Kamis, 16 Juni 2011

PERCUMA BERBUAT BAIK


Apakah dengan berbuat baik, kita yakin bahwa semua orang pasti akan menyukai, tambah dekat atau menghormati kita? Tidak, pasti tidak. Berbuat baik tidak menjamin bahwa semua orang akan menyukai, tambah dekat atau menghormati kita. Apa yang kita anggap baik mungkin tidak dianggap baik oleh orang lain. Sebagai guru, kita melakukan pekerjaan yang baik tetapi pasti tetap saja ada yang tidak suka dengan kita, bisa itu murid, teman sejawat, orang tua murid atau atasan kita. Begitu juga dengan kepala sekolah, pasti tetap ada yang tidak menyukai, bisa itu guru, karyawan, sesama kepala sekolah atau atasan. Begitu juga dengan profesi yang lainnya.
Ada yang tidak suka dengan kita ditunjukkan secara langsung dengan raut muka yang tidak bersahabat. Namun ada juga yang tidak suka dengan kita ditunjukkan secara tidak langsung dengan raut muka yang bersahabat apabila berhadapan dengan kita tetapi di belakang kita menjadi orang paling kejam sedunia.  Jika begitu buat apa kita berbuat baik jika hasilnya tetap aja ada orang yang tidak suka dengan kita? Bukankah tujuan kita berbuat baik adalah agar semua orang nyaman di dekat kita dan senang dengan kita.
Yah mari kita tidak usah berbuat baik. Sekali lagi saya katakan mari kita tidak usah berbuat baik. Jika .... tujuan kita berbuat baik adalah untuk membuat semua orang nyaman dan senang dengan kita. Percayalah kita akan kecewa dan sakit hati jika tujuan kita berbuat baik tujuannya adalah seperti itu. Kita akan mendapatkan kenyataan yang sungguh akan berbeda dengan yang kita bayangkan, orang yang kita perlakukan baik selama ini ternyata menusuk kita dengan kejam.
Bayangkan jika kita ada pada posisi Yesus. Pertama kali datang ke Yerusalem disambut dengan elu-eluan yang begitu mengagumkan. Mereka mengiri kedatangan Yesus dengan daun palm bahkan dengan pakaian mereka. Mungkin kita akan senang atau bahkan kita akan melambung tinggi jilka diperlakukan seperti itu. Kita akan melakukan apapun yang mereka inginkan agar kita dapat terus dipuji-puji seperti itu.
Jika kita perhatikan Yesus menyembuhkan banyak orang apakah tujuannya untuk menyenangkan terus hati mereka? Yesus berkeliling kota apakah tujuannya agar semua orang menyukainya? Yesus membuat banyak mukjizat apakah juga tujuannya untuk menyenangkan banyak orang? Tidak, Yesus justru dengan berani mengecam mereka yang ikut Yesus cuma karena perut atau mukjizat. Yesus banyak mengecam kota bahkan mengecam orang-orang yang telah berlaku tidak adil. Pada akhirnya orang-orang yang mengelu-elukan Yesus justru berteriak “salibkan Dia.” Sungguh miris.
Apakah itu artinya Yesus percuma berbuat baik? Tidak. Karena tujuan Yesus berbuat baik bukan untuk membuat semua orang nyaman dan senang di dekat-Nya.  Tujuan Yesus berbuat baik adalah melakukan kehendak Bapa.  “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku” (Yoh 5:36). Begitu jugalah yang seharusnya menjadi tujuan kita berbuat baik yaitu melakukan kehendak Bapa. Apa itu kehendak Bapa?
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef 2:10). Kehendak Bapa adalah agar kita melakukan pekerjaan baik bahkan hidup di dalamnya. Perhatikan kata “nya”. Bukan huruf besar tapi kecil, bukan merujuk ke Yesus tapi ke perbuatan baik. Itu artinya kehendak Bapa adalah kita hidup terus menerus dalam perbuatan baik, bukan cuma kadang-kadang.
Misalnya seperti kereta. Tujuan kereta diciptakan adalah untuk mengikuti rel kereta. Hanya itu tujuannya. Apakah apabila orang yang melihatnya tidak senang dengannya lalu kereta akan berhenti mengikuti rel tersebut atau tiba-tiba ke luar dari rel? Tidak. Kereta diciptakan hanya untuk mengikuti rel, mau ada yang suka atau tidak dia tetap mengikuti rel tersebut. Hidupnya adalah di dalam rel itu. Dia tidak terikat dengan yang namanya suka atau tidak suka.
           Begitulah yang dimaksud kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik. Tujuan hidup kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk melakukan pekerjaan baik. Baik ada yang suka maupun tidak suka. Kita harus terus hidup di dalam perbuatan baik. Namun sebagai manusia jelas kita tidak seperti kereta. Kita bisa saja ke luar dari jalur perbuatan baik, bisa saja kita jemu untuk berbuat baik. Mungkin karena kita kecewa dengan sesama kita, mungkin diri sendiri atau mungkin dengan Tuhan. Bahkan Yesus sendiri pun pernah ingin ke luar dari jalur itu, yaitu ketika Dia bergumul di taman getsemani.
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat 26:39). Lalu dalam ayat ke-42 Yesus mengatakan "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Yesus pun ingin berusaha ke luar dari jalur rencana Tuhan, tapi pada akhirnya Yesus tetap menyadari bahwa keberadaan-Nya tidak lain hanyalah untuk melakukan kehendak Bapa.
Mungkin dalam kehidupan kita sehari-hari perbuatan baik yang kita lakukan tetap saja ada yang tidak suka. Atau orang-orang yang kita perlakukan baik justru menyakiti kita. Ingatlah, tujuan kita berbuat baik bukan untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk melakukan kehendak Bapa. Lalu apa untungnya berbuat baik untuk diri kita sendiri? Tidak dapat dipungkiri pikiran manusia selalu berpikir tentang untung rugi. Paulus mengatakan “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal 6:9). Percayalah, berbuat baik secara langsung juga berdampak baik buat kita. Apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai. Oleh karena itu janganlah berjemu-jemu berbuat baik.

Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

Kamis, 09 Juni 2011

Ora et Labora bukan Ora ah Labora

BERLUTUT. Jika kamu ingin sesuatu kamu harus berlutut terlebih dahulu. Apa maksudnya? Saya pernah mendatangi satu gereja yang mengajarkan jika kita ingin mendapatkan sesuatu kita harus berlutut berdoa kepada Tuhan. Bawalah apapun yang kita inginkan dalam doa. Bahkan saya juga mendengar, seorang anak pendeta di tempat tersebut ingin minta dibelikan HP (Hand Phone) lalu ayahnya mengatakan untuk berlutut dan berdoa. Hanya dengan itu Tuhan akan berbelas kasihan. Ada juga yang ketika anak sakitnya karena tidak punya uang akhirnya membawa anaknya ke gereja lalu mendoakannya di sana berjam-jam, lalu dia bersaksi anaknya sembuh. Ada juga yang merasa tidak perlu ke dokter karena Yesus adalah dokter dari segala dokter jadi berdoa saja pasti sembuh.

Benarkah kekristenan mengajarkan untuk berdoa saja tanpa bekerja jika ingin mendapatkan sesuatu atau dalam bahasa campuran Jawa dan Latin adalah "Ora ah Labora" yang artinya bisa "Malas ah bekerja" atau "Gak mau ah bekerja". Memang tidak dapat dipungkiri ada beberapa aliran kekristenan yang berpendapat, berpikiran dan berkeyakinan seperti itu. Saya tidak ingin mengatakan mereka sesat, saat ini saya hanya ingin berbagi sedikit bagaimana kita melihat masalah tersebut dengan sudut pandang yang berbeda dengan tetap berlandaskan Firman Tuhan. Saya hanya akan mengajak kita untuk fokus kepada satu perikop alkitab saja, jika kebanyakan nanti kesannya saya hanya mengutip-ngutip ayat untuk memaksakan pendapat saya.

Mari perhatikan 2 Tesalonika 3: 1-15. Lembaga Alkitab Indonesia memberi judul untuk perikop ini "Berdoa dan Bekerja" atau dalam semboyan bahasa latin yang terkenal adalah "Ora et Labora." Di dalam alkitab sendiri tidak tersurat adanya kata Berdoa dan Bekerja. Yang ada hanya judul perikop yang diberikan oleh LAI untuk 2 Tes 3:1-15. Istilah Ora et Labora sendiri dicetuskan oleh Santo Benediktus dari Nursia, Italia. Kata-kata itu tidak hanya sekadar menjadi semboyan saja. Benediktus mengajarkan para rahibnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa dia hidup. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam ketrampilan dalam berbagai lapangan pekerjaan (http://luckioojozz.blogspot.com/2010/09/st-benediktus.html). Benediktus diinspirasi oleh perikop 2 Tesalonika tersebut khususnya 2 Tes 3:10 yang berbunyi "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." 



Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh perikop 2 Tesalonika 3 tersebut. Mari kita pelajari bersama. 2 Tesalonika ditulis untuk menjawab persoalan yang terjadi di jemaat Tesalonika, yaitu Yesus akan segera datang. 1 Tesalonika mengatakan bahwa Yesus akan segera datang, bahkan mereka yang masih hidup akan mengalami kedatangan Yesus seperti yang ditulis dalam 1 Tes 4: 15 "Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal." Dan juga ayat yang ke-17 "sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan." Oleh karena Yesus segera akan datang, ada beberapa anggota jemaat Tesalonika yang merasa percuma untuk bekerja sehingga mereka tidak mau melakukan pekerjaannya (2 Tes 3: 6). Bahkan ada yang hidupnya tidak tertib dan tidak bekerja melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (2 Tes 3:11). Mereka hanya berdiam diri di rumah tanpa bekerja hanya menunggu kedatangan Kristus. Hal ini dikritik keras oleh karena itu dalam 2 Tesalonika 3 tersebut Paulus, Silwanus dan Timotius memberitahukan teladan mereka hidup yaitu mereka tidak lalai bekerja di antara mereka, mereka berusaha dan berjerih payah siang dan malam (2 Tes 3: 7-8).


Jelas dari perikop tersebut kita mempelajari bahwa doa itu harus diiringi juga dengan bekerja. Bahkan jika kita telaah lebih jauh, kata "et" dalam bahasa latin bisa juga berarti " di dalam" maka ora et labora bisa juga diartikan "berdoa di dalam bekerja." Yang artinya adalah kita bekerja sama seperti ketika kita berdoa yaitu terus-menerus melibatkan Tuhan. Dari kisah hidup Santo Benediktus kita juga mempelajari bahwa dia mengajarkan rahib dan orang di sekitarnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun.

Sekarang kembali kita di masa kini. Sebagai umat Kristen apakah kita masih Ora ah Labora untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau kita mau mengikuti teladan Paulus, Silwanus, Timotius dan Benediktus yaitu Ora et Labora? Selamat Merenung.


Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar