Rabu, 31 Agustus 2011

Yesusku dan Isamu


Yesusku dan Isamu
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)
1.    Pendahuluan
“Yesusku dan Isamu,” dari judul makalah ini telah jelas terlihat bahwa tujuan Penulis bukanlah untuk menyamakan (memaksakan sama) Yesus dalam Kekristenan dengan Isa dalam Al-Qur’an. Ada perbedaan yang memang harus diterima dan tidak perlu dipaksakan menjadi sama atau menghakimi konsep yang lain tentang Yesus adalah ‘sesat’. Dalam makalah ini, Penulis hendak menelusuri persamaan dan perbedaan antara kristologi Islam  (atau lebih tepatnya Al-Qur’an, karena Penulis membatasi pengkajian pemahaman Kristologi Islam hanya yang terdapat dalam Al-Qur’an) dengan kristologi Kristen.
2.Yesus di dalam Al-Qur’an
            Sebagian besar studi tentang Kristus di dalam Al-Qur’an memakai pendekatan tematik. Cerita Kristus tidaklah diceritakan kembali di dalam Al-Qur’an namun hanya dirujuk. Sebagian besar rujukan tentang Yesus ada di dalam Surat yang ketiga (Ali Imran) dan Surat yang ke-19 (Maryam).
- Kelahirannya
Secara tematik rujukan tentang kelahiran Yesus di dalam Al-Quran adalah sebagai berikut: Allah meniupkan Roh-Nya ke dalam anak yang dikandung Maria (      QS.21:91, 66:12), Yesus berbicara dengan Maria dekat pohon kurma dari dalam kandungan (QS. 19:24-26), Yesus lahir (QS. 19:22-25), Yesus mempermaklumkan dirinya di depan kaumnya (QS. 19:30-32) kemudian ia bertutur tentang keajaiban-keajaiban yang akan ditampilkannya (QS. 3:49). Allah memerintahkan padanya untuk melakukan shalat, membayar zakat dan berbuat baik pada ibunya selama ia hidup, dan Dia memberikan padanya rahmat dan perdamaian sejak hari saat ia dilahirkan, saat kematiannya dan saat ia dibangkitkan hidup kembali (QS.19:26-33).
- Ajaran-ajaran dan karya-karyanya
            Ketika Yesus telah dewasa, murid-muridnya menghendaki Yesus menyediakan makanan secara mukjizati. Mereka menguji Yesus dengan mengatakan “dapatkah Tuhanmu menurunkan bagi kami dari langit sebuah nampan yang penuh makanan?... Kami ingin makan dari nampan itu sehingga kami dapat menenteramkan diri kami dan tahu bahwa apa yang engkau katakan kepada kami adalah benar sehingga kami dapat menjadi saksi untuk itu.” Yesus menjawab dengan doa ini, “Tuhan, turunkan bagi kami hidangan dari langit sehingga hal itu bisa menjadi makan besar bagi kami dan menjadi tanda dari-Mu untuk orang-orang yang datang setelah kami.” Allah menjawab dengan menurunkan perbekalan dan dengan memperingatkan kalau tetap saja kafir, maka akibatnya adalah hukuman yang pedih (QS. 5:112-115).
            Cerita perumpamaan banyak menarik perhatian para penulis Injil. Namun cerita seperti itu tidak diketahui oleh Muhammad. Barangkali alasan kenapa di dalam Al-Qur’an hampir tidak ada pembahasan tentang ajaran Yesus adalah pandangan bahwa isi ajaran Yesus tidak beda dengan isi ajaran nabi-nabi lain.[1]
            Injil dipahami sebagai sebuah kitab yang diberikan pada Yesus, memuat petunjuk, keterangan dan nasihat, dan mengiakan Taurat serta para Nabi (QS. 5:110; 5:46). Meskipun Yesus mengiakan keebenaran Taurat, ia juga dikatakan telah menghalalkan beberapa hal yang sebelumnya terlarang bagi bangsa Israel pada masa Yesus (QS. 3:50). Ajarannya adalah hikmah, menjelaskan pada mereka beberapa hal yang tidak mereka setujui, menunjukkan mereka pada jalan yang lurus, dan memerintahkan mereka untuk takut kepada Allah dan patuh pada dirinya (QS. 43:63). Karena sebagai Muslim yang sejati, risalah dasarnya adalah tentang keesaan Allah, ‘Tuhanku dan Tuhanmu’ (QS. 3:51, 19:36, 43:64), dan ia memperingatkan bangsa Israel bahwa surga akan tertutup bagi mereka yang menyekutukan Allah (QS. 5:72).
Ia melaknat orang-orang yang kafir (QS. 5:78), tetapi orang-orang yang beribadah dengan benar diperbandingkan dengan sifat-sifat yang tertuang dalam Injil di mana benih-benih tumbuh kuat, menyenangkan dan mengagumkan para penanamnya (QS. 48:29). Yesus diberitakan telah memanggil para murid dan meminta mereka untuk menjadi ‘para pembantu’ Allah (QS. 3:52 dst., 5:111, 61:14). Terakhir dia dikatakan juga telah meramalkan kedatangan seorang rasul sesudahnya yang bernama Ahmad, ‘orang yang sangat terpuji’ (QS. 61:6).[2]

- Peranan Yesus
Menurut Al-Qur’an, Yesus secara khusus “dekat dengan Allah” (QS. 3:45). Peranan Yesus dijelaskan dalam ayat ini, “Isa Kristus, putra Maryam, hanyalah seorang rasul Tuhan, dan Firman-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam, dan Ruh-Nya” (QS. 4:171). Di sini, Isa disebut al-masih, yang secara harfiah berarti “sang juru selamat”, namun Al-Quran tidak menunjukkan maknanya sebagai sebuah gelar penguasa yang mendapat upacara peminyakan suci di Israel. Namun kata ini mengandung arti Kristus bagi orang Kristiani pada zaman Muhammad, yaitu sebuah sebutan bagi Isa. Jadi tidak ada konsep ketuhanan dari ayat tersebut untuk Yesus (seperti yang biasa digunakan oleh umat Kristen untuk membuktikan bahwa Islam juga mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan, dari kata-kata “Firman-Nya dan Ruh-Nya” yang disamakan dengan konsep pemahaman umat Kristen mengenai Injil Yohanes 1).
Al-Qur’an memuat sejumlah rujukan polemis terhadap kepercayaan Kristen tentang keputraan Kristus dan Trinitas. Al-Qur’an menyatakan: Kristus dan Maria adalah makhluk hidup yang memakan makanan. Kristus tidaklah lebih dari sekedar rasul, dan banyak rasul yang mendahuluinya (QS. 5:75). Jika Allah hendak membinasakan Kristus dan ibunya serta semua orang yang ada di dunia maka tidak ada yang dapat menghalangi-Nya (QS. 5:17). Ditantang oleh Allah, Yesus membantah bahwa ia memberitakan pada manusia untuk menyembah dirinya sendiri dan ibunya sebagai Tuhan tambahan bagi Allah, dan menjawab bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Yesus tetapi Yesus tidak mengetahui apa yang ada dalam pikiran Allah.  
- Mukjizat-mukjizat Yesus
            Tanda-tanda atau kemukjizatan Yesus mendapat penekanan khusus di dalam Al-Qur’an. Kristus diperkuat oleh Roh Kudus dan diberi bukti-bukti untuk mendukung ajarannya (QS. 2:87, 5:110, 43:63). Suatu aspek mukjizat dari ucapannya adalah kemampuannya menebak untuk mengetahui apa yang dimakan dan disimpan orang di rumahnya (QS. 3:49). Kemampuannya untuk menyembuhkan ditekankan: ia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang sakit kusta, dan membangkitkan orang mati (QS. 3:49, 5:110).
            Kemampuannya untuk menyembuhkan dilihat dalam hubungan dengan kemampuannya untuk memberi hidup, bukan hanya menghidupkan orang mati, tetapi memberi hidup pada burung yang tercipta dari tanah liat dengan cara meniupnya (QS. 3:49, 5:110). Namun, bangsa Israel menuduhnya melakukan sihir yang nyata (QS. 5:110, 61:6).
            Seperti yang dapat dilihat dari rujukan di atas, kemukjizatan-kemukjizatan Yesus diberitakan dalam dua tempat, di surah 3 dan 5. Di dalam surah yang kelima itu, ada sebuah cerita mukjizat tentang meja yang dikirim dari langit dengan penuh makanan sebagai bukti kepada murid bahwa ia berbicara benar. Pengiriman meja itu disebut sebagai ‘pesta/festival’ dan tanda dari perlindungan Allah (QS. 5:112-115). Tidak dibicarakan apakah pengiriman meja itu harus dipahami sebagai kiasan terhadap ekaristi.
- Akhir Hidup Yesus dan Kedatangannya kembali
               Ayat-ayat Al-Qur’an tentang bagaimana sebenarnya akhir krhidupan Yesus di dunia terbuka bagi berbagai penafsiran, dan juga menimbulkan beberapa masalah tata bahasa yang sulit. Hal itu berkaitan dengan penafsiran terhadap ungkapan subbiha lahum dan arti dari kata kerja tawaffa (QS. 55) di dalam kata-kata tentang kematian Yesus (QS. 4:157, 3:55, 5:117) dan masalah sintaksis di dalam kata-kata tentang kembalinya Yesus (QS. 4:159, 43:61).[3]
            Saat berbicara di buaian, Yesus bayi sebenarnya menunjuk pada ‘di hari aku meninggal, di hari aku dibangkitkan (kata kerjanya; ba’tsa) hidup lagi’ (QS. 19:33). Namun, kedua bagian yang menunjuk pada akhir kehidupan Yesus tampaknya membantah bahwa ia mengalami kematian yang normal, dan hanya menegaskan bahwa ia diangkat ke langit. Dalam bagian pokok yang pertama (QS. 3:4 dst), dikatkan bahwa orang-orang kafir membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka. Dia mengatakan pada Yesus bahwa Ia akan menerimanya / membuatnya mati (tergantung pada penerjemahan kata kerja tawaffa), dan membersihkannya dari orang-orang kafir dengan mengangkatnya (kata kerja; rafa’a) kepada diri-Nya (bdk. QS. 5:117). Dalam bagian pokok yang kedua (QS. 4:156-159), kita diberitahu bahwa meskipun para musuh hendak membunuh Yesus, mereka sebenarnya tidak membunuh atau menyalibnya, tetapi ditampakkan pada mereka demikian (subbiha lahum).
            Tentang peran Yesus di zaman akhir yang akan datang, ada dua rujukan di dalam Al-Qur’an yang juga terbuka terhadap berbagai penafsiran. Yang pertama (QS. 4:159) termasuk dalam bagian pokok yang kedua tentang akhir kehidupan Yesus dan menunjuk pada Kristus yang meenjadi saksi atas ahli Kitab pada Hari Kebangkitan. Yang kedua adalah QS. 43:61 “Sesungguhnya dia (Kristus ataukah Al-Qur’an?) adalah Tanda Zaman.” Kalimat itu datang sekonyong-konyong dan sulit dimengerti konteksnya, dan tidak jelas apakah Al-Qur’an sendiri yang sebenarnya menunjuk pada kembalinya Yesus.[4]
3.Yesus menurut Umat Kristen Zaman Muhammad
            Penting bagi kita untuk mengetahui pemikiran gereja tentang Yesus yang berkembang pada zaman Muhammad hidup, karena hal itu sedikit-banyaknya pasti mempengaruhi pola pikir Muhammad tentang Yesus. Apabila kita menelaah secara historis, maka akan ditemukan Muhammad melakukan kontak dengan umat Kristen, seperti pendeta Kristen, Bahira, saudara sepupu Khadijah, Waraqah ibn Nawfal, dan budak Kristen, Jabr (yang dianggap telah berpengaruh kepada Muhammad oleh orang-orang Mekah). Istri Muhammad lainnya yang berasal dari Koptik, Mariya, yang dibawa kepada Muhammad sebagai budak dari Aleksandria bersama saudara-saudarinya.
            Pada saat itu berkembang dua kaum hasil perpecahan gereja Kristen akibat keputusan Konsili Chalcedon (451 M) yang hanya memuaskan partai menengah (partai moderat) dalam gereja. Kaum tersebut adalah kaum Monofisit (Cyrillus) dan kaum Nestorian (Nestorius).[5] Berikut ini adalah pemahaman kedua kaum tersebut tentang Yesus.[6]
Monofisit
Nestorian
Menitikberatkan tabiat ilahi Kristus
Menitikberatkan kemanusiaan Kristus
Tabiat insani Kristus hilang melebur dalam samudera keilahian-Nya
Dalam diri Kristus diadakan pembagian: ada tabiat insani dan ilahi
Ditekankan keesaan tabiat ilahi Kristus saja
Tidak ada keesaan antara kedua tabiat Kristus, kecuali keesaan kehendak

4. Yesus Menurut Umat Kristen Masa Kini
Teologi terus berkembang, demikian pula dengan Kristologi. Oleh karena itu, untuk pemahaman mengenai Yesus masa kini, Penulis tidak berani mengeneralisasikan pendapat semua aliran atau pemikiran yang sedang berkembang saat ini. Situasi dan kondisi saat ini sangat kompleks, suatu pandangan/kebenaran tidak lagi uniform tetapi pluriform. Ada kristologi menurut teologi feminis, pembebasan, proses, kontekstual, religionum, teodise, Yesus sejarah, Yesus dan politik, Yesus dan konflik, dsb. Oleh karena itu, Penulis hanya akan mengambil satu contoh pandangan tentang Kristus yang sedang berkembang saat ini, yaitu Yesus Sejarah.
            Yesus Sejarah memusatkan kajiannya pada Yesus yang manusia, bukan yang ‘ilahi’. Oleh karena “Sang Firman itu telah menjadi manusia/daging dan diam diantara kita” (Yohanes 1:14), dan karena kriterion iman yang benar itu ditumpukan pada suatu  pengakuan mutlak bahwa ‘Sang Firman’ yang adikodrati itu telah tampil dalam tubuh yang dapat ‘dilihat dan disaksikan dengan mata’ dan dapat ‘didengar’ serta ‘diraba dengan tangan’, maka penolakan atas pengakuan ini menjadikan seseorang itu ‘anti-Kristus’ dan ‘penyesat’ (1 Yohanes 4:2-3; 2 Yohanes 7).
            Dengan melihat Yesus dari sisi kemanusiaan-Nya, kita akan menemukan kembali kekayaan-kekayaan kearifan dan spiritual dari ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus. Ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan Yesus semasa ia hidup (bukan hanya kematian dan kebangkitannya, juga bukan hanya pra-eksistensinya) juga mampu membawa orang ke dalam pengalaman-pengalaman keselamatan, pengalaman pertemuan dengan Allah.[7]
5. Analisa
            Apabila kita memperhatikan Kristologi Islam yang telah dipaparkan di atas maka ada beberapa kesamaan yang tampak antara Kristologi Islam (Al-Quran) zaman muhammad hidup dengan Kristologi Kristen. Berikut beberapa kesamaan yang ada antara Kristologi Islam dan Kristen:
-          Kelahiran Yesus dari anak perawan
-          Yesus melakukan mukjizat-mukjizat
-          Yesus mengajarkan keesaan Allah
-          Yesus ditolak oleh bangsanya sendiri
-          Yesus akan datang kembali pada hari akhir
Selain persamaan-persamaan, terdapat juga perbedaan-perbedaan dalam Kristologi Islam-Kristen, yang sering kali menjadi perdebatan sengit:
-          Yesus memanggil murid-muridnya (dalam Islam mereka dipanggil untuk menjadi para pembantu Allah, dalam Kristen mereka dipanggil menjadi penjala manusia)
-          Dalam Kristologi Islam, Yesus meramalkan kedatangan Muhammad sedangkan dalam Kristen Yesus meramalkan kedatangan Roh Kudus (walaupun ada umat Islam yang mengatakan bahwa Yesus dalam Injil Kristen meramalkan tentang Muhammad juga)
-          Yesus dalam Alkitab mati tersalib lalu dibangkitkan pada hari yang ketiga. Dalam Al-Qur’an tidak secara tersirat dijelaskan tentang kematian Yesus, butuh penafsiran selanjutnya
-          Bagi Umat Kristen Yesus adalah Tuhan (dengan berbagai macam penafsiran) sedangkan bagi Umat Islam Yesus hanyalah manusia biasa, kristus dan rasul.
Menurut Penulis adanya persamaan dan perbedaan antara Kristologi Islam dan Kristen adalah suatu yang wajar, karena dua-duanya berasal dari rumpun agama semitik. Persamaan yang ada antara Kristologi Islam-Kristen disebabkan adanya pengaruh agama Kristen terhadap Muhammad. Dan perbedaan yang ada, terjadi akibat latar sosial budaya yang berbeda cukup jauh antara waktu penulisan Injil (sekitar abad kesatu, di Israel) dengan penulisan/diturunkannya Al-Qur’an( sekitar abad keeenam di Arab). Antara keempat injil dalam Alkitab (Markus, Matius, Lukas) yang hanya berbeda beberapa tahun saja memiliki banyak perbedaan, apalagi dengan Al-Qur’an yang berbeda beberapa abad. Selain itu, seperti pemaparan di atas,  Kristologi umat Kristen zaman Muhammad dengan Kristologi masa kini juga berubah. Hal itu karena Teologi, termasuk juga Kristologi, terus berkembang. Oleh karena itu, seharusnya perbedaan yang ada jangan dijadikan celah untuk ‘menyerang’. Keberagaman itu indah bukan?
DAFTAR PUSTAKA
Becker, Dieter. Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
End, Th. Van den. Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005. Leirvik, Odbjorn. Yesus dalam Literatur Islam: Lorong Baru Dialog Kristen Islam. Yogyakarta: Fajar        Pustaka Baru, 2002.
Phipps,William E. Muhammad & Isa: Telaah Kritis atas Risalah dan Sosoknya. Bandung: Mizan,             2000.
Rakhmat, Ioanes. “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini,”           Berteologi di tengah perubahan, ed. Natanael Setiadi dan Tim Kompilasi KPT GKI SW Jabar.           Jakarta, 2007. 


[1] William E. Phipps, Muhammad & Isa: Telaah Kritis atas Risalah dan Sosoknya (Bandung: Mizan, 2000), hal. 125
[2] Odbjorn Leirvik, Yesus dalam Literatur Islam: Lorong Baru Dialog Kristen Islam (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), hal. 31-32.
[3] Ibid., hal. 39.
[4] Ibid., hal. 34.
[5] Th. Van den End, Harta dalam Bejana: Sejarah Gereja Ringkas (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 72.
[6] Dieter Becker, Pedoman Dogmatika: Suatu Kompendium Singkat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), hal.116.
[7] Ioanes Rakhmat, “Kajian Yesus Sejarah dan Sumbangannya Bagi Kehidupan Kristen Masa Kini,” Berteologi di tengah perubahan, ed. Natanael Setiadi dan Tim Kompilasi KPT GKI SW Jabar (Jakarta, 2007),  hal.1-2, 32.

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar