Selasa, 12 Januari 2016

MANUSIA, AGAMA DAN BAHASA

MANUSIA, AGAMA DAN BAHASA

Teman-teman coba tebak, tulisan di bawah ini berasal dari kitab suci mana? Al-Qur'an? Ok nanti kita bahas.

  يَمُوتُ افْتِقَاراً إِلَى التَّأْدِيبِ، وَبِحُمْقِهِ يَتَشَرَّدُ.

  انه يموت من عدم الادب وبفرط حمقه يتهور

Dalam perjalanan hidup manusia, bahasa seringkali menjadi masalah yang sangat besar. Berbeda bahasa membuat kita tidak bisa saling mengerti maksud yang lainnya. Berbeda yang dimaksud bisa dalam hal:

1. Negara: Berbeda negara membuat kita pun berbeda bahasa. Tidak hanya berbeda bahasa, tetapi juga berbeda cara membahasakannya. Saya kasih kutipan contohnya yah...

Seorang salesman coca-cola baru saja kembali dari tugasnya di Pedalaman Tembok Cina. Dengan wajah yang sangat kecewa dia menghadap pada bosnya. Si Bos bertanya, “Kenapa kamu gagal melakukan transaksi di Cina?”

“Saat tiba di Cina saya begitu yakin bisa menjual produk kita,” kata si Salesman.

“Cuma, ada satu masalah, saya tidak mengerti bahasa Cina, jadi saya memutuskan untuk mempromosikan produk ini melalui poster bergambar.”

“Poster pertama gambarnya seorang pria yang sedang sekarat dan kehausan di tengah perjalanannya di Tembok Cina. Poster selanjutnya bergambar pria terebut kemudian meminum coca-cola, dan poster terakhir bergambar pria tersebut akhirnya bangkit kembali dengan kondisi yang segar bugar. Kemudian 3 poster tersebut saya tempel di seluruh penjuru Cina.”

“Lho bukannya itu ide yang brilian? Tapi kenapa kamu masih gagal dalam menjual?” tanya si Bos.

Si Salesman menjawab “Saya tidak tahu kalau orang Cina membaca dari kanan ke kiri.

2. Satu Negara tapi  beda Zaman. Contohnya saja Indonesia, setidaknya telah mengalami beberapa kali perubahan ejaan. Pada 1901 ejaan Van ophuijsen. Pada 1947 ejaan soewandi. Pada 1975 Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Nah perhatikan, beda 100 tahun saja sudah mengalami perubahan ejaan. Bisa bayangkan jika sudah berabad-abad? Misalnya saja Indonesia pada abad ke 7 masa sriwijaya masih menggunakan bahasa melayu. Kita tidak bisa serta-merta mengartikan bahasa itu sama seperti bahasa kita sekarang. Nah sekarang bayangkan bahasa kitab suci kita yang ditulis pada abad 1-6, bahkan ada yang ditulis sebelum abad 1. Bisa bayangkan beda jaraknya dengan zaman kita? Tapi banyak di antara kita yang dengan serta merta mengambil begitu saja ayat di dalamnya, lalu mengartikan dengan pola pikir dan bahasa kita di masa kini.

3. Satu negara, satu zaman tapi beda daerah. Setiap daerah memiliki bahasanya sendiri dan terkadang juga ada yang terdengar mirip secara fonetik. Misalnya saja contoh di bawah ini.

Seorang bapak yang bukan orang Palembang berkonsultasi kepada kerabatnya yang kebetulan adalah seorang dokter asal Palembang. Bapak ini baru membeli obat resep untuk anaknya yang mengalami gangguan lambung. Dia bertanya kepada dokter kerabatnya apakah obat ini aman untuk dikonsumsi oleh anaknya. Setelah menilik label pada obat itu, si dokter pun berkata: “Ya aman, asal nggak kalahan aja”. Dengan wajah penuh tanda tanya si bapak ini bertanya: “Hah, apa yang bisa mengalahkan obat ini?” ‘kalahan’ dalam bahasa Palembang bermakna ‘alergi’, jadi tak berhubungan dengan kalah atau menang.

4. Satu negara, satu zaman, satu daerah tapi beda jenis kelamin. Bahasa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang sangat signifikan. John Gray pernah menulis buku dengan judul "Men are from Mars, Women are from Venus." Untuk tahu lebih jauh silakan cari bukunya, beli dan baca. Atau kalau malas, silakan baca ringkasannya di Internet.

5. Satu negara, satu zaman, satu daerah, sama jenis kelamin tapi beda situasi. Percayalah bahwa satu kalimat tidak selalu berlaku dalam segala situasi. Misal kalimat, "Bertobatlah sebelum terlambat". Kalimat tersebut lebih tepat dikenakan kepada mereka yang hidup semaunya dan tidak peduli dengan Tuhan. Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin bertobat tapi merasa Tuhan pasti tidak mau mengampuninya dan sudah terlambat jika harus bertobat sekarang? Kalimat tersebut jelas tidak tepat jika diberikan kepada mereka. Kalimat yang lebih tepat adalah, "Tidak ada kata terlambat untuk bertobat." Kalimat "Bertobatlah sebelum terlambat" dan "Tidak ada kata terlambat untuk bertobat" sekilas seperti kalimat yang bertentangan padahal sesungguhnya itu adalah kalimat yang digunakan sesuai konteksnya. Oleh karena itu, saat membaca atau mendengar suatu kalimat disampaikan, baik oleh pemuka agama atau motivator, lihatlah dengan seksama kepada siapakah dan pada situasi apakah kalimat tersebut disampaikan. Tidak bisa digunakan dalam segala situasi. Dalam buku saya yang berjudul "PhiloSophie" ada banyak contoh mengenai hal ini.

5 hal di atas mengajak kita melihat bahasa tidak secetek apa yang kita kira selama ini. Kita perlu melihat konteksnya. Sekarang bayangkan dengan bahasa agama, khususnya agama semitik yang ditulis puluhan abad lalu. Ada jurang negara, waktu dan budaya yang jauh sekali.

Saat membaca bahasa agama, cobalah telisik lebih dalam. Jangan hanya baca sekilas lalu asal comot dan terapkan begitu saja dalam hidup masa kini. Jangan juga saat melihat suatu bahasa lalu langsung menghubungkannya dengan agama tertentu dan langsung menganggap hal itu sebagai penistaan agama.

Bahasa adalah milik umat manusia, bukan milik agama tertentu. Umat mana pun bisa menggunakan bahasa di mana mereka tinggal. Misal seperti di Arab, tidak hanya ada Islam di sana tapi juga ada Kristen. Mau tidak mau, kitab suci agama Kristen di sana juga menggunakan bahasa arab. Selain agama, di sana juga ada hal-hal sekuler yang menggunakan bahasa arab misal bar, toilet, maskapai dan semuanya yang perlu untuk dikomunikasikan. Agak aneh jika negara arab tapi pakai bahasa India kan? Jadi siapapun di negara Arab bisa menggunakan bahasa Arab, tidak hanya agama tertentu.

Nah begitu juga saat bahasa negara tertentu dipakai oleh penduduk dari negara lain. Boleh kah? Jelas boleh. Kita boleh menggunakan bahasa Inggris, lalu mengapa tidak boleh menggunakan bahasa Arab? Yang salah adalah jika menggunakan bahasa kitab suci dari agama manapun dan dari bahasa apapun lalu diubah seenaknya atau dikutip seenaknya untuk hal-hal menjijikkan.

Saat membaca atau mendengar bahasa tertentu, belajarlah untuk memeriksa lebih jauh maknanya sebelum langsung berburuk sangka. Memang berburuk sangka adalah hal paling mudah dibandingkan harus berlelah mencari suatu kebenaran. Tapi jika ingin cerdas maka belajarlah dan terus menerus menguji kebenaran. Tidak hanya terus menerus disuapi oleh yang katanya kebenaran.

Mari belajar cerdas dengan menguji segala sesuatu. Jangan terus menerus bodoh dengan mau mudahnya saja.

Oh iya, kalimat arab yang saya kutip di atas diambil dari Amsal 5:23 yang diterjemahkan dalam 2 terjemahan Alkitab bahasa arab yang berbeda New Arabic (Ketab El-Hayat) dan Van Dyke.

Artinya adalah "Ia mati, karena tidak menerima didikan dan karena kebodohannya yang besar ia tersesat"

Nuryanto Gracia, S.Si (teol)

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar