Pages

Rabu, 17 April 2024

BUNUH DIRI, APAKAH SALAH?

BUNUH DIRI, APAKAH SALAH?

Banyak di antara kita merasa bahwa bunuh diri perlu dicegah. Tapi kenapa bunuh diri perlu dicegah jika penyebabnya tidak bisa dicegah? 

Bahkan kita peduli dengan mereka saja tidak, kita hanya peduli saat mereka ingin bunuh diri. Namun apakah kita peduli saat mereka ingin hidup? Tidak. 

Saat mereka teriak, "Aku ingin mati." Kita berbondong-bondong mencegahnya. Tapi saat mereka berteriak "Aku ingin hidup, tolong bantu aku." Kita tidak peduli karena kita merasa bahwa kita sendiri pun punya masalah yang harus diselesaikan. 

Bahkan ada yang teriak depresi, mau bunuh diri, di sosial media atau di real life, kita jadikan bahan olokan. Kita anggap mereka hanya orang-orang caper. 

Maka, kenapa kita melarang mereka untuk menyerah di saat tidak ada lagi harapan? Mungkin kalian bisa menolongnya hari ini, bagaimana dengan hari-hari mereka berikutnya? Hidup mereka akan menjadi urusan mereka sendiri, kan? Maka biarlah, kematian mereka juga menjadi urusan mereka sendiri. 

Biarlah kami menyerah, saat kami merasa memang sudah tiba di titik di mana kami tidak bisa lagi lanjut. 

Untuk kalian yang masih bertahan hingga hari ini, izinkan saya memberi apresiasi, "Kamu luar biasa. Kamu sudah melakukan hal terbaik yang bisa kamu lakukan."

Saya pernah menulis beberapa tulisan tentang bunuh diri. Bisa dibaca di bawah ini. 

A. BUNUH DIRI DAN PARA ORANG HEBAT

Dalam kitab suci umat kristen setidaknya saya menemukan 2 kisah tentang betapa frustasinya nabi yang dipilih Tuhan. Saking frustasinya mereka memilih untuk mati daripada hidup.

Yang pertama adalah kisah Nabi Yunus.

Yunus 4:3
Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.

Yang kedua adalah kisah nabi Elia

1 Raja-raja 19:4 
Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

Mari kita fokus ke satu kisah saja yaitu Elia. Tahukah kita betapa hebatnya Elia? Bisa jadi jauh lebih hebat dari kita yang sekarang merasa tidak mungkin bunuh diri. Kenapa?

Elia seorang diri melawan 450 orang nabi baal. Kita melawan 10 orang saja mungkin sudah ketakutan.

1 Raja-raja 18:22 Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. 

Tapi Elia yang luar biasa itu pun akhirnya terseok-seok. Dia terjatuh dalam depresi dan keinginan untuk mati. Tidak ada jaminan orang hebat akan selamanya hebat, dan orang kuat tidak selamanya tak kepikiran untuk mati. Mungkin saja saat ini kita belum tertimpa masalah seberat mereka yang memutuskan untuk bunuh diri. Berat dan kecil setiap masalah memang relatif. Ada yang diputusin pacar rasanya berat, ada yang diputusin strap CSM kamen ridernya udah terasa berat. Setiap orang punya badainya sendiri.

Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mengalami depresi akut. Oleh karena itu, saat mendengar berita bunuh diri, tidak selayaknyalah kita menyombongkan diri bahwa kita hebat dan mereka yang bunuh diri bodoh. Atau jutaan kalimat penghakiman lainnya. Tapi juga bukan berarti tindakan bunuh diri itu dibenarkan.

Seringkali bunuh diri terjadi karena mereka merasa sudah tidak ada lagi yang mau mengerti mereka. Saat ada yang mengatakan mereka depresi dan ingin bunuh diri, kebanyakan dari kita langsung menceramahi atau memberikan kata-kata bijak. Padahal belum tentu itu yang mereka butuhkan.

Kisah Elia menarik sekali, saat tahu Elia begitu depresinya, Tuhan tidak lantas mengkhotbahinya. Tuhan menyediakannya makan.

1 Raja-raja 19:5 
Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" 

Tuhan menunjukkan kepeduliannya. 2 kali Tuhan mengingatkan Elia untuk makan. Ada kebutuhan yang lebih penting untuk disentuh sebelum kita menjadi penceramah untuk teman-teman kita yang mau bunuh diri. Tunjukkanlah bahwa kita peduli kepada mereka, bukan ingin menghakimi atau menceramahi mereka.

B. BUNUH DIRI TIDAK BERMORAL?

Banyak di antara kita yang menganggap bunuh diri itu adalah tindakan yang tidak bermoral, dosa besar dan layak masuk neraka. Tapi tahukah kalian bahwa ada beberapa alasan bunuh diri yang tidak dapat dikatakan amoral.
1. Prinsip moral. Socrates, sebagai filsuf hebat, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Dia menenggak racun. Apakah itu artinya Socrates tidak bermoral? Justru hal itu dilakukan oleh Socrates sebagian bagian dari prinsip moralnya. Daripada dia menuruti bujukan muridnya, Cicero, untuk lari dari pengadilan yang tidak adil, Socrates memilih untuk bunuh diri sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan. Tidak hanya Socrates yang melakukan hal tersebut. Uskup John Joseph termasuk yang bunuh diri sebagai bentuk protes, dia menembak kepalanya dengan peluru di depan pelataran gedung pengadilan Pakistan. Aksi uskup ini dilakukan sebagai protes terakhirnya terhadap pengadilan yang sering tidak adil terhadap golongan minoritas sesudah berbagai cara protesnya tidak dihiraukan.
2. Harakiri/Seppuku. Sebagai bentuk rasa malu atas dosa, kesalahan, kegagalan dan tindakan amoral yang pernah dilakukan, orang Jepang (khususnya prajurit atau samurai) melakukan harakiri. Tindakan ini dilakukan secara sadar sebagai bentuk rasa malu dan penyesalan.
3. Kamikaze. Bunuh diri dengan menabrakkan diri atau bom bunuh diri, demi kebaikan golongannya. Ini berbeda dengan bom bunuh diri demi masuk surga. Bunuh diri demi masuk surga, itu sangat egois sekali. Kamikaze biasanya dilakukan prajurit Jepang, demi mengalahkan musuh dan meraih kemenangan.
4. Eutanasia. Walau dalam dunia teologi, agama dan kedokteran, euthanasia masih menjadi polemik tapi menurut saya, euthanasia masih termasuk dalam bunuh diri yang bermoral. Kenapa? Jika dilakukan oleh dirinya sendiri, maka ada kesadaran bahwa daripada dia merepotkan orang lain dengan biaya pengobatan dan proses pengobatan yang tidak ada ujungnya, maka dia memilih menghentikan hidupnya. Jika dilakukan oleh orang lain, maka ada kepedulian untuk mengakhiri penderitaan dari orang yang dikasihi. Daripada harus menderita sepanjang hidupnya, lebih baik dihentikan secepatnya. Daripada hidup tak bisa berbuat apa-apa, lebih baik mati ketemu Bapa. Eutanasia juga biasanya dilakukan atas pengawasan dokter.
5. Bullying (perundungan). Bunuh diri yang diakibatkan perundungan baik secara fisik, verbal maupun psikis bukan dosa si pelaku bunuh diri melakukan dosa di perundung.


C. BUNUH DIRI HAL BIASA?

Thomas Bronisch dalam bukunya Der Suizid menjelaskan bahwa pada awalnya tindak bunuh diri adalah suatu hal yang biasa. 

Baron de Montesquieu pernah mengatakan bahwa hidup adalah sebuah hadiah, dan kita berhak mengembalikannya.

Rousseau pernah mengatakan bahwa manusia berhak menentukan nasibnya sendiri, termasuk untuk bunuh diri. Jika kita sudah tidak bernilai bagi lingkungan atau membawa pengaruh negatif bagi lingkungan kita maka kita berhak untuk bunuh diri. 

Nietzsche juga pernah mengatakan bahwa bunuh diri adalah hak mendasar bagi setiap orang.

Karl Meningger berpendapat bahwa bunuh diri memiliki pola yang sama seperti naik gunung, nonton tv, memakai narkoba, dan pergi berlibur. Sama-sama ingin keluar dari kepenatan rutinitas hidup. Bedanya adalah, nonton tv bersifat sementara sedangkan bunuh diri selamanya.

Lalu mengapa bunuh diri bisa sampai dianggap sebuah kejahatan?

Dimulai setelah Sinode Arles Gereja Katolik pada 452, tindak bunuh diri lalu dianggap sebagai kejahatan. Mereka berpendapat bahwa saat bunuh diri, setan menggoda hati dan pikiran kita. Orang yang melakukan bunuh diri, artinya mengikuti maunya setan dan mereka adalah pengikut setan. Pada abad pertengahan, gereja katolik sangat erat dengan pemerintahan, sehingga pandangan ini pun diserap oleh hampir semua kerajaan Kristen di Eropa, bahkan menjadi bagian dari hukum negara mereka selama ratusan tahun. Bahkan bunuh diri dianggap lebih jahat dari membunuh orang lain. Pandangan ini setidaknya berlaku di Eropa hingga tahun 1790. 

Di Indonesia? Sampai saat ini, masih banyak kita temukan di gereja dan mungkin juga di agama-agama lain yang menganggap bunuh diri adalah sebuah kejahatan dan layak masuk neraka. Bahkan, sampai-sampai, mereka yang sudah mati bunuh diri pun masih dihakimi oleh kita yang merasa paling suci hidupnya. 

Dalam kekristenan, memang kita percaya bahwa hidup kita bukanlah milik kita sepenuhnya. Oleh karena itu, Immanuel Kant mengatakan bahwa tetap hidup di saat masih diberi kesempatan hidup adalah salah satu kewajiban moral kita.

Tetapi, menghakimi mereka yang ingin mengakhiri hidupnya, bukanlah kewajiban moral kita.  

D. Bunuh diri, dosa?

Kisah tentang Uskup John Joseph yang bunuh diri (lihat bagian B) pernah masuk dalam materi buku agama katholik. Beberapa orang katolik tidak terima
. Tindakan uskup tersebut dianggap tidak benar. Dan uskup tersebut dipastikan masuk neraka, menurut beberapa pendapat. Apapun alasannya, bahkan sekadar untuk menolong orang lain lalu mengorbankan nyawa kita, itu juga dosa katanya. 

Misal, kita berpegangan pada sebuah tali yang sedang dipegang oleh teman kita. Kita dan teman kita sedang berada di tebing jurang. Jika diteruskan lebih lama, kita berdua akan terjatuh dan mati. Daripada mati berdua, kita memilih untuk melepas tali agar kita saja yang mati dan kawan kita selamat. 

Namun, tindakan ini juga dianggap bunuh diri yang membawa pada hukuman neraka. Padahal di dalam alkitab dikatakan, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." Yoh 15:13. Pengorbanan harusnya tidak termasuk dalam bunuh diri. 

Jika memang termasuk dalam bunuh diri. Apakah itu artinya Yesus juga melakukan bunuh diri? Apakah Dia juga akan masuk neraka?

Foto di bawah ini adalah salah satu bab dari buku saya yang berjudul "Philo+Sophie".

Sabtu, 13 April 2024

JIKA KHOTBAH PENDETA MEMBOSANKAN

JIKA KHOTBAH PENDETA MEMBOSANKAN

Kalo khotbah pendetamu mulai muter-muter ga jelas, keluar dari tema, tidak ada kreativitas dalam penyampaian, kebanyakan kesaksian pribadi dan nyindir pihak yang ga sepaham, apalagi isinya udah mulai ngomongin persembahan, ya udah main game aja. 
Loh kok main game? 

Lah mau ngapain lagi? Dikasih masukan juga ga mau, katanya "ke gereja itu harus karena Tuhan, bukan karena manusia" atau "khotbah itu yang penting firman Tuhan, bukan metode-metode ga jelas."

Note: entah para pendeta sadar atau pura-pura tidak sadar bahwa banyak anggota jemaatnya yang main hp saat dia khotbah. Saat umat mulai memainkan hp dan tidak memperhatikan khotbah, seharusnya ini warning awal untuk pendeta. Memikirkan secara kreatif apa yang harus saya lakukan, bukan "yang penting firman Tuhan selesai disampaikan dan khotbah selesai."

Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Mgr. Prof. Henricus Pidyarto Gunawan, bisa tonton di sini

Nuryanto Gracia,
Skripsi S1 tentang Homiletika

Jumat, 12 April 2024

SIKSA KUBUR (SEBUAH PENAFSIRAN, BUKAN REVIEW)

SIKSA KUBUR (SEBUAH PENAFSIRAN, BUKAN REVIEW)

WARNING, SPOILER!!!

Udah dikasih warning yah, saya ga tanggung jawab kalo ada yang kesel karena baca spoiler.

Salah satu film Indonesia yang lagi marak Minggu ini adalah Siksa Kubur. Film ini menceritakan Sita yang berusaha mencari bukti bahwa sika kubur ada atau tidak. Tapi sebenarnya, yang ingin dia buktikan adalah "siksa kubur itu tidak ada" karena ayah dan ibunya korban dari ekstrimis bom bunuh diri yang ditakuti oleh suara rekaman siksa kubur. Selain cerita yang menarik, ending cerita ini juga menarik karena memberikan keleluasaan kepada penonton menebak sendiri endingnya. Ada banyak teori di internet yang menjelaskan ending dari film siksa kubur. 

Saya tidak terlalu tertarik dengan menafsir ending film ini, saya lebih tertarik menafsir pesan yang ingin disampaikan Joko Anwar. Mas Joko memberikan keleluasaan penonton untuk menafsir dan menebak akhir film ini, jadi saya pun akan menafsir film ini berdasarkan sudut pandang saya. 

Film ini menurut saya bukan ingin membuktikan siksa kubur itu ada, film ini justru mengajak kita berpikir kritis atasnya. Apa tanda-tanda yang diberikan di dalam film mengenai hal tersebut?
1. Film dimulai dengan bom bunuh diri dari orang yang ketakutan sama suara siksa kubur. Ketakutan terhadap ide siksa kubur membuat orang bisa jadi ekstrimis.
2. Saat Sita di pesantren, dia berdebat dengan Ustadzah yang menakut-nakuti santriwati tentang siksa kubur, menurutnya agama hanya menakut-nakuti orang. Bahkan ketakutan akan siksa kubur membuat orang melakukan bom bunuh diri.
3. Pak Wahyu yang jahat, memberikan 2 pertanyaan logis mengenai siksa kubur. Pertama, jika siksa kubur ada, maka apa yang disiksa, fisik atau jiwa? Jika fisik yang disiksa maka siksaan terus menerus akan membuat kita mati rasa. Kedua, siksa kubur ini tidak menakutkan untuk masokis karena mereka akan menikmatinya. Dua pertanyaan ini tidak dijawab sama sekali di dalam film ini. 
4. Ada adegan anak-anak yang berhasil membuktikan adanya suara siksa kubur membuat kekacauan di masyarakat. 
5. Sita awalnya tidak berhasil merekam siksa kubur dan mengalami peristiwa kematian Bu Nanik dan temannya. Namun kemudian adegan kembali lagi ke saat Sita masih di dalam kubur. Hal ini membuktikan bahwa peristiwa kematian Bu Nanik dan temannya adalah ilusi. Bukan hanya kematian Bu Nanik yang ilusi. Menurut saya peristiwa siksa kubur yang dilihat oleh Sita adalah ilusi yang dibuat oleh Bu Nanik dan suaminya. Mengapa? Karena di akhir film, Suami Bu Nanik menonton video rekaman pak Wahyu yang mengatakan bahwa adegan siksa kubur akan memperlihatkan hal paling menakutkan untuk kita. Dan hal paling menakutkan untuk Sita adalah jika siksa kubur itu nyata. 

Jadi, menurut saya, film ini justru mengajak kita mempertanyakan kembali siksa kubur secara kritis. Apakah pemahaman ini membuat kita hidup lebih baik atau justru membuat kita jadi ekstrimis?

Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian di STF Driyarkara

Selasa, 09 April 2024

Kristen (inklusif) progresif.

Kristen (inklusif) progresif.

Munculnya Pastor Brian membuat istilah Kristen progresif menjadi terkenal. Lalu orang-orang mulai alergi dengan istilah Kristen Progresif, sama seperti orang alergi dengan istilah liberal, akhirnya yang tidak sepandang dengan mereka disebut liberal. Misalnya Rudolf Bultmann dianggap liberal oleh umat Kristen pada umumnya karena ajaran demitologisasinya, padahal pada masa itu dia justru sedang melawan teologi liberal. 

Brian ini jika didengarkan dengan baik selalu mengulang-ngulang hal yang sama. Saya percaya bahwa di saat seseorang mengulang-ngulang hal yang sama, maka hal itu penting bagi dirinya. Di hampir semua video yang dia ambil sendiri atau di platform orang lain, dia selalu mengatakan, "Setelah saya belajar S2 teologi ...."

Dia bahagia sekali dengan proses belajarnya, dia mengalami perubahan paradigma tentang alkitab, Allah, keselamatan dan masih banyak lagi di dalam proses belajar tersebut. Brian ini sama seperti mahasiswa teologi S1 yang baru masuk teologi, dan terkaget-kaget karena mendapatkan pembelajaran tentang iman yang berbeda banget dengan apa yang diajarkan oleh pendeta di gerejanya. Tentu saja, di kampus, pembicaraan tentang Tuhan harus dibicarakan secara akademis (pembicaraan tentang Tuhan, bukan Tuhannya yang dibicarakan secara akademis, semoga Anda bisa membedakan 2 hal tersebut). Ada landasan ilmiah, pendekatan interdisipliner dan kebebasan dalam mengkaji sesuatu. Mahasiswa tidak diindoktrinasi untuk mempercayai hanya ada 1 ajaran kekristenan yang benar. Bahkan di kelas sejarah teologi yang saat ini sedang saya tempuh (di S2), saya diperhadapkan pada banyak sekali ajaran gereja dari zaman bapa-bapa gereja hingga saat ini. Dan ajaran-ajaran kekristenan yang kalian dengar dari pendeta kalian di gereja, adalah (hanya) salah satu dari itu. 

Saya ingat dulu salah satu dosen di S1 pernah mengatakan, "Iman sekolah Minggu kamu di sini diruntuhkan, agar kamu bisa membangun imanmu sendiri, bukan iman kata pendeta atau guru sekolah minggumu lagi."

Jadi, kebahagiaan yang dirasakan oleh Brian, adalah kebahagiaan yang saya rasakan dulu. Kebahagiaan karena mendapatkan pemahaman baru, cara melihat alkitab secara baru dan cara mengimani Tuhan secara baru. Iman yang selalu mempertanyakan segala sesuatu, bukan iman yang percaya saja apa yang dikatakan pendeta. Tapi bukan berarti saya setuju dengan apa yang dikatakan Brian, karena memahami seseorang tidak berarti kita setuju dengan apa yang dikatakannya.

Di dalam video terbarunya di IG, dia juga bahagia sekali jika karena keviralan dirinya, umat Kristen mempertanyakan kembali keimanannya. Tapi sayangnya, umat Kristen dan pendeta, banyak yang tidak senang. Karena mempertanyakan iman, dapat membahayakan gereja, walau kata pendeta "membahayakan dirimu, karena kamu bisa berpaling dari Kristus." Padahal mungkin maksudnya berpaling dari gereja, dan jumlah umat jadi berkurang. 

Jika ditelisik lebih jauh pandangan Brian ini, dia bahkan jauh banget dari kata liberal. Dia cinta banget sama Yesus Tuhannya, bahkan sampai menganggap bahwa semua orang dari agama apapun sesungguhnya adalah anak Yesus (red: pengikut Yesus maksudnya), namun mereka tidak sadar itu. Karena semua orang adalah anak Yesus, maka semua orang pasti diselamatkan, apapun agamanya. Umat Kristen lalu menilai bahwa Brian mengajarkan ada keselamatan di luar Yesus. Tidak, bagi Brian tidak ada keselamatan di luar Yesus, keselamatan hanya ada di dalam Yesus tapi agama apapun diselamatkan karena semua agama sejatinya menyembah Yesus (di dalam dunia teologi kita mengenal istilah Kristen anonim yang diperkenalkan oleh Karl Rahner). Maka jika dalam trikotomi studi agama-agama, yang sudah usang, Brian ini masuknya yah inklusivisme, bahkan jauh sekali dari kata pluralisme. 

Jadi bagi saya, Brian adalah Kristen Inklusif Progresif. Walau entah apa yang progresif dari pandangannya, karena pandangannya, kalo dilihat dari mereka yang belajar teologi secara akademis (bukan di sekolah alkitab, semoga Anda bisa membedakan antara sekolah alkitab dan sekolah teologi) maka pandangan Brian ini yah ga progresif-progresif amat. Bahkan cenderung berhenti di satu zaman. Cuma karena banyak gereja yang ajarannya juga merupakan warisan dari zaman yang lebih lama dari teologi yang dipahami oleh Brian, jadi kesannya apa yang disampaikan oleh Brian adalah sesuatu yang progresif dan sesat. 

"Tapi Brian itu tidak percaya bahwa alkitab tidak bisa salah (ineransi alkitab) loh."

Bukan cuma Brian, banyak teolog yang berpandangan seperti itu juga. Alkitab bisa salah, tapi dalam hal apa? Nah itu yang akhirnya melahirkan ineransi alkitab berlapis-lapis. Cari sendirilah yah, nanti tulisan ini jadi sangat panjang, walaupun ini juga sudah sangat panjang. 

Kalo dengan pandangan Brian aja kalian sudah terkaget-kaget, bagaimana dengan pandang pendeta-pendeta yang berasal dari sekolah teologi yang katanya "liberal", yang bahkan cara berpikirnya jauuuuuuuuh lebih progresif. 

Untuk umat Kristen, saya mau berpesan, "Iman kekristenan itu jauh lebih luas dari pengetahuan pendetamu dan melintasi sekat-sekat bangunan gerejamu. Jadi, yang tidak sesuai dengan ajaran pendetamu, belum tentu sesat."

Untuk pendeta-pendeta, saya mau berpesan, "Biasakan memberi ilmu dalam khotbah-khotbahmu. Isi khotbah jangan cuma ngutip-ngutip ayat, kesaksian pribadi, ajakan memberi persembahan yang lebih besar, dan mengulang-ngulang ajaran gereja yang itu-itu aja. Jemaatmu nanti jadi jemaat kagetan. Ada orang yang berbeda teologi langsung dicap sesat. Ada umat yang mempertanyakan keimanan dan Tuhannya dianggap berbahaya. Ada umat yang mengkritik ajaran pendetanya dianggap sok tahu. Jadilah pendeta yang menebar kabar baik dan juga ilmu. Sehingga umatmu menjadi umat yang beriman dan juga pembelajar."

Sebagai penutup (biasanya di paper, di bagian penutup ada tanggapan kita terhadap tokoh yang sedang kita bahas, karena sedang membahas Brian Siawarta maka saya akan menanggapi pandangannya) saya akan menanggapi pandangan Brian yang mengatakan bahwa apapun agama kita sebenarnya kita adalah anak Yesus. Tanggapan saya dalam bentuk komik aja yah.

Komik ini berisi 8 pandangan dalam melihat agama lain, pandangan Brian adalah salah satunya. Saya terbitkan beberapa tahun silam. Komik ini yang sempat membuat IG akun komik saya direport rame-rame, akhirnya kena shadow banned. Padahal saya hanya menyampaikan pandangan-pandangan yang ada loh, bukan mengajarkan sesuatu yang baru. Jadi yah, saya bisa memahami kenapa banyak yang kaget dengan ajaran Brian sekarang. 

Karena jangan-jangan, pendeta sekarang memang banyak membuat umatnya jadi umat "kagetan". 

Semoga habis baca tulisan ini, pendetanya juga ga kagetan. 🤭🤭🤭

Nuryanto Gracia,
S1 di sekolah teologi yang katanya "liberal".

S2 di sekolah filsafat yang teologinya sangat "kanonik" sekali. Saya merasa sangat beriman sekali sekarang 🤣🤣🤣🤣

Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar