Senin, 24 Agustus 2015

JANGAN MENJADI SEPERTI ORANGTUAMU

JANGAN MENJADI SEPERTI ORANGTUAMU

“Anaknya cantik banget, nanti jika sudah besar jangan seperti papinya yah, jadi seperti mami aja yah,” ujar seseorang, saat saya baru selesai berkhotbah di salah satu gereja, disertai dengan tawa kecil yang menandakan bahwa ucapannya hanyalah candaan. Atau mungkin sungguhan yang dibalut dengan candaan? Ah tidak ada yang tahu hati seseorang. Istri saya memang cantik, beda dengan saya, ganteng. Hahaha.
Tadinya saya tidak mau membalas candaan itu dengan pembahasan sedikit serius, tetapi saya merasa ada sesuatu yang perlu diluruskan. Bukan soal saya yang ganteng tetapi soal menjadi sama seperti orangtua.
“Jangan jadi sama seperti mami kamu juga yah. Jadilah berbeda, karena kamu diciptakan berbeda, haha” ujar saya kepada anak saya dengan sedikit tawa untuk membalut pesan serius dengan sedikit candaan. Percakapan memang terhenti saat itu, bukan karena orang tersebut tersinggung tetapi karena saya harus pulang.
Jika percakapan itu dilanjutkan mungkin akan menjadi seperti ini.
Ano (sebut saja namanya Ano): Loh kenapa tidak boleh sama seperti maminya? Jika maminya baik harusnya boleh ditiru dong?
Saya: Maminya juga ada keburukan loh, harus ditiru juga?
Ano: Jangan dong... Yang baiknya saja ditiru.
Saya: Kalo gitu pesannya bukan “jadi seperti mamimu yah” tapi “contohlah hal-hal baik yang dilakukan mamimu.” Karena pada saat kita mengatakan “jadi seperti mamimu” maka itu artinya kita meminta anak itu menjadi sama seperti maminya, baik dan buruk dicontoh.
Ano: Bukan itu tentunya, yang saya maksud contohlah yang baik dari maminya saja.
Saya: Jika mau contoh yang baik jangan dari maminya saja, tetapi dari siapa pun karena kebaikan ada di manapun. Tapi jika berbicara jadilah seperti orangtua kita dalam hal baik yang telah dia lakukan, maka menurut saya tetap kita tidak perlu menjadi sama baiknya seperti orangtua kita.
Ano: Loh mengapa begitu?
Saya: Karena kebaikan itu multi dimensi. Baiknya orangtua kita, tidak harus sama dengan baiknya kita. Orangtua kita baik dalam menggambar, mungkin kita bisa baik dalam bernyanyi. Orangtua kita baik sebagai konseptor, mungkin kita baik dalam eksekutor. Orangtua kita baik dalam menahan emosi, mungkin kita baik dalam meredakan emosi orang lain. Dan kebaikan-kebaikan lainnya yang kita tidak perlu menjadi sama di dalamnya.
Ah, jadi berhayal terlalu jauh, padahal percakapan selebihnya itu tidak pernah terjadi. Tetapi masih banyak memang orangtua yang menginginkan anaknya menjadi sama seperti dirinya, padahal manusia diciptakan berbeda dengan perjalanan kehidupan yang juga akan berbeda. Jadi biarlah anak-anak kita menjadi berbeda dalam kebaikan.

Nuryanto Gracia

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar