Pages

Senin, 27 Oktober 2014

SUMPAH! GUE PEMUDA!

SUMPAH! GUE PEMUDA!


Sumpah! Gue Pemuda!
Bukan sekadar pemuda
Gue adalah pemuda berguna
Yang tidak hanya asik dengan dunia maya


Sumpah! Gue Pemuda!
Yang akan maju paling depan
Saat sang Garuda dilahap setan
Setan yang membawa-bawa nama Tuhan

Sumpah! Gue Pemuda!
Yang sadar bahwa bukan cume gue yang ada di sini
Yang tidak menganggap dunia ini milik kalangan sendiri
Yang sadar bahwa hidup memang harus saling berbagi dan mengisi

Sumpah! Gue Pemuda!
Yang akan menghiasi dunia dengan karya
Bukan yang hanya bisa banyak gaya
Lenggak-lenggok di depan kamera


Salam,
Nuryanto Gracia

Kamis, 02 Oktober 2014

SULAP SEBAGAI METODE KREATIF


SULAP SEBAGAI METODE KREATIF

Banyak yang menyamakan sulap dengan kebohongan, sehingga banyak yang alergi dengan sulap. Setiap orang yang menonton sulap, langsung menghakimi bahwa si pesulap sedang berbohong. Pesulap akhirnya bingung bagaimana cara bermain sulap yang tidak perlu berbohong. 

Di lain pihak, para pekerja motivasi, butuh kreasi baru agar pesan yang disampaikannya dapat diberikan dengan cara yang menarik. Para pekerja motivasi yang dimaksud bisa pendeta, ustadz, motivator, guru dan trainer. 

Untuk menjawab dua kebutuhan tersebut, saya memberikan satu jawaban, yaitu "Karet Motivasi."
Tahun ini, saya menerbitkan buku berjudul "Karet Motivasi." Buku ini akan menuntun setahap demi setahap bagaimana sulap dapat dimainkan tanpa berbohong, bahkan sulap yang dimainkan akan jauh lebih memiliki makna. Buku ini juga akan membantu para pekerja motivasi untuk lebih kreatif menyampaikan pesan.

Sulap sesungguhnya adalah salah satu metode kreatif yang bisa digunakan untuk mengkreasi banyak hal, mulai khotbah, dakwah, cerita, motivasi bahkan juga puisi.

Puisi? Main sulap sambil membaca puisi? Iya betul, jika tidak percaya silakan saksikan video ini



Sulap sebagai metode kreatif akan membantu kita menyampaikan sesuatu dengan lebih kreatif, bukan sekadar bohong-bohongan.

Minggu, 27 Juli 2014

Si Sapis, Sis Apis

SI SAPIS, SIS APIS

Si sapis, sis apis

Pepatah dalam bahasa latin tersebut, mengantar penghayatan saya tentang apa yang terjadi di GKI Summercamp 2014. Mungkin di antara kita banyak yang penasaran apa arti dari pepatah tersebut, tapi sebelum kita membahas arti dari pepatah tersebut, lebih baik saya bercerita terlebih dahulu tentang apa yang terjadi di GKI Summercamp 2014. Camp yang jauh berbeda dengan camp-camp Kristen yang selama ini pernah saya ikuti.

Biasanya, di camp-camp Kristen, peserta akan duduk santai menikmati setiap sesi yang disuguhkan sedangkan panitia bersibuk-sibuk ria (ria itu artinya bisa sukacita, bisa juga sombong karena telah berbuat baik, entah yang mana yang selama ini terjadi dalam diri panitia camp-camp Kristen). Di camp ini berbeda, yang bekerja tidak hanya panitia, semua peserta juga ikut bekerja. Kami dibagi dalam tim kerja, ada yang mengurusi soal makanan, membagikan makanan, bersih-bersih, kafe, penyemangat, dan ibadah.

Kami yang sebelumnya mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali melakukan hal tersebut di rumah, misal memasak, di sini kami belajar bersama dalam tim kerja kami. Camp ini tidak hanya mendidik kami dengan hanya duduk saja mendengarkan setiap sesi yang diberikan. Camp ini mengajak kami belajar bijak dari bekerja. Sama seperti pepatah latin yang saya tulis di atas, si sapis sis apis, yang artinya jika kamu bijak maka jadilah lebah.

Lebah dikenal sebagai binatang pekerja keras yang bekerja dalam bagiannya masing-masing. Dengan bekerja, kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Di sanalah kita belajar menjadi lebih bijak. Di summercamp ini pun kami merasakan ada perubahan hidup melalui setiap peran yang kami lakukan dalam tim kerja masing-masing.

Tidak kami pungkiri juga, peran panitia teramat besar dalam menggerakkan kami untuk bersemangat bekerja dan terlibat aktif dalam setiap acara. Panitia summercamp bukan hanya panitia yang menyuruh, tapi juga panitia yang bekerja bersama kami sehingga semangat mereka tertular kepada kami. Dan tak aneh juga jika setiap tahunnya banyak peserta yang ingin terlibat menjadi panitia karena merasakan semangat kerja dari setiap panitia.

GKI Summercamp membuat kami menjadi remaja yang mau bekerja. Bekerja untuk gereja kami, untuk keluarga kami dan juga diri kami sendiri. Terimakasih GKI Summercamp 2014. Terimakasih seluruh rekan panitia atas kekompakan, semangat dan seluruh kerja keras kalian. Si sapis. Sis apis.

Nuryanto Gracia

Jumat, 18 Juli 2014

Salam Damai 22Juli 2014

Jika kau cinta kami,
Kau tak akan menghancurkan kami
Hanya karena satu kata
"Kalah"
Karena kami bukan barang taruhan

Jika kau peduli kami,
Kau tak akan melukai kami
Hanya demi satu orang
"Dia"
Karena "kami" lebih banyak dari "dia"

Jika kau memperhatikan kami,
Kau tak akan mengabaikan kami
Hanya karena satu pengumuman
"Menang"
Karena kami bukan permainan

Jika kau pemimpin kami
Kau tak akan mengadu domba kami
Hanya karena satu masalah
"Berbeda"
Karena "kami" adalah "keragaman"

Salam damai untuk calon pemimpin kami
Salam damai untuk 22 Juli 2014

Nuryanto Gracia

Selasa, 06 Mei 2014

PEMIMPI ATAU PEMIMPIN

PEMIMPI ATAU PEMIMPIN

Ezra 1:1-11

Pemimpin dan Pemimpi dari segi penulisan bahasa bedanya sedikit sekali, hanya satu huruf. Bukan hanya dari segi bahasa, bahkan dari segi praksis pun seringkali kita menganggap bedanya tipis sehingga seringkali kita tidak bisa membedakan antara pemimpi dan pemimpin. Sesungguhnya, antara pemimpi dan pemimpin bedanya besar sekali. Jika negeri ini dipimpin oleh para pemimpi dan bukan pemimpin, apa jadinya negeri ini?

Memang seorang pemimpin haruslah mempunyai mimpi, dan mungkin juga mereka adalah seorang pemimpi. Mereka mempunyai mimpi-mimpi besar. Namun mereka tidak hanya sekadar bermimpi, tapi mereka bergerak untuk mewujudkan mimpinya itu. Sedangkan pemimpi, hanya orang-orang yang suka bermimpi muluk dan tidak mau bangun untuk mewujudkannya.

Di negeri ini banyak calon pemimpin yang bukan pemimpin, mereka hanya para pemimpi. Kita bisa melihat pada saat kampanye menjelang pemilu. Mereka menggembar-gemborkan mimpi-mimpi mereka yang bombastis, tapi pada saat mereka terpilih jadi pemimpin, satu pun mimpi itu tidak ada yang terwujudkan. Yah, memang pemimpi hanyalah bisa bermimpi.

Kita juga mungkin adalah seorang pemimpin di keluarga, lingkungan rumah, gereja, perusahaan, dan organisasi lain. Jangan cuma jadi pemimpi yang bermimpi begini dan begitu, ke sini dan ke situ, yang ini dan yang itu, tapi bentuk perwujudan mimpi itu tidak ada sama sekali.

Bagaimana jika kita sudah berusaha mewujudkan mimpi kita? Apakah kita sudah disebut pemimpin? Iya sudah, tapi belum tentu pemimpin yang amanah.

Mengapa begitu? Karena, belum tentu mimpi kita pribadi adalah mimpi yang berguna bagi komunitas kita. Bisa jadi mimpi itu adalah mimpi yang penuh keegoisan diri kita. Banyak di negeri ini, pemimpin yang berusaha mewujudkan mimpi, tapi mimpinya sendiri, bukan mimpi rakyat.

Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang mengemban mimpi komunitasnya yang diamanahkan kepadanya untuk diwujudkan. Mimpi komunitas yang dimaksud bukanlah mimpi dari suara mayoritas, tapi mimpi yang berguna bagi kesejahteraan bersama. Banyak juga pemimpin di negeri ini yang hanya mementingkan mimpi mayoritas, akhirnya mimpi minoritas diabaikan.

Perhatikan kisah raja Koresh dari negeri Persia dalam Ezra 1:1-11. Bangsa Yehuda yang dibuang ke Babel oleh Nebukadnezar adalah kaum minoritas di sana. Koresh bisa saja mengabaikan kebutuhan mereka, bahkan menyiksanya pun bisa saja jika dia mau. Tapi, dalam kisah tersebut kita melihat bagaimana Koresh peduli dengan kebutuhan bangsa Yehuda, termasuk yang berkaitan dengan kegiatan peribadahan mereka.

Umat Yehuda akan mendirikan rumah Tuhan, Koresh mendukung itu. Bahkan Koresh memulangkan mereka ke Yerusalem untuk membangun rumah Tuhan. Tidak hanya itu, Koresh juga menggerakkan penduduk setempat untuk membantu mereka dengan perak, emas, harta benda dan ternak, selain dari segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela. Selain itu, Koresh juga memerintahkan untuk mengeluarkan perlengkapan rumah Tuhan yang dulu diangkut oleh Nebukadnezar dari Yerusalem.

Sekarang, mari kita telaah calon pemimpin kita, apakah ada di antara mereka pemimpin yang amanah, yang tidak hanya mementingkan kepentingan mayoritas tetapi juga minoritas? Pemimpin yang mengusahakan kesejahteraan bersama. Ada kah?

Mari kita juga bercermin, apakah kita sudah jadi pemimpin amanah di keluarga, lingkungan rumah, gereja, perusahaan, dan organisasi lain?

Nuryanto Gracia

Selasa, 04 Maret 2014

TANPA NAFAS ALLAH, KITA SAMA SEPERTI TEMBIKAR



TANPA NAFAS ALLAH, KITA SAMA SEPERTI TEMBIKAR
KEJADIAN 2:4-7

Apa saja yang biasa dibuat dari debu tanah?
Tembikar, batu bata, keramik

Apa saja yang tumbuh dari tanah?
Tumbuh-tumbuhan

Apa saja yang kembali menjadi debu tanah?
Semuanya, melalui proses penguraian baik melalui mahluk pengurai maupun angin, hujan dan cahaya matahari.

Batu? Jangankan batu, gunung saja bisa menjadi debu tanah.
Gunung bisa menjadi gurun pasir, karena perubahan iklim yang drastis (angin, hujan, panas, dingin, cahaya matahari terik, dsb). Misal Gurun sahara, Gurun Sahara, konon katanya, dahulunya merupakan daerah yang subur. Banyak tumbuhan dan hewan hidup di sahara, sumber air mengalir dari celah-celah gunung dan meluap ke sungai-sungai untuk mengairi berhektar-hektar lahan.
Cerita tersebut didukung oleh temuan para arkeologi, berupa fosil tumbuhan dan hewan serta perkakas buatan manusia, seperti tombak ikan.
Selain itu arkeologi dari national geographic yang bernama chris stojanowski meneliti kuburan seorang wanita dengan anaknya yang berada di sahara, lengan anak tersebut masih menggandeng tangan dari wanita tersebut.
Paul sereno dari universitas chicago dan rekan-rekannya mereka menemukan 200 makam manusia selama penggalian di lokasi tersebut. Pada 2005 hingga 2006, didapatkan juga tulang- belulang hewan, ikan besar, dan buaya.

Jika kita membaca Kejadian 2:4-7 dan 8-25 maka kita akan menemukan perbedaan yang cukup mencolok dengan pasal sebelumnya pasal 1:1-2:3, yaitu mengenai penciptaan manusia dan mahluk hidup lainnya. Ada beberapa perbedaan di sana tapi sekarang kita hanya akan melihat perbedaan mengenai penciptaan manusia saja. Pada pasal 1:27 dituliskan di sana bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah sedangkan pada pasal 2:7 dikatakan bahwa manusia dibentuk oleh Allah dari debu tanah. Mengapa demikian? Mengapa pasal satu seakan ingin mengatakan bahwa manusia begitu berharganya tapi di pasal dua berubah, seakan Allah ingin bilang “eh ga jadi deh, ternyata kamu tidak seberharga itu.” Apakah itu maksudnya?

Jelas tidak seperti itu, penulisan kitab kejadian pasal 1 dan 2 berbeda waktu dan maksudnya serta sasaran yang dituju. Kejadian 1 menceritakan tentang bagaimana Allah menata kekacauan dengan keteraturannya menciptakan segala sesuatu sedangkan pasal 2 berpusat pada kisah manusia. Selain itu, kejadian 1 ditujukan untuk umat Israel yang sedang berada di pembuangan Babel. Pasal ini ingin menguatkan kehidupan mereka yang berantakan dan kacau balau, bahwa Allah akan menata kehidupan mereka dan hidup mereka berharga karena mereka diciptakan serupa dengan gambar Allah. Pasal 2 dialamatkan untuk umat Israel yang mulai sombong karena kejayaannya pada masa Daud-Salomo. 

Pasal tersebut ingin mengingatkan umat Israel yang sombong bahwa sesungguhnya mereka berasal dari debu tanah, tanpa nafas hidup dari Allah mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Pasal 2:7 tersebut juga ingin mengatakan kita sama seperti semua benda yang dibentuk dari tanah, dan juga sama dengan semua mahluk yang berasal dari tanah dan kembali menjadi tanah, jika...Tuhan tidak menghembuskan nafas hidupNya pada kita. 

Setiap kali kita mengingat debu tanah, ingatlah, jangan sombong! Tanpa Allah, kita sama seperti tembikar, tumbuh-tumbuhan dan binatang bahkan juga sama dengan batu. Melalui rabu abu ini, mari kita belajar mengingat siapa diri kita dengan penuh kerendahan hati sekaligus mengingat kebesaran kasih Tuhan yang telah menjadikan kita seperti sekarang.

Karya: Nuryanto Gracia

Senin, 03 Maret 2014

MIRIS(9)

MIRIS (9)

Ya Tuhan, aku sayang banget sama dia. Saking sayangnya aku sampe ingin nangis. Tapi sayang, dia lebih bahagia tertawa dengan orang lain #Miris

Ya Tuhan, aku suka melihat senyumnya, begitu mendamaikan. Tapi sayang, senyum itu untuk orang lain #Miris

Ya Tuhan, aku ingin sekali menghabiskan waktuku bersamanya.Tapi sayang, waktunya dia tidak ada sedikitpun untukku #Miris

Ya Tuhan, tak pernah sekalipun aku menyesal pernah bertemu dan bersatu dengannya. Tapi sayang, dia sekarang menyesal bersamaku #Miris

Karya: Nuryanto Gracia

Minggu, 02 Maret 2014

MIRIS (8)

Miris (8)

Aku mengingat semua percakapan kita, tapi kamu, percakapan kita beberapa menit lalu saja sudah kamu lupakan

Aku mengingat semua hal tentang kamu karena semua hal tentangmu spesial, tapi kamu, tanggal lahirku saja tidak kamu ingat

Aku mendengarkan dengan antusias selama apapun kamu bercerita, tapi kamu, aku baru bercerita lima menit saja kamu sudah menguap

Aku mendengarkan semua keluhanmu tentang kekuranganku, tapi kamu, aku baru mengeluh satu kali tentang kekuranganmu kamu sudah menjawab "terserah kamu deh nganggep aku kaya apa"

Karya: Nuryanto Gracia

MIRIS (7)

Miris (7)

Aku sekuat tenaga berusaha terus di dekatmu, tapi kamu sekuat tenaga pula memberikan berjuta alasan untuk menjauhiku

Aku sekuat tenaga mempertahankan hubungan ini, tapi kau sekuat tenaga pula memberikan berjuta alasan untuk mengakhiri hubungan ini

Aku sekuat tenaga mencari 1 alasan untuk terus berjalan bersamamu, tapi kau sekuat tenaga memberikan berjuta alasan untuk berlari dari ku

Aku sekuat tenaga mencari 1 alasan untuk terus mencintaimu, tapi kau sekuat tenaga memberikan berjuta alasan agar ku membencimu

Karya: Nuryanto Gracia

Jumat, 28 Februari 2014

MIRIS (6)

Miris (6)

Walau gunung bisa kuangkat dan lautan ku keringkan. Namun ada satu yang tak bisa ku lakukan, meninggalkanmu.
Tapi bagimu, meninggalkanku semudah menyingsingkan ingus

Walau api bisa ku dinginkan dan ombak ku tenangkan, tapi ada satu yang tak bisa ku lakukan, melupakanmu.
Tapi bagimu, melupakanku semudah membuang ludah

Walau bumi kuat ku pikul, tapi ada satu yang tak kuat ku pikul, kehilanganmu.
Tapi bagimu, kehilanganku seperti kehilangan uang 100 rupiah

Walau ku mampu merelakan semua hartaku berpamitan pergi, tapi ada satu yang tak rela aku biarkan pergi, kamu.
Tapi bagimu, merelakanku pergi semudah merelakan teknisi listrik kembali ke tempat kerjanya

Karya: Nuryanto Gracia

MIRIS (5)

Miris (5)

Untuk kamu yang aku cinta
Dengarkan ku ingin meminta
Bukan harta ataupun tahta
Hanya dengar ku bercerita

Cerita tentang seorang pria
tulus mencintai gadisnya
Walau dia tau tak selamanya
Dia dapat bersama kekasihnya

Dunia memang kejam
membuat cintanya padam
Namun dia tak akan dendam
Walaupun cinta berakhir kelam

Dia trus mencintai dengan senang
Walau sering hatinya tak tenang
Karna takut gadisnya hilang
Pria itu aku, sayang

Karya: Nuryanto Gracia

MIRIS (4)

Miris (4)

Kita yang selalu mengerti dirinya, tapi dia justru lebih mengerti org lain
Hati dan pikiran kita penuh dengannya, tapi hati dan pikirannya penuh dengan org lain

Kita selalu mengarahkan pandangan kepada nya, tapi dia hanya memandang orang lain

Kita takut kehilangan dia,  tapi dia malah takut kehilangan orang lain

Kita khawatir dengannya, tapi dia malah mengkhawatirkan orang lain

Karya: Nuryanto Gracia

MIRIS (3)

Miris (3)

Ku mencintaimu bukan karena terpaksa, tapi kamu walau terpaksa pun tetap tak mau mencintaiku

Ku memikirkanmu bukan karena kesepian, tapi kesepian pun kau tetap tak mau mengingatku

Ku memilihmu bukan karen tak ada yang memilihku tapi kamu seandainya pun tak ada yang memilihmu, kamu tetap tak mau memilihku

Ku memelukmu bukan karena kedinginan, tapi kamu kedinginan pun tetap tak mau memelukku

Karya: Nuryanto Gracia

MIRIS (2)

Miris (2)

Ku merindu, walau kau tak menunggu sedetik pun kan kehadiran ku

Ku mencinta, walau kau tak meminta sedikit pun tuk ku menyimpan rasa

Ku berharap, walau tak sesaat pun kau menangkap, rasaku padamu yang semakin mantap

Ku berjuang, walau bagimu rasa sayang yang ku berikan hanyalah seperti sampah yang layak dibuang

Karya: Nuryanto Gracia

Kamis, 20 Februari 2014

MIRIS

MIRIS

Yang berjln pasti akan berhenti.
Jadi kapan aku akan berhenti mencintaimu?
Saat matahari bersalju atau burung gereja berhasil memindahkan gunung.

Yang berlari pasti akan kelelahan.
Jadi kapan aku lelah mengejarmu?
Saat bumi telah lelah berputar atau mata lelah berkedip.

Yang mabuk pasti akan tersadar
Jadi kapan aku sadar dari mabuk cinta kepadamu?
Saat bebek sadar dirinya monyet atau saat air sadar harusnya dia mengalir ke atas.

Yang mencari pasti akan mendapatkan.
Jadi kapan aku akan mendapatkanmu?
Saat semua yang aku tuliskan sebelumnya, terjadi.

Karya: Nuryanto Gracia

Ada yang mengerti maksud puisi ini?

Senin, 23 Desember 2013

NATAL YANG NAKAL



NATAL YANG NAKAL

Nakal menurut KBBI tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Berbicara tentang norma, maka setiap komunitas jelas memiliki normanya masing-masing. Bisa jadi yang menurut masyarakat kita lazim, ternyata tidak lazim menurut masyarakat di tempat lain.
Lalu apa hubungannya natal dengan nakal? Apanya yang nakal dari sebuah natal?
Saat natal tiba, banyak kenakalan yang sering kita lakukan. Tanpa melihat konteks masyarakat ketika Yesus lahir, kita sembarangan memahami peristiwa natal. Ada beberapa kenakalan yang sering kita lakukan:
1.      Kita sering mencampuradukkan cerita antara gembala dengan orang-orang majus. Kita menggabungkan kedua cerita yang sebenarnya diceritakan oleh kedua kitab Injil yang berbeda, waktu yang berbeda dan maksud yang berbeda. Cerita orang majus ada di kitab Matius. Di Matius orang Majus diberi tanda Bintang jika ingin bertemu Yesus karena memang orang majus hidup sehari-harinya berhubungan dengan bintang, mereka adalah ahli perbintangan dari timur. Jadi memang pas jika orang majus diberi tanda bintang dan tidak pas jika gembala diberi tanda bintang. Di Lukas, para gembala diberi tanda palungan jika ingin bertemu Yesus karena setiap hari mereka menggembalakan domba dan pasti tidak asing lagi dengan palungan. Jadi memang pas jika gembala yang diberi tanda palungan dan tidak pas jika orang majus diberi tanda palungan. Namun seringkali kita dengan seenaknya menggabungkan kedua cerita tersebut. Orang majus dan para gembala melihat bintang yang mengantar mereka ke sebuah kandang, lalu orang majus dan para gembala bertemu dengan Maria, Yusuf dan bayi Yesus di palungan secara bersamaan. Perlu kita ketahui, gembala dan orang-orang majus tidak bertemu Yesus pada waktu bersamaan, namun pada waktu yang berbeda. Orang-orang majus bertemu Yesus ketika Yesus sudah berumur kurang dari dua tahun (Lukas 2:16). Perhatikan Matius 2:11, yang ditemui orang-orang majus adalah Anak (παιδιον/paidion) bukan Bayi (βρεφος: brephos) seperti yang ditemui oleh para gembala dalam Luk 2:16.


2.      Kita juga sering seenaknya menggambarkan bahwa Yesus lahir di kandang. Yesus tidak lahir di kandang. di Alkitab hanya dikatakan di palungan (Lukas 2:16). Palungan bisa ditaruh di mana pun, tidak selalu di kandang. Bisa jadi di gudang/ruang bawah.
3.      Kita sering menggambarkan Maria dan Yusuf mencari rumah penginapan namun tidak dapat sehingga harus tinggal di kandang. Perlu kita ketahui, orangtua Yesus tidak mencari penginapan tetapi ke rumah saudaranya sendiri namun tidak mendapat kamar tamu atas, dalam Lukas 2:7 ditulisnya rumah penginapan (καταλυμα/kataluma dalam bahasa Yunani artinya kamar tamu atas). Untuk penginapan bahasa yunaninya pandoceion seperti dipakai dalam Lukas 10:34). Kemungkinan besar, Yesus beserta kedua orangtuanya diberi tempat di gudang/ ruang bawah. Pdt. Joas Adiprasetya pernah menulis di sini http://www.facebook.com/notes/joas-adiprasetya/natal-perdana-ruang-keramahtamahan/10151172666821964 , walau dengan kesimpulan kisah yang berbeda dengan saya. Bagi saya dan juga Pak Andar Ismail, justru Yesus berada di ruang bawah karena tertolak, bukan karena keramahtamahan pemilik rumah. Tapi yang jelas, Maria dan Yusuf tidak di penginapan.
4.      Banyak pendeta yang pada saat kelahiran Yesus, justru mengkhotbahkan tentang kematianNya. Coba kita bayangkan saat ulangtahun kita, kita ngundang pendeta untuk ibadah syukur eh pendetanya malah khotbah soal kematian kita, bagaimana perasaan kita? Bisa saja sih mengingatkan tentang betapa singkatnya hidup kita, atau kita semua pasti akan mati jadi harus menggunakan waktu dengan baik. Tapi bagaimana jika yang dikhotbahkan bukan soal itu melainkan betapa tragisnya nanti kita akan mati? Ada yang mau ketika ulangtahun dikhotbahi tentang kematian kita yang tragis? Itu artinya tidak sesuai konteks. Mungkin akan ada yang berkata, kelahiran Yesus selalu berhubungan dengan kematian Yesus. Jadi kelahiran Yesus selalu sepaket dengan kematianNya. Apakah dari kisah kelahiran Yesus tidak ada nilai-nilai lain yang dapat disampaikan? Apakah hanya kisah kematianNya saja yang begitu bermakna sehingga harus terus-menerus dikhotbahkan bahkan di hari kelahiranNya? Menurut saya, banyak sekali nilai-nilai ataupun hal-hal lain yang dapat disampaikan saat kelahiran Yesus. Bahkan dari daftar silsilah Yesus saja, kita bisa mengkhotbahkan bagaimana kelahiran Yesus merangkul yang tertolak. Ada berapa banyak orang-orang yang dianggap hina pada zaman itu justru masuk menjadi nenek moyang Yesus. Bahkan dari kisah Yesus lahir di “rumah penginapan” saja, kita bisa mendapatkan dua pesan berbeda. Pesan seperti yang disampaikan Pdt. Joas yaitu tentang keramahtamahan dan pesan seperti yang disampaikan Andar Ismail tentang ketertolakan. Masih banyak pesan lainnya yang harus disampaikan pada saat natal, tidak melulu soal kematian Yesus di kayu salib.


Demikianlah beberapa kenakalan yang seringkali kita lakukan pada saat natal. Mungkin masih banyak kenalan-kenakalan lainnya yang sering kita lakukan. Atau mungkin juga tulisan saya saat ini adalah sebuah kenakalan bagi beberapa komunitas gereja karena tidak sesuai norma atau doktrin mereka?

Nuryanto Gracia, S.Si (teol)
Protected by Copyscape Duplicate Content Detection Tool

Delete this element to display blogger navbar