Kamis, 02 September 2010

Prajnatara XIA SMAK 6

“Dengan berakhirnya pidato ini, saya ucapkan selamat memasuki jenjang SMA, semoga kalian bisa menikmati semasa sekolah disini.” Tutur Sang Kepala Sekolah, menyudahi pidatonya yang sangat panjang dan membosankan itu. Setelah diiringi tepuk tangan yang setengah hati, murid-murid pun segera membubarkan diri, menuju kelasnya masing-masing.
Fanya memasuki kelasnya. Karena datang terlambat, ia hanya mendapatkan bangku yang tersisa di belakang kelas. Saat menaruh tasnya diatas meja, ia menoleh dan mendapati teman sebangkunya anak baru.
“Aduh !!! Anak baru lagi.. Gaswat ni.. kalo anaknya gx asyik, bisa mati kutu gw setahun kedepan” Keluhnya dalam hati, menggomentari tentang teman sebangkunya. Tuh anak baru, seolah mendengar jeritan hati Fanya, menoleh kesamping dan mendapati Fanya sedang melihat padanya. Alih-alih mengucapkan salam, anak baru itu malah berkata..
“Apa lo liad-liad??” Kata anak baru itu dengan tampang acuh tak acuh.
“E….E… gapapa kok…” Fanya pun duduk dengan kikuk, tidak siap akan perlakuan seperti itu, lalu ia memandang kesekeliling ruangan, berharap ada bangku kosong yang tersisa. Sayangnya, semua bangku sudah penuh terisi.
“Oh, Great !! What a wonderful day !” ucapnya dalam hari, pasrah duduk di bangkunya. Tak lama kemudian bel masukpun berbunyi, dan wali kelas mereka pun memulai ceramah part2, tentang peraturan dan tata kelas dengan semangat 45!(Merdeka!)
Ketika penjelasan sang wali kelas terasa sangat membosankan untuk dilihat, Fanya mengalihkan pandangannya menyelusuri seisi ruangan yang belum sempat diamatinya tadi karena bel sudah berbunyi. “Hmm, banyak murid yang udah gw kenal, beberapa anak baru duduk di pojok depan, mendengarkan dengan sangat serius. Heran, apa menariknya tau tuh ceramah.” Komentarnya sekali-kali. Pada akhirnya tatapannya berlabuh kearah anak baru yang tampaknya sedang asyik menulis sesuatu, lengannya menutupi apa yang ditulisnya. Dengan rasa penasaran, akhirnya Fanya mencuri lirik pada anak baru itu, membaca apa yang sedang di tulisnya.

Apakah arti seorang sahabat?
Benarkan ia seseorang yang senantiasa dekat?
Ataupun yang selalu lekat?
Siapakah yang bisa memberikan jawaban yang tepat?

Jika kau merasa..
Yang berjalan disebelahmu sahabat setia..
Pernahkah kalian jalani masa sulit bersama?
Ketika semua keyakinanmu dan keyakinannya dicoba?

Fanya terlonjak kaget dikursinya, ia merasa sudah membaca sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui, yah begitulah resiko mencontek, walau yang ia contek bukan ulangan. Sekilas, ia juga melihat sebulir air mata jatuh terjun bebas membasahi kertas yang sedang ditulis oleh anak baru tersebut, seolah mengesahkan segala yang baru ditulisnya. Sesudah itu, anak baru itu menghela nafas berat dan menjatuhkan kepalanya keatas meja. Fanya lalu melihat kedepan kelas, pak wali kelas yang tak terperhatikan tetap saja berceramah, tak peduli walaupun hanya segelintir murid yang mendengarkannya.
“Kasihan banget sih tuh anak. Gw gx tau masalah apa yang dia punya, mungkin pernah dihianati ama sobat nya kali, yang pasti dia kliatan tertekan gitu. Pastilah, gimana si lo,Fan… dia tuh anak baru, ga ada teman yang ngajak ngobrol, asing..” Pikir fanya dalam hati. Lalu ia merobek secarik kertas, melipatnya dan menyelipkannya di lengan anak baru itu.
Anak baru itu terbangun, melihat ada kertas terselip di lengannya, dan menegok kearah Fanya yang sedang tersenyum grogi, berusaha meyakinkan niat baiknya. Dibukanya kertas itu, tampaknya kedua alisnya naik ketika membaca pesan kecil yang tertera. Menulis sesuatu dan mengembalikkan kertas itu ke Fanya, lalu ia tertidur lagi di mejanya. Ketika Fanya membuka kertas itu.. tertulis :

Hei.. Penjelasan tuh guru ngebosenin banged ya.. Btw, gw blum sempet kenalan nih ama lo, namanya siapa??
Urus aja urusan lo sendiri..

“Ikhh !!! Sombong amid !!!! Lagaknya kaya anak presiden aja… !!” Kata Fanya dalam hati, Keki. Mukanya cemberut dan bibirnya bimoli ( bibir monyong lima senti ).
Di ambilnya kertas itu, diremas-remas dan di timpuknya ke anak baru itu tepat di kepalanya. Anak baru itu langsung bangun dan melihat buntelan kertas yang baru saja mengusiknya, dan ia menatap pada Fanya seolah tau pasti Fanya yang baru saja menimpuknya. Diambilnya kertas itu dan ditimpuk balik Fanya.
Selama beberapa saat, mereka asyik menimpuk satu sama lain. Sampai teman-teman didekat mereka menyadari bahwa mereka berdua tak memerhatikan pak wali kelas, tak mau ketinggalan semuanya jadi ikut bergabung maen timpuk-timpukan kertas. Awalnya hanya kelas bagian belakang, sehingga pak wali kelas tidak mengetahui, lama-lama merembet sampai seisi kelas. Pak wali kelas sampai ternganga kaget melihat kelasnya di invasi oleh murid muridnya sendiri, lalu ia pun kembali mengambil alih kekuasaanya, dan lanjut menjelaskan.
Sekilas dari sudut matanya, Fanya bisa melihat anak itu tersenyum samar.
“Walaupun tampank menakutkan dan tak bersahabat, somehow gw merasa lo tuh sebenernya bae tapi kesepian..” kata fanya dalam hati..

Keesokan harinya…
Dalam perjalanannya menuju sekolah, Fanya melihat siluet dari anak baru itu sedang berjalan di kejauhan.
“Tuh anak jalannya… Bused daaa !! Pelan banged !!! Emank sekarang jem berapa sih???” Lalu Fanya pun melirik ke jam tangannya.
“ASTAGAA !! uda jem segini??!!! Kalo ga lari rasanya gw juga bakal telat !”
Maka Fanya segera berlari membalap anak itu dan sebelum ia melewati lawan lari sprint paginya, ia menyenggol dan memasang muka jail seolah meledek dia yang akan memenangkan sprintnya. Anak baru itu tampak kaget sejenak, Lalu sedetik kemudian ekspresinya berubah dan langsung berlari mengejar Fanya seperti orang yang sedang dikejar anjing.
“Tungguu oooiiiiiiiii!!!” Teriaknya marah
“Weeekk ~ Siapa yang mau nunggu??” Fanya membalikan mukanya dan menjulurkan lidah sembari berlari.
Diledek seperti itu, anak baru itu tampak tambah panas, ia berlari seperti kereta api tenang batu bara yang semakin panas, semakin cepat pula larinya. Sampai sampai Fanya harus berlari dengan ekstra effort agar tak terkejar olehnya. Ga lucu dong, uda ngeledek ga taunya kalah??
Mereka sampai disekolah tepat waktu. Berbanjir peluh dan dengan nafas yang memburu. Fanya melihat ke samping, “Tampaknya dia uda ga marah lagi. Energi buat marah nya abis kali dipake buat lari..” Pikirnya. “Wah bagus juga kalo gitu, tiap kali dia marah ato BT, gw ajak lari aja. Sehat lagi.. hehehe..”
“Joanna” Kata anak baru itu memotong pembicaraan searah Fanya dengan dirinya sendiri.
“Apa???”
“Joanna… Perlu gw eja?”
“Oh.. hai.. gw panggil lo anna aja ya?? Nama gw Fanya.” Fanya menyodorkan tangannya, mengajak salaman. Tapi Anna hanya berlalu, mengacuhkan pertemanan yang ditawarkannya.
“Ikhhh!!! Maonya apa sih ni anak..” Batin fanya keki. Lalu ia mengejar Anna yang sudah meninggalkannya kekelas terlebih dahulu. Dan bel pun akhirnya berbunyi.
Sepanjang hari Fanya sudah mencoba untuk bicara dengan Anna, namun, anak itu selalu bersikap acuh tak acuh. Setiap kali bel istirahat bebunyi, dia pasti segera melesat pergi entah kemana sebelum Fanya menyadari teman sebangkunya sudah hilang. Lagilupa, Fanya juga sibuk mengumpulkan berita untuk siaran radio sekolahnya yang sudah mulai aktif siaran walau baru awal tahun ajaran baru.
Sampai di sebuah kesempatan, Ketua klubnya yang super rajin itu tidak masuk dan tiada kabar. Sehingga ketika Fanya masuk ke ruangan siaran pagi harinya, ruangan itu kosong dan ia hanya menemukan secarik kertas di atas meja, tertera “ Diliburkan”.
Jadi ketika bel istirahat berbunyi, Fanya sudah mempersiapkan diri untuk mendekati teman sebangkunya yang belum ia kenal baik itu. Begitu bel yang ditunggu tunggu berbunyi, Fanya mengikuti Anna berjalan keluar, tetapi ditengah jalan ia kehilangan jejaknya.
“Wah, cepet banget tuh anak jalannya. Yaudahlah, gw keatap aja de. Tempat favorit gw pas waktu senggang, merasakan semilir angin dan merasa dekat dengan awan”
Fanya membuka pintu menuju atap terlalu keras, sehingga pintu itu terbanting kesisi lain dan mengeluarkan bunyi “BRAKK!!” keras sekali. Yang tak disangka oleh Fanya adalah, ia bisa melihat Joanna sedang duduk disana, menatap kearah kejauhan, menagis dalam diam. Melihat kedatangan orang yang tak disangkanya, Joanna segera menghapus air matanya dan berbalik membelakangi Fanya. Ditunggunya sedetik, dua detik, “lho kuk ga ada bunyi apa apa?” Tanya Joanna dalam hari, ia pun berbalik dan melihat, emang ga ada siapa siapa disana. “Bagus de, dia meninggalkan gw sendiri disini.” Batin Joanna.
“Apa gw ga sala liad tadi??” Batin Fanya, sembil menepuk nepuk kepalanya, memastikan kejadian tadi bukanlah mimpi. Ketika ia menuruni tangga menuju kelasnya, ia melihat mesin menjual minuman. Fanya berhenti sebentar, berpikir, lalu membelinya dan berbelik arah.
Sementara Joanna kembali asyik dengan pikirannya sendiri, ia tak mengetahui kehadiran Fanya sampai Fanya menepelkan minuman dingin yang barusan di belinya ke pipi Joanna.
“Adaaawww ~ !! Dinggin !!!” Teriak Joanna, terlonjak kaget oleh sensasi dingin yang menyengat pipinya. Lalu ia menegok kesamping dan mendapati Fanya hanya tersenyum. “Kali ini bukan senyum iseng sepertinya”. Batin Joanna. Fanya langsung mengambil posisi duduk di sebelah Joanna, yang kelihatannya sedikit terusik namun tak bisa berkata apa apa, secara ini kan tempat umum. Tak ada pembicaraan apapun yang mengalir diantara mereka selama beberapa saat. Suasana terasa amat sangat canggung, sebelum pada akhirnya Fanya memutuskan untuk angkat bicara.
“Lihat de.. awan itu bentuknya seperti gajah”. Tunjuk Fanya
“Menurut gw malah kaya babi ahh!”. Balas Joanna acuh tak acuh
“Jelas jelas ada belalainya gitu, masa di bilang babi?” protes Fanya lagi
“Anggep aja itu daging lebihnya si babi, karena ga ada tempat lain jadi numpuknya disitu.” Alasan yang aneh..
“Alesan macam apa tuhh.. ahahhahaa…” Tapi, sedetik kemudian Fanya menyadari Joanna tidak ikut tertawa, melainkan memandangnya dengan tatapan yang … entah apa maksudnya.
“Hei.. kenapa lo ngeliad gw gitu?”
“Oh.. gapapa..” Ia langsung membalikan wajahnya
“Hei… lo tau? Kita kayaknya punya kesamaan.. gw seneng banged keatap, walaupun semenjak ikud klub gw jadi jarang kesini. Seolah hanya ini tempat satu satunya disekolah yang memberikan kedamaian, inspirasi dan ga terganggu oleh kegaduhan orang orang”
“Well, dibangian yang ga terganggu orang orang, gw setuju ama lo”
“Kenapa begitu?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa lo merasa mereka semua seolah mengganggu lo?”
Joanna tidak menjawab. Ia segera bangkit dan berkata..
“Lo tau? Bel uda bunyi. Kita harus cepet balik kekelas.. Btw, thx minumannnya”
Setelah selesai berkata, ia langsung lari kearah pintu. Sebelum ia menutup pintunya, Fanya berteriak..
“Anna….. Bisakah…. Bisakah kita temenan?” Tanya Fanya dengan penuh harap
“Umm….. tentu…” Balasnya, tersenyum sedikit canggung, namun Fanya tau ada kesungguhan yang terpancar dari matanya.
Hubungan mereka semenjak itu berangsur angsur semakin baik. Hari hari di sekolah tidak lagi terasa memberatkan apalagi membosankan. Ketika Fanya sedang ada diruangan siaran, Joanna pasti sedang menungguinya disana. Sampai sampai para naggota klub siaran lain berkata bahwa mereka lebih mesra daripada pasangan pengantin baru. Dan, disaat waktu luang mereka pasti keatap sekolah, mercerita serta berbagi canda dan tawa.
Tetapi, entah bagaimana, Fanya selalu merasa ada yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Ketika membahas sesuatu yang sedikit personal, biasanya Joanna akan berkelit. Sejujurnya sih Fanya penasaran, tapi dia tak mau dianggap sebagai tukang paksa. Hari ini, sedari pagi ia belum melihat Anna, tanpa berita pula.. Perasaan khawatir segera memenuhi seluruh pikirannya hari itu. Setelah berhari hari tanpa kabar, ia merasa curiga. Sepertinya Joanna menyembunyikan sesuatu darinya.
Fanya pergi ke ruang guru untuk menanyakan alamat Joanna, ia berencana menjenguk keadaan sahabatnya pulang sekolah nanti. Setelah ia sampai di depan rumahnya Joanna. Fanya hanya bisa menguatkan hatinya, karena ia hampir pingsan melihat rumah yang berdiri di hadapannya. Dengan memberanikan diri ia pun memencet bel dan akhirnya di persilahkan masuk, langsung diantar kekamar Joanna, yang buseeddd… Gede banget !!!!
“Halo” sapa Joanna dengan suara serak , tampaknya ia terkena Flu.
“Waww… Rumahmu…. Super..” Fanya sampai binggung kemana ia akan mengkatagorikan rumah ini, karena tampaknya kata “besar” tak sanggup mewakilinya.
“Oh.. thx”
“Kenapa lo ga ngabarin kalo lo sakid?”
“Mungkin karena gw gx mau lo khawatir?” Tetapi tampaknya ada sesuatu dibalik perkataanya.
“Ah, menurut gw itu bukan alesan”. Fanya teringat sesuatu karena hal itu.
“Btw, gw mau nanya sesuatu..”
“Apa?”
“Janji lo harus jawab.”
“Ok” Katanya setuju, walau alisnya bertaut membentuk jembatan karena bingung.
“Apakah baik selalu menyembunyikan sesuatu dari sahabat?” Tembak Fanya langsung. Ia sangat kecewa,selalu ada saja yang disembunyikan Joanna darinya, dan mengapa ketika ia berusaha medekatkan diri kepada Joanna, ia selalu menjaga jarak padanya? Ia merasa seolah olah tak dibutuhkan, tak dipercaya. Walaupun dalam hati ia tau tak sepantasnya ia berbuat begini, tapi kali ini emosinya yang menang. Ia tak bisa mengkontrolnya, seperti menurutnya sekaranglah saat yang tepat untuk mendapatkan sebuah jawaban.
Joanna tampak terkejut begitu mendengar pertanyan seperti itu, tetapi sedetik kemudian ekspresinya berubah, semudah menggunakan topeng.
“Gw merasa ga menyembunyikan apapun yang perlu lo ketahuin sekarang.”
“Oh.. jadi gitu. Baik..” Fanya berbalik dan merasakan air matanya yang terbendung sudah hamper melesat turun membasahi wajahnya. Kata kata Joanna barusan seolah menjelaskan bahwa ia tak dianggap sahabat oleh orang yang dianggapnya sahabatnya. Dan begitu ia melihat Joanna medekatinya seolah akan menjelaskan sesuatu, Fanya menahannya.
“Ga usah deketin gw!!!! Gw baru tau sekarang.. Ternyata Cuma gw yang merasa kita tuh bersahabat, sekarang, kata kata lo barusan menyadarkan gw dari angan gw yang keliru selama ini.. thx !!!” lalu Fanya pun melesat pergi dari sana, meniggalkan Joanna yang terduduk lemas di tempatnya.
“Ni tempat terkutuk dimana tau ujungnya. Dari tadi gw slalu terjebak di ruangan yang buntu..” Maki Fanya keki karena tidak bisa menemukan jalan keluar, setelah berputar putar beberapa menit, barulah ia menemukan pintu gerbang tempat ia masuk tadi.
Sementara itu, Joanna termenung dikamarnya. Ia tak menyangka Fanya akan sebegitu salah sangka pada perkataanya. Padahal bukan berarti ia tidak boleh mengetahui yang ia sembunyikan, cuma saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengetahuinya.
“Daripada gw hanya berdiam diri disini, lebih baik gw mengejar Fanya dan membawanya kesana, walaupun berarti gw menggagalkan rencana gw sendiri, tapi gw gx bisa diem aja ngeliat persahabatan gw di ujung tanduk gara gara kesalahpahaman konyol kaya gini..” Batin Joanna, dan ia pun segera berlari menyusul Fanya, ia tau fanya pasti belum jauh dari sana.
Saat Joanna sampai di pintu gerbangnya, ia melihat kekiri dan kekanan, bingung, “Fanya perginya kekiri ato ke kanan ni?” pikirnya. Kemudian ia melihat jepitan rambut berbentuk awan yang ia buat saat mengujungi pameran seni clay, yang ia berikan pada Fanya, teronggok di pinggir jalan sebelah kanan. Dan ia pun tau kemana harus melangkah. Ia berlari dan berlari, sampai ia melihat Fanya di ujung jalan hendak menyebrang, Fanya terlihat kacau sekali, berjalan seperti zombie, tak menyadari sekitarnya karena ia hanya berjalan menatap tanah.
Joanna berhenti sejenak untuk mengambil nafas ketika ia berdiri hanya beberapa meter saja dari Fanya. Lalu Joanna mengadah keatas, melihat lampu lalu lintas untuk pejalan kaki ternyata menyala warna merah. Ternyata Fanya tak menyadari lampu baru saja berubah dari hijau ke merah ketika ia menyebrang.
Semua terjadi begitu cepat. Sepersekian detik setelah Joanna menyadari Fanya sedang menyebrang ketika ia seharusnya tidak menyebrang, bunyi klakson sebuah truk yang akan melintas terdengar memekakan telinga, tapi tampaknya Fanya tidak mendengarnya.
“Oh tidak!!! Truk itu akan menghantamnya !!” Teriak Joanna dalam hati
“Fanyaaa!! Awasss !!!” teriakan Joanna menggema di telinganya, Fanya pun segera tersadar dari lamunannya. Ia sedang berada di tengah jalan dan berhadapan dengan truk yang akan segera menabraknya sebentar lagi. Ia hanya sempat menutup mata dan merasakan dirinya telah mencium aspal. Tapi, rasa sakitnya tidak sesakit yang ia bayangkan. Perlahan ia pun membuka kedua matanya, lalu melihat sahabatnya berbaring tak berdaya di jalan, di kepalanya ada luka dan darahnya masih mengalir deras.
“Heii !!! Jangan mati !! Kenapa….??? Kenapa lo lakuin ini..???” Jerit Fanya histeris. Suaranya bergetar karena terisak isak, ia mengguncang guncangkan tubuh Joanna yang tak bergerak. Hanya senyum sekilas Joanna yang terlihat, seolah olah mengatakan “Semuanya akan baik baik saja” sebelum ia tak sadarkan diri.
Joanna pun segera dilarikan kerumah sakit dan masuk ruang UGD. Siapapun dilarang untuk berkunjung, sehingga kepala pelayan Joanna menyarankan Fanya untuk pulang.
“Kau tak perlu khawatir, kita semua akan tetap menjaganya disini.”
“Bagaimana bisa ga khawatir???!! Ini semua gara gara gw !!!!”
“Sttt….. Ini rumah sakit. Kita dilarang brisik karena akan mengganggu pasien lain. Sebaiknya kamu pulang dan menenangkan diri. Itu bukan salah kamu sepenuhnya. Supir truknya yang mengebut karena ia melihat lampu berwarna hijau.” Hibur kepala pelayan itu.
“Baiklah, tolong kabari saya kalau Joanna sudah bangun” Fanya akhirnya mengalah. Ia mendekati pintu yang memisahkannya dengan sahabatnya, sebelah tanggannya menyentuh pintu itu perlahan. Berbisik “Gw tau lo kuat,Anna. Lo harus uda bangun begitu gw kesini lagi. Kita masi belum melakukan hal hal yang menyenangkan bareng. So, lo blom bole pergi. Coz gw blum siap ngucapin selamat tinggal ke lo…...
See you later,sis.” , ia mengelap air matanya, dan berbalik pulang.
Keesokan harinya, fanya datang kesekolah dengan kaki yang sangat berat, seperti ada rantai besi yang menahannya. Belum lagi tatapan iba ataupun penasaran yang ia jumpai dari para murid maupun para guru. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Sepanjang pelajaranpun ia tak bisa berkonsentrasi, karena ia selalu teringat akan Joanna.
Ketika bel istirahat berbunyi, Fanya memutuskan untuk pergi keatap, tempat dimana ia bisa menenangkan diri di sekolah. Sejujurnya ia sedikit berharap, ketika ia membuka pintu atap sekolah, ia bisa melihat Joanna disana, menunggu kehadiarannya dan menyambutnya dengan senyum 300 watt seperti biasanya. Namun kini ia tau.. semua itu tak mungkin terjadi.
Dibukanya pintu itu, “Berat banget.. kaya besinya uda berkarat dan engselnya uda lama ga dikasi oli.” Ucap Fanya saat akan membuka pintu. Ketika pintu dibuka, tampaklah langit biru membentang di atasnya, menyambut kehadirannya. Fanya pun melangkahkan kaki untuk masuk dan ketika hendak menutup pintunya, Ia menyadari dinding disebelah pintu itu tak sama seperti dinding yang kusam yang ada dalam ingatannya. Dinding itu bergambar banyak awan dengan background biru langit, seperti dinding dinding itu adalah perpanjangan dari langit diatasnya. Bedanya langit yang diatas tak terjangkau, sedangkan langit yang ini bahkan bisa disentuh.
Fanya hanya bisa menutup mulutnya yang ternganga kaget.. Disana ada gambar awan yang mereka perdebatkan para saat pertama kali berjumpa diatap, awan yang seperti gajah, yang kata Joanna mirip babi. Lalu juga ada gambar dirinya yang bernyanyi riang sedangkan Joanna sendiri berjoget dengan menabuhkan tamborin. Bahkan jepitan rambut yang berbentuk awan itu pun bertengger manis dikepalanya. Fanya merasa sangat bersalah karena telah membuang benda tak bersalah itu semata mata kemarahannya karena merasa tak dianggap, yang kini terbukti, dugaannya salah. Fanya lalu melihat kearah bawah gambar, disana tertera tanggal pembuatannya, yaitu hari pertama dimana Joanna tidak masuk sekolah tanpa kabar.
“Jadi dia ga masuk karena ini?? Lalu terkena flu gara gara gambar di atap kelamaan??” Bisik Fanya tak percaya.. Dia segera berlari menuruni anak tangga, melesat kearah gerbang sekolah tanpa mengambil dahulu tasnya yang tertinggal dikelas, menuju rumah sakit tempat Joanna dirawat yang letaknya beberapa distrik dari sekolah itu.
Sesampainya dirumah sakit, ternyata Joanna sudah sadar.. Dari pintu yang dibiarkan terbuka ,ia kelihatan sedang duduk di ranjangnya sembari menonton televisi. Dan kepalanya diperban besar sekali, menyerupai topi orang afrika. Tanpa babibu lagi, Fanya segera melesat masuk dan memeluk Joanna.
“Adawww !! sakit !!”
“Oopss ,sorry gw lupa.. gw seneng lo uda sadar, gw takut banged… gw pikir.. gw pikir…” Ucap Fanya sembari menahan air matanya, tapi terlambat, sala satu air matanya sudah meluncur terlebih dahulu..
“Sttt…. Kok mala nangis?? Cengeng ahh!!” Gurau Joanna, menghapus air mata itu.
“Hei… gw uda ngeliat yang lo sembunyiin… yang menurut lo gw gx perlu tau waktu itu..”
“Ahh!! Itu kan surprise… gw uda usaha setengah mati nyembunyiinnya buat hadiah ultah lo yang uda tinggal 2 hari lagi… sia sia banged de, padahal gw uda membayangkan reaksi lo pas gw tunjukin maha karya gw…” Ujar Joanna kecewa
“Bagi gw, gw gx perlu kado apapun, lo ada aja, uda jadi kado buat gw.” Setelah menyelesaikan kalimatnya, tampaknya Fanya ingin memeluk sahabatnya lagi..
“Eittt!!!! Tahan dulu acara peluk memeluknya sampe gw sembuh ya neng. Sakit ni!!” ucap Joanna yang disambut ketawa mereka berdua.
“Sejujurnya waktu itu gw takut banged ! gw pikir gw bakal mati sebelum menunjukan maha karya gw yang indah itu..” aku Joanna.
“Lo sih nekat!! Laen kali… gw gx mau ada kejadian kaya gini lagi.”
“Ya iyalah, tanpa lo ingetin juga, siapa sih yang mau di tabrak truk 2x? Btw, gw heroine juga yah. Gw sendiri gx menyangka bakal jadi kaya gitu, sayang lo gx bawa kamera, kan bisa di abadikan saat saat terkeren gw pas nyelamatin lo dari truk. Kaya di film film gitu.” Kata Joanna sambil tertawa.
“Kalo gx inged lo lagi sakit gw timpuk lo!! Gx tau apa gw cemas setengah mampus??? Untung supir bus nya uda sempet ngerem walaupun belum ngerem sempurna, kalo ga, uda jadi perkedel lo, tau ga??!!” Sahut Fanya keki. Orang lagi serius, ni orang mala ngajak becanda.
“Tapi gw udah memutuskan, gx penting apa sebenernya lo dulu, yang lo gx perna mau certain ke gw, yang penting adalah sekarang, kita bisa maen bareng lagi.. yah setelah lo sembuh sih, sorry gw perna curiga ke lo, trus… gambar lo keren banget.. apalagi ya….??” Fanya bingung akan menyampaikan apalagi… Padahal ia sudah menyiapkan banyak kata yang akan di utarakan kepada sahabatnya ini.. sementara ia sibuk berpikir, Joanna malah…
“Hahahahahahhaa…” Ketawanya meledak karena sudah tak sanggup di bendungnya lagi. Fanya bingung, menatap Joanna yang ketawa gila gilaan dengan tatapan yang mungkin berarti, “Apa yang lucu dengan pengakuanku?”
“Sante aja kali sis.. Coz banyak hal yang bakal kita jalanin nantinya. Tanpa gw harus cape cape jelasin juga lo bakal tau kalo gw sebenarnya,…………..” Kalimatnya menggantung sampai disana, digantikan oleh senyum isengnya yang bisa membuat siapapun yg melihat bergidik ngeri. Satu sisi yang baru dilihat Fanya tentang sobatnya.
Dengan kecepatan cahaya, tuh anak satu mengambil saos yang terletak diatas meja disamping ranjangnya dan menyemprotkannya ke Fanya… Fanya yang kaget tidak bisa mengelak ketika saus tomat itu mendarat dikausnya. Lalu, tuh anak iseng juga memencet bel panggilan ke pelayannya gila gilaan, seolah ada kejadian gawat. Alhasil ketika pintu dibuka, pelayan yang melihat kaus Fanya bernoda merah sudah histeris duluan. Melihatnya Joanna hanya tertawa tawa…
“DASARRR ISENK !!!!!!!!!!!!!!!!” Jerit Fanya. Yang berakhir di omelin oleh suster, karena suaranya seperti iklan eskrim alias mengguncang dunia…

Dan itulah akhir dari cerita….




Created by : Prajnatara XI-a /27

0 komentar:

Posting Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar