Pages

Selasa, 14 November 2023

BERONTAK DARI TUHAN

BERONTAK DARI TUHAN

Jika Tuhan tahu seluruh jalan kehidupan kita termasuk masa depan kita, lalu apa alasannya akan mengabulkan doa kita ketika kita kesulitan? Bukankah dia tahu bahwa semua kesulitan yang sedang kita hadapi akan membentuk kita menjadi 'sosok' tertentu di masa depan.

Misal drakor yang sedang tayang "Twinkling Watermelon" menceritakan 2 orang anak yang kembali ke masa lalu untuk mengubah nasib orang tuanya. Mereka tahu apa yang akan terjadi pada orang tuanya di masa depan. Namun apa yang mereka lakukan di masa lalu akan mengubah banyak hal di masa depan, termasuk eksistensi mereka. Banyak series dan movie dengan ide seperti ini.

Jadi, sama seperti konsep di series tersebut, Tuhan juga pasti tahu apa yang akan terjadi dengan kita di masa depan. Masalah apa yang akan kita hadapi di masa kini dan efeknya bagi masa depan kita. Jika Tuhan campur tangan membantu kita, bukankah itu artinya Tuhan akan mengubah masa depan? Anggap saja timelinenya tunggal, tidak bercabang atau multiverse.

Dari sini, konsep deisme tampaknya cocok karena Tuhan hanya bertugas menciptakan dunia beserta sistemnya, lalu pergi meninggalkan dunia berjalan sesuai sistemnya tanpa perlu ikut campur lagi. Doa-doa yang kita ucapkan tampak seperti egoisme manusia untuk mengubah alam seperti yang mereka inginkan.
 
Tapi jika memang dunia hanya berjalan seperti itu, bukankah kita hanya seperti boneka yang diatur untuk bermain seperti program yang sudah disediakan? Kita harus berontak kan? Kita harus bertanggungjawab terhadap takdir kita sendiri kan?

Sama seperti seorang anak yang berontak terhadap orang tuanya yang diktator, "Ini hidupku, biar aku sendiri yang menentukan."

Sudah lama Tuhan bermain-main dengan takdir kita sambil menonton santai dari sudut yang tak dapat dikenali. Sudah lama juga para kaki tangan Tuhan (sebut saja rohaniawan), bermain-main dengan kutipan-kutipan ucapan Tuhan untuk mengendalikan kehidupan kita, kan? Atau hanya sekadar membawa kita kabur dari realitas dunia yang sedang kita hadapi (eskapisme).

Ide-ide perlawanan ini sebenarnya sudah banyak bisa kita temui dalam series, movie, komik mau pun novel. Namun sayangnya masih minor, karena pemberontakan ini dianggap sebagai kesesatan dan perlawanan terhadap agama.
 
Jadi, saya sudahi dulu tulisan saya sampai di sini, sebelum dianggap sebagai 'penyesat'.

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

KRISTEN TIDAK MAKAN BABI

 Percakapan antara 2 orang sahabat yang berbeda agama

Sahabat non kristen: Kalian orang Kristen aneh, kitab suci dilanggar, malah ngikutin Paulus. Paulus itu udah ngubah-ngubah ajaran Tuhan yang murni.
Sahabat Kristen: Misalnya apa yang ga kita ikuti karena Paulus?
Sahabat non Kristen: Misalnya kalian kan dilarang makan babi, di taurat kalian jelas dilarang loh. Tapi gara-gara ngikutin injil ciptaan paulus yang udh diubah-ubah sama pendeta kalian, malah jadi menghalalkan babi.
Sahabat Kristen: Jadi harusnya aku ngikutin taurat aja?
Sahabat non kristen: Iya dong, kitab itu sama dengan kitab di agamaku. Yah, kalo mau lebih benar lagi sih, ngikutin kitab agamaku.
Sahabat Kristen: jadi kamu mau aku masuk agamamu?
Sahabat non Kristen: Yah itu yang terbaik sih.
Sahabat Kristen: Berarti aku harus bunuh kamu.
Sahabat non Kristen: Loh kok gitu?
Sahabat Kristen: Karena kata taurat, yang menurut kamu ga ditulis oleh paulus dan diubah-ubah sama pendeta, mereka yang membujuk orang lain untuk pindah ke agamanya harus dibunuh. Begini bunyinya.
"Apabila sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, ....... maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia!" (Ul 13:6-9)
Sahabat Kristen: Aku harus ngikutin taurat itu kan? Sama seperti aku harus mengikuti perintah ga boleh makan babi kan? Kamu yakin kan?

YUDAS DAN OEDIPUS: USAHA MEMBERONTAK DARI TAKDIR ALLAH

 YUDAS DAN OEDIPUS: USAHA MEMBERONTAK DARI TAKDIR ALLAH


Dalam kekristenan, Yudas sangat dibenci karena dianggap sebagai pengkhianat yang menjual Tuhannya sendiri. Walaupun sebenarnya dia hanya menjalankan takdir yang sudah dituliskan untuknya, namun orang Kristen pasti akan menjawab dengan mengutip ayat, "Anak manusia memang akan pergi sesuai dengan ada yang tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Matius 26:24). Yudas yang hanya menjalankan takdirnya itu pun akhirnya dibenci hingga hari ini.
Di sisi lain, ada aliran kekristenan yang menganggap Yudas sebagai pahlawan karena membebaskan Yesus dari penjara tubuh. Aliran kekristenan ini dikenal sebagai kristen gnostik. Kita bisa melihat kepahlawanan Yudas di Injil Yudas, jangan cari di kitabmu, tentu saja tidak akan ada.
Jadi ada 2 kutub pendapat tentang Yudas, ada yang membenci dan mengutuknya tapi ada juga yang memujanya. Tapi saya menemukan satu tafsiran menarik dari Romo Yosef, dalam disertasinya tentang "Post colonialism Biblical Criticism in John's Passion Narrative."
Romo Yosef menafsirkan bahwa Yudas menyerahkan Yesus bukan karena berkhianat (seperti pandangan kristen tradisional) atau bukan juga karena ingin menjadi pahlawan (seperti pandangan kristen gnostik).

Romo Yosef menjelaskan bahwa Yudas menyerahkan Yesus karena takut Yesus akan melakukan pemberontakan di hari Paska. Yesus pernah ngamuk di bait Allah (Matius 21:12-13), hal itu membuat Yudas yakin bahwa Yesus juga akan memimpin pemberontakan pada hari Paska yang akan segera datang. Mengapa pemberontakan di hari paska menakutkan? Karena orang Yahudi datang dari seluruh penjuru dunia untuk merayakan paska. Jika Yesus melakukan pemberontakan, maka seluruh rakyat Israel akan bergerak dan ini jelas akan merugikan para imam.

Yudas tahu bahwa dia ditakdirkan untuk menyerahkan Yesus (Matius 26:17-25). Namun Yudas tidak mau mengikuti takdir itu, lalu apa yang harus dilakukan? Membuat rencana. Dalam rencananya, Yesus akan diserahkan kepada Imam-imam kepala (Mat 26:14-16), Yesus akan diadili dan dibebaskan karena tidak ditemui sama sekali kesalahan pada diri-Nya.

Rencana ini akan membuat Yesus ditangkap sementara, pemberontakan tidak akan terjadi dan Yudas terbebas dari takdir sebagai pengkhianat. Namun sayangnya, dia tidak mengira bahwa para imam akan bekerjasama dengan para penjajah. Hal yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, bangsa terjajah bekerjasama dengan para penjajah. Yesus dibawa ke Pilatus, diadili dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Yudas menyadari rencananya gagal dan membuat Yesus justru mendapatkan hukuman mati. Dia akhirnya menyesal, mengembalikan uang yang diberikan oleh para imam, lalu gantung diri sebagai bentuk penyesalan dan protes terhadap takdir yang ingin dia ubah namun tidak dapat diubah. (Mat 27:3-5).

Begitulah tafsiran Romo Yosef yang telah saya sesuaikan. Mengapa disesuaikan? Karena dalam tafsiran aslinya Romo Yosef melakukan harmonisasi antara beberapa kisah Yudas dalam injil-injil sinoptik untuk menguatkan tafsirannya dalam kitab Yohanes. Tapi karena saya dibesarkan dalam tradisi tafsir yang 'alergi' dengan harmonisasi injil, maka saya memilih untuk fokus pada kitab Matius saja.

Oke kembali lagi pada konsep pemberontakan Yudas, tafsiran ini menjadi menarik karena dilihat dari sudut pandang pemberontakan Yudas untuk keluar dari takdir yang tidak mau dia lakukan. Hal ini mirip dengan kisah Oedipus (yang menjadi cikal bakal istilah Oedipus Complex).

Ayah Oedipus, Raja Laius dari Thebes, mendapat ramalan bahwa anaknya, Oedipus, akan membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Untuk menghindar (berontak) dari takdir tersebut, Raja membuang Oedipus yang masih bayi. Namun sayang seribu kali sayang, ternyata Oedipus dewasa tetap membunuh ayahnya dan menikahi ibunya.

Oedipus akhirnya mengetahui bahwa yang dia bunuh adalah ayah kandungnya dan yang dia nikahi adalah ibunya sendiri. Oedipus merasa terpukul. Dia menusuk matanya sendiri sebagai tanda penyesalan dan menolak melihat kebenaran lagi. Oedipus diusir dari Thebes dan hidup sebagai pengemis yang buta.

Kisah Yudas dan Oedipus sebagai kisah pemberontakan terhadap takdir Tuhan. Walau berakhir dengan akhir yang mengenaskan (bunuh diri dan menusuk mata), setidaknya usaha itu menjadi catatan bahwa ada orang-orang yang dengan berani berontak terhadap takdir Tuhan. Ada orang-orang yang berusaha berteriak "Stop, aku tidak mau jadi boneka-Mu."

*Nuryanto, Mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Minggu, 13 Mei 2018

APAKAH TERORIS BERAGAMA?

APAKAH TERORIS BERAGAMA?

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya sadar bahwa tulisan ini sensitif untuk beberapa orang. Oleh karena itu saya perlu menekankan beberapa hal:
1. Baca tulisan ini sampai habis, jangan setengah-setengah
2. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang atau menyalahkan agama manapun tapi untuk mengajak kita memerangi terorisme bersama-sama. Kita punya kewajiban yang sama untuk menjaga kedamaian di Indonesia, jadi kita juga punya kewajiban yang sama untuk mencegah semakin berkembang biaknya teroris di bumi Indonesia
3. Sebisa mungkin saya tidak akan menyebut agama lain dalam tulisan ini, selain agama saya sendiri yaitu Kristen. Hal ini saya lakukan demi mengurangi kesalahpahaman yang bisa timbul.

Oke mari kita mulai.

Pertama, apakah kita setuju bahwa dalam setiap agama pasti ada umat yang melakukan tindakan kriminal? Misal di dalam Kristen pasti ada umatnya yang mencuri, membunuh, memperkosa, merampok dan tindakan-tindakan kriminal lainnya. Saya pernah melayani khotbah di rutan Kalimantan tengah selama 2 bulan dan beberapa kali melakukan pelayanan kesehatan di Nusa kambangan, di sana saya bertemu dengan banyak narapidana yang beragama, bahkan yang beragama Kristen juga banyak. Jadi, para kriminal itu tidak bisa kita menutup mata bahwa mereka beragama. Jika kita mengatakan bahwa teroris tidak punya agama, maka pembunuh, pencuri, pemerkosa, dan perampok juga harus kita katakan bahwa mereka tidak beragama. Karena terorisme dan perampokan sama-sama tindakan kriminal. Kita memang tidak menyalahkan agamanya karena agama tidak bisa salah (menurut para pengikutnya masing-masing) tapi umat beragama bisa salah. Yang kita kritik adalah umat beragama yang salah itu, bukan agamanya.

Kedua, berbeda dengan tindakan kriminal lainnya, terorisme ada yang lahir karena ajaran agama yang menyimpang. Kita juga tidak bisa menutup mata akan hal ini. Mereka lahir hasil dari cuci otak para pengkhotbah yang memiliki idealisme menyimpang dan penuh kebencian kepada orang lain yang berbeda. Memang, ada juga teroris yang lahir karena dibayar, tapi jika sampai siap mati dan meledakkan diri apalagi sampai satu keluarga, maka tidak mungkinlah ini karena uang. Pasti ada keyakinan yang diperjuangkannya sehingga dia siap untuk mati. Dalam sejarah, kita akan menemukan banyak umat beragama yang siap mati demi keyakinannya. Dari yang siap mati demi pemahaman yang positif hingga pemahaman negatif. Misal dalam kekristenan ada istilah martir, yaitu mereka yang rela mati demi mempertahankan imannya. Martir tidak bisa disamakan dengan teroris, tetapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa keyakinan iman, bisa membuat kita siap mati. Hal ini, dipakai oleh para pengkhotbah teror untuk mencuci otak para pengikutnya.

Ketiga, teroris adalah pion yang siap dikorbankan untuk kepentingan sekuler bukan rohani. Teroris pastilah digerakkan oleh sesuatu yang sekuler untuk mencapai kepentingan mereka. Para teroris ini merasa bahwa mereka sedang memperjuangkan agama mereka padahal mereka diperalat oleh orang-orang jahat.

Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai umat beragama?
1. Membuka diri bahwa pemuka agama bukan Tuhan, mereka bisa salah. Itulah kenapa kita harus kritis dengan semua ajaran yang sifatnya menebarkan kebencian. Jangan ditelan bulat-bulat.
2. Cek kebenaran ajaran yang disampaikan pemuka agama yang tampaknya meragukan. Bagaimana cara ngeceknya? Tanyakan kepada pemuka agama kita yang lainnya apakah ayat yang dimaksud memang seperti itu. Baca buku-buku dari kalangan akademisi, bukan hanya buku renungan. Karena buku-buku akademis, ditulis dengan kaidah-kaidah ilmiah yang kritis dan lebih bisa dipertanggungjawabkan
3. Jika ada pemuka agama yang menebarkan kebencian apalagi sampai menyuruh kita membunuh, maka tegurlah dia. Apabila masih tidak mempan, rekam video khotbahnya dan laporkan kepada yang berwajib.
4. Jangan mudah terprovokasi untuk langsung menyalahkan agama tertentu. Ingatlah bahwa yang salah adalah individu atau kelompok yang kebetulan agamanya sama dengan teman kita tapi bukan berarti semua penganut agama itu adalah teroris. Misal, ada perampok beragama Kristen maka bukan berarti agama Kristen adalah agama perampok.

Mari jaga Indonesia ini bersama-sama. Mari lawan teroris bersama-sama.

Sabtu, 07 April 2018

HATI-HATI SANDIWARA KAMPANYE

HATI-HATI SANDIWARA KAMPANYE

Korupsi, kesenjangan sosial, aset dikuasai asing dari dulu sudah begitu ga ada yang baru. Itu kan kampanye dari tahun ke tahun. Tapi setelah selesai, ga ada yang bisa menyelesaikan ini.
Apa masalahnya?
1. Tersandera kejahatan jabatan masa lalu (zaman orde baru, undang-undang bisa dipesan sesuai kebutuhan). Misalnya Freeport, mereka punya dokumen yang membuat mereka kuat secara hukum (undang-undang tahun 91). Setiap 10 tahun sekali mereka diperpanjang. Tidak ada satu pun presiden yang mampu menyelesaikan.
2. Moralitas kita bobrok. Setiap periode baru, muncul penjahat-penjahat baru.

Di atas adalah parafrase dari penjelasan Pak Mahfud MD.

Tanpa mengetahui semua ini, rakyat hanya jadi korban sandiwara kampanye. Setiap pendukung diberikan harapan setinggi-tingginya sehingga mengkultuskan tokoh politik tertentu, setelah itu mereka saling dibenturkan dengan pendukung lain. Alhasil, kampanye telah selesai, kebencian masih berlanjut. Padahal para elit politik sudah saling berpelukan dan berganti pasangan politik, tapi kita masih jotos-jotosan.

Mari cerdaslah melihat setiap kampanye yang akan datang. Apalagi yang sudah bawa-bawa agama. Jangan sampai kita jadi korban kebencian berikutnya.

Selasa, 27 Februari 2018

Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa

Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa

1. Doa bukanlah mantra pengabul keinginan melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam usaha menggapai yang kita inginkan.
2. Doa bukanlah mantra penyelesai masalah melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam menyelesaikan masalah kita.
3. Doa bukan hanya berisi daftar permintaan tetapi tetapi juga ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan
4. Doa bukanlah sesuatu yang tidak boleh diajarkan melainkan justru harus diajarkan. Bukankah murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes juga meminta gurunya mengajarkan mereka berdoa. Yesus dan Yohanes juga mengajarkan murid-murid mereka berdoa (Luk 11:1).
5. Berdoa dengan mata tertutup, kepala tertunduk dan tangan dilipat bukanlah satu-satunya cara berdoa. Ada banyak cara dalam berdoa. Ada yang sambil menangis tersedu-sedu (1 Sam 1:10; Ezr 10:1). Ada yang sambil menghadap dinding atau kiblat tertentu (1Raj 8:44; 2Raj 20:2). Ada yang sambil mengenakan kain kabung dan abu (Dan 9:3). Ada yang sambil menengadahkan tangannya ke langit ( Yes 1:15). Ada yang sambil berlutut dan sujud (Mat 26: 39; Luk 22:41; Kis 9:40, 20:36, 21:5; Kej 24:26,28). Ada yang sampai tersungkur atau merebahkan diri ke tanah (Kej 24:52; Mrk 14:35, Markus menggunakan kata πιπτω / pipto oleh LAI diterjemahkan dengan “merebahkan” padahal dalam arti sesungguhnya dapat juga diartikan sebagai tersungkur atau suduh/merebahkan diri sampai mencium tanah) dan masih ada yang lainnya.
6. Berdoa tidak selalu harus dalam keadaan diam (berhenti) dengan mata tertutup, dalam keadaan apapun (berjalan, menyeberang, di dalam bus atau yang lain) kita dapat tetap berdoa dengan mata tetap terbuka. Doa bukan soal mata tertutup atau terbuka tetapi soal fokus kepada siapa kita berbicara. Menutup mata hanyalah cara agar dapat fokus.

Kamis, 18 Januari 2018

MASIH BANYAK ORANG BAIK DI SOSMED

MASIH BANYAK ORANG BAIK DI SOSMED

Katanya orang baik mulai langka di negara ini. Sesungguhnya orang baik masih banyak kok. Apalagi di sosmed. Mereka hanya sembunyi. Mau tahu ga cara supaya mereka muncul?

Buatlah kesalahan, kebodohan atau hal-hal buruk lainnya maka mereka akan segera muncul. Entah mengkhotbahi kamu atau menghakimimu.

Kamu akan lihat bahwa orang baik itu tidak hanya ada 10 tapi ratusan. Apalagi jika kesalahan kamu dibagikan ke mana-mana maka puluhan ribu sampai jutaan orang baik akan segera muncul.

Tapi kalo kamu berbuat kebaikan, orang baik itu tidak akan muncul. Mereka tidak akan memujimu atau mendukungmu. Mereka akan bersembunyi sampai kamu melakukan kesalahan kembali.

KRITIK, PERLU KAH?

KRITIK, PERLU KAH?

Kata “kritik” sering disalahartikan sama seperti kata mitos dan mistis.
Mitos sering diartikan sebagai cerita bohong-bohongan, padahal mitos adalah cara suatu masyarakat untuk menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Mitos digunakan saat pendekatan rasio dan sains belum lumrah dipakai. Mitos digunakan untuk menjelaskan hal-hal adikodrati. Itulah kenapa di kitab suci banyak sekali mitos tapi bukan dalam arti cerita bohong-bohongan.
Kata mistis sering diterjemahkan sebagai hal menyeramkan yang berhubungan dengan dunia horor. Padahal mistis adalah usaha untuk menyatu dengan Tuhan. Itulah kenapa orang-orang yang melakukannya disebut mistikus.
Nah, kritik juga sering disalahartikan sebagai celaan, menjelek-jelekkan. Padahal kritik merupakan hal positif yang telah membawa banyak hal positif bagi dunia ini.
Apakah ada kritik yang membangun? Jelas saja kritik seharusnya membangun. Tanpa ada kritik feminisme maka perempuan akan terus berada di dapur, tidak ada wanita karir apalagi pendeta perempuan. Tanpa kritik humaniora maka perbudakan tetap ada. Tanpa banyaknya kritik dalam dunia sains, maka teknologi tidak akan berkembang seperti sekarang. Tanpa adanya kritik dalam dunia tafsir kitab suci, maka dengan mudahnya kita akan didoktrin oleh para pemuka agama agar percaya dengan semua ucapannya, yang penting ada ayatnya.

Saya sering ketemu dengan pendeta yang suka bilang begini, "Alkitab itu jangan dikritik-kritik. Apa yang tertulis di sana, cukup dipahami, ikuti dan imani."

Membaca kitab suci tanpa kritik adalah hal mustahil. Bahkan yang katanya baca dan ikuti saja seperti yang tertulis, sudah melakukan 3 kritik terhadap kitab suci, yaitu kritik tanggapan pembaca (reader-response), kritik naratif, dan kritik tatabahasa. Untuk mengenal ragam kritik terhadap kitab suci, bisa baca di sini http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/search?q=metode+kritik

Lalu sebenarnya, apa sih kritik itu?

Sebenarnya, akan panjang sekali pembahasan ini. Mereka yang sudah kuliah, biasanya pernah mendapatkan materi ini. Apalagi yang kuliah filsafat dan teologi seperti saya. Oleh karena itu biar tulisan ini tidak terlampau panjang, saya batasi saja pembahasan kritik ini menurut beberapa aliran filsafat.
1. Kritik dalam pengertian Kantian (Imanuel Kant dan para pengikutnya) berarti kegiatan menguji sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka dan kegiatan ini dlakukan oleh rasio belaka.
2. Kritik dalam pengertian Hegelian (Hegel dan para pengikutnya), berarti refleksi atau proses menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran. Secara singkat, kritik berarti negasi atau dialektika karena bagi Hegel kesadaran timbul melalui rintangan-rintangan, yaitu dengan cara menegasi atau mengingkari rintangan-rintangan itu.
3. Kritik dalam pengertian Marxian (Karl Marx dan para pengikutnya), berarti usaha-usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat.
4. Kritik dalam pengertian Freudian (Sigmund Freud dan para pengikutnya), berarti refleksi, baik dari pihak individu maupun masyarakat, atas konflik-konflik psikis yang menghasilkan represi dan ketidakbebasan internal sehingga dengan cara refleksi itu masyarakat dan individu dapat membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan asing yang mengacaukan kesadarannya. Dengan singkat, kritik dapat diartikan sebagai pembebasan individu dari irrasionalitas menjadi rasional, dari ketidaksadaran menjadi sadar.

Kita bisa melihat bahwa dari 4 definisi di atas, kritik adalah suatu yang penting bagi perkembangan individu dan kelompok. Dengan kritik kita semakin sadar akan sesuatu yang belum kita sadari, entah itu kelebihan maupun kekurangan.

Lalu mengapa kritik seringkali dianggap buruk? Saya menemukan setidaknya beberapa alasan:
1. Sang pemberi kritik tidak berilmu. Alih-alih menyampaikan kritikan, dia malah justru menyampaikan hinaan. Seorang kritikus haruslah berilmu. Dia menguasai bidang yang akan dikritiknya. Di dalam kritikannya banyak ilmu yang bisa diambil, bukan malah kebencian. Itulah kenapa ga sembarang orang bisa memberi kritik. Jika membacot, semua orang bisa.
2. Banyaknya orang-orang anti kritik dan baperan. Kritik adalah musuh terberatnya kenyamanan. Mereka yang sudah nyaman akan sesuatu, tidak suka dikritik. Sehingga kritik yang datang dianggap hal buruk.
3. Orang ketiga, yang sok bijak, ga tahu permasalahan antara kritikus dan yang dikritik, tiba-tiba masuk dan berkhotbah, "Daripada mengkritik lebih baik saling memahami." Padahal jika dilihat dari 4 definisi di atas, kritik adalah juga usaha untuk memahami dan menggali kesadaran. Orang-orang sok bijak ini memang seringkali membuat kritik menjadi tampak buruk. Waktu masih aktif di gereja, saya seringkali ketemu dengan orang-orang semacam ini. Bukan hanya di gereja. di segala macam bidang, orang-orang seperti ini juga akan kita temui.

Nah demikian yang bisa saya bagikan. Akhir kata, kritik itu bukan soal seberapa kejam tapi seberapa tajam ulasan kita terhadap sesuatu yang sedang kita kritik. Itulah kenapa, butuh ilmu.

Jumat, 22 Desember 2017

SURGA ADALAH HUKUMAN

SURGA ADALAH HUKUMAN

Dalam film dan komik, hidup abadi ternyata bukanlah sebuah anugrah, tetapi hukuman. Ratusan tahun kita hidup tanpa mati. Satu persatu orang yang kita sayang menua dan pergi meninggalkan kita. Walau kita akan menemukan orang yang baru setiap abadnya, namun pasti akan ada orang yang benar-benar kita sayang dan tidak tergantikan. Hidup ratusan tahun tanpa orang yang kita cintai, ternyata akan menjadi hukuman paling menyakitkan.

Begitu juga saat kita masuk surga, namun tidak ada keluarga kita di sana. Kita lalui kehidupan penuh kebahagian di surga dalam waktu yang sangattttttt panjang tanpa orang-orang yang kita kasihi ada di sana. Menurut saya, itu bukanlah sebuah anugrah melainkan hukuman.

Kenapa keluarga kita bisa tidak ada di surga?
1. Karena mereka berbeda agama dengan kita. Setiap agama mengajarkan bahwa hanya agamanya yang bisa membawa ke surga, yang lain tidak. Akhirnya anggota keluarga yang satu berusaha mengajak anggota keluarganya yang lain untuk menjadi satu agama dengannya. Akhirnya terjadi tarik-tarikan. Jika ada anggota keluarga yang akhirnya tak seagama dengan kita biasanya kita akan disalahkan oleh teman atau saudara yang seagama dengan kita, "Kok kamu tega sih adik kamu masuk agama itu? Nanti dia ga masuk surga loh."
2. Dia seagama tapi tidak sealiran. Di kristen misalnya jika kita tidak dibaptis selam maka kita tidak masuk surga. Jika tidak berada dalam ajaran aliran tertentu maka kita tidak masuk surga. Aliran lain sesat dan hanya aliran kita yang benar.

Yah, mungkin kita akan kesepian di surga.

Rabu, 06 Desember 2017

Dalih, "Untuk mereka yang membutuhkan".

Dalih, "Untuk mereka yang membutuhkan".

Masih ingat kasus karangan bunga yang dikirimkan untuk Ahok? Yang jumlahnya luar biasa itu loh... Banyak yang mengkritik kiriman bunga tersebut sebagai pemborosan uang. Daripada uangnya untuk bunga yang jadi sampah, lebih baik "untuk mereka yang membutuhkan."

Mendengar kritikan itu, para pendukung Ahok pun membela dengan berbagai alasan.

Lalu saat reuni 212 kemarin, timbul lagi dalih yang sama. Daripada uangnya untuk kumpul-kumpul seperti itu, lebih baik "untuk mereka yang membutuhkan."

Dulu juga ada seorang perempuan yang meminyaki kaki seorang Guru yang sangat bijaksana dengan minyak yang sangat mahal. Lalu dia diprotes oleh murid-murid si Guru karena dianggap pemborosan. Seharusnya uang itu bisa "untuk mereka yang membutuhkan."

Dalih, "untuk mereka yang membutuhkan" seringkali lahir bukan karena rasa iba kepada mereka yang membutuhkan tapi untuk menyalahkan mereka yang berbeda dengan kita (yang mengganggu kenyamanan atau keinginan kita). Memang selain agama, barang dagangan yang paling laku adalah kemanusiaan.

Oleh karena itu, saya akan mengutip dua kalimat menarik dari dua tokoh terkenal ini.

"Hidup itu kompleks. Listrik di sini (di tempat acara debat) lebih baik dipadamkan untuk menyumbang korban kebanjiran." Sujiwo Tedjo dalam acara ILC.

"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." Sang Guru (Matius 26:11)

Senin, 04 Desember 2017

PINDAH AGAMA

PINDAH AGAMA

Banyak yang mengira bahwa orang yang pindah dari agama A ke agama B maka pastilah orang tersebut sangat mengerti Agama A. Bahkan semua yang diucapkan orang tersebut tentang agama A selalu dianggap sebagai kebenaran oleh agama B. Dan sayangnya, pesan yang selalu disampaikan tentang agama A selalu hal-hal yang buruk.

Menurut saya justru mereka yang pindah dari agama A ke B atau sebaliknya lalu menjelek-jelekkan agama sebelumnya, bukanlah orang yang sangat mengerti agamanya. Kenapa?

1. Ini seperti orang yang baru putus dengan pacarnya, lalu dapat pacar yang baru. Dia menceritakan semua keburukan mantannya, padahal dulu waktu pacaran semua tentang pacarnya pasti baik, tapi setelah putus maka semua hal tentang mantannya adalah buruk. Jadi, semua keburukan yang diungkapkan tentang mantannya apakah karena dia mengerti tentang mantannya atau karena sakit hatinya? Menurut saya karena sakit hatinya. Nah begitulah juga orang yang baru pindah agama lalu selalu menceritakan keburukan agama sebelumnya.

2. Saat seseorang mengerti pasangannya maka dia akan menerima segala kekurangan pasangannya dan berusaha memperbaikinya, bukan meninggalkannya lalu mengumbar keburukannya ke umum. Begitu juga saat beragama. Saat agama kita ada kekurangan maka lakukanlah seperti itu juga. Saat saya sekolah teologi, wah banyak sekali kekurangan yang saya temukan tentang agama dan ajaran agama saya. Tapi kenapa saya tidak meninggalkannya? Karena saya sayang agama saya.

3. Saat seseorang pindah dari satu hati ke hati yang lain, maka bisa jadi karena dia tidak mengerti pacarnya tapi bisa lebih mengerti yang lainnya. Jadi orang yang pindah agama juga bukanlah orang yang sungguh mengerti agamanya yang lama, tapi justru dia adalah orang yang mengerti agama barunya.

Pesan saya:

Jika kamu pindah ke agama tertentu, cintailah agama barumu tanpa menjelek-jelekkan agama lamamu. Jika kamu punya pacar baru, cintailah pacarmu tanpa menjelek-jelekkan mantanmu.

Sabtu, 25 November 2017

BERSYUKURLAH HIDUPMU TIDAK SEBURUK MEREKA

BERSYUKURLAH HIDUPMU TIDAK SEBURUK MEREKA

Ada sebuah video pendek yang sangat terkenal. Di dalam video itu digambarkan tentang seorang pria yang mengumpulkan sisa-sisa tulang ayam yang masih ada sisa dagingnya. Sisa-sisa makanan itu dia berikan untuk anak-anaknya dan anak-anak di sekitarnya.

Video tersebut seringkali dipakai oleh pengkhotbah dan para motivator untuk menyampaikan sebuah pesan yaitu, "Makanan jangan dibuang-buang. Kita harus bersyukur karena masih bisa makan layak. Lihatlah video itu, mereka saja makan dari makanan sisa."

Saya setuju dengan pesan untuk tidak membuang-buang makanan, dan bersyukur untuk makanan yang masih bisa kita nikmati. Tapi masalahnya, apa hubungannya menghabiskan makanan dengan video tersebut? Apa hubungannya menghabiskan makanan dengan mereka yang makan dari sisa-sisa makanan?

Saya memiliki beberapa catatan mengenai hal ini:
1. Justru karena kita menyia-nyiakan makanan maka pria di video tersebut dan orang-orang yang suka mengumpulkan makanan sisa, bisa dapat makanan. Jika semua makanan kita habiskan tanpa sisa, mereka dapat makanan dari mana? Di luar sana, ada banyak orang yang mengais-ngais sampah untuk mencari sisa makanan yang masih bisa dimakan. Tanpa sadar, saat kita tidak menghabiskan makanan, kita telah menyelamatkan hidup seseorang.
2. Lalu apa dosa dari tidak menghabiskan makanan? Tidak bersyukur atas apa yang sudah Tuhan beri dan tidak menghargai orang yang sudah berjuang untuk menghadirkan makanan tersebut di hadapan kita. Itu saja. Tidak ada hubungannya kita makan makanan sampai habis dengan mereka yang mengais-ngais sisa makanan kita.
3. Hal ini terjadi karena kita suka membanding-bandingkan kelebihan kita dengan kekurangan orang lain. Misal, "Lihatlah, masih banyak yang lebih buruk dari kamu nasibnya. Jadi kamu harus bersyukur", "Kita harus sering melihat ke bawah agar dapat bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki." Tanpa sadar, kita bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Penderitaan yang harusnya membuat kita prihatin justru membuat kita bersyukur. Miris, kan? Tapi kita senang melakukan hal itu.

Bersyukurlah dengan apapun yang sudah kita punya tanpa harus membandingkannya dengan kekurangan atau penderitaan orang lain. Kalo mau melihat ke bawah, maka ulurkanlah tanganmu dan bantulah mereka yang sedang menderita. Jangan sampai kita melihat ke bawah lalu menengadahkan tangan ke atas sambil berucap, "Terimakasih Tuhan, hidupku tidak seburuk mereka."

Minggu, 19 November 2017

Penulis dan Komikus

Penulis dan Komikus

Ternyata selain, redraw, fanart, style, yang bisa jadi drama abadi dalam dunia perkomikan adalah hubungan penulis dan komikus. Seringkali hubungan ini menjadi pembicaraan hangat sejak lama. Biar tidak menjadi drama yang berkepanjangan, mungkin saya bisa usul seperti ini. Usul loh ini, bisa diterima bisa juga dilakukan. 😄😄😄

Nah jadi begini, coba difokuskan dulu, sebenarnya yang dipermasalahkan itu apa?

Setidaknya saya menemukan beberapa hal ini yang sering dipermasalahkan:
1. Cara mengajak komikus yang tidak pas dilakukan oleh penulis. Misal, "Kak, bikin komik bareng yuk. Aku cerita, kakak gambar." Nah kalo ini yang jadi masalah, coba sampaikan ke penulisnya agar membuat kalimat ajakan yang lebih baik. Dan untuk penulis, perhatikan cara mengajak komikus, karena yang menurutmu baik, belum tentu menurut komikus baik. Nah oleh karena itu, perlu ada komunikasi di antara keduanya mana cara mengajak yang baik.
2. Cerita yang belum ditulis, baru ada di kepala. Ada penulis yang mengajak komikus kerjasama tapi ceritanya belum jadi. Silakan komikus sampaikan ke penulis untuk menyelesaikan ceritanya baru nanti dipelajari. Tapi tidak semua komikus menuntut seperti ini. Jadi silakan berkomunikasi.
3. Jika komikus dituntut untuk terus memperbaiki gambarnya, maka penulis juga harus mau belajar memperbaiki penulisan skrip komiknya. Silakan komunikasikan.
4. Ada komikus yang mau bekerjasama jika penulis berani membayar biaya perhalaman komik. Jadi bukan yang kerjasama dari 0. Jika ada penulis yang mengajak tanpa biaya, yah tinggal bilang kalian sudah punya rate sendiri. Komunikasikan.
5. Ada yang idealis bahwa mereka ingin membuat komik dari cerita mereka sendiri, bukan orang lain. Jika kamu memang komikus seperti ini, silakan sampaikan kepada mereka yang mengajakmu kerjasama. Komunikasi.

Dari masalah 1 sampai 5 silakan tentukan masalahmu yang mana. Setelah itu komunikasikan dengan mereka yang mengajakmu kerjasama.

Bisa saja kita menjadi besar bersama mereka atau mereka menjadi besar karena nasihat kita.

Starter Pack jadi orang bijak/pintar masa kini

Starter Pack jadi orang bijak/pintar masa kini

1. Pilih satu kubu politik, ga boleh netral
2. Jika sudah ada di satu kubu, puji terus kubumu jangan kritik kalo salah, lihat saja positifnya. Caci dan hina terus kubu lawan. Walau ada yang positif, jangan dipuji, itu pencitraan.
3. Lakukan serangan psikologis dengan membawa kapasitas otak. "Kubu sebelah mana ada otaknya. Gobloknya keterlaluan."
4. Bandingkan kesalahan kubu kita dengan kesalahan kubu lain yang lebih besar. Misal, "Masih mending kakilu cuma dikencingin. Lah kubu sebelah mukalu diberakin." Membandingkan hal negatif dengan hal negatif lainnya agar kesalahannya dapat ditolerir.

Ada lagi ga yah? Mungkin nanti ada yang akan menambahkan. 😄

Kalo saya sih, agama sendiri aja kalo ngajarin ga bener pasti saya kritisi, apalagi kubu politik. Saya memang tidak setuju netral, tapi saya juga tidak setuju cinta buta atau benci buta

ZINAH DAN KDRT

ZINAH DAN KDRT

Tahu ga kenapa kita lebih suka ngurusin mereka yang zinah di rumah daripada mereka yang dapat kekerasan di rumah?

Karena pola pikir kita adalah:
Kalo enak bagi-bagi dong jangan nikmatin sendiri, tapi kalo menderita baru deh lu rasain sendiri.

Selasa, 14 November 2017

AHOK DAN BUNI YANI

Pak Ahok dan Pak Buni Yani mungkin akan bertemu dan bercakap-cakap.

Ahok: Lah lu masuk sini juga?
Buni Yani: Iya nih

Ahok: Lah kalo kita dua-duanya masuk penjara, terus yang salah siapa?
Buni Yani: Yang baca status ini mungkin

Ahok: Kita bisa keluar barengan nih kayanya
Buni Yani: Oh iya bener juga. Keluar kita langsung nyalon jadi capres dan cawapres yuk? Lu capres, gue cawapresnya. Lu kan punya 47% pendukung, nah gue punya 53%. Kalo bersatu, kita bisa dapat 100% suara.

Ahok: Lah, kan emang itu rencananya. Itulah kenapa kita dipenjarakan. Emang lu ga dikasih tahu?
Buni Yani: Hah? Siapa yang rencanain?

Ahok: Pembaca status ini

Senin, 06 November 2017

KRISTEN RADIKAL

KRISTEN RADIKAL

Tidak fair rasanya jika memerangi radikalisme hanya ditujukan kepada agama Islam. Di agama-agama lain juga sepertinya ada walau tak begitu tampak. Yah karena memang jumlah umat Islam jauh lebih banyak, jadi pasti terlihat dengan sangat mencolok.

Di kekristenan sendiri ada juga kristen radikal. Walau memang tidak sampai hendak mengganti dasar negara, namun mereka masih sulit menerima kepelbagaian.

Ada beberapa hal yang biasanya mereka lakukan:
1. Secara sistematik berusaha mengkristenkan mereka yang sudah memiliki agama. Bisa dilakukan dengan door to door, melalui kegiatan sosial terselubung atau KKR kesembuhan tipu-tipu.
2. Menjelek-jelekan agama lain dalam kesaksian. Biasanya dilakukan oleh mereka yang baru pindah agama. Mereka akan cerita tentang buruknya agama dia sebelumnya dan betapa baiknya agama dia sekarang. Lalu pendeta dan jemaat yang mendengarkan akan berseru, "Haleluya." "Amin."
3. Membagikan traktat, buku, atau makalah yang berisi tentang ayat-ayat dalam kitab suci agama lain yang bisa dijadikan bukti bahwa agama kristen benar dan Tuhannya benar. Biasanya traktat, buku atau makalah ini dijadikan pegangan oleh anggota jemaat menghadapi atau menyerang agama lain agar mereka pindah agama.

Mungkin saja masih banyak hal lain yang dilakukan, tapi setidaknya 3 hal di atas yang paling sering ditemui.

Jika umat Islam memiliki Banser atau GP Ansor yang selalu melindungi umat Kristen jika menjadi korban dari golongan Islam radikal. Nah bagaimana dengan kekristenan, apakah kita tidak punya gerakkan yang bisa melindungi rekan-rekan muslim yang menjadi korban kristen radikal? Atau kita hanya maunya dilindungi saja tanpa mau melindungi?

Senin, 30 Oktober 2017

MARI MENGHAFAL AYAT KITAB SUCI AGAR...

MARI MENGHAFAL AYAT KITAB SUCI AGAR...

Suatu minggu, di Sekolah Minggu (katanya) Saleh, terjadi percakapan antara Guru Sekolah Minggu (GSM) dengan Anak Sekolah Minggu (ASM).

GSM: Adik-adik, jangan lupa yah ayat hafalan minggu ini dihafalkan. Minggu depan kakak tanya.

ASM: Oke kakak. Tapi ngafalin ayat gunanya untuk apa kak?

GSM: Biar bisa digunakan untuk membela diri saat melakukan kesalahan.

ASM: Hah?

GSM: Eh salah, maksudnya sebagai pembimbing hidup kita agar hidup sesuai kehendak Tuhan.

ASM: Oh....

Sabtu, 21 Oktober 2017

TIPS DIKIRA PENTING

TIPS DIKIRA PENTING

Tips agar dikira orang terkenal atau penting:
1. Saat diundang ke sebuah acara, datanglah terlambat dan pulanglah lebih cepat agar dikira jadwalmu padat.
2. Balaslah chat selama mungkin agar dikira sibuk
3. Berpura-puralah mengangkat telpon sesering mungkin agar dikira banyak bisnis atau banyak yang nyariin kamu.
4. Jangan pernah balas komen di sosial mediamu agar dikira terlalu sibuk di dunia nyata.
5. Berdoalah semoga ga banyak yang baca status ini.

Senin, 16 Oktober 2017

PRIGITU DAN PRIGINI

PRIGITU DAN PRIGINI

Suatu kali, ada seorang yang bijak dan cerdas menjadi pemimpin di wilayah Lahgitu. Walau bijak dan cerdas namun dia punya kekurangan, sama seperti manusia lainnya juga pasti punya kekurangan. Kekurangan dari pemimpin ini adalah dia punya kebiasaan lupa diri.

Dalam pidato perdananya sebagai pemimpin di wilayah Lahgitu, dia berseru dengan lantangnya. "Kini saatnya, wilayah Lahgitu dipimpin oleh Prigitu."  Prigitu artinya orang asli Lahgitu.

Mendengar seruan itu, semua penduduk kebingungan. Mereka saling pandang-pandangan. Tapi akhirnya mereka saling tersenyum satu sama lain. Salah seorang dari mereka berkata, "Ah biarkan saja. Pak pemimpin kan memang suka lupa diri. Dia lupa kalo dia sendiri bukan penduduk asli Lahgitu. Dia kan penduduk asli Lahgini. Harusnya dia Prigini bukan Prigitu. Tapi ya sudah kit maklumi saja kekurangannya."

Seorang penduduk ada yang tidak bisa terima, "Tapi ga bisa dibiarkan begitu terus. Nanti dia bisa lupa kalo dia adalah pemimpin kita."

Penduduk yang lain menimpali, "Tenang saja. Manusia bisa lupa asal-usulnya. Tapi mereka tidak mungkin rela melupakan jabatannya."

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar