Pages

Minggu, 30 Maret 2025

TOXIC PREACHING

Toxic Preaching

Kita sering mendengar tentang toxic relationship, tapi apa kita pernah dengar toxic preaching? Begini kira-kira cirinya:

1. Menakut-nakuti dan Menghakimi:
Pengkhotbah sering kali menggunakan rasa takut dan penghakiman untuk mengendalikan pendengarnya, lebih menekankan hukuman dan kutukan ketimbang kasih dan anugerah.

Contoh:
"Jika kamu tidak ke gereja pada hari minggu, kamu malah pergi jalan-jalan, maka Tuhan bisa timpakan bencana padamu dan keluargamu, mau?"

"Jika tidak memberikan persepuluhan, maka Tuhan bisa membuatmu tidak berpenghasilan. Tuhan hanya minta 10%, jangan ambil hak Tuhan."

2. Bahasa Manipulatif:
Mereka mungkin menggunakan bahasa yang bermuatan emosi, mengumbar amarah, atau manipulasi lainnya untuk mendapatkan pengaruh dan kendali.

Contoh:
"Dulu, sebelum saya jadi pendeta, saya pernah memberikan seluruh gaji saya untuk persembahan. Saya tantang kalian, apa kalian bisa? Bisa kalo punya iman. 

Saya tidak setuju pendeta yang dengan bangga menceritakan kegiatan gerejanya membantu orang miskin di luar gereja. Tapi teman-teman sesama pendeta yang kekurangan tidak diperhatikan.

Dalam 2 Kor 8:1-4, jemaat Makedonia yang sangat miskin memberi persembahan lebih dari yang mereka mampu. Mereka berkorban demi kesejahteraan para pelayan Tuhan, walaupun mereka sangat miskin"

3. Membungkam Perbedaan Pendapat dan Kritik:
Pengkhotbah tidak suka dengan perbedaan tafsir atau terjemahan, dan mereka akan menghambat atau bahkan membungkam setiap orang yang mengkritik atau mempertanyakan ajaran mereka.

Contoh:
"Ajaran saya sudah sesuai alkitab. Ada ayatnya jelas. Jika kamu ga percaya dengan ayat yang saya kutip, robek saja bagian ayat itu. Berani?"

4. Fokus pada Kekuasaan dan Kontrol:
Mereka mengutamakan kekuasaan dan kendali mereka sendiri dalam gereja atau masyarakat, sering kali dengan mengorbankan kesejahteraan orang lain.

Contoh:
"Pendeta adalah wakil Tuhan di gereja, mereka harus dihormati dua kali lipat. Seperti tertulis di 1 Timotius 5:17."

5. Pemilihan ayat secara selektif:
Mereka mungkin secara selektif menafsirkan atau memutarbalikkan ayat-ayat alkitab untuk mendukung agenda atau keyakinan mereka sendiri.
Mereka juga mengkhotbahkan suatu gagasan pemikiran yang salah dari suatu teks tanpa benar-benar mengkhotbahkan teks tersebut. Mereka hanya mengambil satu ayat lalu mengkhotbahkan ayat tersebut keluar dari konteks, jangankan konteks sejarah, konteks narasinya pun mereka tidak perhatikan dengan benar. 

Contoh:
"Di dalam Yohanes 14:2 terjemahan KJV ditulis In my Father's house are many mansions. Bukan rumah, tapi mansion, rumah itu kecil, mansion itu besar. Jadi Tuhan sudah menyediakan kita tempat yang besar dan mewah."


6. Fokus pada Aturan dan Hukum:
Pengkhotbah berfokus pada aturan dan hukum ketimbang pada pesan kasih dan kasih karunia.

Contoh:
"Alkitab memperbolehkan orangtua menghajar anak demi kebaikan. Bahkan ulangan 21:21 memperbolehkan anak tersebut dilempari batu jika setelah dihajar masih tidak mau dengar perkataan orangtua."

7. Perilaku Abusif Secara Emosional:
Pendeta mungkin terlibat dalam perilaku kasar secara emosional seperti gaslighting (membuat umat meragukan realitas, pikiran, dan ingatan mereka, sehingga korban mulai tidak percaya diri dan mempertanyakan kebenarannya), atau mengisolasi individu.

Contoh:
"Kalian mungkin sering dengar khotbah di youtube yang menyatakan persepuluhan itu sudah tidak wajib. Lalu kalian percaya mereka? Gembala kalian siapa? Mudah sekali disesatkan oleh gembala-gembala palsu. Ibrani 13:9 mengatakan janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing."

Begitulah kira-kira ciri-ciri yang bisa saya berikan. Kalian juga bisa menambahkan hal lainnya yang masuk dalam kategori "toxic." Jika toxic relationship harus ditinggalkan, maka kita juga boleh loh meninggalkan toxic preaching. Sesuatu yang toxic sungguh tidak baik bagi kesehatan mental dan spiritualitas kita. 

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
Di STF Driyarkara 

Rabu, 26 Maret 2025

YESUS DI PLANET LAIN

YESUS DI PLANET LAIN

Allah di dalam kekristenan berinkarnasi di bumi sebagai Yesus. Namun kekristenan percaya bahwa Allah bukan hanya Tuhan atas bumi, tapi juga Tuhan atas seluruh semesta. Itu artinya, jika di bumi Allah berinkarnasi sebagai Yesus untuk menyelamatkan manusia maka di planet lain mungkin saja Dia juga berinkarnasi menjadi makhluk yang ada di planet lain untuk menyelamatkan mereka dari dosa mereka. Yang bisa melakukan dosa dan butuh keselamatan bukan hanya manusia di bumi kan?

Sedang bertanya-tanya, di planet lain, nama Allah yang berinkarnasi itu siapa yah? Dan matinya diapakan yah? Ga mungkin disalib juga kan? Salib kan hukuman di bumi pada zaman Yesus hidup.

Jika kalian marah dan menganggap saya sedang menghina Tuhan, bukankah itu artinya kalian beranggapan bahwa Allah hanya terbatas di bumi dan tidak mewujudkan diri-Nya kepada makhluk di planet lain? Bukankah itu artinya Allah kita hanyalah Tuhan atas bumi? Bagi saya, Allah itu Mahakuasa, kekuasaan-Nya jauh lebih besar dari bumi yang sangat kecil ini. 

Bahkan gambar Yesus di bumi saja ada banyak versinya (lihat gambar 1), maka sudah pasti di planet lain wujud Allah yang berinkarnasi pun pasti berbeda. Mungkin saya seperti gambar 2. Entah seperti apapun wujud-Nya, saya yakin Allah juga pasti berkuasa atas planet lain dan juga berkorban untuk makhluk di planet lain, karena Dia mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Tidak hanya manusia di bumi. 

Gambar 1

Gambar 2 (Saya minta meta AI untuk berimajinasi, dia memberikan beberapa gambar, dan saya paling suka yang ini)

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
Di STF Driyarkara
Dan pendeta di salah satu gereja kecil di jakarta. 

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar