam

1 hal lg yg perlu diberi perhatian khusus, ketika Yesus berbicara tentang domba yang tersesat, jelas Yesus bukan berbicara ttg umat Islam atau umat beragama lain di luar Kristen

domba tersesat yang dimaksud Yesus adalah komunitas umat Yahudi yang telah tersesat hidupnya sebagai umat pilihan Allah, yang tdk mau menerima kasih karunia dari Allah, oleh karena itu Kristus datang kepada umat Yahudi, namun karena umat Yahudi tetap menolak bahkan menyalibkan Sang Pembwa pesan ilahi itu, maka Allah tidak lagi membatasi kasih karuniaNya kepada umat Yahudi tetapi kepada semua bangsa. semua orang yang memberi diri untuk menerima kasih karunia itu layak mendapatkan keselamatan

Apakah Sorga kosong waktu Yesus Turun ke Dunia?

 Ada yang bertanya:
Apakah Sorga kosong waktu Yesus Turun ke Dunia?


Saya menjawab:
"kosong" menandakan suatu ruang dan waktu, jelas Allah tdk terikat ruang dan waktu

jawaban saya bkn ya atau tdk

krn jk sy jwb ya surga kosong ketika Allah turun ke dunia, maka saya sudah membatasi Allah dgn ruang dan waktu, jika ketika Allah berada di bumi lalu surga kosong bukankah itu berarti Allah terbatas ruang dan waktu

lalu jk sy jwb surga tidak kosong ketika Allah turun ke dunia, bukankah itu menandakan bahwa memang surga ada memiliki ruang dan waktu, ruang untuk Allah tinggal dan waktu untuk menentukan surga ada Allah dan kpn surga tdk ada Allah

sy ingin qt tdk berpikir lagi spt pemikiran dunia yunani kuno yg membagi dunia menjadi 3, bawah (neraka), tengah (bumi, tempat qt hdp) dan atas (tempat para mahluk ilahi). setiap dunia baik bawah, tengah dan atas memliki ruang dan waktu, sehingga ada waktu untuk mahluk2 ilahi turun dan bersenda gurau atau berperang dengan manusia maupun mahluk penghuni dunia bawah.


pemaknaan qt terhadap Allah seharusnya trs berkembang maju seiring dengan anugrah ilmu pengetahuan yg diberikan oleh Allah, jgn berhenti hanya kepada satu pemikiran saja...jk qt mengaku mengasihi Allah, maka pemahaman kita terhadap Allah harus terus menerus berkembang karena Allah ingin kita mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi.

pertanyaan untuk kita renungkan adalah apakah Allah tdk ada di bumi setiap saat bersama qt sehingga qt mempertanyakan ketika Kristus hadir di dunia surga kosong? Apakah Allah hanya hadir dalam diri Yesus aj? lalu setelah Yesus kembali ke pangkuan Bapa, maka Allah tdk ada lagi di bumi? atau sebelum Yesus datang ke bumi apakah Allah tdk hadir bersama-sama dgn qt di bumi?
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar