Minggu, 05 September 2010

DEVINA XIA SMAK 6

Lumina Fericirea
“Aku akan berhenti sekolah.” Ujarku kepada teman baikku, Rhea.
Itulah salam terakhir yang pernah kusampaikan kepada Rhea, tanpa menghiraukan air mata yang sudah terbendung di kedua bola matanya yang indah. Aku harus melakukan ini walau hati ini layaknya diiris-iris pisau, pedih.
Rhea adalah sahabat terbaikku. Walau aku baru mengenalnya setahun, tapi rasanya kami berdua bagai sudah melewati waktu yang sangat panjang bersama. Mungkin karena kami berdua sama-sama anak broken home, maka kami berdua bisa memahami satu dengan yang lainnya.
Rhea mungkin lebih beruntung dariku karena ia terlahir di keluarga yang kaya raya, segala sesuatu bisa diraihnya dengan mudah. Sedangkan aku hanyalah seorang anak dari penjual gorengan. Ibuku mati-matian bekerja demi menyekolahkanku di sekolah swasta, padahal sudah kutolak.
“Ibu mau kamu sekolah yang rajin di sekolah bagus, supaya tak menjadi orang susah seperti ibu.” Kata-kata bijak dari ibu yang terlihat memaksakan diri. Mungkin aku beruntung memiliki ibu yang pengertian seperti ini, akan tetapi aku tak mau sekolah. Kurasa sekolah bukanlah jalan satu-satunya untuk menjadi sukses, dan apakah sukses itu? Apakah hanya sekedar mempunyai banyak uang? Apakah mempunyai banyak uang itu adalah suatu kebahagiaan? Menurutku tidak.
Sebelum aku lupa, aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Lumina Fericirea, namaku diambil dari bahasa Rumania yang artinya Cahaya Kebahagiaan. Walau namaku artinya begitu indah, entah mengapa aku merasa kebahagiaan tersebut sangat sulit untuk dijangkau. Aku bahkan tak tahu apa yang bisa membuatku bahagia.
Ayahku adalah seorang gila judi, ia sering menampar ibu jika tak diberi uang. Tapi sebagaimanapun juga, ia tetap ayahku. Kenyataan tersebut tak bisa kupungkiri, darahnya mengalir dalam tubuhku. Ia meninggal karena dipukuli para penjudi lainnya, ia berbuat curang.
Sejujurnya, aku lebih sayang ayahku daripada ibuku. Sewaktu aku masih duduk di bangku kelas satu SMP, aku kecelakaan dan butuh tranfusi darah. Ibuku menolak untuk memberikan darahnya padaku, ia takut darahnya tak cukup. Tapi ayahku beda, ia memberikan darahnya sebanyak yang kubutuhkan sampai-sampai ia terbaring lemas di rumah. Menurutku, mungkin saat-saat itulah yang sangat membahagiakan. Ia peduli, itulah yang ada dipikiranku.
Tanpa terasa tiga tahun telah berlalu semenjak aku berhenti sekolah dan meninggalkan orang-orang yang kukasihi. Ibu, bagaimakah hidup ibu sekarang? Maaf, aku tumbuh menjadi anak durhaka. Aku tak mematuhimu untuk sekolah. Aku tak sanggup melihatmu menderita, membanting tulang demi uang sekolahku yang mahal. Rhea, apakah kamu sudah menemukan kebahagiaanmu seperti diriku yang sudah menemukannya?
Mungkin aku belum menyinggung mengenai kebahagiaanku. Kebahagiaanku adalah melihat orang lain bahagia. Orang-orang yang kebahagiaannya dirampas dan tak memiliki arah hidup merasakan apa yang kurasakan, yaitu kebahagiaan.
Aku membuka sebuah toko dan cukup mendatangkan penghasilan. Selain itu aku membantu di banyak tempat tanpa bayaran seperti panti jompo, panti asuhan, maupun tempat penampungan orang gila. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
Menurutku, kita semua sama-sama manusia. Sama-sama lahir diciptakan Tuhan dan sama-sama meninggal untuk kembali ke dekapannya. Mengapa kita tak bisa sama-sama berbahagia? Kebahagiaan itu datangnya dari hati, jika hati kita bahagia maka kita pun bahagia.
Hari ini aku membantu di panti tempat penampungan orang gila. Entah kenapa firasatku mengatakan hari ini bukanlah hari yang baik. Dadaku sesak, seakan ada yang menusuk-nusuk.
“Lumina! Kita kedatangan orang baru!” teriak salah satu pengurus panti ini. Seorang wanita tinggi berparas cantik dengan rambut hitam menatapku kosong. Aku terkejut, mengapa ia bisa disini? Apa yang terjadi padanya?
“Rhea!” seruku sambil memeluknya. Aku menangis.
“Siapa kau?” ucap Rhea pelan. Aku melepaskan pelukanku dan heran. Apa yang terjadi padanya? Apakah ia hilang ingatan?
“Ini aku, Lumina! Kita berdua berteman baik sewaktu SMA.” Aku mengguncang tubuh Rhea, berharap ia mengingatku.
Rhea tak menjawab. Petugas panti pun membawa ia masuk ke satu kamar besar. Kamar itu dihuni beberapa orang gila lainnya. Tapi penghuni kamar tersebut cukup ramah dan bisa berbincang satu sama lain, walaupun kadang tidak nyambung. Tapi dapat kurasakan kebahagiaan memancar dari sorot mata mereka. Kuharap Rhea juga merasakan hal yang sama dengan mereka.
Aku memohon-mohon kepada petugas agar malam ini aku diperbolehkan untuk menginap. Ternyata tak sulit, mereka langsung memberiku ijin walau dengan satu syarat. Aku harus menceritakan apa yang aku tahu mengenai Rhea. Kukemas cerita mengenai Rhea dalam kalimat-kalimat ringkas. Dalam sepuluh menit, usai sudah interogasi tersebut. Ternyata mereka juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rhea, padahal aku ingin mengetahui apa yang terjadi padanya.
“PERGI!!! PERGI!!! TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!” terdengar suara teriakan dari kamar dimana Rhea berada. Aku dan para petugas panti segera berlari kearah dimana sumber suara berada.
Sesampainya disana, aku terkejut melihat Rhea mengamuk sambil melempar bantal dan menyerang orang gila lainnya. Aku menarik Rhea dan para petugas panti lainnya mengamankan penghuni kamar tersebut. Rhea terpaksa harus diasingkan di kamar tersendiri.
Rhea mencakar-cakar tanganku, meronta-ronta ingin melepaskan diri, aku menahannya. Para petugas panti lainnya sudah ketakutan dan menyuruhku untuk menguncinya sendiri di kamar tersebut. Aku menggeleng. Takkan pernah kubiarkan sahabatku menderita sendirian, biarlah aku ikut menderita. Aku ingin membagikan kebahagiaanku padanya.
Para petugas panti mengunci kamar tersebut karena takut terjadi apa-apa. Aku senang mereka tidak memaksaku untuk meninggalkan Rhea sendiri. Pintu pun tertutup dan terkunci erat. Aku memeluk Rhea, mendekapnya erat dan mengelus rambutnya lembut. Ia mulai merasa tenang, kami lewatkan malam itu dengan berpelukan.
Matahari mulai menampakkan wajahnya, aku terbangun melihat Rhea tersenyum padaku. Aku sedikit terkejut, tapi ini adalah kejutan yang membahagiakan. Ia sudah mulai tersenyum layaknya dahulu.
Hari demi hari kian berlalu, aku pun mengetahui fakta menyakitkan mengenai kondisi Rhea. Rhea disakiti oleh ayahnya, secara fisik maupun mental. Ayahnya mengurungnya di kamar mandi, telanjang. Rhea dihantam dengan kawat2 besi di sekujur tubuhnya, siksaan ini seakan tak ada habisnya. Terakhir Rhea dibuat hampir meninggal karena ia dibungkus dalam sebuah kardus berisi silet.
Ayahnya pun meninggal dalam kecelakaan pesawat. Lambat laun luka di sekujur tubuhnya sudah mulai menghilang seakan tak meninggalkan jejak yang berarti, tetapi luka yang tertoreh dalam lubuk hatinya yang terdalam takkan pernah musnah. Takkan pernah.
Setiap hari kenangan pahit tersebut terngiang dalam benak Rhea dan aku tak ada disampingnya di saat ia terpuruk. Aku merasa aku bukanlah sahabat yang baik, tapi bolehkah sekarang aku memperbaiki semua itu? Walau kenangan tersebut takkan pernah hilang, bolehkah aku membantunya sekarang?
Setiap hari kutemani Rhea dan kian hari wajah Rhea semakin berseri-seri. Kebahagiaan terbesar yang tak pernah kualami, yaitu berbagi kebahagiaan dengan sahabatku. Tapi, bagaimana dengan ibu? Aku merindukannya.
Rhea dinyatakan tidak gila! Ia diperbolehkan keluar dari tempat penampungan orang gila. Aku segera beranjak menuju tempat ibuku bersama Rhea, aku ingin menunjukkan pada ibu betapa bahagianya aku. Aku ingin mengajak ibu dan Rhea tinggal bersamaku di rumah kecilku yang dipenuhi kebahagiaan.
Pemandangan tersebut membuatku dan Rhea terkaget-kaget. Apa yang terjadi pada tempat tinggalku yang dahulu? Dimana ibu? Mengapa hanya tersisa puing-puing? Aku menelusuri tempat tinggalku yang dahulu, mencari-cari sosok wanita yang hebat, yang telah berhasil membesarkannya.
“Hei, nona-nona disana! Ini bukan tempat rekreasi, cepat keluar dari daerah ini.” Teriak seorang laki-laki berseragam, sepertinya petugas.
“Dimana orang yang tinggal ditempat ini?” tanyaku kepada sang petugas.
“Ibu tua itu? Ia sudah meninggal setahun yang lalu. Mayatnya membusuk jadi kami membuangnya ke lautan.” Jawabnya tegas.
Meninggal? Busuk dan dibuang ke laut? Ibu... aku belum sempat berterima kasih. Aku beranjak dari tempat itu sambil dipeluk Rhea. Air mata ini tak terbendung lagi, aku menangis untuk pertama kalinya selama tiga tahun belakangan ini.
“Lumina... ibumu kembali ke dekapan sang maha kuasa. Bukankah hal itu menggembirakan? Ia pasti bahagia disana.” Bisik Rhea manis di telingaku.
“Tapi... tapi aku belum sempat mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Walau takkan pernah cukup meski kuucapkan beratus-ratus kali bahkan beribu-ribu kali padanya.” Isakku dalam pelukannya.
“Tulislah surat dan masukkan dalam botol, biarkanlah botol tersebut menyusuri lautan tempat mayat ibumu dibuang. Aku yakin ibumu pasti mendapat surat itu. Ia pasti menunggumu memberitakan kabar gembira.” Bisiknya lagi lembut.
“Bodoh... mana mungkin sampai... hahaha...” tawaku kecil sembari kuseka air mataku. Memang itu ide yang bodoh dan tak masuk akal, tapi tak ada salahnya mencoba kan?
Sore itu juga kutulis surat berisikan kondisiku sekarang yang bahagia dan rasa terima kasihku padanya, lalu kumasukkan dalam sebuah botol kristal yang indah. Kutatap botol berisikan suratku tersebut menari-nari di permukaan lautan nan luas tersebut sampai akhirnya hilang dari pandanganku yang terbatas ini.
“Rhea... terima kasih telah menjadi bagian dari kebahagiaanku.” Bisikku sambil menatap lautan. Entah mengapa seakan Rhea mendengar bisikanku, ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Aku bahagia mempunyai sahabat sepertimu, Lumina. Kehadiranmu disisiku adalah kebahagiaan bagiku.”
“Lumina Fericirea, cahaya kebahagian. Aku ingin menjadi cahaya kebahagiaan bagi orang lain. Aku harus dan aku bisa!” bisikku sambil terus menggenggam tangan sahabatku.
-THE END-
Devina/XI-A/13

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar