Pages

Sabtu, 22 Januari 2011

Mari Periksa Diri

tadi saya mengikuti tes kepribadian di sini http://www.ipersonic.com/id/
hasilnya:

Pemikir Analitis


Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Lalu saya tes lagi di sini
http://www.arsip.info/tes/emosi.html
Hasilnya:

Emosionalitas Anda


HASIL TES KEPRIBADIAN
Sikap anda terhadap emosi anda itu sehat. Anda tidak merasa malu untuk melepas emosi sekali-kali, dan tidak ragu lagi bahwa anda merasa akan lebih sehat karena sikap ini. Anda layak untuk menjadi seorang penasihat cara bersosialisasi yang baik.


jika teman-teman ingin tes kepribadiannya dapat mengklik link yang telah saya tulis di atas tadi. selamat memeriksa diri

Kamis, 20 Januari 2011

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (secara Psikologis)

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (secara Psikologis)

a. Sebuah Cerita menangkap perhatian kita dan menahannya.
Ketika seseorang mendengarkan suatu khotbah sebenarnya dia juga sedang bergumul dengan suara-suara lain di dalam pikirannya. Mungkin itu suara bisnis yang harus diselesaikan, suara kebencian dengan saudara/teman, suara kerinduan untuk bertemu dengan seseorang dan suara-suara lainnya. Oleh karena itu, agar umat dapat fokus terhadap suara sang pengkhotbah daripada suara-suara yang lain itu, maka seorang pengkhotbah harus dapat menarik attention umat.
Menurut penelitian, attention orang dewasa terhadap stimulus normalnya sekitar 5 sampai 25 detik.[1] Seorang pengkhotbah harus mampu memberikan stimulus-stimulus agar dapat terus mempertahankan attention umat dalam mendengarkan khotbah. Tucker mengatakan bahwa cerita memiliki attention value yang tinggi. Tucker mengutip kata-kata Henry Ward “he who would hold the ear of the people must either tell stories or paint pictures.”[2] Oleh karena itu, cerita dapat dikatakan metode yang efektif untuk memegang attention umat.
b. Cerita melekat di dalam memori
Tucker dalam bukunya bertanya kepada pembacanya “apakah yang kalian ingat dari khotbah yang terakhir kali kalian dengar? Pasti yang kalian ingat adalah sebuah cerita.”[3] Menarik sekali pertanyaan Tucker ini. Memang apabila kita perhatikan, apabila kita mendengarkan suatu khotbah dan di dalam khotbah tersebut ada sebuah ilustrasi pasti yang akan diingat oleh kita adalah ilustrasinya dari pada kesimpulan akhir dari sang pengkhotbah. Bahkan John Kilinger mengatakan bahwa “orang sering dapat mengingat sebuah khotbah bertahun-tahun kemudian berdasarkan ilustrasinya.”[4]
c. Cerita mempunyai kekuatan persuasive
Cerita memiliki kekuatan persuasif yang begitu besar. Dalam kisah nabi Natan dan raja Daud kita mendapatkan hal tersebut. Daud telah berbuat dosa dengan mengambil dan berbuat zinah dengan istri orang lain. Selain itu dia juga membunuh suami perempuan tersebut. Namun demikian, Daud tidak menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Oleh karena itu, nabi Natan datang untuk menegur Raja Daud. Nabi Natan tidak menegur Daud dengan teguran langsung melainkan dengan menyampaikan sebuah cerita. Dia menceritakan kepada raja tentang orang kaya yang mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin. Cerita tersebut menarik perhatian raja dan membuat raja marah “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.” Kemudian sang nabi menjawab, “Engkaulah orang itu!” Daud menyadari bahwa dia telah berbuat dosa, “Aku sudah berbuat dosa kepada Tuhan” (2 Sam 12: 1 – 13). Kita lihat bahwa sebuah cerita sederhana dapat mengaduk-aduk hati nurani seseorang.[5]
Bahkan ketika kita menonton sebuah film di TV, kita ikut terbawa dengan emosi dari para aktor dalam film tersebut. Ketika aktor ada yang bersedih kita ikut menangis, ketika marah kita pun ikut marah, ketika cemas kita ikut cemas. Mengapa begitu? Karena tanpa kita sadar ikut mengidentifikasikan diri kita dengan beberapa karakter dalam cerita tersebut. Karakter-karakter tersebut begitu nyata bagi kita karena kita ikut masuk ke dalam dunia mereka.[6] Oleh karena itu, Killinger mengingatkan bahwa seorang pengkhotbah harus berhati-hati untuk tidak menggunakan kekuatan dari cerita itu secara berlebihan untuk memanipulasi sebuah jemaat dan menyebabkan warga jemaat melakukan hal-hal yang mereka tidak biasa buat.[7]
d. Cerita mengklarifikasi kebenaran
Cerita memiliki kekuatan untuk menjelaskan kebenaran tanpa mendefinisikannya (explanation value). Ketika ada ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang siapakah “sesamaku manusia”, Yesus tidak memberikan definisi tentang siapa itu sesame manusia. Yesus justru menceritakan kisah orang Samaria yang murah hati. Yesus menceritakan cerita yang membuat pertanyaan tersebut menjadi jelas. Perumpamaan telah membuat kebenaran menjadi menarik dan mudah diingat, tetapi yang lebih utama, perumpamaan telah membuat maksud Yesus menjadi jelas.[8]
e. Cerita menambahkan nilas estetik kepada khotbah
Tucker mengatakan bahwa cerita dalam khotbah sama seperti seorang perempuan bijak menggunakan kosmetik. Make up tidak pernah membuat seorang perempuan jelek menjadi cantik, tetapi bisa menyoroti bahwa ada keindahan di sana. Tetapi Tucker mengatakan bahwa cerita dalam khotbah memang memberi keindahan, tapi jangan sampai khotbah menjadi hanya seperti hiburan (entertainment) dengan suara yang menyenangkan untuk didengar dan suara yang indah tetapi tidak ada kekuatan (power) di dalam proklamasinya. Seperti yang tertulis di dalam Yehezkiel 33: 31 – 32 “Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya…. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.” Oleh karena itu, hendaknya khotbah itu seperti khotbah Yesus yang menyampaikan kebenaran dalam metafora dan perumpamaan yang ekspresi keindahan dan pesan yang terkandung di dalamnya tidak tertandingi. [9]
f. Kita melihat diri kita sendiri dalam cerita
Di dalam cerita yang baik kita dapat melihat teman, musuh dan diri kita sendiri. Kita juga melihat masalah kita dan kemungkinan solusi-solusi pada karakter-karakter dan tindakan dalam cerita.[10]

Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)


[1] Larry L. Barker, Listening Behavior (London: Prentice Hall, 1971), hal. 32.
[2] Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008),hal. 11.
[3] Ibid, hal. 12.
[4] John Killinger, Dasar-dasar Khotbah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 127.
[5] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. 11.
[6] Ibid., hal. 15.
[7] Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 127.
[8] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. 16.
[9] Ibid., hal. 17 – 18.
[10] Ibid., hal. 18.

Sabtu, 08 Januari 2011

1 = 1000?

Satu hari di dihadapan Tuhan sama dengan berapa hari? Umat Kristen pada umumnya akan menjawab 1000 tahun. Loh..dari mana tuh rumus? Ada yang dengan lugas berkata  “dari Alkitab lah”. Apabila ditanya lebih lanjut, “di kitab mana?” mungkin ada yang bisa menjawab dengan cepat, ada juga yang tidak tahu. Yang tahu, biasanya akan mengutip "………..dihadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari" (2 Petrus 3:8b) atau “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” (Mzm 90:4).
Bahkan bukan cuma umat Kristen yang punya ayat satu hari sama dengan seribu tahun di hadapan Tuhan, umat muslim pun ada, yaitu  Surah As Sajdah 5
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya 
dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) 
adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.(QS. 32:5)
 Bahkan ada juga ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan satu
hari kadarnya sama dengan 50.000 tahun, yaitu
تعرج الملائكة والروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam 
sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Q.S. Al Ma'arij: 4)


Nah, jadi setujukah kamu bahwa satu hari sama dengan seribu tahun? Mungkin dari antara
kalian ada yang setuju tetapi saya tidak. Mengapa? Sabar...sebentar lagi saya akan
memberikan alasan mengapa saya tidak setuju. Alasan saya ini tidak harus menjadi
alasan mu juga. Kalian boleh berbeda pendapat dengan saya, karena itu kalian juga
harus memberikan saya ruang untuk berbeda pendapat dengan kalian.

Mari kita perhatikan kedua ayat tersebut yaitu 2 Petrus 3:8b dan Mzm 90:4. Lalu ayat-ayat
Al-Qur’an itu bagaimana? Waduh, maaf saya tidak mau mencampuri urusan
rumah tangga orang lain. Jadi saya hanya akan membahas rumah tangga saya saja.

Oke, mari saatnya kita perhatikan kedua ayat tersebut. Sebenarnya dua ayat itu dapat
dikatakan satu ayat karena 2 Petrus 3:8b mengutip dari Mzm 90:4. Peristiwa kutip mengutip
itu bukanlah hal aneh bagi para penulis kitab Perjanjian Baru mengingat mereka adalah
umat Yahudi, jadi pastilah mereka mengingat dengan baik kitab suci mereka
(yang kita sebut Perjanjian Lama) dan pasti juga mereka akan mengutipnya sama
seperti kita yang akan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk keperluan tertentu.
Oleh karena itu, kita akan memfokuskan pembicaraan kita pada Mzm 90:4.

Perlu kita ketahui bahwa Alkitab memiliki berbagai corak sastra yaitu hukum/peraturan,
sejarah, puisi/nyanyian, kata-kata hikmat/pepatah, apokaliptik dan corak-corak yang lainnya.
Setiap corak memiliki cara tersendiri dalam menafsirkannya, jadi tidak semua ayat di dalam
Alkitab dapat kita tafsirkan dengan cara yang sama. Mazmur termasuk dalam jenis
puisi/nyanyian. Mazmur biasa digunakan dalam ibadah dan doa. Kata-kata dalam Mazmur
semuanya bersifat puitis oleh karena itu cara menafsirkannya sama dengan kita menafsirkan puisi.
Perhatikan puisi karya Chairil Anwar berikut:

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO[1]

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di
atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Setelah membaca puisi tersebut, bagaimanakah kita menafsirkan kata-kata berikut
“dipanggang di atas apimu, digarami lautmu” ? Apakah kita akan menafsirkan bahwa
si penyair benar-benar dipanggang di atas api atau digarami? Pasti tidak, bukan?
Lalu bagaimana kita menafsirkan “Aku sekarang api aku sekarang laut” ? Apakah kita
akan menafsirkan bahwa sang penyair telah menjadi api dan laut? Pasti juga tidak, bukan?
Lalu bagaimana kita menafsirkan “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin,
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam
” (Mzm 90:4).
Seharusnya juga tidak, bukan?
Dalam puisi, kita akan menemui banyak sekali penggunaan majas/gaya bahasa.
Masih ingat macam-macam majas/gaya bahasa apa saja yang ada? Jika sudah lupa
dapat membaca di http://ketozia.blogspot.com/2011/01/macam-macam-majas-gaya-bahasa.html
Nah, menurut rekan-rekan Mazmur 90:4 menggunakan majas/gaya bahasa yang mana?

Untuk yang masih menganggap secara harfiah bahwa 1 hari = 1000 tahun, mari kita
perhatikan hal-hal berikut:
1.      1 hari yang teman-teman maksud itu 1 hari = 24 jam atau yang lainnya? Pasti dengan cepat kita akan menjawab “yah 24 jam lah...” Sekarang perhatikan kembali Mazmur tersebut, “...seperti suatu giliran jaga di waktu malam.” Orang Ibrani membagikan waktu malam hari dalam tiga jaga, yaitu: waktu jaga yang pertama, waktu tengah malam, dan diterangkan sebagai berikut: (1) dari matahari turun sampai pukul 22.00 (2) dari pukul 22.00 sampai pukul 2.00 dan (3) dari pukul 2.00 sampai matahari terbit. Jadi total waktu jaga adalah 12 jam sedangkan waktu giliran jaga adalah masin-masing giliran jaga empat jam. Jadi satu hari yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah 24 jam melainkan 4 jam. Untuk mereka yang suka menafsirkan kisah penciptaan sebagai 6 hari x 1000 tahun = 6000 tahun maka cara mereka menafsirkan tidak tepat karena 1 hari yang dimaksud bukan 24 jam melainkan 4 jam seperti yang telah dijelaskan. Lalu apa yang dimaksud oleh pemazmur dengan mengatakan “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” ?
Apabila kita membaca Mazmur pasal 73-89 kita akan mendapatkan gambaran bahwa umat Israel sedang menghadapi krisis berat. Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan pada tahun 586 SM. Banyak orang, termasuk garis keturunan terakhir dari keluarga Daud, dibawa ke pembuangan. Mazmur 90 – 106 merupakan tanggapan terhadap krisis tersebut. Umat Israel diberikan kekuatan melalui Mazmur-mazmur tersebut. Khusus pasal 90, isinya merupakan permohanan Musa agar Tuhan segera turun tangan membantu mereka. Dengan gaya yang puitis, doa itu khususnya ayat 4 ingin mengatakan “Tuhan, jika Engkau mau masa penderitaan ini bisa saja cepat berlalu karena waktu manusia di hadapan-Mu begitu cepat untuk dilalui.” Kita juga dapat membaca kata-kata puitis lainnya dari sang penyair yang ingin mengatakan bahwa bagi Tuhan manusia itu begitu cepatnya berlalu dalam ayat-ayat berikutnya “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” “seperti mimpi” dan “seperti rumput” merupakan gambaran tentang keadaan yang cepat berlalu. Jadi dalam pasal tersebut sang penyair menggambarkan tentang keadaan manusia yang cepat berlalu dengan 3 perumpamaan yaitu 1 hari = 1000 tahun, seperti mimpi dan seperti rumput. Jadi sekali lagi 1 hari = 1000 tahun bukan sungguh-sungguh 1 hari (24 jam) = 1000 tahun.
2.      Tuhan tidaklah berwaktu dan ber-ruang. Apabila Tuhan berwaktu dan ber-ruang maka sama seperti manusia yang berwaktu dan ber-ruang maka Tuhan juga bisa mengantuk, menua dan terbatas. Apabila begitu maka Allah sama saja dengan manusia. Jadi ketika berbicara tentang ‘waktu Tuhan’ maka hal tersebut tidak dapat kita tafsirkan secara harfiah. Kita hanya dapat menafsirkannya sebagai suatu perumpamaan.
3.      Ada yang berusaha untuk menjelaskan rumus 1 hari = 1000 tahun ini dengan rumus relativitas, berikut penjelasannya:[2]
Diduga orang Mesir kuno sudah mengenal matematika. Musa hidup di tengah-tengah zaman Mesir kuno. Waktu itu orang Mesir sudah biasa buat piramida-piramida. Piramida adalah sebuah bentuk matematika.  Di zaman Yunani kuno, matematika dikembangkan a.l. oleh seorang yang bernama Euclidius. Dalam matematika Euclidius garis lurus dapat lurus tak terhingga. Waktu mempunyai arti yang "jelas" dan "mutlak". Ruang dan waktu mempunyai arti yang mutlak dan kaku. Waktu berjalan terus tanpa dapat diganggu oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Cara berpikir demikian diterima orang sampai akhir abad ke-19. Newton tidak menyangsikan ini dan dalam mekanika klasik yang dikembangkan New ton, ruang dan waktu mempunyai arti yang mutlak dan kaku. Sampai akhir abad ke-19 para ilmuwan apalagi kaum awam menerima teori-teori Newton sebagai mutlak benar. Peringatan David Hume pada umumnya diabaikan orang. Pada tahun 1905 Albert Einstein mengeluarkan teori relativitas yang menggegerkan dunia ilmu pengetahuan alam. Ruang dan waktu tidak lagi mempunyai arti yang kaku dan mutlak.
Waktu tidak lagi punya arti yang kaku. Waktu tergantung pada posisi si
pengamat waktu. Waktu untuk seorang pengamat yang ada dibumi lain dengan waktu bagi pengamat lain yang ada dipesawat ruang angkasa. Kalau kecepatan pesawat ruang angkasa rendah terhadap bumi, maka beda waktu itu tidak begitu terasa. Tetapi kalau kecepatan ruang angkasa itu mendekati kecepatan cahaya, maka perbedaan itu makin besar. Makin mendekati kecepatan ruang angkasa perbedaan itu makin besar. Jam dipesawat ruang angkasa berjalan lebih lambat. Kecepatan cahaya kira-kira 300.000 km/detik. Kalau kecepatan pesawat ruang angkasa mencapai kecepatan cahaya (seumpama dapat) maka waktu di pesawat ruang angkasa itu berhenti.
Einstein bukan orang yang pertama yang mengeluarkan ide mengenai relatifnya ruang dan waktu. Sebelumnya sudah ada ilmuwan lain, tetapi Einstein yang pertama menguraikannya secara mendetail dan mendalam disertai rumus--rumus matematika. Konsekwensi dari teori ini kalau benar adalah luar biasa besarnya. Kalau seorang astronot pergi naik pesawat ruang angkasa yang mencapai kecepatan 0.999 kali kecepatan cahaya maka
10 bulan bagi sang astronot sama dengan 18 tahun bagi manusia dibumi. Kalau waktu berangkat istri sang astronot baru melahirkan anak perempuan, maka setelah sang astronot pulang dari perjalanannya selama 10 bulan, ia dapati anak perempuannya telah menjadi gadis remaja umur 18 tahun.
Fantastis? Tidak masuk akal? Dapatkah Anda buktikan bahwa Einstein Salah? Memang percobaan-percobaan sampai sekarang belum ada yang membuktikan teorinya benar atau salah untuk jangka waktu 18 tahun dan kecepatan 0.999 c. Tetapi percobaan-percobaan dengan kecepatan lebih rendah dan beda waktu beberapa nanodetik mendukung teori Einstein.
Apakah teori Einstein ini dapat dibuktikan benar atau dapat dibuktikan salah, apakah teori Einstein dapat diverifikasi atau falsifikasi? Sebuah percobaan diambil pada tahun 1971. Dua orang akhli fisika dari Amerika Serikat J.C. Hafele dan Richard Keating membuat percobaan dengan jam atom Ceasium. Jam ini sangat teliti. Diambil 12 jam Caesium dan semua nya distel sama precies. Empat buah jam Caesium ditaruh dipangkalan US Naval Observatory di-Washington D.C. Empat buah jam ditaruh dipe sawat jet dan diarahkan ke-Barat. Empat jam lain ditaruh dipesawat jet lainnya dan diarahkan ke-Timur. Kedua jet itu diberangkatkan pada saat yang bersamaan dan mengitari bumi selama tiga hari tiga malam. Setelah sampai kembali kepangkalan semua jam diperiksa dengan teliti. Ternyata yang ke-Timur semua terlambat 59 nanodetik dan yang ke-Barat terlambat 237 nanodetik dibandingkan dengan yang ada dipangkalan. 1 nanodetik = ______1____ detik.
                                                                1.000.000.000
Yang menuju ke-Timur melawan perputaran bumi dan yang ke-Barat se arah dengan perputaran bumi. Perhitungan matematis menurut teori Ein stein selisihnya seharusnya 40 dan 275 nanodetik. Selisih inipun mungkin karena salah observasi atau ketidak teletian ke-12 Caesium tersebut.
Bandingkan kedua pernyataan berikut dari Alkitab dan dari perhitungan teori Einstein:
"………..dihadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari". II Petrus 3:8b.
Bila kecepatan kapal ruang angkasa v = 0,999 999 999 996 c maka satu hari bagi manusia diruang angkasa sama seperti seribu tahun bagi manu sia dibumi.
Fantastis? Tidak dapat dipercaya? Dapatkah Anda buktikan bahwa perhi tungan diatas salah? Dapatkah Anda falsifikasi perhitungan diatas?
Sekarang timbul pertanyaan darimana Musa dan Petrus bisa tahu relati vitas waktu? Einstein baru mengemukakannya pada tahun 1905. Petrus telah tahu kira-kira 1900 tahun sebelumnya dan Musa kira-kira 3500 tahun sebelumnya. Darimana mereka tahu? Hanya ada satu keterangan ialah Allah telah memberi wahyu kepada mereka.

Satu pertanyaan sederhana untuk membahas artikel tersebut. Pertama, dia membuktikan bahwa 1 hari di bumi sama dengan 1000 tahun di luar angkasa, lalu apa hubungannya dengan Tuhan, apakah dia memahami bahwa Tuhan itu tinggalnya di ruang angkasa? Wah, jika seperti itu maka dia menghitung secara modern tapi cara berpikirnya masih kuno. Mengapa saya sebut demikian? Karena pemikiran bahwa Tuhan tinggalnya di angkasa/di langit adalah pola pikir masyarakat kuno.  Masyarakat Pejanjian Lama mempunyai pola pikir bahwa ‘langit’ itu bagaikan mangkuk yang terletak di atas bumi dan gunung-gunung tinggi menahan langit seperti tiang-tiang (Ayb 26:11). Untuk penjelasan lebih jauh dapat mengunjungi http://ketozia.blogspot.com/2011/01/kamen-rider-dan-alkitab.html Dalam pengertian mereka juga gunung-gunung adalah tempat Allah dan para ilah bersemayam, dalam perjanjian lama kita akan menemui frasa “gunung Allah” yang menggambarkan bahwa Allah bersemayam di gunung itu (Kel 3:1; 4:27; 18:5; 24:13; 1 Raj 19:8 dan Mzm 36:6). Langit juga disamakan dengan surga oleh mereka. Kata םימשׁ “shamayim” ditermahkan sebagai langit dan juga surga. Takhta Allah ada di surga (Yes 66:1), dan para malaikat mengelilingi-Nya (1Raj 22:19). Jadi bagi umat Perjanjian Lama Allah tinggal di surga, yaitu yang sekarang kita bilang langit. Begitu pula dalam Perjanjian Baru.
Dunia dalam Perjanjian Baru dibagi dalam 3 lapis, yaitu dunia atas (tempat para dewa-dewi, surga), dunia tengah (tempat manusia) dan dunia bawah (iblis, neraka). Bahkan untuk dunia para dewa-dewi hingga manusia ada piramidanya.

•Allah yang Esa
•Allah yang agung
•Allah-allah lokal, daimonia
•Demigods,immortals, heroes
•Manusia
Jadi, baik masyarakat pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memahami bahwa Allah ada di langit/angkasa. Bagaimana dengan masa kini? Jelas Allah tidak dapat kita temui baik di langit maupun di angkasa. Sekali lagi, Allah itu tidak ber-ruang dan berwaktu, sedangkan langit dan ruang angkasa itu ber-ruang dan berwaktu.

Jadi, menurut kalian setelah membaca penjelasan ini, apakah 1 hari masih = 1000 tahun?

karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)


                                  MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)

1.    Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.   Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.   Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.   Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.   Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.   Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.   Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.   Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis
Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis
Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis
Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

13.  Aliterasi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
14.  Asonansi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya  
15.  Anastrof atau Inversi
Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasis atau Preterisio
Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof
Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18. Asindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
19.  Polisindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20. Kiasmus
Adalah gaya bahasa  yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis
Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.


22. Eufimisme
Adalah gaya bahasa  penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23. Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri
Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24. Histeron Proteron
adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25. Pleonasme
Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26. Tautologi
Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27. Parifrasis
Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya.
Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28. Prolepsis atau Antisipasi
Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29. Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30. Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis
Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32. Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33. Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34. Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35. Asosiasi atau Simile
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
36. Metafora
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37. Alegori
adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38. Parabel
Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39. Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.
Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40. Alusi
Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim
Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42. Epitet
Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43. Sinekdoke
-          Pars Pro Tato
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya
-          Totem Pro Parte
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau

44. Metonimia
Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45. Antonomasia
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46. Hipalase
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47. Ironi
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48. Sinisme
adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam
Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49. Sarkasme
Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire
Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo
Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52. Antifrasis
Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
53. Pun atau Paronomasia
Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54. Simbolik
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55. Tropen
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56. Alusio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan.
Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?

57. Interupsi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58. Eksklmasio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59. Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60. Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62. Okupasi
Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63. Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar