Pages

Sabtu, 08 Januari 2011

MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)


                                  MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)

1.    Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.   Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.   Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.   Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.   Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.   Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.   Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.   Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis
Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis
Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis
Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

13.  Aliterasi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
14.  Asonansi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya  
15.  Anastrof atau Inversi
Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasis atau Preterisio
Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof
Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18. Asindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
19.  Polisindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20. Kiasmus
Adalah gaya bahasa  yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis
Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.


22. Eufimisme
Adalah gaya bahasa  penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23. Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri
Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24. Histeron Proteron
adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25. Pleonasme
Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26. Tautologi
Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27. Parifrasis
Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya.
Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28. Prolepsis atau Antisipasi
Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29. Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30. Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis
Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32. Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33. Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34. Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35. Asosiasi atau Simile
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
36. Metafora
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37. Alegori
adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38. Parabel
Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39. Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.
Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40. Alusi
Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim
Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42. Epitet
Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43. Sinekdoke
-          Pars Pro Tato
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya
-          Totem Pro Parte
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau

44. Metonimia
Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45. Antonomasia
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46. Hipalase
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47. Ironi
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48. Sinisme
adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam
Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49. Sarkasme
Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire
Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo
Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52. Antifrasis
Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
53. Pun atau Paronomasia
Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54. Simbolik
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55. Tropen
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56. Alusio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan.
Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?

57. Interupsi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58. Eksklmasio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59. Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60. Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62. Okupasi
Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63. Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”

Jumat, 07 Januari 2011

SEX BEBAS, TIDAK MEMBEBASKAN

Kamis, 06 Januari 2011

HADAPI DENGAN CERDIK

Cerita I

Ada seorang kepala desa yang mempunyai ayah yang berangasan .
Setiap kali tersinggung ,
ayahnya akan meledak dan memaki - makinya .
Meskipun watak buruknya telah terkenal di desa itu ,
sifat ayah kepala desa ini membuat malu dan banyak mengganggu banyak orang .

Suatu hari ,
kepala desa itu menggantung sepotong besi didepan rumahnya .
Ia menyruh anak - anak desa untuk memukuli besi itu
setiap kali ayahnya memaki dirinya .
Suara nyaring dari besi yang dipukul menarik perhatian banyak orang dan tak berapa lama kemudian orang tua itu sadar .
bahwa ia telah berbuat bodoh .
Mulailah saat itu ia berhenti memaki -maki anaknya .
Dengan siasat cerdik ini ,
sang anak berhasil menyadarkan ayahnya .
Kita juga harus paham bahwa pendekatan yang halus lembut biasanya lebih efektif dibandingkan cara - cara yang keras.

Cerita II

Suatu kali , Sang Buddha diundang oleh Brahmana untuk menerima derma dirumahnya .
Karena di undang , Sang Buddha datang kerumah Brahmana itu .
Bukannya melayani Beliau .
Brahmana tersebut malah mencaci maki Beliau dengan kata - kata yang paling kasar .
dengan lembut Sang Buddha mengajuhkan pertanyaan pada nya .

" Apakah sering ada tamu datang kerumahmu , Brahmana ?
" Ya " Jawab Brahmana itu .
" Apa yang engkau lakukan kalau mereka datang ? "
" Oke , aku sediakan jamuan besar ."
" Kalau mereka tak menghabiskan nya ? "
" Dengan senang hati kami yang menghabiskannya "
" Brahmana yang baik ,engkau telah mengundang-Ku kemari
untuk berderma dan menjamu-Ku dengan kata - kata kasar
yang tak hendak Kuterima , jadi ambilah kembali semuanya ."


Sang Buddha tak membalas , namun dengan sopan
mengembalikan apa yang diberikan Brahmana itu padanya .
" Jangan membalas ,"
nasihat Buddha .
" Kebencian tidak di akhiri dengan kebencian , hanya dengan kasih sajalah kebencian berakhir ."

Cerita III

Satu kali Yang Ariya Sariputra
murid kepala Sang Buddha ,
dilabrak seorak Brahmana yang mencacinya dengan kata - kata kasar .
Melihat kata - katanya tak membawa pengaruh apa - apa terhadap sariputra ,
Brahmana itu menjadi semakin marah .

" Tak dengarkah kau yang kukatakan ? "
teriak brahmana yang sedang murka itu .
" Apa kamu tak ingin membalas hinaanku ? "

Yang Ariya Sariputra tersenyum lembut kepada Brahmana itu dan menjawab .
" Kawan , tentu saja saya mendengar suaramu yang keras dan jelas itu ,
tapi karena aku tahu tak ada yang bermanfaat dalam kata- kata mu ,
aku hanya mendengar getaran suara ,
Aku tidak mendengar kata - kata nya .
jadi aku tidak terpengaruh oleh artinya ."

 

sumber:

Sri Dhammanda. Be Happy: Mengatasi Takut dan Cemas dari Akarnya dan Berbahagia dalam Segala Situasi. Karaniya, 2007.

Rabu, 05 Januari 2011

NATAL YANG BERSAHABAT



DALAM waktu yang agak lama, sekadar mengucapkan "Selamat Natal" bagi kaum Muslim di Indonesia menjadi peristiwa politik. Suatu counter-practice terhadap praktik dominan yang mengharamkan ucapan itu. Sebab di balik ucapan sederhana itu, ada semacam bayangan ketakutan -- mungkin sekadar di kepala para birokrat keagamaan -- kalau-kalau umat melakukan pencampuradukan aqidah. Bukankah mengucapkan "Selamat Natal" juga sekaligus berarti mengakui peristiwa inkarnasi Sabda menjadi manusia?

Itu sebabnya saya sering tercenung dan terharu, setiap kali rekan-rekan Muslim mengucapkan "Selamat Natal" pada saya dan keluarga. Tindakan itu seperti counter-practice terhadap ideologi dominan: suatu kesaksian bahwa jalinan persahabatan menembus, menggerogoti dan sekaligus melintasi sekat-sekat pemisahan dan pembedaan antar-agama yang dijaga mati-matian oleh para birokrat keagamaan maupun rezim kekuasaan. Juga tindakan itu mau melecehkan bayang-bayang ketakutan pada pencampuradukan aqidah. Malah, saya cenderung mendaku, itu adalah tindakan sekularisasi dalam arti yang sesungguhnya. Karena lewat tindakan itu, segala pertimbangan aqidah dilewati: jalinan persahabatan tidak memerlukan aturan-aturan hukum agama yang kerap malah memisahkan, ketimbang menyatukan.

Pengalaman Natal 2010 memberi bentuk konkret pada pendakuan saya itu. Pdt Albertus Patty, sahabat saya di GKI Maulana Yusuf, mengambil inisiatif yang bahkan melampaui segala kemungkinan: suatu ibadah Natal yang sengaja dirancang bersifat antar-agama! Ia mengundang Fariz RM, musikus kondang Bandung, grup qasidahan ar-Rahman, Yanti Kerlip dan Ulil Abshar-Abdalla untuk ikut serta dalam seluruh seluk beluk kebaktian Natal, dan berpartisipasi di dalamnya. Dan ia menyebut ini sebagai "langkah kecil" untuk menyemai kembali benih-benih persahabatan, jalinan cinta kasih dan saling menghormati, yang selama ini makin terkikis dari kehidupan di negara ini.
Boleh jadi, eksperimen GKI Maulana Yusuf bukan yang pertama. Saya tidak tahu persis apakah pernah ada di Indonesia langkah serupa sebelumnya. Namun, yang jelas, apa yang dilakukan GKI Maulana Yusuf akan dikenang sebagai terobosan penting. Dengan langkah itu, ditawarkan cara baru untuk menghayati pengalaman keagamaan: ibadah yang selama ini hanya dapat dibagikan dalam komunitas tertentu kini justru menjadi pintu bagi proses saling berbagi antar-komunitas.

Di situ segala pertimbangan dogmatis dilangkaui. Orang tidak lagi berbicara tentang rumusan-rumusan ajaran yang serba ketat dan kaku mengenai apa itu Natal. Ini hanya sekadar kesibukan para birokrat keagamaan yang mungkin diperlukan, namun jelas tidak memadai. Sebab rumusan-rumusan dogmatis hanyalah penanda-penanda pada proses yang selalu merupakan misteri yang tak terbahasakan. Alih-alih dari itu, pengalaman ibadah-lintas-agama membuka ruang bagi permenungan dan pemahaman teologis yang baru: Justru karena Natal adalah jawaban "Ya" yang radikal dari kasih Allah pada seluruh ciptaan-Nya, maka seyogianya perjumpaan dengan kehadiran Allah dalam Bayi mungil di Nazareth harus menjadi pengalaman bersama yang melintasi sekat-sekat antar-ras, antar-suku, antar-bangsa, antar-kepercayaan, maupun antar-agama. Di situ, lagu Joy to the World dapat berpadu dengan Shalawat Nabi, dan bacaan Injil saling berkelindan dengan renungan Qur'ani. Dalam setiap teks-teks yang dibacakan (atau juga dinyanyikan), kita  menemukan jejak-jejak Sang Misteri yang melangkaui segala upaya pembahasaan, dan mengundang kita menziarahi hidup di dalam ikatan cinta dan persahabatan.

Dan itu semua menantang bukan hanya pemahaman tentang apa arti pengalaman keberagamaan yang umum, tetapi juga apa arti iman, dan apa arti menjadi komunitas beriman yang dipanggil ke luar (gereja). Saya malah menengarai, perspektif teologis yang disibak lewat langkah eksperimental GKI Maulana Yusuf dapat menyumbang penting pada bagaimana memahami Ekumene -- bukan sekadar melintasi batas-batas tembok gerejawi, tetapi menjangkau pada keseluruhan "Oikos" Allah sendiri. Bukankah kita, setidaknya para pewaris tradisi keimanan Abraham, mengaku percaya bahwa kita semua adalah anak-anak Allah yang sedang dalam perjalanan kembali pada-Nya?

Natal 2010 hanyalah titik awal. Tetapi, saya kira, sungguh patut disyukuri karena kemungkinan-kemungkinan yang disibakkan oleh peristiwa itu akan bergema entah sampai kapan. Terima kasih untuk undangan yang memungkinkan saya mengalaminya.

Selamat mengarungi peziarahan baru!

Oleh: Trisno S. Sutanto 

sumber:
http://www.facebook.com/home.php#!/notes/trisno-s-sutanto/natal-2010/48942811800 

Natal yang indah dalam kerukunan. Natal yang merangkul keindahan-keindahan lainnya. namun pertanyaannya, apakah model natal ini adalah model yang tepat dalam menjawab tantangan pluralisme agama? atau masih perlu dikritisi lagi? atau jangan-jangan model ini justru terjebak dalam relativisme dan sinkretisme?

saya tertarik dengan satu komentar dari Martin L. Sinaga


( -Saya tidak tahu apakah penggagas ibadah bersama GKI Maulana sudah lelah dengan dialog Protestan-katolik yang penjang seputar "ibadah-bersama" Perjamuan Kudus itu, sehingga ingin segera memberi pelajaran, yaitu dengan cepat-cepat beribadah dengan teman2 Islam?)

Juga Natal bukan perayaan keluarga besar Abraham -sebab Trisno menyebut ide Abraham ini di akhir tulisannya- (mungkin Yusuf Roni sepaham dengan Trisno sehingga ia menamai komunitasnya sebagai "kemah Abraham", dan ibadah lintas-agama begini sudah jadi kesibukan Kemah itu dimana "beresit bara ha Elohim" disambit dengan "Insyaallah" lalu diselingi panggilan pada Kristus "Junjungan"ku, -jadi langkah GKI Maulana tidak baru-baru amat.)

Bagi saya "Problem" atau skandal Natal ialah ia merayakan Nama Kristus, dan orang diminta bersekutu dalam Nama itu -Nama untuk sebuah tubuh, sebuah sejarah, sebuah peristiwa dimana Yang Terbatas perlu dihargai sebagai Yang Terbatas -namun dari Nama Partikular Yang Terbatas itu diharapkan terbuka realitas ilahi. Tampaknya, setakat ini ibadah Natal ialah peristiwa Terbatas (ia adalah momen ruang dan waktu yang tertentu, dirayakan oleh kelompok tertentu), tapi kiranya dari situ tersibak Yang Tak Terbatas (tentu dalam realitas "Entah" yang kita rindukan itu...).
Sebenarnya Orang Indonesia umumnya membagi dua acara Natal, yang satu Ibadah, yang satu lagi Perayaan. Kan "wsidom" ini tiada taranya agar kita bisa berbagi...Dan seperti saudara muslim kita akan solat Ied dulu lalu mengundang kita halal-bil halal bersantap bersama. Apa ini kurang?!! please deh...


itu adalah pendapatnya, lalu bagaimana dengan Anda?

selamat merenung...


Balada Pembaptis Ulang

Balada Pembaptis Ulang
Oleh: Timotius, tinggal di Jakarta, saat ini bekerja di sebuah bank swasta, dan bergereja di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Jemaat Nurdin, di wilayah Grogol Jakarta Barat.
Lihat di: http://timotiustalksabout.blogspot.com/2010/11/tentang-saya.html

Saya sangat berminat dengan isu ttg baptisan ulang, sehingga topik ini menjadi bahasan sekaligus prioritas pertama saya dalam refleksi teologis saya. Oya, karena sifatnya refleksi, bahkan ada kata 'spark' disana, maka setiap ulasan dalam artikel ini bukanlah jurnal teologi yang terlalu ilmiah dan serius. Bahkan saya membayangkan bahwa setiap tulisan dalam artikel ini hanya akan menjadi sebuah kata pembuka diskusi lanjutan dari pembaca sekalian yang berminat.

Mari mulai dengan topik pertama...

Baptisan ulang... Mustinya bukan isu yang terlalu baru lagi bagi kita. Bahkan saat Johanes Calvin masih hidup, dia pun sudah berjuang menghadapi praktek baptis ulang dari kalangan Anabaptis yang 'cukup sukses' menyesatkan jemaat.

Saya disini tidak akan menunjuk atau menyalahkan  umat pelaku baptisan ulang, karena mereka hanyalah korban dari 'tipuan spiritual' dari para pembaptis ulang. Dalam banyak case, keputusan untuk melakukan baptisan ulang bahkan diambil dengan suatu niatan yang luhur untuk 'memperbaiki atau menyempurnakan kehidupan spiritual' seperti yang diajarkan oleh para pembaptis ulang.

Oke, jadi saya langsung pointing pada para pembaptis ulang, yaitu para pendeta, pastor, atau rohaniawan Kristen yang memang mempraktekkan baptisan ulang.

Pertanyaan pembuka: 'mengapa harus ada baptis ulang?'

Jawabannya gampang dan standar:
1. Karena baptis percik bukanlah 'baptisan' tapi 'rantisan'
2. Karena Kristen musti mengikuti teladan Tuhan Yesus yang di baptis dengan cara diselam
3. Karena perlu upacara inisiasi untuk mengesahkan seseorang menjadi anggota jemaat suatu gereja menganut baptisan ulang

Mari kita bahas satu persatu...

Lihat di: http://timotiustalksabout.blogspot.com/2011/01/balada-pembaptis-ulang-part-1.html


Alasan 1: Baptisan vs Rantisan

Saya pribadi nggak merasa keberatan dengan kedua praktek baptisan yang secara umum dikenal, yaitu baptisan percik dan baptisan selam. Sebagai anggota jemaat GKI yang reformed, saya dibaptis secara percik, yakni saat saya masih bayi yang dikenal dengan baptisan anak (ini juga bisa menjadi topik yang menarik untuk diulas, di lain kesempatan ya), lalu di-sidi saat saya remaja (diawali dengan kelas pelajaran agama Kristen selama beberapa bulan). Namun saya sama sekali nggak keberatan dengan praktek baptisan selam, bahkan kesannya lebih mantap ya, lebih berasa daripada sekedar percik-percik.
GKI pun mengambil sikap yang sama. GKI menerapkan tata cara baptisan percik, namun mengakui baptisan selam juga. Maksudnya begini: kalau ada simpatisan yang sudah dibaptis secara selam di gereja lain dan yang bersangkutan ingin menjadi anggota jemaat GKI, maka baptisan selamnya tetap diakui GKI. Yang bersangkutan cukup mengikuti pelajaran agama Kristen (katekisasi), lalu sesudahnya mengaku percaya dengan penumpangan tangan, tanpa perlu dibaptis percik lagi. Baptisan selam yang sudah diterimanya adalah sah dan diakui GKI. Ini baru namanya gereja yang benar ajarannya dan Alkitabiah!

Jadi stand point nya sudah jelas: cara baptisan percik atau selam, saya tidak mempermasalahkan. Monggo dilaksanakan sesuai tata cara gereja masing-masing.

Lalu, apa masalahnya? Yaitu saat baptisan diulang, biasanya dari baptisan percik ke baptisan selam. Ini lain ceritanya, dan saya betul-betul mengecam praktek baptis ulang seperti ini, karena betul-betul melecehkan Tuhan!

Biasanya para pembaptis ulang akan memulai dengan sebuah dogma bahwa baptisan yang Alkitabiah seharusnya dilakukan secara selam. Mengapa? Karena kata 'baptizo' yang dipakai dalam perikop terkait mengandung pengertian 'penenggelaman'. Jadi, ya jelas baptisan musti dilakukan secara selam. Sedangkan baptisan percik... Percik itu sendiri bahasa aslinya adalah: 'rantiso'. Jadi kalau seorang sudah dibaptis secara percik, sesungguhnya dia BELUM DIBAPTIS, namun BARU DIRANTIS....

Bagaimana saya bisa meng-counter pemahaman yang keliru ini?

Mudah saja, tapi mohon maaf kalau penjelasan saya ini agak 'menyerang' praktek baptis selam yang saya hormati dan hargai.

Ada 2 hal:

Pertama: di seluruh bagian Alkitab, saat kata 'baptizo' dan turunannya digunakan, maka kata itu hampir seluruhnya menunjuk pada pemercikan atau pembasuhan, seperti tata cara penyucian yang diatur dalam Hukum Taurat (misal: Markus 7:4, Lukas 11:38, 1 Korintus 10:1-2, dsb)
Bisa dibilang, Alkitab tidak mengenal tata cara penenggelaman, kecuali kisah Naaman yang harus mandi 7 kali di sungai Yordan.

Kedua: Yohanes hampir tidak mungkin melaksanakan penenggelaman.
Mengapa? Karena dia adalah keturunan imam Lewi yang tentu sangat familiar dengan tata cara upacara dan peribadatan Yahudi. Dia hanya mengenal pemercikan, seperti yang biasa dikenal dan dilakukan oleh para imam pada saat itu (banyak terdapat di Kitab Imamat dan Bilangan). Dan coba bayangkan... Sekiranya Yohanes membaptis secara selam di sungai Yordan, bagaimana caranya agar dia bisa membaptis para wanita tanpa harus melanggar hukum Taurat? Dengan memegang wanita yang bukan istrinya, lalu menenggelamkannya, dan mempersilakan sang wanita pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup? Betapa hal itu menjadi kegiatan gila yang melecehkan dan memalukan! No way! Saya percaya, sebagai keturunan imam Lewi maka Yohanes melakukan pembaptisannya dengan cara yang dikenalnya, yaitu pemercikan!

Lihat di: http://timotiustalksabout.blogspot.com/2011/01/balada-pembaptis-ulang-part-2.html

Alasan 2: Yesus dibaptis selam?

Sekali lagi saya tegaskan bahwa cara baptisan bagi saya pribadi dan bagi gereja saya adalah tidak begitu penting. Mau percik mau selam... Semuanya sah di mata Tuhan. Semua tergantung tata cara gereja masing-masing, dan kebetulan GKI dan gereja-gereja reformed lainnya memakai tata cara baptisan percik.

Cara baptisan tidak menyelamatkan, karena baptisan hanyalah tanda dan meterai dari sesuatu yang lebih prinsip, yaitu iman percaya kepada Tuhan Yesus. Mau dibaptis dengan cara apapun tapi kalau hatinya tidak sungguh-sungguh percaya... Itu adalah kesia-siaan dan hanya sebuah ritual kebohongan spiritual yang keji di mata Tuhan!

Namun menjadi lain masalahnya kalau masalah cara baptisan Tuhan Yesus dijadikan legitimasi untuk melakukan baptisan ulang. Wah... Saya akan berusaha meng-counter hal ini, bahwa Tuhan Yesus dibaptis secara selam! Bukan untuk menyalahkan baptisan selam, namun untuk memberi perspektif lain bahwa ada kemungkinan Tuhan Yesus juga dibaptis dengan cara yang sama seperti Yohanes membaptis orang lain, yaitu mengikuti tata cara yang dikenal oleh agama Yahudi saat itu, yaitu: pemercikan.

Pertanyaan pertama: mengapa mind set bahwa Tuhan Yesus dibaptis secara selam lebih dominan ketimbang dibaptis secara percik? Jawabannya simpel: karena memang dikondisikan demikian. Coba perhatikan film-film tentang kehidupan Yesus, hampir seluruhnya mem-visual-kan pembaptisan Yesus terjadi secara selam. Jadi film telah mempengaruhi pemikiran teologis kita, dan bukannya Alkitab! Pantesan begitu banyak orang yang kebakaran jenggot kala film Da Vinci Code atau Golden Compass diproduksi. Iya lah, mereka kan lebih me-refer ke film ketimbang ke Alkitab! Iman yang didasarkan pada film... mau dibawa kemana kekristenan? Ke Holywood???

Dari kesaksian Injil Matius dan Markus, bahwa 'Yesus keluar dari air' (Mat 3:16, Mrk 1:9), sama sekali tidak berarti telah terjadi penenggelaman atas diri Yesus, tidak ada petunjuk kuat bahwa Yesus telah 100% dibenamkan di dalam air, seperti yang digambarkan oleh film-film. Kalau saya masuk ke sungai sampai ke mata kaki atau lutut atau pinggang, lalu saya naik ke darat, itupun bisa dikatakan bahwa 'saya keluar dari air'. Makanya saya bersyukur ada penjelasan dari Injil Lukas tentang hal ini, bahwa 'Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa' ketika langit terbuka dan Roh Kudus turun ke atasNya (Luk 3:21-22). Setelah dibaptis, Yesus berdoa, dan Roh Kudus turun atasNya... Tidak ada penjelasan sedikitpun bahwa Yesus telah diselam... Karena memang tidak perlu dijelaskan, karena memang tidak penting!

Semoga alasan cara baptisan Tuhan Yesus tidak lagi menjadi legitimasi baptisan ulang. Tapi kalau masih ada pembaptis ulang yang tegar tengkuk, saya harapkan Anda untuk bertobat, pelajari lagi Alkitab, dan berhenti menyesatkan jemaat untuk kepentingan pribadi Anda!

Lihat di: http://timotiustalksabout.blogspot.com/2011/01/balada-pembaptis-ulang-part-3.html

Alasan 3: Masuk gereja, musti baptis ulang?

Saya jadi teringat buku 'Just as I am' karangan Billy Graham, dimana di salah satu bagian terdepan mencantumkan pergumulan ybs saat akan memulai pelayanannya sebagai pendeta gereja B. Kenapa bergumul? Karena sesuai syarat gereja B, maka dia harus dibaptis ulang sesuai tata cara gereja tersebut, yaitu secara selam. Kalau nggak mau baptis ulang, ya nggak bisa melayani sebagai pendeta disitu. Akhirnya BG pun mau dibaptis ulang hanya untuk memenuhi syarat gereja setempat.
Sangat disayangkan, tata cara telah mengalahkan hakikat!
Saya juga punya rekan yang pindah gereja, dan aktif disana. Lalu setelah dia menjadi aktivis, keluarlah fatwa bahwa aktivis yang belum dibaptis selam maka harus dibaptis ulang secara selam. Kalau tidak mau... Ya silakan geser...
Saya hanya ingin bertanya satu hal ke para pembaptis ulang: "Sebagai hambanya Tuhan, saat Tuhan - Tuan Anda - sudah memeteraikan seseorang menjadi umatNya melalui baptisan percik, APA HAK ANDA untuk mencopot meterai yang telah disahkan Tuan Anda dan menganggapnya tidak sah? Apakah Anda merasa lebih tinggi dari Tuan Anda? Atau... Siapakah sebenarnya tuan Anda... Mamon-kah?

Kalau saya menjadi Anda, saya merasa takut karena perbuatan baptisan ulang sebenarnya telah melecehkan Tuhan. Mungkin Anda tidak tahu, mungkin karena ketidaktahuan Anda maka Anda telah berbuat salah.

Berita bagus untuk kita semua: 'Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang' (Yoh 8:11b).

lihat di: http://timotiustalksabout.blogspot.com/2011/01/balada-pembaptis-ulang-part-4.html

Jumat, 24 Desember 2010

MET NATAL...

kelahiran Kristus bkn menunjukkan kehebatan dan kekuasaan. kelahiran Kristus justru ingin menunjukkan KEPAPAHAN, KERINGKIHAN, KELEMAHAN DAN KETIDAKBERDAYAAN manusia. tetapi di dalam smua itu kehadiran Kristus ingin menunjukkan bahwa kita harus terus berjuang memaknai hidup karena ALLAH BESERTA KITA (IMMANUEL)
MET NATAL SEMUANYA....BERIKAN HIDUP KITA YANG TERBAIK SEBAGAI KADO TERINDAH UNTUK YESUS.
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar