Selasa, 28 Februari 2012

Beberapa Kekeliruan Tentang Iman


Beberapa Kekeliruan Tentang Iman

1.       Iman tidak membuat kita lepas begitu saja dari kesulitan melainkan menguatkan kita agar mampu menghadapi kesulitan.

2.       Orang beriman bukanlah mereka yang menerima begitu saja segala sesuatu yang membawa-bawa nama Tuhan tanpa mempertanyakan atau mengujinya terlebih dahulu. Orang beriman justru adalah mereka yang mempertanyakan/menguji segala sesuatu apakah sungguh hal itu berasal dari Tuhan atau bukan.

3.       Orang beriman bukan hanya mereka yang dapat melakukan hal-hal yang spektakuler melainkan juga mereka yang melakukan hal-hal sederhana dengan penuh kasih dan kesetiaan.

 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa


Beberapa Kekeliruan Pemahaman Tentang Doa

1.       Doa bukanlah mantra pengabul keinginan melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam usaha menggapai yang kita inginkan.

2.       Doa bukanlah mantra penyelesai masalah melainkan sarana berkomunikasi dengan Tuhan sehingga kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan dalam menyelesaikan masalah kita.

3.       Doa bukan hanya berisi daftar permintaan tetapi tetapi juga ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan

4.       Doa bukanlah sesuatu yang tidak boleh diajarkan melainkan justru harus diajarkan. Bukankah murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes juga meminta gurunya mengajarkan mereka berdoa. Yesus dan Yohanes juga mengajarkan murid-murid mereka berdoa (Luk 11:1)

5.       Berdoa dengan mata tertutup, kepala tertunduk dan tangan dilipat bukanlah satu-satunya cara berdoa. Ada banyak cara dalam berdoa. Ada yang sambil menangis tersedu-sedu (1 Sam 1:10; Ezr 10:1). Ada yang sambil menghadap dinding atau kiblat tertentu (1Raj 8:44; 2Raj 20:2). Ada yang sambil mengenakan kain kabung dan abu (Dan 9:3). Ada yang sambil menengadahkan tangannya ke langit ( Yes 1:15). Ada yang sambil berlutut dan sujud (Mat 26: 39; Luk 22:41; Kis 9:40, 20:36, 21:5; Kej 24:26,28). Ada yang sampai tersungkur atau merebahkan diri ke tanah (Kej 24:52; Mrk 14:35, Markus menggunakan kata πιπτω / pipto oleh LAI diterjemahkan dengan “merebahkan” padahal dalam arti sesungguhnya dapat juga diartikan sebagai tersungkur atau sujud/merebahkan diri sampai mencium tanah) dan masih ada yang lainnya. 

6.       Berdoa tidak selalu harus dalam keadaan diam (berhenti) dengan mata tertutup, dalam keadaan apapun (berjalan, menyeberang, di dalam bus atau yang lain) kita dapat tetap berdoa dengan mata tetap terbuka. Doa bukan soal mata tertutup atau terbuka tetapi soal fokus kepada siapa kita berbicara. Menutup mata hanyalah cara agar dapat fokus.

             Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Beberapa Kekeliruan Tentang Natal


Beberapa Kekeliruan Tentang Natal

            Tiap tahun kita merayakan natal. Namun tiap natal juga kita melakukan kekeliruan. Agar tahun depan kita tidak melakukan kekeliruan yang sama, ada baiknya kita mengetahui sesuatu yang memang layak untuk kita tahu. Ada beberapa kekeliruan tentang natal yang selama ini kita pahami, yaitu:

1. Gembala dan orang-orang majus tidak bertemu Yesus pada waktu bersamaan, namun pada waktu yang berbeda. Orang-orang majus bertemu Yesus ketika Yesus sudah berumur kurang dari dua tahun (Lukas 2:16). Perhatikan Matius 2:11, yang ditemui orang-orang majus adalah Anak (παιδιον/paidion) bukan Bayi (βρεφος: brephos) seperti yang ditemui oleh para gembala dalam Luk 2:16.

2. Yesus tidak lahir di kandang domba, di Alkitab hanya dikatakan di palungan (Lukas 2:16). Palungan bisa ditaruh di mana pun, tidak selalu di kandang. Bisa jadi di gudang.

3. Keadaan waktu Yesus lahir tidak sepi tetapi ramai karena banyak orang dari luar kota datang untuk sensus (Lukas 2:1-6).

4. Orang majus yang datang ke Yesus bukan 3 orang, yang 3 hanyalah jenis persembahannya bukan jumlah orangnya (Matius 2:11).

5. Orang tua Yesus tidak mencari penginapan tetapi ke rumah saudaranya sendiri namun tidak mendapat kamar tamu, dalam Lukas 2:7 ditulisnya rumah penginapan (καταλυμα/kataluma dalam bahasa Yunani artinya kamar tamu). Kemungkinan besar, Yesus beserta kedua orangtuanya diberi tempat di gudang.

6. X-mas dan Christmas memiliki arti yang berbeda. Ada yang mau merayakan natal hanya dengan pesta pora, tanpa Yesus di dalamnya, sehingga kata Christ diganti dengan X, dengan dalih X dalam bahasa Yunani dibaca Christ.

7. Lagu “Jinggle bells,” “Whispering hope” dan “Santa claus is coming to town” bukanlah lagu natal. Di dalam lagu tersebut tidak menceritakan kelahiran Yesus sama sekali.

8. Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember ataupun musim salju karena Lukas 2:8 mengatakan, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Tidak mungkin pada musim salju ada gembala di ladang.   

9. Kelahiran bukan berarti harus dirayakan besar-besaran. Oleh karena itu, Natal bukan berarti harus pesta pora.

10. Yang mendapat kado seharusnya adalah yang berulang tahun, bukan justru yang datang ke pesta ulang tahunnya. Namun anehnya, pada saat natal justru kita yang lebih mengharapkan diberi kado dibandingkan memberikan kado kepada Yesus.

11. Pohon natal bukanlah selalu pohon cemara. Pada saat Yesus lahir, tidak diceritakan sama sekali ada pohon cemara di sana.


Ada lagi yang mau ditambahkan?

Karya: Nuryanto, S.Si (teol) dan beberapa ada juga sumbangan pendapat dari teman-teman saya.

Minggu, 26 Februari 2012

Beberapa kekeliruan dalam memahami kebaktian


Beberapa kekeliruan dalam memahami kebaktian

1.       Bernyanyi dalam kebaktian bukan untuk menyenangkan hati sendiri tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan

2.       Berdoa bukan sarana pelampiasan emosi tetapi sarana untuk berhubungan dengan Tuhan

3.       Penonton dalam kebaktian bukanlah kita ataupun pelayan kebaktian. Oleh karena itu jika ada yang melayani dengan bagus/menarik selama kebaktian yang berhak bertepuk tangan bukanlah kita tetapi Tuhan

4.       Datang kebaktian bukan karena takut jika tidak datang kebaktian akan dihukum Tuhan, tetapi karena sudah diberkati oleh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari maka datang kebaktian sebagai ungkapan syukur

5.       Pemberian persembahan bukan pemberian sumbangan, tetapi ungkapan syukur atas berkat Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada perasaan bangga/sombong /berjasa ketika dapat memberikan persembahan dengan nilai nominal yang besar. 

6.       Khotbah bukan untuk menyenangkan hati saja tetapi untuk menguatkan hati yang lemah, memotivasi hidup dan petunjuk dalam menjalani kehidupan sesuai kehendak Tuhan

Beberapa keliruan ini akan sangat mempengaruhi penghayatan setiap kita dalam beribadah.

 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Senin, 20 Februari 2012

Belajar dari Gaya Kepemimpinan Binatang


Belajar dari Gaya Kepemimpinan Binatang

Sepertinya ada yang aneh dengan judul di atas. Bukankah kita adalah manusia yang mulia, untuk apa belajar dari binatang? Di Alkitab memang pernah mengatakan “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Amsal 6:6), tetapi bukan kah perintah itu hanya untuk si pemalas? Nah mengapa kita yang bukan pemalas ini tetap harus belajar dari binatang? Apa untungnya?
Simpan dulu pertanyaan tersebut. Biarlah rasa penasaran untuk mencari tahu membuat kita mau mempelajari dengan baik apa yang akan saya jelaskan sebentar lagi tentang belajar dari gaya kepemimpinan binatang. Semoga pada akhir tulisan ini kita akan mendapatkan jawaban mengapa kita perlu belajar dari para binatang. Oke mari kita mulai pembelajaran ini.

Gajah
Tahukah teman-teman siapa yang menjadi pemimpin dari setiap kawanan gajah? Apakah pemuda-pemudi atau remaja-remaji  (bahasa apa itu remaji? Haha) gajah ? Bukan, sama sekali bukan. Yang menjadi pemimpin kawanan gajah adalah nenek gajah (gajah betina tua). Pengalaman dan ingatan yang panjang dari si nenek membantu kawanan gajah menemukan makanan dan air. [1]
Dalam memimpin suatu organisasi, kita memang memerlukan pengalaman yang matang. Pengalaman hidup jelas membentuk kita sekaligus memperlengkapi kita dengan berbagai macam hal yang dapat membantu kita untuk mempertimbangkan sesuatu dan mengambil keputusan. Namun demikian, apakah hanya pengalaman saja yang diperlukan dalam memimpin sebuah organisasi? Tentu saja tidak, ada beberapa hal lain yang kita sangat perlukan. Mari kita lanjutkan pembelajaran kita.

Berang-berang
Kita pasti tahu bahwa berang-berang sangat ahli dalam membuat dam di sungai sebagai tempat tinggalnya. Namun bagaimana cara mereka bekerja sama sehingga mampu membangun dam tersebut?  Sekawanan berang-berang biasanya kerjasama dalam membangun dam, dan uniknya, dari sejumlah berang-berang tersebut, tidak ditemukan pemimpin atau penanggung jawab utama dari pembuatan dam tersebut.
            Tiap berang-berang berlaku sebagai pemimpin dirinya sendiri dan mereka bertanggung jawab terhadap tugas sendiri bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk mendukung kepentingan bersama. Setiap anggota organisasi sudah mengetahui aturan main yang ada, dan melakukan pekerjaan sesuai dengan metode yang dianggapnya optimal. Kemudian, yang mengagumkan, berang-berang saling terbuka satu sama lain, mereka tidak menyembunyikan pohon yang bagus dari berang-berang lainnya. [2]
Dari berang-berang kita belajar bahwa tidak ada ‘kayu-kayu baik’ yang harus disembunyikan hanya untuk menunjukkan kualitas kerja kita/bidang kita adalah yang terbaik. Justru ‘kayu-kayu baik’ itu harus dibagikan dengan rekan-rekan/anggota bidang pelayanan yang lain untuk kepentingan bersama.

Tupai
Ketika seekor tupai mencari makanan, mereka tidak hanya mencari untuk diri sendiri, melainkan dimakan beramai-ramai sebagai cadangan makanan di musim dingin. Intinya, tupai merupakan binatang yang tidak egois dan memikirkan dirinya sendiri. Tupai bekerja demi mencapai tujuan mereka bersama.[3]
Seorang pemimpin bukanlah seorang yang hanya duduk ‘uncang-uncang kaki’ selama anggotanya bekerja. Seorang pemimpin adalah seseorang yang bekerja sama sekaligus berkerja bersama-sama dengan anggotanya yang sedang bekerja keras. Seorang pemimpin harus bekerja keras demi mengerahkan dan mengarahkan timnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Semut
Semut adalah binatang yang selalu bekerja keras. Mereka mengerjakan tugas mereka dengan cepat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai apa yang mereka cari. Setiap kali mereka menemui hambatan saat perjalanan, dengan semangat yang menggebu-gebu mereka terus mencari jalan keluar untuk keluar dari masalah itu. Untuk membuktikannya, cobalah anda menghalangi langkah mereka! Mereka pasti tidak akan berhenti, namun mereka akan berusaha dan pantang menyerah untuk menemukan jalan keluar. Binatang mungil ini juga merupakan binatang yang tidak rakus dan dermawan. kedermawanan mereka mengalahkan keegoisan dan kerakusan mereka, sehingga apabila mereka menemukan makanan, mereka akan membawa makanan tersebut ke sarang atau memanggil semut lain untuk menikmati makanan itu bersama-sama. Semut juga merupakan binatang yang penuh kasih sayang, semut yang lebih besar tidak akan pernah memakan semut kecil lainnya, selapar apapun mereka. Solidaritas mereka pun patut diacungi jempol, apabila mereka menemukan semut lain yang lemah atau mati, mereka tidak akan membiarkan dan meninggalkannya, mereka akan menggotong semut itu untuk dibawa ke sarang atau tempat lain yang lebih aman.[4]
Dari semut kita belajar bagaimana mereka bekerja keras bersama-sama dengan rekan-rekannya yang lain. Mereka bekerja demi kepentingan bersama, bukan hanya  untuk kepentingan diri sendiri. Kita juga belajar dari semut bahwa masalah yang datang seperti apapun pemimpin tidak boleh menyerah, dia harus berusaha untuk mencari jalan keluar. Bahkan apabila ada anggota kita yang sedang mengalami masalah kita harus turut membantunya mengatasi masalahnya sama seperti semut yang tidak meninggalkan temannya yang sedang mengalami masalah (lemah atau mati). Masalah anggota kita adalah masalah kita juga. Solidaritas harus menjadi bagian dari sifat kepemimpinan kita.
David W. Johnson menyebut hal tersebut sebagai caring relationship. Hal tersebut merupakan hal pertama yang harus ditingkatkan dalam upaya memberdayakan anggota. Hal tersebut apabila terus ditingkatkan akan menghasilkan kepercayaan, komunikasi yang terbuka dan dukungan antar pribadi.[5]

Lebah
Dalam membangun wadah madu yang dihasilkan, lebah memiliki perhitungan yang begitu cermat, hingga dalam dunia lebah dimiliki aturan standar inetrnasional kemiringan wadah madu 13 derajat.  Dalam berkoordinasi antara satu sama lain, lebah menggunakan panduan arah berdasarkan posisi matahari, padahal pada setiap waktunya matahari bergeser satu derajat per empat menit. Bayangkan kalau lebah tidak smart membaca petunjuk kerja dari sesamanya, tidak mungkin bisa mereka bekerja dengan optimal. Selain itu walaupun lebah menyengat dengan galak, lebah adalah binatang yang sangat lembut. Kalau dia hinggap di seutas ranting, yang rapuh sekalipun, tidak rusak ranting itu karena ulahnya.[6]
Dari lebah kita mendapat suatu pembalajaran yaitu smart.  Hal itulah yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa hal tersebut pemimpin tidak dapat menganalisis masalah, menentukan formasi yang efektif untuk organisasinya dan melakukan pertimbangan-pertimbangan.
Satu hal penting yang harus kita pelajari dari lebah adalah seorang pemimpin memang harus melakukan eksplorasi tetapi bukan eksploitasi. Lebah melakukan eksplorasi dalam mengumpulkan madu, tetapi dia tidak sampai merusak ranting yang bahkan sudah rapuh sekali pun. Kita boleh melakukan eksplorasi terhadap apa yang ada di gereja (gedung gereja, umat dan pejabat gerejawi) namun jangan sampai melakukan eksploitasi.

Burung Angsa
Kalau kita tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan burung angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Burung-burung angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf "V".  Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus “dinding udara” di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.
Kalau seekor burung angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.
Ketika burung angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan burung angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.
Burung-burung angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada burung angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.
Ketika seekor burung angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua burung angsa yang lain akan ikut keluar dari formasi bersama burung angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka akan tinggal dengan burung angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.[7]
Manusia memiliki pasang surut dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini dikenal dengan konsep circadian rhytms (siklus irama). Setiap pemimpin terkadang menuntut anggotanya untuk bekerja dengan maksimal tanpa kenal lelah, padahal menurut konsep circadian rhytms setiap manusia mempunyai pasang surut baik tenaga maupun pemikiran dalam sehari. Oleh karena itu perlu dilakukan penyimpanan tenaga agar pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan produktif dalam batas-batas kemampuannya.[8] Konsep circadian rhytms sendiri memberikan beberapa langkah untuk menyimpan energy, namun pada saat ini kita tidak akan membahas hal tersebut. Kita akan lebih menitikberatkan pada pembahasan bagaimana angsa menyimpan energi mereka dengan efektif.
Seperti yang telah diceritakan, angsa membentuk formasi “V” ketika melakukan perjalanan bersama-sama dengan kelompoknya. Formasi itu membuat seluruh kawanan angsa dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian. Hal ini         berarti angsa dapat menghemat 71% energi mereka.
Jadi kerjasama dan formasi merupakan hal yang penting dalam organisasi. Dalam permainan sepakbola, formasi tim pun merupakan hal yang sangat menentukan kemenangan suatu tim. Oleh karena itu pemimpin harus cermat memutuskan formasi apa yang efektif untuk organisasinya. Formasi dalam suatu organisasi tentunya berkaitan dengan siapa yang memang mampu dan sesuai dengan panggilannya di bidang tersebut.
Selain formasi, angsa juga memberikan kita pembelajaran lainnya yaitu memotivasi rekan kerja lainnya. Caring relationship juga ditunjukkan oleh angsa, yaitu ketika rekan di depannya kelelahan, rekan yang lain menggantikannya. Pemimpin yang di depan harus jujur apabila memang ia sudah kelelahan dan butuh bantuan.
Pembagian tugas dapat kita lihat jelas dalam kawanan angsa tersebut. Ketika ada temannya yang mengalami kesusahan ada beberapa dari kawanan angsa yang menemaninya. Mereka yang mendapat tugas untuk menemani angsa yang sedang dalam masalah tersebut akan menemani dan membantu sampai masalah angsa tersebut selesai. Mereka melakukan tugas tanggung jawabnya sampai tuntas. Begitu pula setiap kita yang telah bersedia mengambil bagian pelayanan di bidang tertentu, kita harus melakukan tugas pelayanan kita dengan penuh tanggungjawab dan sampai tuntas.

Mamalia
Karakter mamalia itu secara garis besar adalah sebagai berikut: cenderung berkerumun, berkomunitas, guyub, saling ingin tahu, saling berbagi dan saling menyesuaikan diri. Cenderung percaya satu dengan yang lainnya dan kalau ada penugasan tidak ragu-ragu melakukan pendelegasian. Mamalia juga cenderung meng-empower orang lain agar proses delegasi berlangsung aman. Dengan kata lain, ada spirit kekeluargaan yang cenderung saling melindungi, menjaga dan berorientasi pada kebersamaan (people sense). Itulah karakter mamalia.[9]
Karakter itu bukan cuma ada pada orang per orang, melainkan juga saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Sehingga membentuk rumah atau budaya mamals (mamalia). Dapat dibayangkan apa jadinya organisasi yang diisi orang-orang baik dan seperti itu?

Reptilia
Reptilia memang agresif dan fokus. Mahkluk ini cenderung tidak mendatangi (berkelompok), melainkan memisahkan diri dan bisa cari makan sendirian. Ia sangat detil, kuat, berkulit keras dan mudah dipanasi. Dalam diri manusia, orang-orang tipe reptil adalah tipe yang agresif, fokus, detil, analitikal, berorientasi pada angka, keras hati, tidak merasa perlu berkelompok, financial sense (the bottom line), cool, cenderung tidak percaya dengan orang lain sehingga melakukan verifikasi dan merasa perlu mengontrol. Tentu tidak ada salahnya belajar dari para pemimpin reptilia, karena rata-rata pemimpin besar ternyata memang demikian. Pemimpin reptilia adalah pemimpin yang keras hati atau berhati baja.
Pemimpin besar harus mampu menggabungkan dua kekuatan sekaligus, yaitu berhati keras dan berjiwa lembut. Yesus mengatakan “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Dalam bahasa manajemen disebut “berkulit tebal namun berhati mulia.” Dalam bahasa kepemimpinan kita menyebutnya mamareptil: Keras, teguh, disiplin, detail dan berani, namun berhati lembut, memelihara kekompakkan (kohesiveness), mengembangkan manusia, dalam suasana yang menyenangkan namun produktif.[10]

Jadi?
Setelah mempelajari beberapa gaya kepemimpinan binatang di atas, apakah kita masih ingin berpendapat bahwa tidak ada gunanya belajar dari binatang? Ataukah kita masih berpendapat bahwa hanya orang malas atau bodoh saja yang harus belajar dari binatang?
Saya hanya ingin mengatakan satu hal “Orang yang rendah hati tidak pernah merasa dirinya direndahkan ketika belajar dari sesuatu yang lebih rendah dari dirinya.” Semakin kita tidak membatasi diri dalam belajar, semakin banyak hal yang kita dapatkan. Begitu jugalah seorang pemimpin seharusnya, belajar bijak dari apapun juga. Seorang pemimpin tidak bisa hanya puas dengan sedikit hal yang telah dipelajari. Dia harus terus menerus belajar dalam memperlengkapi dirinya. Selamat menjadi pemimpin (setidaknya memimpin diri sendiri terlebih dahulu). 

Karya: Nuryanto, S.Si (teol)


[1] Utami Widijati, 217 Fakta Superaneh Dunia Binatang (Yogyakarta: New Diglossia, 2011), hal. 35.
[2] Rinella Putri, Belajar Organisasi dan Kepemimpinan dari Sekawanan Hewan, http://vibizmanagement.com/journal/index/category/leadership_corp_culture/154/130
[3] Ibid.
[5] David W. Johnson dan Frank P. Johnson, Joining Together: Group Theory and Group Skills (USA: Allyn and Bacon, 2003), hal. 210.
[6] Rizki Dwi Rahmawan, 10 Pelajaran Kepemimpinan dari ‘Bee’, http://umum.kompasiana.com/2009/08/03/10-pelajaran-kepemimpinan-dari-bee/

[8] Pandji Anoraga, Psikologi Kepemimpinan (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), hal. 72-73.           
[10] Ibid.

Sabtu, 18 Februari 2012

Beberapa kekeliruan dalam memandang Alkitab

Berikut ini kumpulan tweet saya tentang beberapa kekeliruan dalam memandang Alkitab.

1. Alkitab bukan benda supranatural, dia hanyalah buku yang terdiri dari kertas biasa namun dengan isi yang luar biasa.

2. Alkitab bukanlah buku sejarah ataupun ilmiah tetapi buku pengalaman iman bangsa Israel bersama dengan Tuhan

3. Alkitab bukan mesin penjawab semua masalahmu tetapi motivator yang membuatmu mau dan mampu untuk menyelesaikan masalahmu

4. Alkitab tidak diturunkan langsung dari langit tetapi ditulis dan dikumpulkan melalui proses yang lama

5. Alkitab pertama-tama ditulis jelas bukan untuk kita masa kini tetapi memang sangat berguna untuk kita masa kini

6. Ayat-ayat Alkitab bukan untuk membuktikan bahwa agama lain sesat tetapi untuk menunjukkan Allah syg semua orang. Siapapun kamu.

7. Alkitab pada awalnya tidak memiliki pasal dan ayat atau judul perikop spt sekarang. Jadi dibacanya memang bukan perayat tetapi spt cerita.
 Karya: Nuryanto, S.Si (teol)

Jumat, 17 Februari 2012

Pelacur

1 Korintus 7 : 2.
tetapi mengingat bahaya percabulan , baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.
1 Korintus 6 : 16.
Atau tidak tahukah kamu , bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul , menjadi satu tubuh dengan dia ? Sebab , demikianlah kata nas : "Keduanya akan menjadi satu daging ".
1 Korintus 6 : 18.
Jauhkanlah dirimu dari percabulan ! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia , terjadi diluar dirinya . Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri .


Saudara-saudariku terkasih , sudah banyak sekali kasus perceraian yang disebabkan perselingkuhan . Banyak sekali kasus keributan suami- isteri yang sebenarnya tidak harus sampai berujung kepada perceraian . Kedua-duanya salah ! Lho...lho... Kok salah kedua-duanya ? Yang salah adalah yang berselingkuh dong !

Tidak mungkin suami/ isteri berselingkuh bila pasangannya tidak memicu kesalahan juga. Ada faktor egois dan menunjuk kesalahan sepihak . Kok orang salah dibela sih ? Coba introspeksi dahulu. Ketika pasangan mengajak berhubungan , lebih banyak penolakan yang diterima. Pulang kerja sudah lelah yang didengar hanyalah laporan dan keluhan tentang anak , tentang keluhan dirinya dsb. Mereka ibarat mesin yang mendengar suara berisik mesin ditempat kerja , di rumah dan dimanapun berada .
Benar pasangan tidak menunjukkan kekesalannya , bukan main perasaan , pakai logika yang seakan pemberi jalan keluar. Suami bukanlah orang yang suka mengumbar perasaannya , tetapi sejujurnya dia lelah dan ingin isteri mengerti akan dirinya terlebih hidup sudah sekian lama bersama-sama.  Sebagai kepala keluarga yang tahu bahwa isterinya sudah lelah dengan banyak masalah, dia hanya memendam dalam hati permasalahannya . Tidak ingin menambah lagi permasalahan , pulang ke rumah yang dia inginkan suasana nyaman, aman, damai dan tenteram .
Tetapi ketika isteri tidak tahu diri hanya dengan permasalahannya sendiri dan tak peduli dengan suaminya, mulailah dia mencari orang yang mau mendengar dia . Bisa melalui rekan kerja , bisa melalui orang yang baru dia kenal yang penting orang tersebut mau mendengar akan dia , mungkin melalui chatting dsb.
Isteri- isteri belajarlah dari pelacur , bukannya jadi pelacur tetapi belajarlah dari pelacur. Berpakaian rapi , berdandan cantik , tersenyum manis , mendengar curhat , melayani dengan segenap hati ( walaupun pelacur tersebut punya segudang masalah dan demi uang ).

Begitu bahayanya percabulan , makanya kita sebagai isteri bijaklah . Bila punya masalah jangan curhat pada teman yang sudah cerai atau mencari teman yang mengompori cerai saja atau hanya menyalahkan satu pihak saja.
Introspeksi diri , tunduk pada sang KEPALA yaitu Kristus.
Kitalah yang harus berubah dahulu sebelum mau mengubah seseorang .  Perubahan akan terjadi setelah dia melihat perubahan dari diri kita . Jangan banyak berteori seakan diri lebih suci hanya dengan ke gereja setiap minggu atau ego2 lainnya . Dekatkanlah diri kita pada Tuhan disetiap nafas hidup kita . TYM

Merry Sri Fatmadewi

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar