Minggu, 05 September 2010

NATASIA ANGEL XIA SMAK 6

Kepada Bapak Daoed Joesoef
Oleh Natasia Angel/ XI-IPA

Kepada Yth.
Bapak Daoed Joesoef
Di Tempat
Salam kepada Bapak Daoed Joesoef. Saya berharap umur panjang dan kesehatan serta berkat dari Tuhan senantiasa menyertai Bapak.
Bapak pastinya tidak mengenal saya karena saya hanyalah seorang siswi SMA biasa dan saya sebetulnya tidak terlalu mengenal Bapak karena saya belum dilahirkan ketika Bapak menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Ah, tetapi tenang saja Pak, saya juga tidak terlalu mengenal Menteri Pendidikan Nasional yang sekarang.
Saya menuliskan surat ini dengan alasan bahwa saya sangat terenyuh dan terkagum ketika saya membaca artikel mengenai Bapak di Koran Kompas, tepatnya di bagian “Nama dan Peristiwa”. Saya tercengang ketika saya membaca bahwa Bapak dengan tegas menolak Bakrie Award beserta sejumlah uang yang diberikan oleh Bakrie Group. Saat itu juga, Bapak menjadi salah satu pahlawan bagi diri saya.
Mengapa Bapak langsung saya angkat sebagai pahlawan saya? Bapak pasti mengetahui bahwa sekarang ini jarang sekali ada manusia yang seperti Bapak. Bapak bisa menolak hadiah itu karena hadiah tersebut merupakan sesuatu yang seharusnya meringankan penderitaan saudara kita yang rumahnya terendam lumpur di Jawa Timur sana. Menurut saya, uang tersebut sama saja dengan “uang haram”.
Bapak bagaikan udara sejuk di tengah masyarakat yang senantiasa mengutamakan uang, kedudukan, dan kepentingan diri sendiri. Manusia sekarang memang egois. Saya bukanlah menghakimi orang lain karena saya, sebagai manusia, tentunya tidak terlepas juga dari keegoisan. Tetapi saya mau belajar. Belajar dalam arti yang sesungguhnya, sebagai calon penerus bangsa. Belajar seperti dalam perkembangan manusia, di mana manusia tersebut menjadi lebih baik seturut dengan bertambahnya usia.
Sungguh, Pak, saya cinta dengan bangsa Indonesia, tanah air Indonesia. Bangsa ini memiliki begitu banyak kekayaan yang menjadi incaran negara lain. Hal tersebut tentunya dapat dibuktikan dengan begitu banyaknya bangsa yang datang ke Indonesia dan (sayangnya) menjajah tanah air kita ini. Namun, sekarang pun setelah merdeka, bangsa Indonesia seakan-akan masih berada di bawah penjajah, tetap saja mengandalkan bangsa yang lebih maju dan unggul. Bangsa Indonesia seakan-akan terbelenggu oleh apa yang disebut sebagai kebodohan dan keterbelakangan. Lalu, ke manakah bangsa yang dikatakan sebagai bangsa yang memiliki local genius tersebut? Saya pun tak tahu.
Yang saya tahu hanyalah, bahwa para petinggi kita pun asyik dengan dirinya sendiri, sibuk menggemukkan dompet mereka sendiri. Tak peduli pada mereka yang berada di bawah mereka, yang untuk makan setiap harinya saja harus membanting tulang dalam cuaca yang panas dan berdebu (terutama di Jakarta).
Terus terang, saya menjadi pesimis terhadap masa depan Indonesia karena pemerintah sekarang ini tidak dapat diandalkan . Bukannya saya anti-pemerintah, tetapi kita semua sebagai rakyat, tentunya menginginkan yang terbaik dari pemerintah. Dan sejak saya mulai memperhatikan politik di Indonesia beberapa tahun yang lalu, saya merasa bahwa itu bukanlah hal terbaik yang dapat pemerintah berikan kepada kita.
Pak, izinkan saya bertanya. Bagaimanakah rasanya menjadi seorang menteri? Maklum Pak, saya hanyalah seorang siswi SMA, yang masih lugu, egois, dan tidak berpengalaman. Pernah beberapa kali saya membayangkan saya menjadi presiden bangsa Indonesia, yang berjasa banyak bagi bangsa ini. Tetapi, jujur saja, impian itu benar-benar sebuah mimpi. Saya langsung menyadari bahwa menjadi seorang presiden bukanlah suatu hal yang mudah dan saya yakin, menjadi seorang menteri pun sama sulitnya. Mengurus sebuah bangsa yang besar bukanlah hal yang mudah.
Menurut Bapak, berapa lama lagikah Indonesia akan bertahan? Saya merasa bahwa bangsa ini, meskipun sudah merdeka selama enam puluh lima tahun, seakan-akan berada di ambang kehancuran. Dibandingkan dengan Malaysia, bangsa Indonesia merdeka lebih dahulu. Tetapi mengapa mereka sudah maju dan rasanya jauh sekali di depan, sedangkan bangsa kita ini masih saja terseok-seok untuk bertahan? Mereka memiliki sistem yang teratur dan disinggahi banyak sekali ekspatriat, sedangkan kita seakan-akan hidup di dalam sebuah chaos dan bersama dengan masyarakat yang masa bodoh? Lalu, mengapakah bangsa Indonesia kalah dengan Singapura, yang luas wilayahnya saja tidak sebesar Pulau Jawa, bahkan Jakarta (kalau tidak salah)? Mengapa oh mengapa…
Saya juga ingin menanyakan kepada Bapak bagaimana rasanya terjun ke dalam kancah politik di Indonesia. Maklum sekali lagi maklum Pak, rasa ingin tahu saya begitu besar. Meskipun saya sering mengaku bahwa saya tidak ingin terjun ke dalam kancah tersebut karena terlalu kotor, tetap saja saya merasakan sebuah perasaan yang terus-menerus mendesak saya untuk memperbaiki sistem negara ini dan membantu mereka yang kesulitan.
Saya ingin sekali membuat perubahan di sekitar saya. Hanya saja, masalahnya, di Indonesia, uang dan kedudukan serta kepopuleran adalah tiga hal wajib yang dimiliki oleh seseorang yang ingin mengubah negeri ini. Ya, maklum saja Pak. Yang masuk televisi bukanlah orang-orang yang setiap harinya mau melayani sesamanya. Misal: kalau saya membersihkan semua jalan di Jakarta, belum tentu saya tidak akan masuk ke dalam berita hari ini. Tetapi, kasus Ariel Peterpan-Luna Maya-Cut Tari yang merupakan aib moral negeri ini (yang bahkan tersebar sampai ke luar negeri) justru masuk ke dalam infotainment, bahkan sampai berbulan-bulan. Haruskah saya memaklumi penduduk negeri ini dan menyerah saja?
Jawabannya tentu saja tidak. Saya tidak akan menyerah. Hanya saja, satu hal yang saya sesali adalah bahwa sebagian besar masyarakat kita ini buta.
Saya tidak sedang berpromosi mengenai global warming, tetapi saya percaya bahwa bumi ini dan manusia memiliki keterikatan. Manusia berteriak panas, tetapi tetap saja illegal logging berlangsung di suatu tempat di Indonesia dan hutan lindung, yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah, dijadikan kawasan industri atau kebun kelapa sawit. Yang lebih ironis adalah cerita dari guru saya yang adalah seorang bule ini.
Ia bercerita bahwa ketika ia sedang berjalan-jalan di Jakarta pada waktu itu, ia melihat seorang anak perempuan yang mengenakan kaus yang bertuliskan “Go Green Jakarta”, yang justru membuang sampah sembarangan di jalanan. Mungkin ada beberapa budaya yang memang mengakar kuat di dalam bangsa ini dan salah satunya adalah “tak memiliki maka tak sayang”. Inilah salah satu yang sangat sulit diberantas.
Pak, saya ingin tahu akan suatu hal (lagi). Bagaimanakah perilaku bangsa Indonesia di masa lalu, ketika Bapak masih muda, ketika Bapak menjabat sebagai menteri? Hidup pada zaman sekarang rasanya sulit sekali, apalagi untuk memiliki integritas dalam kehidupan sehari-hari.
Saya terkadang sedih melihat keadaan Indonesia saat ini. Saya melihat bahwa semakin ke depan, pendidikan yang paling mendasar di Indonesia justru hilang entah ke mana. Generasi pada zaman saya dan adik saya diajarkan untuk memiliki kedudukan yang tinggi dan uang yang banyak. Tanpa uang, hidup tidaklah berarti. Benarkah demikian Pak? Saya bukannya tidak mengerti. Saya hanya penasaran dengan pendapat Bapak.
Uang. Zaman sekarang semuanya serba uang. Bahkan negara ini tidak lagi berlandaskan UUD 1945 alias “Undang-Undang Dasar seribu sembilan ratus empat puluh lima”, melainkan UUD saja alias “Ujung-Ujungnya Duit”. Untuk melahirkan di tempat yang higienis memerlukan uang. Untuk mengenyam pendidikan memerlukan uang. Untuk bertahan hidup memerlukan uang. Bahkan untuk dikuburkan di tempat yang layak pun memerlukan uang. Manusia seakan-akan telah menjadi hamba uang. Mereka berpikir bahwa mereka menguasai uang, padahal merekalah yang dikuasai oleh uang tersebut.
Pak, apakah “resep” menjadi seorang yang berintegritas? Mengapa para pejabat saat ini tidak memiliki hal tersebut? Apakah Presiden SBY salah pilih orang? Saya memang tidak mengerti cara pemilihannya, tetapi mungkin di masa depan, kita harus memiliki sebuah tes yang memungkinkan untuk memilih orang yang berintegritas dalam melaksanakan tugas negaranya.
Maafkan saya karena semua ucapan saya ini tidak jelas dan seakan mengada-ada. Maafkan kalau kata-kata saya ada yang tidak berkenan di hati Bapak. Maafkan saya kalau saya mengakhiri surat ini, sebab kalau saya terus membicarakan soal bangsa Indonesia saat ini, surat ini tidak akan berakhir sampai kapan pun.
Saya sangat berharap Bapak dapat memaklumi semua ucapan saya yang “ngalor-ngidul” ini. Saya sangat berharap bangsa ini tetap ada sampai akhir bumi ini. Saya tahu masih ada kesempatan bagi kita semua untuk memperbaiki kesalahan kita di masa lalu dan saya tahu bahwa masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Sekian surat dari saya. Saya berharap Bapak tidak sakit kepala ketika selesai membaca surat ini.
Dengan hormat,

Salah Satu Calon Penerus Bangsa Yang Selalu Saja Penasaran

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar