Kamis, 02 September 2010

AGNES X1

Dua Sisi Kehidupan

Di sebuah sekolah elite SMPN 2 Jakarta ada 2 orang anak laki-laki, bernama Andi dan Rudi. Kedua anak ini mempunyai sifat yang sangat bertolak belakang. Andi adalah anak yang mempunyai sifat yang baik, cukup dewasa dalam usia nya yang sudah menginjak 14 tahun, dan Andi termasuk anak yang pintar karena Ia bisa bersekolah di sekolah elite itu dengan mendapatkan beasiswa atas prestasinya selama duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia tidak menuntut orang tuanya untuk dibelikan mainan seperti PS, Nds, PSP, Wii, dsb. Jika dia ingin membeli sesuatu, ia menabung dari sisihan uang jajannya. Andi pun tidak pernah membantah orang tuanya, karena Ia tau bahwa orang tuanya sudah bekerja keras untuk membiayai dia kehidupannya, maka Andi bukan lah anak yang akan belajar bila di suruh melainkan dia adalah anak yang bekerja keras untuk belajar setiap hari. Orang tuanya pun sangat bangga mempunyai anak seperti Andi.
Lain halnya dengan Rudi, Ia mempunyai sifat yang kurang baik. Dia adalah anak yang manja, pemarah, dan boros. Jika Ayahnya tidak mengizinkannya untuk membeli mainan, dia akan merengek dan terus merajuk hingga Ayahnya membelikan barang yang Ia inginkan. Bila keinginannya tidak terpenuhi, ia akan marah-marah dan melimpahkan kemarahanny pada orang lain. Rudi adalah orang yang selalu memikirkan materi, karena Ia tahu Ayahnya mempunyai pekerjaan yang mapan dan tidak harus naik kendaraan umum ke sekolah.
Suatu hari di sekolah sedang ada pelajaran agama yang memerlukan pekerjaan kelompok 2-3 orang. Andi pun mendapatkan kelompok bersama dengan Rudi. Mereka pun merencakan keja kelompok di rumah Andi. Sore hari nya, Rudi pun bersiap-siap untuk ke rumah Andi. Selama di perjalanan Ia bingung. Mengapa rumah sepanjang deretan rumah hanya lah rumah-rumah yang bisa di bilang hanya rumah sederhana yang tidak ada tiang-tiang yang menjulang tinggi ke atas. Setelah sampai di rumah Andi. Rudi pun merasa keheranan apakah Ia sampai di rumah yang salah atau tidak. Ia pun memandangi rumah, lalu sesekali juga melihat alamatnya. Ia pun menyuruh supirnya untuk mengetuk rumah itu. Supir itu pun mengetuk dan berkata. “Misi Mas, apakah benar ini rumah Andi?”. Lalu orang itu pun mengiyakan. Rudi pun turun dari mobil dan melihat, memang benar itu rumah Andi. Andi pun menyuruh Rudi untuk masuk. Rudi memandangi rumah Andi, melihat tembok, jendela, pintu, ruang tamu, dan dapur. Andi pun mencium kebingungan Rudi. Lalu Ia bertanya pada Rudi mengapa Ia terlihat bingung. Rudi pun berkata bahwa Ia merasa rumah Andi sangat berbeda dengan keadaan rumahnya. Lalu Andi bercerita bahwa Ayahnya bukan pengusaha melainkan hanya seorang buruh pabrik dan Ia tidak pernah meminta macam-macam tidak harus digunakan untuk dirinya. Rudi pun merasa prihatin dengan teman baru nya ini, Dia lalu bercermin pada dirinya. Dia bukan lah anak yang mementingkan keadaan orang tuanya, melainkan hanya mementingkan keadaan dirinya sendiri. Rudi pun meminta maaf atas pertanyaan itu karena Ia bercerita bahwa selama ini Dia hanya berteman dengan kalangan yang elite. Lalu Rudi pun pamit pulang.
Saat perjalanan pulang, Rudi pun terus memikirkan hal tadi. Dia memikirkan mengapa dirinya masih terlihat seperti anak 5 tahun yang selalu merengek diberikan mainan oleh orang tuanya. Setelah sampai rumah, Ia pun mendatangin kedua orang tuanya, lalu meminta maaf, bahwa selama ini Ia terlalu boros dan manja terhadap uang orang tuanya. Orang tuanya pun terharu dan bersyukur kepada Tuhan bahwa Rudi sudah menyadari kesalahannya selama ini.
Keesokan harinya, Rudi menyiapkan PSP kesayangnya untuk di berikannya kepada Andi, sampai di sekolah Rudi pun memberikannya. Andi merasa tidak pantas mendapatkan mainan itu, karena Ia tahu bahwa mainan itu bukanlah mainan yang murah, tapi Rudi berkata Ia rela bila mainannya di berikan pada Andi. Akhirnya Andi menerima mainan tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih.
Sejak saat itu Rudi belajar dari semua yang Ia lakukan dan berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Rudi pun ingin mencoba belajar untuk bersikap dewasa seperti yang dilakukan Andi. Sekarang Rudi pun menjadi orang yang sering berbagi kepada orang-orang yang tidak mampu disekelilingnya dan tidak memhambur-hamburkan uang lagi.
AGNES X-1/1

0 komentar:

Poskan Komentar

Bagikan

Delete this element to display blogger navbar