Minggu, 23 Januari 2011

Bagaimana Bercerita?

Patricia Griggs mengatakan bahwa apabila kita menceritakan tentang cerita diri kita sendiri (my story) maka kita tidak perlu memikirkan tentang bagaimana perasaan/emosi kita pada saat itu, peristiwa-peristiwa lain apa yang mengikuti kisah kita tersebut karena kita sendiri yang mengalaminya (personal story). Secara otomatis ketika kita menyampaikan cerita tersebut kepada orang lain, perasaan/emosi kita ikut tersampaikan juga. Namun ketika ada orang lain yang hendak menceritakan kisah kita tersebut kembali, maka orang tersebut butuh untuk melakukan interpretasi. Dia harus dapat menangkap perasaan/emosi kita pada saat itu serta situasi ketika cerita tersebut terjadi. Sesungguhnya menceritakan kisah Alkitab juga seperti menceritakan personal story.[1] Kita butuh tahu bagaimana perasaan/emosi penulis kisah tersebut, bagaimana kebudayaan ketika kisah tersebut dibuat, peristiwa-peristiwa apa yang terjadi ketika kisah itu dibuat serta kebutuhan yang ada sehingga kisah tersebut harus dibuat/dituliskan. Oleh karena itu, berkhotbah dengan bercerita tetap memerlukan interpretasi/hermeneutik. Khotbah naratif tidak hanya sekadar menuturkan kembali kisah Alkitab tetapi juga menyampaikan perasaan/emosi serta pengalaman penulis kisah sehingga kisah tersebut berhubungan juga dengan kisah kita pada masa kini (our story).

2.2.1 Plot Khotbah
Untuk dapat mengerti perasaan/emosi, pengalaman, kebudayaan serta kebutuhan dari kisah tersebut kita memerlukan penafsiran sedangkan agar cerita tersebut dapat berhubungan juga dengan kisah umat pada masa kini maka diperlukan perancanaan cerita yang hendak disampaikan dalam khotbah (plot khotbah). Cerita perlu dirancang mulai dari pembukaan hingga penutup dengan sangat baik sehingga pesan firman Tuhan dapat disampaikan dengan efektif.
2.2.1.1 Pembukaan
Seperti yang dituliskan sebelumnya, ketika umat datang mengikuti ibadah dan hendak mendengarkan khotbah, mereka tidak datang dengan pikiran kosong yang siap diisi begitu saja dengan firman Tuhan. Mereka justru datang dengan membawa banyak ‘suara’suara’ lain yang bergemuruh di dalam pikirannya. Oleh karena itu, pembukaan khotbah (dalam hal ini cerita) menjadi bagian yang sangat penting. Bagian pembukaan harus dapat melepaskan umat dari ‘suara-suara’ lain tersebut dan segera memikat perhatian mereka pada cerita yang akan disampaikan. Pada pembukaan cerita harus terjadi suatu konflik atau masalah sehingga pendengar tertarik untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.[2] “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” Patricia mengemukakan bahwa pertanyaan ini akan menjadi alasan pendengar untuk terus memperhatikan cerita dan ikut terlibat dengan cerita tersebut.[3]
Untuk dapat memperoleh attention umat, ada banyak cara membuka sebuah cerita.
a.       Mulailah dengan sesuatu yang mengejutkan dan membuat pendengar bertanya-tanya.[4]
Bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4). Dua kata yang merupakan tulisan Rasul Paulus itu tercetak di bagian kosong halaman sebuah majalah, dengan foto sekuntum bunga mawar merah.
Pikiran waras akan langsung bereaksi. Bila anak diwisuda memang kita gembira. Akan tetapi, siapa yang akan bersukacita bila anaknya geger otak ditabrak motor? Bila mendapat rumah tentulah kita bergembira. Akan tetapi, siapa yang akan bergembira bila rumahnya terbakar? Mustahil kita selalu bersukacita.[5]
b.      Suatu persoalan dapat dipakai untuk peembukaan cerita[6]
Siapa yang membidani Maria ketika melahirkan Yesus? Orang yang melahirkan perlu dibidani. Siapa yang membidani Maria? Apakah Yusuf? Agak mustahil bahwa seorang pemuda yang baru bertunangan seperti Yusuf terampil menolong wanita yang melahirkan. Kalau begitu siapa yang menolong Maria?[7]
c.       Tujuan cerita dapat menentukan isi pembukaan cerita.[8]
Contohnya kita akan menyampaikan khotbah dengan tema “Menjadi Hamba bagi Sesama, Mungkinkah?”
Menjadi hamba bagi sesama? Menjadi hamba berarti menuruti semua yang diinginkan tuannya. Saya sedang membayangkan apabila saya adalah hamba dari sesama saya yang suka menyuruh-nyuruh orang. Mungkin beginilah nasib saya. “Hei ambilkan saya minum,” “Cucikan pakaian saya,” “Bersihkan rumah saya,” “Bayarin saya makan” dan permintaan-permintaan lainnya. Haruskah saya menuruti semua permintaannya? Harus! Jika saya menjadi hamba, saya tidak punya hak untuk menolak ataupun protes. Semua permintaan tuan harus dituruti. Jadi mungkinkah kita menjadi hamba bagi sesama?”
d.      Penjelasan istilah baru dapat menjadi isi pembukaan cerita.[9]
Apakah dalam hidup ini ada hal yang pasti? Ada. Tetapi hanya satu! Apa itu? Bahwa kita semua akan mati. Hanya itu yang pasti. Segala sesuatu lainnya serba belum pasti atau tidak pasti.
Memento mori! Demikianlah bunyi sebuah peribahasa Latin. Artinya: Ingatlah, Anda akan mati.[10]
e.       Pembukaan dengan pengakuan atau pendahuluan yang bersifat pribadi[11]
Ketika masuk di Sekolah Teologi Balewijoto Malang, saya baru berusia 18 tahun dan masih bercelana pendek. Dibandingkan dengan kawan-kawan, saya tergolong muda dan kecil. Apalagi kalau dibandingkan dengan para dosen yang kebanyakan adalah orang Belanda dan Amerika. Hal itu terasa tiap pagi di kapel. Tiap pagi dalam kebaktian di kapel semua dosen duduk di baris paling depan. Saya selalu duduk di bangku paling belakang, sehingga saya hampir tidak dapat melihat ke depan karena terhalang para dosen dan teman. Saya merasa kecil.
Namun yang lebih merisaukan saya adalah perasaan tidak pasti. Tiap hari saya dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan: mampukah saya belajar di sekolah ini? Dapatkah saya naik tingkat? Dapatkah saya lulus? Apakah saya akan menjadi pendeta? Di mana? Bagaimana? Apa hari depan saya? Jalan di depan saya penuh dengan ketidakpastian. Saya sangsi. Saya takut.[12]
f.       Pengalaman umat yang pernah dialami bersama dapat kita jadikan pembukaan.
Siapa yang bisa hidup tanpa air? Sebelum lahir pun kita sudah perlu air. Selama Sembilan bulan kita mengambang di kantung air dalam kandungan ibu. Setelah lahir makanan kita hanya air selama beberapa bulan. Kita bisa membaca karena mata kita berair. Kita bisa memahami isi karangan dengan otak yang 85% terdiri dari air. Tubuh kita terdiri dari 70% air. Air dalam aliran darah melarutkan bahan gizzi yang diperlukan oleh jutaan sel tubuh kita. Nah, bagaimana kita bisa hidup tanpa air?[13]

2.2.1.2 Tubuh Cerita (Isi)
Pada bagian ini karakter-karakter cerita mulai dikembangkan dan pendengar dibawa/diarahkan menuju kepada klimaks dari cerita.[14] Perkembangan dan gerak cerita makin lama makin meningkat mendekati pemecahan masalah. Inilah bagian terpanjang dari suatu cerita, sampai akhirnya mencapai klimaks, puncak cerita.[15] Oleh karena itu, semua pokok pikiran dan pesan firman Tuhan yang hendak disampaikan dapat disampaikan pada bagian ini.
Pesan firman Tuhan yang hendak disampaikan tentunya telah melalui proses penafsiran. Proses penafsiran tersebut ada baiknya tidak dijelaskan panjang lebar di dalam khotbah, biarlah itu menjadi proses pengkhotbah dalam mengelola pesan firman Tuhan di ‘dapurnya.’ Apabila memang pengkhotbah merasa proses penafsiran perlu disampaikan maka pengkhotbah harus membuat proses penafsiran itu menjadi bagian dari cerita, tidak terlepas.
Tidak hanya penafsiran yang ada di bagian ini. Aplikasi yang melibatkan kehidupan/pengalaman pendengar pun harus tergambar di dalamnya. Antara pesan firman Tuhan dari hasil penafsiran dengan pengalaman hidup umat harus berkaitan. Untuk lebih jelasnya kita dapat melihat lanjutan dari cerita Andar Ismail tentang “Tersembunyi Ujung Jalan.”
Di tengah perasaan tidak pasti itu, ada sebuah lagu di kapel yang membuat saya sering termenung. Lagu itu kami nyanyikan tiap pagi sebagai lagu respons:
Barangsiapa dipanggil Tuhan
Ke dalam pekerjaan-Nya
Akan melihat tanda heran
Yang sudah diadakan-Nya
Dan meski jalan turun naik
Mengaku jalan Tuhan baik
Haleluya, haleluya!
(NR No. 15, kini KJ No. 9)
Sering saya termenung seusai menyanyikan lagu itu. Apa gerangan arti kata-kata itu. Kita akan melihat tanda heran dalam menjalani hidup ini. Jalan ini nantinya turun naik, namun akhirnya akan baik. Itukah yang akan terjadi pada jalan hidup saya? Apakah tanda heran itu? Dalam hal apa jalan saya akan turun? Dalam hal apa naik?
Ketidakpastian memang merisaukan. Karena itu sebagai salah satu reaksinya kadang-kadang kita selalu bersikap,  “Bagaimana nanti saja.” Seringkali orang mengira bahwa ucapan Yesus tentang tidak berkuatir mengandung sikap “Bagaimana nanti saja.”
(Proses penafsiran dimulai)
Sebenarnya ucapan Tuhan Yesus itu sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Coba perhatikan kalimat selengkapnya, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34). Perhatikan kalimat “kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”, yang menurut bahasa aslinya (arketon te hemera he kakia autes) bisa juga diterjemahkan menjadi “keburukan untuk sehari adalah cukup” atau “persoalan untuk hari ini pun sudah cukup.” Yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di sini adalah agar kita jangan mencoba mengatasi kesusahan masa depan, melainkan agar kita mengatasi kesusahan masa kini. Kalau persoalan hari ini sudah sulit kita tangani, bagaimana kita mau menangani persoalan hari esok.
Ucapan Yesus tentang jangan berkuatir bukan obat tenang yang menyebabkan kita bersikap santai terhadap persoalan, melainkan justru agar kita menangani persoalan, yaitu persoalan hari ini, bukan persoalan hari esok. Sebabnya adalah karena persoalan hari ini ada dalam jangkauan tangan kita sedangkan persoalan hari depan terletak di luar jangkauan kita. Yesus bertanya, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27).
(proses penafsiran selesai, dilanjutkan dengan aplikasi)
Karena itu kekuatiran tentang hari esok dapat disalurkan secara sehat dalam bentuk tindakan nyata yang dapat dijangkau pada hari ini. Daripada merisaukan apa nanti kita mempunyai uang untuk biaya sekolah, lebih baik mulai hari ini kita mengatur anggaran belanja secara lebih ketat. Daripada menguatirkan kesehatan kita di kemudian hari, lebih baik hari ini kita berolah raga. Daripada bingung kalau-kalau di musim hujan nanti rumah kita terkena banjir, lebih baik hari ini kita mengajak tetangga membersihkan saluran air got. Itulah “kesusahan sehari yang dapat kita atasi.”
Kalau dipikir, ketidakpastian tentang hari depan ada faedahnya, asalkan perasaan tidak pasti itu disalurkan dalam bentuk perbuatan yang konstruktif. Justru karena ketidakpastian itu, maka hari ini kita bekerja keras menyiapkan diri untuk hari esok. Seandainya kita sudah mengetahui hari depan, mungkin kita menjadi pasif. Seandainya dulu saya tahu bahwa saya akan menjadi dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, mungkin saya akan tenang-tenang saja. Tetapi justru karena saya tidak tahu hari depan, maka saya mengambil tindakan-tindakan nyata: mengikuti pelajaran bahasa Inggris tambahan di Seminari Alkitab Asia Tenggara meskipun di Sekolah Teologi Balewijoto ada pelajaran bagasa Inggris, mengikuti kelompok studi bahasa Yunani dan Ibrani, meminjam diktat pedagogik dari mahasiswa IKIP, bangun lebih pagi, membaca lebih banyak buku, menjadi asisten dosen dan malam hari bekerja sebagai penerjemah buku.[16]

2.2.1.3 Klimaks
Pada titik ini, seluruh masalah yang muncul saat pembukaan mencapai puncaknya. Kadang dalam bagian klimaks juga terkandung penyelesaian masalah. Bagian klimaks disajikan pendek saja karena sebelumnya masalah sudah digumuli secara panjang lebar.[17] Berikut ini klimaks dari kisah “Tersembunyi Ujung Jalan.”
Hari depan memang merisaukan, namun juga mengasyikkan. Kita tidak mengetahui apa hari depan atau ujun jalan kita, tetapi sejak sekarang kita sudah dapat “mewarnainya”. Hari depan bukanlah sesuatu yang akan kita hadapi nanti, melainkan sesuatu yang sedang kita ciptakan sekarang. Daripada berkuatir tentang hari depan, lebih baik hari ini kita berbuat sesuatu. Yesus berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya…” (Mat. 6:33). Artinya: tempatkan diri (termasuk: pikiran dan orientasi) kita di bawah pemerintahan atau kehendak Allah, yaitu taati Allah.
2.2.1.4 Penutup
Ketika cerita mencapai klimaks, semua masalah sudah mencapai puncaknya hingga masalah tersebut dapat teratasi. Teratasi bukan berarti suatu cerita harus selalu happy ending. Teratasi maksudnya konflik yang menjadi pusat dari cerita, yang disampaikan pada pembukaan, dapat dijawab sehingga apabila pada akhir cerita timbul situasi yang baru, umat tahu bagaimana bersikap.
Memang ada cerita yang happy ending, tetapi juga ada cerita yang berakhir tanpa masalah terselesaikan misalnya kisah dalam Lukas 15 tentang anak yang hilang. Anak sulungnya tidak mau masuk untuk mengikuti pesta. Di sini timbul situasi baru. Masalah anak bungsu dengan sang bapa telah selesai, kemudian timbul situasi baru masalah antara anak sulung dengan bapa dan adiknya. Oleh karena itu, Tucker memberikan plot cerita yang diakhiri bukan dengan solusi tetapi dengan situasi baru (situation – stress – search – solution – the new situation).[18]
Khotbah memang bukanlah untuk menjawab semua masalah umat. Umatlah yang harus menjawab permasalahan hidupnya sendiri. Khotbah hanyalah menjadi inspirasi/penuntun umat melakukan sesuatu. Oleh karena itu, khotbah dengan bercerita tidak pernah ditutup dengan saran-saran (“jadi kita harus begini…begitu…”). Khotbah naratif selalu memberikan kesempatan umat untuk ikut ambil bagian dalam melakukan refleksi menentukan sikap apa yang seharusnya mereka lakukan apabila menemui masalah seperti yang diceritakan dalam khotbah tersebut.
Ujung jalan memang masih tersembunyi. Justru karena itu kita menaati ajakan Dia yang sedang berjalan di depan kita sambil mengulurkan tangan-Nya, “Mari, ikutlah Aku.” Mungkin lagu ini dapat memantapkan langkah-langkah kaki kita:
Tersembunyi ujung jalan, hampir atau masih jauh;
‘ku dibimbing tangan Tuhan ke neg’ri yang tak ‘ku tahu
Bapa, ajar aku ikut, apa juga maksud-Mu
Tak bersangsi atau takut, beriman tetap teguh
(KJ. No. 416)
Dalam kisah penutup “Tersembunyi Ujung Jalan” di atas kita mendapati bahwa masalah tentang hari depan tidak terselesaikan begitu saja. Umat tidak diajak untuk meyakini bahwa masa depan itu terjamin. Umat justru diperhadapkan kembali pada situasi baru bahwa ujung jalan memang masih tersembunyi namun lagu yang dikutip tersebut seakan ingin mengatakan bahwa walaupun kita tidak tahu masa depan seperti apa, jangan sangsi atau takut. Mantapkan langkah kaki kita untuk berjalan bersama Tuhan sang Empunya masa depan.
Khotbah naratif memang tidak memberikan kesimpulan yang kesannya memaksa pada bagian penutup. Tapi itu bukan berarti umat dibiarkan begitu saja mengambil refleksi secara bebas tanpa arah. Sesungguhnya mulai dari awal hingga akhir, umat diarahkan kepada suatu kesimpulan yang menjadi tujuan dari khotbah tersebut. Seperti kisah orang Samaria yang baik hati yang disampaikan oleh Yesus, pada akhir khotbahnya Yesus tidak membiarkan para pendengarnya begitu saja untukmengambil kesimpulan sendiri-sendiri dari cerita tersebut.[19] Yesus mengakhiri khotbahnya dengan pertanyaan “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.” Yesus memberi kesempatan kepada pendengar-Nya untuk mengambil kesimpulan sendiri, namun sesungguhnya kesimpulan yang mereka ambil merupakan kesimpulan juga yang telah diharapkan oleh Yesus. Dari awal cerita hingga pertanyaan penutup sesungguhnya Yesus telah menanamkan pesan tersebut sehingga ketika cerita berakhir, Yesus berharap pesan itulah yang mereka dapat.
Sesungguhnya ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menutup cerita.
a.       Tutup cerita dengan lagu, doa atau kutipan. Dalam lagu, doa atau kutipan tersebut cerita dari awal sampai akhirnya sebenarnya telah disimpulkan. Seperti pada bagian penutup dari kisah “Tersembunyi Ujung Jalan.”
b.      Tutup cerita dengan pertanyaan retoris. Pertanyaan retoris kurang lebih bersifat sugestif dan tajam.[20] Pendengar dipengaruhi untuk mengambil kesimpulan yang sama seperti yang diingini pengkhotbah. Contohnya seperti pertanyaan Yesus untuk mengakhiri cerita tentang anak yang hilang (Luk 10: 36).
c.       Tutup cerita dengan membahas tema cerita. Tema cerita dibahas secara singkat.
Sayang, kita tidak tahu namanya. Ia adalah penolong yang tak dikenal. Ia menjadi salah seorang dari sekian banyak penolong tak dikenal dalam jalan kehidupan ini. Berbahagialah orang yang menjadi penolong. Berbahagialahorang yang penolong walaupun tak dikenal. (Bagian penutup dari kisah “Penolong tak Dikenal”).[21]
d.      Tutup cerita dengan mengulang kembali kata-kata yang menjadi tekanan dalam cerita, yang sebelumnya juga telah diulang-ulang dalam cerita.
Jalan hidup kita memang dihadapkan pada banyak persimpangan “kalau saja”, namun “tangan gaib” memulihkan arah langkah kita ke arah yang terbaik untuk kita.[22]
e.       Tutup cerita dengan menjawab pertanyaan yang diberikan pada pembukaan cerita.
“Aku memang menyukai Ayu, Beti dan Carla, tetapi itu belum berarti bahwa salah seorang di antara mereka adalah jodohku. Biarlah aku bergaul dengan banyak teman lelaki dan perempuan sambil meyakini bahwa Kristus berjalan bersamaku dan pada waktunya nanti Ia akan memantapkan pertimbanganku.[23]
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)


[1] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education (Nashville: Abingdon, 1987), hal. 9.
[2] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita: Cara Bercerita Efektif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008) , hal. 13.
[3] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education, hal. 11.
[4] Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 101
[5]Andar Ismail, Selamat Berteman: 33 Renungan tentang Hubungan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), hal. 36.
[6] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 34.
[7] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia: 33 Renungan tentang Kristus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 44.
[8] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 35.
[9] Igrea Siswanto, Bercerita itu Gampang, hal. 36.
[10] Andar Ismail, Selamat Mewaris: 33 Renungan tentang Pusaka Hidup (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 8.
[11] John Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 102.
[12] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia: 33 Renungan tentang Kristus (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), hal. 99. Kisah “Tersembunyi Ujung Jalan”ini akan diteruskan untuk dibahas pada bagian tubuh cerita.
[13] Andar Ismail, Selamat Mewaris: 33 Renungan tentang Pusaka Hidup, hal. 73.
[14] Patricia Griggs, Using Storytelling in Christian Education, hal.11.
[15] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita, hal. 15.
[16] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia, hal. 99 – 101.
[17] A.L. Simanjuntak, Seni Bercerita, hal. 16 – 17.
[18] Tucker The Preacher, hal. 33.
[19] Tucker, The Preacher, hal. 83.
[20] Dori Wuwur Hendrikus, Retorika: Terampil Berpidato, Berdiskusi, Beragumentasi, Bernegoisasi (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hal. 118.
[21] Andar Ismail, Selamat Mengikut Dia, hal. 47.
[22] Andar Ismail, Selamat Berpulih: 33 Renungan tentang Pemulihan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hal. 63. Kata “kalau saja”telah diulang-ulang dalam bagian pembuka dan isi.
[23] Ibid., hal. 87. Pada pembukaan cerita Andar memberikan pertanyaan, “Aku sedang bingung dan takut. Siapa yang harus ku pilih? Ayu, Beti atau Carla? Tiga-tiganya cakep, cocok dan cinta. Siapa jodohku? Aku takut salah pilih.”

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (Secara Andragogis)

Mengapa andragogis dan bukan pedagogis? Pertama, kita perlu mengenali secara sekilas apa itu andragogis dan pedagogis. Mengenai konsep tentang naradidik dalam model pedagogik naradidik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung sedangkan dalam model andragogik naradidik memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri. Mengenai pengalaman naradidik, dalam model pedagogik pengalaman yang dimiliki oleh naradidik tidak besar nilainya, mungkin hanya berguna untuk titik awal sedangkan dalam model andragogik pengalaman naradidik begitu dihargai.[1]
Dalam membina jemaat prinsip pendidikan yang harus diterapkan seharusnya adalah andragogik. Artinya bahwa keinginan, pengalaman dan kemampuan umat harus diperhitungkan dan bahwa mereka harus diperhitungkan dengan respek. Umat dilihat sebagai subjek dan kita sebagai pengkhotbah harus mempertimbangkan hal tersebut dalam setiap khotbah kita.[2]
Metode bercerita merupakan metode yang tepat dalam memenuhi kebutuhan tersebut karena dalam cerita terdapat nilai-nilai yang dapat dikembangkan. Pengalaman dan kemampuan umat pun ikut diperhitungkan.
a. Nilai Personal
Igrea Siswanto mengatakan bahwa cerita itu mampu mengembangkan nilai personal apabila pesan yang disampaikan dapat:[3]
-          Memberikan kesenangan dan kenikmatan
-          Mengembangkan imajinasi
-          Memberikan pengalaman yang benar-benar dapat dihayati
-          Mengembangkan pandangan ke arah perilaku manusia
-          Menyuguhkan pengalaman-pengalaman yang bersifat universal
Kita lihat di sini, melalui cerita umat dibantu untuk mengembangkan dirinya. Pengalaman pribadinya diperhitungkan dan sekaligus juga dibandingkan dengan pengalaman yang lain.
b. Nilai Edukatif/intelektual
Siswanto juga menyebutkan bahwa cerita mengandung nilai edukatif, yaitu:[4]
-          Mengembangkan kemampuan berbahasa
-          Mengembangkan kemampuan membaca
-          Mengembangkan kepekaan terhadap cerita
-          Meningkatkan kemampuan menulis
-          Membantu perkembangan aspek sosial
-          Membantu perkembangan aspek emosional
-          Membantu perkembangan aspek kreativitas
-          Membantu perkembangan aspek kognitif
Siswanto memberikan nilai-nilai tersebut dalam konteks peran cerita bagi anak sehingga ada pembahasan mengenai kemampuan cerita dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, membaca, menulis dan kepekaan terhadap cerita. Namun, walaupun demikian, cerita tetap memiliki nilai edukatif juga bagi orang dewasa, yaitu membantu perkembangan aspek sosial, emosional, kreativitas dan kognitif.
A.L. Simanjuntak mengatakan bahwa semua orang menyukai cerita yang baik. Baik dia kaya atau miskin, berpangkat atau rakyat jelata, orang dewasa ataupun anak-anak, semuanya menyukai cerita. Cerita merupakan alat yang ampuh untuk menyampaikan pengajaran, pesan maupun teguran. Namun demikian, cerita tidak terlepas dari segi inteleknya karena cerita juga berfungsi untuk memberi informasi. Melalui cerita seseorang akan mempelajari hal-hal, situasi, dan tempat-tempat yang belum pernah dijumpai sebelumnya.[5]
c. Nilai Spiritual
Pengaruh yang paling besar dari sebuah cerita terhadap seseorang adalah nilai spiritualnya. Sebagai seorang pendeta/pengkhotbah tentu sering kita memberi nasihat atau ajaran moral yang sifatnya ‘memaksa’ atau seperti yang diungkapkan Andar yaitu menggurui atau mengkhotbahi umatnya lalu berkata. “sebab itu kita pun harus …” Dari perspektif andragogik jelas metode seperti itu tidak mendewasakan umat. Dapat dikatakan bahwa metode itu masih termasuk dalam pedagogi.
Andragogi seharusnya tidak memaksa umat untuk mengambil refleksi spiritual seperti refleksi yang kita inginkan karena hal itu sama saja membuat umat bergantung kepada pendeta/pengkhotbah. Padahal seharusnya secara andragogis umat memiliki kemampuan mengarahkan sendiri, dalam hal ini umat diberi kesempatan untuk merefleksikan sendiri pesan firman Tuhan yang disampaikan. Oleh karena itu, metode bercerita merupakan metode yang sesuai dengan perspektif andragogik karena cerita merupakan salah satu cara untuk mengajarkan suatu hal/pesan kepada orang lain tanpa terkesan memaksa.[6]
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

[1] Tisnowati Tamat, Dari Pedagogik ke Andragogik: Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan (Jakarta: Pustaka Dian, 1985), hal. 20.
[2] Jan Hendriks, Jemaat Vital & Menarik: Membangun Jemaat dengan Menggunakan Metode Lima Faktor (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hal. 50-51.
[3] Igrea Siswanto, Bercerita Itu Gampang: Tips n’ Trik Bikin Cerita Jadi Menarik (Yogyakarta: ANDI, 2008), hal. 8.
[4] Ibid., hal. 8-9
[5] AL. Simanjuntak, Seni Bercerita: Cara Bercerita Efektif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal. 7, 9.
[6] Agus DS, Tips Jitu Mendongeng (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hal. 21.

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (Secara Biblis)

Alkitab kita merupakan buku yang penuh dengan cerita. Jika kita mulai mendaftarkan nama-nama kitab dalam Alkitab yang berisikan penuh dengan cerita maka kita akan mendapatkan beberapa nama yaitu Injil,-injil, Kisah Para Rasul, Lima Kitab Taurat, Buku Sejarah Samuel, Raja-raja, Tawarikh, Ezra-Nehemia, Ester, Rut, Ayub, dan Daniel.[1]
Alkitab memiliki berbagai macam gaya dalam menyampaikan pesan firman Tuhan, salah satunya adalah naratif. Gaya-gaya naratif yang akan kita temui di dalam Alkitab yaitu:[2]
  1. Laporan sederhana: anekdot personal (1 Raj 19:19-21), laporan pertempuran (Yos 7:2-5), catatan tentang pembangunan (1Raj 6 – 7), pengalaman spesial (Kej 40:9 – 11; 16 – 17; Kel 3:2-12), catatan-catatan sejarah (1 Sam 11:1 – 11), dan riwayat hidup (Ezra 7:27 – 9:15; Neh 1: 1- 7:73a).
  2. Narasi kepahlawanan: epik kosmis (Kej 1 – 3, 6 – 9, 10 – 11), epik nenek moyang (Kej 12 – 36)
  3. Cerita-cerita Nabi (1 Raj 17 – 2:9; Dan 1 – 6)
  4. Komedi (Kej 37 – 50)
  5. Injil-injil dan Kisah Para Rasul
  6. Apokalipsis (Daniel dan Wahyu)
Bahkan dapat juga dikatakan Alkitab menggunakan storytelling sebagai model utama dan menengah dalam menyampaikan pesan firman Tuhan. Gerhard von Rad memberikan perhatian dalam tulisan-tulisannya tentang Israel yang telah menggunakan sejarah dan tradisi kenabiannya untuk memberikan makna baru kepada umat dalam keadaan dan setting yang baru, membaca dan menceritakan kembali hidupnya bersama Allah sehingga dapat mempengaruhi iman dan perilaku umat. Menceritakan dan menceritakan kembali cerita tentang Allah yang beperkara dengan umat yang dilakukan terus menerus untuk mempengaruhi para pendengar. Cerita memberikan kita kedalaman belajar karena mereka melibatkan kita pada tingkat perasaan maupun di tingkat pikiran realisasi. Realitas dan wahyu menggabungkan diri dalam kisah-kisah Alkitab, dan dari mereka kita kembali memahami Allah dan memahami diri kita sendiri.[3]
Storytelling selalu menjadi bagian vital dari tradisi Ibrani. Dalam sejarah Ibrani, cerita telah menikmati warisan penghargaan yang tidak terputus sebagai metode pengajaran tertinggi.[4]
Listen my people, mark each word. I begin with a story.
I speak of mysteries welling up from ancient depths,
Heard and known from our elders.
We must not hide this story from our children
But tell the mighty works and all the wonder of God.
. . .
Let future generations learn
And let them grow up to teach their young to trust in God (Ps 78: 1-4, 6-7a TS[5])
“I begin with a story,” kata pemazmur. Mazmur 78 merupakan contoh sebuah lagu maskil atau lagu untuk pengajaran dalam kesalehan. ini adalah salah satu dari beberapa mazmur yang mendorong Israel untuk terus menceritakan kisah Tuhan yang berurusan dengan umat-Nya sehingga mereka tidak terus mengulangi dosa-dosa ayah mereka. Mazmur lain yang menginstruksikan untuk terus menceritakan kisah Allah dan Israel, yaitu Mazmur 105 dan 106. Mazmur ini adalah lagu-lagu pujian dengan pengingat yang kuat “Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya” (Mzm 105: 5) dan pengingat bahwa Allah akan “ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya” (Mzm 105: 8). Lagu dan cerita-cerita ilahi merupakan cara untuk memperbaiki kelupaan. Dan lagu yang menceritakan sebuah kisah adalah yang terbaik dari semua.[6]
Berbicara tentang khotbah naratif maka kita harus turut juga melibatkan perumpamaan. Ketika kita mendengar kata perumpamaan maka kita akan teringat dengan seorang tokoh yang hampir setiap saat ketika Dia bersama dengan orang-orang banyak, dia selalu bercerita kepada mereka. Dia, Yesus, seringkali/hampir dalam setiap pengajaran-Nya menggunakan perumpamaan.[7] Hal tersebut dilakukan karena banyak pendengar pada abad pertama tersebut tidak bisa membaca, sehingga agar mereka dapat mengerti dan mengingat pengajaran yang Yesus hendak sampaikan maka Yesus bercerita. Ceritanya juga tidak panjang agar mudah diingat.[8]
Lalu mengapa untuk berbicara mengenai khotbah naratif kita perlu berbicara tentang perumpamaan? Hal tersebut karena perumpamaan, terutama perumpamaan Yesus, selama ini telah menjadi kiblat bagi khotbah naratif. Pakar khotbah naratif, Eugene L. Lowry, selalu mengaitkan khotbah naratif dengan perumpamaan Yesus. Bahkan dia menulis satu buku khusus yang menjadikan perumpamaan Yesus sebagai design untuk khotbah naratif (How to Preach a Parable: Designs for Narrative Sermons).
Mengajar dengan menggunakan perumpamaan sesungguhnya bukan lah hal baru yang diciptakan oleh Yesus. Perumpamaan sudah menjadi bagian dari tradisi Ibrani. Yesus hanya menggunakan tradisi yang telah ada. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan terlebih dahulu tentang perumpamaan dalam Perjanjian Lama kemudian berangkat menuju ke Perjanjian Baru.
Perumpamaan dalam PB menggunakan kata parabole dan dalam PL kata tersebut setara dengan kata mashal. Hal ini dapat kita ketahui dari penerjemahan kata mashal di dalam Septuaginta menjadi parabole. Hampir semua kata mashal diterjemahkan menjadi parabole di dalam Septuaginta kecuali pengkhotbah 1:17.[9] Mashal memiliki tiga jenis:[10]
1. Merujuk pada kata-kata bijak (proverb) seperti 1 Sam 10:12; Yeh 12:22-23; 16:44, bisa juga merujuk pada pepatah (byword), sindiran (satire), celaan/ejekan (taunt), kata cemoohan (word of derision) seperti Yesaya 14:3-4; Habakuk 2:6; Bilangan 21:27-30; Ulangan 28:37; 1 Raj 9:7; 2 Taw 7:20 dan Maz 44:14, 69:11.
2. Merujuk pada teka-teki (riddles) seperti Maz 78:2, 49:4; Yeh 17:2, Ams 1:6.
3. Terakhir kata ini merujuk pada cerita parabel atau allegori seperti Yeh 24:2-5, 17:2-10, 20:49-21:5 dan Yes 5:1-7, 1 Raj 20:38-43, 2 Sam 14:1-11 dan yang paling terkenal adalah parabel Natan di dalam 2 Sam 12:1-4.
Dalam PB kata parabole merujuk kepada empat jenis:
1. Similitude yaitu cerita yang mengangkat pengalaman umum dari semua orang untuk dijadikan ibarat, contohnya perumpamaan domba yang hilang (Mat 18:12-14; Luk 15:3-7).[11]
2. Parabel yaitu suatu cerita khas yang diciptakan secara khusus untuk menjelaskan suatu hal atau untuk menjawab seorang lawan bicara, tidak mengangkat suatu pengalaman umum contohnya perumpamaan anak yang hilang (Luk 15:11-32).[12]
3. Allegori yaitu suatu bentuk cerita dalam berbahasa yang hendak menyampaikan suatu kebenaran melalui sejumlah gambar yang dirangkai menjadi suatu cerita, untuk menyatakan berbagai segi dari kebenaran itu sekaligus menyelubunginya bagi orang luar.[13] Jika parabel ditujukan kepada lawan maka allegori ditujukan bagi anggota. Parabel digunakan untuk mendamaikan pertentangan, allegori digunakan untuk menyampaikan pesan yang hanya dimengerti oleh pihak dalam.[14] Contohnya perumpamaan perjamuan kawin (Mat 22:1-14; Luk 14:15-24)
4. Exemplum/ilustrasi yaitu cerita yang menggunakan contoh, misalnya dalam Luk 18:9-14 orang Farisi dan pemungut cukai dijadikan contoh.
Dari keempat jenis ini kita mendapatkan bahwa perumpamaan Yesus lebih banyak porsi ceritanya (story) dibandingkan dengan perumpamaan yang digunakan dalam PL. Apabila dilihat dari ketiga jenis perumpamaan dalam PL maka Yesus lebih mengembangkan perumpamaan-Nya pada jenis ketiga dari mashal, yaitu cerita parabel atau allegori.
Karya: Nuryanto S.Si (Teol)

[1] Hasan Sutanto, Homiletik: Prinsip dan Metode Berkhotbah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 233
[2] Roger Standing, Finding the Plot: Preaching in Narrative Style (London, Paternoster, 2004) hal. 37 – 39.
[3] James Earl Massey, Designing the Sermon: Order and Movement in Preaching (Nashville: Abingdon, 1980), hal. 35-36.
[4] Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008) , hal. 91.
[5] Dari The Psalter: A Faithful and Inclusive Rendering from the Hebrew into Contemporary English Poetry, Intended Primarily for Communal Song and Recitation (Chicago: Liturgy Training Publications, 1995) seperti yang dikutip Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008), hal. 91.
[6] Ibid., hal. 91-92.
[7] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. x.
[8] Brian C. Stiller, Preaching Parables to Postmoderns (Minneapolis, Fortress Press, 2009), hal. 10.
[9] Robert H Stein, An Introduction to the Parable of Jesus (Philadelphia: The Westminster Press, 1981), hal. 16.
[10] Ibid., hal. 16 – 18.
[11] Liem Khiem Yang, Mendengarkan Perumpamaan Yesus: Suatu Pedoman (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hal. 26.
[12] Ibid.
[13]Ibid., hal. 39.
[14] Eta Linnemann, Parables of Jesus: Introduction and Exposition (London: SPCK, 1982), hal. 7.

Kepiting, Kura-kura, Kristus dan Kita (4K)

Pagi ini ketika saya bangun tidur, saya memeriksa binatang kesayangan saya. Apa itu? Kura-kura. Saya menaruh Kura-kura itu di sebuah stoples. Aneh ya, Kura-kura kok ditaruh di stoples, stoples kan seharusnya tempat untuk menyimpan kue? Yah begitulah saya, bagi saya “tak ada rotan akar pun boleh lah..” Stoples itu saya letakkan di atas meja yang cukup tinggi, sekitar 70-80 cm. Stoples itu tidak tertutup saya biarkan terbuka. Karena saya yakin, tidak mungkin Kura-kura itu bisa memanjat keluar dari stoples. Tapi ternyata? Melebihi apa yang tidak saya perkirakan.
Ketika saya ingin melihat Kura-kura itu, saya dibuat kaget, karena Kura-kura saya yang seharusnya ada dua ekor cuma ada satu ekor. Saya mencari-cari di dalam stoples dan di bawah karang. Oh iya, saya lupa memberi tahu bahwa di dalam stoples itu saya beri batu karang kecil. Yah begini lah gambarnya.
ini dia stoplesnya
Walaupun ada batu karang, saya yakin tidak mungkin Kura-kura itu bisa memanjat ke luar. Tapi kenyataannya sekarang Kura-kura itu tidak ada di dalam stoples atau pun di bawah karang. Lalu saya mulai memeriksa meja tempat stoples itu diletakkan. Seandainya pun kura-kura itu mampu memanjat stoples dia pasti masih ada di sekitar meja. Karena meja itu tingginya 70-80cm. Jadi tidak mungkin Kura-kura itu dapat pergi meninggalkan meja.
Tapi kenyataannya? Kura-kura itu tetap tidak bisa saya temukan di atas meja. Dengan terpaksa saya mulai mencari di bawah meja bahkan seluruh kamar mulai saya telusuri walaupun dalam pikiran saya, saya tidak yakin Kura-kura itu dapat pergi jauh.
Tapi kenyataannya? Kura-kura tersebut saya dapatkan jauh dari meja. Saya mulai berpikir, bagaimana caranya kura-kura itu bisa keluar dari stoples bahkan sampai sejauh itu? Saya pun mulai mengamati perilaku Kura-kura itu. Menakjubkan, saya belajar sesuatu yang bermakna dari sang Kura-kura tersebut.
Selama ini kita belajar bahwa apabila kita menaruh kepiting di dalam baskom yang terbuka tidak perlu khawatir kepiting tersebut kabur. Karena jika ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Begitulah sifat kepiting, rekan-rekan bisa baca kisah lebih lanjutnya di http://ukmbuddha.blogspot.com/2007/11/sifat-kepiting.html. Lalu bagaimana denga Kura-kura? Ternyata sifat kura-kura 180° berbeda dengan kepiting.
Perhatikan gambar di bawah ini:
Bersama merencanakan







Itu lah gambar yang saya dapat ketika mengamati kura-kura saya. 3 kali saya mengamati, 3 kali juga saya mendapatkan hasil yang sama. Kepiting apabila ada temannya yang ingin naik ke atas dia akan menariknya kembali ke bawah sedangkan kura-kura apabila ada temannya yang ingin naik ke atas. Dia akan membopongnya agar temannya tersebut dapat melewati stoples tersebut. Menakjubkan. Dari Kura-kura tersebut saya belajar bahwa hidup itu harus saling membantu dan menopang. Walaupun nantinya kita tidak mendapat apapun? Yah, belajar untuk membantu dengan tulus, tidak mengharapkan imbalan ataupun pahala. Menolong karena rasa cinta kasih, tidak ada yang lain.
Kura-kura saya yang satu, yang bertugas menopang kura-kura yang lainnya untuk keluar dari stoples, tidak dapat ke luar dari stoples sehingga dia tertinggal sendiri di stopless demi menyelamatkan rekannya. Bukankah demikian juga dengan Kristus? Dia tertinggal sendiri di salib hingga akhirnya Dia menyerukan ratapan sang pemazmur “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Tertinggal sendiri demi menyelamatkan kita.
Kura-kura tertinggal sendiri di stoples demi temannya. Kristus tertinggal sendiri di salib demi sahabat-Nya, yaitu kita. Lalu bagaimana dengan kita?
apakah kita lebih memilih untuk bersedih dan tidak bersedia apabila melihat orang lain berhasil, seperti kepiting? ataukah kita lebih memilih untuk bersedia berbahagia melihat orang lain berbahagia, seperti kura-kura?

Atau mungkin tanpa kita sadari, kita seperti kura-kura yang telah berhasil ke luar dari stoples atas bantuan temannya tersebut? setelah temannya bersusah payah menolongnya dia tidak ingat sama sekali dengan rekannya tersebut. dia justru asyik menikmati kebebasannya. mungkin begitulah kita, kita sering ketika orang lain berkorban untuk menolong kita, tidak ada ungkapan syukur yang lahir dari hati kita. ketika Kristus telah menyelamatkan kita, tidak ada bukti ungkapan syukur juga yang kita berikan kepada Kristus seperti cerita 9 orang kusta yang tidak kembali setelah menerima kesembuhan. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Luk 17:17-18.

Jadi, termasuk yang manakah kita?


SELAMAT MEMAKNAI HIDUP
Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

Einstein tidak Naik Kelas? Anda Salah

Albert Einstein merupakan salah satu penemu besar yang berhasil menemukan teori yang bernama Relativitas. Akan tetapi kita sering membicarakan tentang Albert Einstein yang sudah menjadi mitos dan kenyataannya tidak seperti itu. Ada 2 mitos yang terjadi:
1. Albert Einstein menerima nobel pada tahun 1921 bukan karena teori Relativitasnya, melainkan oleh teori Efek Fotoelektrik. Efek Fotoelektrik diketemukan karena adanya keanehan pada sifat cahaya. Tumbuhan dan sel-sel solar menggunakan Efek Fotoelektrik ketika mengubah cahaya menjadi listrik. Kenyataannya tiap tahun, tumbuhan mengubah 1.000 miliar ton karbondioksida menjadi 700 miliar ton oksigen dan bahan organik. Lalu bagaimana dengan teori Relativitasnya? pada tahun saat Albert Einstein menerima nobel, teori Relativitasnya masih kontroversial. Teori relativitasnya menggunakan rumus E = m.c2, yang di dalam bukunya yang berjudul, "Does the Inertia of a Body Depend on its Energy Content". Persamaan dari rumus di atas, diketahui bahwa E adalah energi, m adalah massa dan c adalah kecepatan cahaya. Apabila kita mengkonversikan sebuah massa seluruhnya menjadi energi, dari persamaan ini menunjukkan betapa banyaknya energi yang kita peroleh.
2. Einstein tidak pernah tinggal kelas dan bukan orang yang bodoh. Jika kita berpikir secara logika saja, bagaimanakah seorang yang bodoh dapat menemukan beberapa teori yang akhirnya berguna di masyarakat, kecuali jika orang itu memang jenius? Einstein dilahirkan pada tanggal 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman. dia bersekolah pada tahun 1886 pada usia 7 tahun. Pada usia 12 tahun, dia belajar kalkulus (merupakan mata pelajaran yang biasanya dipelajari oleh siswa yang berumur 15 tahun). Ia mendapat nilai yang baik untuk mata pelajaran sains. pada tahun 1895, ia mengikuti ujian masuk Federal Polytechnic School di Zurich. Ia berumur 2 tahun lebih muda dari para pendaftar lainnya. Ia dapat nilai menonjol pada mata pelajaran fisika dan matematika, namun gagal pada mata pelajaran lain, terutama pada mata pelajaran bahasa Perancis. Lalu dia mendaftar di sekolah lokal di Aargau, belajar dengan tekun untuk dapat masuk di Federal Polytechnic School tahun depan. Usahanya tidak sia-sia, tepatnya pada Oktober 1896, ia masuk di sekolah tersebut (pada saat usia 17 tahun, ia lebih muda dibandingkan siswa yang lain). Pada tahun itu juga, ia menuliskan esai yang mengarah pada penelitiannya nanti pada bidang relativitas. Lalu bagaimana mitos ini ada? jawabannya sangat sederhana. Pada tahun 1986, sistem penilaian sekolah saat itu diubah. Nilai "6" yang dulu paling rendah, menjadi paling tinggi. Nilai "1" yang dulu paling tinggi menjadi paling rendah. Nilai Einstein saat itu adalah 4,91. Jika kita mengkonversikan nilai 1-6 menjadi 1-10, maka nilai 4,91 menjadi 8,18. Bukankah nilai ini bagus? Jadi mitos ini sering dipakai oleh siswa yang malas, yang berkelit bahwa orang bodoh saja bisa sukses. Tidak ada satupun orang yang malas yang dapat sukses di dunia. Hanya ada orang yang ingin berusaha yang dapat sukses untuk meraih impian.



Sumber: Dr. Karl Kruszelnicki. Mitos-mitos Besar yang Keliru. Jakarta: BIP.

Sabtu, 22 Januari 2011

Mari Periksa Diri

tadi saya mengikuti tes kepribadian di sini http://www.ipersonic.com/id/
hasilnya:

Pemikir Analitis


Tipe Pemikir Analitis adalah orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Mereka suka menggali hingga ke dasar masalah – rasa ingin tahu adalah dorongan terbesar mereka. Mereka ingin tahu apa yang menyatukan dunia jauh di dalamnya. Mereka tidak butuh lebih banyak untuk kebahagiaan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Banyak ahli matematika, filsuf, dan ilmuwan merupakan tipe ini. Tipe Pemikir Analitis tidak suka kontradiksi dan ketidaklogisan; dengan kecerdasan mereka yang tajam, dengan cepat dan menyeluruh mereka menangkap pola, prinsip, dan struktur. Secara khusus mereka tertarik dengan sifat mendasar segala hal dan penemuan-penemuan teoritis; bagi mereka, tidak penting apakah mereka harus menerjemahkannya menjadi tindakan-tindakan praktis atau membagi pemikiran mereka kepada orang lain. Tipe Pemikir Analitis suka bekerja sendiri; kemampuan mereka untuk berkonsentrasi lebih menonjol dibanding tipe kepribadian yang lain. Mereka terbuka dan tertarik pada informasi baru.

Tipe Pemikir Analitis hanya memiliki sedikit ketertarikan pada masalah sehari-hari – mereka selalu agak seperti „profesor linglung“ yang rumah dan tempat kerjanya berantakan dan hanya mengkhawatirkan diri sendiri dengan hal-hal dasar seperti kebutuhan fisik ketika hal itu menjadi sangat tidak bisa dihindarkan. Pengakuan atas karya mereka oleh orang lain juga memegang peranan penting bagi mereka; secara umum, mereka cukup mandiri dalam hubungan sosial dan sangat mengandalkan diri sendiri. Oleh karena itu tipe Pemikir Analitis sering memberi kesan kepada orang lain bahwa mereka arogan atau congkak – terutama karena mereka tidak ragu untuk melontarkan isi kepala mereka dengan kritik mereka yang biasanya pedas (sekalipun beralasan) dan rasa percaya diri mereka yang tak tergoyahkan. Orang-orang di sekitarnya yang tidak kompeten tidak akan lolos dengan mudah dari mereka. Namun barangsiapa berhasil memenangkan rasa hormat dan ketertarikan mereka akan mendapatkan orang yang jenaka dan sangat cerdas untuk diajak berbincang. Pasangan yang membuat seseorang takjub dengan pengamatannya yang tajam dan selera humornya yang getir.

Butuh waktu sebelum tipe Pemikir Analitis bisa berteman, namun biasanya mereka akan berteman seumur hidup. Mereka hanya butuh sedikit orang di sekitar mereka. Kemampuan yang paling penting bagi mereka adalah kecocokan dan dengan demikian memberi mereka inspirasi. Kewajiban sosial yang terus-menerus dengan cepat membuat mereka jengkel; mereka butuh banyak waktu sendiri dan sering menarik diri dari orang lain. Pasangan mereka harus menghargai ini dan mengerti bahwa ini bukan karena kurangnya kasih sayang. Begitu mereka sudah memutuskan menyukai seseorang, tipe Pemikir Analitis adalah pasangan yang setia dan dapat diandalkan. Namun demikian, Anda jangan mengharapkan romansa dan ekspresi perasaan berlebih dari mereka dan mereka jelas akan lupa ulang tahun pernikahan mereka. Namun mereka selalu siap menyambut malam yang diisi dengan perbincangan menggairahkan dan segelas anggur lezat!

Lalu saya tes lagi di sini
http://www.arsip.info/tes/emosi.html
Hasilnya:

Emosionalitas Anda


HASIL TES KEPRIBADIAN
Sikap anda terhadap emosi anda itu sehat. Anda tidak merasa malu untuk melepas emosi sekali-kali, dan tidak ragu lagi bahwa anda merasa akan lebih sehat karena sikap ini. Anda layak untuk menjadi seorang penasihat cara bersosialisasi yang baik.


jika teman-teman ingin tes kepribadiannya dapat mengklik link yang telah saya tulis di atas tadi. selamat memeriksa diri

Kamis, 20 Januari 2011

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (secara Psikologis)

Fungsi Cerita di dalam Khotbah (secara Psikologis)

a. Sebuah Cerita menangkap perhatian kita dan menahannya.
Ketika seseorang mendengarkan suatu khotbah sebenarnya dia juga sedang bergumul dengan suara-suara lain di dalam pikirannya. Mungkin itu suara bisnis yang harus diselesaikan, suara kebencian dengan saudara/teman, suara kerinduan untuk bertemu dengan seseorang dan suara-suara lainnya. Oleh karena itu, agar umat dapat fokus terhadap suara sang pengkhotbah daripada suara-suara yang lain itu, maka seorang pengkhotbah harus dapat menarik attention umat.
Menurut penelitian, attention orang dewasa terhadap stimulus normalnya sekitar 5 sampai 25 detik.[1] Seorang pengkhotbah harus mampu memberikan stimulus-stimulus agar dapat terus mempertahankan attention umat dalam mendengarkan khotbah. Tucker mengatakan bahwa cerita memiliki attention value yang tinggi. Tucker mengutip kata-kata Henry Ward “he who would hold the ear of the people must either tell stories or paint pictures.”[2] Oleh karena itu, cerita dapat dikatakan metode yang efektif untuk memegang attention umat.
b. Cerita melekat di dalam memori
Tucker dalam bukunya bertanya kepada pembacanya “apakah yang kalian ingat dari khotbah yang terakhir kali kalian dengar? Pasti yang kalian ingat adalah sebuah cerita.”[3] Menarik sekali pertanyaan Tucker ini. Memang apabila kita perhatikan, apabila kita mendengarkan suatu khotbah dan di dalam khotbah tersebut ada sebuah ilustrasi pasti yang akan diingat oleh kita adalah ilustrasinya dari pada kesimpulan akhir dari sang pengkhotbah. Bahkan John Kilinger mengatakan bahwa “orang sering dapat mengingat sebuah khotbah bertahun-tahun kemudian berdasarkan ilustrasinya.”[4]
c. Cerita mempunyai kekuatan persuasive
Cerita memiliki kekuatan persuasif yang begitu besar. Dalam kisah nabi Natan dan raja Daud kita mendapatkan hal tersebut. Daud telah berbuat dosa dengan mengambil dan berbuat zinah dengan istri orang lain. Selain itu dia juga membunuh suami perempuan tersebut. Namun demikian, Daud tidak menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Oleh karena itu, nabi Natan datang untuk menegur Raja Daud. Nabi Natan tidak menegur Daud dengan teguran langsung melainkan dengan menyampaikan sebuah cerita. Dia menceritakan kepada raja tentang orang kaya yang mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin. Cerita tersebut menarik perhatian raja dan membuat raja marah “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.” Kemudian sang nabi menjawab, “Engkaulah orang itu!” Daud menyadari bahwa dia telah berbuat dosa, “Aku sudah berbuat dosa kepada Tuhan” (2 Sam 12: 1 – 13). Kita lihat bahwa sebuah cerita sederhana dapat mengaduk-aduk hati nurani seseorang.[5]
Bahkan ketika kita menonton sebuah film di TV, kita ikut terbawa dengan emosi dari para aktor dalam film tersebut. Ketika aktor ada yang bersedih kita ikut menangis, ketika marah kita pun ikut marah, ketika cemas kita ikut cemas. Mengapa begitu? Karena tanpa kita sadar ikut mengidentifikasikan diri kita dengan beberapa karakter dalam cerita tersebut. Karakter-karakter tersebut begitu nyata bagi kita karena kita ikut masuk ke dalam dunia mereka.[6] Oleh karena itu, Killinger mengingatkan bahwa seorang pengkhotbah harus berhati-hati untuk tidak menggunakan kekuatan dari cerita itu secara berlebihan untuk memanipulasi sebuah jemaat dan menyebabkan warga jemaat melakukan hal-hal yang mereka tidak biasa buat.[7]
d. Cerita mengklarifikasi kebenaran
Cerita memiliki kekuatan untuk menjelaskan kebenaran tanpa mendefinisikannya (explanation value). Ketika ada ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tentang siapakah “sesamaku manusia”, Yesus tidak memberikan definisi tentang siapa itu sesame manusia. Yesus justru menceritakan kisah orang Samaria yang murah hati. Yesus menceritakan cerita yang membuat pertanyaan tersebut menjadi jelas. Perumpamaan telah membuat kebenaran menjadi menarik dan mudah diingat, tetapi yang lebih utama, perumpamaan telah membuat maksud Yesus menjadi jelas.[8]
e. Cerita menambahkan nilas estetik kepada khotbah
Tucker mengatakan bahwa cerita dalam khotbah sama seperti seorang perempuan bijak menggunakan kosmetik. Make up tidak pernah membuat seorang perempuan jelek menjadi cantik, tetapi bisa menyoroti bahwa ada keindahan di sana. Tetapi Tucker mengatakan bahwa cerita dalam khotbah memang memberi keindahan, tapi jangan sampai khotbah menjadi hanya seperti hiburan (entertainment) dengan suara yang menyenangkan untuk didengar dan suara yang indah tetapi tidak ada kekuatan (power) di dalam proklamasinya. Seperti yang tertulis di dalam Yehezkiel 33: 31 – 32 “Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya…. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.” Oleh karena itu, hendaknya khotbah itu seperti khotbah Yesus yang menyampaikan kebenaran dalam metafora dan perumpamaan yang ekspresi keindahan dan pesan yang terkandung di dalamnya tidak tertandingi. [9]
f. Kita melihat diri kita sendiri dalam cerita
Di dalam cerita yang baik kita dapat melihat teman, musuh dan diri kita sendiri. Kita juga melihat masalah kita dan kemungkinan solusi-solusi pada karakter-karakter dan tindakan dalam cerita.[10]

Karya: Nuryanto, S.Si (Teol)


[1] Larry L. Barker, Listening Behavior (London: Prentice Hall, 1971), hal. 32.
[2] Austin B. Tucker, The Preacher as Storyteller: The Preacher as Storyteller: The Power of Narrative in the Pulpit (Nashville: Tennessee, 2008),hal. 11.
[3] Ibid, hal. 12.
[4] John Killinger, Dasar-dasar Khotbah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), hal. 127.
[5] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. 11.
[6] Ibid., hal. 15.
[7] Killinger, Dasar-dasar Khotbah, hal. 127.
[8] Tucker, The Preacher as Storyteller, hal. 16.
[9] Ibid., hal. 17 – 18.
[10] Ibid., hal. 18.

Sabtu, 08 Januari 2011

1 = 1000?

Satu hari di dihadapan Tuhan sama dengan berapa hari? Umat Kristen pada umumnya akan menjawab 1000 tahun. Loh..dari mana tuh rumus? Ada yang dengan lugas berkata  “dari Alkitab lah”. Apabila ditanya lebih lanjut, “di kitab mana?” mungkin ada yang bisa menjawab dengan cepat, ada juga yang tidak tahu. Yang tahu, biasanya akan mengutip "………..dihadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari" (2 Petrus 3:8b) atau “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” (Mzm 90:4).
Bahkan bukan cuma umat Kristen yang punya ayat satu hari sama dengan seribu tahun di hadapan Tuhan, umat muslim pun ada, yaitu  Surah As Sajdah 5
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya 
dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) 
adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.(QS. 32:5)
 Bahkan ada juga ayat dalam Al-Qur’an yang mengatakan satu
hari kadarnya sama dengan 50.000 tahun, yaitu
تعرج الملائكة والروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam 
sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Q.S. Al Ma'arij: 4)


Nah, jadi setujukah kamu bahwa satu hari sama dengan seribu tahun? Mungkin dari antara
kalian ada yang setuju tetapi saya tidak. Mengapa? Sabar...sebentar lagi saya akan
memberikan alasan mengapa saya tidak setuju. Alasan saya ini tidak harus menjadi
alasan mu juga. Kalian boleh berbeda pendapat dengan saya, karena itu kalian juga
harus memberikan saya ruang untuk berbeda pendapat dengan kalian.

Mari kita perhatikan kedua ayat tersebut yaitu 2 Petrus 3:8b dan Mzm 90:4. Lalu ayat-ayat
Al-Qur’an itu bagaimana? Waduh, maaf saya tidak mau mencampuri urusan
rumah tangga orang lain. Jadi saya hanya akan membahas rumah tangga saya saja.

Oke, mari saatnya kita perhatikan kedua ayat tersebut. Sebenarnya dua ayat itu dapat
dikatakan satu ayat karena 2 Petrus 3:8b mengutip dari Mzm 90:4. Peristiwa kutip mengutip
itu bukanlah hal aneh bagi para penulis kitab Perjanjian Baru mengingat mereka adalah
umat Yahudi, jadi pastilah mereka mengingat dengan baik kitab suci mereka
(yang kita sebut Perjanjian Lama) dan pasti juga mereka akan mengutipnya sama
seperti kita yang akan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk keperluan tertentu.
Oleh karena itu, kita akan memfokuskan pembicaraan kita pada Mzm 90:4.

Perlu kita ketahui bahwa Alkitab memiliki berbagai corak sastra yaitu hukum/peraturan,
sejarah, puisi/nyanyian, kata-kata hikmat/pepatah, apokaliptik dan corak-corak yang lainnya.
Setiap corak memiliki cara tersendiri dalam menafsirkannya, jadi tidak semua ayat di dalam
Alkitab dapat kita tafsirkan dengan cara yang sama. Mazmur termasuk dalam jenis
puisi/nyanyian. Mazmur biasa digunakan dalam ibadah dan doa. Kata-kata dalam Mazmur
semuanya bersifat puitis oleh karena itu cara menafsirkannya sama dengan kita menafsirkan puisi.
Perhatikan puisi karya Chairil Anwar berikut:

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO[1]

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di
atas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

Setelah membaca puisi tersebut, bagaimanakah kita menafsirkan kata-kata berikut
dipanggang di atas apimu, digarami lautmu” ? Apakah kita akan menafsirkan bahwa
si penyair benar-benar dipanggang di atas api atau digarami? Pasti tidak, bukan?
Lalu bagaimana kita menafsirkan “Aku sekarang api aku sekarang laut” ? Apakah kita
akan menafsirkan bahwa sang penyair telah menjadi api dan laut? Pasti juga tidak, bukan?
Lalu bagaimana kita menafsirkan “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin,
apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam
” (Mzm 90:4).
Seharusnya juga tidak, bukan?
Dalam puisi, kita akan menemui banyak sekali penggunaan majas/gaya bahasa.
Masih ingat macam-macam majas/gaya bahasa apa saja yang ada? Jika sudah lupa
dapat membaca di http://ketozia.blogspot.com/2011/01/macam-macam-majas-gaya-bahasa.html
Nah, menurut rekan-rekan Mazmur 90:4 menggunakan majas/gaya bahasa yang mana?

Untuk yang masih menganggap secara harfiah bahwa 1 hari = 1000 tahun, mari kita
perhatikan hal-hal berikut:
1.      1 hari yang teman-teman maksud itu 1 hari = 24 jam atau yang lainnya? Pasti dengan cepat kita akan menjawab “yah 24 jam lah...” Sekarang perhatikan kembali Mazmur tersebut, “...seperti suatu giliran jaga di waktu malam.” Orang Ibrani membagikan waktu malam hari dalam tiga jaga, yaitu: waktu jaga yang pertama, waktu tengah malam, dan diterangkan sebagai berikut: (1) dari matahari turun sampai pukul 22.00 (2) dari pukul 22.00 sampai pukul 2.00 dan (3) dari pukul 2.00 sampai matahari terbit. Jadi total waktu jaga adalah 12 jam sedangkan waktu giliran jaga adalah masin-masing giliran jaga empat jam. Jadi satu hari yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah 24 jam melainkan 4 jam. Untuk mereka yang suka menafsirkan kisah penciptaan sebagai 6 hari x 1000 tahun = 6000 tahun maka cara mereka menafsirkan tidak tepat karena 1 hari yang dimaksud bukan 24 jam melainkan 4 jam seperti yang telah dijelaskan. Lalu apa yang dimaksud oleh pemazmur dengan mengatakan “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam” ?
Apabila kita membaca Mazmur pasal 73-89 kita akan mendapatkan gambaran bahwa umat Israel sedang menghadapi krisis berat. Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan pada tahun 586 SM. Banyak orang, termasuk garis keturunan terakhir dari keluarga Daud, dibawa ke pembuangan. Mazmur 90 – 106 merupakan tanggapan terhadap krisis tersebut. Umat Israel diberikan kekuatan melalui Mazmur-mazmur tersebut. Khusus pasal 90, isinya merupakan permohanan Musa agar Tuhan segera turun tangan membantu mereka. Dengan gaya yang puitis, doa itu khususnya ayat 4 ingin mengatakan “Tuhan, jika Engkau mau masa penderitaan ini bisa saja cepat berlalu karena waktu manusia di hadapan-Mu begitu cepat untuk dilalui.” Kita juga dapat membaca kata-kata puitis lainnya dari sang penyair yang ingin mengatakan bahwa bagi Tuhan manusia itu begitu cepatnya berlalu dalam ayat-ayat berikutnya “Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.” “seperti mimpi” dan “seperti rumput” merupakan gambaran tentang keadaan yang cepat berlalu. Jadi dalam pasal tersebut sang penyair menggambarkan tentang keadaan manusia yang cepat berlalu dengan 3 perumpamaan yaitu 1 hari = 1000 tahun, seperti mimpi dan seperti rumput. Jadi sekali lagi 1 hari = 1000 tahun bukan sungguh-sungguh 1 hari (24 jam) = 1000 tahun.
2.      Tuhan tidaklah berwaktu dan ber-ruang. Apabila Tuhan berwaktu dan ber-ruang maka sama seperti manusia yang berwaktu dan ber-ruang maka Tuhan juga bisa mengantuk, menua dan terbatas. Apabila begitu maka Allah sama saja dengan manusia. Jadi ketika berbicara tentang ‘waktu Tuhan’ maka hal tersebut tidak dapat kita tafsirkan secara harfiah. Kita hanya dapat menafsirkannya sebagai suatu perumpamaan.
3.      Ada yang berusaha untuk menjelaskan rumus 1 hari = 1000 tahun ini dengan rumus relativitas, berikut penjelasannya:[2]
Diduga orang Mesir kuno sudah mengenal matematika. Musa hidup di tengah-tengah zaman Mesir kuno. Waktu itu orang Mesir sudah biasa buat piramida-piramida. Piramida adalah sebuah bentuk matematika.  Di zaman Yunani kuno, matematika dikembangkan a.l. oleh seorang yang bernama Euclidius. Dalam matematika Euclidius garis lurus dapat lurus tak terhingga. Waktu mempunyai arti yang "jelas" dan "mutlak". Ruang dan waktu mempunyai arti yang mutlak dan kaku. Waktu berjalan terus tanpa dapat diganggu oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Cara berpikir demikian diterima orang sampai akhir abad ke-19. Newton tidak menyangsikan ini dan dalam mekanika klasik yang dikembangkan New ton, ruang dan waktu mempunyai arti yang mutlak dan kaku. Sampai akhir abad ke-19 para ilmuwan apalagi kaum awam menerima teori-teori Newton sebagai mutlak benar. Peringatan David Hume pada umumnya diabaikan orang. Pada tahun 1905 Albert Einstein mengeluarkan teori relativitas yang menggegerkan dunia ilmu pengetahuan alam. Ruang dan waktu tidak lagi mempunyai arti yang kaku dan mutlak.
Waktu tidak lagi punya arti yang kaku. Waktu tergantung pada posisi si
pengamat waktu. Waktu untuk seorang pengamat yang ada dibumi lain dengan waktu bagi pengamat lain yang ada dipesawat ruang angkasa. Kalau kecepatan pesawat ruang angkasa rendah terhadap bumi, maka beda waktu itu tidak begitu terasa. Tetapi kalau kecepatan ruang angkasa itu mendekati kecepatan cahaya, maka perbedaan itu makin besar. Makin mendekati kecepatan ruang angkasa perbedaan itu makin besar. Jam dipesawat ruang angkasa berjalan lebih lambat. Kecepatan cahaya kira-kira 300.000 km/detik. Kalau kecepatan pesawat ruang angkasa mencapai kecepatan cahaya (seumpama dapat) maka waktu di pesawat ruang angkasa itu berhenti.
Einstein bukan orang yang pertama yang mengeluarkan ide mengenai relatifnya ruang dan waktu. Sebelumnya sudah ada ilmuwan lain, tetapi Einstein yang pertama menguraikannya secara mendetail dan mendalam disertai rumus--rumus matematika. Konsekwensi dari teori ini kalau benar adalah luar biasa besarnya. Kalau seorang astronot pergi naik pesawat ruang angkasa yang mencapai kecepatan 0.999 kali kecepatan cahaya maka
10 bulan bagi sang astronot sama dengan 18 tahun bagi manusia dibumi. Kalau waktu berangkat istri sang astronot baru melahirkan anak perempuan, maka setelah sang astronot pulang dari perjalanannya selama 10 bulan, ia dapati anak perempuannya telah menjadi gadis remaja umur 18 tahun.
Fantastis? Tidak masuk akal? Dapatkah Anda buktikan bahwa Einstein Salah? Memang percobaan-percobaan sampai sekarang belum ada yang membuktikan teorinya benar atau salah untuk jangka waktu 18 tahun dan kecepatan 0.999 c. Tetapi percobaan-percobaan dengan kecepatan lebih rendah dan beda waktu beberapa nanodetik mendukung teori Einstein.
Apakah teori Einstein ini dapat dibuktikan benar atau dapat dibuktikan salah, apakah teori Einstein dapat diverifikasi atau falsifikasi? Sebuah percobaan diambil pada tahun 1971. Dua orang akhli fisika dari Amerika Serikat J.C. Hafele dan Richard Keating membuat percobaan dengan jam atom Ceasium. Jam ini sangat teliti. Diambil 12 jam Caesium dan semua nya distel sama precies. Empat buah jam Caesium ditaruh dipangkalan US Naval Observatory di-Washington D.C. Empat buah jam ditaruh dipe sawat jet dan diarahkan ke-Barat. Empat jam lain ditaruh dipesawat jet lainnya dan diarahkan ke-Timur. Kedua jet itu diberangkatkan pada saat yang bersamaan dan mengitari bumi selama tiga hari tiga malam. Setelah sampai kembali kepangkalan semua jam diperiksa dengan teliti. Ternyata yang ke-Timur semua terlambat 59 nanodetik dan yang ke-Barat terlambat 237 nanodetik dibandingkan dengan yang ada dipangkalan. 1 nanodetik = ______1____ detik.
                                                                1.000.000.000
Yang menuju ke-Timur melawan perputaran bumi dan yang ke-Barat se arah dengan perputaran bumi. Perhitungan matematis menurut teori Ein stein selisihnya seharusnya 40 dan 275 nanodetik. Selisih inipun mungkin karena salah observasi atau ketidak teletian ke-12 Caesium tersebut.
Bandingkan kedua pernyataan berikut dari Alkitab dan dari perhitungan teori Einstein:
"………..dihadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari". II Petrus 3:8b.
Bila kecepatan kapal ruang angkasa v = 0,999 999 999 996 c maka satu hari bagi manusia diruang angkasa sama seperti seribu tahun bagi manu sia dibumi.
Fantastis? Tidak dapat dipercaya? Dapatkah Anda buktikan bahwa perhi tungan diatas salah? Dapatkah Anda falsifikasi perhitungan diatas?
Sekarang timbul pertanyaan darimana Musa dan Petrus bisa tahu relati vitas waktu? Einstein baru mengemukakannya pada tahun 1905. Petrus telah tahu kira-kira 1900 tahun sebelumnya dan Musa kira-kira 3500 tahun sebelumnya. Darimana mereka tahu? Hanya ada satu keterangan ialah Allah telah memberi wahyu kepada mereka.

Satu pertanyaan sederhana untuk membahas artikel tersebut. Pertama, dia membuktikan bahwa 1 hari di bumi sama dengan 1000 tahun di luar angkasa, lalu apa hubungannya dengan Tuhan, apakah dia memahami bahwa Tuhan itu tinggalnya di ruang angkasa? Wah, jika seperti itu maka dia menghitung secara modern tapi cara berpikirnya masih kuno. Mengapa saya sebut demikian? Karena pemikiran bahwa Tuhan tinggalnya di angkasa/di langit adalah pola pikir masyarakat kuno.  Masyarakat Pejanjian Lama mempunyai pola pikir bahwa ‘langit’ itu bagaikan mangkuk yang terletak di atas bumi dan gunung-gunung tinggi menahan langit seperti tiang-tiang (Ayb 26:11). Untuk penjelasan lebih jauh dapat mengunjungi http://ketozia.blogspot.com/2011/01/kamen-rider-dan-alkitab.html Dalam pengertian mereka juga gunung-gunung adalah tempat Allah dan para ilah bersemayam, dalam perjanjian lama kita akan menemui frasa “gunung Allah” yang menggambarkan bahwa Allah bersemayam di gunung itu (Kel 3:1; 4:27; 18:5; 24:13; 1 Raj 19:8 dan Mzm 36:6). Langit juga disamakan dengan surga oleh mereka. Kata םימשׁ “shamayim” ditermahkan sebagai langit dan juga surga. Takhta Allah ada di surga (Yes 66:1), dan para malaikat mengelilingi-Nya (1Raj 22:19). Jadi bagi umat Perjanjian Lama Allah tinggal di surga, yaitu yang sekarang kita bilang langit. Begitu pula dalam Perjanjian Baru.
Dunia dalam Perjanjian Baru dibagi dalam 3 lapis, yaitu dunia atas (tempat para dewa-dewi, surga), dunia tengah (tempat manusia) dan dunia bawah (iblis, neraka). Bahkan untuk dunia para dewa-dewi hingga manusia ada piramidanya.

Allah yang Esa
Allah yang agung
Allah-allah lokal, daimonia
Demigods,immortals, heroes
Manusia
Jadi, baik masyarakat pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memahami bahwa Allah ada di langit/angkasa. Bagaimana dengan masa kini? Jelas Allah tidak dapat kita temui baik di langit maupun di angkasa. Sekali lagi, Allah itu tidak ber-ruang dan berwaktu, sedangkan langit dan ruang angkasa itu ber-ruang dan berwaktu.

Jadi, menurut kalian setelah membaca penjelasan ini, apakah 1 hari masih = 1000 tahun?

karya: Nuryanto, S.Si (Teol)

MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)


                                  MACAM-MACAM MAJAS (GAYA BAHASA)

1.    Klimaks
Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
2.   Antiklimaks
Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
3.   Paralelisme
Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
4.   Antitesis
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya.
Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
5.   Epizeuksis
Adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
6.   Tautotes
Ada;aj repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi.
Contoh : kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
7.   Anafora
Adalah repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap garis.
Contoh : Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
8.      Epistrofora
Adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir kalimat berurutan Contoh : Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
9.   Simploke
Adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut.
Contoh : Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku. Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
10.  Mesodiplosis
Adalah repetisi di tengah-tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.
Contoh : Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
11.  Epanalepsis
Adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama.
Contoh : Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
12.  Anadiplosis
Adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa berikutnya.
Contoh : Dalam baju ada aku, dalam aku ada hati. Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

13.  Aliterasi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
14.  Asonansi
Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama.
Contoh : Ini luka penuh luka siapa yang punya  
15.  Anastrof atau Inversi
Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan.
Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
16.  Apofasis atau Preterisio
Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
17.  Apostrof
Adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir.
Contoh : Hai kamu semua yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air bercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kau perjuangkan
18. Asindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan.
Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
19.  Polisindeton
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut dengan menggunakan kata penghubung.
Contoh : Kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang merontokkan bulu-bulunya?
20. Kiasmus
Adalah gaya bahasa  yang terdiri dari dua bagian, yang bersifat berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa dan klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Contoh : Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.
21.  Elipsis
Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca.
Contoh : Risalah derita yang menimpa ini.


22. Eufimisme
Adalah gaya bahasa  penghalus untuk menjaga kesopanan atau menghindari timbulnya kesan yang tidak menyenangkan.
Contoh : Anak ibu lamban menerima pelajaran
23. Litotes
Adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri
Contoh : Mampirlah ke gubukku!
24. Histeron Proteron
adalah gaya bahasa yang merupakan kebailikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh : Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasir putihnya
25. Pleonasme
Adalah gaya bahasa yang memberikan keterangan dengan kata-kata yang maknanya sudah tercakup dalam kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Darah merah membasahi baju dan tubuhnya
26. Tautologi
Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului.
Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
27. Parifrasis
Adalah gaya bahasa yang menggantikan sebuah kata dengan frase atau serangkaian kata yang sama artinya.
Contoh : Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu
28. Prolepsis atau Antisipasi
Adalah gaya bahasa dimana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi.
Contoh : Keua orang tua itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
29. Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban.
Contoh : inikah yang kau namai bekerja?
30. Silepsis dan Zeugma
Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama.
Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
31.  Koreksio atau Epanortosis
Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
32. Hiperbola
Adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
Contoh : Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
33. Paradoks
Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda.
Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
34. Oksimoron
adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
35. Asosiasi atau Simile
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya.
Contoh : Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam
36. Metafora
Adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang mempunyai sifat sama.
Contoh : Jantung hatinya hilang tiada berita
37. Alegori
adalah gaya bahasa yang membandingkan kehidupan manusia dengan alam.
Contoh : Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman.
38. Parabel
Adalah gaya bahasa parabel yang terkandung dalam seluruh karangan dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus ditimba di dalamnya.
Contoh : Cerita Ramayana melukiskan maksud bahwa yang benar tetap benar
39. Personifikasi
Adalah gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup.
Contoh : Hujan itu menari-nari di atas genting
40. Alusi
Adalah gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa.
Contoh : Pkartini kecil itu turut memperjuangkan haknya
41.  Eponim
Adalah gaya dimana seseorang namanya begitu sering dihubungakan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan suatu sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Contoh : Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.
42. Epitet
Adalah gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Contoh : Lonceng pagi untuk ayam jantan.
43. Sinekdoke
-          Pars Pro Tato
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagianhal untuk menyatakan keseluruhan. Contoh : Saya belum melihat batang hidungnya
-          Totem Pro Parte
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan seluruh hal untuk menyatakan sebagian. Contoh : Thailand memboyong piala kemerdekaan setelah menggulung PSSi Harimau

44. Metonimia
Adalah gaya bahasa yang menggunakan nama ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah
45. Antonomasia
Adalah gaya bahasa yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
46. Hipalase
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : ia masih menuntut almarhum maskawin dari Kiki puterinya (maksudnya menuntut maskawin dari almarhum)
47. Ironi
Adalah gaya bahasa sindiran berupa pernyataan yang berlainan dengan yang dimaksudkan. Contoh : Manis sekali kopi ini, gula mahal ya?
48. Sinisme
adalah gaya bahasa sindiran yang lebih kasar dari ironi atau sindiran tajam
Contoh : Harum bener baumu pagi ini
49. Sarkasme
Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan.
Contoh : Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
50.  Satire
Adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.
Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
51.  Inuendo
Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
52. Antifrasis
Adalah gaya bahsa ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna sebaliknya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Contoh : Engkau memang orang yang mulia dan terhormat
53. Pun atau Paronomasia
Adalah kiasan dengan menggunakan kemiripan bunyi.
Contoh : Tanggal satu gigi saya tinggal satu
54. Simbolik
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang.
Contoh : Keduanya hanya cinta monyet.
55. Tropen
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan dengan kata atau istilah lain terhadap pekerjaan yang dilakukan seseorang.
Contoh : Untuk menghilangkan keruwetan pikirannya, ia menyelam diri di antara botol minuman.
56. Alusio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan pribahasa atau ungkapan.
Contoh : Apakah peristiwa Turang Jaya itu akan terulang lagi?

57. Interupsi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat.
Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
58. Eksklmasio
Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi.
Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
59. Enumerasio
Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
60. Kontradiksio Interminis
Adalah gaya bahasa yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang telah dikemukakan sebelumnya.
Contoh : semuanya telah diundang, kecuali Sinta.
61.  Anakronisme
Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu.
Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
62. Okupasi
Adalah gaya bahasa yang menyatakan bantahan atau keberatan terhadap sesuatu yang oleh orang banyak dianggap benar.
Contoh : Minuman keras dapat merusak dapat merusak jaringan sistem syaraf, tetapi banyak anak yang mengkonsumsinya.
63. Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar