Pages

Rabu, 26 Maret 2025

YESUS DI PLANET LAIN

YESUS DI PLANET LAIN

Allah di dalam kekristenan berinkarnasi di bumi sebagai Yesus. Namun kekristenan percaya bahwa Allah bukan hanya Tuhan atas bumi, tapi juga Tuhan atas seluruh semesta. Itu artinya, jika di bumi Allah berinkarnasi sebagai Yesus untuk menyelamatkan manusia maka di planet lain mungkin saja Dia juga berinkarnasi menjadi makhluk yang ada di planet lain untuk menyelamatkan mereka dari dosa mereka. Yang bisa melakukan dosa dan butuh keselamatan bukan hanya manusia di bumi kan?

Sedang bertanya-tanya, di planet lain, nama Allah yang berinkarnasi itu siapa yah? Dan matinya diapakan yah? Ga mungkin disalib juga kan? Salib kan hukuman di bumi pada zaman Yesus hidup.

Jika kalian marah dan menganggap saya sedang menghina Tuhan, bukankah itu artinya kalian beranggapan bahwa Allah hanya terbatas di bumi dan tidak mewujudkan diri-Nya kepada makhluk di planet lain? Bukankah itu artinya Allah kita hanyalah Tuhan atas bumi? Bagi saya, Allah itu Mahakuasa, kekuasaan-Nya jauh lebih besar dari bumi yang sangat kecil ini. 

Bahkan gambar Yesus di bumi saja ada banyak versinya (lihat gambar 1), maka sudah pasti di planet lain wujud Allah yang berinkarnasi pun pasti berbeda. Mungkin saya seperti gambar 2. Entah seperti apapun wujud-Nya, saya yakin Allah juga pasti berkuasa atas planet lain dan juga berkorban untuk makhluk di planet lain, karena Dia mengasihi seluruh ciptaan-Nya. Tidak hanya manusia di bumi. 

Gambar 1

Gambar 2 (Saya minta meta AI untuk berimajinasi, dia memberikan beberapa gambar, dan saya paling suka yang ini)

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
Di STF Driyarkara
Dan pendeta di salah satu gereja kecil di jakarta. 

Rabu, 19 Maret 2025

YESUS BUKAN JAWABAN

YESUS BUKAN JAWABAN

Sepertinya para pendeta sudah mulai harus dengan rendah hati mengatakan Yesus bukan jawaban atas segala masalah hidup. Jika pendeta masih bersikeras mengatakan Yesus adalah jawaban atas masalah hidup maka di setiap kondisi kritis umat kita akan pertama-pertama berdoa, membaca alkitab, pergi ke gereja dan konseling ke pendeta. Mereka tidak pergi ke tempat/ahli yang seharusnya. Masalah yang seharusnya dapat diselesaikan, malah tidak selesai dan dianggap seakan selesai. 

Pendeta harus dengan rendah hati sadar bahwa teologi, agama dan dirinya sendiri tidaklah bisa menjawab semua masalah hidup yang sangat kompleks. Pendeta harus membuka cakrawala berpikir umat bahwa Tuhan menyediakan banyak sekali ilmu dan ahli lain yang bisa membantu mereka. Tapi kadang pendeta sulit menyampaikan ini karena takut peran mereka yang dianggap bisa segalanya, menghilang. Malah jangan-jangan slogan "Yesus adalah jawaban" sesungguhnya bermakna "Pendeta/gereja adalah jawaban". Apapun masalahmu datanglah ke pendeta/gereja. 

Mari kita coba lihat dari beberapa masalah di gambar ini.
- Kanker: Jika umat punya kanker, arahkan mereka ke rumah sakit, bukan ke gereja. Pergi ke gereja tidak akan membuat kanker mereka sembuh. Mengharapkan mukjizat? Kisah mukjizat di dalam alkitab bahkan jarang (jika tidak mau disebut hampir tidak pernah) terjadi di rumah ibadah. Jadi, mukjizat juga bisa terjadi di rumah sakit. 
- Bullying (perundungan): Laporkan ke pihak berwajib, guru, orang tua atau media massa. Bukannya hanya berdoa, baca kitab suci, terus lapor ke gereja. Apa yang kalian harapkan dari melaporkan perundungan kepada pendeta? Semua perundungmu akan dihajar oleh pendeta seperti di Drakor Fiery Priest? Bagus kalo gitu. Kalo pendetanya malah bilang, "Kita harus belajar mengasihi musuh kita seperti yang Yesus ajarkan. Doakan saja agar Tuhan melembutkan hati mereka." Bagaimana?
- Depresi dan kecemasan: pergilah ke psikolog /psikiater. Masalah kesehatan mental harus ditangani oleh ahlinya. Jika kita hanya berdoa, membaca alkitab, rajin ke gereja dan mendengarkan khotbah pendeta, itu tidak banyak membantu. Malah jangan-jangan pendetanya bilang, "Kamu harus bertobat, ada dosa yang masih kamu lakukan". Masalah kesehatan mental seringkali dihubungkan dengan dosa oleh beberapa pendeta dari aliran tertentu. 
- Pekerjaan dan uang: di beberapa gereja memang ada yang menyediakan loker tapi jawaban dari masalah ini tentu saja bukan Yesus atau gereja kan, tapi "bekerja mencari uang". Pendeta/gereja mungkin bisa memberi kita info lowongan kerja, tapi mereka tidak bisa membantu masalah keuangan kita. Kita pinjemin duit juga mungkin mereka takut. 
- Kekhawatiran dan patah hati: mungkin Yesus bisa menjadi jawaban di sini, tapi entah sampai batas mana. Karena kenyataannya, kita masih harus mencari jawaban lain. Misal, khawatir dipecat dari tempat kerja, kita harus bekerja lebih baik. Baru putus sama pacar, kita berusaha merelakan dan setelah beberapa waktu, mencari pasangan baru. 
- Perceraian, kematian, dan kesepian: Yesus juga bisa menjadi jawaban di bagian ini, mungkin. Mereka yang menikah secara kristen, tentu saja harus ke gereja untuk konsultasi perceraiannya kepada pendeta. Tapi perlu kalian ketahui, kalo mau cerai sebenarnya bisa langsung ke catatan sipil, tidak harus ke gereja dulu. Bahkan gereja sulit sekali mengabulkan perceraianmu, karena konon Kristen tidak mengizinkan perceraian. Saat ada kematian, gereja bisa membantu dalam ibadah. Atau saat takut akan kematian, Yesus bisa menjadi jawaban untuk menghibur dan menguatkan. Saat kesepian, Yesus juga bisa menjadi jawaban yang menenangkan, "Kamu tidak sendiri, Yesus selalu bersamamu." Entah apakah ini sesungguhnya adalah jawaban atau hanya eskapisme. 

Demikian usulan saya. Walau kesannya seperti tidak percaya kuasa Tuhan, namun pandangan saya tersebut justru membuat kita melihat kuasa Tuhan jauh lebih luas dari sekadar doa, baca alkitab, pendeta dan gereja. Tuhan yang kita percaya Maha Kuasa, bisa bekerja dalam berbagai cara, ahli, dan tempat. Tuhan tidak terpenjara dalam sekat-sekat gereja. 

Namun, saya memulai tulisan ini dengan kata "sepertinya", itu artinya bisa jadi pendapat saya benar, bisa jadi pendapat kalian yang benar. Mungkin pendeta sebagai sosok yang bisa segalanya memang masih dibutuhkan dan Yesus sebagai jawaban atas apapun masalahnya masih diperlukan.

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
Di STF Driyarkara
Dan pendeta di salah satu gereja kecil di jakarta. 

Senin, 03 Maret 2025

Yesus dan Para Pelaku Mukjizat Masa Kini

Yesus dan Para Pelaku Mukjizat Masa Kini

Yesus marah kepada Petrus yang hanya berpikir bahwa Yesus tidak dapat /tidak boleh menderita karena Dia adalah mesias politik yang akan menyelamatkan mereka dari penjajahan. 

Mungkin Yesus juga akan marah ke mereka saat ini yang hanya fokus pada mukjizatnya. Mereka yang akan kecewa ketika mengikut Yesus tidak mendapatkan mukjizat sama sekali.  Mereka yang bahkan sampai merekayasa mukjizat kesembuhan di tiap-tiap KKR yang mereka lakukan agar banyak orang datang dan memuliakan T̶u̶h̶a̶n̶ mereka yang melakukan mukjizat (tipuan) tersebut. Setelah berhasil membuat kagum, mereka akan merendah (humblebragging) dengan mengatakan, "Semua ini terjadi hanya karena kuasa Tuhan, saya hanyalah seorang hamba." 

Mungkin Yesus sedang terdiam bingung di singgasananya setiap mendengar kata-kata mereka itu, "Kuasa Tuhan? Tuhan yang mana, wong Saya ga bantuin apa-apa."

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian 
STF Driyarkara 

Kamis, 21 November 2024

IBLIS PUN DISELAMATKAN

IBLIS PUN DISELAMATKAN

Ada dua tokoh menarik, satu dari Islam, dan satu lagi dari Kristen, yang berpendapat bahwa Iblis pun akan masuk surga. Tokoh itu adalah Ibn. Arabi dan Origenes. Dua tokoh ini tentu saja dianggap sesat dalam agamanya masing-masing.

Ibn Arabi dengan konsep wahdatul wujud (kesatuan wujud) menyinggung kemungkinan rahmat Allah yang begitu luas sehingga bisa mencakup semua makhluk, bahkan iblis. 

Origenes dengan konsep apokatastasis berkeyakinan bahwa pada akhirnya, semua makhluk akan dipulihkan ke dalam hubungan yang benar dengan Tuhan. Ini termasuk manusia, malaikat, bahkan iblis.

Sebenarnya, 2 tokoh tersebut tidak secara eksplisit menyebut bahwa iblis akan masuk surga. Tafsiran di kemudian hari lah yang membuatnya tampak seperti itu. 

Walau memiliki konsep serupa tentang keselamatan bagi segala makhluk, namun 2 tokoh ini memiliki perbedaan dalam memandang keselamatan bagi agama lain. 

Dalam Fushush al-Hikam, Ibn Arabi menyatakan:

"Hatiku dapat menerima segala bentuk: menjadi padang rumput bagi rusa, biara bagi rahib, kuil bagi berhala, Ka'bah bagi peziarah... Aku memeluk agama cinta, ke mana pun untanya pergi."

Pernyataan ini sering dipahami sebagai sikap keterbukaan Ibn Arabi terhadap keberagaman agama, bahwa semua jalan, jika benar-benar tulus, bisa mengarah pada Tuhan.

Origenes memiliki pandangan berbeda, dia sangat percaya bahwa keselamatan hanya dapat dicapai melalui Kristus. Namun, ia mengajarkan bahwa rahmat Kristus tidak dibatasi hanya kepada mereka yang secara formal menjadi Kristen dalam kehidupan ini. Dia menyatakan bahwa bahkan mereka yang belum mengenal Kristus di dunia ini mungkin memiliki kesempatan untuk mengenal-Nya setelah kematian.

Origenes percaya bahwa hukuman di akhirat bersifat korektif, bukan kekal, sehingga memberikan peluang bagi semua makhluk untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Dalam konteks agama lain, ini berarti bahwa semua orang, terlepas dari keyakinan mereka, dapat akhirnya diselamatkan melalui kasih Tuhan.

Origenes mengakui bahwa ada unsur kebenaran dalam agama-agama lain, tetapi ia percaya bahwa kebenaran tersebut tidak sempurna atau lengkap. Baginya, agama-agama lain mungkin mengandung pencarian Tuhan yang tulus, tetapi hanya dalam Kristus kebenaran penuh dapat ditemukan.

Walaupun berbeda dalam memandang keselamatan dalam agama lain, namun setidaknya mereka tidak membenci agama lain. Mereka percaya bahwa agama lain pun memiliki kesempatan untuk diselamatkan Tuhan. Jangankan agama lain, iblis pun memiliki kesempatan diselamatkan. 

Pandangan ini setidaknya, tidak membawa umat kepada kompetisi negatif yang pada akhirnya membuat umat berbeda saling mencurigai, menuduh dan pada akhirnya saling membunuh. 

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
STF Driyarkara

Senin, 18 November 2024

HUMOR YESUS

Mungkin saat umat Kristen telah meninggal dan bertemu Yesus, kita bisa melakukan pendalaman PA (Pendalaman Alkitab) bersama Dia. Dan jangan-jangan, percakapan yang terjadi akan seperti ini (cuma jangan-jangan loh ini):

Anak: Tuhan, aku mau bertanya banyak hal mengenai Engkau yang ditulis di dalam kitab suci. Boleh?
Yesus: Tentu saja.
Anak: Mengapa Engkau mengatakan kalimat ini? (Sambil menunjuk salah satu ayat)
Yesus: Seingatku, aku tidak pernah mengatakan kalimat tersebut.

Anak: Kalo yang ini gimana? Apakah benar maknanya seperti ini? 
Yesus: Wah, terlalu jauh sekali jika kalimatku itu ditafsirkan sampai ke sana. Bahkan aku tidak pernah kepikiran sampai ke sana.

Anak: Yang ini gimana, Tuhan? Apakah memang artinya seserius itu?
Yesus: Aku sedang bercanda loh ini. Masa kalian ga bisa menangkap humor yang kumaksud? Apa kalian selalu seserius itu saat memaknai kalimat-kalimatku?

Rujukan untuk mengenal humor Yesus bisa membaca 2 buku ini:
1. Douglas Adams. The Prostitute in the Family Tree: Discovering Humor and Irony in the Bible.
2. Terri Bednarz. Humor in the Gospels: A Sourcebook for the Study of Humor in the New Testament.

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
STF Driyarkara 

Kamis, 14 November 2024

ANJINGKU MATI MASUK SURGA?

Jika anjingku mati, masuk surga ga?

Eko-teologi seringkali dianggap sebagai usaha untuk keluar dari antroposentrisme. Namun kenyataannya di lapangan, diskusi-diskusi eko-teologi yang berkembang justru masih berkutat pada antroposentrisme, entah sadar atau tidak. 

Mari kita lihat:
1. "Jangan buang sampah sembarang, nanti banjir." Kalo banjir emang kenapa? Manusia akan menderita, kan? Masih manusia fokusnya, kan?
2. "Kalo alam rusak, anak cucu kita nanti makan apa?" Masih manusia fokusnya, kan?
3. "Kalo flora dan fauna punah, anak cucu ga bisa kenal dan tahu flora dan fauna yang punah itu." Manusia lagi, kan?
4. Bahkan ada yang mengutip pepatah kuno untuk menjelaskan mengapa kita harus merawat alam, "Ketika pohon terakhir ditebang, ikan terakhir telah ditangkap dan sungai terakhir telah kering Saat itulah manusia baru sadar, bahwa uang tidak bisa dimakan." Tapi isi  kutipannya masih fokus pada manusia, kan?
5. "Alam dilibatkan dalam karya keselamatan Allah." Karya keselamatan yang mana? Yang Yesus mati untuk umat manusia? Manusia lagi kan fokusnya?
6. "Kita harus merawat bumi ini, karena bumi adalah rumah bersama." Rumah bersama untuk siapa? Manusia yang berbeda-beda, kan? Hewan dan tumbuhan hanya menjadi penyokong kebutuhan manusia. 
7. "Eko-teologi mengajak kita menafsirkan kembali teks-teks yang eksploitatif terhadap alam agar alam tidak rusak dan habis." Memang kalo rusak dan habis kenapa? Manusia akan kehabisan sumber energi dan akan terjadi bencana alam yang merugikan manusia. Manusia lagi kan?

Jika mau jujur, eko-teologi kita masih berputar-putar di antroposentrisme. Kita bahkan tertawa saat mendengar seorang anak kecil bertanya, "Kalo anjingku mati, dia masuk surga ga?" 
Apalagi jika ada yang bertanya, "Jika tanaman hiasku mati, dia masuk surga ga?" Mungkin kita akan tertawa terbahak-bahak. 

Setidaknya ekoteolog sejati adalah anak-anak tersebut yang memikirkan kebaikan hewan dan tumbuhan pada dirinya, bahkan memikirkan juga bahwa karya keselamatan Allah juga berlaku untuk para tumbuhan dan hewan tersebut.

*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
STF Driyarkara 

Sabtu, 17 Agustus 2024

SI LUMPUH YANG CEPU DAN TIDAK TAHU TERIMA KASIH

SI LUMPUH YANG CEPU DAN TIDAK TAHU BERTERIMA KASIH

Dalam Yohanes 5:1-18 kita mendapatkan ada seseorang yang sudah sakit selama 38 tahun. Banyak tafsir yang mengatakan dia lumpuh, padahal di teks hanya dituliskan bahwa dia sakit. Tidak ada yang mengatakan dia lumpuh. Namun tafsiran ini berangkat dari ayat 7, 
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

"Tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam" dan "sementara aku menuju kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kalimat ini menjadi landasan bahwa orang itu lumpuh. Walaupun tidak harus penyakit lumpuh yang membuat seseorang tidak dapat berjalan dengan baik dan cepat. "Sementara aku menuju kolam itu" menandakan bahwa tubuhnya bisa bergerak, namun tidak cepat.

Namun lumpuh sendiri bisa banyak jenisnya (menurut https://www.spinalcord.com/types-of-paralysis)
1. Monoplegia: kelumpuhan pada satu area tubuh, biasanya satu anggota tubuh. 
2. Hemiplegia memengaruhi lengan dan tungkai di sisi tubuh yang sama.
3. Paraplegia: mengacu pada kelumpuhan di bawah pinggang, dan biasanya memengaruhi kedua kaki, pinggul, dan fungsi lainnya. Jadi bisa jadi kakinya yang tidak bisa bergerak sehingga dia hanya menyeret tubuh dengan tangannya.
4. Quadriplegia: kelumpuhan di bawah leher. Keempat anggota badan, serta batang tubuh, biasanya terpengaruh. 

Jadi, dari 4 jenis lumpuh tersebut, tafsiran yang mengatakan orang ini lumpuh tidak bisa dianggap salah 100%.

Namun pernahkah kita bertanya-tanya mengapa selama 38 tahun dia sakit, namun tidak ada yang membantunya ke kolam Betesda? Apakah orang-orang Yahudi tidak memiliki rasa kemanusiaan? Padahal di Injil Sinoptik kita mendapatkan kisah orang lumpuh yang dibantu oleh beberapa orang untuk bertemu Yesus dengan cara menurunkan orang lumpuh itu dari atap beserta tilamnya (Mrk 2:1-12; Luk 5:17-26). Menurunkan tilam dan orang lumpuh dari atap yang sulit itu aja banyak yang mau bantu, kenapa hanya menurunkan ke kolam Betesda yang lebih mudah, tidak ada yang membantu? 

Ada beberapa kemungkinan alasan:
1. Orang-orang sekitar telah tahu karakter orang itu. Dia adalah orang yang tidak tahu terima kasih. Hal ini terlihat saat Yesus berhasil menyembuhkannya. Apakah dia berterima kasih kepada Yesus? Tidak. Bersukacita? Tidak. Berbeda dengan orang lumpuh yang disembuhkan pada Kis 3:8 "Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah." Bukankah orang ini mengingatkan kita kepada Luk 17:11-19. Satu dari 9 orang yang tidak kembali dan bersyukur kepada Yesus. Bahkan saat Yesus menemuinya kembali dia tidak mengatakan apapun, malah mengadukan Yesus kembali kepada orang-orang Yahudi (Yoh 5:15).

2. Orang-orang sekitar tahu bahwa dia adalah orang yang membalas air susu dengan air tuba. Bukan hanya tidak berterima kasih, dia justru mengadukan Yesus sebagai orang yang membuat dia melanggar hari sabat. 

3. Dia adalah orang yang lebih suka menyalahkan orang lain daripada bercermin diri. Sewaktu Yesus bertanya maukah engkau sembuh? Dia tidak menjawab. Dia justru menyalahkan orang lain yang tidak membantunya. Setelah Yesus membantunya, dia justru menyalahkan Yesus. Dalam hidup, kita sering ketemu orang seperti ini yah? Banyak? Banyak. Mungkin kita salah satunya. 

4. Dia mengingatkan kita pada tindakan Hawa di Kejadian 3:3. Menambahkan dan mengurangi firman Tuhan dalam Kej 2:16-17. "Semua .... dengan bebas" yang menunjukkan bahwa tidak hanya soal larangan yang mengikat, tapi Allah memberikan kebebasan yang bertanggung jawab. Tapi hal itu dia hapuskan. Bahkan dia menambahkan "ataupun raba buah itu". Membuat peraturan Allah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Begitu juga dengan orang yang sakit ini, dia menghilangkan pertanyaan Yesus "Maukah engkau sembuh?" Sebagai tanda bahwa kesembuhan bukanlah paksaan, tetapi pilihan. Jika dia mau disembuhkan, maka aktivitas selanjutnya adalah atas kesadaran dan kemauannya. Dia juga menghilangkan kata "bangunlah". Terdengar sepele namun ini penting. 
Matius 9:6 (TB) lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu — : "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"

Kisah Para Rasul 9:34 (TB) Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu.

Mengapa Yesus menyembuhkannya? Apakah Yesus tidak mengenal isi hatinya?
Coba kita cek:
1. Orang ini tidak memohon kesembuhan pada Yesus atau memiliki iman kepada-Nya. Yesus juga tidak mengatakan dosamu sudah diampuni seperti kisah orang lumpuh lainnya pada injil Sinoptik. Tapi Yesus masih ingin menyembuhkan-Nya. Kenapa? Karena belas kasihan-Nya. 
2. Yesus juga tahu bahwa dia menyalahkan-Nya, oleh karena itu Yesus mengingatkannya, "Jangan berbuat dosa lagi" (Yoh 5:14). Tapi bukannya bertobat, justru dia melaporkan Yesus lagi, kali ini lengkap dengan nama-Nya (Yoh 5:15). Hal ini berbeda jauh dengan perempuan Samaria pada pasal sebelumnya yang menceritakan tentang Yesus, bukan mengadukan Yesus. Yoh 4:29, 39. Kisah perempuan ini membuat banyak orang datang dan beriman kepada Yesus tapi perkataan orang sakit ini membuat banyak orang Yahudi datang untuk membunuhnya (Yoh 5:18). Penulis injil seakan ingin mengatakan dua kisah yang sangat kontras. 

Dalam hidup, kita bisa seperti orang sakit tersebut. Tuhan tawarkan kesembuhan atas luka-luka kita, kita malah justru fokus menyalahkan orang lain. Saat Allah berhasil menyelesaikan masalah kita yang satu, lalu muncul masalah yang lain, kita bukannya mengoreksi diri, malah menyalahkan Tuhan, "Tuhan sih yang bikin aku jadi gini. Kalo aku ga ikut firman Tuhan, mungkin hidupku akan jauh lebih baik."
Bukankah hal ini mengingatkan kita pada orang Israel yang bersungut-sungut pada Musa yang telah membebaskan mereka dari Mesir? Keluaran 14:11-12 (TB) dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? 
Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." 

Jika kita masih seperti orang di dalam renungan hari ini, Yesus tahu seperti apa kita, dia tahu kedalaman hati kita, tapi dia tetap mengasihi kita, oleh karena itu biarlah seruan Yesus ini bergema dalam kehidupan kita "Jangan berbuat dosa lagi".

Catatan: Ini hanyalah salah satu tafsiran dari sekian banyak tafsiran mengenai Yohanes 5:1-18. Jadi, bisa saja kamu tidak setuju dengan tafsiran ini. Dan bisa saja saya juga tidak setuju dengan tafsiranmu. 


*Nuryanto Gracia
Mahasiswa S2 Filsafat Keilahian
Di STF Driyarkara
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar