Minggu, 05 September 2010

NOVIA SALIM

My #1 : Money or Friendship?
Hujan turun dengan derasnya. Petir pun menyambar-nyambar. Aku menggigil kedinginan, namun entah kenapa tidak se-sentipun aku beranjak dari teras untuk masuk ke dalam rumah. Kesepian .. Menyesal .. Hanya itu yang bisa aku rasakan sekarang. Ingatanku pun membawaku kembali ke satu tahun yang lalu. Dapat kuingat dengan jelas gelak tawanya, seakan dia berada di sampingku saat itu. Air mataku pun kembali mengalir. Cristabel ..

1 tahun yang lalu ..
“Haha .. Hari gini masih jaman belanja ke pasar yen?”
Terdengar gelak tawa beberapa anak muda pada sabtu malam di tengah cafe yang cukup ramai itu.
“Yaah, gue kan gak kaya seperti lo vid, jadi harus hemat nihh” jawabku dengan tampang segan meladeni ucapan David tersebut.
“Haha udah udah kasihan tuh si bryan, mukanya udah ditekuk gitu” timpal seorang gadis cantik, Cristabel.
Memang , di antara para sahabat-sahabatku itu Cristabel lah yang paling baik dan perhatian. Kami sudah saling mengenal satu sama lain, karena kami sudah temanan sejak kecil. “Guys!” seru Izzy tiba-tiba setelah melihat pukul berapa saat itu. “Pulang yuk! Udah malem nih, besok kan gue mesti kerja!”
“Oke oke yuk” jawab David sambil memberikan beberapa lembar 100-ribuan kepada pelayan. Malam itu kulalui dengan penuh canda tawa bersama dengan sahabat-sahabatku. Begitu juga dengan malam-malam selanjutnya. Namun dua bulan kemudian, semua itu berubah ketika ayahku meninggal akibat serangan jantung ..
”Nak, sekarang kamu lah yang akan menggantikan ayahmu sebagai tulang punggung keluarga ini, namun ibu tidak akan menaruh semua beban itu di pundakmu, berdoalah semoga ibu bisa mendapatkan pekerjaan” ujar ibuku terbata-bata suatu hari. Hatiku perih mendengarnya, karena aku tahu bahwa ibuku tidak bisa bekerja,karena penyakit rematik yang dideritanya. Oleh karena itu, aku melamar pekerjaan sebagai pegawai kantor di sebuah perusahaan swasta dan segera diterima karena aku adalah sarjana ekonomi.
Hari-hari berlalu dengan cepat, aku semakin giat bekerja untuk menghidupi keluargaku. Bahkan jika lembur hanya menghasilkan beberapa ribu rupiah akan kulakukan. Namun apa yang menjadi akibatnya, aku menjadi jarang berkumpul dengan sahabat-sahabatku.
“Kring kring” ponselku berbunyi.
“Ada apa Cris telpon jem kerja gini? Sibuk nih gue.” jawabku secara cepat dengan jari masih menari di atas keyboard komputerku.
“Bryan! Kemana aja lu! Udah jarang kumpul-kumpul bareng kita lagi nih!” jawab Cris dengan suara penuh semangat.
“Aduh sorry Cris gue lagi sibuk banget nih sekarang, tapi nanti begitu kerjaan gue selesai gue pasti ikut lu orang lagi deh!” jawabku.
“Okedeh! Kita semua kangen nih sama lu yen! Kabarin ya kalo lu uda gak ad kerjaan! Bye yen!
“Bye!” jawabku singkat sambil segera menutup telpon.

“Oke Pak. Terimakasih atas kerjasamanya.” jawabku kepada penelpon di sebrang sana. Ya, setelah bekerja dengan giat selama beberapa bulan ini, akhirnya aku diangkat menjadi manager di perusahaan swasta yang cukup terkenal tersebut. Dan tidak hanya itu, aku juga diberikan sebuah rumah dan mobil baru. Sekarang, setiap detik sangat berharga bagiku. Lewat satu detik, lenyaplah uang yang seharusnya bisa aku dapatkan. Pikiranku, tubuhku dan jiwaku hanya kufokuskan kepada uang uang dan uang. “Tidak ada uang, tidak bisa hidup”. Itulah prinsipku sekarang.
“Bryan, mana janji lu sama Cris?Katanya mau ikut ngumpul bareng kita lagi! Bosen nih gue ga ada lu! Dateng dong kapan kapan yen!” kata Izzy pada suatu hari di telpon.
Namun aku tidak terlalu memperdulikannya pada waktu itu. Hari ini ia kembali menelponku sambil terisak.
“Halo.. Yen? Ini Izzy. Gue..gue..”
“Ha? Kenapa lo zy? Ayo ayo tenang dulu”
“Gue barusan putus sama Denny yen. Dia putusin gue demi cewe lain yen! Benci gue yen ama dia!!” seru Izzy di telpon sambil menangis.
Otakku berputar. Denny? Mmmh. Ah! Aku ingat. Dia adalah pacar Izzy.
Ketika Izzy masih bercerita di telpon, kulihat jam tanganku. “Ya ampun! Meeting ku! Telat = Gaji turun! Noo! ” teriakku di dalam hati. Kulihat sekretaris bosku sudah menyuruhku untuk masuk, yang berarti rapat akan segera dimulai. Lalu dengan cepat aku berkata “Izzy, sorry banget, gue harus meeting nih! Sorry gue tutup ya!”
“Yen!! Lu jahat banget sih!! Di saat lu butuh gue,gue selalu di samping lu, sekarang, gue cuma butuh lu dengerin cerita gue doang yen. Lu ga ada waktu?? Lu kenapa sih yen? Mata lu udah dibutain duit ya?? Sampe temen lu sendiri pun lu ga peduliin!” semprot Izzy kepadaku.
“Bukan gitu Zy, tp sorry gue bener bener ga .. bisa. Bos gue .. Sorry Zy”
“Yen yen! Tunggu dulu, si Cris ..”
Klik.
Kututup telpon itu dan berlari menuju ruang meeting. Entah. Entah apa yang sudah kulakukan.

Blackberry baruku memantulkan sinar matahari yang menembus ke dalam CR-V ku. Baru saja aku membalas e-mail yang dikirim oleh David kemarin malam. Ia mengundangku ke pesta yang akan diadakannya malam ini. Setelah kutanya kepada sekretarisku, ternyata malam ini aku tidak memiliki jadwal. Jadi aku memutuskan untuk datang ke pesta itu.
Begitu sampai di kantor, kulihat bos ku sedang berdiri di depan meja kerjaku. Begitu aku mendekat ia mengajakku untuk mengikutinya masuk ke dalam kantornya.
“Ehem.Bryan.” suara bos ku yang berat itu membuat jantungku seakan ingin berhenti berdetak.
“Selamat! Kamu dipercaya pleh presiden direktur kita untuk mengerjakan sebuah proyek besar. Oleh karena itu, kamu akan pergi ke Jepang selama satu minggu untuk melihat langsung proyek itu.”
Deg. Rasanya jantungku benaran berhenti. Dipercaya presdir? Jepang?
Seumur hidupku baru pertama kali rasanya aku sesenang ini. Dipercaya langsung oleh presdir untuk menangani proyek besar. Ditambah lagi dengan perjalanan ke Jepang! Wooohooo! Dan yang pastinya, dengan diberikannya tanggung jawab yang besar ini kepadaku, uang pasti akan lebih cepat mengalir ke sakuku.
“Ah. Ma..Makasih Pak. Saya tidak akan mengecewakan bapak.”
“Ya. Saya percaya kamu, Bryan. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini. Pulanglah dan bereskan barang-barangmu. Kamu akan berangkat malam ini juga.” perintah bosku.
“Baik Pak. Sekali lagi terimakasih.”
Aku berjalan keluar dari kantornya masih dengan kaki yang gemetar. Sulit untuk mempercayai apa yang barusan terjadi. Kemudian aku bergegas pulang ke rumah dan segera merapikan barang-barang bawaanku untuk pergi nanti malam. Ah ya, pesta David. Sudahlah, David juga pasti akan mengadakan pesta lagi lain waktu. Yang penting sekarang, puluhan juta sudah di tanganku.
Malamnya..
“Thanks ya udah dateng” ujar David kepada salah satu tamunya yang kemudian memeluk Cristabel.
Ternyata, pesta pada malam itu diadakan untuk menyambut pulangnya Cristabel dari rumah sakit.
“David! Yang bener aja nih! Mana si Bryan? Kata lu dia mau dateng!” ucap Izzy dengan nada yang agak tinggi.
“Gue juga gak tau Zy, tadi pagi dia bilang dia bisa dateng kok. Tapi daritadi gue hubungi hp nya ga bisa Zy.” jawab David.
“Bryan sih bener-bener loh. Waktu itu gue sempet telpon dia mau cerita dan kasih tau kalau Cris sakit, eh malah diputus sama dia. Ckck”
“Dia sekarang udah beda, Zy.Dan kalau sekarang dia sampai gak dateng juga sih keterlaluan” David pun mulai kehilangan kesabaran.
“Yaudahlah guys, mungkin bentar lagi dia dateng. Sabar aja ya” ucap Cristabel dengan lembut.

Setelah pesta usai ..
“Bryan memang keterlaluan!” ucap David dengan geram.
“Kalau dia memang gak mau dateng, bilang aja! Kenapa mesti kasih harapan kosong segala sih?”
“Vid, gue rasa dia udah gak peduli lagi sama kita. Entah kemana Bryan sahabat kita dulu..” jawab Izzy dengan sedih.
“Beneran Zy, kecewa gue sama dia”
Percakapan antara David dan Izzy masih berlanjut, namun Cristabel diam-diam terisak di ujung kamarnya. Ia menguatkan diri untuk sembuh supaya ia bisa bertemu lagi dengan Bryan. Namun ternyata apa yang ia harapkan selama ini adalah sebuah harapan kosong.

Minggu berikutnya..
“Halo.Ya, Pak, rapat disana berjalan dengan lancar. Perusahaan itu mau bekerjasama dengan kita,dengan kontrak sebesar yang Bapak minta.” ujarku kepada bosku.
“Oke pak. Saya akan segera menuju ke kantor sekarang juga untuk laporan selengkapnya.”
Saat ini aku baru saja turun dari pesawat. Yaampun! Pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Proyek ini berjalan dengan lancar pula. PresDir pasti akan bangga padaku.
“Pak. Ini minum dulu. Sejak pagi tadi bapak belum makan dan minum apapun” ujar sekretarisku sambil menyodorkan sebotol air mineral.
Ketika aku ingin mengambilnya, entah mengapa, tiba-tiba rasanya kepalaku pening dan seluruh tubuhku berat. Dalam sekejap, bisa kurasakan tubuhku terbaring di lantai airport.
“Pak! Pak! Sadar Pak! Sesorang tolong panggil ambulance!” bisa kudengar sayup-sayup teriakan sekretarisku, namun setelah itu, tidak ada lagi yang dapat kuingat.

“Bryan?” kudengar sesorang memanggil namaku.
Kubuka mataku sedikit demi sedikit. Yang dapat kulihat hanyalah warna putih. Namun lama kelamaan dapat kulihat wajah ibuku.
“Dimana aku, Bu?” tanyaku
“Di rumah sakit, Nak. Kata dokter, kamu terkena penyakit tifus.” jawab ibuku.
Memang, selama beberapa hari di Jepang, yang kupikirkan hanyalah pekerjaanku, sehingga makan dan tidur ku pun kurang.
Lalu, bagaimana dengan pekerjaanku?Aku belum memberikan laporan perjalananku.Hatiku kacau, seakan ingin berteriak.
“Nak, lebih baik kamu istirahat dahulu, kamu pasti masih lelah sekali” saran ibuku.
Ya, lebih baik aku istirahat dulu. Kupejamkan mataku. Dan aku pun langsung tertidur kembali.

Hari ketiga aku dirawat di rumah sakit, belum ada satu orangpun yang berkunjung. Hanya sekretarisku yang mampir memberikan sekeranjang buah untukku. Dimanakah para temanku? Apakah mereka sudah lupa padaku? Ketika pikiranku masih berkecamuk, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Masuk” teriakku.
“Hai Bryan” sapa Cristabel dengan tersenyum.
“Hai, Cris. Dimana David? Izzy?” tanyaku sambil melihat ke belakangnya.
“Mereka..mereka sedang sibuk yen” jawabnya terbata-bata.
“Oh.Oke.Makasih Cris udah jenguk gue hari ini..Blablabla..” Aku bercerita kenapa aku bisa terbaring di rumahsakit ini, pekerjaanku, dll. Namun kali ini Cristabel hanya tersenyum dan mengangguk, padahal biasanya ia cerewet. Namun mungkin,itu hanya perasaanku saja. Tak lama kemudian, Cristabel pun berpamitan kepadaku. Senang rasanya dikunjungi oleh Cris.

Setelah satu minggu aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang,namun aku masih tidak diperbolehkan untuk bekerja.Oleh karena itu, dengan berat hati aku meminta ijin untuk cuti selama satu minggu. Ketika itu juga, aku berpikiran untuk bertemu dengan Cristabel. Segera aku mengemudikan mobil menuju rumahnya.
Ketika aku sampai di rumahnya, kuketuk gerbang rumahnya. Lalu keluarlah ibu Cristabel dengan mimik sangat sedih.
“Siang, Tante. Cristabelnya ada?” tanyaku dengan polosnya.
“Cris.. Cristabel..” dalam sekejap ibu Cristabel sudah mulai menangis.
Tentu saja aku kaget . Hatiku gusar saat itu juga. “Ada apa, tante? Tanyaku lagi. Namun, ia hanya menangis dan menangis. Tak sabar, aku segera mengemudikan mobil ke rumah Izzy.
Sesampainya di rumah Izzy, aku langsung lari menuju kamarnya. Kulihat ia sedang menangis juga.
“Zy, ada apa dengan Cris? Jawab Zy!” pintaku sambil mengguncangkan tubuh Izzy.
“Dia.. Udah meninggal..Yen” suara dan tangis Izzy sekarang sudah menjadi satu.
“A.. apa? Jangan bercanda lo Zy” rasanya seluruh badanku lemas.
“Lo keterlaluan yen! Gue pernah mau kasih tau lu kalo Cris sakit kanker, tapi lu selalu cuekin gue dan mereka! Dia bahkan tungguin lu di saat pesta waktu itu sampe larut, tapi lu ga dateng-dateng. Dan lagi dia masih mau jenguk lo waktu lo sakit yen!! Sekarang! Apa yen? Apa yang bisa lu lakuin ke dia? Dia udah engga ada!” teriak Izzy.
Air mataku sudah tidak terbendung lagi. Jangan pergi, Cris, jangan tinggalin gue..! Hatiku menjerit tercekik. Gue belom sempet beliin lo apapun,belom sempet ngebahagiain lo! Maafin gue, selama ini gue emang terlalu buta untuk melihat sahabat sejati di depan mata! Lo masih mau jenguk gue,padahal gue udah nyakitin, nyuekin lo.
Ledakan penyesalan kurasakan saat itu. Ya Tuhan, ijinkan aku mengulang waktu..

Kini, setelah mendapatkan semua harta benda yang kuinginkan, aku tetaplah manusia paling miskin di dunia. Aku tidak memiliki sahabat untuk menjadi tempat berbagi masalahku,kesedihanku,kebahagiaanku,dan tempat dimana aku mendapatkan kenyamanan dan perlindungan. Sekarang aku baru sadar,apa yang kukejar selama ini sia-sia.Sia-sia tanpa ada nya kehadiran cinta dari para sahabat di sekelilingku.

“Yen? Kamu ngapain hujan-hujan gini di luar? Masuk gih” kudengar suara ibuku dari dalam rumah. “Ya,Bu.” jawabku sambil segera menghapus air mataku yang sudah membanjir.
Kulangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, meninggalkan apa yang sudah di belakangku dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar