Pages

Kamis, 24 Maret 2011

THE LAST WORDS.


THE LAST WORDS.
HIDUP ITU HANYA SEBENTAR SAJA ! Yakobus 4 : 14.
Kita bisa sakit , dianiaya , bergumul , ditinggalkan … hanya sebentar. Bertahanlah dan jangan menyerah ! Ayo fokus pada kekekalan.
Penderitaan , pergumulan , kepedihan hati yang kau alami bekerjasama untuk 1 tujuan yaitu Kemuliaan Tuhan. …. Kau akan memuliakan Aku , Mazmur 50 : 15. PekerjaanNya harus dinyatakan dalammu.
Cerita dari Rumah duka.
Tiga minggu sebelum meninggal dunia sang suami menjual diam-diam rumah di Kelapa Gading  yang mereka tempati selama ini. Sang isteri tidak tahu apapun tentang hal itu . Lalu sang suami dan anak tunggalnya melihat-lihat dan akhirnya membeli rumah di Bekasi.  Surat rumah atas nama suami. Berhubung suaminya jatuh sakit dan rumah baru belum sempat dihuni , akhirnya mereka memutuskan sementara ini mereka kontrak rumah di daerah Kelapa Gading. Jarak rumah dan Rumah sakit tak terlalu jauh , saudara-saudaranya kebanyakan tinggal di daerah Kelapa Gading , sekolah anaknyapun tak jauh.
Rumah baru di Bekasi disukai oleh suami dan anak tunggalnya yang cowok . Rencana setelah beli rumah baru , anak tunggal mereka  yang berumur 17 tahun akan dibelikan motor. Sang ibu sebenarnya tidak setuju bila anaknya dibelikan motor karena takut terjadi sesuatu pada anaknya . Takut jatuh ,takut kecelakaan dan sebagainya.( Sebenarnya Bila mau tinggal di sana , alat transportasi minimal yang harus dipunyai adalah “Motor “).
Suami isteri ini tidak pernah bekerja ( saya cari info dari iparnya ). Mereka hidup dari harta warisan. Saat terakhir harta yang mereka miliki adalah “rumah. Entah apa yang melatarbelakangi suaminya untuk menjual rumah Kelapa Gading dan pindah ke Bekasi . Isterinya tidak tahu . Sebelumnya suaminya tidak pernah  sakit . Hingga suatu hari , suaminya mengeluh sakit dan dibawa ke dokter . Kata dokter , paru-parunya terendam / paru-paru basah. Belakangan dilakukan CTScan , hasilnya kanker paru-paru stadium akhir.  Opname di RS , sempat pulang ke rumah sekitar seminggu. Kanker paru-parunya telah menjalar kemana-mana .  Sebelum akhirnya diberangkatkan lagi dengan ambulance    dan hanya bertahan 3 jam. Ketika sang suami diopname , saat itu saya tak dapat menjenguknya karena saya sedang menunggu dokter yang akan memeriksa keadaan ibu saya yang sempat pingsan beberapa jam sebelumnya di rumahnya.  Saya tahu hal tersebut karena saya bertemu muka dengan paman saya ( kakak ipar dari isteri sang suami yang sakit CA ). Hingga suatu hari paman saya memberitahu bahwa iparnya telah meninggal dunia.
Isterinya tabah menerima kenyataan ini setelah beberapa hari sebelumnya sempat tak tahan hingga menangis  ketika konseling dengan Pendeta tentang pergumulan hidupnya. Saya minta sang isteri untuk menatap masa depan jangan terpuruk terus . Bukan artinya kita tidak sedih kehilangan orang yang kita cintai .  Masih ada anak yang harus diurus. Saya sempat bingung sebelumnya ketika saya bertanya dia atau suaminya punya usaha apa & dia diam saja. Bila dia punya usaha atau kerja berarti ada pemasukan . Tetapi ada juga isteri yang tidak bekerja & hidupnya hanya mengandalkan penghasilan suami yang mungkin saja “minim” .  Makanya saya cari info dari iparnya untuk mengetahui apa sebenarnya . Saat itu sang isteri bingung dengan pesan terakhir suaminya untuk tinggal di Bekasi. Menurut saya ( terserah dia mau dengar atau tidak dengan pendapat saya , jalan hidup orang tidak ada yang tahu ) bahwa benar ucapan suaminya untuk tinggal di Bekasi . Karena rumah itulah satu-satunya yang mereka miliki . Rumah yang lama sudah dijual , uang yang dipegang harus secepatnya untuk beli rumah yang baru lagi karena uang yang ditangan membuat kita boros/ gatal memakainya. Dalam keadaan terburu-buru , uang yang jumlahnya segitu akan kita belanjakan sesuai dengan kemampuan saat itu. Kita sering tergiur dengan rayuan sales perumahan ataupun dengan promosinya yang jor-joran. Kita tidak mencari info dari orang-orang sekitar perumahan tersebut bagaimana keadaan sebenarnya daerah di sana . Logika umum untuk beli rumah yang penting tidak banjir , rumahnya bagus ( maklum masih baru ) , beli rumah bagian lain tidak mampu tidak sesuai dengan kemampuan , lingkungan / jalanannya bagus . Rumah mereka ternyata rumah tahap ke2. Sedangkan rumah saya tahap pertama , saya beli dari tahun 93.
Waktu Lebaran yang lalu   keluarga kecil saya jalan-jalan naik sepeda ke daerah tahap ke2. Lumayan jauh bolak balik kira-kira 2 jam. Suami saya bilang jaraknya sama seperti perumahan kami ke Pasar Baru Jakarta . Kiri kanan menuju perumahan teresbut , kami melewati cluster2 rumah mahal yang sudah jadi , menelusuri sawah hijau dengan bebek-bebek , danau eceng gondok dengan bebek-bebek yang riang berenang  ,  tidak ada kendaraan umum di sana yang lewat , ada 2 spanduk besar bertuliskan : “Hati-hati di daerah ini rawan kecelakaan , sering terjadi pencurian motor dan hipnotis !” hingga tibalah kami di cluster tersebut ( tahap ke2 yang ternyata merupakan rumah baru mereka ).  Bagus banyak patung kuda putih yang menghiasi taman , ada ruko-ruko entah sudah ada yang buka atau belum laku terjual . Yang saya & suami tidak sukai adalah perumahan ini jauhhhh , mahaaaallll , susah kendaraan umum , kali perumahan/pemukiman sudah penuh dengan air walaupun tidak hujan dan telah dibuatkan tanggul . Itu berarti tanpa adanya tanggul kemungkinan daerah tersebut banjir . Berapa kekuatan tanggul tersebut ? Bahaya Sutet , keamanan pemukiman tersebut .
Ketika kami mau memasuki pemukiman tersebut , saya bertemu tetangga lama & kami mengobrol. Dia pindah ke sana karena tidak banjir selain itu rumah tahap pertama susah naiknya. Saya menghargai pendapatnya. Saya sebenarnya kasihan padanya , dia & ke2 anaknya berjalan kaki cukup jauh untuk mendapatkan kendaraan umum . Karena tidak ada , mereka naik ojek motor dengan biaya Rp.20 ribu. Saya tidak tahu tujuan pastinya kemana , tapi berhubung mereka ber4 berarti kemungkinan mereka hanya sampai ke jalan utama. Setiap hari ada angkot khusus , Cuma hari itu lagi Lebaran.  Saya teringat angkot khusus perumahan kami yang katanya gratis menuju ke pasar modern & ada terus menerus. Kami pernah menunggu setengah jam & biaya perorang Rp. 4000. Adikku pernah menunggu & tak ada satupun angkot menyebabkan dia naik beca dengan biaya Rp 15 ribu sekali jalan !
Ketika suaminya sakit dan bila dia sudah menghuni rumah barunya , dengan kendaraan siapakah , dibawa oleh siapakah , dibantu biaya siapakah ? Saat ini selesaikanlah satu persatu urusan ,jaga badan , jaga kesehatan , cukup tidur . Bila pikiran sudah tenang , lakukan/ selesaikanlah masalah yang tertunda.
Pesan suami untuk tinggal di Bekasi sudah tepat karena rumah mereka ada di sana. Bukan karena alas an yang obyektif lainnya. Isteri & anak harus berjuang hidup . Suami & keluarga kecil ini belum pernah menikmati “nikmatnya “ tinggal di sana. Berangkat pagi-pagi sekali bila tidak mau terjebak kemacetan di pintu keluar perumahan dll.
Ternyata Kakak & ipar dari sang isteri telah berembuk untuk mengusulkan yang terbaik untuk sang isteri yaitu menjual rumah yang ada di Bekasi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan sang isteri .Telah saya bicarakan sebelumnya dengan sang isteri  untuk pilih lokasi strategis , rumah yang bisa dijadikan usaha atau bisa disewakan atau buat rumah kost.
Mudah-mudahan dengan kejadian ini , mereka dapat “terbuka “ & menjadi orang yang sukses. Tidak hanya ber”DOA” saja.
Salam ,
Merry/ Sri Fatmadewi.
081584410765.

Maria & Marta

Dear ,
Di gereja banyak sekali "Maria ". Lebih banyak Maria daripada Marta . Lebih banyak lagi "Maria-Maria"bukan hanya yang bernama Maria . Dalam Lukas 10 : 38 - 42....sedang Marta sibuk sekali melayani. "Maria-Maria" datang ketika ibadah dimulai , ada juga yang datang ketika kotbah dimulai ! "Maria-Maria" telah memilih bagian yang terbaik. Ketika sedang mendengarkan kotbah, "Marta-Marta" tetap saja sibuk . Ada yang isi daftar hadir atau menekan tombol jumlah jemaat . Padahal sebelumnya "Marta-Marta" sudah datang lebih pagi , sibuk mengerjakan sesuatu . Pulangnya lebih lama karena sibuknya belum lagi bila ada rapat-rapat yang terkadang hingga larut malam. Untuk siapa "Marta-Marta " bekerja ? Untuk memuliakan Tuhankah ? Untuk apa & untuk siapa ? "Marta-Marta" Jabatannya sebagai "Majelis/Penatua" itu membuat mereka terkenal , dihormati orang, dapat fasilitas parkir mobil ? Itukah yang membuat mereka bertahan ? Tanpa "Marta-Marta" yang sibuk , tidak ada yang melayani . "Marta-Marta" ini hari-hari biasanya sudah sibuk dengan pekerjaan sehari-hari . Dan jumlah "Marta-Marta" ini sedikit . Lebih banyak "Maria-Maria". Apakah "Marta-Marta" mencontoh perbuatan Tuhan Yesus untuk Melayani dan bukan dilayani ?
Banyak sekali gereja-gereja yang mendapatkan kesulitan mendapatkan "Majelis/Penatua ". "Maria-Maria" bagaimana dengan engkau ?
 
Apakah yang dimaksud Tuhan kisah Maria & Marta seperti yang tertulis di atas ? Tentu saja TIDAK & BUKAN. Tuhan ingin ketika Firman Tuhan dikumandangkan/ diberitakan , kita semua mendengarnya . Jangan terus menyibuki diri sehingga kita tidak mendengar Firman itu , bagaimana  menjadi pelaku FirmanNya. Tuhan juga ingin jangan setiap hari kita sibuk sehingga tidak ada waktu membaca FirmanNYa atau Hari Minggupun karena sangat sibuk tiada waktu lagi untuk mendengar FirmanNya atau bersekutu bersama dengan lainnya . Pada ayat ke 42 : tetapi hanya satu saja yang perlu : Maria telah memilih bagian yang terbaik , yang tidak akan diambil dari padanya ". Gb Us.
 
Sri Fatmadewi ( 081584410765).

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan

Dear ,
Banyak kejadian-kejadian yang berulang-ulang di gereja baik yang dilakukan Majelis terlebih oleh jemaat ! Di sebuah gereja , jemaatnya sering sekali datang terlambat . Bila kamu ajukan pertanyaan , jawabannya jawaban basi. Yah basiiii ! Macet ampun-ampunan. Jakarta macet itu biasa , sudah tahu macet perhitungkanlah waktunya. Masak yang terlambat dia lagi dia lagi ?Belum lagi acara ramai-ramai ke WC. Kebaktian masih berlangung . Sebelum kebaktian dimulai , pergilah ke WC dulu. Belum lagi jemaat karena aktivitasnya yang sangat tinggi , ketika HPnya bunyi , diapun ber Halo - Halo ria. Dia pikir suaranya kecil dan tidak terdengar . Kiri kanan depan belakang dan samping-sampingnya semua dengar tapi berusaha untuk konsentrasi pada kebaktian.
Majelis ada yang lupa nyalakan lilin ketika minggu advent ke-3 ! Apa iya korek apinya sedang dibeli ? Lupa menaruhnya ? Benar-benar lupa tugasnya untuk menyalakan lilin ? Belum lagi kantong kolekte yang tidak diedarkan pada satu lajur sehingga jemaatnya menengok-nengok terus kepada petugas kolekte/majelis. Lektor yang membaca ayat-ayat Firman dengan tanpa tanda baca , tanpa intonasi , dan salah baca pula . Penyanyi yang asal punya suara indah tanpa latihan atau latihan dadakan dengan pemusik. Penyambut tamu yang datang terlambat . Pemusik yang asal main musik tanpa "perasaan". Paduan Suara yang anggotanya malas datang untuk latihan tapi hadir untuk pamer muka dengan mulut cuap-cuapnya .  
 
Kita datang untuk beribadah . Persiapkan diri sebaik-baiknya . Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.
 
Sri Fatmadewi/Merry.
0815 844 10 765.

ORANG LAIN

Dear ,
Banyak orang gereja yang suka bantu orang lain tetapi keluarga sendiri ditelantarkan / diabaikan. Dan mereka yang diabaikan kebanyakan adalah keluarga sendiri yang berbeda agama . Kita sibuk pelayanan sana & sini . Rajin jadi donatur atau suka menyumbang . Pokoknya baiiikkkk sekaliii...Taat menjalankan ibadah , rajin berdoa ,sama orang lain ramahhhh sekali , cara bicaranya halus dan tak pernah marah , rajin baca Alkitab , rajin ke gereja cumaaa kita biasanya tidak melihat sekeliling kita dan akhirnya kita bukan menjadi berkat & orang itu merasa bahwa Tuhan yang disembah kita itu  tidak benar .
Ada lagi ngakunya punya agama & orang-orang tahu bahwa dia itu agamanya Kristen  tapi gayanya selangiiittt sok kaya hidupnya , suka malak ala preman , bicara kasar , kelakuan kasar , tak ada bagus-bagusnya Kristen itu.
Brosis in Christ , mari kita saling mengasihi terutama dimulai dari diri kita , keluarga kita , sekeliling kita . Orang akan melihat perubahan dari dirimu. 
Matius 22 : 37 - 39 . Jawab Yesus kepadanya : " Kasihilah Tuhan , Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama & yang pertama . Dan hukum yang kedua , yang sama dengan itu , ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri .
 
Sri Fatmadewi/ Merry.
081584410765.

Kamis, 10 Februari 2011

NUMEROLOGI ALKITAB


Angka-angka tertentu memiliki makna khusus bagi masyarakat zaman kuno, termasuk para penulis Alkitab. Saya akan membagikan daftar angka-angka penting dalam Alkitab berserta maknanya. Namun perlu diingat juga, angka-angka ini kadang-kadang memang menunjukkan jumlah yang sebenarnya dan tidak dimaksudkan sebagai simbol.

Angka Satu
Angka Satu adalah “angka kesatuan” atau “the number of unity”, khususnya yang menunjuk kepada satunya atau esanya Allah, seperti dalam Ul 6:4. Banyak sekali ayat di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah itu satu adanya (Mal 2:15; Zak 14:9; Mrk 12:32, dsb), satu Bapa (Mat  23:9; Yoh 8:41). Di dalam Ef 4: 4 – 6 kita temui tujuh macam “satu” : satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa.
Referensi lain dari ayat-ayat yang menunjukkan pengertian kesatuan atau tunggal atau satu adalah: semua bangsa dan umat manusia berasal dari satu orang (Kis 17:26); masuknya dosa ke dalam dunia melalui satu orang (Roma 5:12); kasih karunia Allah diberikan oleh karena satu orang (Roma 5:15). Satu juga menyatakan ketunggalan maksud (Luk 10:42).

Angka Dua
Angka Dua adalah “angka persatuan” atau “the number of union”, yaitu hal bersatunya sesuatu. Kesatuan berbicara tentang hal satu atau tunggal, persatuan berbicara tentang hal bersatu atau menjadi satu. Misalnya persatuan antara Yesus dan Bapa (Yoh 10:30; 17:11); persatuan antara Kristus dan gereja-Nya (Ef 5:31-32); laki-laki dan perempuan membentuk satu lembaga dasar rumah tangga (Kej 1:27; 2:20,24; Mat 19:5; Mrk 10: 6-8; 1 Kor 6:16; Ef 5:31); persatuan jemaat (Yoh 17:21-23;Roma 12:4-5; 1 Kor 10:17; Gal 3:28). 12 Rasul serta 70 murid Yesus diutus berdua-berdua (Mrk 6:7; Luk 10:1). Loh batu jumlahnya dua, dan binatang sering dpersembahkan sebagai korban dalam pasangan. Ada dua saksi yang akan bersaksi selama masa penganiayaan besar di akhir zaman (Why 11:3).

Angka Tiga
Banyak agama kuno yang menganggap angka tiga sebagai “angka ilahi” atau “the number of divinity”. Tiga berbicara mengenai Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Juga tentang tritunggal manusia: tubuh, jiwa dan Roh (1 Tes 5:23). Abraham melihat tiga orang berdiri di hadapannya (Kej 18:2). Ada tiga perayaan besar Yahudi, yaitu perayaan Paskah, Pentakosta dan Tabernakel. Ada tiga yang memberi kesaksian di Sorga dan di bumi (1 Yoh 5: 7-8). Mahluk sorgawi memuji Tuhan dengan tiga kali kata Kudus bagi Dia “yang sudah ada”, “yang ada” dan “yang akan datang” dengan mempersembahkan “puji-pujian”, “hormat” dan “ucapan syukur” (Why 4: 8-9).
Angka tiga juga dihubungkan dengan perbuatan besar Allah dan rencana pemulihan dari Allah. Allah turun di Gunung Sinan pada hari ketiga untuk memberikan kesepuluh firman (Kel 19:11). Dalam nubutan Hosea, Tuhan akan membangkitkan kita pada hari ketiga (Hos 6:2). Yunus tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam (Yun 1:17; Mat 12:40). Allah membangkitkan Yesus dari kematian pada hari ketiga (1 Kor 15:4).

Angka Empat
Angka Empat adalah “angka dunia” atau “the number of the world”. Angka empat sungai yang mengalir ke luar dari Taman Eden (Kej 2:10) dan ada empat penjuru bumi (Why 7:1; 20:8), dari mana berhempus empat angin (Yer 49:36; Yeh 37:9; Dan 7:2). Angka empat adalah angka simbolis yang menonjol di dalam nubuatan dan pewahyuan, seperti: empat tanduk dan empat tukang besi (Zakh 1:18-21), empat kereta (Zakh 6:1-8), empat tanduk mezbah (Why 9:13), empat malaikat pengrusak (Why 9:14). 

Angka Lima
Angka Lima adalah “angka pemecahan” atau “the number of division”. Penggunaan angka lima agak jarang dipakai dalam Alkitab dibandingkan dengan angka-angka lain. Yesus memberi makan 5000 orang dari lima ketul roti yang dipecah-pecahkan (Mat 14:17:21). Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, ada lima gadis yang bijaksana dan lima yang bodoh (Mat 25:2). Daud menggunakan lima batu yang diambil dari dasar sungai untuk mengalahkan Goliat (1 Sam 17:40).

Angka Enam
Angka Enam seringkali disebut sebagai “angka manusia”  atau “the number of man” karena sangat erat hubungannya dengan manusia. Di dalam kisah penciptaan, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan pada hari keenam (Kej 1:27). Diberikan waktu enam hari bagi manusia untuk bekerja (Kel 20:9; 23:12; 31:15; Luk 13:14). Budak Ibrani harus melayani enam tahun terlebih dahulu sebelum mereka dibebaskan (Kel 21:2).
Angka 6 sebagai angka manusia seringkali dikaitkan juga dengan antikris, yaitu manusia yang mau menjadi Allah. Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang harus disembah semua orang, patung itu tingginya 60 hasta dan lebarnya 6 hasta (Daniel 3:1). Di dalam kitab Wahyu angka 6 yang berkaitan dengan patung berhala dan antikris kembali muncul sebagai angka 666 yang seringkali disebut sebagai “angka binatang” (Why 13:13-18).

Angka Tujuh
Angka Tujuh disebut sebagai “angka sempurna” atau “the number of perfection” atau “angka kegenapan rancangan” atau “the number of dispensational fulness”. Angka tujuh merupakan angka yang paling sering dipakai dan mempunyai arti yang menonjol di dalam Alkitab.
Di dalam kisah penciptaan, Allah istirahat pada hari ketujuh dan menguduskannya. Hal ini menjadi pola bagi sabat Yahudi, manusia dibebaskan dari pekerjaan (Kel 20:10). Ada sabat tahunan (Im 25:8). Perayaan Roti Tak Beragi dan Perayaan Tabernakel berlangsung selama tujuh hari (Kel 12:15,19; Bil 29:12). Hari raya pendamaian diadakan pada bulan ketujuh (Im 16:29).
Angka tujuh sering dijumpai pada ritual-ritula di PL, seperti pemercikan darah lembu tujuh kali (Im 4:6) dan persembahan korban bakaran tujuh domba (Bil 28:11); pentahiran penderita kusta diperciki tujuh kali (Im 14:7), dan Naaman harus mandi tujuh kali di Sungai Yordan (2 Raj 5:10). Di dalam tabernakel ada kaki dian yang bercabang tujuh (Kel 25:32).
Ayat-ayat referensi lainnya yang perlu dicatat adalah: Henokh yang diangkat ke Sorga adalah keturunan ketujuh dari Adam (Kej 5:19-24). Yakub bekerja selama 7 tahun pada Laban untuk mendapatkan Rahel yang dicintainya (Kej 29:18); ada 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan (Kej 41:26-27); hajaran Tuhan sampai 7 kali lipat (Im 26:18,28); Yosua harus mengelilingi tembok Yerikho sebanyak 7 kali pada hari ke-7, dengan 7 imam yang membawa 7 sangkakala tanduk domba (Yos 6:3-5); bujang Elia sampai 7 kali naik unta untuk melihat apakah ada awan (1 Raj 18:43); janji Tuhan murni seperti perak yang 7 kali dimurnikan (Mzm 12:7).
Ayat-ayat lainnya sehubungan dengan angka 7 adalah: Salomo selama 7 tahun membangun Bait Allah dan mengadakan perayaan selama 7 hari; Ayub mempunyai 7 anak laki-laki; ketika teman-teman Ayub datang mengunjunginya, mereka duduk diam selama 7 hari 7 malam,akhirnya mereka diminta untuk memberikan korban bakaran berupa 7 ekor lembu jantan dan 7 ekor domba jantan; pemazmur memuju Tuhan 7 kali sehari (Mzm 119:164); 7 tiang hikmat 9 (Ams 9:1); 7 kali orang benar jatuh (Ams 24:16); mengampuni 70 kali 7 kali (Mat 18:22); gereja mula-mula punya diaken (Kis 6:3); Yohanes mengalamatkan kitab wahyu kepada 7 jemaat; naga dalam Wahyu 12:3 dan binatang dalam Wahyu 13:1; 17:7 mempunyai 7 kepala.

Angka Delapan
Angka Delapan adalah “angka permulaan sesuatu yang baru” atau “the number of the new order of things”. Hari kedelapan adalah permulaan dari minggu yang baru, setelah sabat yang merupakan hari ketujuh. Ada delapan orang yang selamat dari air bah pada zaman Nuh (1 Pet 3:20) dan mereka memulai generasi yang baru. Sunat orang Yahudi dilakukan pada hari kedelapan (Kej 17:12; Flp 3:5). Sunat merupakan permulaan baru dari perjanjian Abraham dengan Allah. Perayaan Tabernakel berlangsung selama 7 hari, sesudah itu, pada hari kedelapan mereka harus mengadakan pertemuan kudus dan mempersembahkan korban api-apian kepada Tuhan (Im 23:36). Penderita kusta ditahirkan pada hari kedelapan untuk memulai kehidupan yang baru (Im 14:10, 23). Pada penglihatan Yehezkiel tentang Bait Suci, imam mempersembahkan korban pada hari kedelapan (Yeh 43:27). Yesus bangkit pada hari kedelapan, atau hari Minggu. Daud adalah anak kedelapan dari Isai yang memulai suatu pemerintahan yang baru bagi Israel (1 Sam 16:10-11).

Angka Sepuluh
Angka Sepuluh adalah “angka kelengkapan duniawi” atau “the number of worldly completion”. Angka sepuluh ini mungkin berhubungan dengan sistem bilangan desimal yang diilhami oleh jumlah 10 jari pada kaki dan tangan. Angka sepuluh diartikan sebagai angka yang lengkap, yang terdiri dari angka 4 “dunia” dan angka 6 “manusia”.
Di dalam PL disebutkan 10 bapak bangsa-bangsa sebelum air bah Nuh datang. Orang Mesir diperhadapkan dengan sepuluh tulah baru (Kel 7 – 12). Orang Israel diberi Sepuluh Perintah Allah (Kel 20: 1-17; 34:28; Ul 4:13; 10:4). Perempuan di dalam perumpamaan tentang dirham yang hilang mempunyai 10 dirham (Luk 15:8). Di dalam perumpamaan tentang uang mina, ada sepuluh hamba yang diberi sepuluh mina, dan ada sepuluh dan lima kota (Luk 19: 11-27). Ada sepuluh hal yang tidak dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah (Roma 8:38-39) dan 10 dosa yang tidak dapat mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (1 Kor 6:9-10). Sepuluh orang membentuk tua-tua kota (Rut 4:2). Pecahan satu per sepuluh dijadikan persembahan persepuluhan (Kej 14:20; 28:22; Im 27:30; 2 Tawarikh 31:5; Maleakhi 3:10).

Angka Dua Belas
Angka Dua Belas adalah “angka kesempurnaan kekal” atau “the number of eternal perfection”, yang biasanya dihubungkan dengan pemilihan di dalam rencana Allah. Tahun Ibrani dibagi dalam 12 bulan. Hari (siang) dibagi dalam 12 jam (Yoh 11:9). Israel mempunyai 12 anak laki-laki (Kej 35:22-27;42:13,32) dan ada 12 suku bangsa Israel, umat pilihan Allah (Kej 49:28). Ada 12 macam permata pada tutup dada Imam Besar (Kel 28:21). Ada 12 roti disusun di atas meja roti sajian (Im 24:5). Ada 12 mata air di Elim (Kel 15:27). Kristus memilih 12 murid (Mat 10:1). Pada umur 12 tahun, Yesus bersoal-jawab dengan alim ulama di Bait Allah (Luk 2:42-46). Jika mau, Yesus bisa minta kepada Bapa untuk mengirimkan 12 pasukan malaikat (Mat 26:53).

Angka Empat Puluh
Angka Empat Puluh adalah “angka ujian” atau “the number of probation”, yang hampir selalu mengawali perbuatan besar Allah, khususnya dalam rencana penyelamatan manusia. Hujan turun ke atas bumi selama 40 hari (Kej 7:12); sesudah 40 hari bahtera Nuh terkandas di pegunungan Ararat, Nuh membuka tutup bahteranya (Kej 8:6); Musa dididik di Mesir selama 40 tahun, tinggal di padang gurun bersama mertuanya selama 40 tahun dan berada selama 40 tahun do padang guru bersama bangsa Israel sebelum masuk ke Tanah Perjanjian; Musa berpuasa 40 hari 40 malam di atas gunung sebelum bertemu dengan Allah (Kel 24:18; 34:28; Ul 9:9); pengintai menelusuri tanah Kanaan selama 40 hari (Bil 13:25); Goliat mengejek dan menantang orang Israel selama 40 hari (1 Sam 17:16); perjalanan Elia ke gunung Horeb selama 40 hari (1 Raj 19:8); Yehezkiel berbaring pada sisi kanannya selama 40 hari (Yeh 4:6); Yunus memperingatkan Niniwe selama 40 hari (Yun 3:4); Nabi Eli, Saul, Daud dan Salomo memerintah Israel masing-masing selama 40 tahun (1 Sam 4:18; Kis 13:21; 1 Raj 2:11; 11:42). Mesir akan menjadi sunyi selama 40 tahun (Yeh 29:11); Yesus berpuasa di padang gurun selama 40 hari (Mat 4:2); Yesus menampakkan diriNya setelah kebangkitanNya selama 40 hari (Kis 1:3).

Angka Tujuh Puluh
Angka Tujuh Puluh seringkali dikaitkan dengan pengaturan Allah bagi dunia ini, setelah air bah Nuh, dunia didiami kembali oleh 70 turunan Nuh (Kej 10); keluarga Yakub yang tiba di Mesir ada 70 orang (Kej 46:27); 70 orang tua-tua ditunjuk untuk membantu Musa mengatur bangsa Israel di padang gurun (Bil 11:16); suku Yehuda menjalani 70 tahun pembuangan di Babilonia (Yer 25:11; 29:10); 70 kali tujuh masa telah ditetapkan atas banga Israel untuk melenyapkan kefasikan (Dan 9:24); Yesus mengutus 70 murid (Luk 10:1); pengampunan harus diberikan 70 kali 7 kali (Mat 18:22).

Rabu, 02 Februari 2011

KETIKA MULUT MASIH MAMPU MENGUCAPKAN "MENYERAH", MAKA JANGAN MENYERAH.

Sekitar seminggu yang lalu (mungkin juga lebih, saya lupa) kura-kura saya yang satu hilang entah ke mana. saya acak-acak kamar saya namun tetap juga tidak ketemu. hampir setiap hari saya mencari di kamar saya, di setiap sudut yang mungkin kura-kura itu bisa sembunyi, namun tetap tidak ku temukan. sampai akhirnya kemarin, kura-kura saya yang satu lagi hilang (ke luar dari stoples). saya obrak-abrik lagi kamar, tetap tidak ketemu. akhirnya mau tidak mau saya mulai menganalisa dan melebarkan sudut pandang saya. jika selama ini saya hanya terpaku bahwa kura-kura saya masih ada di dalam kamar, maka sekarang saya mulai mengubah cara pandang bahwa mungkin juga kura-kura itu sudah kabur ke luar. saya mulai mencari di luar. namun tetap tidak ku temukan. saya mulai mengubah cara berpikir kembali, jika di atas tidak ada maka ada kemungkinan kura-kuranya jatuh ke lantai bawah. lalu saya pun mulai melakukan reka ulang di dalam pikiran saya.

dari reka ulang itu, saya mendapatkan beberapa titik yang mungkin bisa menjadi tempat pendaratan kura-kura. saya mulai pencarian. Puji Tuhan saya menemukan satu kura-kura. saya yakin itu kura-kura yang baru hari ini kabur karena tubuhnya masih agak basah. lalu cepat-cepat saya masukkan ke dalam akuarium agar tubuhnya basah. setelah dimasukkan ke dalam akuarium dia segar kembali. sekarang saatnya saya untuk mencari kura-kura yang kedua. ahirnya kura-kura yang kedua saya dapatkan, yaitu di dalam ban luar dari motor saya yang tidak terpakai. karena dia berada di dalam ban luar berarti selama seminggu lebih ini dia berusaha ke luar namun tidak dapat ke luar. kondisinya badannya pun sudah kering. maka pada awalnya saya menyimpulkan bahwa dia sudah mati. saya sudah berniat membuangnya. namun tidak tahu kenapa dalam pikiran saya timbul sebuah pemikiran untuk membasahi dia dengan air. lalu saya membawanya ke dalam kamar mand dani saya mulai membasahkannya. saya seperti melihat bahwa kakinya bergerak sedikit. saya tidak tahu pada saat itu apakah itu kenyataan atau hanya ilusi semata. saya penasaran, lalu saya ambil baskom, saya isi air lalu saya masukkan kura-kura itu ke dalam baskom. ah...ternyata dia mengambang di atas air, yah selayaknya seekor binatang mati. namun dalam hati, saya masih tidak rela menerima bahwa dia mati. akhirnya saya mulai memperhatikan kura-kura itu di dalam baskom. entah untuk apa.

tiba-tiba saya melihat kaki kura-kura itu bergerak kembali. timbul sebuah harapan kembali dalam diri saya bahwa kura-kura saya masih hidup. lalu saya terus memperhatikan kura-kura itu, dan dalam pikiran saya, saya memberikan semangat kepada kura-kura itu "ayo hiduplah, terus berjuang, pulihkan diri, jangan menyerah, kamu pasti bisa, ayolah".
cukup lama saya memperhatikannya, namun yang bergerak tetaplah kaki belakangnya itu pun hanya sedikit, seperti digoyangkan oleh air saja. tapi saya tetap memperhatikkannya dan saya yakin dia pasti masih hidup. dari dalam pikiran saya, saya terus memberikannya semangat?

menurut teman-teman saya sudah gila?atau termasuk orang yang tidak dapat menerima kenyataan? yah terserah penilaian teman-teman. namun yang jelas, saya memiliki keyakinan bahwa kura-kura itu masih hidup karena dia masih bergerak walaupun sedikit. bagi saya SELAMA TUBUH MASIH DAPAT BERGERAK, MASIH ADA HARAPAN, JANGAN MENYERAH.

Setelah cukup lama memperhatikan, akhirnya keyakinan saya terbukti, kura-kura saya dengan lemahnya mulai menggerakkan kepalanya. PUJI TUHAN.

Dari pengalaman ini saya belajar. SELAMA TUBUH MASIH BISA BERGERAK, JANGAN MENYERAH. SELAMA MULUT MASIH MAMPU BERGERAK UNTUK MENGUCAPKAN KATA "MENYERAH", JANGAN MENYERAH. JIKA MULUT TAK MAMPU LAGI BERGERAK MENGUCAPKAN KATA MENYERAH, MAKA KITA BARU BOLEH MENYERAH.

Apakah kamu sedang mengalami kehidupan yang berat? masalah yang menumpuk? ulangan dan tugas yang menumpuk? Ujian Akhir yang menanti tanpa pasti? sudah/hampir menyerah? masih mampu mengucapkan kata "Menyerah"? jika masih, berarti kamu tidak lah sepatutnya menyerah. walaupun tampak lambat pergerakkan mu, namun jangan menyerah. berusaha dan bersabarlah.

kuatkan dirimu. dan kuatkan juga teman-teman mu yang mungkin sudah/hampir menyerah.

karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

Minggu, 23 Januari 2011

Bagaimana Bercerita?

Patricia Griggs mengatakan bahwa apabila kita menceritakan tentang cerita diri kita sendiri (my story) maka kita tidak perlu memikirkan tentang bagaimana perasaan/emosi kita pada saat itu, peristiwa-peristiwa lain apa yang mengikuti kisah kita tersebut karena kita sendiri yang mengalaminya (personal story). Secara otomatis ketika kita menyampaikan cerita tersebut kepada orang lain, perasaan/emosi kita ikut tersampaikan juga. Namun ketika ada orang lain yang hendak menceritakan kisah kita tersebut kembali, maka orang tersebut butuh untuk melakukan interpretasi. Dia harus dapat menangkap perasaan/emosi kita pada saat itu serta situasi ketika cerita tersebut terjadi. Sesungguhnya menceritakan kisah Alkitab juga seperti menceritakan personal story.[1] Kita butuh tahu bagaimana perasaan/emosi penulis kisah tersebut, bagaimana kebudayaan ketika kisah tersebut dibuat, peristiwa-peristiwa apa yang terjadi ketika kisah itu dibuat serta kebutuhan yang ada sehingga kisah tersebut harus dibuat/dituliskan. Oleh karena itu, berkhotbah dengan bercerita tetap memerlukan interpretasi/hermeneutik. Khotbah naratif tidak hanya sekadar menuturkan kembali kisah Alkitab tetapi juga menyampaikan perasaan/emosi serta pengalaman penulis kisah sehingga kisah tersebut berhubungan juga dengan kisah kita pada masa kini (our story).

2.2.1 Plot Khotbah
Untuk dapat mengerti perasaan/emosi, pengalaman, kebudayaan serta kebutuhan dari kisah tersebut kita memerlukan penafsiran sedangkan agar cerita tersebut dapat berhubungan juga dengan kisah umat pada masa kini maka diperlukan perancanaan cerita yang hendak disampaikan dalam khotbah (plot khotbah). Cerita perlu dirancang mulai dari pembukaan hingga penutup dengan sangat baik sehingga pesan firman Tuhan dapat disampaikan dengan efektif.
2.2.1.1 Pembukaan
Seperti yang dituliskan sebelumnya, ketika umat datang mengikuti ibadah dan hendak mendengarkan khotbah, mereka tidak datang dengan pikiran kosong yang siap diisi begitu saja dengan firman Tuhan. Mereka justru datang dengan membawa banyak ‘suara’suara’ lain yang bergemuruh di dalam pikirannya. Oleh karena itu, pembukaan khotbah (dalam hal ini cerita) menjadi bagian yang sangat penting. Bagian pembukaan harus dapat melepaskan umat dari ‘suara-suara’ lain tersebut dan segera memikat perhatian mereka pada cerita yang akan disampaikan. Pada pembukaan cerita harus terjadi suatu konflik atau masalah sehingga pendengar tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.[2] “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” Patricia mengemukakan bahwa pertanyaan ini akan menjadi alasan pendengar untuk terus memperhatikan cerita dan ikut terlibat dengan cerita tersebut.[3]
Untuk dapat memperoleh attention umat, ada banyak cara membuka sebuah cerita.
a.       Mulailah dengan sesuatu yang mengejutkan dan membuat pendengar bertanya-tanya.[4]
Bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4). Dua kata yang merupakan tulisan Rasul Paulus itu tercetak di bagian kosong halaman sebuah majalah, dengan foto sekuntum bunga mawar merah.
Pikiran waras akan langsung bereaksi. Bila anak diwisuda memang kita gembira. Akan tetapi, siapa yang akan bersukacita bila anaknya geger otak ditabrak motor? Bila mendapat rumah tentulah kita bergembira. Akan tetapi, siapa yang akan bergembira bila rumahnya terbakar? Mustahil kita selalu bersukacita.[5]
b.      Suatu persoalan dapat dipakai untuk peembukaan cerita[6]
Siapa yang membidani Maria ketika melahirkan Yesus? Orang yang melahirkan perlu dibidani. Siapa yang membidani Maria? Apakah Yusuf? Agak mustahil bahwa seorang pemuda yang baru bertunangan seperti Yusuf terampil menolong wanita yang melahirkan. Kalau begitu siapa yang menolong Maria?[7]
c.       Tujuan cerita dapat menentukan isi pembukaan cerita.[8]
Contohnya kita akan menyampaikan khotbah dengan tema “Menjadi Hamba bagi Sesama, Mungkinkah?”
Menjadi hamba bagi sesama? Menjadi hamba berarti menuruti semua yang diinginkan tuannya. Saya sedang membayangkan apabila saya adalah hamba dari sesama saya yang suka menyuruh-nyuruh orang. Mungkin beginilah nasib saya. “Hei ambilkan saya minum,” “Cucikan pakaian saya,” “Bersihkan rumah saya,” “Bayarin saya makan” dan permintaan-permintaan lainnya. Haruskah saya menuruti semua permintaannya? Harus! Jika saya menjadi hamba, saya tidak punya hak untuk menolak ataupun protes. Semua permintaan tuan harus dituruti. Jadi mungkinkah kita menjadi hamba bagi sesama?”
d.      Penjelasan istilah baru dapat menjadi isi pembukaan cerita.[9]
Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada. Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti. Segala sesuatu lainnya serba belum pasti atau tidak pasti.
Memento mori! Demikianlah bunyi sebuah peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati.[10]
e.       Pembukaan dengan pengakuan atau pendahuluan yang bersifat pribadi[11]
Ketika masuk di Sekolah Teologi Balewijoto Malang, saya baru berusia 18 tahun dan masih bercelana pendek. Dibandingkan dengan kawan-kawan, saya tergolong muda dan kecil. Apalagi kalau dibandingkan dengan para dosen yang kebanyakan adalah orang Belanda dan Amerika. Hal itu terasa tiap pagi di kapel. Tiap pagi dalam kebaktian di kapel semua dosen duduk di baris paling depan. Saya selalu duduk di bangku paling belakang, sehingga saya hampir tidak dapat melihat ke depan karena terhalang para dosen dan teman. Saya merasa kecil.
Namun yang lebih merisaukan saya adalah perasaan tidak pasti. Tiap hari saya dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan: mampukah saya belajar di sekolah ini? Dapatkah saya naik tingkat? Dapatkah saya lulus? Apakah saya akan menjadi pendeta? Di mana? Bagaimana? Apa hari depan saya? Jalan di depan saya penuh dengan ketidakpastian. Saya sangsi. Saya takut.[12]
f.       Pengalaman umat yang pernah dialami bersama dapat kita jadikan pembukaan.
Siapa yang bisa hidup tanpa air? Sebelum lahir pun kita sudah perlu air. Selama Sembilan bulan kita mengambang di kantung air dalam kandungan ibu. Setelah lahir makanan kita hanya air selama beberapa bulan. Kita bisa membaca karena mata kita berair. Kita bisa memahami isi karangan dengan otak yang 85% terdiri dari air. Tubuh kita terdiri dari 70% air. Air dalam aliran darah melarutkan bahan gizzi yang diperlukan oleh jutaan sel tubuh kita. Nah, bagaimana kita bisa hidup tanpa air?[13]

2.2.1.2 Tubuh Cerita (Isi)
Pada bagian ini karakter-karakter cerita mulai dikembangkan dan pendengar dibawa/diarahkan menuju kepada klimaks dari cerita.[14] Perkembangan dan gerak cerita makin lama makin meningkat mendekati pemecahan masalah. Inilah bagian terpanjang dari suatu cerita, sampai akhirnya mencapai klimaks, puncak cerita.[15] Oleh karena itu, semua pokok pikiran dan pesan firman Tuhan yang hendak disampaikan dapat disampaikan pada bagian ini.
Pesan firman Tuhan yang hendak disampaikan tentunya telah melalui proses penafsiran. Proses penafsiran tersebut ada baiknya tidak dijelaskan panjang lebar di dalam khotbah, biarlah itu menjadi proses pengkhotbah dalam mengelola pesan firman Tuhan di ‘dapurnya.’ Apabila memang pengkhotbah merasa proses penafsiran perlu disampaikan maka pengkhotbah harus membuat proses penafsiran itu menjadi bagian dari cerita, tidak terlepas.
Tidak hanya penafsiran yang ada di bagian ini. Aplikasi yang melibatkan kehidupan/pengalaman pendengar pun harus tergambar di dalamnya. Antara pesan firman Tuhan dari hasil penafsiran dengan pengalaman hidup umat harus berkaitan. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat lanjutan dari cerita Andar Ismail tentang “Tersembunyi Ujung Jalan.”
Di tengah perasaan tidak pasti itu, ada sebuah lagu di kapel yang membuat saya sering termenung. Lagu itu kami nyanyikan tiap pagi sebagai lagu respons:
Barangsiapa dipanggil Tuhan
Ke dalam pekerjaan-Nya
Akan melihat tanda heran
Yang sudah diadakan-Nya
Dan meski jalan turun naik
Mengaku jalan Tuhan baik
Haleluya, haleluya!
(NR No. 15, kini KJ No. 9)
Sering saya termenung seusai menyanyikan lagu itu. Apa gerangan arti kata-kata itu. Kita akan melihat tanda heran dalam menjalani hidup ini. Jalan ini nantinya turun naik, namun akhirnya akan baik. Itukah yang akan terjadi pada jalan hidup saya? Apakah tanda heran itu? Dalam hal apa jalan saya akan turun? Dalam hal apa naik?
Ketidakpastian memang merisaukan. Karena itu sebagai salah satu reaksinya kadang-kadang kita selalu bersikap,  “Bagaimana nanti saja.” Seringkali orang mengira bahwa ucapan Yesus tentang tidak berkuatir mengandung sikap “Bagaimana nanti saja.”
(Proses penafsiran dimulai)
Sebenarnya ucapan Tuhan Yesus itu sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Coba perhatikan kalimat selengkapnya, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34). Perhatikan kalimat “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”, yang menurut bahasa aslinya (arketon te hemera he kakia autes) bisa juga diterjemahkan menjadi “keburukan untuk sehari adalah cukup” atau “persoalan untuk hari ini pun sudah cukup.” Yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di sini adalah agar kita jangan mencoba mengatasi kesusahan masa depan, melainkan agar kita mengatasi kesusahan masa kini. Kalau persoalan hari ini sudah sulit kita tangani, bagaimana kita mau menangani persoalan hari esok.
Ucapan Yesus tentang jangan berkuatir bukan obat tenang yang menyebabkan kita bersikap santai terhadap persoalan, melainkan justru agar kita menangani persoalan, yaitu persoalan hari ini, bukan persoalan hari esok. Sebabnya adalah karena persoalan hari ini ada dalam jangkauan tangan kita sedangkan persoalan hari depan terletak di luar jangkauan kita. Yesus bertanya, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27).
(proses penafsiran selesai, dilanjutkan dengan aplikasi)
Karena itu kekuatiran tentang hari esok dapat disalurkan secara sehat dalam bentuk tindakan nyata yang dapat dijangkau pada hari ini. Daripada merisaukan apa nanti kita mempunyai uang untuk biaya sekolah, lebih baik mulai hari ini kita mengatur anggaran belanja secara lebih ketat. Daripada menguatirkan kesehatan kita di kemudian hari, lebih baik hari ini kita berolah raga. Daripada bingung kalau-kalau di musim hujan nanti rumah kita terkena banjir, lebih baik hari ini kita mengajak tetangga membersihkan saluran air got. Itulah “kesusahan sehari yang dapat kita atasi.”
Kalau dipikir, ketidakpastian tentang hari depan ada faedahnya, asalkan perasaan tidak pasti itu disalurkan dalam bentuk perbuatan yang konstruktif. Justru karena ketidakpastian itu, maka hari ini kita bekerja keras menyiapkan diri untuk hari esok. Seandainya kita sudah mengetahui hari depan, mungkin kita menjadi pasif. Seandainya dulu saya tahu bahwa saya akan menjadi dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, mungkin saya akan tenang-tenang saja. Tetapi justru karena saya tidak tahu hari depan, maka saya mengambil tindakan-tindakan nyata: mengikuti pelajaran bahasa Inggris tambahan di Seminari Alkitab Asia Tenggara meskipun di Sekolah Teologi Balewijoto ada pelajaran bagasa Inggris, mengikuti kelompok studi bahasa Yunani dan Ibrani, meminjam diktat pedagogik dari mahasiswa IKIP, bangun lebih pagi, membaca lebih banyak buku, menjadi asisten dosen dan malam hari bekerja sebagai penerjemah buku.[16]

2.2.1.3 Klimaks
Pada titik ini, seluruh masalah yang muncul saat pembukaan mencapai puncaknya. Kadang dalam bagian klimaks juga terkandung penyelesaian masalah. Bagian klimaks disajikan pendek saja karena sebelumnya masalah sudah digumuli secara panjang lebar.[17] Berikut ini klimaks dari kisah “Tersembunyi Ujung Jalan.”
Hari depan memang merisaukan, namun juga mengasyikkan. Kita tidak mengetahui apa hari depan atau ujun jalan kita, tetapi sejak sekarang kita sudah dapat “mewarnainya”. Hari depan bukanlah sesuatu yang akan kita hadapi nanti, melainkan sesuatu yang sedang kita ciptakan sekarang. Daripada berkuatir tentang hari depan, lebih baik hari ini kita berbuat sesuatu. Yesus berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya…” (Mat. 6:33). Artinya: tempatkan diri (termasuk: pikiran dan orientasi) kita di bawah pemerintahan atau kehendak Allah, yaitu taati Allah.
2.2.1.4 Penutup
Ketika cerita mencapai klimaks, semua masalah sudah mencapai puncaknya hingga masalah tersebut dapat teratasi. Teratasi bukan berarti suatu cerita harus selalu happy ending. Teratasi maksudnya konflik yang menjadi pusat dari cerita, yang disampaikan pada pembukaan, dapat dijawab sehingga apabila pada akhir cerita timbul situasi yang baru, umat tahu bagaimana bersikap.
Memang ada cerita yang happy ending, tetapi juga ada cerita yang berakhir tanpa masalah terselesaikan misalnya kisah dalam Lukas 15 tentang anak yang hilang. Anak sulungnya tidak mau masuk untuk mengikuti pesta. Di sini timbul situasi baru. Masalah anak bungsu dengan sang bapa telah selesai, kemudian timbul situasi baru masalah antara anak sulung dengan bapa dan adiknya. Oleh karena itu, Tucker memberikan plot cerita yang diakhiri bukan dengan solusi tetapi dengan situasi baru (situation – stress – search – solution – the new situation).[18]
Khotbah memang bukanlah untuk menjawab semua masalah umat. Umatlah yang harus menjawab permasalahan hidupnya sendiri. Khotbah hanyalah menjadi inspirasi/penuntun umat melakukan sesuatu. Oleh karena itu, khotbah dengan bercerita tidak pernah ditutup dengan saran-saran (“jadi kita harus begini…begitu…”). Khotbah naratif selalu memberikan kesempatan umat untuk ikut ambil bagian dalam melakukan refleksi menentukan sikap apa yang seharusnya mereka lakukan apabila menemui masalah seperti yang diceritakan dalam khotbah tersebut.
Ujung jalan memang masih tersembunyi. Justru karena itu kita menaati ajakan Dia yang sedang berjalan di depan kita sambil mengulurkan tangan-Nya, “Mari, ikutlah Aku.” Mungkin lagu ini dapat memantapkan langkah-langkah kaki kita:
Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh;
‘ku dibimbing tangan Tuhan ke neg’ri yang tak ‘ku tahu
Bapa, ajar aku ikut, apa juga maksud-Mu
Tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh
(KJ. No. 416)
Dalam kisah penutup “Tersembunyi Ujung Jalan” di atas kita mendapati bahwa masalah tentang hari depan tidak terselesaikan begitu saja. Umat tidak diajak untuk meyakini bahwa masa depan itu terjamin. Umat justru diperhadapkan kembali pada situasi baru bahwa ujung jalan memang masih tersembunyi namun lagu yang dikutip tersebut seakan ingin mengatakan bahwa walaupun kita tidak tahu masa depan seperti apa, jangan sangsi atau takut. Mantapkan langkah kaki kita untuk berjalan bersama Tuhan sang Empunya masa depan.
Khotbah naratif memang tidak memberikan kesimpulan yang kesannya memaksa pada bagian penutup. Tapi itu bukan berarti umat dibiarkan begitu saja mengambil refleksi secara bebas tanpa arah. Sesungguhnya mulai dari awal hingga akhir, umat diarahkan kepada suatu kesimpulan yang menjadi tujuan dari khotbah tersebut. Seperti kisah orang Samaria yang baik hati yang disampaikan oleh Yesus, pada akhir khotbahnya Yesus tidak membiarkan para pendengarnya begitu saja untukmengambil kesimpulan sendiri-sendiri dari cerita tersebut.[19] Yesus mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.” Yesus memberi kesempatan kepada pendengar-Nya untuk mengambil kesimpulan sendiri, namun sesungguhnya kesimpulan yang mereka ambil merupakan kesimpulan juga yang telah diharapkan oleh Yesus. Dari awal cerita hingga pertanyaan penutup sesungguhnya Yesus telah menanamkan pesan tersebut sehingga ketika cerita berakhir, Yesus berharap pesan itulah yang mereka dapat.
Sesungguhnya ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menutup cerita.
a.       Tutup cerita dengan lagu, doa atau kutipan. Dalam lagu, doa atau kutipan tersebut cerita dari awal sampai akhirnya sebenarnya telah disimpulkan. Seperti pada bagian penutup dari kisah “Tersembunyi Ujung Jalan.”
b.      Tutup cerita dengan pertanyaan retoris. Pertanyaan retoris kurang lebih bersifat sugestif dan tajam.[20] Pendengar dipengaruhi untuk mengambil kesimpulan yang sama seperti yang diingini pengkhotbah. Contohnya seperti pertanyaan Yesus untuk mengakhiri cerita tentang anak yang hilang (Luk 10: 36).
c.       Tutup cerita dengan membahas tema cerita. Tema cerita dibahas secara singkat.
Sayang, kita tidak tahu namanya. Ia adalah penolong yang tak dikenal. Ia menjadi salah seorang dari sekian banyak penolong tak dikenal dalam jalan kehidupan ini. Berbahagialah orang yang menjadi penolong. Berbahagialahorang yang penolong walaupun tak dikenal. (Bagian penutup dari kisah “Penolong tak Dikenal”).[21]
d.      Tutup cerita dengan mengulang kembali kata-kata yang menjadi tekanan dalam cerita, yang sebelumnya juga telah diulang-ulang dalam cerita.
Jalan hidup kita memang dihadapkan pada banyak persimpangan “kalau saja”, namun “tangan gaib” memulihkan arah langkah kita ke arah yang terbaik untuk kita.[22]
e.       Tutup cerita dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada pembukaan cerita.
“Aku memang menyukai Ayu, Beti dan Carla, tetapi itu belum berarti bahwa salah seorang di antara mereka adalah jodohku. Biarlah aku bergaul dengan banyak teman lelaki dan perempuan sambil meyakini bahwa Kristus berjalan bersamaku dan pada waktunya nanti Ia akan memantapkan pertimbanganku.[23]
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)


[1] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education (Nashville: Abingdon, 1987), hal. 9.
[2] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita: Cara Bercerita Efektif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) , hal. 13.
[3] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education, hal. 11.
[4] Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 101
[5]Andar Ismail, Selamat Berteman: 33 Renungan tentang Hubungan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hal. 36.
[6] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 34.
[7] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia: 33 Renungan tentang Kristus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 44.
[8] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 35.
[9] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 36.
[10] Andar Ismail, Selamat Mewaris: 33 Renungan tentang Pusaka Hidup (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 8.
[11] John Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 102.
[12] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia: 33 Renungan tentang Kristus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 99. Kisah “Tersembunyi Ujung Jalan”ini akan diteruskan untuk dibahas pada bagian tubuh cerita.
[13] Andar Ismail, Selamat Mewaris: 33 Renungan tentang Pusaka Hidup, hal. 73.
[14] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education, hal.11.
[15] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita, hal. 15.
[16] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia, hal. 99 – 101.
[17] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita, hal. 16 – 17.
[18] Tucker The Preacher, hal. 33.
[19] Tucker, The Preacher, hal. 83.
[20] Dori Wuwur Hendrikus, Retorika: Terampil Berpidato, Berdiskusi, Beragumentasi, Bernegoisasi (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hal. 118.
[21] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia, hal. 47.
[22] Andar Ismail, Selamat Berpulih: 33 Renungan tentang Pemulihan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hal. 63. Kata “kalau saja”telah diulang-ulang dalam bagian pembuka dan isi.
[23] Ibid., hal. 87. Pada pembukaan cerita Andar memberikan pertanyaan, “Aku sedang bingung dan takut. Siapa yang harus ku pilih? Ayu, Beti atau Carla? Tiga-tiganya cakep, cocok dan cinta. Siapa jodohku? Aku takut salah pilih.”

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (Secara Andragogis)

Mengapa andragogis dan bukan pedagogis? Pertama, kita perlu mengenali secara sekilas apa itu andragogis dan pedagogis. Mengenai konsep tentang naradidik dalam model pedagogik naradidik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung sedangkan dalam model andragogik naradidik memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri. Mengenai pengalaman naradidik, dalam model pedagogik pengalaman yang dimiliki oleh naradidik tidak besar nilainya, mungkin hanya berguna untuk titik awal sedangkan dalam model andragogik pengalaman naradidik begitu dihargai.[1]
Dalam membina jemaat prinsip pendidikan yang harus diterapkan seharusnya adalah andragogik. Artinya bahwa keinginan, pengalaman dan kemampuan umat harus diperhitungkan dan bahwa mereka harus diperhitungkan dengan respek. Umat dilihat sebagai subjek dan kita sebagai pengkhotbah harus mempertimbangkan hal tersebut dalam setiap khotbah kita.[2]
Metode bercerita merupakan metode yang tepat dalam memenuhi kebutuhan tersebut karena dalam cerita terdapat nilai-nilai yang dapat dikembangkan. Pengalaman dan kemampuan umat pun ikut diperhitungkan.
a. Nilai Personal
Igrea Siswanto mengatakan bahwa cerita itu mampu mengembangkan nilai personal apabila pesan yang disampaikan dapat:[3]
-          Memberikan kesenangan dan kenikmatan
-          Mengembangkan imajinasi
-          Memberikan pengalaman yang benar-benar dapat dihayati
-          Mengembangkan pandangan ke arah perilaku manusia
-          Menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang bersifat universal
Kita lihat di sini, melalui cerita umat dibantu untuk mengembangkan dirinya. Pengalaman pribadinya diperhitungkan dan sekaligus juga dibandingkan dengan pengalaman yang lain.
b. Nilai Edukatif/intelektual
Siswanto juga menyebutkan bahwa cerita mengandung nilai edukatif, yaitu:[4]
-          Mengembangkan kemampuan berbahasa
-          Mengembangkan kemampuan membaca
-          Mengembangkan kepekaan terhadap cerita
-          Meningkatkan kemampuan menulis
-          Membantu perkembangan aspek sosial
-          Membantu perkembangan aspek emosional
-          Membantu perkembangan aspek kreativitas
-          Membantu perkembangan aspek kognitif
Siswanto memberikan nilai-nilai tersebut dalam konteks peran cerita bagi anak sehingga ada pembahasan mengenai kemampuan cerita dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, membaca, menulis dan kepekaan terhadap cerita. Namun, walaupun demikian, cerita tetap memiliki nilai edukatif juga bagi orang dewasa, yaitu membantu perkembangan aspek sosial, emosional, kreativitas dan kognitif.
A.L. Simanjuntak mengatakan bahwa semua orang menyukai cerita yang baik. Baik dia kaya atau miskin, berpangkat atau rakyat jelata, orang dewasa ataupun anak-anak, semuanya menyukai cerita. Cerita merupakan alat yang ampuh untuk menyampaikan pengajaran, pesan maupun teguran. Namun demikian, cerita tidak terlepas dari segi inteleknya karena cerita juga berfungsi untuk memberi informasi. Melalui cerita seseorang akan mempelajari hal-hal, situasi, dan tempat-tempat yang belum pernah dijumpai sebelumnya.[5]
c. Nilai Spiritual
Pengaruh yang paling besar dari sebuah cerita terhadap seseorang adalah nilai spiritualnya. Sebagai seorang pendeta/pengkhotbah tentu sering kita memberi nasihat atau ajaran moral yang sifatnya ‘memaksa’ atau seperti yang diungkapkan Andar yaitu menggurui atau mengkhotbahi umatnya lalu berkata. “sebab itu kita pun harus …” Dari perspektif andragogik jelas metode seperti itu tidak mendewasakan umat. Dapat dikatakan bahwa metode itu masih termasuk dalam pedagogi.
Andragogi seharusnya tidak memaksa umat untuk mengambil refleksi spiritual seperti refleksi yang kita inginkan karena hal itu sama saja membuat umat bergantung kepada pendeta/pengkhotbah. Padahal seharusnya secara andragogis umat memiliki kemampuan mengarahkan sendiri, dalam hal ini umat diberi kesempatan untuk merefleksikan sendiri pesan firman Tuhan yang disampaikan. Oleh karena itu, metode bercerita merupakan metode yang sesuai dengan perspektif andragogik karena cerita merupakan salah satu cara untuk mengajarkan suatu hal/pesan kepada orang lain tanpa terkesan memaksa.[6]
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

[1] Tisnowati Tamat, Dari Pedagogik ke Andragogik: Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan (Jakarta: Pustaka Dian, 1985), hal. 20.
[2] Jan Hendriks, Jemaat Vital & Menarik: Membangun Jemaat dengan Menggunakan Metode Lima Faktor (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hal. 50-51.
[3] Igrea Siswanto, Bercerita Itu Gampang: Tips n’ Trik Bikin Cerita Jadi Menarik (Yogyakarta: ANDI, 2008), hal. 8.
[4] Ibid., hal. 8-9
[5] AL. Simanjuntak, Seni Bercerita: Cara Bercerita Efektif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal. 7, 9.
[6] Agus DS, Tips Jitu Mendongeng (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hal. 21.

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (Secara Biblis)

Alkitab kita merupakan buku yang penuh dengan cerita. Jika kita mulai mendaftarkan nama-nama kitab dalam Alkitab yang berisikan penuh dengan cerita maka kita akan mendapatkan beberapa nama yaitu Injil,-injil, Kisah Para Rasul, Lima Kitab Taurat, Buku Sejarah Samuel, Raja-raja, Tawarikh, Ezra-Nehemia, Ester, Rut, Ayub, dan Daniel.[1]
Alkitab memiliki berbagai macam gaya dalam menyampaikan pesan firman Tuhan, salah satunya adalah naratif. Gaya-gaya naratif yang akan kita temui di dalam Alkitab yaitu:[2]
  1. Laporan sederhana: anekdot personal (1 Raj 19:19-21), laporan pertempuran (Yos 7:2-5), catatan tentang pembangunan (1Raj 6 – 7), pengalaman spesial (Kej 40:9 – 11; 16 – 17; Kel 3:2-12), catatan-catatan sejarah (1 Sam 11:1 – 11), dan riwayat hidup (Ezra 7:27 – 9:15; Neh 1: 1- 7:73a).
  2. Narasi kepahlawanan: epik kosmis (Kej 1 – 3, 6 – 9, 10 – 11), epik nenek moyang (Kej 12 – 36)
  3. Cerita-cerita Nabi (1 Raj 17 – 2:9; Dan 1 – 6)
  4. Komedi (Kej 37 – 50)
  5. Injil-injil dan Kisah Para Rasul
  6. Apokalipsis (Daniel dan Wahyu)
Bahkan dapat juga dikatakan Alkitab menggunakan storytelling sebagai model utama dan menengah dalam menyampaikan pesan firman Tuhan. Gerhard von Rad memberikan perhatian dalam tulisan-tulisannya tentang Israel yang telah menggunakan sejarah dan tradisi kenabiannya untuk memberikan makna baru kepada umat dalam keadaan dan setting yang baru, membaca dan menceritakan kembali hidupnya bersama Allah sehingga dapat mempengaruhi iman dan perilaku umat. Menceritakan dan menceritakan kembali cerita tentang Allah yang beperkara dengan umat yang dilakukan terus menerus untuk mempengaruhi para pendengar. Cerita memberikan kita kedalaman belajar karena mereka melibatkan kita pada tingkat perasaan maupun di tingkat pikiran realisasi. Realitas dan wahyu menggabungkan diri dalam kisah-kisah Alkitab, dan dari mereka kita kembali memahami Allah dan memahami diri kita sendiri.[3]
Storytelling selalu menjadi bagian vital dari tradisi Ibrani. Dalam sejarah Ibrani, cerita telah menikmati warisan penghargaan yang tidak terputus sebagai metode pengajaran tertinggi.[4]
Listen my people, mark each word. I begin with a story.
I speak of mysteries welling up from ancient depths,
Heard and known from our elders.
We must not hide this story from our children
But tell the mighty works and all the wonder of God.
. . .
Let future generations learn
And let them grow up to teach their young to trust in God (Ps 78: 1-4, 6-7a TS[5])
“I begin with a story,” kata pemazmur. Mazmur 78 merupakan contoh sebuah lagu maskil atau lagu untuk pengajaran dalam kesalehan. ini adalah salah satu dari beberapa mazmur yang mendorong Israel untuk terus menceritakan kisah Tuhan yang berurusan dengan umat-Nya sehingga mereka tidak terus mengulangi dosa-dosa ayah mereka. Mazmur lain yang menginstruksikan untuk terus menceritakan kisah Allah dan Israel, yaitu Mazmur 105 dan 106. Mazmur ini adalah lagu-lagu pujian dengan pengingat yang kuat “Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya” (Mzm 105: 5) dan pengingat bahwa Allah akan “ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya” (Mzm 105: 8). Lagu dan cerita-cerita ilahi merupakan cara untuk memperbaiki kelupaan. Dan lagu yang menceritakan sebuah kisah adalah yang terbaik dari semua.[6]
Berbicara tentang khotbah naratif maka kita harus turut juga melibatkan perumpamaan. Ketika kita mendengar kata perumpamaan maka kita akan teringat dengan seorang tokoh yang hampir setiap saat ketika Dia bersama dengan orang-orang banyak, dia selalu bercerita kepada mereka. Dia, Yesus, seringkali/hampir dalam setiap pengajaran-Nya menggunakan perumpamaan.[7] Hal tersebut dilakukan karena banyak pendengar pada abad pertama tersebut tidak bisa membaca, sehingga agar mereka dapat mengerti dan mengingat pengajaran yang Yesus hendak sampaikan maka Yesus bercerita. Ceritanya juga tidak panjang agar mudah diingat.[8]
Lalu mengapa untuk berbicara mengenai khotbah naratif kita perlu berbicara tentang perumpamaan? Hal tersebut karena perumpamaan, terutama perumpamaan Yesus, selama ini telah menjadi kiblat bagi khotbah naratif. Pakar khotbah naratif, Eugene L. Lowry, selalu mengaitkan khotbah naratif dengan perumpamaan Yesus. Bahkan dia menulis satu buku khusus yang menjadikan perumpamaan Yesus sebagai design untuk khotbah naratif (How to Preach a Parable: Designs for Narrative Sermons).
Mengajar dengan menggunakan perumpamaan sesungguhnya bukan lah hal baru yang diciptakan oleh Yesus. Perumpamaan sudah menjadi bagian dari tradisi Ibrani. Yesus hanya menggunakan tradisi yang telah ada. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan terlebih dahulu tentang perumpamaan dalam Perjanjian Lama kemudian berangkat menuju ke Perjanjian Baru.
Perumpamaan dalam PB menggunakan kata parabole dan dalam PL kata tersebut setara dengan kata mashal. Hal ini dapat kita ketahui dari penerjemahan kata mashal di dalam Septuaginta menjadi parabole. Hampir semua kata mashal diterjemahkan menjadi parabole di dalam Septuaginta kecuali pengkhotbah 1:17.[9] Mashal memiliki tiga jenis:[10]
1. Merujuk pada kata-kata bijak (proverb) seperti 1 Sam 10:12; Yeh 12:22-23; 16:44, bisa juga merujuk pada pepatah (byword), sindiran (satire), celaan/ejekan (taunt), kata cemoohan (word of derision) seperti Yesaya 14:3-4; Habakuk 2:6; Bilangan 21:27-30; Ulangan 28:37; 1 Raj 9:7; 2 Taw 7:20 dan Maz 44:14, 69:11.
2. Merujuk pada teka-teki (riddles) seperti Maz 78:2, 49:4; Yeh 17:2, Ams 1:6.
3. Terakhir kata ini merujuk pada cerita parabel atau allegori seperti Yeh 24:2-5, 17:2-10, 20:49-21:5 dan Yes 5:1-7, 1 Raj 20:38-43, 2 Sam 14:1-11 dan yang paling terkenal adalah parabel Natan di dalam 2 Sam 12:1-4.
Dalam PB kata parabole merujuk kepada empat jenis:
1. Similitude yaitu cerita yang mengangkat pengalaman umum dari semua orang untuk dijadikan ibarat, contohnya perumpamaan domba yang hilang (Mat 18:12-14; Luk 15:3-7).[11]
2. Parabel yaitu suatu cerita khas yang diciptakan secara khusus untuk menjelaskan suatu hal atau untuk menjawab seorang lawan bicara, tidak mengangkat suatu pengalaman umum contohnya perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32).[12]
3. Allegori yaitu suatu bentuk cerita dalam berbahasa yang hendak menyampaikan suatu kebenaran melalui sejumlah gambar yang dirangkai menjadi suatu cerita, untuk menyatakan berbagai segi dari kebenaran itu sekaligus menyelubunginya bagi orang luar.[13] Jika parabel ditujukan kepada lawan maka allegori ditujukan bagi anggota. Parabel digunakan untuk mendamaikan pertentangan, allegori digunakan untuk menyampaikan pesan yang hanya dimengerti oleh pihak dalam.[14] Contohnya perumpamaan perjamuan kawin (Mat 22:1-14; Luk 14:15-24)
4. Exemplum/ilustrasi yaitu cerita yang menggunakan contoh, misalnya dalam Luk 18:9-14 orang Farisi dan pemungut cukai dijadikan contoh.
Dari keempat jenis ini kita mendapatkan bahwa perumpamaan Yesus lebih banyak porsi ceritanya (story) dibandingkan dengan perumpamaan yang digunakan dalam PL. Apabila dilihat dari ketiga jenis perumpamaan dalam PL maka Yesus lebih mengembangkan perumpamaan-Nya pada jenis ketiga dari mashal, yaitu cerita parabel atau allegori.
Karya: Nuryanto S.Si (Teol)

[1] Hasan Sutanto, Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 233
[2] Roger Standing, Finding the Plot: Preaching in Narrative Style (London, Paternoster, 2004) hal. 37 – 39.
[3] James Earl Massey, Designing the Sermon: Order and Movement in Preaching (Nashville: Abingdon, 1980), hal. 35-36.
[4] Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008) , hal. 91.
[5] Dari The Psalter: A Faithful and Inclusive Rendering from the Hebrew into Contemporary English Poetry, Intended Primarily for Communal Song and Recitation (Chicago: Liturgy Training Publications, 1995) seperti yang dikutip Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008), hal. 91.
[6] Ibid., hal. 91-92.
[7] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. x.
[8] Brian C. Stiller, Preaching Parables to Postmoderns (Minneapolis, Fortress Press, 2009), hal. 10.
[9] Robert H Stein, An Introduction to the Parable of Jesus (Philadelphia: The Westminster Press, 1981), hal. 16.
[10] Ibid., hal. 16 – 18.
[11] Liem Khiem Yang, Mendengarkan Perumpamaan Yesus: Suatu Pedoman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hal. 26.
[12] Ibid.
[13]Ibid., hal. 39.
[14] Eta Linnemann, Parables of Jesus: Introduction and Exposition (London: SPCK, 1982), hal. 7.

Kepiting, Kura-kura, Kristus dan Kita (4K)

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya memeriksa binatang kesayangan saya. Apa itu? Kura-kura. Saya menaruh Kura-kura itu di sebuah stoples. Aneh ya, Kura-kura kok ditaruh di stoples, stoples kan seharusnya tempat untuk menyimpan kue? Yah begitulah saya, bagi saya “tak ada rotan akar pun boleh lah..” Stoples itu saya letakkan di atas meja yang cukup tinggi, sekitar 70-80 cm. Stoples itu tidak tertutup saya biarkan terbuka. Karena saya yakin, tidak mungkin Kura-kura itu bisa memanjat keluar dari stoples. Tapi ternyata? Melebihi apa yang tidak saya perkirakan.
Ketika saya ingin melihat Kura-kura itu, saya dibuat kaget, karena Kura-kura saya yang seharusnya ada dua ekor cuma ada satu ekor. Saya mencari-cari di dalam stoples dan di bawah karang. Oh iya, saya lupa memberi tahu bahwa di dalam stoples itu saya beri batu karang kecil. Yah begini lah gambarnya.
ini dia stoplesnya
Walaupun ada batu karang, saya yakin tidak mungkin Kura-kura itu bisa memanjat ke luar. Tapi kenyataannya sekarang Kura-kura itu tidak ada di dalam stoples atau pun di bawah karang. Lalu saya mulai memeriksa meja tempat stoples itu diletakkan. Seandainya pun kura-kura itu mampu memanjat stoples dia pasti masih ada di sekitar meja. Karena meja itu tingginya 70-80cm. Jadi tidak mungkin Kura-kura itu dapat pergi meninggalkan meja.
Tapi kenyataannya? Kura-kura itu tetap tidak bisa saya temukan di atas meja. Dengan terpaksa saya mulai mencari di bawah meja bahkan seluruh kamar mulai saya telusuri walaupun dalam pikiran saya, saya tidak yakin Kura-kura itu dapat pergi jauh.
Tapi kenyataannya? Kura-kura tersebut saya dapatkan jauh dari meja. Saya mulai berpikir, bagaimana caranya kura-kura itu bisa keluar dari stoples bahkan sampai sejauh itu? Saya pun mulai mengamati perilaku Kura-kura itu. Menakjubkan, saya belajar sesuatu yang bermakna dari sang Kura-kura tersebut.
Selama ini kita belajar bahwa apabila kita menaruh kepiting di dalam baskom yang terbuka tidak perlu khawatir kepiting tersebut kabur. Karena jika ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Begitulah sifat kepiting, rekan-rekan bisa baca kisah lebih lanjutnya di http://ukmbuddha.blogspot.com/2007/11/sifat-kepiting.html. Lalu bagaimana denga Kura-kura? Ternyata sifat kura-kura 180° berbeda dengan kepiting.
Perhatikan gambar di bawah ini:
Bersama merencanakan







Itu lah gambar yang saya dapat ketika mengamati kura-kura saya. 3 kali saya mengamati, 3 kali juga saya mendapatkan hasil yang sama. Kepiting apabila ada temannya yang ingin naik ke atas dia akan menariknya kembali ke bawah sedangkan kura-kura apabila ada temannya yang ingin naik ke atas. Dia akan membopongnya agar temannya tersebut dapat melewati stoples tersebut. Menakjubkan. Dari Kura-kura tersebut saya belajar bahwa hidup itu harus saling membantu dan menopang. Walaupun nantinya kita tidak mendapat apapun? Yah, belajar untuk membantu dengan tulus, tidak mengharapkan imbalan ataupun pahala. Menolong karena rasa cinta kasih, tidak ada yang lain.
Kura-kura saya yang satu, yang bertugas menopang kura-kura yang lainnya untuk keluar dari stoples, tidak dapat ke luar dari stoples sehingga dia tertinggal sendiri di stopless demi menyelamatkan rekannya. Bukankah demikian juga dengan Kristus? Dia tertinggal sendiri di salib hingga akhirnya Dia menyerukan ratapan sang pemazmur “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Tertinggal sendiri demi menyelamatkan kita.
Kura-kura tertinggal sendiri di stoples demi temannya. Kristus tertinggal sendiri di salib demi sahabat-Nya, yaitu kita. Lalu bagaimana dengan kita?
apakah kita lebih memilih untuk bersedih dan tidak bersedia apabila melihat orang lain berhasil, seperti kepiting? ataukah kita lebih memilih untuk bersedia berbahagia melihat orang lain berbahagia, seperti kura-kura?

Atau mungkin tanpa kita sadari, kita seperti kura-kura yang telah berhasil ke luar dari stoples atas bantuan temannya tersebut? setelah temannya bersusah payah menolongnya dia tidak ingat sama sekali dengan rekannya tersebut. dia justru asyik menikmati kebebasannya. mungkin begitulah kita, kita sering ketika orang lain berkorban untuk menolong kita, tidak ada ungkapan syukur yang lahir dari hati kita. ketika Kristus telah menyelamatkan kita, tidak ada bukti ungkapan syukur juga yang kita berikan kepada Kristus seperti cerita 9 orang kusta yang tidak kembali setelah menerima kesembuhan. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Luk 17:17-18.

Jadi, termasuk yang manakah kita?


SELAMAT MEMAKNAI HIDUP
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

Einstein tidak Naik Kelas? Anda Salah

Albert Einstein merupakan salah satu penemu besar yang berhasil menemukan teori yang bernama Relativitas. Akan tetapi kita sering membicarakan tentang Albert Einstein yang sudah menjadi mitos dan kenyataannya tidak seperti itu. Ada 2 mitos yang terjadi:
1. Albert Einstein menerima nobel pada tahun 1921 bukan karena teori Relativitasnya, melainkan oleh teori Efek Fotoelektrik. Efek Fotoelektrik diketemukan karena adanya keanehan pada sifat cahaya. Tumbuhan dan sel-sel solar menggunakan Efek Fotoelektrik ketika mengubah cahaya menjadi listrik. Kenyataannya tiap tahun, tumbuhan mengubah 1.000 miliar ton karbondioksida menjadi 700 miliar ton oksigen dan bahan organik. Lalu bagaimana dengan teori Relativitasnya? pada tahun saat Albert Einstein menerima nobel, teori Relativitasnya masih kontroversial. Teori relativitasnya menggunakan rumus E = m.c2, yang di dalam bukunya yang berjudul, "Does the Inertia of a Body Depend on its Energy Content". Persamaan dari rumus di atas, diketahui bahwa E adalah energi, m adalah massa dan c adalah kecepatan cahaya. Apabila kita mengkonversikan sebuah massa seluruhnya menjadi energi, dari persamaan ini menunjukkan betapa banyaknya energi yang kita peroleh.
2. Einstein tidak pernah tinggal kelas dan bukan orang yang bodoh. Jika kita berpikir secara logika saja, bagaimanakah seorang yang bodoh dapat menemukan beberapa teori yang akhirnya berguna di masyarakat, kecuali jika orang itu memang jenius? Einstein dilahirkan pada tanggal 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman. dia bersekolah pada tahun 1886 pada usia 7 tahun. Pada usia 12 tahun, dia belajar kalkulus (merupakan mata pelajaran yang biasanya dipelajari oleh siswa yang berumur 15 tahun). Ia mendapat nilai yang baik untuk mata pelajaran sains. pada tahun 1895, ia mengikuti ujian masuk Federal Polytechnic School di Zurich. Ia berumur 2 tahun lebih muda dari para pendaftar lainnya. Ia dapat nilai menonjol pada mata pelajaran fisika dan matematika, namun gagal pada mata pelajaran lain, terutama pada mata pelajaran bahasa Perancis. Lalu dia mendaftar di sekolah lokal di Aargau, belajar dengan tekun untuk dapat masuk di Federal Polytechnic School tahun depan. Usahanya tidak sia-sia, tepatnya pada Oktober 1896, ia masuk di sekolah tersebut (pada saat usia 17 tahun, ia lebih muda dibandingkan siswa yang lain). Pada tahun itu juga, ia menuliskan esai yang mengarah pada penelitiannya nanti pada bidang relativitas. Lalu bagaimana mitos ini ada? jawabannya sangat sederhana. Pada tahun 1986, sistem penilaian sekolah saat itu diubah. Nilai "6" yang dulu paling rendah, menjadi paling tinggi. Nilai "1" yang dulu paling tinggi menjadi paling rendah. Nilai Einstein saat itu adalah 4,91. Jika kita mengkonversikan nilai 1-6 menjadi 1-10, maka nilai 4,91 menjadi 8,18. Bukankah nilai ini bagus? Jadi mitos ini sering dipakai oleh siswa yang malas, yang berkelit bahwa orang bodoh saja bisa sukses. Tidak ada satupun orang yang malas yang dapat sukses di dunia. Hanya ada orang yang ingin berusaha yang dapat sukses untuk meraih impian.



Sumber: Dr. Karl Kruszelnicki. Mitos-mitos Besar yang Keliru. Jakarta: BIP.
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar