Minggu, 05 September 2010

Jessica christy

The different one

Pada suatu hari, ada seekor induk ayam sedang mengerami ke empat telurnya. Dengan sabar ia menanti telur-telurnya itu menetas dan berubah menjadi empat anak itik yang lucu. Tak berapa lama kemudian, telur-telur itupun menetas. Ia mengamati anak-anaknya, ada tiga yang sama, dan yang tersisa adalah seekor anak bebek yang tentu saja berbeda keadaan fisiknya. Sang induk terus berpikir, mengapa anaknya yang satu ini berbeda dengan yang lainnya. Akhirnya, dia menerima anak bebek itu. Dia memperlakukan keempat anaknya dengan baik. Dia tidak membedakan anak-anaknya.
Waktu pun terus berjalan, itik-itik dan bebek itu pun tumbuh dengan baik. Sampai pada akhirnya, si bebek menyadari bahwa dia berbeda sendiri. Berbeda dengan saudara-saudaranya. Dia juga berbeda dari induknya. Dia berpikir keras mengapa ia bisa berbeda sendiri. Dia menyendiri dan berpikir, sampai pada akhirnya sang induk menyadari tingkah laku anaknya. Dia mendekati anaknya itu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dengan sedih, anak bebek menanyakan semua yang ada di pikirannya. Induk ayam hanya tersenyum dan menjawab, “Aku yang mengeramimu sampai pada akhirnya kau menetas. Jadi walaupun kau berbeda, kau tetap anakku.”
Anak bebek terus mengingat apa yang induknya katakan, dia merasa lebih baik sekarang. Tetapi masalah tak pernah berhenti. Para itik menjauhinya. Dia ingin bergabung, tetapi mereka mengucilkannya. Mereka mengusir bebek itu untuk pergi meninggalkan keluarga ayamnya. Teringat akan perkataan induknya, si bebek tidak pergi meninggalkan mereka. Dia yakin bahwa itulah keluarganya.
Hujan turun sangat deras. Banjirpun melanda. Para ayam tidak bisa berenang dan akan mati. Tapi bebek menyelamatkan hidup saudara-saudaranya itu. Dia membawa mereka keluar dari air. Dia berusaha untuk menyelamatkan saudara-saudaranya tanpa berpikir tentang apa yang telah mereka lakukan kepadanya. Mereka semua selamat. Saat hujan reda, mereka berterima kasih kepada si bebek dan meminta maaf atas perbuatan mereka. Bebek hanya tersenyum mendengar kata maaf mereka. Kini, para itik telah sadar, bahwa perbedaan ada untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menjelekkan. Kini induk ayam dapat tersenyum lega dan memeluk keempat anaknya dengan perasaan yang tenang.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar